
"Sial..tenang Arick kau harus tenang" batin Arick menenangkan dirinya.
Zizi dan orang itu semakin mendekat namun Arick melihat gelagat Zizi seakan Zizi mengisyaratkan sesuatu lewat matanya agar dia melakukan sesuatu..ya Arick paham.
Zizi menghilangkan rasa takutnya karena di saat-saat genting seperti inilah keberanian sangatlah di butuhkan.
Perlahan Zizi menggerakkan tangannya di saat orang yang memegangnya lengah di saat itu juga Zizi menepis tangan si cecunguk itu hingga pistol yang ada di kepala Zizi terlempar ke samping dan pada saat itu juga Arick langsung menendang si cecunguk itu hingga terjungkal ke belakang.
Zizi menghela nafas lega akhirnya dia terbebas dari pistol sialan itu..Arick tengah menghajar si cecunguk itu hingga tak berdaya..dada Arick naik turun menahan geram dan marah entahlah Arick sendiri tak tau perasaannya.
"Kau tak apa Zi?"
"Aku baik-baik saja Arick..kau bagaimana?"
"Aku juga baik-baik saja..ayo pulang"
Arick membawa Zizi pulang karena dia tau Zizi pasti syok dengan kejadian ini..sebaiknya dia tak lagi mengajak Zizi pergi malam-malam karena sangat berbahaya baginya jika hanya dirinya saja itu tak jadi masalah.
"Aku harus lebih berhati-hati lagi dalam bertindak karena bukan hanya diriku yang mereka incar tapi juga keselamatan Zizi..arghhh sial" batin Arick.
*
*
"Arghhhhhh sial..sial..sial..brengsekkkk harghhhhh"
Seorang pria yang kini tengah mengamuk karena misinya gagal..pria itu harus memikirkan lagi rencana untuk menghancurkan rivalnya.
"Persiapkan segalanya karena aku akan melakukannya sendiri" ucap pria itu di telepon.
"Baik bos"
Sambungan telepon terputus pria itu melangkah menuju kamarnya untuk menenangkan diri..dia harus rileks dia tak boleh gegabah dan terbawa emosi karena hanya akan membuatnya dalam masalah.
Pria itu memanggil wanita bayaran untuk memuaskan hasrratnya karena saat ini dia sangat butuh kepuasan untuk meredam emosi sekaligus meluapkannya.
"Puaskan aku bitchh"
"Of course master"
*
*
*
"Zemi carikan pengawal wanita untuk Zizi"
"Baik mister apa ada yang lain mister?"
"Ah ya satu lagi kirimkan juga bodyguard bayangan untuk menjaga Zizi mereka bisa mulai bekerja ketika kami sudah kembali"
"Baik mister akan saya laksanakan"
Arick kembali ke kamar dan melihat keadaan Zizi..jujur dalam lubuk hatinya entahlah perasaan apa yang tengah dia rasakan pada gadis itu..dia hanya bisa berharap semoga Zizi cepat ingat lagi siapa dirinya dan juga siapa Arick.
"Zi"
"Arick..kau darimana?"
"Aku dari balkon..bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja Arick..kapan kita pulang?"
"Kau mau pulang?"
"Ya..bisakan hari ini kita pulang?"
"Baiklah..bersiaplah hari ini kita pulang"
Zizi terlihat senang mendengar hari ini mereka akan pulang ke rumah lagi jujur Zizi sebenarnya sedikit trauma melihat pistol sejak kejadian kemarin malam tapi dia tak mau menunjukkan nya pada Arick..dia tak mau menambah pikiran Arick.
Mereka telah bersiap dan hendak pulang..Zizi merasa kepalanya berdenyut entah kenapa..sepotong ingatan mulai muncul lagi di kepalanya.
"Arkhhhh apa ini..sshh kepalaku"
Setelah berhasil mengendalikan diri Zizi mulai tenang dia mendekat ke arah Arick dan memberikan bawaannya pada Arick dan mulai berangkat menuju kediaman Arick.