
Selesai dengan urusan penyusup itu kini Arick bergegas menuju kamar dia khawatir dengan kondisi kaki Zizi yang sempat berdarah namun tak Zizi perdulikan.
Seharusnya saat Zizi membangunkannya tadi dia langsung bangun tapi apa yang dia perbuat dia malah tidur lagi astaga bagaimana bisa dia di sebut bertanggung jawab.
Saat Arick sudah sampai di depan pintu kamar yang masih terbuka dapat melihat Zizi tengah mengobati luka di kakinya dengan menahan suaranya agar tak menjerit saat pecahan vas itu hendak dia cabut.
Arick mendekat ke arah Zizi dan memeluknya..dia merasa bersalah sekali dengan Zizi.
"Biar aku yang obati" tawar Arick.
"Hm..sebaiknya di luar saja aku tak mau anak-anak bangun karena teriakan ku ssshh"
"Ayo"
Arick menggendong Zizi menuju kamar utama..sampailah dia di kamar mendudukkan Zizi dengan perlahan agar tak menyakiti Zizi.
"Maaf"
"Ck..sudahlah lebih baik cepat obati sebelum kakiku membengkak"
"Baiklah"
Arick mulai menyiram cairan antiseptik ke luka Zizi gunanya untuk membersihkan kuman dari luka yang ada di kaki Zizi..setelah itu Arick mulai mengolesi salep kemudian terakhir Betadine dan Arick tutup dengan kain kasa.
"Sudah Zi..lebih baik kau tidur di sini saja biar anak-anak dengan pengasuh untuk sementara waktu..kebetulan Daddy sudah menyiapkannya saat kembali dari rumah Fiora"
"Tapi Arick__"
"Ssssttt..pikirkan kesehatan mu dulu Zi.. bagaimana kau akan merawat mereka dengan kondisi begini hm?"
"Huhhh baiklah"
"Begitu kan enak..tidurlah biar aku yang menjaga anak-anak sampai Daddy tiba di sini"
"Hmm"
"Huhh aku harus belajar lebih baik lagi..aku harus bisa melindungi mereka bukan mereka yang melindungi ku"
Tak berapa lama kemudian sang Daddy datang dengan dua pengasuh untuk menjaga twins..ada Fiora juga yang akan mengajari pengasuh itu.
"Arick.."
"Dad..udah sampai?"
"Hm.. bagaimana bisa sampai ada penyusup?"
"Besok saja dad..aku harus menjaga Zizi mungkin nanti malam demam"
"Kenapa..ada apa?"
"Besok saja dad..aku titip twins"
"Baiklah"
Arick menuju kamar utama untuk menemani Zizi..dia yakin pasti Zizi nanti demam karena lukanya cukup parah.
Arick menatap Zizi sendu..dia merasa bersalah karena membiarkan Zizi melihat situasi di luar kamar tadi..sungguh Arick merasa tidak berguna sebagai seorang lelaki.
"Maafkan aku Zi..karenaku kau jadi begini..aku minta maaf honey"
Arick membaringkan tubuhnya di samping Zizi dan memeluknya lembut takut menyakiti Zizi..di usapnya pucuk kepala Zizi hingga di kecup-kecup perlahan.
Tak berapa lama Arick terlelap menyusul Zizi yang sudah mengarungi alam mimpi..sekitar 1 jam setelah terlelap Zizi menggigil..Arick membuka matanya dan melihat tubuh Zizi gemetaran.
"Zi..astaga bagaimana ini tidak mungkin aku membangunkan Daddy atau Fiora..haishhh semua ini salahmu Arick..kau yang bodoh"
Arick mengambil air untuk kompresan..dia akan menjaga Zizi tanpa menggangu orang rumah..dia akan belajar untuk bertanggung jawab lebih baik lagi.
Setelah cukup lama kemudian tubuh Zizi sudah tak menggigil namun berkeringat..astaga apa lagi ini..Arick benar-benar di uji imannya saat ini..sabar Arick sabar.