Playboy Vs Playgirl

Playboy Vs Playgirl
Terlanjur sakit



"Mama?" Ucap Adel dengan gemetar.


"Sejak kapan kapan jadi perempuan liar begini. Kenapa kamu gak pulang kerumah semalam?" Ucap mama.


"Sejak kapan juga mma peduli sama Adel?" Ucap Adel.


"Kamu kenapa jadi anak seperti ini." Ucap mama.


"seperti apa maksud mama? apa mama tahu apa yang Adel lakukan atau kejadian apa yang Adel alami. Kenapa mama gak pernah mennaykan hal ini dulu. Kenapa mama hanya menyalahkan Adel sepihak aja." Jelas Adel dengan memegangi pipinya yang sakit.


"Dasar anak yang tidak thu etika." Ucap mama.


"Apa mama bilang? mama tahu gak kalau Adel semalam diculik. Gak tahu kan? karena kalian semua gak ada yang peduli dan menganggap Adel dirumah ini. Adel juga gak tahu kenapa bisa diperlakukan sangat berbeda disini. Dirumah ini bukan ada keluarga yang semestinya. Selama ini Adel hanya diam saja karena Adel tahu papa sama mama sibuk bekerja. Tapi setelah kejadian yang menimpa Adel. Adel benar-benar sadar kalau kalian tidak pernah sedikipun mengkhawatiirkan Adel sama sekali. adel juga gk tahu ada kesalahan apa? Yang jelas tamparan ini pertanda mama sangat egois. Tamparan ini juga akan Adel ingat seumur hidup Adel." Jelas Adel pannjang lebar.


"Kamu diculik? kamu serius?" Tanya mama.


"Kalian juga gak tahu kan? karena gak ada yang peduli." Ucap Adel.


"Jangan-jangan itu hanya alasan Adel aja ma." Ucap papa yang ikut nimbrung.


"Terserah papa kalau memang mengaggap seperti itu. Adel udah gak peduli. Dan Adel gak harus menjelaskannya lagi." Ucap Adel.


"Kamu bisa ceritakan sama mama kejadiannya." Ucap mama.


"Gak perlu ma, Kalau mama ingin tahu lebih jelasnya lagi. Mama bisa tanyakan langsung ke kantor polisi. Mereka akan menjelaskan semuanya karena penculiknya juga sudah ditangkap." Ucap Adel.


Adel segera berlari masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintunya agar tidak ada orang yang bisa masuk kedalam. Hatinya benar-benar sangat sakit hari ini. Bukan karena tidak dipedulikan atau dikhawatirkan tapi karena kedua orangtuanya tidak mempercayai ucapannya dan menuduhnya tanpa bukti yang jelas. Yang paling menyakitkan lagi, sebelum dia menjelaskan semuanya mama sudah menampa keras pipinya. Rasa yang terlalu menyakitkan ini tidak akan bisa dia lupakan. Sebenarnya dia ragu, apa memang benar dia anak dan keluarga dirumah ini atau hanya orang yang menumpang hidup didalam rumah. Dia ingin sekali memiliki orangtua seperti bunda Nisa atau mama Ratu yang peduli dan khawatir kepada anaknya. Yang bisa percaya setiap ucapan anaknya, bukankah guna orangtua seperti itu.


"Mama jangan terpengaruh sama ucapan Adel barusan, lebih baik kita cari tahu dulu siatusinya..." Ucap papa.


"Tapi pa, gak mungkin juga Adel bohongi kita. Apa gunanya dia melakukan hal itu." Ucap mama.


"Kita harus memastikan langsung." Ucap papa.


"Mkasud papa?" Tanya mama.


"Kita harus segera ke kantor polisi ma. Kita harus tanya cerita selengkapnya disana. Kalau memang benar yang Adel ucapkan, seharusnya mama harus meminta maaf kepada Adel." Ucap papa.


"Kalau bengitu kita harus segera bersiap-siap sekarang pa." Ucap mama.


Papa dan mama Adel pergi ke kantor polisi untuk memastikan ucapan Adel barusan. Sebegitu tidak percayanya mereka sama ucapan anaknya sendiri.


*****


Adel melihat hpnya yang sudah mati total, dia mencharger hpnya terlebih dahulu. Karena hari ini Harry tidak memperbolehkannya untuk bekerja, dia hanya berdiam diri dirumah. Dia membuka pintu kamarnya secara perlahan dan memastikan langsung keadaan sekitar. Karena keadaan sudah sepi senyap, dia keluar untuk makan di meja makan dan menikmati makanan itu sendirian.


Dia berpikiran kalau kedua orangtuanya sudah berangkat ke kantor. Setelah makan, dia kembali masuk kedalam kamar sambil mengambil beberapa cemilan dari dlaam kulkas. Dia mengurung diri seharian setelah itu dengan menonton tv saja.


Selang 1 jam kemudian, dia mengaktifkan kenali hpnya ...


Dia melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Ratu, Nisa, harry dan nomor yang tidak dia kenal. Dan beberap pesan dan chat masuk dia baca...


Dia merasa sangat terharu karena masih ada aja orang yang mencarinya disaat dia hilang. Walaupun keluarganya tidak peduli tapi seenggaknya dia masih punya orang lain yang peduli. Itulah namanya hidup ada plus dan minusnya. Tidak bisa sempurna yang kita inginkan.


Adel mulai mengetik ...


"Gue gak kenapa-napa. Sekarang gue udah dirumah."


"Maaf baru balas sekarang."


"Hp gue lowbatt semalam."


"Makasih kalian peduli dan mencemaskan keadaan gue."


"Gue benar-benar terharu bisa memiliki sahabat seperti kalian."


Nisa dan Ratu yang sedang online...sontak saja langsung membalas chat dari Adel.


"Lo yakin gpp Del?"


"Sumpah kita khawatir banget sama keadaan lo."


"Katanya lo pingsan?"


"Gimana ceritanya?" Balas Ratu...


"Cepetan ceritain ke kita.. bagaimana lo bisa diculik?"


"Lo kenal sama pelakunya?"


"Lo gak diapa-apain kan beb?"


"Sumpah gue gak tenang banget pas tahu lo menghilang." Balas Nisa....


"Ceritanya panjang...jadi gue persingkat aja ya."


"Gue diculik sama manager yang bekerja diperusahan Tommy, gue juga gak tahu kenapa dia bisa melakukan hal itu. Dia membawa gue jauh dari kota. Gue sempat udah menyerah sama kondisi gue waktu itu. Karena gue disekap dan tidak bisa menghubungi siapapun dan dibawa jauh. Gue pikir gak akan pernah bertemu dengan kalian lagi...karena gue berontak juga gak ada yang dengar." Balas Adel.


"Gimana ceritanya polisi bisa melacak gue? siapa yang melaporkannya?" Balas Adel lagi.


"Harry yang pertama kali tahu kalau lo menghilang karena lo gak bisa dhubungi smaa sekali. No nya aktif tapi tidak diangkat. Haarry langsung melaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib. Polisi melacak keberadaan ponsel lo. Dan mereka segera pergi ketempat tersebut. harry dan Tommy juga mengikuti mobil polisi. Karena gue khawatir, gue suruh Dimas juga mantau langsung. Ternyata Dimas mngajak Kavin untuk pergi kesana." Jelas Nisa panjang lebar.


"Oh gitu ya ceritanya. Gue juga berhutang budi sama Harry. Dia terlalu baik banget sama gue. Jadi gue yang merasa bersalah sama dia. Kesannya gue kok jahat banget gitu." Balas Adel.


"Harry pasti mengerti kok Del. Lagian Harry kan orang yang sangat dewasa. Dia benar-benar tulus sih dari penilaian gue ya." Balas Nisa.


"Gue juga berfikiran hal yang sama dengan Nisa. Gue senang lo bisa dekat sama orang yang baik Del." Balas Ratu.


"Karena sikapnya yang terlalu baik itu juga yang buat gue bingung harus bagaimana." Balas Adel.


"Lo hanya perlu mengikuti kata hati lo aja kok Del." Balas Nisa.


"Lo benar Nis..." Balas Adel.


"Tapi yang paling penting lo gak kena-napa Del. Kami benar-benar bersyukur..." balas Ratu.


"Sekarang memang gue gak kenapa-napa. Tapi pas gue sampai rumah gue langsung kena tampar sama nyokap. Hahahah lumayan sakit sih. Tapi lebih sakit hati gue sekarang. Kedua orangtua gue gak percaya sama apa yang gue bilang." Balas Adel.


"Hah? kok bisa Del? papa sama mama lo gak percaya?"


"kebangetan banget ya..."


"Lo yang sabar ya Del, lo tenang aja masih ada kita yang sayang dan peduli sama lo. jadi jangan terllau dipikirkan lagi ya..." Balas Nisa.


"Yang sabar ya Del..."


"Kita selalu sayang sama lo."


"Semoga orangtua lo bisa tahu sama keadaan sebenarnya..." Balas Ratu.


"Udalah Tu, gue gak mengharapkan apa-apa lagi dari mereka. Yang paling penting gue mau menjalani hidup dengan apa yang gue senangi dan sukai aja. Capek hati dan pikiran kalau mengharapkan hal lain." Balas Adel.


"Tapi makasih ya udah semangatin gue, jujur gue jadi gak sedih lagi berkat kalian berdua." balas Adel.


"Benar tu Del, intinya jangan terlalu banyak mikir ya." Balas Nisa.


"Oke...thanks." Balas Adel.


Setelah mengabari Ratu dan Nisa, Adel merasa lebih tenang. Mungkin benar apa yang dikatakan kedua sahabatnya itu, dia harus istirahat sejenak, begitu banyak hal dan kejadian yang membuat pikirannya kacau saat ini. Sebenarnya yang merusak tubuh kita secara perlahan adalah terlalu banyak mikir yang gak ada habisnya.


Karena dengan semakin banyak hal yang kita pikirkan semakin banyak juga yang akan kita bayangkan. Kebanyakan hal negatif yang dipikrkan malah membuat tubuh menjadi ngedrop.


Adel melipat kedua tangannya, dia melihat kesekitar kamar, tidak ada 1 foto kebersamaan dengan keluarga didalam kamarnya. Dia tersenyum miris melihat keadaan kamarnya yang jauh berbeda dengan kamar orang lain. Setidaknya orang lain punya foto yang dipajang.


"Gak usah mikir lagi Del, loharus menikmati hidup lo mulai dari sekarang. jalani hidup dengan semestinya. Jangan pernah menyesal hidup dikeluarga seperti ini. Percaya aja kalau Tuhan punya rencana yang lebih indah. Semangat ?? lo pasti bisa kok." Ucapnya menguatkan dirinya sendiri.


*****


Harry terus menghubungi Adel untuk menanyakan bagaimana keadaannya saat ini. harry sengaja menyuruh Adel untuk beristirahat di rumah dulu. Setidaknya Adel harus beristirahat dan mnghilangkan rasa traumanya setelah kejadian yang menimpanya.


Adel menjelaskan kalau dirinya baik-baik aja sekarang, tapi Adel tidak memberitahu tentang kejadian pagi ini. Adel tidak ingin kalau Harry menjadi khawatir dan nekat untuk datang kerumah.


Adel belum siap untuk seorang cowok mendatanginya kerumah untuk bertemu dengan kedua orangtuanya. Dia merasa kalau dirinya saja tidak dipedulikan, dia tidak ingin kalau teman atau cowok yang datang kerumah juga tidak dihiraukan. Biar hanya dia sendiri saja yang merasakan hal menyakitkan begitu. Dia tidak mau orang lain merasakan hal yang sama.


Dan dengan sangat tegas juga Adel menolak Harry untuk datang kerumahnya. Lebih baik dia yang menjumpai harry langsung diluar daripada harus datang kerumahnya.


Harry juga mengerti kenapa Adel tidak mengizinkannya untuk datang. Tapi Harry hanya ingin memastikan sendiri keadaan Adel. Jadi Harry memaksanya untuk melakukan panggilan vidio.


'Ngapain sih Harry? pakai acara vidi call begini.' Batin Adel.


Mau tidak mau Adel mengangkat telepon dari Harry, kalau Adel tidak mengangkatnya, HArry nekat untuk datang sekarang juga.


"Ada apa sih Harry? ganggu aku istirahat aja. Apa kamu gak ada kerjaan ?" Ucap Adel.


"Aku mau lihat lo aja Del. Emang apa salahnya juga kalau kita vidio call? emang harus ada alasannya dulu?" Ucap Harry.


"Masalahnya aku mau istirahat sekarang dan lo ganggu..." Ucap Adel.


"Kok gitu sih Del. Jangan galak-galak dong. Kan niat aku baik." Ucap Harry.


"Tau ah. Ya udah kamu ngomong biar aku dengarin." Ucap Adel.


"Kamu lagi ngapain sekarang?" Tanya Harry.


"Kamu kan tahu kalau sekarang aku lagi nerima telepon kamu." Ucap Adel.


"Selain itu lagi ngapain?" Tanya Harry.


"Kalau kamu gak ada pertanyaan yang penting, lebih baik aku tutup aja teleponannya ya." Ucap Adel.


"Kamu udah makan kan Del?" Tanya Harry.


"Udah kok. Terus mau tanya apa lagi? cepetan waktu aku gak banyak." Ucap Adel.


"Kan kamu gak ngapa-ngapain, sibuk apa coba?" Ucap Harry.


"Udah ah gak penting Harry, besok aku udah boleh masuk kerja kan?" Ucap Nisa.


"Kamu yakin mau kerja besok?" ucap Harry.


"Yakin dong." Ucap Adel scepat mungkin.


"Terserah kamu aja Del. Kalau kamu merasa udah siap, Ya udah. Intinya tergantung kamu aja." Ucap Harry.


"Oke. Ya udah ya...aku mau istirahat dulu..." Ucap Adel langsung mematikan teleponnya.


"Dasar bos gak ada kerjaan apa." Ucap Adel menggerutu.


Dilain sisi Harry merasa tenang saat melihat Adel sekilas tadi. Seenggaknya bisa mengobati rasa kangennya terhadap Adel. Walaupun dibilang lebay, tapi itulah yang dia rasakan sekarang.


*****


Malam harinya, pintu kamar Adel diketok terus menerus oleh mamanya...


"Adel bukain pintu, mama mau bicara." Ucap mama sambil terus mengetok.


"Mau ngapain ma? Adel mau tidur." Ucap Adel.


"Mama mau bicara sebentar aja." Ucap mama.


Adel membuka pintu kamarnya dengan segera.


"Ada apa ma? tumben mau ngomongin apa emangnya?" Tanya Adel.


"Pipi kamu masih sakit gak?" Adel melihat mamanya membawa es batu untuk mengompres pipinya...


Adel menepis tangan mamanya saat mau menyetuh pipinya tersebut.


"Gak kok ma. Udah ya Adel ngantuk." Ucap Adel.


"Tunggu dulu..."Ucap mama.


"Pipi kamu masih merah dan bengkak, mama obatin ya." Ucap mama.


"Gak usah ma." Tolak Adel dengan segera.


Dia masih merasa kecewa dengan sikap kedua orangtua tersebut.


"Tapi Del..." Ucap mama.


"Apa lagi ma? besok Adel kerja jadi sekarang harus istirahat." Tanya Adel.


"Mama mau bilang ..." kata-kata mama terhenti seakan sedang menyusun kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Setahu dia mamanya tidak pernah berfikir saat berbicara. Mamanya selalu ceplas ceplos seenak sesuai dengan keinginannya.


'Mama mau bilang apa sih? apa mama mau marahi gue lagi sekarang?' Batin Adel yang bertanya-tanya.


Mama meletakkan es batu yang dia bawa keatas meja dan langsung memeluk Adel.


'Ada apa sih sebenarnya? ini aneh banget? apa yang sedang terjadi sekarang? seumur-umur mama gak pernah meluk gue. Gue ingat terakhir kali mama meluk gue disaat gue masih kecil.' Batin Adel.


Adel menegang dan terdiam saat dipeluk oleh mamanya ini. Mama mengelus lembut punggung Adel. Perasaan yag sudah lama tidak pernah dia rasakan lagi. Air mata Adel menetes tanpa keinginannya.


"Mama kenapa?" Tanya Adel.


"Mama mau bilang...


****


Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.


jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.


Terimakasih masih setia membaca novel ini.


Happy Reading Guys!