Playboy Vs Playgirl

Playboy Vs Playgirl
Menyerah



"Menurut gue itu bisa setengah mempermainkan setengah lagi nggak sih. Apalagi si cowok belum ada status apa-apa sama cewek yang dia dekati sebelumnya. Kan sebagai cowok gak ada salahnya memilah milih cewek yang tepat dan pantas yang bakal jadi pacarnya. Terutama bagi cowok yang pengen serius, dia bakalan seleksi cewek itu melalui sifat dan kepribadian yang menurutnya paling baik dan bisa diajak bekerja sama untuk membangun sebuah rumah tangga nantinya. Bisa juga dibilang mempermainkan hati kalau si cowok bersikap manis kepada semua cewek yang dia dekati dengan beragam rayuan dan gombalan misalnya. Jadi semuanya tergantung dari sisi mana kita menilainya. Kalau dari sisi si cewek sudah pasti itu sama saja mempermainkan hatinya, tapi kalau dari sisi cowok itu tidak sepenuhnya salah apalagi belum ada status. Terus apa yang bisa disalahkan?" Jelas Kavin panjang lebar.


"Oh gitu. Kayaknya lo emang mahir banget ya Vin kalau bahas tentang hubungan percintaan begini. Kenapa lo gak buat aja perusahaan tetang curhat aja. Hahahhaha." Ledek Dimas.


'Mungkin yang Kavin bilang ada benarnya juga tapi gue kok sedikit gak terima ya kalau Adel sampai disakiti sama Harry begini. Uda ah mikir masalah ini, ntar aja gue coba bahas sama Nisa.' Batin Dimas.


 


Tin.....Tin.... Tin.....Tin....


"Woi, malah melamun. Itu daritadi udah diklaksonin mobil belakang. Lo mau apa kalau kita dimaki-maki disini." Teriak Kavin yang melihat Dimas terbengong saja.


"Eh iya maaf Vin." Dimas menjalankan mobilnya lagi.


"Kayaknya ada yang aneh deh sama lo daritadi Dim. Lo lagi gak kesambet kan? gue gak mau aja kenapa-napa bareng sama lo." Kavin menaruh tangannya pada kening Dimas untuk memastikan sesuatu.


Dimas langsung segera menepis tangan Kavin.


"Gue gak sakit Vin. Dasar..." Ucap Dimas.


"Kayaknya pikiran lo yang sakit Dim. Habisnya baru aja bahas tentang masalah percintaan, lo malah terbengong begitu. Buat takut aja !" Ucap Kavin.


"Ya karena tadi..." Dimas langsung saja tersadar dan terdiam. Hampir saja dia keceplosan bahas tentang Harry dan apa yang dia lihat barusan. Bukannya Dimas tidak mau berbagi cerita sama Kavin, tapi kayaknya ini bukan waktu yang tepat. Apalagi Kavin lagi banyak masalah begini.


"Tadi apa sih? kalau bicara itu jangan setengah-setengah gue gak ngerti." Ucap Kavin.


"Ya tadi mikirin yang lo jelasin barusan." Ucap Dimas bohong.


"Oh kirain gue apaan." Ucap Kavin.


"Oh iya Vin? hampir aja gue lupa. Tadi itu Nisa ngabari gue katanya Ratu sudah mulai ada pergerakan dan perkembangan. Semoga aja ini pertanda baik ya Vin." Dimas segera mengalihkan pembicaraan mereka.


"Seriusan? lo gak lagi bohongin gue kan? lo ngomong gini gak karena untuk kasih gue semangat aja kan." Ucap Kavin.


"Emang tampang gue ada tampang pembohong ya Vin." Ucap Dimas.


"Baguslah kalau memang lo gak bohong. Semoga aja Ratu cepat pulih. Jujur aja dunia gue terasa kosong kalau gak ada dia. Selama ini sberapa kesalnya gue sama dia. Tapi disaat dia gak ada disisi gue, gue mulai ngerasa ada yang hilang dari hidup gue Dim." Ucap Kavin.


"Gue ngerti kok Vin, gue dan teman-teman yang lain juga tahu bagaimana perjuangan cinta kalian berdua selama ini. Anggap aja ini sebagian cobaan yang harus kalian hadapi. Setiap orang pasti memiliki masalah hidup masing-masing kan." Ucap Dimas.


"Lo gak tahu rasanya hati gue sekarang Dim. Betapa hancurnya perasaan gue melihat orang yang gue cintai belum sadar sama sekali." Ucap Kavin.


"Lo salah Vin. Gue juga pernah mengalami hal ini. Lo kan tahu sendiri kalau nyokap gue punya penyakit. Gue pernah ngalami rasa sakit yang lo alami ini. Makanya gue bilang setiap manusia itu diuji sesuai dengan tingkat kesabarannya masing-masing." Jelas Dimas.


"Thanks Dim, berbagi cerita sama lo sedikit membuat perasaan gue lebih tenang dari sebelumnya." Ucap Kavin.


"Sebagai teman cuman dukungan aja yang bisa gue lakuin untuk lo Vin." Ucap Dimas.


"Gue hargai semuanya Dim. Gue juga salut sama lo bisa berjuang sendirian di Jakarta selama ini sendirian." Ucap Kavin.


"Demi masa depan dan gue pengen ngebahagiakan orangtua. Itu motivasi gue selama ini disini." Jelas Dimas.


Mereka saling berbagi cerita satu sama lain dikarenakan macet yang berkepanjangan ini. Dimas hanya bisa berjalan terus berhenti, begitu seterusnya. Lebih banyak berhentinya daripada jalan. Mungkin saling berbagi pengalaman dan cerita membuat mereka semakin dekat lagi. Setelah selama ini kesibukan dalam pekerjaan yang membuat mereka jarang berkomunikasi. Paling-paling kalau bertemu hanya membahas masalah kerja, permainan sepak bola, dan Dimas meminta tips-tips percintaan kepada Kavin. Jarang sekali membahas tentang pengalaman hidup. Berkat macet ini, ada hikmahnya juga bagi mereka berdua karena bisa saling sharing.


 


Memakan waktu selama setengah jam lebih Dimas dan Kavin kejebak macetnya perjalanan menuju ke rumah sakit. Begitu sampai dirumah sakit, Dimas dengan segera mengajak Nisa untuk pulang sedangkan Kavin malam ini masih menginap untuk menjaga Ratu seperti malam biasanya.


 


Dimas merangkul bahu Nisa kemudian berjalan keluar dari ruangan Ratu. 


"Kita bakalan pulang nih Dim?" Tanya Nisa dengan nada manjanya kepada Dimas.


"Memangnya kamu mau kemana?" Dimas malah bertanya kembali.


"Kemana aja asal bareng kamu Dim." Ucap Nisa.


"Kamu ini ya, pintar banget ngerayu pacar sendiri." Dimas mencubit gemas pipi pacarnya.


"Ikh Dimas, ntar pipi aku merah kalau kamu cubitin terus." Protes Nisa sambil memegang pipinya.


"Habisnya kamu gemesin sih." Ucap Dimas sambil terkekeh.


Nisa dan Dimas bergegas pergi dari rumah sakit menuju ke parkiran mobil.


*****


 


Kavin menjaga Ratu dengan sangat baik. Setiap Ratu berkeringat, Kavin mengelap keringat dengan kain atau tisu. 


"Sayang, aku tinggal bentar ya. Aku mau lihat jagoan kecil kita." Kavin menutup pintu secara perlahan dan berjalan keluar menuju dimana anak mereka.


 


Dari luar terlihat sangat jelas anak mereka sedang menangis. Dan perawat berusaha menenangkan sambil menggendongnya. Kavin mengetok berulang kali kaca dari luar berharap perawat tersebut melihat kearahnya.


Perawat yang melihat Kavin dengan segera keluar dan membuka pintu...


"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya perawat tersebut.


"Apa saya boleh menggendong sebentar saja anak saya. Saya tidak tega melihatnya mennagis terus." Ucap Kavin.


"Boleh pak tetapi jangan jauh-jauh ya. Karena bayi harus dimasukkan kembali keruangan." Ucap perawat.


"Makasih." Ucap Kavin.


Perawat menyerahkan bayinya untuk segera digendong oleh Kavin. Kavin yang sedang menggendong sambil berjalan ke sekitar dengan sangat cepat membuat anaknya terlelap tidur. Seolah-olah tahu siapa yang menggendongnya. Kavin baru menyadari wajah anaknya begitu mirip dengan Ratu. Kavin tersenyum sendiri melihat anaknya sudah tertidur.


'Terima kasih sayang, kamu sudah lahir ke dunia ini. Doain mama kamu agar cepat sadar dan pulih ya. Papa sangat berharap kita bertiga bisa menjalani kehidupan yang bahagia.' Batin Kavin.


Berulang kali Kavin mencium bayinya, setelah merasa puas Kavin memberikan kembali kepada perawat yang ada didalam ruangan.


"Bayinya kayaknya tahu kalai digendong sama papanya." Ucap perawat.


"Saya juga merasa seperti itu. Oh iya? Sampai kapan anak saya harus berada diruangan ini?' Ucap Kavin.


"Sampai istri anda sadar pak." Ucap perawat tersebut.


"Oh ternyata begitu. Terima kasih atas bantuannya selama berapa hari ini." Ucap Kavin.


"Sudah jadi tanggung saya pak." Kavin segera keluar dari ruangan bayi dan kembali lagi untuk menemani Ratu.


 


Kavin yang merasa tubuhnya lelah, segera membaringkan rubuhnya ke kursi tamu yang ada di ruangan tempat dimana Ratu dirawat. Karena merasa tidak nyaman, Kavin mengambil bantal serta selimut yang dia bawa dari rumah.


Setelah itu dia berbaring kembali....


Karena aktifitas yang membuatnya sangat lelah sampai tanpa sadar Kavin yang baru saja berbaring, sudah terlelap.


*****


 


"Apa? yang benar Dim? kenapa kamu baru cerita sama aku? kamu yakin kalau itu memang Harry kan? kamu gak salah lihat sama sekali?" Berbagai pertanyaan yang Nisa lontarkan karena dia ingin memastikan kembali semua cerita Dimas.


Dimas menngecup bibir Nisa sekilas sampai membuat Nisa terdiam seketika.


"Ikh Dimas, jangan cari kesempatan dalam kesepitan begini dong." Ucap Nisa yang mendadak memerah.


"Habisnya kamu nanyak tanpa spasi sih." Ucap Dimas.


Saat ini Dimas dan Nisa sedang duduk di halaman samping rumah Nisa.


"Aku serius Dim nanyak nya." Ucap Nisa.


"Aku juga daritadi serius Nis." Ucap Dimas.


"Tau ah kamu ngeselin daritadi diajak bicara." Ucap Nisa mengalihkan pandangannya.


"Aku yakin kalau tadi itu Harry, makanya aku beranikan untuk ceritain ini ke kamu. Lagian gak mungkin juga kalau aku sampai salah mengenali orang. Aku juga ingat mobilnya Harry dengan baik." Ucap Dimas.


"Masak sih Harry bisa seperti itu? dia kelihatan baik dan kelihatan cinta banget sama Adel lo." Ucap Nisa yang masih belum percaya juga.


"Jadi menurut kamu kalau aku yang bohong?" Tanya Dimas.


"Bukan gitu, kok kamu malah yang sensitif sih Dim? aku kan gak ada nuduh kamu sama sekali." Ucap Nisa.


"Lagian ngapain juga sih aku ngarang cerita untuk menjelekkan Harry, emang apa untungnya untuk aku?" Tanya Dimas.


"Hemm iya juga sih. Jadi gimana dong ii? apa aku perlu ceritain hal ini sama Adel? tapi aku gak tega kalau Adel terluka lagi. Kenapa sih gak ada yang bisa membuat Adel bahagia di dunia ini? Dasar cowok berengsek.,. Tampangnya aja baik-baik ternyata hatinya busuk." Umpat Nisa terus-terusan.


"Udah dong Nis, gak baik ngomongin orang seperti itu. Lagian kita belum tahu apa yang terjadi kan? teurs kita juga gak bisa nyalahi Harry sepihak aja, kan Adel gak ada status apa-apa sama Harry. Kamu tahu sendiri kalau apa yang kita lihat belum tentu seperti apa yang kita pikirkan. Ya kan?" Ucap Dimas sambil memegang tangan Nisa untuk meyakinkan Nisa agar tidak memberikan pendapat jelek tentang orang lain dulu sebelum tahu apa faktanya.


"Kamu benar juga Dim, tapi aku masih kaget sih dengar cerita kamu barusan. Terus menurut kamu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Nisa.


"Kita gak perlu melakukan apa-apa, biarkan Adel menjalani kehidupan seperti biasa. Dan yang penting, ini bukan urusan kita untuk mengambil alih masalah pribadi orang lain." Ucap Dimas.


"Kamu dengarin aku ya Nis, sebaiknya kita jangan ikut campur dengan hal ini. Kalaupun Harry memang sebrengsek itu, lambat laun juga Adel pasti akan tahu kok. Jadi kita gak perlu repot-repot untuk menjelaskan semuanya ke Adel sekarang." Ucap Dimas.


"Oh gitu ya. Ya udah deh kalau menurut kamu begitu." Ucap Nisa.


"Ya udah yuk lebih baik kita masuk kedalam. Semakin malam semakin banyak nyamuk disini." Ucap Dimas.


"Ayuk." Nisa menggandeng tangan Dimas dan berjalan berdampingan untuk masuk kedalam rumah.


'Mungkin benar yang Dimas bilang, sebaiknya gue gak usah ikut campur dulu. Lagian gue gak mau malah menambah beban Adel nantinya. Untuk sekarang gue akan biarkan aja tapi kalau lain kali gue lihat sendiri Harry sama cewek lain. Gue akan sampaikan ini segera ke Adel bagaimanapun caranya Adel harus tahu secepatnya.' Batin Nisa.


*****


 


Pagi harinya Adel bersikap seperti biasa kepada Harry. Adel mengetok pintu ruangan Harry karena ada hal penting yang ingin dia bahas dengan Harry. Harry melihat Adel yang  bersikap biasa saja malah curiga dan penuh tanda tanya. Tidak biasa-biasanya Adel tetap tersenyum kepadanya setelah apa yang terjadi semalam. Ya mereka bertengkar sampai-sampai Harry meninggalkannya di rumah sakit sendirian.


"Maaf sebelumnya, apa bapak punya waktu sehabis pulang kerja nanti. Ada yang ingin saya obrolin." Ucap Adel.


"Tentang apa? masalah pekerjaan atau bahas yang semalam." Tanya Harry memastikan.


"Nanti juga bakalan tahu dengan sendirinya. Jadi bapak punya waktu untuk pergi bersama saya?" Tanya Adel lagi.


Dari luar sudah terdengar suara ketukan pintu tapi Harry masih menatap Adel dengan tatapan yang tidak bisa dia ungkapkan. Harry bahkan mengabaikan karyawannya yang mengetuk pintu sedaritadi.


"Maaf pak, kalau bapak sudah punya janji lain. Mungkin lain waktu aja kita keluar. Kalau gitu saya permisi dulu." Ucap Adel.


Baru berapa langkah berjalan, Harry berhasil menghentikan langkah Adel melalui kata-katanya.


"Saya punya waktu selalu untuk kamu Del." Ucap Harry.


Adel yang masih membelakangi Harry hanya bisa tersenyum tipis saja. Kemudian langsung meneruskan langkah kakinya kembali untuk keluar ruangan. Adel tersenyum kepada karyawan yang mengetuk pintu tadi dan langsung mempersilahkan masuk.


"Maaf lama, tadi ada beberapa hal penting yang masih saya diskusikan dengan pak direktur." Ucap Adel.


Karyawan itu hanya bisa tersenyum dan menunduk saja, kemudian dia segera masuk kedalam ruangan.


Kemudian Adel kembali pada meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaanya yang tertunda. Setidaknya dia sudah menyampaikan hal kepada Harry. Bisa dibilang sore ini Adel ingin membahas hal yang penting.


*****


 


Sepulang bekerja Adel mengikuti kemana arah mobil Harry dari belakang. Adel tidak menyadari kalau arah yang Harry lewati adalah jalan tercepat menuju ke apartemen prbadi miliknya. Adel malah kaget saat tahu mereka berhenti di parkiran mobil tersebut, tempat yang tidak asing baginya. 


'Nagpain juga Harry ngajak gue ke apartemennya. Ah dimanapun kita bicara sama aja. Tidak berpengaruh apapun lagi...' Batin Adel.


 


Adel dengan langkah tenang berjalan berdampingan dengan Hary dan memasuki lift. Didalam lift Harry masih bertanya-tanya hal apa yang ingin Adel sampaikan kepada dirinya. Apa Adel masih marah atau apa. Ntahlah Harry juga bingung sendiri dan tidak bisa menyimpulkan segala sesuatunya saat ini. Adel masih berdiam diri tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


'Kayaknya Adel masih marah. Buktinya dia diam aja gak kayak biasa...' Batin Harry.


 


Pintu lift terbuka, mereka kembali berjalan menuju kearah apatemen Harry, Harry memasukkan kode sandi dengan sangat cepat. Adel segera masuk kedalam tanpa dipersilahkan oleh Harry. Saat mlangkah masuk, Adel melihat kearah kanan kiri untuk memastikan sesuatu. Harry sampai melihat kearah pandangan Adel juga.


"Kamu cari apa Del?" Tanya Harry akhirnya membuka pembicaraan.


"Gak ada kok." Ucap Adel.


"Sebentar ya, aku ganti pakaian dulu. Kamu tunggu sebentar aja kok." Ucap Harry.


 


Saat Harry masuk kedalam kamarnya, Adel mulai memikirkan kata-kata yang tepat untuk dia sampaikan kepada Harry nanti. Adel mulai mengira-ngira apakah ucapannya akan menjadi pengaruh untuk hubungan mereka nantinya atau tidak sama sekali.


"Hei, kenapa daritadi malah melamun sih? kamu aneh banget dari pagi tadi." Ucap Harry yang sudah daritadi memperhatikan Adel yang sedang melamun.


"Eh itu.."


"Kamu mau minum apa?" Harry membuka kulkas untuk mengambil beberapa minuman botol yang dia beli dan menyajikannya diatas meja tepat didepan Adel.


Karena gugup, Adel langsung mengambil salah satu minuman yang ada tersebut. Adel meminum dan meneguk berulang kali minuman itu sebelum memulai percakapan mereka.


"Kamu mau obrolin apa? kalau tentang yangs semalam aku udah gak pikirin lagi kok. Aku juga tahu kalau aku salah semalam. Aku gak mau hubungan kita jadi gak baik karena masalah sepele seperti itu." Ucap Harry yang sudah duduk tepat disebelah Adel.


"Bukan hal itu..."


"Terus kalau bukan ngomongin itu, kamu mau bahas apaan?" Tanya Harry sambil menatap curiga kearah Adel.


"Tentang hubungan kita, sebaiknya kamu gak usah berusaha untuk dekati aku lagi. Aku udah pikirin matang-matang, lebih baik kita berteman aja Harry." Ucap Adel yang sedikit gugup.


"Mkasud kamu apa? jadi kamu hanya memberikan harapan palsu aja sama aku selama ini? kalau aku ada ngelakukan kesalahan yang menyakiti kamu, aku minta maaf Del. Aku sayang banget sama kamu." Harry memegang tangan Adel tapi Adel segera menepis tangan Harry tersebut.


"Kamu kenapa sih Del? kamu beneran aneh banget hari ini. Aku gak ngerti...apa kamu lagi bercanda sekarang?" Tanya Harry lagi, Adel merespon menggelengkan kepala.


"Aku rasa kalau aku bakalan lebih menyakiti kamu lagi nanti Harry, maaf aku menyerah sekarang." Ucap Adel.


"Nggak...kamu harus ceritain alasannya sebenarnya apa." Ucap Harry.


Adel terdiam sejenak sambil berfikir...


"Kamu udah lama tinggal di apartemen ini?" Tanya Adel untuk memastikan sesuatu.


"Ya semenjak aku di Jakarta, aku udah tinggal disini. Kan aku udah ceritain semua ke kamu kalau rumah lama aku udah gak pernah ditempati lagi karena terlalu besar untuk aku yang tinggal sendirian. Tapi apa hubungan pertanyaan kamu barusan?" Jelas Harry dengan polosnya tanpa tahu apa maksud pertanyaan Adel.


"Aku cuman nanyak aja kok." Ucap Adel.


"Terus berapa orang cewek yang pernah masuk kedalam apartemen kamu?" Tanya Adel lagi.


"Cewek? cuman kamu aja gak ada yang lain." Harry berusaha meyakinkan Adel dengan kata-katanya.


"Bohong. Kalau kamu jujur, aku akan lebih menghargai kamu Harry." Adel membantah keras jawaban yang Harry berikan kepadanya. Karena sudah jelas Adel melihat Harry bersama seorang cewek.


"Aku jujur sama kamu. Yang masuk kedalam hanya kamu aja selama ini." Harry memegang tangan Adel dan menatap matanya dengan tatapan keyakinan.


Adel tersenyum tipis mendengar jelas ucapan Harry barusan.


"Kamu gak perlu tutupin semuanya lagi Harry, aku udah tahu semuanya." Ucap Adel sambil mengalihkan arah pandangannya. Kali ini Adel tidak mau terjebak dengan kebohongan Harry lagi. Sudah cukup selama ini luka yang dia rasakan.


"Kamu bicara apaan sih Del? aku masih belum mengerti apa maksud kamu barusan." Ucap Harry yang masih belum mengerti juga.


"Cukup Harry. Aku kasih kamu kesempatan untuk menjelaskan semuanya tapi kamu malah menyia-nyiakan kesempatan yang aku kasih." Adel menepis tangannya dengan kasar. Kesabarannya kali ini sudah tidak bisa dia tahan lagi.


"Kamu kenapa Del? kamu bilang sama aku, apa kesalahan aku ke kamu?" Harry dengan sabar meyakinkan Adel agar tidak terpancing emosi yang Adel buat malam ini. Suasana diantara mereka berdua menjadi tegang dan panas.


"Aku tahu kalau kamu sudah memiliki wanita lain Harry. Aku lihat dan nyaksikan sendiri semuanya. Kamu masih menepis ucapan aku lagi. Aku gak nyangka kalau kamu orang yang seperti itu." Adel mengungkapkan semua hal yang dia lihat dan mengatakannya dengan penuh penekanan.


"Kamu lihat? siapa Del? kamu lihat dimana?" Tanya Harry.


'Siapa sih yang Adel maksdu. Hanya dia wanita yang aku cintai selama ini. Gak ada wanita lain. Apa Adel masih belum yakin juga setelah begitu banyak perjuangan yang aku lakukan. Adel benar-benar menguji hati dan perasaan ku sekarang.' Batin Harry.


"Kamu pikir aja sendiri, jadi berhenti pura-pura kalau kamu suka atau jatuh cinta sama aku lagi. Semua ucapan dan tindakan kamu hanya omong kosong belaka." Adel segera berdiri untuk segera pergi dari apartemen Harry.


Harry masih berfikir sejemak kesalahan apa yang sudah dia lakukan. Dengan diamnya Harry membuat Adel mengerti dan berjalan melangkah. Tapi Adel ingin menyelesaikannya dengan baik-baik dan hati dingin walaupun setelah ini mungkin mereka berdua tidak bisa lagi sedekat sebelumnya. Adel tidak ingin hubungan antara Harry di pekerjaan malah menjadi canggung.


Adel kembali menghampiri Harry, dia tidak ingin menjadi orang yang pengecut dan lari dari kenyataan lagi.


"Berhenti menjadi cowok yang berengsek Harry, jangan pernah lagi melakukan hal-hal seolah-olah kamu mencintaiku lagi. Jangan pernah peduli dan perhatian lagi. hentikan sandiwara kamu selama ini." Ucap Adel.


"Del, aku rasa kamu salah paham. Aku bisa menjelaskan semua hal. Kita bisa membicarakan ini dengan baik-baik." Ucap Harry berusaha menenangkan Adel.


"Aku rasa gak ada lagi yang perlu kita bahas. Kan semuanya sudah cukup jelas." Ucap Adel.


"Apa kamu mulai menyukaiku Del?" Tanya HArry tiba-tiba.


"Apa hubungannya sama semua ini. Kamu terlalu berfikiran terlalu dangkal Harry." Adel menepis ucapan Harry.


"Aku rasa hanya orang yang cemburu yang bisa begini. Apa aku salah?" Ucap Harry membalikkan pertanyaan Adel.


Cemburu? kamu itu.....


*****