
Flashback On
Nisa termasuk anak yang periang, ceria, centil, manja sekaligus mandiri. Udah terbukti hasil dari kerja kerasnya selama ini yaitu memiliki klinik kecantikan sendiri. Awalnya ia hanya suka dan hobi sekali merawat diri termasuk maskeran maupun luluran sendiri. Nisa sangat suka berdandan seperti kebanyakan perempuan pada umumnya.
Nisa sangat manja kepada bundanya. Terlebih setelah ayahnya sudah lama tiada. Hanya bersama bundanya ia bisa berkeluh kesah atas semua masalah. Beruntungnya ia juga punya kedua teman yang selalu mendukungnya selama ini.
Awal mula ia tertarik untuk terjun ke bisnis kecantikan adalah ide dari bundanya. Nisa awalnya sangat ragu apakah ia bisa membuka usaha sendiri tapi bundanya berhasil meyakinkannya. Dari situ ia mulai mencari tahu tentang bisnis. Itu ide bundanya saat ia masih SMA. Sampai-sampai ia berencana masuk kuliah bagian bisnis nantinya.
Nisa dan bundanya pergi berbelanja bulanan. Itu salah satu aktivitas rutin setiap bulan yang ia lakukan bersama bundanya sekaligus bisa quality time bareng. Saat ia sedang asik memilih barang tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya pelan. Ia pun segera menoleh ke belakang.
"Nak..."Sapa seseorang.
"Iya ada apa apa ya tan????"Tanya Nisa ramah.
"Saya boleh minta bantuan kamu nak."
"Apa yang bisa saya bantu tan?"
"Tolong ambilkan saya bunga hias yang ada disana. Terlalu tinggi disana.."
"Oke tante."Nisa mengikuti tante itu berjalan sekaligus mengarahkan letak bunga hias tersebut.
"Mau yang warna apa tan bunga hiasnya tan?"Tanya Nisa sopan.
"Bunga hias yang warna merah jambu nak."
Nisa mengambil bunga hias kemudian memberikan kepada ibu tadi. Tak lupa Ibu itu mengucapkan terima kasih kepada Nisa.
"Terima kasih udah bantu nak? Ohh iya nama kamu siapa nak?" Ibu itu sambil memegang tangan Nisa.
"Panggil saya Nisa tante."
"Salam kenal nak Nisa. Sekali lagi terima kasih." Ucap tante itu.
Disaat mereka sedang asik berbincang mereka dikejutkan dengan panggilan seseorang.
"Mama....!!!!"Teriak Dimas sambil menghampiri mamanya.
Reflek Nisa melihat kearah orang yang memanggil. 'Itukan Dimas. Berarti tante ini adalah nyokapnya Dimas dong.'Batin Nisa yang berkecambuk.
"Kamu ini ngagetin mama aja. Kenapa mesti teriak begitu coba." Pukul mama ke bahu Dimas sekilas.
"Ya habisnya Dimas daritadi cariin mama tapi gak nemu. Kan Dimas jadi khawatir ma. Kalau mama hilang gimana coba." Dimas segera memeluk mamanya dengan hangat.
"Kamu itu berlebihan Dimas. Lagian mana mungkin mama hilang."
Ekspresi Nisa tidak dapat dijelaskan saat melihat Dimas dan mamanya saling perhatian. Dimas tidak sadar kalau Nisa berada didepannya sekarang. Ia memang super cuek.
"Hai Dimas."Sapa Nisa dengan manis.
Dimas melihat seksama kearah Nisa. Ternyata itu adalah teman sekelasnya.
"Oh Hai."Jawabnya kaku.
"Kalian saling kenal nak?"Tanya mamanya penasaran.
"Mmm...iya tante. Saya teman sekelasnya Dimas."Jelas Nisa dengan ramah.
"Mama kok bisa bareng dengan Nisa disini?"Tanya Dimas memastikan ke mamanya.
"Itu tadi mama minta bantuin Nisa ambilkan mama bunga hias ini. Untung Nisa baik mau bantu mama."
"Kenapa gak minta tolong ke Dimas aja ma?"Tanya Dimas.
"Kan kamu tadi masih sibuk nak jadi mama minta tolong ke Nisa. Lain kali kamu ajak dong Nisa main kerumah."Goda mama Dimas.
"Gak usah ntar jadi ngerepotin tante dan Dimas." Ucap Nisa menjadi tidak enak sama Dimas.
"Gak kok nak Nisa. Tante senang kalau Dimas bawa temannya main kerumah."
Nisa hanya tersenyum mendengar ucapan mamanya Dimas barusan. Ia mwrasa dapat lampu hijau. 'OMG !!! Ini bemeran gK mimpi kan.' Nisa menepuk pelan pipinua.
"Kalau gitu makasih ya Nis udah bantu nyokap gue." Ucap Dimas tersenyum
"Iya Dim sama-sama. Kalau gitu gue kesana dulu ya Dim. Saya permisi ya bu."
Nisa meninggalkan Dimas dan mamanya.
'Ternyata gak salah gue kagum sama lo Dim. Bukan hanya pintar disekolah. Lo juga bisa sedekat ini sama nyokap lo dan kelihatan banget kalau lo begitu sayang.'Batin Nisa senang
Itu pertemuan awal tak sengaja Nisa ke Dimas diluar sekolah. Ia begitu kagum dengan Dimas. Sekarang rasa kagumnya berubah menjadi rasa suka. Ia merasa kalau Dimas sangat berbeda dari cowok yang ia kenal selama ini. Jika seorang pria begitu sayang dengan ibunya maka suatu saat ia punya pacar ataupun istri pasti sebegitu lebih sayang lagi.
Nisa menjadi tidak fokus berbelanja. Tanpa sadar ia selalu tersenyum sendiri hingga siapapun yang melohat akan merasa dirinya aneh. Tak jauh darisana bundanya memperhatikan tingkah putri kesayangannya itu.
Secara mendadak Bunda memegang kening Nisa.
"Ihh bunda ngagetin aja deh."Ucapnya manja.
"Kamu gak lagi sakit kan sayang?kok senyum sendiri daritadi?"Tanya bunda bingung.
"Gak kok bun. Nisa lagi happy aja bun." Ucap Nisa yang mencari alasan.
"Yakin gak kenapa-kenapa kan. Kamu tau gak daritadi semua orang disini melihat kamu itu aneh. Apalagi bunda. Lagian gak biasanya kamu kayak begini."
'Bunda gak tahu aja kalau Nisa tuh lagi senang habis ketemu Dimas dan mamanya.'Batin Nisa.
"Karena Nisa merasa happy bisa quality time berdua sama bunda." Ucap Nisa bohong.
Bunda terus memandang kearah Nisa dengan tatapan bingung.
'Aneh gak biasanya Nisa seperti ini. Ntah kenapa bunda gak yakin kalau itu alasan sebenarnya.' Batin bunda yang ragu.
"Mmm...kok bunda gak yakin kalau itu alasannya ya. Kan kita setiap bulan emang sering belanja begini sayang."
"Udah deh bunda lebih baik kita lanjut aja belanjanya."Nisa sambil menarik tangan bundanya untuk mengikutinya.
Bunda terlihat pasrah tapi tetap mengikuti langkah kaki putrinya itu. Mereka lanjut belanja bulanan seperti biasa untuk menyetok isi kulkas dsn perlengkapan mandi. Mereka sempatin makan sebentar kemudian pulang kerumah.
*****
Nisa di depan cermin sedang melihat dirinya terus-memerus.' Ia menyisir rapi rambut dan memakai masker wajah Apa gue pantas kalau jadi pacar Dimas ya. Mikir apa sih gue. Bisa ngobrol kayak tadi aja itu udah anugerah banget,'
Tapi sebenarnya kalau Dimas peka sedikit saja, pasti ia tahu persis siapa yang mengirimkan surat cinta padamya.
Ia mulai merangkai kata seindah mungkin. Mencoba berfikir sejenak kemudian menuliskannya pada sepucuk kertas.
Dear Dimas,
Maaf aku harus ungkapin isi hati aku lewat surat ini. Aku malu kalau ungkapin langsung ke kamu. Malu kalau kamu akan tolak cinta aku. Aku gak tahu mau mulai darimana, yang jelas perasaan aku ke kamu ini nyata. Mungkin kamu anggap sedikit lebay. Ya itu hak kamu...
Awalnya aku hanya merasa kagum dengan sosok kamu yang begitu tampan, cuek tapi pintar. Tapi perasaan kagum itu ntah kenapa berubah menjadi perasaan suka dan sayang. Aku juga gak tahu kenapa hati aku bisa seperti ini. Aku rasa Tuhan yang merubah pandangan aku ke kamu menjadi seperti sekarang. Aku kagum dengan sosok kamu yang begitu hangat dan sayang kepada ibumu. Aku selalu percaya ungkapan seseorang (jika ada seorang laki-laki begitu sayang kepada ibunya maka ia akan memperlakukan istri atau pasangannya kelak seperti ia sayang kepada ibunya bahkan lebih). Kalau saja kamu peka kamu pasti tahu siapa yang mengirim surat ini. Semoga suatu saat kamu tahu. Aku sangat berharap kamu dan keluargamu bahagia selalu. Dari aku yang hanya bisa mengagumi dari jauh.
Setelah menulis surat, Nisa memasukkan kedalam amplop dan tasnya agar ia tidak lupa untuk menyelipkan di laci Dimas besok pagi. Ia berencana berangkat lebih pagi ke sekolah.
Setelah itu Nisa kemudian beristirahat.
*****
Nisa masuk ke kelas, ia celingak celinguk melihat keadaan sekitar. Setelah ia rasa aman. Ia langsung bergegas menyelipkan sebuah surat cinta tanpa nama kedalam laci milik Dimas. Saat meletakkannya ia sempat tersenyum senang sambil tertunduk.
"Nisaa!!!"Teriak Adel dari pintu kelas.
'Padahal gue udah sepagi ini malah kepergok Adel begini. Malu banget ini.'gemuruh Nisa tak menentu.
"Apa sih del teriak-teriak. Budek gue lama-lama temenan sama lo." Ketus Nisa.
"Emang lo barusan ngapain coba? Hayo ngaku looo..kalau gak ngaku aku bakalan ambil dari lacinya Dimas sekarang." Ancam Adel.
'Duh gimana ini. Cerita apa gak ya ke Adel. Tapi lebih malu lagi kalau dia baca surat dari gue.'Batin Nisa berkecambuk.
"Tapi lo janji jangan sebarin atau cerita ke siapa pun. Ungkap Nisa
"Iya deh gue janji sama lo." Ucap Adel.
Nisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak tahu menceriterakan mulai darimana.
"Hmmm...gimana ya del. Gue sebenarnya naksir sama Dimas jadi gue buat surat cinta ke dia. Lo jangan cerita ke siapapun ya termasuk Ratu."Jelas Nisa sambil memohon ke Adel.
Adel melihat Nisa dengan seksama. 'Baru kali ini gue lihat lo seperti ini Nis. Tapi apapun keputusan lo gue akan dukung.'Batin Adel.
"Mmmm...oke deh kalau gitu. Pantasan aja lo datang sepagi ini ke sekolah."Ledek Adel.
"Thank you del, gue gak tahu lagi harus bilang apa sama lo."Tanpa menghiraukan ledekan Adel.
Tiba-tiba Nisa memeluk Adel. 'Gue butuh dukungan dari lo del.'Batin Nisa.
Awalnya adel terkejut dengan perlakuan Nisa tapi kemudian ia membalas pelukan sahabatnya itu. 'Biarpun hue gak tahu bagaimana rasanya menyukai seseorang tapi gue akan mendukung keputusan lo.'Batin Adel.
"Yauda deh lo terlalu serius banget tau nis. Lebih baik kita ke kantin aja..."
Adel menarik tangan Nisa untuk mengikutinya. Nisa merasa teramat lega karena rahasianya aman. 'Semoga merahasiakan ini adalah yang terbaik buat semuanya.' Gemuruh Nisa yang masih gak karuan.
*****
Dimas baru saja sampai ke kelas. Ia meletakkan tas di kursi sedangkan buku yang ia pegang ia masukkan ke dalam laci. Saat meletakkan buku, sebuah surat terjatuh dari dalam laci. Ia mengambil surat tersebut. 'Inikan surat cinta. Masih aja cewek di sekolah ini memberinya surat cinta.'Batinnya.
Ia meletakkan di saku celana kemudian ia duduk di taman sendirian. 'Apa gue baca aja disini ya mumpung gak ada yang lihat.'Batin Dimas sambil melohat keadaan sekitar.
'Oke aman... daripada duduk gak jelas lebih baik gue baca aja deh.'Batin Dimas.
Perlahan ia membuka amplop tapi tidak ditulis dari siapa pengirimnya. Ia membaca semua isi surat tersebut tapi tetap tidak ada nama pengirim. 'Ini seperti surat kaleng. Kenapa gue yang harus berfikir ini dari siapa. Terlalu banyak yang memerikan surat cinta ke gue setiap hari tapi hanya surat dan isinya ini yang membuat gue benar-benar merasa penasaran setengah mati. Kenapa ia bisa tahu kalau gue sangat sayang sama nyokap maupun keluarga gue. Apa dia mata-matain gue atau gimana ya.'Batin Dimas sambil melamun gak jelas.
Baru kali ini ia merasa tertarik dengan sebuah surat cinta. Dimas bermaksud menyelidiki surat cinta tersebut dari siapa. Bel berbunyi Dimas bergegas masuk ke dalam kelas. Ia memperhatikan semua cewek yang ada di kelas.'Apa mungkin teman sekelas gue ya. Ah ntahlah lebih baik gue fokus belajar aja deh.'Batin dimas sambil berjalan kearah tempat duduknya.
Dilain sisi, tanpa Dimas sadari ia telah diperhatikan oleh Nisa. Nisa memandang Dimas dengan tatapan penuh dengan rasa gugup. 'Apa lo udah baca surat gue Dim???apa lo bakal tahu kalau gue yang mengirim surat sama lo???'Batin Nisa sambil melamun.
Adel yang melihat ekspresi Nisa hanya bisa tersenyum sekaligus geleng-geleng kepala. 'Ya ampun nisa kenapa lo tegang begitu lihat Dimas masuk kelas. Kalau aja Dimas tahu kalau lo yang kasih surat ke dia. Terus lo mau bagaimana???'Batin Adel yang terus melihat ketegangan temannya itu.
Adel menyenggol tangan Nisa perlahan.
"Santai aja kali Nis. Jangan tegang gitu mukanya saat melihat Dimas masuk kelas. Kelihatan banget tau..."Goda Adel.
'Kok Adel bisa tahu isi hati gue ya. Apa emang gue kelihatan setegang itu.'Barin Nisa.
"Apaan sih del, orang gue biasa aja. Perasaan lo aja itu. Gue mah santai orangnya."
"Dasar!!!! Alasan aja lo ke gue. Gue itu udah cukup kenan gimana elo Nis. Gak usah bohong deh sama gue. Kalau gak gue akan bilang ke Dimas semuanya ya."Ancam Adel.
"Ihh apaan sih Del. Beraninya ngancam gue padahal kan tadi lo udah janji sama gue. Parah banget ya elo. Iya... iya gue akui deh kalau gue gugup sekaligus tegang pas lihat Dimas masuk tadi. Puas lo!!!!"Ucap Nisa.
"Gitu dong jadi orang itu harus jujur Nis. Lagian sama gue juga ngapain bohong coba."
'Nyesal gue cerita sama lo.'Batin nisa kesal.
"Iya kan gue udah jujur sama lo."Ketus Nisa.
"Yauda kali Nis gak pake marah juga ngomongnya. Kan gue cuman bercanda aja sama lo."
"Hemm...iya deh. Yauda gak usah dibahas lagi."Ucap Nisa.
"Oke deh."
Saat mereka berdua sedang asik ngobrol, tiba-tiba Ratu datang. Berhubung hari ini guru sejarah izin tidak masuk, Ratu mengajak kedua sahabatnya itu untuk ke kantin. Ratu merasa sangat lapar. Di kantin Ratu menjelaskan rencananya untuk mendekati Dimas. Seketika raut wajah Nisa berubah. Adel dan nisa sebenarnya tidak setuju dengan ide Ratu tapi setelah mereka fikirkan ulang, mereka akhirnya setuju. Apalagi Nisa berfikir bisa dekat dengan Dimas. Karena ia tahu kalau Ratu hanya ingin bermain saja dengan Dimas.
Flashback Off
*****
Gimana pada suka gak? mohon berikan komentarnya yaa...
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya..
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
**Terimakasih masih setia membaca novel ini.
**
**Happy Reading guys!
**