
Enam bulan kemudian.....
Hari demi hari yang terlewati membuat hubungan Kavin dan Ratu menjadi semakin mesra saja. Setiap pagi Ratu selalu saja memasangkan dasi di kerah leher suaminya. Seperti sudah menjadi kebiasaan serta rutinitas mereka saja.
Selesai memasangkan dasi, Kavin selalu mencium kening Ratu dengan lembut serta selalu menggodanya dengan membisikkan kata-kata rayuan yang selalu membuat istrinya itu menjadi salah tingkah.
Kavin sangat senang saat melihat tingkah konyol istrinya itu yang membuatnya semakin gemas saja. Mereka sangat menikmati setiap harinya sebagai sepasang suami istri.
Walaupun tidak semulus yang mereka inginkan. Tetap saja ada rasa kesal, cemburu, benci, marah, dan juga egois yang mereka alami seperti pasangan pada umumnya.
Disaat Ratu merasa kesal kepada suaminya, ia selalu mengingat semua pesan mamanya dulu. Kalau sebagai seorang istri kita harus selalu patuh dan hormat kepada suami.
Kata-kata itu selalu ia ingat dan realisasikan. Sebaliknya dengan Kavin selalu mengingat pesan papanya. Sesibuk apapun dia nantinya, harus menomor satukan keluarga.
Karena keluarga adalah segalanya serta penyemangat hidup disaat kita susah maupun senang. Disaat kita menikah, kita harus bisa menyatukan dua kepribadian yang berbeda menjadi satu.
Pernikahan yang awet dibangun atas persamaan sekaligus perbedaan karena dalam pernikahan, ada hal-hal yang mesti selaras, dan ada hal-hal yang berbeda untuk saling melengkapi.
Hari ini Ratu berinisiatif pergi ke apotik untuk membeli beberapa vitamin untuk dirumah. Disaat seperti ini mereka sangat membutuhkan vitamin agar tubuh mereka selalu fit untuk melakukan segala aktifitas.
Apalagi semenjak Ratu mendapatkan beberapa proyek baru di kantornya. Ia terlihat begitu capek sehingga membuat Kavin sangat khawatir dan cemas akan kesehatannya.
Kavin juga sedikit mengancan Ratu. Kalau ia tidak dapat menjaga kesehatannya Kavin tidak akan memberinya izin untuk pergi bekerja. Disaat membeli vitamin, Ratu berfikir sangat lama apakah ia juga membutuhkan sebuah tespek.
Sejujurnya saat ini dia sudah telat sekitar 5 hari tetapi ia masih merasa sangat takut untuk mengeceknya langsung. Lamunannya menjadi hilang seketika disaat karyawan toko tersebut bertanya kepadanya.
"Maaf , total belanjaannya sekitar Rp 178.000!"
"Oh iya.." Ratu dengan segera mengambil uang yang ada didalam dompet miliknya.
Disaat melangkahkan kaki keluar dari apotik tersebut, ntah apa yang dia pikirkan sampai menghentikan langkah kakinya itu. Dia memutuskan untuk membeli tespek tersebut.
"Ada yang bisa dibantu lagi ibu?"Tanya salah satu karyawan.
"Saya mau beli ini 1.."Tunjuk Ratu sedikit ragu.
"Ok sebentar ibu."
"Oke."
Setelah itu ia pun balik lagi ke kantornya. Perasaan nya saat ini menjadi gelisah sekaligus penasaran sekali. Tetapi ia bermaksud menyembunyikan hal ini kepada Kavin untuk sementara waktu. Ratu masih tidak yakin dengan apa yang terjadi pada dirinya tersebut. Ia hanya ingin memastikan hal itu sendiri. Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam,
ia sangat menginginkan seorang anak. Wajar saja sih, karena semua orang yang menikah sangat mengharapkan seorang keturunan.
*****
Akhirnya Dimas bisa membuka bisnis sendiri berkat kegigihan dan kerja kerasnya selama ini.
"Makasih banyak ya Nis, berkat bantuan dari lo...akhirnya gue bisa buka cafe ini." Ucap Dimas sambil tersenyum kearah Nisa.
"Sama-sama Dim. Gue juga senang bisa bantuin lo. Gue doain semoga bisnis lo bisa lancar."
"Amin...makasih Nis. Gue gak tahu harus bilang apa lagi."
"Santai aja kali Dim. Selama gue bisa bantu pasti dengan senang hati gue akan bantu lo."
"Gue dengan tulus mengucapkan terima kasih banyak ke elo Nis."
"Iya iya Dim. Jadi kapan rencana peresmian cafe baru lo ini?"
"Rencananya 2 hari lagi. Karena gue sekalian nungguin keluarga gue datang dari Yogyakarta. Ntar gue kenalin deh lo sama mereka."
'Serius ? Dimas mau ngenalin gue sama keluarganya? Senangnya.'Batin Nisa.
"Eh Nis...kok lo diam aja sih? Gue lagi ngomong nih sama lo." Dimas memukul pelan tangan Nisa.
"Eh kenapa-kenapa Dim?" Ucap Nisa spontan.
"Berarti lo daritadi gak dengarin gue ya. Emang lagi mikirin apaan sih lo?" Tanya Dimas.
"Bukan gitu Dim. Gue cuman mikir aja kayaknya gue udah kelamaan deh disini. Kasihan bunda sendirian dirumah." Ucap Nisa beralasan.
"Tapi lo gak jawab pertanyaan gue tadi Nis."
"Emang lo tanya apa tadi? Sorry gue gak dengar."
"Ah udah ah lo lupain aja."
"Apaan sih Dim kok jadi ngambek gitu." Oh tentamg keluarga lo ya. Ya gue senang banget lah kalau bisa kenal sama mereka."
"Ok kalau begitu."
"Oh iya jadi kerjaan lo gimana Dim? Apa lo fokus urus bisnis aja?"
"Gue akan tetap kerja Nis. Tapi gue akan tetap kontrol juga bisnis gue."
"Oh gitu."
"Mmm...Jadi sekarang lo mau pulang? Biar gue antar?"
"Gue pulang sendiri aja ya Dim."
"Kenapa emangnya Nis?"
"Gue gak mau aja jadi ngerepotin lo. Lagian sekalian gue mau beli cake buat bunda. Bye Dim." Nisa segera berdiri sambil melambaikan tangan kearah Dimas.
"Gue akan antar lo Nis." Cegah Dimas sambil memegang tangan Nisa.
Nisa terlihat gugup saat Dimas memegang tangannya.
"Lo yakin mau ngantar gue?" Tanya Nisa gugup.
"Yakin dong." Ucap Dimas.
"Kalau gitu buruan gih kita jalan sekarang."
"Ok. Kenapa lo diam aja?"
"Gimana gue bisa pergi kalau daritadi lo masih pegangin tangan gue seperti ini." Tunjuk Nisa kearah tangannya yang dipegang Dimas.
Saat Dimas melihatnya, dengan reflek langsung melepaskannya.
"Eh sorry Nis. Gue gak maksud..."
"Iya gapapa kok Dim."
Tanpa mereka sadari, keduanya terlihat salah tingkah.
*****
Sampainya dirumah, bunda menyambut kehadiran putri kesayangannya itu dengan semangat.
"Hai bunda. Tumben banget nih nungguin Nisa didepan rumah."Sapa Nisa sembari memeluk bundanya.
"Bunda kan mau nyambut anak kesayangan. Emang salah." Ucap bunda.
"Mau nyambut Nisa apa Dimas nih bund?" Ledek Nisa.
"Ya dua-duanya dong." Ucap bunda gak mau kalah.
Dimas yang baru keluar dari mobil langsung menyalam serta menyapa bunda.
"Hai tante." Sapa Dimas.
"Hai nak Dimas."Sapa bunda.
"Dimas langsung pamit pulang ya tan." Ucap Dimas.
"Loo kenapa malah buru-buru mau pulang sih? Apa gak mau duduk duduk dulu?" Tawar bunda.
"Lebih baik lo pulang aja deh Dim. Biar lo bosa segera istirahat." Ucap Nisa.
"Ya ampun sayang. Kenapa nak Dimas malah disuruh pulang sih?" Protes bunda.
"Kan ini udah malam bund untuk bertamu."Ucap Nisa.
"Iya tante. Lain kali deh Dimas mampir." Ucap Dimas.
"Kalau gitu, hati-hati ya nak Dimas."
"Iya tante."
Setelah kepergian Dimas, Nisa dan bunda masuk kedalam rumah. Nisa menemani bunda menonton tv sambil makan cake yang dibelinya tadi.
"Bunda perhatiin kamu semakin dekat saja dengan Dimas? Jujur sama bunda....kamu sebenarnya suka sama dia kan?"
Dekat dong bund. Kan kita sekarang udah temenan. Emang terlalu kelihatan ya bund?"
"Kelihatan dong. Bunda kas bisa tahu dsri tatapan kamu saat melihat Dimas itu beda banget. Bunda udah tahu lama dari awal Dimas datang kerumah ini. Benar kan?"
"Tapi Dimas kok gak ngelihat ya bund?"
"Laki-laki itu emang lama pekanya sayang."
"Tapi percuma bund, Dimas hanya anggap Nisa sebagai teman saja. Lagian Nisa juga udah nyaman dan bersyukur banget karena bisa dekat sama Dimas walau sebagai teman aja."
"Kamu udah pernah ungkapin ke Dimas?"
"Bunda pikir Nisa wanita apaan. Gengsi dong bund."
"Kalau kamu gak ungkapin bagaimana Dimas bakal tahu tentang perasaab kamu?"
"Nisa takut bund. Kalau Nisa nekat ungkapin perasaan ke Dimas. Malah membuat hububgan kami malah renggang. Mungkin Nisa dan Dimas ditakdirkan hanya sebagai teman aja."
"Bunda selalu mendukung apapun yang buat kamu bahagia."
"Makasih bunda. Nisa sayang bangey sama bunda."
"Sama-sama sayang. Bunda juga sayang banget sama kamu."
'Asal bunda tau aja sebenarnya Nisa udah pernah ungkapin semua perasaan Nisa melalui surat cintar sewaktu SMA. Tapi sampai sekarang Dimas tidak tahu itu surat dari siapa.'Batin Nisa.
*****
Dimas merasa tidak kesepian lagi setelah kehadiran keluarganya.
"Ternyata kakak aku ini sukses banget ya di Jakarta. Bangga deh." Ucap Kirana sembari memeluk kakaknya dengan manja.
"Kalau gitu, Kirana boleh dong minta tambah uang jajan sama kakak." Ucap Kirana lagi.
"Dasar kamu ya ! Kalau ada maunya aja baru deh baik banget."Ucap Dimas sambil mengelus punggunh Kirana dengan lembutnya.
"Mama sangat bangga sama kamu sayang. Semoga bisnis yang baru kamu bangun bisa berjalan lancar. Amin." Ucap mama.
"Makasih doanya ma. Amin." Ucap Dimas
"Papa juga bangga sekali sama kamu Dim. Karena kamu bisa membuktikan ke kita semua kalau kamu bisa mandiri dan sukses di Jakarta." Ucap papa.
"Iya pa. Dimas bisa begini juga berkat doa dan dukungan mama papa selama ini." Ucap Dimas.
"Kirana gak sabar banget pengen lihat langsung cafe baru nya." Ucap Kirana.
"Sabar dong. Besok acara peresmian cafenya. Kalau gitu papa mama sama Kirana istirahat dulu dirumah ya. Kan kalian juga baru aja sampai pasti capek banget kan. Dimas mau lanjut kerja dulu." Ucap Dimas sekalian pamit.
"Kalau begitu kamu semangat kerjanya ya sayang." Ucap mama.
"Iya ma pasti..."Ucap Dimas.
Kemudian Dimas pergi ke kantor. Ia sengaja izin dari kantor untuk memyambut kehadiran keluarganya.
*****
Hari ini adalah hari dimana Dimas meresmikan cafe barunya. Banyak teman, keluarga serta rekan kerjanya yang hadir disana. Bisa dibilang mimpinya selama ini bisa terwujud. Tak lupa juga ia mengenalkan Nisa kepada keluarganya.
"Ma, pa, Kirana ...ini kenalkan teman kakak. Namanya Nisa. Berkat dia juga akhirnya kakak bisa membuka cafe ini." Ucap Dimas.
Nisa menyalam dengan sopan kedua orangtuanya Dimas dan menyapa hangat adiknya.
"Hai om, tante, Kirana....perkenalkan saya Nisa temannya Dimas." Ucap Nisa sedikit gugup.
"Hai kak Nisa. Kk cantik banget sih." Puji Kirana.
"Makasih ya nak Nisa udah bantuin anak saya Dimas untuk mewujudkan impiannya." Ucap mama sambil memegang kedua tangan Nisa.
"Sama-sama tante. Nisa juga senang kok bisa bantuin Dimas." Ucap Nisa.
"Jarang-jarang lo kak Dimas punya teman cewek. Bisa dibilang kalau kakak sepertinya teman cewek pertama deh yang dikenalin sama kita. Ya kan ma?" Ucap Kirana.
"Iya kamu benar sayang. Tapi tante seperti gak asing saat melihat nak Nisa. Apa kita pernah ketemu sebelumnya?" Ucap mama.
Pertanyaan nyokspnya Dimas mengingatkan Nisa kembali...
"Pernah tan. Dulu tante pernah minta tolong ke Nisa untuk mengambilkan bunga hias. Masih ingat gak tan?" Nisa berusaha mengingatkan kejadian dulu ke nyokapnya Dimas.
"Pantas aja kamu itu kayak gak asing. Ternyata kamu orang yang sama yang bantuin saya." Ucap mama.
"Iya tan." Ucap Nisa.
"Kapan-kapan kamu main kerumah dong nak Nisa. Mumpung tante lagi disini. Nanti tante buatin cake sama masak makanan yang enak buat kamu." Ucap mam.
"Benar banget tuh apa kata mama kak. Lagian Kirana juga biar ada temannya." Ucap Kirana.
"Apaan sih mama sama Kirana. Nisa tuh sibuk banget ma. Mana mungkin dia bisa...." belum sempat melanjutkan bicaranya malah dipotong oleh Nisa.
"Bisa kok tante." Ucap Nisa.
Dimas secara sepontan langsung menatap kearah Nisa. Kemudian Nisa mengangguk kearahnya untuk meyakinkan Dimas.
"Lo yakin Nis? Kan setiap hari lo harus bekerja?" Tanya Dimas.
"Bisa kok Dim. Lagian gak masuk 1 atau 2 hari juga gpp kan." Jelas Nisa.
"Tuh nak Nisanya aja gak keberatan. Malah kamu yang gak izinin." Sewot mama.
"Tapikan ma..." Ucap Dimas.
"Gak ada tapi-tapian sayang." Ucap mama.
"Iya nih kak Dimas... kan kak Nisa bisa temani Kirana selama disini terus juga bisa shopping bareng nantinya." Nisa sangat antusias sekali dengan Nisa. Bisa dibilang Kirana sangat mengagumi Nisa yang begitu cantik dan sangat ramah tersebut.
"Lo tenang aja deh Dim. Seriusan gue gapapa." Ucap Nisa sambil memegang bahunya Dimas.
Yang membuat pandangan mereka saling menatap. Mama dan Kirana menyaksikan dengan jelas apa yang baru saja terjadi.
"Ehem .... ehemmm... kak Dimas jangan ngeliatin kak Nisa terus dong." Ucap Nisa.
Mendengar perkataan adiknya barusan membuat keduanya membuang muka dan melihat kearah yang lain secara bersamaan. Terlihat sekali mereka seperti orang yang salah tingkah. Sebenarnya wajah Nisa sudah memanas sedaritadi.
"Kalau gitu, Nisa pamit kesana dulu ya tan. Mau nyamperin teman." Ucap Nisa.
"Iya nak Nisa. Jangan lupa ya besok-besok main kerumah." Ucap mama.
"Pasti tante." Ucap Nisa.
Nisa pun bergabung kembali dengan Adel dan Ratu...
"Ciye....ciye...gimana rasanya bisa akrab sama calon mertua?" Ledek Adel sambil menyenggol lengan Nisa.
"Pasti lo lagi deg deg an banget ya Nis. Keliatan banget soalnya muka lo tegang kayak gitu." Tunjuk Ratu.
"Eh emang iya ya? Padahal gue udah usahain biar gak tegang begini." Ucap Nisa.
"Sumpah demi apapun. Sekarang gue deg-deg an parah. Tapi gue senang sih bisa kenal sama keluarga Dimas. Ternyata gak seserem yang gue bayangin. Mereka memyambut hangat kehadiran gue." Jelas Nisa.
"Iya iya...kita ngerti kok. Jadi udah sampai tahap mana hubungan lo sama Dimas? Kalian udah dekat lama banget loo."
"Gue cuman teman dekat dia aja. Dan gak lebih dari itu. Mungkin sampai saat ini Dimas hanya nganggap gue sebagai teman. Dan gue juga udah mulai terbiasa dengan hal itu. Bisa sedekat ini aja gue udah happy kok." Jelas Nisa
"Kita doain deh, semoga suatu saat nanti Dimas bisa peka sama perasaan loo.. Amin." Ucap Ratu dan diaminkan oleh Adel juga.
"Amin. Semoga aja." Ucap Nisa.
Kavin menghampiri kedua orangtua Dimas...."Hai tante hai om... " Sapa Kavin sambil tersenyum.
Papa mama Kavin menyapa balik dengan ramah. "Hai juga. Kamu salah satu temannya Dimas kan ?" Tanya mama.
"Papa sama mama gak ingat dia ini siapa?" Ucap Dimas.
"Wajahnya sih gak asing. Kayak pernah lihat sebelumnya. Tapi mama beneran lupa." Ucap mama.
"Ya ampun mama." Ucap Dimas.
"Kenalin saya Kavin Ardana Abiputra yang dulu tetanggaan sama om dan tante. Dan saya juga teman kecilnya Dimas." Ucap Kavin mengingatkan kembali.
"Ya ampun nak Kavin. Maaf loo tante beneran lupa. Habisnya sekarang kamu ganteng banget." Ucap mama.
"Iya beda banget sama yang dulu. Dulukan kamu jobinya main dilumpur sama Dimas. Ya kan ma?" Ucap papa.
"Bener banget pa. Tapi beneran lo kamu ganteng banget sekarang. Beda banget sampai tante pangling sama kamu." Ucap mama.
"Bisa ajanya nih tante mujinya." Ucap Kavin.
"Kavin sekarang udah nikah loo ma... " Ucap Dimas.
"Kok gak undang undang tante sama om sih. Kenalin ke kita dong istri kamu yang mana." Ucap mama.
"Oke bentar ya tan."
Kavin mengajak Ratu untuk menyapa kedua orangtua Dimas...."Perkenalkan ini istri saya. Namanya Ratu." Ucap Kavin.
"Cantiknya. Pantas aja Kavin langsung buru-buru nikahin. Orang punya istri secantik ini." Puji mama.
"Makasih tante." Ucap Ratu. Kemudian Ratu menyalam kedua papa dan mamanya Dimas.
"Mereka juga tinggal di komplek perumahan yang sama dengan Dimas. Dengan kata lain kalau kami tetanggaan juga ma. Jadi Dimas sekarang gak merasa sendiri lagi karena ada Kavin." Jelas Dimas.
"Oh iya ? Bagus dong sayang... kalau gitu mumpung om dan tante sekarang lagi di jakarta kamu sekalian gih ajak papa sama mama kamu main kerumah. Om dan tante juga kangen banget sama mereka." Ucap mama
"Iya ntar Kavin ajak kok tante. Mama sama papa pasti senang bisa ketemu om sama tante setelah sekian lama pisah." Ucap Kavin.
"Kalau yang ini adik lo Dim? Kirana ?" Tunjuk Kavin.
"Hai kak Kavin? Udah lama gak ketemu makin ganteng aja ya." Ucap Kirana dengan centilnya.
"Kamu ini... siapa yang ajarin kamu centil begitu?" Ketus Dimas.
"Biarin dong kak. Lagian kak Kavinnya gak keberatan kok." Ucap Kirana.
"Kirana juga makin cantik kok." Puji Kavin.
"Makasih kak Kavin..." Ucap Kirana.
Kavin hanya tersenyum saja melihat tingkah adiknya Dimas itu.
"Ada yang senang banget nih dipuji sama cewek cantik." Bisik Ratu.
"Udah lama kan aku gak dipuji kayak gitu sayang. Kamu gak lagi cemburu kan?"
"Ya kali aku cemburu sama adik-adik.. " Goda Ratu.
"Kirain aja sayang.." Ucap Kavin.
Akhirnya setelah sekian lama Ratu, Kavin, Adel dan Nisa berada disana. Mereka memutuskan untuk pamit pulang.
"Hei bro. Selamat atas peresmian cafe baru loo. Gue doain sukses ya." Kavin menjabat tangan Dimas.
"Thanks Vin." Ucap Dimas.
"Kami juga doain semoga cafe loo semakin rame dan berjalan lancar seperti yang lo harapin. Amin.." Ucap Ratu.
"Makasih doanya dan makasih juga karena ia kalian udah datang ya." Ucap Dimas.
"Kita pamit sekarang ya Dim.." Ucap Nisa.
"Lo pulang gue antar ya ?" Tawar Dimas.
"Gak usah Dim. Gue pulang bareng Adel aja. Disini kan ada keluarga serta teman-teman lo yang lain. Kan gak mungkin lo tinggal juga. Secara mereka datang karena lo." Tolak Nisa.
Dimas mengamati semua tamu yang hadir kesekitar....
"Benar juga sih yang lo bilang Nis. Kalau gitu kalian hati-hati ya." Ucap Dimas.
"Bye Dim...." Ucap Nisa, Adel dan Ratu.
"Bye..."
Kemudian Dimas masuk kedalam cafe kembali menemani teman-teman serta keluarganya.
"Kak Nisa itu cantik ya kak." Ucap Kirana.
"Iya." Jawab Dimas datar.
"Kok cuman iya doang sih kak. Jadi kak Dimas gak suka sama kak Nisa?" Tanya Kirana.
"Sukalah makanya berteman." Jawab Dimas polos.
"Ikhh kak Dimas...Bukan suka kayak gitu maksdu Kirana." Ketus Kirana.
"Udah deh kamu bawel banget tau gak daritadi. Kakak mau kesana dulu." Ucap Dimas.
"Dasar kak Dimas itu gak peka banget ya ma. Padahal dari tingkahnya kayaknya mereka saling suka deh ma." Ucap Kirana.
"Kan kakak kamu segitu kakunya kalau sama cewek sayang. Tapi mama yakin kok kalau suatu saat ada yang bisa merubahnya." Ucap mama.
"Semoga aja deh ma." Ucap Kirana.
"Mama sama Kirana jangan seperti itu. Kalau sudah takdir dan jodohnya pasti akan didekatkan kok." Ucap papa.
"Ya kan kalau kita berharap gak ada salahnya juga pa. Karena kak Dimas itu terlalu tertutup banget tau pa. Apalagi soal cewek. Kaku banget." Ucap Kirana.
"Percaya sama papa...suatu saat kakak mu akan sadar sendiri tentang perasaannya." Ucap papa.
"Iya mama ngerti kenapa papa bilang begitu. Karena papa dulunya seperti itu juga kan. Papa kan dulu susah banget bilang sayang ke mama." Ledek mama.
"Emang iya ma? Wah berarti sifat kak Dimas turunan dari papa dong." Ucap Kirana.
"Benar dong sayang." Ucap mama
"Mama ini jangan ngomong yang aneh-aneh deh didepan Kirana." Sewot papa.
"Kenapa pa? Kan mama bilang sesuai kenyataannya sih." Ucap mama.
"Malu tahu ma. Lagian itukan dulu papa seperti itu." Ucap papa.
"Tapi sampai sekarang juga papa masih terlalu kaku tuh." Ucap mama.
"Udah deh ma. Kok malah menyudutkan papa begini sih. Kan tadi lagi bahas Dimas." Protes papa.
"Iya deh iya pa." Ucap mama sambil terkekeh.
Setelah acara peresmian cafe selesai, Dimas mengantar keluarganya pulang kerumah. Kemudian Dimas membaringkan tubuhnya ketempat tidur. "Capek banget ya hari ini. Semoga semuanya berjalan lancar." Ucapnya.
Saat Dimas memejamkan kedua matanya malah terbayang wajah Nisa. Ia membuka kembali matanya. "Kenapa gue bisa lihatin Nisa kayak tadi ya di cafe. Gue baru sadar kalau Nisa terlihat manis banget saat tersenyum." Ucapnya.
Kemudian ia menggelengkan kepalanya kembali. "Gak ! Gak boleh. Gue sama Nisa cumsn berteman aja dan gak gak lebih. Jadi hue gak boleh berfikir begitu. Mungkin gue begini karena udah nyaman aja berteman sama dia selama ini." Ucap Dimas lagi.
Kemudian ia memejamkam matanya kembali. Tetap saja wajah Nisa yang telihat disana. Ia memutuskan mencuci mukanya agar terlihat segar dan fresh.
'Kenapa bayangan Nisa gak hilang-hilang juga sih.' Batinnya yang sedikit kesal.
*****
Gimana pada suka gak? mohon berikan komentarnya yaa...
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya..
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading guys!