Playboy Vs Playgirl

Playboy Vs Playgirl
Mengambil keputusan



Nisa dan Adel saling berpamdangan satu ama lain kemudian berusaha menenangkan Dhafin secara bergantian. Malah yang ada membuat Dhafin semakin menangis saja.


"Tuh kan ini yang ada Dhafin semakin nangis, emang ya onty-onty nya gak ada bakat sama sekali. Bakatnya cuman ribut melulu." Ucap Ratu kemudian menggendong Dhafin sambil menepuk-nepuknya perlahan. Perlahan Dhafin yang menangis langsung diam kembali dan menutup matanya kembali karena masih ngantuk. Karena suara bising tadi sampai membuat Dhafin kebangun dan marah sehingga dia tidak bisa tidur kembali.


"Dhafin sayang, pintarnya kamu nak. Tidur yang nyenyak ya sayangnya mama." Ucap Ratu.


Ratu mencium pipi Dhafin kemudian meletakkannya kembali kedalam stroller. Pengasuhnya mengambil selimut kemudian memakaikan kepada Dhafin.


"Awas aja kalau kalian sampai ribut lagi berdua." Ratu memperagakan tangannya dengan kepalan tangan seakan mengancam keduanya.


"Jangan galak-galak dong beb. Ntar makin tua loo." Ucap Nisa.


"Habisnya gue kesal banget sama kelakuan kalian daritadi." Ucap Ratu.


"Oh iya? Gimana kalau kita berkeliling Mall dulu sebelum pulang. Gue udah lama gak pernah cuci mata." Ucap Adel.


"Gue setuju sih karena gue juga pengen." Ucap Nisa.


"Oke ayuk..." Ucap Ratu yang menyetujui juga.


Sebelum berkeliling Mall, Ratu menyuruh pengasuhnya untuk membawa Dhafin ke mobil.


Mereka bertiga berkeliling Mall, sesekali mereka mampir kedalam toko pakaian dan membeli beberapa baju. Dan untuk Nisa yang hobi banget dandan, malah sibuk masuk kedalam toko untuk membeli makeup sampai kalap.


"Hei lo borong makeup sebanyak ini emangnya mau lo apain. Kan gak mungkin juga lo bakal pakai semua." Ucap Adel berusaha memperringati.


Nisa melihat kearah keranjang yang dia pegang sedariadi. Nisa juga tidak menyangka kalau makeup yang dia ambil sudah sebanyak itu. Dia terlalu kalap kalau sudah belanja makeup.


"Ini namanya pemborosan Nis, beli aja yang bemer-bener lo butuh jadi gak akan mubazir." Ucap Ratu.


Nisa mengembalikan beberapa makeup ketempat asalnya, untung saja dia pergi bareng kedua sahabtnya kalau tidak mungkin dia akan membeli semuanya.


Setelah capek berkeliling, akhirnya mereka semua memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan pulang, Adel kepikiran dengan isi surat yang Harry berikan kepada Ratu. Sampai Adel lumayan mempercepat saat mengendarai mobil untuk segera pulang.


Begitu sampai di apartemen, Adel sudah duduk di sofa kemudian dia mengambil surat tersebut dan membacanya. Adel membaca surat dengan seksama sampai dia tidak melewatkan kata demi kata yang Harry tuliskan didalamnya. Adel sangat tersentuh dengan isi surat tersebut tetapi apa daya dia tidak memiliki kekuatan untuk bertahan pada keadaan. Intinya kalau Adel ingin berjuang dengan Harry, dia akan menetap di Jakarta selama yang Adel inginkan tetapi kalau tidak, mungkin dalam 2 bulan lagi setelah Harry dan Adiez melangsungkan pertunangan, kemungkinan bagi mereka akan menetap diluar negeri selamnya.


Adel merasa cukup tersentuh karena ada sebait puisi yang mengandung makna yag sangat dalam yang bisa membuat cewek seperti Adel tersentuh. Jujur saja Adel sangat menyukai cowok yang menyukai puisi seperti dirinya. Karena melalui ungkapan sebuah puisi, dia bisa mengungkapkan sesuatu yang lebih berarti. Bukan hanya sekedar isi surat dan sedikit puisi yang membuat Adel tersentuh, ada banyak foto kenangan yang Harry kembalikan. Begitu banyak moment yang pernah mereka lewati bersama salah satunya yang paling berkesan adalah makan malam romatis dan dansa romantis yang pernah lakukan.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? kalau boleh jujur, hatiku aku sangat tersiksa karena membuat kamu tersakiti seperti itu Harry." Tanpa sadar Adel malah meneteskan air matanya. Selama ini dia berusaha tegar tetapi ternyata sangat sulit dia lakukan. Batinnya begitu tersiksa karena begitu merindukan sosok seperti Harry.


Adel mengambil hpnya, dia berniat menghubungi Harry. Dia mengecek hpnya untuk mencari kontak nomor Harry. Dia lupa ternyata dirinya sudah lama menghapus kontak hp Harry. Adel meletakkan hpnya kembali....


Sedangkan disisi lain,


Harry yang berada didalam kamar sedang memandangi foto-foto kebersamaan dirinya dengan Adel. Kenapa takdir tidak bisa berpihak pada kita? itulah yang bisa dia pikirkan seolah menyalahkan keadaan.


'Aku sayang kamu Del. Hati aku benar-benar tersiksa karena tidak bisa menyapa kamu lagi. Sesakit inikah merindukan dan mencintaimu? tetapi kalaupun waktu terulang kembali aku akan melakukan hal yang sama.' Batin Harry.


*****


Hari demi hari terlewati begitu saja, Adel juga masih bekerja diperusahaan Harry. Tetapi dia sangat jarang bertemu dengan Harry dikarenakan Harry sering keluar untuk bertemu dengan klien. Anehnya Harry tidak pernah mengajak Adel. Seolah Harry menghindar untuk bertatap muka lagi dengan Adel. Karena yang Harry takutkan adalah dia tidak bisa mengendalikan perasaannya kalau sudah melihat Adel...


Adel pulang kerja seperti biasanya, saat didepan kantor Adel bertemu dengan Adiez yang semakin sering saja datang. Yang membuat Adel tidak menyangka adalah Adiez menghampiri dirinya...


"Kak Adel, bisa kita bicara sebentar?" Ucap Adiez.


Adel yang merasa cukup kaget, hanya bisa melamun sejenak.


'gak salah nih Adiez mau ngorbol denan gue?' batin Adel.


"Kak...gimana kakak bisakan ?"Pertanyaan Adiez seketika menyadarkan lamunan Adel barusan.


"Eh Ok." Ucap Adel.


'Kira-kira Adiez mau ngobrolin hal apa lagi, apa jangan-jangan Adiez bakalan menyuruhnya untuk berhenti kerja. Gimana dong kalau beneran iya? kan gue belum dapat kerjaan baru sekarang.' Batin Adel yang bertanya-tanya.


Saat ini Adiez dan Adel sedang duduk disebuah cafe. Adel menyeruput jus jeruk pesanannya...


Sebenarnya sangat cangung bagi keduanya untuk mengobrol kembali setelah apa yang terjadi selama ini.


"Apa yang ingin kamu katakan? langsung ke inti pembicaraan aja." Ucap Adel yang memperhatikan Adiez.


Diluar dugaan, Adiez memegang tangan Adel seolah memohon. Adel terheran bigung dengan tindakan Adiez. Kemudian air mata Adiez mengalir tanpa dia minta.


"Apa yang terjadi? kenapa kamu menangis seperti iniAdiez? seharusnya kamu bahagia karena dalam seminggu lagi acara pertunagan kamu dan Harry akan berlangsung." Ucap Adel.


Adiez berusaha menenangkan hatinya, dia menghapus air matanya yang masih mengalir.


"Apa Harry setuju untuk melakukan pertunangan?"


Adiez mengangguk.


"Apa kamu begitu mencintai Harry?"


Adiez mengangguk.


"Terus hal apa yang kamu tangisi Adiez?" Tanya Adel ragu.


"Apa kakak bisa membuat kak Harry bahagia?" Adiez masih memastikan sesuatu.


"Kenapa ? ada apa sebenarnya Adiez? kenapa kamu malah menanyakan hal seperti ini?" Tanya Adel.


"Kak Adel harus jawab, apa kak Adel bisa membuat kak Harry bahagia?" Tanya Adiez lagi.


"Kakak belum mengerti apa yang kamu maksud." Ucap Adel.


"Adiez capek egois seperti ini kak. Asal kakak tahu selama ini kaka Harry seperti orang yang frustasi setiap hari karena memikirkan kakak terus. Semenjak kalian menjauh, kak Harry selalu mabuk-mabukan didalam apartemen. Adiez juga tahu karena tidak sengaja. Ternyata kak Harry begitu tersiksa karena kehilangan kakak. Adiez sudah berusaha melakukan semua hal untuk membuat kak Harry melupakan kakak. Tapi semua yang Adiez lakukan gak ada hasil sama sekali. Adiez yang semakin terluka melihat keadaan kak Harry seperti itu. Adiez mohon sama kak Adel, bahagiakan kak Harry. Adiez menyerah untuk menjadi orang yang egois." Jelas Adiez.


"Dimana Harry sekarang?" Tanya Adel.


"Di apartemen." Adiez memberikan kode apartemen milik Harry.


"Adiez minta maaf karena udah menjadi penghalang hubungan kalian. Maafkan Adiez ya kak. Adiez sudah membatalkan acara pertunangan tapi Adiez belum bilang sama kak Harry. Dan mulai besok juga Adiez bakalan pergi keluar negeri. Jagain kak Harry dengan baik ya kak. Ternyata rasa cinta kak Harry lebih besar sampai mampu membuat Adiez melemah." Ucap Adiez sambil sesenggukan karena menangis.


Adel berusaha menenangkan Adiez yang masih menangis...


*****


Adel memencet bel apartemen Harry berulang kali tapi tidak ada respon. Adel ingat kalau Adiez tadi memberikan kode apartemen Harry. Langsung saja Adel menekan kode angka apartemennya dan Adel segera masuk kedalam apartemen Harry...


Adel mecari keberradaan Harry disekitar apartemen.Dia menemukan Harry yang sedang tergeletak dilantai dalam keadaan tertidur.


Adel menggeser tubuh Harry perlahan. Harry mulai tersadar dan melihat dengan samar-samar keberadaan Adel.


"Adel." Ucap Harry dengan kadaan setengah sadar.


Adel mengalungkan tangan Harry dan merangkul tubuhnya untuk dipindahkan ke tempat tidur. Bau alkohol sangat menyengat bisa Adel rasakan dengan baik. Setelah merebahkan tubuh Harry, Adel membuka sepatu dan kaos kaki Harry. Kemudian menyelimutinya...


Setelah itu Adel merapikan apartemen Harry yang terlihat berantakan tersebut. Adel membuang sampah-sampah yang berserakan serta merapikan sofa dan dapur...


Lumayan memakan waktu lama buat Adel selesai merapikan semuanya. Setelah itu Adel duduk di sofa untuk merenungkan semua hal...


"Jangan pernah memaafkan orang sepertiku yang sudah membuat kamu terluka seperti ini Harry." Ucap Adel frustasi.


Adel tidak tahu kalau selama ini Harry melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Karena setahu Adel, Harry bukan tipikal orang yang bisa meminum alkohol. Sepanjang malam Adel terlalu banyak memikirkan kesalahan yang dia lakukan kepada Harry sampai dia lelah dan tertidur di sofa ruang tamu Harry.


Keesokan paginya, Adel terbangun dan mulai sadar...


"Harry...kamu sudah bangun?" Tanya Adel yang kaget melihat Harry sudah duduk didepannya.


"Kamu !!! apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Harry sambil menatapnya dengan serius.


"Aku cuman khawatir aja sama kamu. Maaf kalau kehadiran aku malah membuat kamu terusik." Adel segera duduk dan merapikan rambutnya yang berantakan.


"Untuk apa lagi Del? jangan merasa kasihan kepadaku sekarang. Aku akan melangkah maju dan tidak akan pernah melihat kebelakang lagi." Ucap Harry menegaskan kata-katanya.


"Maaf..aku begini karena.." Harry memotong ucapan Adel.


"Sebaiknya kamu pulang sekarang." Ucap Harry.


Adel malah menunduk karena tidak bisa menjawab ucapan Harry lagi.


"Kenapa kamu seperti ini Harry? apa dengan kamu mabuk-mabukan setiap hari bakalan membuat perasaan kamu jauh lebih tenang?" Ucap Adel.


"Biarkan itu menjadi urusan aku." Ucap Harry.


"Ya sudah kalau memang itu jalan hidup yang kamu pilih, aku merasa sangat meneysal karena sudah membuang waktu untuk datang kesini. Maaf..." Adel berdiri dan memakai tasnya.


Adel melewati Harry untuk pergi...


"Apa tujuan kamu datang sebenarnya?" Ucap Harry.


"Karena aku menyesal membuat kamu menjadi orang yang seperti ini." Ucap Adel.


"Menyesal? atau hanya sekedar kasihan?" Tanya Harry.


"Terserah aja kamu percaya atau gak. Maaf kalau kehadiran aku membuat kamu bingung. Aku permisi..." Ucap Adel.


Adel melanjutkan kembali langkahnya, tetapi Harry masih terdiam dan duduk tanpa menoleh melihat kearahnya.


'Segitu usahanya kamu untuk melupakanku Harry.' Batin Adel.


Adel membuka pintu apartemen Harry dan melangkah pergi. Dan yang paling membuatnya sakit hati adalah karena Harry hanya membiarkan dirinya pergi begitu saja tanpa mencegahnya sama sekali.


Didalam lift, Adel merenungkan apa yang baru saja terjadi. Adel merasakan hatinya begitu sakit karena ditolak Harry seperti tadi. Adel memencet kembali lift dan berlari kembali ke apartemen Harry.


Tanpa rasa malu, Adel masuk dan menghampiri Harry yang masih duduk di sofa.


"Adel. Ngapain lagi kamu balik?" Tanya Harry.


Tanpa ragu Adel memeluk Harry dengan erat. Harry bingung dengan apa yang terjadi sekarang.


"Kamu kenapa sih Del? apa kamu ada masalah?" Bisik Harry.


Harry mulai melemah kalau melihat Adel seperti ini.


"Aku kangen kamu Harry." Ucap Adel.


"Jangan seperti ini Del, kali ini sudah sangat terlambat." Ucap Harry yang berusaha melepaskan pelukan Adel.


"Kalau aku bilang aku sayang kamu. Apakah kamu akan percaya sama perkataan aku? akau sayang kamu, jujur aku cemburu melihat kamu dengan Adiez. Tetapi aku tidak bisa merusak hubungan kalian." Ucap Adel.


"Apa kamu serius Del. Jangan membuat aku bingung lagi dan berharap lebih." Ucap Harry yang dibalas anggukan kepala oleh Adel.


"Aku serius. Maaf baru mengungkapkan apa yag aku rasakan. Makasih juga atas surat yang kamu kasih yang membuat aku tersadar kalau kehadiran kamu sangat berarti." Ucap Adel.


"Aku lebih merindukan kamu sampai mau gila rasanya." Ucap Harry.


"Aku tahu Hary, aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan sekarang. Maaf membuat kamu menjadi tersiksa seperti ini." Ucap Adel.


Harry tersadar dan mulai melepaskan pelukan Adel secara perlahan...


"Tapi Del, pertunaganku akan dilangsungkan seminggu lagi." Ucap Harry.


"Aku tahu." Ucap Adel.


"Hei ...Adez sudah memberitahu aku kalau dia sudah membatalkan acara pertunangan kalian. Dia juga akan pergi keluar negeri siang ini. Dia sengaja tidak bilang ke kamu. Aku tahu kalau Aidez pasti sangat sedih sekarang tapi Adiez melakukannya untuk melihat orang yang dia sayang menjadi bahagia." Jelas Adel.


"Siang ini?"


Adel mengangguk...


"Masih ada waktu untuk kita ketemu dengan Adiez..." Ucap Harry.


Harry dan Adel bersiap-siap untuk pergi, tapi sebelumnya mereka sempatkan untuk mandi dan sarapan sebentar. Masih ada waktu 2 jam lagi untuk mereka bertemu dengan Adiez.


*****


Harry dan Adel sudah berada di bandara...


Harry berusaha menghubungi nomor Adiez tetapi tidak diangkat. Harry mencari tahu informasi untuk keberangkatan keluar negeri kemudian Harry berlari mencari keberadaan Adiez.


Dari kejauhan terlihat dengan jelas, Adiez yang sedang duduk sambil memakai earphone...


"Adiez..." Teriak Harry.


Harry segera menghampiri Adiez, berlarian mencari Adiez cukup membuat Harry susah mengatur nafasnya karena ngos-ngosan...


"Kak Harry." Ucap Adiez.


Harry langsung menarik tangan Adiez dan memeluk Adiez...


"Kenapa kamu melarikan diri seperti ini?" Tanya Harry.


"Aku melakukannya untuk membahagiakan kakak. Adiez sudah sadar sekarang. Seharusnya Adiez gak boleh egois." Ucap Adiez.


"Apa kamu harus pergi seperti ini?" Ucap Harry.


"Adiez melakukannya untuk melupakan kakak. Karena kalau Adiez masih berada disini Adiez bakalan ingat terus dan gak akan pernah bisa lupain kakak." Ucap Adiez.


"Kakak bakalan terus sayang sama kamu sebagai adik. Jadi jangan pernah memutuskan hubungan lagi." Ucap Harry.


Adel masih berlari mengejar Harry...


Dari jauh dia melihat Harry sedang memeluk Adiez, dengan langkah cepat Adel menghampiri keduanya.


"Kak Adel." Ucap Adiez.


"Adiez senang deh melihat kak Harry dan kak Adel bisa dekat lagi."


"Makasih berkat kamu juga kak Adel jadi bisa berfikir jernih untuk menerima kakakmu ini." Ucap Harry.


"Wah seriusan? selamat ya kak. Adiezikut senang mendengarnya. Berarti kaka Harry gak akan mabuk lagi kan?" Ucap Adiez.


"Kalau Harry sampai mabuk lagi, kakak gak akan pernah mau dekat lagi dengan kakak kamu." Ucap Adel.


"Aku kan mabuk karena mikirin kamu terus Del." Ucap Harry.


"Ya apapun alsannya, aku gak suka melihat kamu seperti itu lagi. kemana Harry yang selama ini aku kenal." Ucap Adel.


"Udah udah ntar aja dilanjutin lagi berdebatnya. Sekarang Adiez mau minta foto bareng kalian. Boleh ya kak? untuk penghibur hati Adiez." Ucap Adiez.


"Boleh dong." Adel mengeluarkan hp dan meminta bantuan orang lain untuk mengambil foto mereka bertiga. Kemudian Adel mengirimkannya foto tersebut kepada Adiez.


"Ini sudah waktunya untuk Adiez pergi. Bye kak Harry bye kak Adel...selamat menikmati kebahagiaan kalian." Ucap Adiez.


"Kabari kakak kalau kamu sudah sampai." Ucap Harry.


Adiez memeluk Harry untuk terakhir kalinya kemudian bergantian memeluk Adel.


"Kak Adel dan Kak Harry harus bahagia ya. Janji?" Ucap Adiez sembari memegang tangan Harry dan Adel.


"Janji." Ucap Adel dan Harry secara bersamaan. Adiez tersenyum lega karena mendengar ucapan keduanya. Dia bisa merasakan raut wajah bahagia yang jelas terpancar dari Harry dan Adel.


Adiez pergi dengan perasaan yang lega sekarang. Tidak ada kata menyesal dalam dirinya sama sekali. Untuk pertama kalinya dia mengambil eputusan yang paling berat.


Sambil tersenyum Adiez melambaikan tangannya. Harry dan Adel membalas melambaikan tangan kearah Adiez ...


'Semoga suatu saat Adiez bisa menemukan kebahagiaannya sendiri.' Batin Adiez.


Adiez membalikkan badan dan melangkah pergi, Adiez sempat meneteskan air matanya. Kali ini benar-bnear sudah berakhir. Adiez harus bisa tegar menerima kenyataan yang ada karena hidup akan terus berjalan. Seperti yang dia ingat, kalau cinta sebelah pihak itu trnyata menyakitkan dan membuat dirinya cukup merasa trauma.


Ternyata semua berujung manis, kehadiran Adiez mampu mengubah hati Adel untuk Harry. Adiez seperti pancingan untuk membuat Adel cemburu dan mampu melukai hati Adel.


Setiap kejadian pasti ada hikah tersendiri seperti yang terjadi keada Adel barusan. Tidak ada yang tahu bagaimana takdir. Dari sini kita bisa mempelajari kalau Tuhan bisa dan mampu membolak-balikkan hati seseorang. Yang tadinya orang itu benci menjadi cinta. Yang tadinya orang itu tidak suka menjadi suka.


Adel dan Harry mendapat banyak pelajaran dari setiap peristiwa yang mereka lewati...


Mereka saling berpegangan tangan dan berjalan keluar bandara.


*****


Setahun kemudian...


"Will you marry me?" Dimas sambil menundukkan tubuh dan memegang kotak cincin. Nisa tertegun kaget dan tidak percaya atas apa yang dia lihat barusan. Nisa tidak terpikirkan kalau Dimas akan melamarnya dsaat liburan seperti ini. Nisa menutup mulutnya dengan kedua tangan memperlihatkan dengan jelas ekspresi kaget secara alami.


"Terima...Terima...Terima."


Teriak orang yang ada disekitar. Mereka semua sedang liburan ke Paris dengan pasangan masing-masing. Nisa melihat kesekitar dimana teman-temannya sedang bersorak dan menunggu jawaban darinya.


Semua orang bersorak menyaksikan lamaran romantis yang Dimas lakukan. Lamaran ini sudah matang Dimas rencanakan. Dimas juga sudah bekerja sama sama semua orang untuk melakukan hal tersebut.


Nisa menarik Dimas agar Dimas segera berdiri....


"Yes I  will." Ucap Nisa yang dibalas pelukan oleh Dimas.


Nisa menangis terharu karena tidak menyagka kalau Dimas akan melamarnya saat mereka sedang liburan.


"Hei kenapa kamu malah menangis? Dimas menghapus air mata yang keluar dari mata pacarnya tersebut.


"Kamu salah Nis, aku sudah mempersiapkan ini dengan sangat baik. Dan untungnya teman-teman kamu mau diajak bekerja sama untuk membantu aku mewujudkan semua ini." Ucap Dimas.


"Makanya aku terharu." Nisa membenamkan diri dalam pelukan Dimas.


Semua orang yang menyaksikan terharu dan berorak riang. Ratu sempat mengabadikan moment tersebut dan merekamnya melalui hp.


Dimas memasangkan cincin ke jari manis Nisa. Cincin tersebut melambangkan keseriusanseorang Dimas. Dimas yang sudah memantapkan hati dan pilihannya untuk menjadikan Nisa sebagai istri. Nisa mampu menarik perhatian keluarganya dan membuat mamanya Dimas merasa bahagia. Dan Dimas sangat bersyukur untuk itu...


Seorang Dimas yang dsri dulunya tidak terpikirkan sedikitpun untuk menjalin hubungan dengan seseorang,sekarang sudah memiliki calon istri. Hanua dengan Nisa, Dimas bisa mengubah pola pikirnya tentang cinta. Karena dengan Nisa dia merasa kalau cinta itu hadir karena terbiasa. Mereka sudah terbiasa bersama sebagai seorang teman selama ini kemudian menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Dan sekarang mereka akan menjalin hubungan yang lebih serius lagi.


"Senangnya bisa menyaksikan langsung lamaran Dimas dan Nisa disini." Ucap Adel.


"Gue lebih senang karena kita bisa berkumpul disini." Ucap Ratu.


"Iya akhirnya ya. Gue berharap semoga mereka bisa bahagia selamanya. Amin." Ucap Adel.


"terus kalau lo kapan nyusul nih. Gak cemburu apa dilangkahi sama Nisa?" Ledek Ratu.


"Apaan sih Tu, gue masih ingin menikmati masa-masa pacaran dulu. Lagian kalau udah nikah pasti susah untuk ada waktu kayak sekarang." Ucap Adel.


"Kata siapa? yang ada malah buat gue semakin bahagia." Ucap Ratu.


"Gue berharap kalau kita semakin bahagia tahu gak? ya walaupun pasti ada masalah. Tetapi masalah membuat kita semakin sayang dan kuat satu sama lain. Semoga lo bisa cepat menyusul ya beb." Ucap Ratu penuh harap.


"Amin..." Ucap Adel.


"Apaan, orang kamu udah nolak lamaran aku 2 kali kok." Protes Harry yang tidak sengaja mendengar obrolan Ratu dan Adel.


"Kamu jangan buka kartu dong sayang. Aku kan masih butuh waktu untuk berfikir."Ucap Adel.


"Sampai kapan ?" Tanya Harry.


"Sampai hati aku siap untuk menjalani pernikahan." Ucap Adel.


"Kamu salah Del, untuk menikah tidak pernah ada kata siap. Kita harus bisa menjalani semuanya dengan apa adanya. Biarkan semua berjalan sesuai dengan alur yang seharusnya." Ucap Ratu.


"Tuh kamu dengar sendiri pengalaman teman kamu yang sudah menikah." Ucap Harry.


"Iya iya... nanti aku akan pikirkan lagi kok. Kamu mah gak sabaran banget. Lagian ngapain sih kita buru-buru menikah." Ucap Adel.


"Biar kita bisa menikmati semuanya berdualah, aku mau kamu jadi orang yang aku lihat pertama kali saat aku membuka mata dan kamu juga yang akan jadi orang yang terakhir kali disaat aku menutup mata." Ucap Harry.


Adel bersemu merah mendengarkan ucapan Harry barusan.


"Duh so sweet banget sih Dimas. Mana Nisa dilamar di Paris begini dengan suasana yang sederhana tapi tetap romantis banget ya. Buat orang lain iri aja deh. Ya gak Del?" Ucap Ratu.


"Eh iya sih..." Ucap Adel yang masih memandang kearah Harry.


Kavin mencubit pipi Ratu dnegan gemas...


"Ikh Kavin. kenapa malah cubit pipi sih." Rengek Ratu.


"Kan aku udah bilang sama kamu jangan pernah muji cowok lain. Kamu kebiasaan banget


deh muji cowok lain didepan suami kamu sendiri." Ucap Kavin.


"Dasar playboy posesif." Ucap Ratu.


"Dhafin, kamu lihat sendiri kan sayang, mama kamu itu genit." Ucap kavin.


"Ikh Kavin, jangan bicara yang aneh-aneh deh sama Dhafin."


Ratu dan Kavin mencium Dhafin yang semakin hari semakin menggemaskan saja.


 


Flasback on...


"Gue bingung nih cara melamar Nisa bagaimana? kalian kasih masukan dong sebagai sahabat."


Ucap Dimas yang gelisah sedang memikirkan moment terbaik.


"Ya tinggal lo lamar aja apa susahnya sih?" Ucap Kavin.


"Jangan dong, harus ada mometnya biar bisa diingat terus." Ucap Ratu.


"Gue setuju sama Ratu, gimana kalau lo ajak dinner terus lamar Nisa ?" Ucap Adel.


"itu sih terlalu biasa, apa gak ada ide yang lain." Ucap Dimas.


"Lo bisa diam gak? heboh banget daritadi mondar-mandir gak jelas begini." Ucap Kavin.


Dimas akhirnya duduk sambil berfikir.


"Gimana kalau kita ajak Nisa pergi kemana gitu. Terus lo lamar dia disana? pasti dia gak akan nyangka banget tuh." Ucap Ratu.


"Tapi kemana?" Tanya Adel.


"Ya itu juga yang masih gue pikirin. Sebelumnyague memang ada rencana liburandengan Nisa ke Paris. Gimana kalau kalian semua ikut liburan bareng. Kalian ajak aja siapa yang bisa ikut. Kalau lo mau ajak Harry juga boleh, biar Harry bisa sekamar sama gue." Ucap Dimas.


"Ngajak Harry? ntar deh gue pikirin lagi." Ucap Adel.


"Kenapa sih beb? kok kayak malas gitu ngajak pacar sendiri? heran deh gue lihatnya." Ucap Ratu.


"Bukan gitu tapikan Harry sibuk banget kerja apalagi ini liburan selama seminggu. Gue takut gak ada yang bisa handle pekerjaan kantor. Udh gitu gue yang biasa menghandle kerjaan dia terus kalau gue ikut gimana?" Jelas Adel.


"Duh ribet banget deh, kan Harry punya banyak karyawan. Apa diantara mereka gak ada yang bisa kerja apa?" Protes Ratu.


"Ntar deh gue pastiin dulu ke orangnya langsung." Ucap Adel.


"Terus emangnya lo udah beli cincin untuk dikasih ke Nisa?" Tanya Ratu.


Dimas menggeleng kepala dengan lemah...


"Dasar payah nih orang, kalau ada rencana melamar pacar itu ya disiapin dulu dong


semuanya. Gak prepare banget jadi orang.' Ledek Kavin.


"Terus aja lo ngejek gue Vin." Ucap Dimas.


"Ya habisnya gue bingung sama jalan pikiran lo. Ada gitu orang yang mau melamar tapi gak mikir hal sepenting itu." Ucap Kavin.


"Ya namanya juga gue masih pertama kali punya pasangan Vin, ya gue gak mikir kesitulah." Ucap Dimas.


"Dasar banyak alasan banget lo Dim." UcapKavin.


"Udahlah gue malas berdebat sama lo sekarang." Ucap Dimas.


"Kalau lo mau, gue sama Adel bisa bantuin pilihkan cincinnya kok." Ucap Ratu menawarkan bantuan.


"Tuh untungnya istri gue baik mau bantuin lo Dim." Ucap Kavin.


"Serius kalian mau bantu?" Adel dan Ratu menjawab iya secara barengan. cara berbarengan.


"Syukurlah. Jadi gimana sama ide lamaran gue tadi?" Tanya Dimas.


"Gue setuju kok. Lagian gue juga pengen liburan. Pas banget momentnya lo ngajak kita. Ya kan sayang?" Ucap Ratu.


"Aku sih ngikut aja sayang asalkan kamu bisa bahagia." Ucap Kavin.


"Berarti Dhafin juga ikutkan?" Ucap Ratu.


"Gimana kalau Dhafin kita tinggal aja, biar kita bisa honeymoon lagi." Goda Kavin.


"Kavin !!! aku serius nih." Ucap Ratu.


"Aku juga serius sayang. Kayaknya kita udah bisa nambah anak lagi deh." Ucap Kavin.


"Bisa gak kalian gak bahas itu sekarang. Inikan lagi ngomongin Dimas sekarang. Bisa gak fokus ke Dimas dulu." Protes Adel.


"Ya udah berarti kita semua sepakat kan?" Ucap Dimas.


"Oke.." Ucap Ratu.


"Aku sepakat kalau Dhafin gak ikut." Ucap Kavin.


"Lebih baik kamu aja yang tinggal dirumah daripada aku harus jauh dari Dhafin."Ancam Ratu.


"Jadi kamu lebih milih anak dibandingkan suami kamu sendiri?" Ucap Kavin.


"Ya iyalah..." Ucap Ratu.


"kalau gitu aku dan Dhafin ikutan." Ucap Kavin yang akhirnya menyerah dan menurutin keinginan istrinya.


Flashback off...


*****


Ratu dan Kavin merasa bahagia karena liburan kali ini sudah ada Dhafin. Dahfin menajdi pelengkap untuk keluarga kecil mereka... Moment kebersamaan yang selalu Kavin dambakan akhirnya bisa kesampaian.


Setiap harinya Dhafin bertingkah semakin lucu dsn menggemaskan. Untuk itu Ratu tidak ingin melewatkannya sama sekali. Walaupun setelah sebulan lahirnya Dhafin, Ratu kembali masuk kerja untuk mengurus pekerjaannya. Tetapi dia berusaha untuk pulang ontime agat bisa menghabiskan waktu banyak dengan anaknya.


"Hust...kamu diam dulu. Dhafin sedang tidur." Bisik Ratu.


Kavin mengajak Ratu untuk keluar dan berdiri di atas balkon tempat mereka menginap.


"Indahnya pemandangan disini sayang." Ucap Ratu.


Kavin memeluk Ratu dari belakang dan bersender manja pada bahu istrinya.


"Lebih indah istri aku dong." Ucap Kavin.


"Aku senang deh akhirnya kita semua bisa berkumpul dan berteman baik dengan pasangan masing-masing. Aku juga senang karena Adel dan Nisa bisa bertemu dengan orang yang baik dan begitu mencintai mereka apa adanya." Jelas Ratu.


"Aku happy kalau kamu happy sayang." Ucap Kavin.


"Semoga kita bisa selamanya seperti ini ya sayang." Ucap Ratu.


"Amin.." Ucap Kavin.


*****


"Del..."


"Hmmm.."


"Aku sayang kamu."


"Aku juga."


"Juga apaan?"


"Aku juga sayang sama kamu. Makasih ya kamu sudah mengorbankan pekerjaan demi ikut pergi kesini."


"Yang paling penting itu, aku ingin kamu bahagia."


"Thanks sayang."


Saat ini Harry dan Adel sedang makan malam diluar dengan romantis dan diringi alunan musik yang indah membuat suasana semakin indah saja. Harry memegang tangan Adel dan mencium tangannya dengan lembut. Adel seakan meleleh dengan segala perlakuan manis Harry.


'Aku berharap kalau kamu akan selamanya seperti ini terus Harry. Jangan pernah berubah ya. Aku sayang banget sama kamu.' batin Adel.


Disisi lain...


Nisa dan Dimas sddang berjalan kaki dan menikmati keindahan Paris dan melihat langsung keindahan menara eiffel pada malam hari.Mereka berdua saling bergandengan tangan seakan tidak ingin terpisah lagi.


"Dim. Kamu kok kepikiran ngelamar aku disini?"


"Karena Perancis adalah negara yang paling gepat untuk mengabadikan moment kita."


"Sebenarnya kamu gak perlu ajak aku sampai kesini untuk melamar. Aku senang kok berada bersama kamu dimanapun. Aku gak pernah milih-milih tempat. Yang paling penting itu orangnya bukan tempatnya..."


"Aku tahu kok Nis...cuman seperti yang permah aku bilang sebelumnya. Aku ingin semuanya yang terbaik. Aku ingin buat kamu menjadi orang yang paling spesial. Karena moment ini kan sekali sumur hidup buat kita."


"Aku suka sikap kamu yang buat aku penasaran. Aku gak pernah bisa tahu apa yang akan kamu lakukan...."


"Aku sayang kamu...."


"Aku juga sayang kamu Dim..."


Nisa melihat kearah cincin yang ada di jari tangannya tersebut.


'Aku berharap waktu bisa terhenti saat ini juga.' Batin Nisa.


Dimas bersyukur dan lega karena rencana yang sudah jauh-jauh hari dia pikirkan akhirnya membuahkan hasil yang baik. Padahal awalnya dia sedikit ragu karena takut kalau Nisa akan menolaknya tapi ternyata ketakutannya tidak terjadi. Yang ada Nisa malah menerima lamarannya dengan sangat senang.


"Dim. Boleh aku hubungi bunda sekarang?"


"Boleh dong."


Nisa segera mengambil hp kemudian menghubungi bundanya...


"Hai bunda.."


"Hai juga sayang? Gimana disana?"


"Disini indah bund, lain kali bunda ikutan deh kesini biar kita bisa menikmati keindahan Paris sama-sama."


"Bunda tahu gak? Tadi Dimas ngelamar Nisa loo.."


"Bunda sudah tahu sayang. Dimas sudah bialng ke bunda. Makanya bunda izini kamu pergi."


"Oh gitu? Berarti cuman Nisa aja yang gak tahu ya."


"Kamu kok curang begitu sih Dim?"


"Kalau aku gak begitu, ntar gak jadi kejutan dong buat kamu."


"Tapi kan aku merasa orang yang terakhir tahu."


"Kok malah berdebat sih? Bunda masih dengar lo ini."


"Tau nih bund, Nisa hobi bangey ngajak berdebat. Padahalkan Dimas udah pikirin ini matang-matang. Masih aja salah...emang cewek itu ribet ya bund. Bingung Dimas harus gimana."


"Tapi tunggu dulu ! sejak kapan kamu memanggil bunda dengan sebutan bunda?"


"Sejak sekarang dan seterusnya. Gpp kan bunda?"


"Terserah nak Dimas saja mau panggil apaan."


"Kamu yang sabar ya nak Dimas. Bunda selalu dukung kamu kok."


"Sebenarnya anak bunda sekarang siapa sih? Nisa atau Dimas? Kok Nisa merasa dinomor duakan begini."


Dimas membelai lembut rambut Nisa.


"Kamu tetap nomor 1 dihati aku."


"Huh dasar gombal kamu."


"Bunda ikutan senang ya sayang. Semoga kalian berdua bisa bahagia terus."


"Makasih bunda. Ya udah ya bunda, Nisa mau lanjut jalan-jalan dulu."


"Have fun ya sayang."


"Oke bunda. Miss you..."


"Miss you too."


Mereka bertiga  sudah menemukan kebahagiaan masing-masing dengan lika-liku cinta yang panjang. Akhirnya mereka bisa merasakan betapa indahnya menikmati hari-hari dengan orang yang paling kita sayangi. Banyak suka duka yang harus dilewati agar seseorang itu menjadi pribadi yang lebih tegar dan kuat. Tidak ada yang tahu takdir seseorang, terkadang kita harus merasakan luka dulu baru bisa merasakan kebahagiaan. Proses yang dijalani juga bisa menjadikan pengalaman dan pelajaran hidup seseorang. Karena semua perjalanan cinta orang pasti berbeda-beda. Tinggal bagaimana orang itu menentukan jalan hidupnya masing-masing....


Kebahagiaan harus terus dirasakan dalam perjalanan hidup, bukan hanya menjadi tujuan hidup. Tantangan terbesar dalam hidup adalah menjalaninya. Jadi bersiaplah dan isilah hidup ini dengan harapan karena perjalanan telah menunggu kita.


Bagi kamu yang saat ini khawatir dengab masa depan, jangan pernah berhenti berjalan dan menyerah. Perjalanan hidup yang berat ataupun perjalanan hidup yang pahit harus kita hadapi dan lalui. Dan yang paling penting jangan pernah iri dengan kehidupan orang lain. Karena kita semua memiliki posisi dan waktunga masing-masing sesuai dengan usaha, kerja keras dan doa.


 


The end ^_^


*****


Selamat menikmati novel ini. Jangan lupa dukung terus novel ini dengan cara memberikan like, comment dan rating. Thanks all...


HAPPY READING ALL