
"Kakek..maaf lama" sapa Zizi ketika melihat kakek twins.
"Tidak apa-apa..sini cucuku astaga menggemaskan sekali sih mereka" ucap tuan besar sambil meraih kedua cucunya.
"Haha semakin berat kek" ucap Zizi memecah ketegangan.
"Kau pintar merawatnya Zi.. terimakasih" ungkap tuan besar berterimakasih.
"Sudah jadi kewajiban Zizi dad..tidak apa-apa" jelas zizi.
"Zizi apakah jika Arick ingin bertemu denganmu kau mau menemui nya?" ucap tuan besar langsung pada intinya.
Zizi tampak terdiam beberapa saat lalu dia tersenyum pada tuan besar.. senyuman Zizi mampu membuat tuan besar tenang.
"Kalau memang sudah saatnya Zizi mau dad..dia punya hak untuk bertemu kedua anaknya" ucap Zizi mencoba tegar.
"Kau memang baik Zi..maafkan Arickyang bodoh..kau terlalu sempurna untuknya Zi"
"Daddy berlebihan dalam memuji Zizi..Zizi tidak seperti itu"
"Kau sangat baik"
Zizi tersenyum dan mengelus rambut Darren..kedua bocah itu bermain dengan sang kakek cukup lama.. mendengar ocehannya dan segala tingkah polah nya sudah membuat tuan besar terharu.
"Baiklah karena sudah malam kakek pulang dulu ya twins.. Zi daddy pulang dulu ya..jaga diri"
"Iya dad.. hati-hati"
Tuan besar tersenyum dan mengelus rambutZizi penuh kehangatan..dia benar-benar tak menyangka gadis yang telah anaknya sakiti masih mau menerimanya sebagai kakek dari twins D.
Sepulangnya tuan besar Zizi membawa kedua anaknya menuju kamar karena mereka sudah menguap berkali-kali sebagai tanda bahwa mereka sudah mengantuk.
Setelah menidurkan anaknya Zizi bergabung dengan Fiora di ruang tamu dekat kamar twins D.
"Ka..sedang apa?"
"Hm..sudah tidur mereka?"
"Sudah ka"
"Bagaimana percakapannya..apa dia meminta hak asuh anak-anak?"
"Tidak ka..dia hanya bertanya jika ayah anak-anak ingin bertemu denganku apakah aku mau menemuinya atau tidak..hanya itu ka"
"Lalu apa jawaban mu?"
"Huhh..entahlah ka aku hanya merasa belum siap bertemu dengan nya tapi aku juga tak bisa terus menerus menghindar karena cepat atau lambat kami pasti akan bertemu..jujur aku masih trauma jika melihat wajah nya lagi tapi aku harus bisa melupakan trauma ku demi Darren dan Darrel"
"Menurutku Zi..temuilah ayah anak-anak bagaimana pun juga dia memiliki hak atas mereka..jangan sampai dia melakukan hal di luar kemampuan mu contohnya mengambil salah satu dari mereka"
"Kau benar ka..lihatlah besok jika memang sudah saatnya maka kami akan bertemu dengan nya"
"Bagus itu baru Zizi yang ku kenal"
Akhirnya Zizi dan Fiora memutuskan untuk ke kamar karena hari semakin malam..sampailah di kamar twins D mereka merebahkan diri di atas ranjang.
*
*
"Si apa kau sudah siap?"
"Sudah ka.. sebentar tinggal Darrel saja yang masih rese"
"Hahaha anak itu selalu saja"
Selesai dengan anak-anak kini mereka menuju ke hotel tempat mereka janjian dengan tuan besar.
Jujur Zizi sangat gugup jika memang benar hari ini akan bertemu dengan Arick..mampukah Zizi melawan ketakutannya?.
"Zi kita sudah sampai..di kamar berapa taun Jarred?"
"510 ka"
"Baiklah ayo"
Sampailah mereka di kamar taun besar..mereka mengetuk pintu dan tak lama kemudian terbukalah pintu itu..Zizi masuk dan melihat seorang pria yang berusaha dia hindari selama ini ada di depan mata nya tengah menatap lekat ke arahnya
"C'mone Zi kau bisa..sialan kenapa tubuhku begini" batin Zizi gemetar hanya melihat Arick.
Fiora dan yang lainnya menyadari sikap Zizi..Fiora mengambil alih kedua bocah itu dari gendong Zizi takut jatuh.
Kini yang tersisa hanya Zizi dan Arick.. Zizi masih belum sadar dari alam ketakutannya sendiri hingga Arick mendekat dan menyentuhnya.
"Zi"
"Stop"
"Zi.. sorry"
"Jangan bicara"
"Zi..maafkan aku Zi"
"STOOOPPPP"
Zizi menutup telinganya dengan kedua tangannya dengan tubuh yang masih bergetar..air matanya sudah meluncur jatuh melewati pipinya.
Zizi tak dapat menahan ketakutannya ketika berada di dekat Arick..dia menjerit dan berjongkok sambil menutup telinganya dan menangis.. melihat itu Arick segera merengkuh tubuh bergetar Zizi.
"Maafkan aku Zi maafkan aku"
"Lepaskan...arghhhhhh lepaskan akuuuuu..arghhhhhh lepasaaaa__"
Zizi tak sadarkan diri dalam pelukan Arick..Arick panik dan khawatir segera membaringkan Zizi di ranjang dan mengambil minyak aromaterapi untuk membantu menyadarkan Zizi.
"Maafkan aku Zi hiks..maaf"