
Dimas dengan kesalnya, membukakan pintu rumahnya..."Kenapa sih lo Vin pencetin bel rumah gue terus-terusan?" Protes Dimas.
"Habisnya lama banget sih lo bukanya. Jadi ya gue pencetin terus. Udah deh gue kan disini untuk bertamu, bisa gak kalau kita gak usah ribut dulu." Ucap Kavin datar tanpa merasa salah.
"Siapa sih Dim yang datang?" Tanya mama sambil menghampiri kedepan.
"Eh ternyata ada nak Kavin dan istrinya. Kenapa gak disuruh masuk sih sayang?"
"Aneh banget deh Dimas tan, buka pintu malah marah-marah gak jelas gitu. Padahal kita datang juga untuk bertamu ajakan." Ucap Kavin.
"Jangan dihiraukan ya , kadang Dimas memang suka begitu. kalau begitu kalian langsung masuk aja kedalam ..." Ucap mama Dimas.
"Tan, itu didalam mobil ada mama dan papa ikut datang juga kesini." Tunjuk Kavin kearah mobil.
"Oh iya?? Ya udah kalian masuk aja dulu..." Mamanya Dimas mengajak suaminya untuk menghampiri kedua orangtua Kavin.
"Kenapa gak ikutan turun mbak Nita dan mas Andre?" Tanya mamanya Dimas yang sangat antuasis menyambut tamunya itu.
"Sengaja.. mau kasih kalian kejutan." Mereka saling cipika-cipiki dan saling berpelukan satu sama lain.
"Kangen banget sama mbak Nita dan mas Andre...udah lama banget kan kita gak pernah ketemu lagi." Ucap mama Dimas.
"Iya sama... udah lama banget." Ucap mama Kavin.
"Kalau gitu kita lanjut ngobrol didalam aja mbak. Senang banget mbak dan mas bisa datang kesini." Ucap mama Dimas.
"Sama dong. Kami juga senang banget pas dapat kabar dari Kavin kalau kalian lagi ada di Jakarta. Maaf cuman sempat beli cake dan buah aja." Ucap mama Kavin.
"Gpp mbak. Malah saya jadi ngerepotin kalian. Nanti kita makan bersama ya mbak. Saya sengaja udah masak banyak makanan hari ini. Pantas aja daritadi Dimas gak mau kasih tahu siapa yang akan datang. Ternyata orang mbak. Aduh senangnya kedatangan teman lama sekaligus tetangga lama." Ucap mama Dimas.
"Gak ngerepotin kok mbak. Kayak orang lain aja deh bilang begitu."
Mereka semua melanjutkan mengobrol diruang tamu. Sedangkan Kavin dan Ratu mengobrol bersama Nisa, Kirana serta Dimas diruang tamu yang ada dilantai atas. Papa mama Dimas dan papa mama Kavin saling membagikan cerita serta pengalaman mereka selama ini. Sedangkan Ratu dan Nisa saling menggosip berdua.
"Ehemmm... ciye yang lagi ngunjungi camer. Gimana perasaannya sekarang ?" Goda Ratu.
"Husst... jangan kuat gitu nomongnya beb, ntar kedengaran Dimas dan adiknya kan jadi gak enak." Bisik Nisa.
"Iya iya...jangan gugup gitu dong beb. Gue kan cuman mau garain lo aja sih." Bisik Ratu.
"Nanti aja kalau mau gangguin gue." Bisik Nisa lagi.
Kirana dengan isengnya malah sengja ikut menguping..."Ngomongin apaan sih kak? pakai bisik-bisik begitu. Buat penasaran aja." Ucap Kirana
Sepontan saja membuat Nisa dan Ratu langsung menghentikan aktifitas mereka.
"Ada deh, mau tahu aja nih Kirana." Ucap Ratu.
"Apaan sih kak, kan Kirana mau tahu kalian asik banget daritadi?" Rengek Kirana.
"Gak penting kok. Kak Ratu cuman bilang kalau nanti harus singgah kerumahnya. Yak kan Tu?" Jelas Nisa sambil meminta bantuan ke Ratu.
"Iya bener kok Kirana." Ucap Ratu.
"Oh gitu ya kak... kirain Kirana ntah ngobrolin apaan. Kayaknya seru aja gitu." Ucap Kirana.
"Perasaan kamu aja itu Kirana..." Ucap Nisa.
Dimas menghampiri mereka semua untuk menyuruh untuk turun kebawah bergabung dengan para orangtua Dimas dan Kavin.
Mereka semua menikmati makanan yang sudah dihidangkan diruang makan. Dimas melahap makanan tersebut dengan lahapnya karena selama ini dia sangat kangen sekali dengan masakan mamanya.
"Pelan-pelan dong makannya sayang, masih banyak juga kok makanannya." Protes mamanya.
"Enak banget ma, Dimas udah lama gak makan masakan mama." Ucap Dimas.
"Iya mama ngerti, tapi gak gitu juga sayang. Jangan malu-maluin dong sayang kan disini banyak orang." Ucap mama.
"Gapapa kok mbak. Kadang Kavin juga seperti Dimas." Ucap mama Kavin.
Dimas tiba-tiba keselek akibat makan dengan terburu-buru. Nisa dengan segera menuang air hangat dan memberikannya kepada Dimas langsung. Seketika semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut langsung terlihat saling pandang satu sama lain.
"Minum dulu Dim.." Ucap Nisa.
Kemudian Dimas mengambil air minum tersebut.
"Thanks Nis." Ucap Dimas.
"Sama-sama." Ucap Nisa.
"Gimana udah mendingan belum?" Tanya Nisa khawatir.
"Udah mendingan kok." Dimas menepuk-nepuk dadanya akibat keselek tadi.
"Baiknya kak Nisa. Perhatian banget sama kak Dimas." Puji Kirana.
"Teman kakak yang satu ini memang paling baik." Ucap Ratu.
"Tuh kan mama bilang apa tadi sama kamu. Mama udah bilangin kalau makan itu pelan-pelan aja sayang. Itu tadi akibatya kalau kamu gak mendengarkan perkataan orangtua." Ucap mama.
"Iya iya ma." Dimaspun makan dengan perlahan.
Setelah makan siang, Nisa dan Ratu membantu untuk mencuci piring dan membereskan semua makanan. Kemudian mereka semua kembali lagi keruang tamu yang ada diatas.
*****
Kirana yang sibuk dan asik sendiri menyusun game UNO milik kakaknya. Berulang kaligame tersebut ia susun dan bongkar kembali. Dimas yang melihatnya merasa sangat terganggu dengan tingkah adiknya itu.
"Haduhh Kirana... kalau mau main jangan disini dong. Ganggu tau gak? Bising banget.." Protes Dimas.
"Kayaknya cuman kakak aja deh yang merasa terganggu." Ucap Kirana.
"Kamu itu ya gak pernah dengerin kalau kakak kasih tau? Gak pernah mau nurut. Tapi giliran ada maunya aja baru baik banget." Ucap Dimas.
"Habisnya Kirana bosen banget kak dirumah aja. Sesekali datang ke Jakarta malah stay dirumah aja." Ucap Kirana.
"Besok-besok kalau mau keluar. Kamu lihat kan kalau kakak dan papa mama lagi kedatangan tamu. Jangan manja deh." Ucap Dimas dengan sewotnya.
"Janji ya kak kalau besok bakalan ngajak Kirana keluar." Ucap Kirana.
"Tergantung bagaimana sikap kamu ke kakak." Ucap Dimas.
"Ikkhhh kakak !!!" Teriak Kirana.
"Iya kakak janji. Puas !" Ucap Dimas sambil memberantakin rambut adiknya itu.
"Dasar kak Dimas nyebelin." Ucap Kirana.
"Kamu bilang apa tadi?" Tanya Dimas.
"Maksud Kirana. Makasih kak Dimas yang baik banget." Ucap Kirana bohong dengan tujuan agar kakaknya tidak marah kepadanya.
"Kakak dengar lo kamu tadi bilang apaan. Kamu berani bilang begitu, kakak gak akan ajak kamu besok." Ancam Dimas.
"Iya iya kak. Maaf..." Ucap Kirana dengan wajah pasrahnya.
"Udah deh Dim, daripada sedaritadi lo gangguin adik lo terus mendingan sekarang kita main game ini aja. Yang kalah akan dapat hukuman. Gimana pada setuju gak ?" Ucap Ratu.
"Kirana setuju kak. Kayaknya bakalan seru deh." Ucap Kirana semangat.
"Kalian aja deh yang main game." Ucap Kavin yang masih sibuk main game di hp nya.
"Oh kamu yakin nih gak mau ikutan main game bareng?" Tanya Ratu penuh penekanan kearah suaminya itu.
"Iya deh aku main demi buat kamu senang." Ucap Kavin yang tidak punya pilihan lain.
"Kalau gitu semua setuju kan?" Tanya Ratu dengan sangat antusias.
"Ok gue ikut aja." Ucap Nisa.
"Gue juga ikut." Ucap Dimas.
"Oke deal kalau gitu. Kirana toong ambil beberapa kertas dan bolpoin. Yang kalah akan dihukum melalui kertas yang akan dia ambil nantinya." Ucap Ratu.
"Oke kak..." Ucap Kirana.
Kirana mengambil kertas dan membantu Ratu menulis beberapa hukuman didalam kertas tersebut. Ratu menulis hukuman dikertas sambil tersenyum penuh arti.
'Sepertinya permainan ini akan menarik.' Batin Ratu.
"Lama banget sih kalian menulis beberpa hukuman aja." Protes Nisa sambil mengintip kearah kertas yang ditulis Ratu dan Kirana.
"Namanya juga sambil mikir beb. Kan hukumannya harus semenarik mungkin. Jangan dilihat dong." Ucap Ratu sambil berusaha menutupi tulisannya.
"Gue curiga nih. Hukumannya gak aneh-aneh kan?" Tanya Nisa ragu.
"Gak... Udah deh lo tenang aja. Bentaran lagi kelar kok tulisannya." Jelas Ratu.
"Bener tuh kak." Ucap Kirana yang menyetujui ucapan Ratu.
"Iya deh iya. Kompak banget ya kalian." Ucap Nisa.
"Oke selesai.." Ucap Ratu.
"Jadi aturan permainannya begini... siapa yang kalah akan mengambil salah satu kertas yang sudah kita lipat yang ada didalam mangkok ini. Terus di kertas ini ada dua pilihan hukuman. Menjawab pertanyaan atau melakukan tantangan. Pilih salah satu aja. Seperti main truth or dare sih bisa dibilang begitu. Tapi tenang aja ini gak sesulit itu kok. Jadi usahaka menang kalau tidak ingin mendapatkan hukuman. Udah mengertikan aturan permainannya? Kalau udah mengerti harus menjawab kata (Iya paham)...Ok." Jelas Ratu.
"Gue hitung sampai 3 ya... 1...2...3." Ucap Ratu lagi.
"Iya paham." Ucap mereka semua secara serentak.
Permainanpun dimulai, Kali ini mereka bermain UNO stacko. UNo stacko adalah permainan menyusun balok-balok membentuk sebuah menara.
Permainan ini terlihat sangat mudah tetapi sebenarnya diperlukan rasa kehatian-hatian saat memainkannya. Kalau kita bermain dengan terburu-buru dan rasa tidak sabar maka bisa membuat UNO stacko ini terjatuh dan berserakan. Cara memainkan nya adalah pemain pertama mengambil sebuah balok dari bagian bawah atau tengah menara dan meletakkannya di bagian atas menara. Pemain berikutnya harus mengambil balok dengan warna yang sama dengan nomor apa saja atau balok dengan angka yang sama dengan warna apa saja. Apabila balok dengan tanda 'reserve' dipindahkan maka arah permainan dibalik. Sedangkan balok tanda 'draw two' mengharuskan pemain memindahkan 2 balok langsung ke atas menara. Balok dengan tanda 'skip' berarti pemain tersebut dilewati oleh pemain berikutnya. Dan ketika balok warna ungu diambil maka pemain tersebut harus menyebutkan warna balok apa yang harus diambil pemain berikutnya. Permainan kan berakhir apabila menara menjadi roboh dan pemain yang menyebabkan robohnya menaralah yang akan kalah.
Awal permainan mereka masih terlihat santai dan biasa aja. Setelah beberapa kali bergantian mengambil balok hingga membuat balo tersebut sedikit bergoyang membuat Nisa menjadi sedikit ragu saat mau mengambil balok tersebut.
"Kenapa pas giliran gue baloknya udah goyang begini." Ucap Nisa.
"Jangan nyerah gitu dong Nis, perlahan aja pasti bisa kok." Ucap Ratu.
"Sumpah ! gue gak yakin bakalan bisa. Ini bawahnya udah goyang banget kalau gue tarik bakalan jatuh." Ucap Nisa.
"Namanya juga game... harus ada yang kalah dong. Ayo cepetan ambil baloknya." Ucap Dimas.
"Iya iya sabar dong. Gue deg-deg an banget nih." Ucap Nisa.
"Pelan-pelan aja kak Nisa...." Ucap Kirana mencoba memberikan semangat.
"Ok gue akan coba."
Nisa mengambil secara hati-hati dan perlahan tetapi tetap saja balok tersebut roboh dan berserakan....
"Aaaahhhhh..." Teriak Nisa.
"Benerkan yang gue bilang kalau baloknya bakal jatuh. Itu bawahnya udah goyang banget. Sial banget kan jadi gue yang kalah." Ucap Nisa.
"Ya udah kali Nis. Terima aja kalau lo kalah." Ucap Dimas.
"Iya iya gue yang kalah." Ucap Nisa.
"Kalau gitu lo kocok semua kertas yang ada didalam mangkok ini kemudian ambil salah satu kertas yang ada didalamnya." Jelas Ratu.
Nisa melakukan apa yang Ratu suruh kepadanya. Kemudian memberikan kertas tersebut kepada Ratu. Sebelum membacakannya secara langsung, Ratu membacanya sendiri terlebih dahulu.
"Cepetan dong kak dibacain.." Ucap Kirana yang sudah tidak sabar.
"Bacain dong sayang biar lanjut main lagi. Aku penasaran banget nih." Ucap Kavin.
"Sabar dong kalian....jadi pertanyaannya adalah Siapa yang lo sukai diruangan ini dan sebutkan alasannya." Jelas Ratu.
"Hukuman macam apaan sih ini. Aneh banget.Bisa gak kalau gak dijawab?" Protes Nisa.
"GAK BISA !!! Kan peraturan permainannya tadi seperti itu. Kalau lo gak bisa jawab berarti lo harus milih tantagan. Gimana ?" Ucap Ratu.
Nisa melototkan matanya kearah Ratuseolah tidak terima dengan hukuman tersebut.
'Kenapa sih Ratu dan Kirana buat pertanyaan seperti itu. Gak jelas banget. Masak iya sih gue harus jawab pertanyaan kayak gini. Mana ada Dimas lagi disini.Mau ditaruh dimana muka gue kalau gue ungkapin saat seperti ini.' Batin Nisa tak karuan.
"Gimana ? Lo pilih jawab pertanyaan apa tantangan ?" Tanya Ratu lagi tanppa menghiraukan tatapan tajam dari sahabatnya itu.
"Iya cepetan dong kak."Desak Kirana.
"Emang tantangannya apaan sih?" Ucap Nisa.
"Tantangannya.. Lo harus foto selfi dengan orang yang lo sukai. Gimana ?" Ucap Ratu.
"Apaan sih dua-duanya kok gak jelas banget gini hukumannya." Protes Nisa.
Nisapun berfikir panjang untuk memilih hukuman yang mana.
'Gue serasa dijebak dengan sahabat gue sendiri. Kalau gue pilih jawab pertanyaan, ah Gak!! Gak!! Gak mungkin sih. Apa gue pilih aja tantangannya ya. Tapi gue foto selfi sama siapa dong. Ya Tuhan,,, ini game apaan sih sebenarnya !' Teriak Nisa dalam hati.
"Oke gue akan milih tantangan aja." Ucap Nisa.
"Yakin lo Nis?" Tanya Ratu bingung.
"Iya gue yakin. Kan tantangannya foto selfi dengan orang yang disukai kan. Ok gue akan foto..." Nisa foto selfi sebenarnya kearah Dimas. Karena Dimas ada tepat berada dibelakang Nisa. Tapi Dimas lagi menunduk melihat hp jadi dia tidak terlalu fokus dikamera.
"Ini fotonya..." Ucap Nisa.
"Apaan sih ini sih namanya kakak foto diri sendiri." Protes Kirana.
"Karena guemenyukai diri gue sendiri dan gue secinta itu sama diri gue." Jelas Nisa.
"Dasar lo curang." Ucap Ratu.
"Gue gak curang. Kan gue udah mengikuti hukuman yang kalian berikan." Ucap Nisa.
"Tapi gue rasa Nisa ada benarnya juga sih. Kan gak ada salahnya kalau kita menyukai diri sendiri dulu kemudian orang lain." Ucap Dimas.
"Ciye.. kak Dimas belain kak Nisa... ehemmm... ehemmm !!!" Goda Kirana.
"Kirana !!! Jangan mulai lagi deh. Nanti kakak benaran marah loo sama kamu." Ancam Dimas.
"Kan Kirana cuman ngomong sesuai dengan kenyataannya sih kak. Weeekkk..." Kirana menjulurkan lidah sambil mengejek kakaknya itu. Nisa hanya tertunduk malu karena masih tidak menyangka kalau Dimas akan membelanya.
"Udah deh, kenapa malah kalian berdua sih yang ribut."Ucap Nisa.
"Jadi lanjut lagi gak nih main game nya." Ucap Kavin.
"Lanjut..." Ucap semuanya serentak..
Ratu melihat kembali foto yang Nisa ambil di hp nya.
'Sebenarnya gue tahu lo gak bohong. Jelas banget difoto itu terlihat Dimas tepat dibelakang lo. Tapi ya udah lah gue udah cukup melihat ekspresi Nisa tadi yang gugup banget.' Batin Ratu.
"Oke karena semua semangat banget main game nya... kita akan lanjut main lagi. Ini tetap dengan peraturan yang pertama ya." Ratu menjelaskan kembali.
Mereka kembali memainkan permainan Uno stacko dengan sangat antusias banget. Kali ini Nisa sangat berhati-hati banget saat memainkan game ini. Dia tidak ingin kalah lagi dan mendapatkan hukuman. Ntah kenapa Kavin juga terlihat sangat tertarik sekali bermain game ini. Salah satunya dia hanya ingin menyenangkan hati istri serta bisa merasakan quality time bareng teman-temannya lagi. Semenjak bekerja dan berkeluarga, Kavin tidak ada waktu untuk berkumpul dengan teman-temannya lagi.
Aktifitas dan rutinitasnya hanya kantor, rumah, dan kalau pun keluar rumah pasti bareng Ratu. Sebenarnya Ratu tidak pernah melarang kalau Kavin ingin bertemu dengan teman-temannya tetapi Kavin yang menolak karena ia merasa kalau priorita utama baginya adalah keluarganya.
Paling-paling kalaupun Kavin ingin pergi, ia hanya mengajak Dimas saja. Karena dia sudah sangat kenal dan akrab banget sama Dimas. Terlebih lagi dia sudah sangat nyaman sekali. Ada keuntungannya juga punya teman yang tinggal satu komplek perumahan dengannya. Mereka masih bisa saling bertemu satu sama lain.
Saat ini balok sudah agak goyang, Ratu hanya menggaruk terus-terusan kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Ia merasa kalau akan kalah di putaran kedua ini. Dia sampai berpindah-pindah tempat untuk mencari tempat yang tepat. Ratu menggeser balok tersebut dengan sangat perlahan dan baloknya tetap roboh dan berserakan diatas meja.
"Aaahhhhhh !" Teriaknya kesal.
Kavin sangat terkekeh melihat tingkah istrinya itu.
"Lucu banget sih kamu sayang. Sabar ya. Ini juga hanya game aja." Ucap Kavin.
"Iya makasih ya suami." Ucap Ratu datar.
"Sama-sama sayang. Semangat dong mukanya, kan kamu yang ngajak main game. Jadi harus senang dong." Ucap Kavin lagi.
"Iya iya ini aku udah semangat banget." Ucap Ratu.
"Senjata makan tuan kan beb. Sekarang giliran lo yang dihukum." Ucap Nisa yang kesenangan.
"Gue jugagak akan lari kok dari hukuman. Gue kan jujur orangnya." Ucap Ratu.
"Oh iya ? Bagus dong kalau gitu. Kita lihat aja lo bakal dapat hukuman apaan." Ucap Nisa.
"Dasar ! Punya teman kok senang banget lihat temannya susah." Ucap Ratu.
"Kan gantian beb. Jadi sekarang lo udah bisa kocok kertas yang ada di mangkok trus mabil deh satu aja." Jelas Nisa.
"Oke." Ucap Ratu.
Ratu megambil satu kertas tersebut dan memberikannya kepada Nisa untuk dibacakan. Nisa tersenyum saat melihat kertas tersebut.
"Udah deh jangan buat orang penasaran." Ucap Ratu.
"Sabar dong beb, ini juga mau gue bacain." Ucap Nisa.
"Jadi hukumannya adalah... siapa saja boleh bertanya hal apapun ke elo dan harus jawab dengan sejujur-jujurnya." Jelas Nisa.
"Itu mah gampang. Kalau gitu gue bakal jawab apa adanya kok." Ucap Ratu.
"Masalahnya disini siapa yang akan bertanya sama lo." Ucap Dimas.
"Gue yang akan nanyak ke Ratu. Boleh gak ?" Kavin mengajukan diri dengan suka rela.
"Kamu mau tanya apaan sayang. Kan selama ini kamu udah tahu smua tentang aku." Ucap Ratu.
"Jangan senang dulu kamu. Ini pertanyaan yang pasti sulit kamu jawab sayang." Ucap Kavin.
"Emang apaan sih Vin?Buat aku penasaran aja." Ucap Ratu.
"Pertanyaannya itu simple aja sih. Tapi kamu janji dulu bakal jawab pertanyaan aku dengan jujur. Karena aku paling gak suka dibohongi." Ucap Kavin.
"Pasti aku bakalan jujur apalagi sama suami sendiri. Kalau bohong kan dosa." Ucap Ratu.
"Sebenarnya pertanyaan sedari dulu yang pengen aku tanyain ke kamu tapi aku takut banget kalau kamu bakalan marah dan gaj jawab jujur ke aku. Berhubung kita lagi main game, jadi kamu sama Dimas ada masa lalu apa? Ceritain ke aku? Kamu pasti bingung kenapa aku tanya ini ke kamu.Karena pertama kai kalian ketemu seperti ada hal yang aneh. Aku bisa lihat dari tingkah kalian berdua. Karena kamu udah janji bakalan jawab, jadi tolong dijawab pertanyaannya ya sayang?" Ucap Kavin.
Sebenarnya pertanyaan Kavin barusan merupkan pertanyaan Nisa dan Adel selama ini. Tapi Ratu tidak menceritakannya kepada kedua sahabatnya itu. Nisa juga sangat penasaran juga dengan jawaban Ratu. Dimas dan Ratu saling pandang kemudian memalingkan wajah mereka lagi.
"Apaan sih Vin? kenapa malah nanyak pertanyaan kayak begini." Ucap Dimas.
"Wajar dong gue sebagai suami sangat dan teramat penasaran banget dan pengen tahu langsung dari mulut istri gue sendiri. Dan berhubung ada loo juga. Lo bisa bantuin Ratu untuk menjawab pertanyaan. Tapi biarkan Ratu yang jawab pertanyaan duluan." Ucap Kavin.
'Jadi selama ini Kavin sepenasaran itu tentang gue dan Dimas. Kenapa sih Kavin gak tanya pas lagi berdua sama gue aja. Kenapa harus didepan DImas, Nisa dan adiknya begini. Kan gue yang bingung mulai jelasinnya darimana.' Batin Ratu.
"Sayang jangan melamun gitu ih. Kan pertanyaan aku gak susah untu dijawab kan." Kavin memukul pelan bahu istrinya itu.
"Iya beb, gue juga penasaran banget sama kalian berdua ada apaan. Coba lo ceritain aja." Ucap Nisa.
"Gimana jelasinnya ya. Sebenarnya gak ada yang harus dijelaskan sih. Karena aku sama Dimas gak ada hubungan apa-apa." Ucap Ratu.
"Gak mungkin. Pertama kali kamu ketemu sama Dimas. Kamu itu terlihat kaget dan kayak gak suka gitu. Bisa dibilang benci sama dia." Protes Kavin yang masih tidak yakin sama sekali.
"Gue yang akan bantu jawab. Jadi gue selama ini salah paham sama Ratu dan sempat nuduh dia. Jujur gue juga udah lama banget pengen minta maaf langsung sama lo Tu. Gue tahu kebenarannya setelah lo pindah dari sekolah. Saat gue ketemu sama lo lagi, gue gak punya nyali buat minta maaf karena gue takut Kavin bakalan cemburu sama gue. Jadi sekarang dengan perasaan yang tulus banget. Gue minta maaf sama lo. Ternyata yang nyebarin gosip itu salah satu anggota osis disekolah kita dulu." Jelas Dimas.
"Gosip apaan sih? Gue kok gak tahu?" Tanya Nisa.
"Emang lo nuduh apa ke istri gue?" Tanya Kavin penasaran.
"Aku aja yang akan jelasin ke kamu sayang. Kamu dengarin aku dulu. Jangan dipotong dulu. Jauh sebelum kita kenal Dimas itu anak baru disekolahan aku yang lama. Trus kan waktu itu aku ketiduran di perpustakaan. Dimas yang banguni kalau perpus akan ditutup. Jadi berhubung aku gak bawa mobil dan ditinggal pulang sama Adel. Dimas yang aterin aku pulang kerumah waktu itu. Sebenarnya sih aku awalnya gak mau dan sempat udah pesan taxi online tapi taxi yang aku pesan itu kejebak macet panjang. Jadi mau gak mau lah Dimas yang aterin aku. Besok paginya Dimas nuduh aku kalau nyebarin gosip disekolah. Ntah kenapa ada yang pasang foto aku pas dianterin Dimas di mading sekolah. Jelas dong aku marah banget sama Dimas, karena aku kan gak bersalah tapi dia nuduh aku gak jelas banget waktu itu. Sampai marah-marah gitu. Jadi itu ya aku beneran udah jujur banget sama kamu. Hal ini juga Adel dan Nisa gak tahu sampai sekarang. Jadi kamu gak usah penasaran lagi ada apa antara aku sama Dimas. Kami gak ada hubungan apa-apa sama sekali. Aku harap kamu bisa percaya sama apa yang aku bilang barusan." Jelas Ratu panjang lebar.
"Benar banget apa yang dibilang sama Ratu. Jadi ceritanya seperti itu Vin." Ucap Dimas.
"Tapi lo gak suka kan sama istri gue ?" Tanya Kavin.
"Apaan sih sayang pertanyaannya. Kamu masih gak percaya sama aku? Aku udah jelasin semuanya ke kamu." Ucap Ratu.
"Bukan gitu sayang. Aku cuman mau mastiin ke Dimas langsung. Biar bisa ngilangin rasa penasaran aku selama ini." Jelas Kavin.
"Terserah kamu deh Vin." Ucap Ratu.
"Gak lah. Gue itu sekolah hanya fokus untuk belajar aja. Gak ada kepikiran untuk pacaran sama sekali. Apalagi istri lo ini terkenal playgirl disekolahan. Jadi gak mungkin aja kalau gue bakal suka sama cewek kayak Ratu." Jelas Dimas.
"Benar kak Kavin, Kak Dimas dari dulu sampai sekarang gak pernah mikirin cewek. Nisa aja dilarang banget pacaran sama kak Dimas." Ucap Kirana.
"Oke. Gue percaya sama penjelasan kalian berdua." Ucap Kavin.
"Kenapa dulu lo gak mau ceritain ke gue dan Adel ?" Tanya Nisa yang merasa tidak dipercaya sebagai teman.
"Bukan gue gak mau cerita sama kalian, tapi waktu itu gue udah kesal banget sama Dimas. Jadi gue udah malas aja membahas dia." Ucap Ratu.
"Oh gitu ! Berarti Ratu udah jawab dan sudah terbebas dari hukuman ya." Ucap Nisa.
"Tapi lo belum jawab pertanyaan gue yang tadi Tu. Apa lo udah maafin gue?" Ucap Dimas.
"Udah gue maafin kok Dim. Malah gue udah lupa sama kejadian itu." Ucap Ratu..
"Makasih ya Tu, gue beneran lega banget sekarang." Ucap Dimas.
"Sama-sama Dim. Lagian semuanya juga udah lama banget berlalu. Jadi lebih baik kita lupain aja." Ucap Ratu.
"Ok Tu." Ucap Dimas.
"Jadi mau lanjut main lagi gak nih?" Tanya Kirana.
"Lanjut dong." Ucap Nisa dan Kavin.
"Kenapa kak Dimas dan kak Ratu gak jawab ?Takut kalah lagi ya ?" Ledek Kirana.
"Gak kok. Siapa takut. Lagian inikan cuman game aja." Ucap Dimas dengan rasa prcaya dirinya.
"Lanjut dog Kirana. Kan kita yang ajak mereka main." Ucap Ratu.
"Oke kita mulai lagi ya...."
Permainan putaran ketiga ini merupakan permainan yang terakhir yang akan mereka lakukan malam ini. Kali ini Ratu tidak akan kalah lagi seperti tadi.
Mereka semua terlihat sangat fokus serta lebih ektstra berhati-hati lagi. Setelah beberpa kali mereka saling bergantian mengambil balok dan menyusunnya, balok udah agak goyang. Kali ini giliran Kirana yang udah deg-deg an banget. Perlahan ia mengambil balok dan ternyata berhasil. Dan Tiba giliran Dimas yang mulai terlihat panik karena baloknya udah sangat goyang banget. Tapi ia mencoba perlahan dan hati-hati saat mengambil balok tersebut dan ternyata balok tersebut roboh kembali. Kali ini Dimas yang kalah dalam permainan ini. Karena Dimas sudah tahu aturan permainannya, segera ia mengocok kertas dan mengambil salah satu serta memberikannya kepada Ratu.
Sebelumnya Ratu membaca terlebih dahulu isi kertas tersebut. Kemudian Ratu tersenyum penuh arti kearah Dimas...
"Apaan kak isinya? Bacain dong..." Ucap Kirana.
"Bacain aja gue akan terima apapun hukumannya." Ucap Dimas yang sok cool.
"Hati-hati lo Dim, Kalau istri gue udah tersenyum begitu itu tandanya hukuman lo bakal berat banget." Bisik Kavin.
"Tenang aja deh lo Vin, gue akan jalani apapun hukumannya. Santai aja..." Bisik Dimas.
"Ok. Kalau gitu kita lihat aja ntar." Bisik Kavin lagi.
"Apaan sih kalian malah bisik-bisik begitu. Bacain dong Tu." Protes Nisa.
"Hukuman Dimas adalah menyatakan perasaan kepada seseorang yang ada diruangan ini tapi tidak boleh ada hubungan sedarah jadi harus lawan jenis." Jelas Ratu.
"Seriusan hukumannya kayak begitu?" Tanya Dimas yag tidak percaya.
"Kalau lo gak percaya, lo baca aja sendiri. Lagian kan yang ngambil kertasnya tadi lo sendiri." Ucap Ratu sambil memberikan kertas ke Dimas.
"Gak ada pertanyaan aja ya? Ini sih namanya tantangan." Tanya Dimas lagi.
"Berarti lo mau pertanyaan aja Dim?" Ucap Ratu memastikan.
"Coba lobaca dulu pertanyaannya apan." Ucap Dimas.
"Pertanyaannya...Kapan terakhir kali lo mikirin seseorang dan siapa serta alasannya? Jawabya harus lawan jenis dong dan yang paling penting tidak berhubungan darah.Jadi gimana lo mau tantagan yang tadi atau mau langsung jawab pertayaan aja." Ucap Ratu.
"Tentukan pilihannya kak..."Ucap Kirana.
"Gimana lo pilih yang mana coba? Katanya tadi bakal terima apapun hukumannya." Bisik Kavin.
"Diam lo Vin. Gue lagi mikir. Senang banget ya lo lihat gue sengsara." Bisik Dimas.
"Udah jangan bisik-bisik lagi. Gue mau lo tentuin sekarang." Ucap Ratu.
'Gu pilih yang mana ya? kok dua-duanya pilihan yang sulit banget. Kalau gue pilih tantangan, berarti gue harus nembak seseorang dong. Gak mungkin kan Kavin, Kirana apalagi Ratu. Udah jelas pasti gue nembak Nisa. Tapi kalau gue pilih jawab pertanyaan. Kan terakhir kali yang gue pikirin itu.... Ah gimana dong !!!' Batin Dimas yang kacau sambil berfikir keras.
"Gue pilih jawab pertanyaan aja." Ucap Dimas ragu.
"Oke. Kalau gitu jawab dengan jujur beserta alsan dan siapa orangnya yang lo pikirin terakhir kali."Ratu memperjelas ucapannya lagi.
"Cewek yang terakhir kali gue pikirin itu ada disini dan itu Nisa. Gue juga gak tahu kenapa gue tiba-tiba mikirin dia mungkin karena dia yang selama ini baik banget sam gue sampai bantuin gue buka bisnis sendiri." Jawab Dimas.
Nisa yang mendengar namanya disebut oleh Dimas menjadi salah tingkah dan tertunduk malu.
"Ciyee kak Dimas.... ciyee kak Nisa... ehemmm... ehemem..." Goda Kirana.
"Uda deh jangan mulai lagi Kirana." Ketus Dimas.
"Wajar aja kali kalau adik lo seperti itu, Jadi jangan ketus gitu dong." Bisik Kavin.
"Sialan lo Vin." Bisik Dimas ksal.
Nisa yang sedaritadi hanya diam tak menentu.
'Ternyata Dimas mikirin gue? Senangnya...'Batin Nisa.
"Makasih karena lo udah jawab pertanyaan gue dengan jujur. Gue hargain itu. Kalau gitu gue dan Kavin pamit pulang ya. Udah malam banget...Bye." Ratu mengajak Kavin ikut turun dengannya.
"Kirana juga udah ngantuk banget kak. Bye kak Nisa..." Kirana dengan segera masuk kedalam kamar dan meninggalkan Nisa dan Dimas yang saling salah tingkah sedaritadi.
Tanpa menjawab Ratu dan Kirana, Dimas dan Nisa malah bingung sendiri mau melakukan apa.
"Dim.. kayaknya gue juga harus pulang deh. Udah malam ntar bunda nyariin gue." Ucap Nisa yang berusaha menghilangkan rasa canggung diantara mereka.
Dimas malah diam aja tanpa menjawab pertanyaan Nisa.
"Haloo... Dimas ? Gue lagi ngomong sama lo." Ucap Nisa yang membuyarkan lamunan Dimas.
"Eh kenapa?" Tanya Dimas lagi.
"Lo gak dengr tadi gue bilang kalau gue mau pulang juga." Ucap Nisa.
"Oh ya udah.." Ucap Dimas tidak fokus.
"Maksudnya ya udah apaan Dim? Kan gue gak bawa mobil kesini." Ucap Nisa.
"Ya udah Nisa biar gue antar. Kenapa sih bawel banget. Heran banget gue sama cewek-cewek zaman sekarang..." Ucap Dimas.
"Habisnya lo ngomongnya gak jelas." Ucap Nisa.
Nisa dan Dimas segera turun kebawah dan tidak lupa pamit kepada ortunya Dimas.
"Nisa pamit pulang ya om tante, makasih untuk hari ini. Makanan nya enak banget." Ucap Nisa.
"Lain kali main kesini lagi ya." Ucap mamanya Dimas sambil cipika-cipiki dan Nisa mnyalam papanya Dimas yang masih fokus nonton tv.
"Dimas antar Nisa pulang dulu ya ma." Ucap Dimas.
"Jangan ngebut ya Dim, kasihan Nisa ntar..." Ucap mama.
"Ok ma..." Ucap Dimas
Kemudian Dimas mengantar Nisa pulang kerumah. Disepanjang perjalanan, Nisa malah ketiduran sampai ia tidak sadar kalau Dimas mengajaknya mengobrol sedaritadi. Dimas yang merasa tidak dapat respon dengan langsung menoleh dan melihat kearah Nisa. "Berarti gue daritadi ngomong sendiri dong. Mungkin Nisa lelah banget ya." Ucap Dimas.
Dimas sempat membenarkan posisi kepala Nisa. Setelah itu dia fokus menyetir kembali...
*****
Gimana pada suka gak? mohon berikan komentarnya yaa...
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya..
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading guys!