
"Kau benar-benar mengujiku gadis sialan..harusnya aku membunuhmu di hari dimana orangtuamu menghabisi ibuku tapi aku tak melakukan itu karena aku ingin kau menderita dan memohon kematian padaku tapi sepertinya kau tidak takut mati ya, baiklah akan ku siksa kau hingga aku puas"
Zizi hanya diam mendengarkan..jika Arick tau bagaimana perlakua orangtuanya padanya apakah dia masih akan menyiksa dirinya.
Zizi pasrah akan nasibnya..salahkah dia menjadi anak dari orang yang sudah membunuh ibu Arick..dia bahkan tak tau ada masalah apa antara ibu Arick dengan kedua orangtuanya tapi memanglah nasibnya harus menderita..dia terima dan pasrah.
Arick mengambil cambuk yang sudah dia siapkan untuk menyiksa para penghianat..dia melihat cambuk yang kini sudah ada di tangannya..dia elus cambuk itu kemudian dia tatap Zizi dengan tajam.
"Apa kau siap menerima hukumanku gadis sialan?"
Zizi hanya diam..dia tak pernah melihat Arick yang lembut lagi seperti dulu waktu dia hilang ingatan..jujur dia merindukan Arick yang lembut seperti dulu meskipun itu juga hanya kepura-puraan.
"JAWAB SIALAN"
"Terserah"
Arick meradang dia segera memecutkan cambuk itu pqda punggung Zizi..satu kali pecutan Zizi menahan suaranya agar tak keluar.
Cetarrr.....
"Arkmmm"
Cetarrr.....
Air mata Zizi semqkin deras..dia menahan diri agar tak bersuara..biarlah Arick menyiksanya hingga mati dia tak perduli lagi akan nasibnya.
"Kenapa kau tak menjerit sialan..menjeritlah memohon ampun padaku sialan..kenapa kau diam hah?"
Zizi tak menjawab..hanya air mata yang mengalir di kedua pipinya..punggungnya perih dia merasakan sesuatu mengalir dari kulit punggungnya..sepertinya punggungnya berdarah.
Arick dia sudah tak mencambuk Zizi lagi..dia membuang cambuk itu ke lantai kemudian meninggalkan Zizi yang masih berlutut di lantai sambil sesekali meringis kesakitan.
Pranggg......
Pranggg......
Pranggg......
"Arghhhhhh..sial..sial..sial..kenapa aku harus kasihan pada gadis sialan itu..kenapa arghhhh..aku benci perasaan ini"
Pranggg......
Arick membanting semua barang-barang yang ada di kamarnya..dia meluapkan emosinya pada barang-barang itu.
Sementara Zizi..dia berjalan dengan tertatih menuju kamar dimana dia tinggal dan di kurung selama beberapa bulan ini.
Tak ada niatan kabur atau pergi meskipun dia sangat ingin pergi tapi dia harus kemana dia bahkan tak punya uang untuk sekedar membeli makanan.
Sampailah Zizi di kamar..dia membuka bajunya hingga tersisa kacamata pembungkus bola kenyal miliknya saja..punggungnya perih,sakit dan berdarah..dia menuju kamar mandi dan menyalakan shower air hangat untuk membasuh punggungnya.
Ketika air mengguyur tubuhnya seketika dia berteriak keras kesakitan,perih dan benar-benar tak bisa dia tahan lagi.
"Aaarkkkhhhhhhh"
Air shower terus mengguyur tubuhnya hingga warna airnya berubah dari yang berwarna merah kini sudah kembali bening..darahnya yang keluar dari luka itu terbawa air..air hangat mampu membuat luka di punggungnya yang awalnya berdarah seketika terhenti.
"Hiks..sial sekali nasibmu Zi..kau hanya akan menderita di sini..biarlah kematian datang sendiri jika dia sudah puas menyiksamu..anggaplah balasan karena orangtuamu telah membunuh ibu nya"
Zizi tersenyum getir mengingat bagaimana mencambuknya tadi..sungguh sakit sekali hatinya melihat orang yang dia cintai begitu tega memukulnya.