
Kejadian sebelumnya.
Adel merasa bersalah karena mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati Harry. Dengan melihat keadaan sekitar, tidak mungkin bagi Adel untuk kembali lagi kembali kerumah sakit. Adel tidak ingin kalau Nisa dan yang lainnya tahu kalau dirinya sedang ribut dengan Harry. Apalagi mereka sudah permisi untuk pulang. Apa yang bakalan Nisa dan yang lainnya pikirkan nantinya. Adel malah bermaksud untuk segera menyusul Harry, bagaimanapun juga dia sadar kalau ucapannya itu sangat keterlaluan.
Adel memberhentikan taxi tepat didepan rumah sakit, kemudian dia memberi tahu alamat yang akan dia tuju kepada supir tersebut.
Selang 15 menit lebih, akhirnya Adel sudah sampai pada lokasi yang dia tuju. Dengan langkah pasti dia berjalan menuju lift. Begitu lift terbuka, Adel segera berjalan kembali....
Dengan ekspresi terkejutnya dia melihat Harry sedang berpelukan tepat didepan pintu apartemen. Adel sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan kemudian segera bersembunyi. Ntah mengapa dia jadi ragu untuk menemui Harry lagi.
'Lebih baik gue pulang aja, gue gak mau mengganggu Harry dengan perempuan lain. Lagian bukannya bagus kalau Harry sudah memiliki pacar. Intinya gue gak berhak marah karena seperti yang gue ungkapin sebelumnya kalau kami tidak menjalin suatu hubungan. Dengan begini Harry bisa bahagia dan gue juga bisa menjalani hidup seperti biasa.' Batin Adel.
Adel mempercepat langkah kakinya menuju lift lagi. Pikiran Adel menjadi kacau mendadak. Tetapi dia yakin kalau ini yang terbaik bagi dirinya dan Harry.
Begitu tiba di apartemen, Adel langsung masuk kedalam kamar dan membaringkan tubuhnya sejenak. Adel memejamkan matanya tetapi bayangan Harry berpelukan dengan wanita lain membuat matanya tidak bisa terpejam kembali. Bayangan itu terus muncul dan sangat mengganggu pikirannya.
"Gak ! Gak ! Gak ! Gue gak boleh begini. Ini bukan hal yang tepat lagian seharusnya gue harus senang karena Harry sidah menemukan kebahagiaannya kan. Daripada mikir yang aneh-aneh terus, lebih baik gue sekarang mandi untuk menjernihkan pikiran ini." Adel bergegas berlari menuju kamar mandi.
Selesai mandi, Adel memakai baju tidur sambil duduk bercermin melihat wajahnya. Rambutnya yang basah dia keringkan dengan hairdryer.
"Gue gak bisa nih begini terus, kok malam kepikiran terus. Gue harus bicara empat mata dengan Harry besok. Intinya kita harus bicara biar gue jadi lebih tenang lagi." Ucap Adel sambil menekan tombol turn off di hairdryer nya. Ntah kenapa hatinya menjadi sangat gelisah malam ini sampai semua yang Adel lakukan salah. Bisa dibilang kegelisahan yang aneh dan baru pertama kalinya dia menjadi seperti ini.
Adel meletakkan hairdryer nya dengan begitu saja. Kemudian langsung rebahan kembali.
*****
"Cemburu? Aku itu gak cemburu sama sekali Harry. Aku bilang begini juga demi kebaikan kita bersama. Seperti yang aku bilang tadi, lebih baik kamu mencari kebahagiaan sendiri daripada menunggu orang yang tidak pasti seperti aku." Jelas Adel menyanggah ucapan Harry. Harry menipiskan senyumannya seketika.
"Aku tetap yakin kalau kamu cemburu. Kenapa gak ngaku aja sih sama aku?" Ucap Harry dengan sangat yakin. Harry benar-benar merasa kalau Adel sedang cemburu.
"Kamu salah Harry, aku begini karena ..." Harry menghampiri Adel tetapi Adel malah mundur perlahan.
"Karena apa Del? coba kamu jujur sama perasaan kamu sendiri." Harry masih melangkah maju.
"Jangan lebih dekat Harry. Stop please !" Ucap Adel sambil memohon.
"Kamu belum menjawab pertanyaan yang aku ajukan sama seklai Del. Apa memang kamu cemburu atau karena ada alasan lain." Harry dengan penuh penekanan dalam pengucapannya. Adel malah gugup karena Harry sudah semakin dekat saja.
"Aku...aku cuman..." Adel sampai bingung ingin mengutarakan pendapatnya saat ini.
"Cuman apa? coba kalau bicara yang jelas biar aku lebih menegerti apa maksdu kamu Del?" Adel mendorong Harry agar segera menjauh darinya karena tubuhnya saat ini sudah ada dibelakang tembok dinding. Sampai rasanya dia sudah terjepit dan tidak bisa pergi kelain tempat.
"Aku cuman gak mau kalau kamu menyakiti hati perempuan. Kan kasihan cewek yang lagi dekat sama kamu itu." Ucap Adel berusaha memberanikan diri mengungkapkan alasan.
Harry mengernyitkan alisnya kemudian tertawa lebar...
"Hhaahhaha..."
"Harry aku serius, kamu bisa gak diajak ngobrol serius." Ucap Adel dengan sangat kesal sambil melipat kedua tangannya dan menatap Harry dengan tatapan tajam.
"Eh iya iya. Habisnya kamu itu gak mau mendengarkan penjelasan aku dulu. Kan udah aku bilang kalau cuman kamu perempuan yang paling aku cintai." Jelas Harry.
"Bohong." Ucap Adel yang masih tidak mempercayai Harry sama sekali.
"Perempuan yang kamu lihat itu, aku hanya menganggap sebagai adik saja. Dia datang ke apartemen aku karena lagi ada masalah keluarga. Orangtuanya teman nyokap aku. Jadi selama aku di Jakarta, aku dikasih kepercayaan untuk menjaga dan merawat dia. Kalau kamu masih gak percaya juga. Aku bisa mengenalkan kamu langsung dengannya. Gimana?" Jelas Harry.
"Aku masih gak percaya sama kamu. Lagian aku gak peduli dia siapanya kamu Harry." Ucap Adel seolah acuh.
"Yakin kamu gak peduli? Udah ah Del. Jangan ngambek-ngambek gak jelas gini. Apa kamu gak laper sama sekali?" Ucap Harry yang berusaha mengaliihkan pembicaraan mereka.
Adel mengangguk sambil memegangi perutnya yang sudah sakit karena menahan lapar.
Harry tersenyum lega karena Adel tidak memperpanjang pembahasan mereka lagi. Harry berjalan menuju dapur, dia membuka kulkas untuk melihat tok makannan yang masih ada.
"Aku masakin kamu ya. Kamu mau makan steak apa spagetti?" Tanya Harry.
"Apa aja deh." Ucap Adel.
"Kamu gak mau bantuin aku masak nih?" Tanya Harry.
Adel menghampiri Harry, kemudian mengambil bahan masakan.
"Mau dibantuin apa? aku gak bisa masak sama sekali Harry." Ucap Adel dengan jujur.
"Kamu bantuin potongin bawang dn parut keju aja. Gmana? Ntar aku yang masak." Ucap Harry.
"Emangnya kamu bisa masak ?" Tanya Adel penasaran.
"Bisa kalau masakan yang standart-standart begini." Ucap Harry.
"Oh, aku kok gak yakin ya." Ledek Adel.
Adel mengambil pisau kemudian memotong semua bahan yang disuruh Harry. Setelah itu Adel letakkan ditempat yang Harry suruh.
Adel duduk di ruang makan sambil menyaksikan Harry memasak.Tanpa Adel sadari, dia memperhatikan Harry tanpa kedip seolah terpesona melihat seorang cowok memasak untuknya secara langsung.
"Ehemm..." Ucap Harry.
"Ntar jatuh cinta loo kalau dilihatin terus." Goda Harry yang mendadak melihat kearah Adel yang menatapnya terus.
"Ikh apaan. Jangan kepedean deh. Yang aku lihat itu cara masak spagettinya bukan kamu." Ucap Adel.
"Yakin yang ditatap daritadi itu mie nya?" Harry meletakkan spagetti tepat dihadapan Adel.
"Iya dong. Ngapain juga aku ngeliatin kamu." Ucap Adel yang masih beralasan.
Harry sudah menyajikan 2 piring spagetti di meja makan. Kemudian Harry duduk tepat disebelah Adel...
"Kamu coba duluan Del." Ucap Harry.
"Kenapa gak barengan aja sih?" Ucap Adel.
Adel memasukkan satu suapan kedalam mulutnya, dia menguyah dan merasakan spagetti buatan Harry ternyata rasanya lumayan enak.
"Enak kok. Kamu jago masak ternyata. Kapan-kapan ajari aku masak ya. Kan gak mungkin aku beli makanan terus..." Ucap Adel.
"Serius enak?" Tanya HArry memastikan.
Adel mengangguk...
"Baguslah kalau kamu suka. Ntar deh pasti akan aku ajarin." Ucap Harry.
Harry dan Adel menikmati makan malam mereka dengan perasaan dan hati yang sudah jauh lebih tenang.
'Kenapa aku lebih tenang setela mendengar penjelasan Harry tadi.Apa benar kalau aku cemburu ? Tapi gak mungkin. Aku begini karena aku gak suka kalau Harry menyakiti hati perempuan aja. Iya aku yakin pasti ini alasannya. Adel jangan mikir yang aneh-aneh lagi.' Batin Adel.
Adel melamun sambil mencuci piring ...
"Hei kamu kok malah melamun sih? itu lihat piringnya udah kamu cuci..." Harry segera mematikan air yang masih menyala.
Harry mengajak Adel untuk duduk sambil menonton acara tv. Bukannya menonton, Adel masih asik bermain permainan yang ada di hpnya.
"Del..."
"Hem..." Adel yang masih sibuk bermain game yang ada di hp nya.
"Kamu yakin kalau kamu gak cemburu?"
Adel berhenti bermain game dan menatap kearah Harry.
"Aku sayang baget sama kamu Del, aku ingin membahagiakan kamu selamanya. Kenapa kamu gak pernah bisa melihat perjuangan aku selama ini?" Ucap Harry dengan tatapan serius.
"Aku tahu kok Harry, makanya aku juga memberi kamu kesempatan karena aku melihat semua perjuangan yang kamu lakukan selama ini. Aku seperti ini juga ingin meyakinkan perasaan aku lagi ke kamu. Untuk itu, aku mau ketemu sama cewek yang kamu bilang adik itu. Apa kamu bisa?" Ucap Adel.
"Apapun yang kamu inginkan Del. Maaf selama ini aku menutupi tentang dia..." Ucap Harry.
'Syukurlah Adel gak marah lagi. Hampir aja hubungan aku dan Adel berakhir tadi. Aku gak bisa bayangkan bagaimana hidup aku tanpa Adel...' Batin Harry.
Apapun yang Harry takutkan tidak terjadi. Adel mendengarkan penjelasannya walaupun masih terlihat sedikit ragu. Tetapi Harry yakin kalau Adel akan percaya sama kata-katanya. Sampai detik ini hanya Adel yang berhasil membuatnya jatuh hati. Salah satu cara untuk mendapatkan hati seseorang adalah dengan memberikan kepercayaan kepada orang tersebut. Seperti yang Adel lakukan, dia hanya perlu bukti atas semua perkataan Harry. Mungkin ini salah satu bentuk rasa trauma yang pernah dia alami sebelumnya. Terlalu banyak kebohongan dan sandiwara yang orangtuanya lakukan...
*****
Hp Adel bergetar terus menerus saat dia masih sibuk mengetik laporan. Adel melihat nama si penelpon..
"Nisa."
Adel menerima panggilan telepon dan menghubungkan suara tersebut dengan earphone miliknya. Setelah tersambung, Adel langsung menyapa Nisa...
"Hai Nis...ada apa? Apa lo nelepon karena ada perkembangan dari Ratu?" Sapa Adel.
"Eh hai. Keadaan Ratu mulai ada perkembangan tetapi dia masih belum sadar sama sekali."Jelas Nisa.
Nisa sudah mondar-mandir tidak karuan didalam ruang kerjanya. Hatinya ingin segera menceritakan semua hal yang dia dengar dari Dimas tetapi dia masih ragu dilain pihak.
Tetapi dalam lubuk atinya yang paling dalam dia tidak ingin Adel terluka lagi...
"Oh iya? syukurlah kalau begitu beb. Sorry ya kmarin gue pulang duluan." Ucap Adel.
"Iya gpp kok beb gue bisa ngerti. Oh iya beb? gimana hubungan lo sama Harry? ada perkembangan apa? gue lihat kalian berdua sudah semakin dekat saja." Ucap Nisa yang ingin tahu lebih banyak tentang hubungan Adel dan Harry.
"Masih sama kok beb, gue masih pengen lihat usaha Harry dulu. Jangan bilang lo nelepon gue hanya untuk menanyakan tentang hal ini aja?" Ucap Adel.
"Ikh apaa. Gue lagi suntuk aja beb makanya ngubungi lo. Semenjak Ratu belum sadar kan gue udah jarang banget curhat-curhat begini." Ucap Nisa beralasan.
"Jangan bilang lo sam Dimas lagi berantam?" Tanya Adel.
"Nggak kok beb. Emangnya salah ya kalau gue ngabari lo. Lagian gue kepo sama hubungan lo...secara kalian berdua kan satu kantor." Ucap Nisa.
"Huhu dasar kayak kurang kerjaan aja lo beb. Kalau memang gak ada kerjaan lebih baik bantuin gue disini." Ucap Adel.
"Ikh iya kali gue bisa kesana untuk bantuin lo. Hahaahha..." Ucap Nisa terkekeh.
"Menurut pandangan lo, Harry menurut lo cowok yang seperti apa sih?" Tanya Adel.
"Cowok yang bertanggung jawab dan penyayang. Kalau didekat lo, Harry itu kelihatan banget sayang sama lo. Tetapi gue heran aja sih ngapain Harry mau sama cewek kayak lo. Hehehhe..." Ucap Nisa.
"Huh resek lo beb. Gue ini cewek paling terbatas beb.." Ucap Adel.
"Iya sangking terbatasnya sampai udah lama jomblo. Apa lo gak kasihan itu sama Harry. Kalau gue jadi lo, gak pakai lama deh gue pacarin itu sih Harry keburu diambil orang," Ucap Nisa yang seakan menyindir dan ingin memberikan masukan kepada Adel.
Deg...
Kata-kata Nisa barusan menusuk banget bagi Adel.
'Apa benar ya yang dibilang Nisa barusan. Apa Harry bisa berpaling dari gue? apalagi cowok kayak Harry pasti banyak yang suka kan?' Batin Adel.
"Ya kalau gitu berarti gue sama Hary gak berjodoh beb. Simple aja kan." Ucap Adel dengan sedikit perasaan bimbang.
"Iya deh iya terserah tuan putri aja. Udahahan ya gue mau lagi...bye." Ucap Nisa mengakhiri panggilan telepon.
Setelah teleponya mati, Nisa duduk kembali di kursi kerjanya.
"Terserah ah gue bingung. Mungkin lebih baik Adel gak tahu aja. Gue kok gak tega gitu mau cerita ke Adel langsung." Ucap Nisa.
Sedangkan Adel merasa kesal karena Nisa langsung mematikan teleponnya secara sepihak.
"Dasar Nisa ada-ada aja kelakuannya. Heran gue kenapa Dimas mau sama dia..." Ucap Adel.
Tanpa Adel sadari, Harry sudah memperhatikan dirinya didepan pintu. Saat Adel sekilas melihat, Adel yang dengan ekspresi terkejutnya menjadi salah tingkah karena dilihatin seperti itu sama Harry.
"Ikh...ngapain sih Harry ngellihatin gue begitu.' Batin Adel.
"Ehem..ehem..." Harry seakan batuk.
Adel segera berdiri dan memberikan salam hormat dengan menundukkan kepalanya...
"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya Adel.
"Kamu teleponan sama siapa? kok kayaknya happy banget." Ucap Harry mengintrogasi.
"Itu tadi telepon dari teman saya pak." Ucap Adel.a
"Kamu mau pulang bareng saya?" Harry menawarkan tumpangan.
Adel membalas dengan menggelengkan kepalanya.
"Maaf sebelumya pak. Saya bisa pulang sendiri karena saya juga membawa kendaraan pribadi. Terima kasih sudah menawarkan tumpangan." Jawab Adel dengan sopan.
"Tetapi kitakan ada janji makan malam bareng, kamu yakin tidak mau bareng saya aja?" Tanya Harry lagi.
"Kalau begitu kamu jangan sampai telat datangnya." Ucap Harry.
"Baik pak." Ucap Adel.
Harry segera pergi meninggalkan Adel sedangkan Adel merapikan barang-barangnya dan mematikan komputernya dengan segera.
*****
Adel dan Harry sudah sampai ditempat makan malam. Adel melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan...
"Kamu ngapain sih?" Tanya Harry.
"Gak kok. Kenapa dia belum datang juga? kamu yakin udah ngasih tahu kan ?" Tanya Adel memastkan.
"Udah kok, palingan juga sebentar lagi datang." Ucap Harry.
"Oh iya? aku ke toilet bentar ya." Adel membawa tas dan hpnya kemudian dengan segera menuju toilet.
Harry memesan makan yang rekomendasi dari tempat tersebut kemudian Harry memeriksa hp. Karena bosen sendirian, Harry malah sibuk mengecek email masuk yang ada di hpnya. Yang biasanya sering dia lakukan pada saat senggang. Memang Harry orang yang sangat pekerja keras sekali, semua pekerjaan selalu detail dia periksa. Tidak satupun terlepas dari pantauannya. Itu juga sebenarnya kenapa dia bisa menjadi sesukses ini. Hasil dari kerja kerasnya selama ini tidak sia-sia. Impian Harry untuk memiliki sebuah Villa sudah terwujud. Bukan cuman 1 villa saja, Harry sudah memiliki 2 villa yang 1 ada di Bali dan yang 1 lagi ada di Jakarta. Usaha dan kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasilnya.
Harry membaca satu-persatu email yang masuk dari klien. Lagi asik-asiknya membaca email, ada seseorang dari belakang menutup kedua matanya...
"Tebak siapa?" Ucap seseorang tersebut.ik
"Tanpa disuruh tebak juga udah tahu. Orang yang jahil sedunia ya siapa lagi kalau bukan Adiezty tyas permata." Ucap Harry dengan sangat yakin.
"Ikh kok tahu sih? gak seru ah..." Ucap Adiezty.
"Kamu pikir inilucu, bukain dulu. Kan kakak, udah tebak barusan." Ucap Harry.
"Kasih kode paswordnya dulu dong kak, baru Adiezty bakal bukain." Ucap Adiezty.
"Adiezty ! jangan kayak anak kecil deh. Cep etan bukain...malu dilihatin orang." Ucap Harry yang sudah semakin kesal dengan kelakuan Adiezty tersebut. Harry berusaha melepas tangan Adiezty yang masih menutup matanya tetapi Adiezty malah semakin mengetatkan lagi.
"Ikh kakak...bilang dulu paswordnya kayak biasa." Ucap Adiezty.
"Karena sudah menyerah, akhirnya Harry melontarkan kode pasword mereka...
"Adiezty paling cantik, imut, lucu dan gemesin." Ucap Harry pasrah.
Adel yang baru balik dari toilet tidak sengaja menyaksikan adegan tersebut. Adel sengaja bersembunyi untuk sementara dibalik dinding. Salah satu alasannya karena dia tidak ingin merusak dan mengganggu moment barusan saja. Tetapi Adel merasa tidak asing dengan wajah cewek tersebut.
'Siapa ya? kok kayaknya gue pernah lihat sebelumnya. Wajahnya gak asing sama sekali. Apa gue pernah ketemu ya? mungkin gue salah kali ya, kan banyak orang mirip didunia ini.' Batin Adel.
"Harry yakin kalau cewek itu hanya dia anggap sebagai adiknya saja? kan cewek itu cantik, imut, putih, bentuk tubuhnya juga ideal banget terus yang paling pasti dia cewek dari keluarga yang terhormat. Jauh bangetlah dibandingkan dengan gue." Ucap Adel.
Adel mengintip dari kejauhan. Dia mendengar suara samar-samar dari jauh. Percakapan yang dilakukan Harry dan perempuan tersebut. Sekalian Adel ingin melihat langsung semuanya bahwa yang dikatakan Harry benar atau tidak. Ketepatan dia memiliki kesempatan untuk itu...
"Kamu jangan kayak anak kecil dong Adiezty. Ingat umur kamu.." Protes Harry yang sudah kesal setengah mati dibuat Adiezty.
Adiezty akhirya membuka mata Harry karena sudah diomelin terus.
"Ikh kak Harry nyebelin. Kan Adiezty cuman bercanda aja sih. Hidup itu jangan dibawa serius kali kak." Ucap Adiezty.
Tanpa ragu lagi, Harry mencubit kedua pipi Adiezty untuk membalas perbuatan Adiezty tadi.
"Bercanda kamu bilang? anggap aja ini hukuman buat kamu." Ucap Harry sembari mecubit pipi Adiezty.
"Aww...sakit tahu kak, tega banget deh sama aku." Ucap Adiezty.
Adiezty dengan segera duduk tepat didepan Harry.
"Kenapa kamu malah duduk disana?" Ucap Harry.
"Malas ah duduk disamping kakak. Ntar malah kakak cubit Adiezty lagi terus ntar pipi Adiezty yang ada malah semakin sakit dan merah." Ucap Adiezty sambil mengomel terus.
"Makanya lain kali kamu jangan seperti itu. Kalau kakak bilang buka ya dibuka. Coba sesekali itu nurut kalau dibilangi." Ucap Harry.
"Mmmm...iya iya kakak yang bawel. Tapi kakak makin ganteng loo kalau bawel begitu." Goda Adiezty.
"Kamu ini ya kalau dibilangi..."
"Iya iya kak.."
Setelah melihat semua tingkah laku dan sikapnya Harry dari jauh, Adel masih belum yakin kalau perempuan itu hanya dianggap sebagai adik oleh Harry. Adel berjalan menghampiri keduanya...
"Maaf ya aku kelamaan ya." Ucap Adel tersenyum ramah kepada Harry dan juga perempuan yang ada dihadapan Harry.
Adiezty menatap Adel dan juga Harry. Dia masih bingung kenapa ada orang lain yang ikutan makan malam dengannya dan Harry. Adiezty menduga-duga ekspresi Adel dan Harry sekaligus. Dari tatapan Harry kepada cewek tersebut terlihat pancaran senang dan bahagia. Sedangkan dari sisi Adel, dia hanya melihat tatapan biasa saja sebagai seorang teman.
'Kenapa kak harry gak bilang sih kalau ajak orang lain kesini. Merusak mood aja...' Batin Adiezty.
Adiezty yang tadinya diam aja malah bisa berakting dihadapan keduanya. Dia tidak ingin terlihat terlalu kaget dengan kehadiran Adel.
"Hai, aku Adiezty. Kayak pernah lihat kakak deh." Ucap Adiezty dengan senyum yang dipaksakan sambil menjulurkan tangan kanannya untuk berkenalan.
"Aku Adel. Salam kenal ya. Wajah kamu juga sangat familiar sih." Ucap Adel sembari membalas jabatan tangan dari Adiezty.
"Mana mungkin kalian pernah ketemu sebelumnya." Ucap Harry menengahi.
"Kak Harry kenapa gak bilang sih kalau ngundang orang lain juga?" Rengek Adiezty.
Adel segera duduk tepat dismping Adiezty.
"Emang kakak mesti permisi sama kamu siapa yang bakalan kaka ajak makan malam." Ucap Harry.
"Tapi seharusnya ngasih tahu dong kak." Ucap Adiezty.
"Udah deh kamu protes mulu." Ucap Harry.
Adel masih terdiam menyaksikan perdebbatan yang terjadi antara Adiezty dan Adel.
"Oh iyakak? kakak udah pesankan menu makan malam kesukaan Adiezty kan? kakak kan selalu ingat Adiezty suka makan apaan." Ucap Adiezty dengan manjanya. Adiezty langsung menunjukkan sikap manjanya dihadapan Adel. Ntah mengapa Adiezty merasa sangat cemburu dengan Adel. Apalagi dia bisa merasakan kalau Harry terlihat begitu menyukai Adel. Bisa dibilang masih cinta satu pihak saja. Semua terlihat jelas dari sorotan mata keduanya...
"Udah kakak pesan kok. Dasar bawel !!!" Ucap Harry.
"Yee kan kirain kakak lupa..." Ucap Adiezty.
"Kak Adel kok diam aja sih?" Tanya Adiezty yang segera mengalihkan pembicaraan.
"Eh gpp kok." Jawab Adel santai.
"Oh iya? kakak kerja dimana?" Tanya Adiezty seolah mengintrogasi Adel
"Kerja di perusahaan yang sama dengan Harry. Kalau Adiezty apa kegiatannya?" Ucap Adel.
Adiezty menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia kaget mendengar ucapan Adel.
"Berarti kalian teman satu kantor. Pantasan aja aku ngerasa pernah lihat kakak. Aku pernah datang sekali waktu itu ke perusahaan kak Harry." Jelas Adiezty.
"Tunggu dulu. Kamu..." Adel berusaha mengingat-ngingat sejenak.
'Astaga...pantasan aja kayak pernah lihat si Adiezty. Pantas aja wajahnya sangat familiar banget...ternyata ini cewek yang pernah membanting pintu sewaktu keluar dari ruangan Harry dulu. Sampai gue dan Raya kaget bersamaan waktu itu. Iya iya gue ingat sekarang.' Batin Adel.
"Oh jadi kamu yang waktu itu datang ya?" Ucap Adel yang akhirnya bisa mengingat dengan baik.
"Kamu kapan pernah lihat Adiezty?" Tanya Harry bingung.
"Udah lama lah, waktu Raya masih jadi sekretaris kamu." Ucap Adel.
Harry langsung melihat kearah Adel, yang ditatap malah tersenyum menatap Harry....
"Jadi kalian satu kantor ya? seru banget bisa ketemu setiap hari. Irinya..." Ucap Adiezty.
Tidak berapa lama pelayan restoran menyajikan makanan yang sudah Harry pesan tadi. Adel, Harry, dan Adiezty segera menyantap makanan tersebut. Apalagi Adel yang sejak tadi sudah menahan lapar. Langsung saja dia mencoba satu persatu makanan. Terkadang Adiezty berinisiatif menyuapi Harry sampai Harry merasa risih dengan tingkah Adiezty. Apalagi dia melakukannya dihadapan Adel. Adel malah terlihat acuh saja dan menikmati makanannya.
'Sebenarnya apa sih yang kamu rasakan Del? kamu gak ada rasa cemburu sedikitpun ya? kamu terlihat santai aja.' Batin Harry.
Adel yang sudah memperhatikan sedaritadi tingkah Harry dan Adiezty. Adel merasa kalau Harry begitu peduli dan perhatian. Tetapi ntah mengapa Adel merasa kalau Adiezty memiliki perasaan lebih untuk Harry. Perasaan yang bisa dibilang tulus menyayangi Harry. Yang Adel bingungkan kenapa Harry tidak bisa melihat perasaan itu dari Adiezty?
Selesai makan, Adel mencoba makanan favoritnya untuk dessert. Yaitu brownies lumer yang dipadukan dengan ice cream rasa vanilla menambah kesempurnaan makan malam kali ini. Harry benar-benar tahu banyak tentang Adel. Sampai-sampai mengajak makan malam ditempat sebagus dan seenak ini sudah dia pikirkan matang-matang. Dia berharap Adel bisa bahagia saat dengannya. Sepertinya yang diharapkan Harry berujung manis. Terlihat Adel sangat menikmati makan malam mereka.
Harry fokus melihat ekspresi Adel yang lagi kesenangan makan dessert. Tidak sia-sia dia mengajak Adel untuk makan malam bareng Adiezty. Sedangkan Adiezty kesal dengan tingkah Harry yang hanya menatap fokus Adel tanpa mempedulikan dirinya.
"Pelan-pelan makan dessertnya Del, itu kamu makan sampai belepotan begini." Harry mengambil tisu dan berjalan menhampiri Adel kemudian mengelap mulut Adel yang belepotan ice cream.
Adel yang lagi asik makan merasa kaget karena Harry mendadak datang menghampiri dirinya.
"Aku bisa sendiri Harry. Kamu lebih baik tetap duduk aja disana." Protes Adel yang buru-buru mengambil tisu yang ada ditangan Harry. Mau tidak mau Harry kembali lagi duduk di kursinya.
"Kak, Adiezty juga belepotan nih makannya." Rengek Adiezty yang mencari perhatian karena sedaritadi merasa diabaikan.
"Kamu kan bisa ambil tisu dan mengelapya sendiri." Ucap Harry.
"Ikh kak Harry kok gitu sih. Tadi aja sama kak Adel diambilin tisunya...dasar pilih kasih." Ucap Adiezty.
Adel memberikan tisu kepada Adiezty tetapi malah ditolak. Adiezty sudah merasa kesal,cemburu,iri dan berbagai perasaan bercampur aduk dia rasakan..
"Adiez..kamu ini ya." Ucap Harry yang segera dipotong oleh Adiezty.
"Maaf ya kak Adel, Adiez mau ke toilet aja. Kakak mau nggak nemani Adie sebentar?" Ucap Adiezty.
"Eh ..Ya udah ayuk." Ucap Adel.
Mereka berdua pergi ke toilet dan meninggalkan Harry sebentar. Harry pergi ke kasir untuk membayar makanan mereka kemudian dia kembali lagi duduk...
Didalam toilet, Adiez seolah membersihkan mulut dan tangannya dengan air. Kemudian dia memakai liptintnya kembali...
Saat sedang bercermin dia mengajak ngobrol Adel...
"Kak Adel ada hubungan apa sama kak Harry? aku lihat-lihat hubungan kalian itu seperti orang yang sedang pacaran. Apa iya ya kak?" Tanya Adiezty to the point.
"Mmmm...cuman dekat aja kok." Ucap Adel bingung mau menjawab apa. Jujur saja Adel dan Harry masih belum pacaran, tetapi kalau ditanyain begini Adel malah serba salah mau menjawab pertanyaan barusan.
"Oh dekat...emang kakak gak suka ya sama kak Harry?" Pertanyaan yang sedaritadi ingin dia lontarkan.
Adel hanya bisa diam tanpa bisa menjawab pertanyaan Adiezty.
"Kakak tahu aku ini siapa? apa kak Harry cerita ke kakak tentang aku?" Ucap Adiezty.
"Aku ini calon tunangan kak Harry yang sudah dijodohkan sedari kami kecil. Apa kak Harry bilang ke kakak?" Jelas Adiezty penuh penekanan.
"Calon tunangan?" Ucap Adel yang kaget mendengar ucapan barusan.
Adiezty mengangguk sembari tersenyum.
"Jadi aku harap kakak bisa menjauh dari kak Harry. Karena 3 bulan lagi kami mau mengadakan pertemuan keluarga besar diluar negeri karena nyokapnya kak Harry yang minta." Ucap Adiezty.
Adel seakan sulit menelan salivanya sendiri...
'Harry benar-benar keterlaluan. Jadi selama ini dia hanya sandiwara aja. Apa maksudnya semua ini?' Batin Adel yang hanya bisa menampilkan senyum dengan paksaan.
Adiezty terlihat serius saat menceritakan semuanya, tidak terlihat gugup sama sekali. Dari matanya juga kelihatan dan bisa dibaca kalau dia gak mungkin berbohong untuk hal seperti ini.
"Maaf kalau Adiez lancang minta permintaan seperti itu. Ini semua demi kebaikan kita bersama. Adiez sayang banget sama kak Harry dari dulu sampai sekarang perasan itu semakin dalam. Adiez berharap kak Adel bisa mengerti perasaan Adiez..." Ucap Adiezty yang melihat raut wajah Adel yang mendadak berubah.
Adiez mengerti kalau Adel saat ini pasti sangat terkejut atas apa yang baru saja dia dengar. Untuk itu, Adiez tidak memaksa Adel untuk merespon perkataannya.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Adiezty dan Adel keluar dari toilet dan berjalan kembali menghampiri Harry.
Adel mendadak menjadi orang yang membisu. Tidak ada kata apapun yang di keluarkan lagi setelah dari toilet tadi. Kemudian dering suara hp seakan menyelamatkannya darisana. Tanpa pikir panjang Adel segera mengangkat teleponnya...
"Apa? seriusan? oke gue kesana sekarang." Ucap Adel yang buru-buru mematikan teleponnya.
"Dari siapa Del?" Tanya Harry.
"Aku balik duluan ya. Maaf..." Adel mengambil tas dan berlari keluar dari tempat itu.
Saat Harry ingin mencegahnya, tangan Harry ditahan oleh Adiezty.
'Siapa yang menghubungi Adel malam-malam begini?' Batin Harry yag merasa sangat kawatir.
Harry berusaha melepas sebelah tangannya yang dipegang oleh Adiez. Harry segera...."
*****
.