
Semenjak pertemuan terakhir kali dengan Nisa, Dimas tidak pernah bertemu lagi dengan Nisa. Dimas sekalin bertanya-tanya kenapa dan ada apa dengan Nisa. Kenapa sikapnya berubah akhir-akhir ini. Nisa sangat jarang memalas chat serta tidak pernah mengangkat teleponnya lagi. Kalaupun didatangi kerumah, Nisa tidak pernah mau keluar sama sekali. Sampai Nisa menyuruh bundanya untuk berbohong dengan berbagai alasan.
Alasan yang dipakai bunda adalah kalau Nisa tidak ada dirumah, Nisa sudah tidur, Nisa sedang pergi dan banyak alasan lainnya. Sampai Dimas kesal sendiri karena tidak bisa bertemu dengan Nisa. Dimas sudah terbiasa menceritakan apa saja kepada Nisa. perubahan sikap Nisa membuatnya sangat bingung sediri.
'Kenapa sih lo Nis? gue tahu banget kalau lo itu menghindar sama gue. Apa salah gue? Kenapa mendadak seperti ini? Apa lo balikan lagi sama mantan lo itu?' Batin Dimas yang benrtanya-tanya sendiri.
Dimas begitu merindukan sosok Nisa lagi. Sosok yang selama ini selalu ceria, happy dan lucu. Dia sudah terbiasa berbagi cerita ataupun hal lainnya dengan Nisa. Tanpa Dimas sadari dia mulai merasakan sesuatu yang hilang didalam dirinya. Dimas merasa sangat kesepian karena tidak ada yang bisa dia telponin setiap malam atau ajak makan ataupun nonton lagi. Setiap malam dia berfikir keras bagaimana bisa bertemu dengan Nisa lagi.
Karena tidak bisa tertidur, dia memutuskan untuk pergi ketempat favoritnya untuk makan. Tempat dimana Nisa sdah sangat sering dia ajak untuk menikmati pemandangan kota Jakarta. Malam ini dia menumpahkan perasaannya dengan teriak dari atas tempat tersebut.
'Aaaaaaaahhhhhhh....Apa salah gue?' Teriaknya berkali-kali.
Setelah berteriak Dimas merasa sedikit tenang. kemudian dia memesan makanan seperti biasa. Yang dia pesan semua makanan yang Nisa pesan kalau ketempat itu. Saat makanan sudah dihidangkan, Dimas hanya melihat semuanya. 'Kenapa gue pesan makanan sebanyak ini?Ini kan makanan kesukaan Nisa. Apa gue sebegitu kehilangan lo sebagai teman gue? Apa gue benar-benar merindukan sosok Nisa sampai-sampai memesan semua menu makanan favorit Nisa.' Batin Dimas.
Kemudian dia menghabiskan sebagian makanan itu, sebagian lagi Dimas membungkusnya dan membawanya pulang. Sampainya dirumah, Masih saja dia tidak bisa tertidur. Isi pikirannya hanya Nisa saja.
'Kok gue jadi begini sih. Gue harus cari tahu kenapa Nisa mendadak menjauhi dan berubah. Gue akan tungguin Nisa besok sepulang kerja. Gue akan tungguin sampai dia keluar dari tempat kerjanya. Gue harus tahu apa alasan sebenarnya.' Batin Dimas.
*****
Keesokan harinya,
Sepulang kerja Dimas buru-buru pergi ke Klinik kecantikan Nisa. Dimas sengja memarkiran mobil agak jauh. Dia tidak ingin kalau Nisa tahu saat ini dia sedang menunggunya didalam mobil. Dari kejauhan, Dimas melihat seseorang yang tidak asing berdiri didepan klinik kecantikan Nisa.
'Itukan mantannya Nisa, apa benar sekarang mereka udah balikan lagi, makanya Nisa jadi berubah cuek sama gue. Jadi sekarang gue pulang atau tetap nungguin Nisa disini.' Batin Dimas.
Saat Nisa keluar dari kliik kecantikannya, Adryan langsung menghampiri Nisa...
"Hai Nis?" Sapa Adryan.
"Mau ngapain lo kesini? Lagian tahu darimana tempat ini? Kan udah gue bilang jangan pernah ganggu hidup gue lagi." Ucap Nisa.
"Aku mau ajak kamu ngobrol. Aku pengen jelasin semuanya ke kamu Nis. Tolong dengarin aku dulu." Ucap Adryan memelas.
"Aku gak ada waktu untuk dengarin penjelasan dari lo lagi. karena semuanya udah gue lupakan." Ucap Nisa.
"Aku mohon Nis. Aku tahu kalau aku salah udah meninggalkan kamu. Aku minta maaf banget buat itu." Ucap Adryan.
"Gue bilang kan gue udah lupain semua hal buruk dalam hidup gue. Jadi gak usah ganggu dan buang-buang waktu. Karena sejak lo tinggalin gue disaat itu juga perasaan gue hilang." Ucap Nisa.
Nisa berlari kearah mobilnya tapi Adryan malah memeluknya dari belakang.
"Pliss Nis, aku masih sayang banget sama lo." Ucap Adryan mengeratkan pelukannya.
"Gue bilang lepasin gue. Kalau lo sayang sama gue...lo gak akan tega ninggalin gue waktu itu." Ucap Nisa.
"Aku punya alasan Nis. Selama ini juga aku udah usaha untuk cari keberadaan kamu." Ucap Adryan.
"Udah cukup !!! gue gak mau dengar apa-apa lagi. Gue mau pulang sekarang." Ucap Nisa.
"Perasaan aku gak pernah berubah sedikitpun buat kamu Nis." Ucap Adryan.
"Tapi perasaan gue yang udah berubah." Ucap Nisa.
Dari kejauhan Dimas menjadi ragu untuk menghampiri Nisa.
"Kayak gak ada tempat aja untuk bermesraan." Ucap Dimas kesal sambil memukul setir mobilnya.
"Mumpung gue udah disini, gue jumpain aja seenggaknya gue harus tahu alasan Nisa." ucapnya lagi langsung keluar dari mobil.
Semakin mendekat kearah Nisa dan mantannya, samar-samar dia mendengar suara..
"Lepasin gue.!!!" Teriak Nisa.
Dimas mempercepat langkahnya untuk membantu Nisa.
"Tolong lepasin Nisa !" Bentak Dimas.
Dimas melepaskan pelukan tangan Adryan.
"Jangan ganggu Nisa. Lo sama Nisa udah berakhir." Ucap Dimas.
"Emangnya lo siapa ? pacarnya? bukan kan." Ucap Adryan.
"Siapapun gue gak penting lo tau." Ucap Dimas.
"Kalau gitu lo gak ada hak untuk ngatur gue. Karena lo bukan siapa-siapanya Nisa." Ucap Adryan.
"Lebih baik kalian pergi dari sini." Usir Nisa.
"Aku mau ngobrol sama kamu Nis." Ucap Adryan.
"Ada yag mau aku obrolin sama lo Nis." Ucap Dimas gak mau kalauh.
"Apaan sih lo, ikut-ikutan aja." Ucap Adryan.
"Siapa juga yang ikut-ikutan. PD banget lo." Ucap Dimas.
"CUKUP !!! Kalau kalian gak mau pergi dari sini, biar gue aja yang pergi. Terserah kalian aja mau bagaimana." Nisa langsung masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan keduanya.
"Ini semua gara-gara lo, Nisa jadi pergi." Ucap Adryan.
"Udah jelas karena lo lah. Nisa gak mau lo ganggu lagi. Emangnya ucapan Nisa waktu itu kurang jelas ya ?" Ucap Dimas.
"Gue gak peduli. Gue akan berjuang untuk rebut hati Nisa lagi." Ucap Adryan.
"Gue yakin bakal sia-sia." Ledek Dimas.
"Udalah kok gue malah ngobrol sama lo. Gak penting banget." Ucap Adryan meninggalkan Dimas.
Dimas lega karena ternyata Nisa tidak balikan lagi dengan mantannya. Dimas langsung pergi menyusul Nisa....
"Nisa !!! Teriak Dimas yang meihat Nisa baru turun dari mobil.
Secepat mungkin Dimas keluar dari mobil dan langsung menghampiri Nisa..
"Maaf Dim, gue mau istirahat." Ucap Nisa.
"Gue mau ngomong sama lo." Ucap Dimas.
"Gue capek banget Dim hari ini." Ucap Nisa.
'Bukannya cukup jelas ya Dim. Gue begini karena mau lupain lo.' Batin Nisa.
"Karena gue capek aja." Ucap Nisa.
"Bohong. Dari dulu lo gak pernah kayak begini. Apa lo capek sama gue?" Ucap Dimas.
"Iya gue capek sama semuanya Dim." Ucap Nisa yang sudah tidak bisa menhaan lagi. Jujur selama 2 minggu menghindar dari Dimas adalah hal yang cukup sulit baginya. Karena dia sudah terbiasa dan nyaman dengan kehadiran Dimas dihidupnya. Tapi semenjak Dimas menyatakan dia hanya menganggap Nisa sebagai teman dan gak lebih. Kata-kata itu cukup menyadarkan dirinya dan cukup menyakitinya begitu dalam.
"Jadi lo beneran capek sama gue Nis? emang salah gue apa sama lo?" Tanya Dimas lagi.
"Gue capek Dim. Lebih baik kita gak usah temenan lagi." Ucap Nisa.
"Alasannya?" Tanya Dimas semakin bingung.
"Apa lo mau balikan lagi sama mantan lo lagi? Ya kan? makanya sikap lo berubah begini sama gue?" Ucap Dimas lagi.
'Karena lo gak pernah ngerti perasaan gue.' Teriaknya dalam hati.
"Terserah lo Dim mau mikir bagaimana tentang gue.Lebih baik sekarang lo pulang aja. Gue mau istirahat." Ucap Nisa.
"Kenapa Nis? Kenapa? Apa salah gue sama lo?" Ucap Dimas.
"Lo gak ada salah Dim. Disini gue yang salah." Ucap Nisa.
"Tatap mata gue. Bilang kalau lo gak mau temenan lagi sama gue." Ucap Dimas.
Nisa memberanikan dirinya menatap langsung kearah Dimas .
"Gue gak mau temenan lagi sama lo." Ucap Nisa.
"Coba lo ulang sekali lagi Nis." Ucap Dimas.
"Gue gak mau temenan lagi sama lo." Ucap Nisa.
"Makasih karena mata lo benar-benar jujur banget saat menatap serta ngomong begitu ke gue. makasih udah buat gue sadar." Ucap Dimas.
Nisa hanya berusaha menelan ludahnya sendiri saat mendengar Dimas mengatakan itu.
"Gue masih gak nyangka sama lo Nis. Tapi gue mau ucapin makasih banyak karena selama 6 bulan ini udah jadi teman yanbg baik buat gue. Makasih untuk waktu-waktu yang lo luangin untuk gue. Mungkin ini kata-kata terakhir yang bisa gue bilang sama lo Nis. Kalau selama ini gue ada salah, gue minta maaf banget sama lo. Mungkin gue bukan teman yang baik buat lo. Gue berharap smoga lo bahagia tanpa gue ya Nis.." Ucap Dimas.
"Gue yang minta maaf karenaudah mutuskan pertemanan kita. Dan gue udah ikutin kemauan lo barusan, Lebih baik lo pulang sekarang." Ucap Nisa.
"Oke kalau itu yang lo inginkan. Gue baru tahu kalau lo sejahat ini. Gue benci sama lo." Ucap Dimas langsung pergi begitu aja.
'Lebih baik lo benci sama gue Dim, gue memang cewek jahat yang tega nyatikiti orang baik kaya lo.' Batin Nisa yang mencoba mentegarkan dirinya.
Sampainya didalam kamar, Nisa yang sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menangisi Dimas lagi. Malam ini dia mengingkari janjinya itu. Dia menangis karena bakal kehilangan dan tidak akan pernah bertemu dengan Dimas lagi. Bahkan dia lupa kalau tadi dia sudah bertemu dengan Adryan.
Bunda masuk kedalam kamar Nisa karena ingin mengajaknya makan malam. Bunda bingung dan heran melihat putri kesayangannya itu sedang menangis....
"Kamu kenapa sayang? Cerita sama bunda? Bunda sedih banget melihat kamu seperti ini." Ucap bunda.
"Nisa gak akan bertemu sama Dimas lagi bunda. Nisa udah mutuskan untuk gak berteman lagi sama Dimas." Ucap Nisa.
"Emangnya Dimas salah apa sama kamu?" Tanya bunda.
"Dimas gak ada salah bunda. Nisa cuman takut kalau gak bisa mengendalikan perasaan Nisa lagi. Nisa sayang banget sama Dimas." Ucap Nisa.
"Jadi ini juga alasan kamu kenapa belakangan ini kamu menghindari Dimas?" Tanya bunda memastikan.
"Iya bunda. Nisa lagi usahain agar gak ketemu Dimas dulu. Kata-kata Dimas buat Nisa tersadar kalau dia hanya menganggap Nisa hanya sebagai teman dan gak lebih. Nisa takut kalau Nisa gak bisa berteman karena Nisa suka sama dia. Apa Nisa egois ya bunda?" Ucap Nisa.
"Mungkin kamu hanya perlu waktu berfikir aja sayang. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya sayang. Jangan nangis lagi ya." Ucap bunda.
"Iya bunda..." Ucap Nisa.
"Lebih baik sekarang kamu makan malam bareng bunda. Bunda udah masakin steik daging kesukaan kamu." Ucap bunda.
"Nisa gak lapar bunda..." Ucap Nisa.
"Ya udah kalau gitu makanannya bunda buang aja." Ucap bunda.
"jangan dong bunda. Kab bunda udah capek masaknya." Ucap Nisa.
"Itu kamu tahu kalau bunda apek masaknya tapi kamu gak mau makannya. Kan mubazir sayang. Seharusnya kalau sedang sedih begini harus banyak makan sayang." Ucap Bunda.
"Biar apa bunda?" Tanya Nisa bingung.
"Biar ada tenaga kalau mau nangis sayang. Kan menguras pikiran hati dan pikiran kalau sedang menangis." Ucap bunda.
"Ikhh bunda. Ya udah deh Nisa makan." Ucap Nisa.
"Begitu dong sayang." Ucap bunda senang.
Nisa dan bunda menikmati makan malam. Setelah makan, Nisa dan bundanya menonton tv sebentar. Karena sudah sangat mengantuk, Nisa mengajak bundanya untuk tidur. Malam ini Nisa memutuskan untuk tidur bareng dengan bundanya. Dia kalau sedang sedih manjanya bertambah 2 kali lipat dari biasanya.
*****
Setelah kejadian itu, Nisa benar-benar berubah. Sekarang dia jadi banyak melakukan aktifitas untuk melupakan Dimas. Dia lebih rajin datang ke klinik kecantikannya, diwaktu weekend juga dia lari pagi dan ikut yoga, terkadang juga dia hangout bareng sama Adel dan Ratu. Banyak jal lain lagi yang dia lakukan. Walaupun setiap malam pikirannya masih memikirkan Dimas. Sebisa mungkin dia tidak melihat hp. Karena didalam galery hp juga masih tersimpan banyak foto kebersamaan dan isi chat, panggilan, serta pesan dari Dimas. Dia masih sering membaca pesan atau kalau sedang merindukan Dimas.
Tapi Nisa masih tetap merawat bunga kaktus pemberian Dimas. Sempat sesekali Nisa ingin mengembalikkan bunga kaktus tersebut, tetapi niatnya itu dia urungkan kembali. Karena dengan mengembalikan bunga kaktus itu berarti Nisa bakalan ketemu lagi dengan Dimas. Dia tidak ingin usahanya sia-sia untuk melupakan Dimas. Jadi sebisa mungkin tidak dia lakukan.
Sedangkan Dimas juga menyibukkan dirinya di kantor dan sepulang kantor dia mengunjungi cafenya sampai tutup. Setelah itu dia pulang kerumah. Disaat tidak bisa tidur, dia menonton tv sampai pagi. Dia sudah tidak pernah ketepat favoritnya saat makan tengah malam itu.
Karena disana terlalu banyak kenangan antara dirinya dan Nisa. Dimas juga sering mengontrol cafe di waktu weekend nya serta beberapa kali mengajak Kavin untuk bermain sepak bola. Dimas pernah berfikir untuk menghubungi atau menelpon Nisa lagi tetapi tidak jadi dia lakukan karena dia tidak ingin menganggu Nisa. Mungkin Nisa lebih bahagia tanpa gue. Itulah isi pemikirannya. Banyak hal yang berubah dalam hidupnya.
*****
Terkadang seseorang harus menjauh dulu baru kita akan merasa kehilangan...
Gimana pada suka gak? mohon berikan komentarnya yaa...
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya..
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading Guys!