
Sejak pertemuan terakhir dengan Nisa, Dimas merasa sifat Nisa sangat aneh yang membuatnya bertanya-tanya sendiri. Dia terus-menerus berfikir apakah dia telah melakukan kesalahan kepada Nisa.
Dia merasa Nisa semakin cuek kepadanya, sikap Nisa sangat jelas terlihat bukan hanya perasaan Dimas saja, Dimas sudah memperhatikan sikap Nisa dari hari kehari apalagi pada saat menjawab teleponnya kemarin Nisa benar - benar sangat berubah.
Awalnya Dimas ridak menyadarinya, lambat laun Dimas menyadari perubahan sikap Nisa itu.
'Apa memang dia lagi sakit atau memang gak suka ngobrol dengan gue. Tapi sebelum ketemu teman kerja gue dia terlihat baik-baik aja kok. Lalu gue harus bagaimana ya? Sebenarnya Nisa kenapa sih? Padahal gue masih butuh banget teman sharing tentang bisnis. Kayaknya gue akan coba datang aja kerumahnya besok pagi karena kerjaan gue juga dekat klinik kecantikannya. 'Batinnya yang terus bertanya kepada dirinya sendiri.
Setelah berfikir panjang yang tidak membuahkan hasil, akhirnya Dimas pasrah lalu memutuskan untuk tidur. Dimas ingin mengonfirkasikan langsung dengan Nisa, itulah keputusan terakhir yang akhirnya dipikirkannya.
Pagi hari Dimas sudah berada di depan rumah Nisa. Tepat didepan teras rumah ia menjadi mondar-mandir gak jelas.
'Apa yang harus gue bilang ke Nisa ya? Kok gue jadi bingung gini sih. Gue tanya aja kenapa dengan dia sebenarnya. Apa gue bilang aja kalau gue mau jenguk dia. Iya itu masuk akal sih kemarin kan Nisa bilang dia lagi gak enak badan. Oke gue akan pakai alasan itu aja. Tapi kenapa gue gak membawa apa - apa untuk Nisa?' Batin Dimas sambil menepuk jidatnya sendiri.
Akhirnya Dimas menghela nafas dengan berat, "Tenang Dim tenang!" Ucap Dimas.
Dimas memutuskan Untuk menenangkan diri, ia berapa kali menarik nafasnya sebelum menekan bel rumah Nisa. Sebelum ia menekan bel rumah, bunda Nisa sudah membuka pintu duluan. Bunda memperhatikan Dimas dari atas sampai bawah. 'iSiapa ya? Kayaknya belum pernah kesini deh.' Batin bunda.
"Mmmm...maaf kamu siapa ?"Tanya bunda penasaran.
"Sa---ya temannya Nisa tante." Jawab Dimas terbata.
"Teman Nisa? Tapi kok tante gak pernah lihat kamu sebelumnya."
"Karena saya sama Nisa baru bertemu. Apa Nisanya ada tante ? Ada yang mau saya tanyakan ke dia."
"Kalau gitu sebentar ya tante panggilkan dulu."
Bunda masuk kembali kerumah. Bunda menarik tangan Nisa untuk mengikuti sampai kedepan pintu.
"Apa sih bund pagi-pagi udah narik tangan Nisa gini. Pelan -pelan dong bund. Sakit tau..."Ucap Nisa bawel.
"Udah kamu ikut bunda aja. Didepan ada cowok yang nyariin kamu. Orangnya ganteng, kelihatannya baik tapi bunda gak pernah lihat kamu bawa cowok ini kerumah."
"Cowok? Gak mungkin bund. Nisa kan lagi gak dekat sama siapa-siapa. Bunda pasti salah deh."
"Jadi kamu pikir bunda bohong sama kamu gitu ? Makanya kamu cepetan dikit jalannya."
"Pasti bunda sa---lah orang deh." Sampai didepan pintu ia menatap Dimas dengan tatapan tak percaya. 'Serius ? gue gak lagi mimpi kan. Dimas ngapain datang kerumah gue.' Batinnya heran sampai tanpa sadar dia menepuk jidatnya dengan keras.
"Awwww...sakit !!! " Ucap Nisa.
"Kamu ngapain sih Nisa sampai nepuk jidat sendiri ?"Ucap bunda bingung melihat tingkah anaknya itu.
"Dimas? Ada apa ya ?"
"Mmmm..ada yang mau gue tanya sama lo."
"Tentang apa Dim?"
"Katanya lo sakit kemarin? Udah gimana keadaan lo sekarang?"
"Emang kamu sakit sayang?" Tanya bunda.
Nisa menyenggol tangan bundanya.
"Kemarin gue cuman gak enak badan aja kok Dim, Ya kan bund?"Seakan minta bantuan ke bundanya.
"Eh iya bunda lupa kemarin Nisa sempat gak enak badan nak Dimas."
"Lo yakin kesini cuman mau tanya hal ini aja ke gue?"
"Sebenarnya ada sih yang mau gue..." Kata-kata Dimas dipotong sama bunda yang menyuruh mereka masuk kedalam rumah.
"Maaf Dim gue sampek lupa nawarin lo masuk."
"Santai aja Nis. diluar juga gpp kok.."
"Kalau ada tamu itu duduknya didalam rumah nak Dimas. Nak Dimas udah sarapan belum ?"Timbrung bunda.
"Eh u-dah. Eh maksudnya belum tante."
"Kalau gitu ayok kita sarapan bareng aja. kebetulan tadi tante masak sarapan lumayan banyak. Mubazir juga kalau gak dimakan."
"Gak usah deh tante. Ntar jadi ngerepotin."
"Gak ngerepotin kok." Jawab bunda.
"Gak usah deh bund kalau Dimasnya gak mau."Ucap Nisa.
Dimas yang tidak enak menolak kemauan nyokapnya Nisa akhirnya menerima tawaran tersebut. Mereka sarapan bareng bersama. Bunda banyak menanyakan tentang Dimas termasuk tempat tinggal dan pekerjaannya. Entah kenapa bunda merasa senang dengan kehadiran Dimas pagi hari ini. Dari pandangan bunda sangat terlihat kalau Nisa salah tingkah didepan Dimas. Bunda tahu dengan sangat baik sikap anak kesayangannya itu. Bunda juga melihat sosok Dimas seperti orang yang baik, lembut, dan tampan. Setelah selesai sarapan, Nisa pamit ke bunda untuk pergi ke Klinik kecantikannya.
"Tante makasih sarapannya. Enak banget nasi goreng buatan tante. Maaf tapi Dimas pamit mau pergi kerja takut kesiangan." Dimas menyalam tangan mamanya Nisa dengan sopan.
"Hati-hati ya nak Dimas. Jangan ngebut-ngebut ya. Kalau bisa sering main kerumah. Nisa sering kesepian itu gak ada teman."
"Iya tante makasih ya."
"Sama-sama nak Dimas."
Nisa mengantar Dimas sampai didepan rumah.
"Dim, maaf gue berangkat dulu ya. Kapan-kapan lagi kita lanjut ngobrolnya."
"Gue antar lo aja. Sekalian ada kerjaan di daerah sana juga."
"Gak usah Dim. Gue biasa kok bawa mobil sendiri."Tolak Nisa.
"Gue gak merasa direpotin kok."
'Ada apa sih dengan Dimas sebenarnya ? Kenapa tiba-tiba datang kerumah gue ? Terus sekarang maksa ngantar gue? Gue curiga ini ada apa-apa tapi gue gak tahu apaan. Gue gak yakin alasannya karena mau jenguk gue aja. Tapi kenapa sih lo baik banget Dim, Please jangan terlalu baik ke gue ntar gue jadi baper ke elo.' Batin Nisa.
"Helllo? Kok mlah bengong Nis?"Dimas melambaikan tangan kedepan wajah Nisa yang membuatnya tersadar.
"Gue cuman bingung aja sama lo Dim. Sebenarnya lo mau bilang apa sih ke gue."
"Jangan bawel. lebih baik lo ikut gue aja. Gue akan antar lo."
"Tapi gue...."
"Gak ada tapi-tapian..."
"Terus kalau gue gak bawa mobil ntar gue pulang malam naik apaan. Gue ada pengalaman buruk naik taxi online Dim."
Dimas berfikir sejenak kemudian menjawab.
"Gue yang akan jemput lo pulang."
"Lebih baik gak usah deh Dim. Nanti kerjaan lo terkendala karena gue."
"Orang gue nya gpp kok Nis. Udah deh lo santai aja."
"Hmmm...Ya udah deh terserah lo aja."
Dimas menarik tangan Nisa secara paksa dan membukakan pintu mobil buat Nisa. Nisa yang sedaritadi menolak sekarang sudah sangat pasrah dan mengikuti kemauan Dimas...
Di sepanjang perjalanan, tetap saja Nisa dan Dimas merasa begitu canggung.
"Sebenarnya lo." Mereka serentak bicara seakan satu pikiran.
"Lo mau bilang apa Dim ?"
"Lo aja duluan tadi mau bilang apa?"
"Please !!! lady's first..."
"Hari ini sebenarnya lo kenapa Dim ?kok tumben banget nyamperin gue ke rumah?Emang ada hal yang penting ? Aneh banget tauuu.. Ini kayak bukan elo deh."Tanya Nisa membuka pembicaraan sambil memegang keningnya Dimas.
"Bisa gak kalau nanyak itu satu-satu aja. Gue bingung jawabnya. terus kenapa lo sentuh kening gue ?"Protes Dimas.
"Gue cuman mau mastiin aja apa mungkin lo lagi sakit hari ini makanya lo sampai begini. Atau jangan-jangan lo salah minum obat lagi."
"Buang jauh-jauh itu pikiran lo yang aneh."
"Ya habisnya kan gue bingung aja lo gak biasa-biasanya begini."
"Ok gue jawab pertanyaan lo. Gue cuman mau jenguk lo aja karena lo bilang lo lagi gak enak badan. Gue baru sempat nyamperin lo sekarang. Terus gue ngelakuin ini dalam keadaan sadar. Puas lo !!!"
"Kok gue masih gak yakin kalau cuman itu aja alasannya ya."
Dimas melirik sekilas kearah Nisa yang masih berfikir tersebut.
"Kenapa sih lo bawel banget. gue udah jelasin ke elo tapi tetap aja lo gak bisa percaya ke gue."
Dimas mendadak memberhentikan mobilnya dan memarkirkan ke sebelah kiri dekat daerah taman.
"Kenapa kita malah berhenti disini sih Dim? Kan Klinik kecantikan gue masih jauh disana."Tunjuk Nisa kearah jalan.
Dimas secara reflek menutup mulut Nisa dengan tangannya. mereka menjadi saling pandang serta salah tingkah.
"Gue baru tahu lo ternyata bawel banget aslinya. Gue gak konsen nyetir karena lo ngomong terus tau gak. Jadi gue berhenti disini untuk ngobrol sama lo."
Jarak diantara keduanya sangat dekat membuat Nisa susah menelan air liurnya sendiri. Nisa melihat sekilas kemudian menunduk malu.
"Jadi mau ngobrol apa disini ?"Tanya Nisa memecah kegugupannya.
Dimas yang melihat Nisa menunduk malah menegakkan pandangan Nisa dan melihat ke Dimas.
"Kalau ngomong itu lihat orangnya bukannya malah nunduk gitu. Gue mau tanya sejak kejadian di cafe terakhir kali kita ketemu. Lo itu aneh banget. lo berubah kenapa ? Apa teman gue buat lo gak nyaman kemarin?"
'Kenapa sih Dimas seakan tahu banget isi hati gue. Lagian apa masalahnya juga sama dia. Toh juga selama ini gue gak ada hubungannya sama dia. Kalau tahu mau diintrogasi gini gue gak akan ikut mobil lo. Nyesal gue...' Batin Nisa.
"Helloo ? Tuh kan bengong lagi. Gue lagi ngomong sama lo."
"Apaan sih Dim.. Kan udah gue bilang kemarin kalau gue gak kenapa-napa. Gue cuman gak enak badan aja. Gak ada yang lain."
"Tapi gue gak percaya sama yang lo bilang. coba lo bilang alasannya sekali lagi sambil tatap mata gue. Gue tahu banget lihat orang yang bohong sama yang jujur dari matanya. Lo tatap gue sekarang."
'Bagaimana ini gue harus jawab apa sekarang. Masak iya gue bilang alau gue cemburu gitu. Ntar dia malah ngetawain gue lagi. Gak boleh !!! Dimas gak boleh tahu tentang perasaan gue."Batin Nisa semakin tak menentu.
"Emang gue harus jawab apa lagi Dim? Kan gue udah jelasin ke elo kenapa masih gak percaya juga sih."
"Tatap mata gue jangan ngalihkan pandangan gitu. Gue cuman mau mastiin aja. Karena gue rasa lo benar-benar aneh banget setelah kejadian itu. Please gue paling gak bisa penasaran kayak gini." Ucap Dimas mempertegas kata-katanya lagi ke Nisa.
'Asal lo tahu aja gue dari kemarin berfikir terus tentang ini.'Batin Dimas
"Ok gue jawab. Tapi lo jangan terlalu dekat gini ke gue."
"Gak bisa !!! Gue pengen lihat mata lo saat jawab pertanyaan gue."
'Parah banget nih Dimas, benar-benar maksa gue banget ya kayaknya. Ayo berfikir berfikir Nisa...'Teriaknya dalam hati.
"Teman-teman lo itu ganjen banget tau Dim."
'Astaga !!! Kenapa malah kata-kata itu yang keluar dari mulut gue. Mati gue jangan sampek Dimas sadar sesuatu."
Dimas menatap heran kearah Nisa.
"Terus kalau mereka ganjen kenapa ? kayaknya lo gak menjawab pertanyaan gue barusan deh Nis. Atau ini cuman alasan lo doang." Tanya Dimas.
"Ya gue gak suka aja gabung semeja makan siang sama mereka. Selera makan gue jadi hilang mendadak.Lagian gue juga gak bohong gue lagi gak enak badan juga makanya sekalian aja gue pamit waktu itu. Puas lo!!! Udah gue jawab pertanyaan lo. Sekarang antar gue ke klinik kecantikan sekarang."
Setelah mencerna ulang kata-kata Nisa kepikirannya kemudian Dimas mengambil kesimpulan. Dimas memang sangat pintar membuat orang lain mengaku dengan memancing segala pertanyaan ke orang tersebut. 'Apa Nisa lagi cemburu ke gue. Tapi mana mungkin !!!' Batinnya.
"Oke gue percaya sekarang. Tapi lo gak lagi cemburu kan Nis?"
Deg....!
Sanking kagetnya mendengar pertanyaan Dimas sampai-sampai hp nya jatuh kebawah kursi mobil.
Pertanyaan Dimas barusan seakan menusuk tajam ke jantung Nisa. 'Apa sekarang saatnya gue ungkapin. Tapi gak!!! gue belum siap nuntuk ditolak.sekarang.' Batin Nisa.
"Jangan kepedean deh lo Dim. Lagian kan kita baru aja ketemu. Buang jauh-jauh pikiran lo itu."
"Iya benar juga yang lo bilang. OK gue percaya sama lo."
"Sekarang lo antar gue ke Klinik kecantikan."
"Oke."
Nisa merasa sangat gelisah didalam mobil karena mereka terjebak macet yang panjang. Disatu sisi dia senang bisa lama dekat dengan Dimas. Di sisi lain dia sangat takut Dimas tahu perasaan yang ia rasakan. Dimas merasa kalau Nisa terlihat begitu gelisah.
"Kenapa sih lo kok gelisah banget ?"
"Gue kebelet ke kamar mandi. Bisa lebih cepetan dikit gak sih Dim?"Jawabnya bohong karena udah parno duluan dengan pertanyaan Dimas.
"Gimana dong macet banget. lo tahan aja deh dulu."
"Hmmm iya."Jawabnya datar.
Selang 1 jam kemudian, Dimas mencarikan kamar mandi untuk Nisa. Setelah selesai, Dimas dengan kecepatan tinggi mengantar Nisa sampai ke Klinik kecantikannya.
"Makasih ya Dim... Kayaknya gue pulang naik taxi aja deh."
"Lhoo kenapa katanya lo trauma."
"Sakit jantung gue disebelah lo."
"Maksudnya ?"Tanya Dimas.
"Lo bawa mobilnya buat gue jantungan tau gak !!! Gue diam bukan berarti gue gak takut."
"Kan tadi karena lo mau buru-buru sampai ke Klinik kecantikan makanya gue ngebut. Intinya gue orang yang bertanggung jawab. Gue akan jemput lo nanti malam. Lo tungguin gue.Ok!"
"Gue gak janji bakalan nungguin lo"
"Gak bisa gitu. Lo harus nungguin gue."
"Ok gue tungguin asalkan lo janji sama gue gak akan bawa mobil ngebut kayak tadi. Gimana Deal?"
"Ok deal.."
Nisa keluar dari mobil, dengan langkah setengah berlari Nisa segera masuk kedalam Klinik kecantikannya. 'Arrrgghh mimpi apa gue semalam. Tapi gue senang sih bisa ketemu Dimas nanti malam.' Batinnya yang memegangi dadanya sambil mengelus-elus. kemudian ia masuk ke Klinik dan melihat Ratu sedang duduk diruang tunggu. Saat Dimas ingin bergegas pergi, ia melihat hp Nisa berada dibawah kursi mobil. 'Emang teledor banget si Nisa. Pasti barangnya ada aja yang tertinggal.'Batinnya. kemudian ia masuk kedalam Klinik Kecantikan tersebut.
*****
Gimana pada suka gak? mohon berikan komentarnya yaa...
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya..
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading guys!