
"Begini..Brandon sudah kembali dia tengah mencintaimu selama ini..aku baru dapat kabar dari anak buahku yang ku perintahkan untuk mengawasi nya tapi setelah bertahun-tahun hilang dia kembali lagi dan sudah hampir dua bulan ini dia mengintai mu..kau harus hati-hati karena orang-orang terdekat mu bisa dalam bahaya" jelas teman Arick.
"Shitt..aku harus pulang sekarang" umpat Arick panik setelah mendengar kata-kata temannya.
"Hey kau mau kemana sialan?" teriak teman Arick karena di tinggal begitu saja.
Arick tak membalas dia berlari menuju rumah Fiora..astaga kenapa dia tak menyadarinya selama ini shitt..Zizi, Darren, Darrel semoga mereka baik-baik saja.
Arick berlari menuju mobilnya dan melesat meninggalkan cafe dimana temannya masih duduk memandanginya yang bagaikan orang gila.
"Shitt kenapa teleponnya mati..astaga semoga kalian baik-baik saja" umpat Arick ketika mencoba menghubungi Zizi namun ponsel Zizi mati.
Setelah mengendarai mobil nya cukup membuat orang hampir jantungan kini Arick telah sampai di rumah Fiora.. langsung Arick keluar dan berlari ke dalam rumah tanpa perduli mobilnya sedikit menabrak tanaman di sekitar mobil Arick.
"Ziziiiii.. Darren.. Darrel" teriak Arick memanggil ketiga kesayangannya.
Arick berlari menuju kamar anak-anak nya..saat dia membuka pintunya terlihatlah ketiga kesayangannya tengah terlelap dalam satu ranjang.
"Ah syukurlah tuhannn huhh"
Arick melangkah mendekati ketiganya dengan perlahan..dia gemetaran..untuk pertama kalinya seorang Arick takut kehilangan.
Zilea menggeliat merasakan usapan di wajahnya..dia membuka matanya dan melihat Arick tengah menatapnya dengan tatapan khawatir.
Zizi yang awalnya ingin berteriak namun saat melihat tatapan mata Arick dia urungkan entah Zizi tak tau dan apa dengan Arick tapi dia masih mempunyai nurani.
"Kau sudah pulang?" tanya Zizi.
Arick tak menjawab dia memeluk Zizi yang sudah duduk di tepi ranjang..Zizi membiarkan saja setidaknya dengan pelukan nya mungkin Arick sedikit lebih tenang.
"Kenapa?" tanya Zizi sedikit lembut sambil mengusap-usap punggung Arick dan Zizi merasakan tubuh Arick bergetar.
"Tidak apa-apa..jangan pernah meninggalkan ku Zi.. jangan pernah" ucap Arick dengan suara bergetar.
"Tenanglah..kau kenapa?"
"Zi..dengarkan aku..tinggallah bersamaku karena keadaan saat ini tidak memungkinkan untuk kau tinggal di sini dengan Fiora.. aku masih memiliki satu orang yang tidak menyukaiku dan dia bisa saja menyakiti kalian..aku tak ingin kau dan anak-anak terluka maka dari itu Zi..kumohon tinggallah bersamaku demi keamanan kalian please"
Zizi tampak diam memikirkan perkataan Arick..iar bagaimana pun juga Zizi tak mungkin membuat anak-anak nya dalam bahaya..meski dia tidak nyaman dengan Arick setidaknya demi anak-anak dia harus menurunkan egonya.
"Huhh.. baiklah"
"Serius?"
"Hm"
"Thank you honey.. terimakasih aku akan menjaga kalian dengan nyawaku"
"Hm..kau sudah makan?"
"Apa kau mengkhawatirkan aku honey?"
"Ck..sudahlah terserah kau saja"
Zizi hendak melangkah pergi namun dengan sigap Arick menahannya dan merengkuhnya makin erat.. memberontak tapi tenaganya tak seimbang dengan Arick akhirnya dia pasrah.
"Arick lepas"
"Sebentar saja..biarkan seperti ini honey"
"Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa honey"
"Ck..mana Arick yang dulu pernah aku kenal..kenapa sekarang kau malah begini"
"Aku hanya ingin menjaga kalian karena hanya kalian yang aku punya honey"
"Arick....."