Playboy Vs Playgirl

Playboy Vs Playgirl
Belajar mengurus anak



Kavin terbangun karena mendengar suara Dhafin yang menangis. Saat ini masih jam 05.00 pagi. Kavin melirik kearah istrinya yang sedang tertidur lelap. Kavin membenarkan posisi tidur Ratu kemudian menyelimutinya kembali. Sebenarnya kalau boleh jujur saat ini matanya masih begitu berat untuk bangun. Tetapi Kavin segera bangun karena tidak tega membiarkan Dhafin menangis seperti itu. Apalagi semalaman istrinya sampai begadang menjaga Dhafin. Sekarang giliran dirinya yang mengambil alih untuk menjaga anaknya selagi Ratu tertidur.


Dengan perlahan tangan Kavin menjauh dari Ratu. Kavin segera turun dari tempat tidur dan melangkah pasti mendekati tempat tidur bayi yang diletakkan dikamar yang  berdekatan dengan jendela.


"Pagi sayangnya papa. Kamu haus ya, bentar ya papa hangatin dulu susu untuk kamu." Kavin mengambi susu yang ada didlam kulkas dikamarnya kemudian menyalakan pemanas susu tersebut. Sambil menunggu susu itu hangat, Kavin menggendong Dhafin dan mengajaknya bercerita.


"Sabar ya sayang. Susunya masih dihangatin. Kamu jangan nangis lagi ya, kan kasihan mama ntar kebangun loo." Ucap Kavin sambil mengelus lembut pipi anaknya.


Agar Dhafin tidak bosan menunggu, Kavin menyanyikan lagu untuk anaknya...


Timang-timang anakku sayang


Jangan menangis papa disini..


Kavin yang tidak hafal dengan lagu tersebut sampai mengubah kata demi kata sesuka hatinya saja. Berkali-kali yang Kavin ucapkan kata-katanya hanya itu terus-menerus. Anehnya Dhafin malah seakan mendegarkan suara papanya, sampai Dhafin menjadi diam dan tidak menangis lagi. Sesekali Dhafin menepuk-nepuk lembut tubuh anaknya tersebut. Karena dirasa sudah hangat, Kavin mememberikan susu kepada Dhafin....


"Pelan-pelan Dhafin minumnya, kan Dhafin anak yang pintar." Ucap Kavin.


Ratu terbangun karena merasa mendengarkan suara sedaritadi. Saat membuka matanya Ratu menyaksikan secara langsung moment indah di pagi hari.


"Pagi sayang. Maaf ya Vin aku gak kebangun. Dhafin rewel gak daritadi?" Ucap Ratu.


"Pagi juga mama. Gak rewel kok sayang." Kavin meletakkan Dhafin yang sudah tertidur lelap.


"Kamu kenapa bangun ? Lebih baik kamu istirahat lagi lagian diluar masih gelap apalagi suasana pagi hari ini terasa begitu dingin dikarenakan hujan deras." Ucap Kavin yang tahu kalau istrinya masih butuh tidur.


"Ah gak deh. Aku gak enak sama kamu Vin." Ucap Ratu.


"Kalau kamu masih menganggap aku sebagai seorang suami. Kamu harus mendengarkan uccapan aku." Protes Kavin.


"Tapi Vin.. aku." Ratu tidak melanjutkan perkataannya karena ditatap tajam oleh sang suami.


"Sekali lagi maaf ya Vin. Seharusnya aku yang bangun. Kamu kan bentaran lagi ke kantor." Ucap Ratu.


"Ini masih terlalu pagi sayang. Lagian aku berangkat ke kantor bisa jam setengah sembilan pagi. Aku bisa atur kok. Aku gak mau kamu kecapkean dam kurang istirahat. Aku memilih kamu sebagai istri bukan untuk diperlakukan seperti ini. Bukankah berumah tangga itu perlu kerja sama kita bersama didalamnya. Jangan pernah melakukan hal sendirian, kamu ingat komitmen kita ya. Awas aja kalau kamu sampai melanggar aturannya." Kavin menghampiri istrinya dan duduk tepat disebelahnya.


Kavin mencium kening Ratu dengan mesra. Kemudian mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka saling bersentuhan.


"Hei dengarin aku. Menjaga anak itu menjadi tugas kita bersama. Aku yang gak enak sama kamu karena tadi malam malah kamu yang begadang jagain Dhafin sendirian." Ucap Kavin.


"Makasih ya sayang." Ucap Ratu sambil menampilkan senyum semanis mungkin.


"Kamu tahu gak, tadi itu pemandangan pagi yang indah banget buat aku. Melihat kamu menggendong Dhafin sambil menepuk-nepuk lembut tubuhnya. Aku senang deh karena kamu mau bekerja sama untuk mengurus Dhafin." Ucap Ratu yang kemudian bersender manja dibahu suaminya.


"Kamu udah bangun sejak kapan sih sayang? Kok kamu tahu banget apa yang aku lakuin tadi." Tanya Kavin penasaran.


"Sejak kamu nyanyi tadi. Sayangnya aku gak pegang hp. Seharusnya aku mengabadikan moment tadi." Ratu menepuk keningnya sendiri.


"Jadi yang pengen kamu rekam aku atau Dhafin sayang?" Tanya Kavin.


"Jujur sebenarnya aku pengen vidioin Dhafin aja tetapi karena suami aku bernyanyi dengan suara yang sangat merdu dan gak hafal lirik. Kayaknya aku lebih tertarik deh ngerekam kalian berdua. Hehehehe." Ratu terkekeh sendiri.


"Oh jadi gitu ya..." Kavin tidak mau kalah malah menggelitiki seluruh badan Ratu sampai istrinya berkata "ampun" baru dia melepaskan.


"Huh dasar kamu tuh curang main gelitikin aku segala." Ucap Ratu.


Secara mendadak Kavin mendekatkan wajahnya kearah Ratu, Ratu sampai sulit menelan salivanya sendiri karena aksi suaminya tersebut.


"Kamu mau melakukan apa Vin?" Tanya Ratu dengan wajah yang sudah pucat pasih.


Kavin terdiam sambil memandang istrinya.


"Aku cuman mandangi wajah istri aku aja kok. Emangnya gak boleh ya? Atau jangan-jangan istri aku ini berfikiran mesum ya." Goda Kavin yang semakin mendekat kearahnya.


"Ikh apaan sih kamu. Yang ada itu kamu yang selalu berfikiran seperti itu." Ucap Ratu.


"Jadi kenapa wajah kamu pucat banget sekarang?" Ucap Kavin.


"Itu karena aku masih belum siap aja punya anak lagi." Ucap Ratu.


"Maksud kamu?" Tanya Kavin.


"Aku belum sempat pakai kb. Jadi aku takut aja Vin." Ucap Ratu.


"Hahahahah..." Sekarang gantian Kavin yang terkekeh karena tidak bisa menahannya lagi.


"Ikh Kavin. Aku serius tahu?" Ratu memukul-mukul dada suaminya tersebut.


"Aww sakit sayang. Udah ah kamu jangan mikir begitu lagi. Lagian bukannya bagus kalau kita memiliki anak lagi." Ucap Kavin.


"Itu sih kamu, lagian ya dimana-mana kalau wanita siap lahiran itu diistirahatkan selama 3 bulan untuk hubungan." Jelas Ratu.


"Aku juga tahu kok sayang. Aku kan cuman godain kamu aja. Habisnya lucu pas lihat ekspresi kamu tadi. Oh iya?Terus kenapa tadi kamu takut?" Tanya Kavin.


"Aku takut aja kalau kamu nekat Vin. Udah ah kamu godain aku mulu." Ucap Ratu.


Kemudian Kavin turun dari tempat tidur dan beralih mengambil selimut yang terjatuh di lantai. Dia merapikan selimut yang dipakai Ratu dan mengangkat kepala istrinya lalu memindahkannya ke bantal.


"Kamu istirahat lagi ya sayang. Aku tahu kamu masih tidur sebentar tadi." Ucap Kavin.


Ratu mengangguk setuju.


"Kamu jangan lupa banguni aku ntar ya." Ucap Ratu.


Kavin menyimbolkan jarinya sambil membentuk tulisan OK. Ratu memeluk guling kembali dan memejamkan mata lagi. Sedangkan Kavin tidak bisa tertidur kembali, dia mengambil hp Ratu yang bergetar dan melihat isi chat Ratu dengan seseorang.


'Dia kan? Kenapa Ratu tidak ada cerita tentang hal ini. Dan kenapa Ratu membalas chatnya terus. Ada apa sebenarnya ini.' Batin Kavin yang bertanya-tanya.


Kavin kepo dengan isi pesan, panggilan serta chat istrinya. Masih saja kepo dan over kepada Ratu. Tidak ada riwayat pesan dan panggilan dari nomor tersebut. Yang ada hanya isi chat saja.


Kavin melirik kearah Ratu yang tidur sambil mengigau tersebut. Karena tidak tega mengganggu Ratu yang sedang tidur, Kavin memutuskan untuk menanyakan hal itu nanti sewaktu istrinya bangun.


Jam sudah menunjukkan pukul 08.30 pagi tetapi majikannya belum keluar sama sekali. Pak Budi sampai mondar mandiri tidak menentu.


"Kenapa pak Budi terlalu gelisah sih?" Tanya bi Ina yang sedang menyapu halaman.


"Masalah pak Kavin ada janji ketemuan kloen pagi ini. Nah ini sekarabg pak Kavin belu krluu


Tidak berapa lama kemudian, Kavin keluar dari rumah.


"Ingat ya yang aku bilang tadi. Kamu jangan pernah menutupi hal lain lagi. Aku selalu mendengarkan cerita atau hal apaapun yang kamu ceritakan." Ucap Kavin


"Iya bawel, tuh kamu udah ditungguin sama pak Budi disana." Tunjuk Ratu yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ini peringatan pertama dan terakhir buat kamu." Ucap Kavin sembari mencium pipi kanan dan kiri istrinya.


"Jangan bilang kamu masih cemburuan sama aku Vin." Ucap Ratu.


"Menurut kamu?" Kavin membalikkan perkataan suaminya.


"Astaga Kavin. Udah ah kamu hati-hati ya ntar  lagi kita bahas kalau kamu pulang kerja nanti.Ok." Ucap Ratu.


"OK... Bye sayang." Kavin samvil melambaikan tangan dan segera masuk dalam mobil.


"Maaf pak Budi, kita harus bergegas ke kantor sekarang secepatnya. Maaf membuat bapak menunggu lama." Ucap Kavin.


"Baik den." Ucap pak Budi yang segera menginjak gas mobil.


Ratu yang masih memperhatikan Kavin pergi dan bergerak semakin jauh.


'Ada-ada tingkah bapak dengan satu anak itu. Masih aja posesif dan over. Lagian tumben-tumbenan Kavin bacain isi chat aku. Aneh banget feelingnya pas banget.' Batin Ratu.


Ratu kembali lagi masuk kedalam rumah untuk melihat keadaan Dhafin yang sedang dimandikan oleh pengasuhnya. Sebenarnya Ratu menolak untuk membayar pengasuh karena Ratu ingin merawat anaknya sendiri. Dia ingin memastikan tumbuh kembang Dhafin dengan detail. Tetapi Ratu tidak bisa berkata apa-apa lagi kalau kemauan suaminya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.


Walaupun diasuh oleh orang lain, tetapi Ratu yang ingin merawat Dhafin sendiri. Pengasuhnya hanya disuruh untuk membersihkan tempat tidur Dhafin, merapikan perlengkapan dan serta memandikannya saja. Mungkin kalau Dhagin sudah bisa makan, pengasuhnya juga yang akan menyuapi. Tergantung tingkat kesibukan Ratu nantinya. Selebihnya Ratu ingin merawat Dhafin dan menghabiskan waktu dengan anaknya.


"Duh sayangnya mama udah bangun ya. Udah mandi udah segar." Ucap Ratu.


Mama papa Ratu melihat cucu pertama mereka yang terlihat sangat menggemaskan itu.


"Dhafin sayang, kamu cepetan besar ya biar bisa main sama opa dan oma." Ucap papa Ratu.


Ratu menggendong serta menciumi Dhafin yang begitu menggemaskan bagi siapapun yang melihat.


"Sini biar mama yang gendong Dhafin. Kamu pergi mandi gih sana." Mama Ratu langsung mengambil alih Dhafin. Untungnya Dhafin anak yang tidak terlalu rewel. Dia rewel disaat-saat tertentu saja seperti disaat haus atau buang air. Selebihnya dia anak yang anteng saat bersama siapa saja. Dan Ratu sangat bersyukur untuk hal itu. Setidaknya dia bisa menitipkan Dhafin sebentar kepada mamanya yang tidak lain nenek kandung Dhafin sendiri.


*****


"Kavin berubah banget ya sayang semenjak ada Dhafin. Makin sering menelpon kamu..." Ucap mama.


"Iya ma katanya kangen lihat Dhafin. Mungkin jiwa seorang ayah kali ma. Apalagi Dhafin memang menggemaskan banget. Mungkin nanti Ratu seperti Kavin juga kalau sudah aktif bekerja lagi." Ucap Ratu.


"Kamu mau masuk kerja lagi sayang?" Tanya papa.


"Iya pa. Udah lama banget Ratu cuti kerja. Ratu harus melihat dan mengecek langsung pekerjaan di kantor." Ucap Ratu.


"Kapan kamu mau kerja lagi sayang?" Tanya mama.


"Mulai bulan depan ma. Tapi itupun Ratu akan obrolin lagi dengan Kavin." Ucap Ratu.


"Oh iya sayang? mama dan papa minggu depan udah balik lagi ke Bandung. Papa udah gak sabar mau pulang untuk merawat tanamannya kembali." Jelas mama.


"Iya ma, Ratu mengerti kok lagian selama ini juga Ratu sudah merepotkan papa sama mama disini." Ucap Ratu.


"Gak kok sayang. Mama sama papa senang karena bisa menjaga kamu. Ya kan pa?" Ucap mama.


"Bener tuh yang mama bilang. Jadi lain kali kamu ajak Kavin untuk mainke Bandung." Ucap papa.


"Pasti ma." Ucap Ratu.


"Tiba-tiba saja Dhafin menangis...


"Tuh kan Dhafin sampai mennagis begini, ini karena oma dan opa mau pulang kan sayang?" Celetuk Ratu.


Ratu menepuk-nepuk badan Dhafin sambil menggendongnya dengan kain sambil berjalan keliling rumah.


Mama papa saling berbisik satu sama lain...


"Tuh kan pa. Gak nyangka ya sekarang kita sudah dewasa sekali. Apalagi sekarang sudah terlihat jiwa keibuannya. Padahal dulunya Ratu anak yang super duper manja gak ketulung."Ucap mama yang bangga melihat Ratu mengurus anaknya sendiri.


"Iya ma. Papa bangga melihat Ratu sekarang. Tetapi tetap saja Ratu akan menajdi anak kita yang super duper manjadì" Ucap papa.


*****


Sebelum pulang kerja, Kavin sempatkan untuk singgah ke Mall dulu untuk mengambil pesanan hadiah yang sudah sempat dia pesan dsri sebulan yang lalu.


Kavin berharap Ratu bisa senang menerima hadiah ini


'Cantik...gak sabar kasih hadiah ini untuk Ratu.' Batin Kavin. Setelah melaukan pembayaran dengan menggunakan kartu debit miliknya


Disaat berjalan keluar Mall tersebut, karena buru-buru sampai menabrak orang lain.


"Eh maaf maaf." Ucap Kavin merasa bersalah.


"Gpp kok." Ucao seseorang dengan suara yang tidak asing.


"Ternyata lo." Kavin melihak kesebelah dan membuatnya semakin bingung dan bertanya-tamya sendiri. Dilihatnya lagi kalau cewek itu menggandeng tangan dengan sangat mesra.


"Dia siapa sayang? Kamu kenal?" Tanya cewek yang disebelahnya.


"Dia temannya teman aku." Jelas Harry. Harry tidsk menyangka kalau dirinya bertemu dengan Kavin di Mall tersebut.


"Oh ganteng juga ya." Ucap Adiez.


"Sayang? Dia panggil lo pakai sayang tadi. Kalian beepacaran sekarang?" Tanya Kavin bingung.


"Kita bakalan tunangan 3 bulan lagi. Salam kenal aku Adiez calon tunangan Harry." Ucap Adiez sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Kenalin dia Adiez dan ini teman aku Kavin." Ucap Harry saling mengenalkan satu sama lain.


"Kalian beneran mau bertunangan?" Tanya Kavin yang masih tidak percaya.


Harry hanya berdiam diri saja, sedangkan Adiez menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias.


"Doain ya kak Kavin semoga semuanya berjalan lancar sesuai dengan apa yang direncanakan." Ucap Adiez.


"Eh iya..." Ucap Kavin gugup. Kavin masih bingung tetapi ntah kenapa dia melihat pandangan ragu dari mata Harry. Seperti tidak menginginkan pertunangan ini. Ada apa sebenarnya? Ntahlah Kavin tidak berani untuk ikut campur urusan mereka.


"Lo sendirian aja kesini Vin?" Tanya Harry.


"Iya gue sendirian. Kalau gitu gue duluan ya. Kayaknya Ratu udah nungguin gue dirumah." Ucap Kavin.


Setelah kepergian Kavin, Harry melepaskan tangannya dari Adiez.


"Ikh kenapa sih dilepas kak? Oh iya teman kakak itu ganteng banget ya." Ucap Adiez.


Harry tidak merespon ucapan Adiez malah berjalan meninggalkan Adiez...


"Ikh kak Harry, tungguin Adiez dong." Ucap Adiez.


Begitu sampai dirumah,


Kavin segera masuk kedalam rumah langsung menuju kamar tidurnya. Dia melihat Ratu sedang meletakkan Dhafin kedalam box tempat tidurnya. Dengan langkah perlahan, Kavin menutup mata Ratu dari belakang.


"Ikh Kavin, apa-apain sih kamu." Ucap Ratu.


"Kamu hitung sampai tiga dulu." Ucap Kavin.


"Emang ada apaan sayang?" Tanya Ratu penasaran.


"Kamu ikutin aja dulu, ntar juga kamu bakalan tahu kok." Ucap Kavin.


"Oh ok... 1...2...3." Ratu mulai menghitung kemudian Kavin membalikkan tubuh Ratu dan menghadap kearahnya.


Kavin sudah memegang hadiah ditangannya...


"Buka matanya sayang." Ucap Kavin.


Ratu perlahan membuka matanya dan melihat hadiah yang diberikan Kavin.


Ratu menutup mulutnya seakan tidak percaya.


"Inikan gelang yang aku ingin beli selama ini. Kamu darimana kamu tahu sayang?" Ucap Ratu yang sangat antusias.


"Hust..kamu jangan kuat-kuat bicaranya sayang. Ntar Dhafin kebangun loo." Ucap Kavin memperingati.


"Iya iya...habisnya aku antusias banget nih ngelihat gelang yang sudah lama aku inginkan." Ratu berbicara sedikit berbisik kearah Kavin.


Kavin memakaikan gelang yang dipadukan dengan 2 mutiara berlian.


"Makasih sayang." Ratu memeluk Kavin.


"Huh kalau lagi senang aja baru ingat untuk meluk suaminya." Ucap Kavin.


"Ya udah deh kalau gak mau dipeluk." Ratu melepaskan pelukannya dengan sigap tangan Kavin menarik tubuh istrinya lagi untuk melanjutkan pelukannya.


"Selagi Dhafin tidur sayang. Aku kan juga butuh perhatian kamu." Ucap Kavin.


"Thanks Vin hadiahnya. Aku sukaa...tapi inikan mahal Vin. Lain kali kamu gak perlu beliin barang yang mahal buat aku lagi, lebih baik uangnya kita tabung untuk pendidikan Dhafin nanti. Kamu dan Dhafin lebih berharga dari segalanya sayang." Ucap Ratu.


"Aku belikan hadiah ini karena ingin membahagiakan kamu." Ucap Kavin.


"Oh iya? Kamu tahu gak tadi aku ketemu sama Harry. Ternyata dia sudah punya tunangan." Ucap Kavin lagi yang mengingat kejadian tadi.


"Apa? Kamu serius? Kamu gak salah lihatkan Vin?" Tanya Ratu bertubi-tubi.


Kavin mengangguk dengan sangat yakin.


"Terus kenapa Adel gak ceritainn hal ini." Ratu berfikir sejenak.


"Mungkin Adel punya alasan yang lain atau dia masih butuh waktu." Ucap Kavin


"Atau jangan-jangan...


*****


Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.


jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.


Terimakasih masih setia membaca novel ini.


Happy Reading Guys!