Playboy Vs Playgirl

Playboy Vs Playgirl
Harus Memilih



Tepat 9 bulan sudah usia kehamilan Ratu saat ini, Ratu dan Kavin terus mengcek dan mengontrol kandungan kepada dokter ahli. Dokter kandungan menyatakan bahwa semuanya normal dan baik-baik saja. Dokter juga menyarankan kalau sudah merasakan gejala kontraksi harap segera periksakan diri kembali ke rumah sakit.


Kavin dan Ratu kembali lagi ke rumah...


"Aku udah gak sabar deh Vin. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan anak kita." Ucap Ratu sambil mengelus perutnya.


"Sebentar lagi kita akan menjadi orangtua. Aku juga penasaran sama perpaduan wajah anak kita sayang." Ucap Kavin.


"Kamu benar Vin. Aku mulai deg-degan sih karena sebentar lagi mau lahiran." Ucap Ratu.


"Kamu harus tenanngkan fikiran ya sayang. Aku selalu ada untuk nemani kamu kok." Ucap Kavin.


Kavin mengelus lembut rambut Ratu. Bisa dibilang dirinya sendiri aja merasa deg-degan tetapi Kavin masih mencoba menenagkan istrinya.


Menjadi orangtua sebenarnya harus memiliki kesiapan mental karena melatih banyak hal salah satunya adalah kesabaran.


Ratu menyenderkan kepalanya pada bahu kiri suaminya. Dia masih membayangkan bagaimana proses persalinan yang akan dia jalani nantinya. Padahal sebelumnya dia tidak terpikirkan dan terganggu oleh hal itu tetapi semakin memasuki bulan dan hari, rasa takut dan cemas mulai dia rasakan. Bagaimanapun juga ini pengalaman pertama baginya.


"Aku yakin kamu pasti bisa melewatinya sayang." Ucap Kavin yang sudah melihat kecemasan pada wajah Ratu. Kavin sangat tahu apa isi hati istrinya tersebut.


"Makasih sayang, kamu selalu bisa menenangkan aku." Ratu mencium sekilas pipi Kavin kemudian membenamkan wajahnya pada dada suaminya.


'Semoga semuanya berjalan dengan lancar.' Batin Kavin.


*****


Saat makan malam bersama kedua orangtua dan mertua, Ratu dan Kavin sempat menceritakan tentang kondisi kehamilan Ratu yang terbilang tidak ada masalah tersebut. Semua keluarga ikut mendoakan untuk kelancaran proses persalinan Ratu. Semua sangat antusias untuk menyambut cucu pertama dari mereka berdua. Kavin meminta semua orang untuk lebih memperhatikan keadaan Ratu lagi...


"Kamu tenang aja sayang, kami pasti memantau keadaan Ratu setiap saat." Ucap mama Ratu.


"Kamu jangan khawatir begitu Vin." Ucap mama Kavin.


Kavin hanya bisa mempercayakan semua kepada keluarga saja, tetapi ntah mengapa dalam hatinya masih ada perasaan cemas.


'Gue harus buang jauh-jauh pikiran jelek, sekarag gue harus fokus untuk menenangkan istri...gue yakin kalau dia yang lebih panik.' Batin Kavin.


"Iya sayang, aku gak kenapa-napa kok kan ada mama papa yang selalu jagain aku." Ucap Ratu yang melihat wajah cemas suaminya.


"Kamu benar sayang, mungkin aku hanya cemas saja karena ini merupakan pengalaman pertama bagiku." Ucap Kavin.


"Nak Kavin tenang aja ya, mama dan papa akan menjaga Ratu dirumah." Ucap mama Ratu.


"Iya ma..." Ucap Kavin.


"Begitu dong sayang, kamu harus percaya sama orang yang ada dirumah." Ucap mama Kavin.


"Iya iya ma, Kavin percaya kok." Ucap Kavin.


Selesai makan malam, Ratu dan kavin bergabung duduk dengan keluarga mereka. Mereka sering quality time bersama keluarga semenjak Ratu hamil. Apalagi sejak kedua orangtua Ratu tinggal dirumah, kedua besannya sering sekali mampir bahkan menginap dirumah. Untungnya mereka mempunyai keluarga yang gampang sekali berbaur, jadi tidak ada kesulitan bagi Ratu dan Kavin untuk mendekatkan keluarga masing-masing.


Malam ini mereka semua menghabiskan waktu diruangan karaoke. Setidaknya bisa berkumpul dan bernyanyi bersama keluarga adalah hal yang paling menyenangkan. Mama dan papa Ratu bernyanyi sebuah lagu, Ratu yang melihat iri karena papa mamanya masih saja romantis padahal usia pernikahan terbilang lumayan lama. 


"Kamu bakalan kayak gitu gak ya Vin? aku iri deh lihat papa mama kita yang masih saling menebarkan kasih sayang diantara mereka." Tunjuk Ratu sambil berbisik.


"Selamanya aku bakalan buat kamu bahagia sayang." Ucap Kavin.


"Huh, bisa aja nih suami aku yang paling manis sedunia. Gak ada lo yang bisa ngalahin kamu kalau udah ngerayu." Ucap Ratu.


Kavin mendekatkan duduknya disamping istrinya.


"Aku bicara sesuai kenyataan lo sayang. Kamu nih kayak gak ada percayanya sama suami kamu sendiri." Bisik Kavin.


Keluarga mereka menatap keduanya sambil geleng-geleng kepala. 


"Kavin gak tahu malu ya ma, masak didepan mertua dan orangtuanya berani mesra-mesraan begitu." Protes papa Kavin.


"Kan sifatnya gak jauh dari orangtuanya sndiri pa, papa tuh bisa bercermin sendiri deh. Lagian mereka kan sudah sah sebagai pasangan jadi wajar aja kali pa." Bisik mama Kavin.


"Mama nih selalu belain Kavin dibanding suami sendiri." Protes papa.


"Papa aneh banget, cemburu kok sama anak sendiri." Ucap mama Kavin.


"Habisnya mama sejak Kavin lahir sudah gak jarang perhatian sama papa lagi sih. Fokusnya ke Kavin terus..." Ucap papa Kavin.


"Mama lebih sayang sama papa kok. Jadi papa tenang aja..' Ucap mama.


"Ya karena Kavin sudah menikah kan, mama gak ada pilihan lain lagi. Huh dasar." Ucap papa sebal.


Mama terkekeh melihat suaminya yang masih saja manja padahal sudah tua juga.


Setelah kedu besannya bernyanyi, sekarang gantian giliran papa mama Kavin yang berduet sambil mengenang masa lampau...


Kavin dan Ratu bersorak dan bertepuk tangan melihat aksi papanya Kavin menyodorkan tangannya kearah mama mertuanya tersebut.


'Papa buat malu mama aja deh.' Batin mamanya Kavin yang tersipu malu atas sikap suaminya tersebut.


Mama mau tidak mau menerima juluran tangan suaminya dan mereka bernyanyi.


"Kayaknya aku tahu deh kenapa kamu bisa kayak gini. Ternyata buah gak bakal jatuh jauh dari pohonnya ya sayang. Papa kamu sweet banget deh." Ledek Ratu.


"Kamu muji atau ngeledekin suami kamu terus?" Ucap Kavin yang sebal melihat istrinya mengejeknya terus.


"Dua-duanya dong Vin." Ucap Ratu yang masih terkekeh.


"Huh dasar, kamu happy banget ya kalau udah ngeledekin suami sendiri." Ucap Kavin.


"Ya mau gimana lagi, habisnya aku baru lihat sikap papa ternyata seperti itu. Pantasan aja mama kamu klepek-klepek gitu." Ucap Ratu.


"Jangan salah, mama sempat nolak papa 3 kali lo sayang." Ucap Kavin yang mengingat jelas.


"Seriusan sayang? kan papa kamu ganteng kenapa mama bisa gak mau?" Tanya Ratu.


"Jadi mama aku tuh trauma sama cowok ganteng. Intinya papa aku tuh bukan tipe cowoknya sama sekali. Papa padahal udah berjuang habis-habisan untuk mendapatkan hati mama tetapi masih aja ditolak." Ucap Kavin.


"Ternyata orang seganteng papa kamu harus merasakan perjuangan juga ya Vin." Ucap Kavin.


"Iya dong sayang. Papa aku kan manusia biasa juga...tapi justru karena ditolak terus-terusan yang membuat papa lebih semangat lagi berjuangnya. Kayak aku mau dapatin cinta kamu kan penuh perjuangan dan lika-likunya sayang. Jadi semuanya harus penuh perjuangan." Ucap Kavin.


"Iya deh iya.." Ucap Ratu.


Ratu mulai merasakan perutnya sedikit sakit sambil memegangi dengan kedua tangannya...


Kavin terlihat panik dan mengajak Ratu untuk beristirahat di kamar. Sampainya di kamar perut Ratu yang tadinya sakit sudah tidak sakit lagi.


"Kontraksi palsu kayaknya Vin." Ucap Ratu.


"Atau mungkin anak kita nyuruh ibunya untuk istirahat." Ucap Kavin.


Kemudian Ratu berbaring dan mulai memejamkan matanya. Sedangkan Kavin masih mengawasi Ratu yang sedang tidur sampai dirinya ikut terlelap juga disebelah istrinya itu.


*****


Ratu sudah dilarikan ke rumah sakit tempat mereka periksa sebelumnya. Ratu langsung dibawa keruang UGD untuk diperiksa kembali.


Kavin yang berada diperjalanan dari kantor menuju ke rumah sakit sudah khawatir tak karuan. Mungkin ini arti mimpi atau kecemasannya tentang Ratu selama ini. Telapak tangannya mulai basah sampai membuaynya berulang kali mengambil tisu untuk mengelap. 


"Bisa lebih cepetan nggak pak ngendarain mobilnya?" Perintah Kavin kepada pak Budi.


"Baik den Kavin." Pak Budi mempercepat mengendarai mobilnya.


Kavin masih saja gelisah, berulang kali dia menghubungi no hp mama papanya tetapi masih belum ada jawaban. Hal ini juga yang sempat membuat dirinya khawatir. 


"Mama papa kemana sih kenapa gak ada yang jawab teleponnya." Ucap Kavin kesal.


Pak Budi mulai menenangkan hati majikannya tersebut...


"Sabar pak. Mungkin orangtua den Kavin tidak melihat hpnya." Ucap pak Budi.


"Saya gak bisa tenang sebelum lihat sendiri bagaimana kondisi Ratu." Ucap Kavin.


"Saya doain semoga non Ratu baik-baik aja dan bayinya juga." Ucap pak Budi.


"Saya juga sangat mengharapkan hal itu pak." Ucap Kavin.


Begitu sampai di rumah sakit, Kavin langsung saja berlari dan menanyakan kepada perawat dimana ruangan atas nama istrinya. Setelah tahu Kavin pergi menuju ruangan tersebut. Dari jauh dia bisa melihat kalau keluarganya sudah berkumpul didepan ruang tersebut...


Dengan langkah yang lemas, Kavin menghampiri keluarganya.


"Kavin !!!" Sapa papa yang menyadari kehadirannya.


"Bagaimana kondisi Ratu sekarang?" Ucap Kavin khawatir.


"Dokter masih memeriksanya sayang, daritadi kami juga sedang menunggu dokter keluar." Ucap mama yang menyuruh Kavin duduk dan tenang.


"Maaf ya nak Kavin, ini salah mama...kami semua tidak memyadari kalau Ratu sudah pecah ketuban karena Ratu bersikap seperti biasa saat sarapan tadi. Dan Ratu juga tidak menyadari hal itu karena asik bercanda saja dengan kami di meja makan." Ucap mama mertuanya yang merasa tidak mengontrol dengan baik kondisi anaknya itu.


"Tidak baik kalau semua orang merasa ersalah, sebaiknya kita mendoakan yanh terbaik buat Ratu sekarang." Ucap besannya.


"Tapi tetap saja saya merasa beesalah untuk itu. Saya takut Ratu kenapa-napa." Ucap mama Ratu sambil menunduk.


"Bukan salah mama kok." Ucap Kavin.


Dokter dan perawat keluar dari ruangan dengan wajah ditekuk kemudian menghampiri keluarga pasien...


"Yang mana suami pasien?" Tanya dokter.


"Ya saya sendiri dok." Kavin segera menghampiri dokter dan diikuti dengan keluarga yang lain.


"Bagaimana kondisi istri saya sekarang dok?" Tanya Kavin to the point yang melihat wajah kusut dokter tersebut.


"Kita harus segera mengambil tindakan. Karena cairan ketuban pasien sudah hampir mengering, saya harap kerja samanya." Ucap dokter sambil menyodorkan berkas yang harus Kavin tanda tangani.


"Maksud dokter gimana? Apa yang harus saya lakukan?" Tanya Kavin yang masih belum mengerti maksud perkataan dokter tersebut.


"Jadi begini pak, bapak harus segera menandatangi berkas ini sebagai bukti persetujuan keluarga pasien. Bapak harus memilih mana yang harus diselamatkan. Istri atau anak bapak? Saya juga tidak bisa menjamin untuk keduanya. Jadi saya mohon bapak berfikir dengan secepatnya biar kami bisa melakukan tindakan operasi kepada pasien." Jelas dokter.


"Harus memilih? Yang benar aja dokter? Saya tidak bisa memilih begitu saja." Ucap Kavin yang sedikit histeris mendengar penyataan dokter barusan.


"Saya kasih waktu bapak berfikir selama 10 menit, karena kita tidak punya waktu lagi. Semakin lama akan semakin memperburuk keadaan kondisi pasien dan bayinya." Ucap dokter mempertegas kata-katanya lagi.


"Apa tidak ada jalan lain dok?" Ucap mama Ratu.


"Tidak ada bu. Saya mohon kerja sama keluarga." Ucap dokter kemudian segera meninggalkan keluarga pasien.


Kavin terduduk lemas seakan kakinya tidak ada tenaga untuk berdiri lagi. Papa dan mertuanya berusaha menjingjing Kavin untuk duduk di kursi.


"Apa yang harus Kavin pilih?" Kavin menjambak dengan frustasi rambutnya yang sudah rapi tersebut akibatnya rambut Kavin menjadi berantakan ...


Keluarganya juga tidak bisa memilih dan hanya menyerahkan keputusan kepada Kavin. Sebagai seorang suami Kabin yang harus membuat keputusan yang tepat.


'Kalau aku menyelamatkan bayi kita, itu artinya aku akan kehilangan kamu sayang. Tapi kamu sangat menginginkan kehadiran bayi itu. Kalau aku menyelamatkan kamu, aku yakin kamu akan menyalahkan diri kamu sendiri atas kejadian ini. Dan ku yakin kamu bakalan marah karena aku tidak bisa menyelamatkan bayi kita. Terus aku harus bagaimana sekarang? Apa kita tidak bisa memiliki keluarga yang bahagia? Kenapa cobaan ini terasa begitu berat bagi kita berdua. Aku takut kehilangan kalian berdua yang sangat penting bagi hidupku.' Batin Kavin yang masih ragu. 


'Tuhan...apakah ini akhir dari segalanya? Kasih aku petunjuk untuk bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk semua.' Batin Kavin.


Kavin menghembuskan nafas dengan berat dan dia terisak sebentar karena baginya ini keputusan yang sulit.


Papa datang menghampiri dan memberikan Kavin air minum. Kavin segera meneguk air minum pemberian papanya. Papa memegang pundak Kavin dan menepuk-nepuknya..


"Apapun pilihan kamu, keluarga tidak akan menyalahkan keputusan itu. Kami percayakan semua kepada kamu Vin. Papa yakin kamu yang lebih tahu..." Ucap papa.


"Kavin takut pa, ini keputusan yang paling sulit untuk Kavin. Kenapa takdir seakan mempermainkan kebahagiaan Kavin yang hampir saja tercapai." Ucap Kavin frustasi.


"Kenapa? Kenapa? Mungkin kamu akan menanyakan hal itu kepada Tuhan. Tapi percayalah Vin. Mungkin Tuhan menguji ini untuk memperkuat hati kamu dan rasa cinta kamu terhadap keluarga." Ucap papa.


"Kavin tahu pa, tapi Kavin hampir menyerah sekarang. Apa seginya Kavin menguji hidup Kavin?" Ucap Kavin.


"Tidak semua hidup bisa sesuai dengan apa yang kita rencakan Vin. Kamu tenangkan hati dulu setelah itu segera ambil keputusan. Kamu dengar sendiri kan semakin lama kamu memilih semakin sulit dan menderita Ratu didalam sana. Kamu tidak ingin hal itu kan Vin? Papa tahu ini keputusan yang paling sulit bagi kamu. Tapi kita harus melewatinya. Papa yakin kamu mengerti maksud perkataan papa." Jelas papa panjang lebar.


Kavin melihat papanya sekilas kemudian membaca dokumen yang diserahkan dokter tadi. Berulang kali dia mencoba mencerna kata-kata dari dokumen tersebut sampai akhirnya dia mengambil pulpen untuk menandatangi berkas tersebut. Kavin berjalan menghampiri perawat yang menunggu sedaritadi. Kemudian dia terduduk kembali sambil mengira-ngira apakah keputusan yang dia ambil sudah tepat.


Sedangkan disisi lain...mamanya dan mama mertuanya saling berpelukan dan menangis. Mereka juga tidak menginginkan hal seperti ini terjadi. Perasaan bersalah mamanya semakin besar untuk sekrang karena dia merasa gagal mengontrol putrinya sendiri.


"Ini semua salah saya mbak. Ratu harus mengalami hal ini karena keteledoran saya sebagai orangtua sudah gagal mengotrol amak saya sendiri. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Mama Ratu terisak dan mama Kavin memeluknya dengan hangat.


"Semua yang terjadi sudah takdir yang harus kita jalani. Jadi jangan menyalahkan diri sendiri. Sebaiknya kita berdoa semoga ada keajaiban nantinya." Ucap mama Kavin yang berusaha menahan sedihnya sendiri.


Semua orang sangat terluka sekarang.


Papa yang tidak tega melihat istrinya menangis kemudian menghampirinya dan memeluknya...


"Mama jangan begini ntar makin membuat Kavin semakin sulit berfikir ma. Papa yakin semua akan baik-baik aja selama kita percaya Tuhan pasti akan menolong kita." Ucap papa yang mengambil alih memeluk istrinya yang terlihat begitu sedih. Papa berusaha menenangkan pikiran istrinya yang sedang kacau ini.


"Mama mau minta maaf sama Kavin pa." Ucap mama sambil terisak.


Papa menggeleng tidak setuju...


"Bukan waktunya untuk menyalahkan diri sendiri ma. Saat ini Kavin sudah terlalu sulit berfikir. Jadi papa minta mama jangan menambah beban pikirannya lagi. Mama bisa lihat sendiri raut wajah Kavin yang terlihat kacau sekarang. Sejak menandatangi berkas tadi Kavin menjadi banyak diam ma. Papa mohon mama mengerti keadaannya sekarang. Mama lupa, hal ini pernah terjadi kepada kita dulu. Betapa putus asanya papa saat itu tapi hati kecil papa yakin kalau mama akan baik-baik aja. Ternyata Tuhan mendengar rintihan hati papa yang paling dalam. Papa yakin kali ini juga akan baik-baik aja. Mama percaya sama papa kan?" Jelas papa panjang lebar kepada mama yang masih menenggelamkan wajahnya pada tubuh suaminya itu.


"Mama takut pa..." mama masih saja terisak.


"Hust...jangan menangis lagi ma. Kita harus percayakan semua kepada Tuhan. Jangan menyerah begini..." papa menghapus air mata mama yang mengalir deras tanpa diminta.


Mama mengangguk saja...


Sebagai seorang ibu, mama sangat mengerti bagaimana dirinya yang dulu pernah mengalami hal tersebut. Pernah mengalami kejadian serupa yang hampir saja kehilangan bayi mereka. Tapi suaminya benar-benar orang yang sangat tabah saat itu karena harus melewati cobaan itu sendiri. Mama belajar banyak dari papa.


'Semoga semuanya berjalan lancar dan baik-baik aja. Semoga kali ini Tuhan mendengarkan doa kita semua. Amin.' Batin mama.


Dokter yang baru saja datang segera membaca berkas yang ditandatangai suami pasien. Kemudian dokter menyuruh perawat menyiapkan semua hal karena mereka akan segera melakukan operasi kepada pasien tersebut. Dokter juga tahu ini keputusan yang tidak mudah untuk pasien dan keluarganya. Tetapi takdir berkehendak lain jadi sebagai dokter juga hanya bisa melakukan yang terbaik yang dia bisa...


Keputusan yang Kavin pilih adalah...


*****