Playboy Vs Playgirl

Playboy Vs Playgirl
Sambutan Spesial



"Namanya Dhafin Ardhana Abiputra. Dhafin yang artinya penuh kebahagiaan dan cinta, Ardhana Abiputra adalah nama belakang dari papanya yaitu Kavin. Karena selama ini Dhafin begitu banyak yang sayang. Ratu berharap suatu saat nanti Dhafin bisa membuat semua orang bahagia." Jelas Ratu panjang lebar.


"Nama yang bagus. Kamu sudah punya nama sekarang sayang. Kita panggil dia Dhafin mulai sekarang ya." Ucap mama mertuanya sambil mengelus lembut pipi Dhafin dengan gemasnya.


"Aku juga suka sama nama itu sayang. Semoga Dhafin bisa membahagiakan semua orang yang ada disekitarnya kelak. Amin." Ucap Kavin.


Semua orang yang disana juga menyetujui nama yang diberikan oleh Ratu kepada anaknya. Nama dengan arti yang bagus, yang diharapkan menjadi doa juga untuk anaknya kelak.


"Anak kamu anteng banget ya kamu gendong. Kayaknya dia tahu kalau lagi digendong sama mamanya. Soalnya dari kemarin bayi kamu ini rewel banget." Ucap mama Ratu.


"Iya sayang apa kamu rewel dan menyusahkan orang lain? mama janji mulai sekarang mama yang akan jagain kamu ya. Kamu jangan nakal lagi ya sayangnya mama." Ratu seolah bercerita kepada anaknya sambil tersenyum melihat tingkah anaknya yang anteng banget saat bersamanya.


"Wah kayaknya mamanya udah mulai berpaling nih sama papanya. Habisnya anaknya terus yang diperhatiin. Padahal papanya juga kangen banget loo sama mama." Ucap Kavin seolah merengek kepada Ratu.


Papa mama dan kedua mertuanya hanya tertawa saja merhatiin tingkah Kavin yang sedang cemburu kepada anaknya sendiri.


"Apaan sih Vin. Dengar itu sayang, papa kamu memang posesif banget. Masak sama kamu aja bisa cemburu begitu. Kamu tenang aja ya sayang. Mama akan terus peduli kok sama kamu. Biarin aja papa kamu begitu ntar juga baik sendiri." Ucap Ratu seolah mengajak Dhafin bercerita.


Dhafin tersenyum dengan gemasnya membuat Ratu senang. Dhafin seolah mengerti kalau dirinya sedang diajak mengobrol.


"Oh iya ? dokter bilang kalau besok kamu sudah diperbolehkan pulang. Kondisi kamu sudah membaik tetapi belum berarti kamu pulih sepenuhnya ya. Kamu ingat harus banyak istirahat dulu." Ucap mamanya.


"Baguslah ma, Ratu juga gak betah kalau lama-lama disini." Ucap Ratu.


"Kalau begitu sekarang kamu istirahat ya. Dhafin aku balikin lagi ke ruangannya." Ucap Kavin.


"Sebentar lagi dong Vin, baru juga Dhafin aku gendong. Aku kan masih pengen dekat sama dia." Rengek Ratu.


"Oke aku kasih kamu waktu 5 menit gak lebih dan gak kurang. Kamu masih butuh istirahat sayang. Aku begini karena sayang dan peduli sama keadaan kamu." Ucap Kavin.


"Iya iya bawel banget nih papa kamu Dhafin. Padahal mama masih pengen sama kamu." Ucap Ratu.


"Benar itu yang Kavin bilang sayang. Papa dan yang lain juga masih mengkhawatirkan kondisi kamu. Kamu baru aja sadar." Ucap papa.


"Papa tenang aja ya. Ntar setelah Dhafin dibalikin ke ruangannya, Ratu bakalan istirahat kok." Ucap Ratu.


"Ya udah terserah kamu aja." Ucap papa pasrah.


Ratu menepuk-nepuk lembut tubuh anaknya sampai Dhafin terlelap tidur saat ini. Begitu banyak moment yang rasanya sudah Ratu lewatkan. Bukannya seharusnya dia bisa melihat Dhafin menangis setelah dilahirkan. Dia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan melewatkan satu moment pun bersama Dhafin. Ratu akan melihat dan menyaksikan langsung bagaimana tumbuh kembang anaknya dengan baik mulai sekarang.


"Waktu kamu habis sayang." Kavin melihat jam yang ada ditangannya kemudian mengambil Kavin untuk segera diberikan kepada perawat lagi.


"Ratu seakan tidak rela jauh dari Dhafin sedetikpun. Tetapi dia harus bersabar dan menunggu sampai besok. Sosok keibuan dalam dirinya sudah muncul sekarang. 


Tetapi Ratu merasa sangat lega karena dia dan anaknya dalam kondisi yang sangat baik sekarang. Hal itu yang sangat dia syukuri..


"Kamu istirahat ya sayang." Ucap Kavin yang sudah kembali dari ruangan perawat. Karena jarak kamar bayinya juga tidak terlalu jauh, jadi tidak butuh waktu lama lagi bagi Kavin untuk kembali keruangan istrinya.


Sebelum beristirahat, Kavin menyuruh Ratu untuk memakan bubur ayam yang sudah dibawakan mama mertuanya. Setelah itu dia bisa beristirahat sejenak. Malam ini Kavin yang menemani Ratu dirumah sakit. Kavin menyuruh orangtua dan kedua mertuanya untuk pulang agar bisa beristirahat dengan baik.


Kavin merasa sangat lega karena ketakutan yang dia pikirkan selama ini tidak terjadi. Kavin sudah bisa tenang sekarang. Saat ini Kavin tidak henti-hentinya menatap wajah istrinya yang sedang tertidur pulas.


'Terima kasih karena kamu sudah bertahan sayang. Aku sangat bersyukur untuk hal itu. Aku janji kamu gak akan pernah merasakan sakit lagi. Aku akan berusaha untuk membahagiakan kamu dengan caraku.' Batin Kavin.


Setelah melihat Ratu benar-benar pulas, Kavin duduk di kursi tamu ruangan tersebut. Kavin mengambil laptop dari dalam tas. Kavin melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda. Karena seharusnya malam ini dia lembur di kantor. Tetapi karena Ratu sudah sadar, dia memutuskan untuk melihatnya secara langsung untuk memastikan. Kavin sampai begadang semalam untuk mengerjakan pekerjaannya...


******


"Bagaimana semuanya sudah beres?" Ucap Kavin yang sedang menghubungi Dimas. 


"Semuanya sudah beres kok. Lo tenang aja." Ucap Dimas.


"Lo yakin gak buat kesalahan sama sekali? semuanya sesuai dengan permintaan gue kan?" Tanya KAvin untuk memastikan kembali.


"Iya udah. Lo gak percaya ama cara kerja gue?" Ucap Dimas.


"Bukan...gue hanya sekedar memastikan aja. Jangan sensitif begitu." Ucap Kavin.


"Iya iya...ya udah ya gue mau lanjut kerja lagi." Ucap Dimas.


"Oke." Ucap Kavin sembari mematikan panggilan teleponnya.


Setelah selesai teleponan, Kavin menghubungi semua orang terdekat Ratu karena Ratu sudah diperbolehkan untuk pulang. Jadi mereka sudah bisa menjenguk Ratu dirumah saja.


Tidak lama lagi untuk Ratu, Dhafin dan dirinya akan segera berkumpul dirumah. Setidaknya mereka bisa menjadi keluarga kecil yang baru mulai detik ini. Mereka akan menjalani hal-hal yang baru, pastinya harus selalu bahagia.


Dilain sisi, Adel dan Nisa senang akhirnya sahabat mereka sudah diperbolehkan pulang. Sepulang bekerja, Adel bermaksud untuk pulang sebentar ke apartemen kemudian pergi mengunjungi Ratu untuk bertamu. 


Adel saat ini sedang bersiap-siap untuk pulang. Tetapi dari dalam ruangan Harry sudah memperhatikan dirinya. Hari ini Harry terlalu sibuk untuk bertemu klien diluar perusahaan sehingga waktu untuk melihat Adel sedikit berkurang. 


Harry kembali dari luar itu sudah sangat sore, saat dia kembali dia melihat Adel tidak ada di meja kerjanya karena saat itu Adel sedang pergi ke toilet. Saat Adel kembali dari toilet, Adel menerima panggilan telepon dan bergegas untuk pulang. Harry sudah memperhatikan Adel sedaritadi.


Disaat Adel ingin melangkah pergi, telepon kantornya berdering sehingga Adel harus menghentikan langkahnya kembali. Dengan bergegas dia mengangkat telepon tersebut..


"Ya halo dengan Adel ada yang bisa dibantu?" Ucap Adel dengan santai.


"Kamu datang keruangan saya sekarang." Adel dengan refleks melihat kearah kaca yang menjadi pembatas diantara mereka. 


'Kapan Harry balik ke kantor? kok gue gak tahu ya. Tahu gitu tadi gue langsung aja pulang. Nyesal banget gue mengangkat telepon barusan. Jadi gimana dong, mau gak mau gue harus ketemu dengan Harry.' Batin Adel.


"Kenapa kamu diam aja? kamu dengar kan saya lagi bicara sama kamu." Tanya Harry.


"Eh...iya pak." Jawab Adel gugup.


Adel mengetok pintu dan langsung dipersilahkan masuk oleh Harry. Dengan langkah pelan Adel berjalan masuk kedalam ruangan Harry.


'Lo harus santai aja Del. Jangan kelihatan panik begitu. Lagian inikan bukan jam kerja lagi...' Batin Adel.


"Kamu bilang apa barusan?" Harry menatap Adel yang menatap dirinya dengan serius.


'Apaan, kayaknya gue gak ada ngomong deh daritadi. Kan gak mungkin Harry bisa mendengar isi hati gue. Gak mungkin banget.' Batin Adel.


"Saya? saya kan tidak ada bicara sama sekali pak." Ucap Adel.


"Kamu menatap saya dengan serius, saya yakin kamu sedang berbicara dalam hati kamu tentang saya. Apa saya salah?" Harry langsung menyampaikan semua yang sesuai dengan apa yang dia rasakan.


"Sebenarnya ada apa bapak memanggil saya kesini?" Adel segera mengalihkan pembicaraan mereka. Adel sudah tidak tahu lagi mau menepis apa ucapan Harry tadi.


"Saya ingin berbicara sama kamu. Karena jam kerja sudah berakhir apa bisa kita berbicara secara santai aja." Ucap Harry.


"Kamu ingin bicara apa ?" Tanya Adel dengan santai.


Harry mempersilahkan Adel untuk duduk di ruang tamu yang ada didalam ruangannya.


Adel mengikuti langkah Harry dan msuk kedalam ruang tamu yang tersembunyi. Adel baru tahu ternyata didalam ruangan Harry memiliki ruangan yang tersembunyi. Banyak hal baru yang baru Adel tahu tentang Harry.


'Ternyata begitu banyak hal yang kamu tutupi dari aku selama ini Harry. Termasuk itu tentang Adiez...' Batin Adel.


"Kamu mau bicara apa? waktu aja gak banya, cepetan kamu bicara..." Adel melihat jam tangannya untuk memastikan waktu.


"Segitunya kamu gak mau aku aja untuk bicara? apa aku begitu gak pentingnya buat kamu Del?" Ucap Harry.


"Langsung ke inti pembahasan aja Harry. Kita gak perlu basa-basi lagi bukan?" Ucap Adel.


"Kemarin malam kamu pergi kemana? kenapa kamu gak balas sms, chat atau angkat telepon aku." Ucap Harry.


"Emang apa pentingnya kalau aku cerita sama kamu. Biarkan itu jadi urusan aku. Mulai sekarang kita gak perlu saling mencampuri urusan masing-masing lagi." Ucap Adel.


"Apa sih maksud ucapan kamu Del? bukannya kemarin kamu sudah tidak marah lagi sama aku. Bukannya aku udah ikutin kemauan kamu untuk mempertemukan kamu dengan Adiez? aku salah apa lagi Del." Harry tidak mengerti dengan maksud perkataan Adel.


"Oh jadi gitu. Kamu masih belum mengerti juga ya Harry. Aku bukan orang yang akan merusak hubunga orang lain, apalagi sampai merebut tunangan orang lain dari seseorang." Adel menekankan kata 'tunangan' untuk memperjelas semuanya.


Deg...


Harry kaget mendengar ucapan Adel...sampai-sampai dia sulit untuk menepis atau menyanggah ucapan Adel lagi.


"Kenapa diam? yang aku bilang barusan benarkan?" Ucap Adel lagi.


Harry masih diam membisu seakan mulutnya sangat sulit untuk berbicara.


"Jadi mulai sekarang aku harap hubungan kita hanya sebatas rekan kerja aja Harry. Mengenai keempatan yang aku kasih ke kamu, anggap saja itu sudah tidak berlaku lagi. Dan semuanya sudah cukup jelas sekarang. Jangan pernah mengganggu privasi masing-masing lagi." Adel segera berdiri dan tangan Adel yang sebelah dengan cepat digenggam oleh Harry.


"Lepasin Harry." Ucap Adel.


"Aku sayang sama kamu Del. Hanya kamu yang aku inginkan. Kenapa kamu gak bisa percaya hal itu?" Ucap Harry dengan wajah yang memelas.


"Sayang? cinta? kamu seharusnya berikan kedua hal itu kepada calon tunangan kamu. Banyak hal yang kamu tutupi dari aku Harry. Dan hubungan kita juga tidak sehat, bakal banyak hati yang tersakiti kalau kamu tetap seperti ini. Aku yakin kalau kamu lebih sayang sama orangtua ddibanding orang lain didunia ini. Jangan egois Harry, kamu harus bisa menjadi orang yang tegas dalam mengambil keputusan seperti yang kamu lakukan disaat bekerja. Dan 1 hal lagi jangan pernah menyia-nyiakan hati orang yang sayang dan peduli sama kamu. Ini semua untuk kebaikan kita bersama..." Jelas Adel panjang lebar.


'Dan aku bukan orang yang tepat untuk kamu. Maaf...' Hati Adel tersiksa saat mengucapkan kata-kata barusan. Tetapi hal itu harus dia lakukan agar Harry bisa menyerah kepada dirinya. Adel tidak ingin Harry menjadi pribadi yang egois apalagi menjadi anak yang tidak patuh.


"Ini yang terbaik.." Ucap Adel kemudian dengan kuatnya dia segera melepaskan tangannya dari Harry.


Harry benar-benar melemah sekarang dan hanya bisa membiarkan Adel pergi meninggalkannya. Bukan karena dia tidak ingin mempertahankan Adel lagi, Tetapi karena semua ucapan Adel masih dia pikirkan kembali. Semua yang Adel ucapkan ada benarnya. Tetapi disatu sisi, ntah mengapa hatinya masih tidak rela untuk mengakhiri hubungan mereka. Apalagi Adel ingin mereka hanya bisa berhubungan sebagai rekan kerja saja.


Harry dengan frustasi menutup wajahnya dengan kedua tangan. Perasaan sudah bercampur aduk sekarang, dia tidak bisa memilih untuk salah satu diantara Adel dan keluarganya. 


"Ahhhh..." Harry melemparkan gelas-gelas yang tertata rapi pada ruangan tersebut. Biasanya Harry adalah pribadi yang sabar, tetapi kali ini kesabarannya benar-benar diuji. Baru kali ini dia merasakan hal yang membuat dirinya tidak bisa memilih sama sekali. 


'Apa yang harus aku lakukan sekarang? aku gak bisa kehilangan Adel tetapi aku juga gak akan tega menyakiti hati keluarga.' Batin Harry.


"Ini keputusan yang terbaik Adel, jangan melangkah mundur lagi." Ucapnya sambil mempercepat langkahnya untuk pulang.


******


Kepulangan Ratu membuat semua keluarga menjadi atusias untuk menyambut langsung. Ratu yang saat ini dalam perjalanan menuju rumahnya. Ratu tidak memikirkan hal apapun lagi, dia hanya fokus menggendong Dhafin saja dan menatap Dhafin yang tertidur pulas. Rasanya baru kemarin Ratu hamil dan sekarang sudah ada Dhafin didunianya. Rasa syukur yang tak henti-hentinya dia panjatkan kepada Tuhan. Karena Tuhan dengan baiknya masih memberikaan dirinya kepercayaan untuk hidup dan bisa menikmati menjadi seorang ibu seutuhnya.


Kavin yang duduk disebelahnya merasa sangat diabaikan oleh sang istri. Pandangan dan senyuman Ratu hanya tertuju kepada Dhafin saja.


"Kan Dhafin lagi tidur, kenapa kamu gak mandangin aku aja sayang?" Kavin mengalihkan wajah Ratu untuk segera melihat kearahnya.


"Huh dasar suami aku yang paling posesif. Iya deh iya aku sampai lupa ada kamu disebelah." Ledek Ratu.


Ratu menggenggam tangan Kavin dengan erat.


"Maaf ya sayang, kayaknya waktu dan rasa cinta aku bakalan kebagi deh." Ucap Ratu.


"Aku mengerti kok sayang. Tetapi kamu harus tetap ingat kalau masih memiliki seorang suami." Ucap Kavin.


Ratu mengangguk setuju..


"Aku ingat kok. Dengan adanya Dhafin dalam keluarga kita, benar-benar membuat keluarga kita menajdi lengkap ya sayang. Aku senang banget deh." Ucap Ratu.


"Aku yang lebih senang sayang. Karena kalian berdua melengkapi hidup aku sekarang." Ucap Kavin.


Kavin dan Ratu saling berpandangan dan hampir saja Kavin mencium bibir istrinya...


"Ehem..." Ucap pak Budi yang sudah tidak tahan melihat kemesraan kedua majikannya itu. Pak Budi juga memberhentikan mobil secara mendadak yang membuat Kavin dan Ratu kaget.


"Apaan sih pak Budi. Ganggu aja deh..." Ucap Kavin.


"Maaf Den Kavin, Tapi kita sudah sampai didepan rumah." Ucap pak Budi lalu keluar dari mobil.


Ratu malah tertawa melihat suaminya yang kesal karena tidak jadi menciumnya.


"Kok kamu malah ngetawain aku sih sayang? kamu senang ya karena gak aku cium?" Ucap Kavin.


"Apaan sih Vin. Kamu itu kesal gak jelas tahu gak? udahan yuk kita turun. Gak enak udah ditungguin mama papa didepan rumah itu." Ratu menunjuk kearah luar.


"Gagal deh mau mesra-mesraan sama kamu." Ucap Kavin.


"Ntar aja ya sayang, kan gak enak sama yang lain." Ucap Ratu.


"Ya mau gimana lagi." Kavin mengangkat kedua bahunya seakan pasrah.


Mau tidak mau Kavin keluar dan membantu Ratu segera turun dari mobil, sedangkan bi Ina langsung lari kearah bagasi mobil untuk membantu pak Budi membawa barang.


Ratu turun dari mobil dan disambut hangat oeh Bi Ina...


"Selamat datang kembali non Ratu." Ucap Bi Ina semabri melebarkan pagar rumah dan mempersilahkan majikannya untuk masuk.


"Makasih bi. Akhirnya kita sampai rumah sayang. Rumah ini juga akan jadi rumah kamu juga." Ucap Ratu kepada Dhafin anaknya.


Kavin berjalan berdampingan dengan Ratu...


"Akhirnya kita sampai dirumah ya sayang." Ucap Kavin.


"Iya sayang, akhirnya ya..." Ucap Ratu dengan perasaan lega.


Kavin berjalan berdampingan dengan istrinyayang kemudian disambut hangat oleh oragtua dan mertua mereka. 


"Selamat datang kembali ya sayang, semoga setelah ini kalian bisa hidup bahagia selamanya. Amin." Ucap mama.


"Semoga tidak ada air mata lagi, kita semua harus bahagia menjalani kehidupan yang singkat ini."Ucap mama mertuanya.


"Iya ma, makasih ya karena selalu ada dalam kondisi apapun." Ucap Ratu.


"Udah yuk masuk, kasihan kan Dhafin harus istirahat sayang." Ucap Kavin.


Kavin merangkul Ratu sebelum membuka pintu rumah.


"Kenapa papa mama gak nungguin kita didalam aja ya Vin. Kan capek harus berdiri didepan teras begini." Ucap Ratu yang mulai kebingungan.


"Mana aku tahu sayang. Udah yuk masuk aja. Gak usah mikirin hal yang gak penting." Ucap Kavin.


Kavin segera membuka pintu rumah...


"Surprise !!!" Teraik semua orang yang sudah berkumpul didalam.


"Kalian..." Ucap Ratu yang terharu sekaligus kaget dengan sambutan spesial dari orang-orang yang dia sayang.


Kavin mengambil alih untuk menggendong Dhafin dan menyuruh bi Ina untuk menjaganya. Sedangkan Ratu masih berdiri mematung dan melihat kesekitar rumah. Rumah yang sudah di dekor dengan sedemikian rupa untuk menyambut dirinya dan Dhafin. 


"Gimana kamu suka gak sayang?" Tanya Kavin sambil memandang wajah istrinya.


"Jangan bilang kamu yang udah mengatur semuanya." Ucap Ratu.


"Aku minta bantuan Dimas untuk mendekor ruangan ini terus aku juga yang menghubungi teman-teman kamu untuk datang. Aku pengen menyambut kamu dan anak kita dengan sambutan yang spesial sayang. Maaf kalau cuman hal ini aja yang bisa aku lakukan." Ucap Kavin.


"Ini juga sudah lebih dari cukup buat aku Vin, makasih ya sayang untuk semua hal." Ratu mencium pipi kiri Kavin dengan mesra yang disaksikan oleh seluruh keluarga dan paa sahabatnya. Yang lain hanya bersorak saja dan bertepuk tangan. mereka seakan ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Kavin dan Ratu saat ini.


Ratu menghampiri Nisa, Adel, Dimas, Tommy, dan Putri. Ratu merasa terharu karena mereka menyempatkan diri untuk datang apalagi sampai menyambutya seperti ini.


"Terima kasih untuk semua orang yang hadir. Thanks al..." Ratu meneteskan air mata kebahagiaan.


Nisa dan Adel langsung memeluk Ratu yang sedang menangis, 


"Jangan nangis dong beb, inikan moment bahagia lo. Kita juga ikutan senang kalau lo senang..." Ucap Adel.


"Benar itu yang Adel bilang, lebih baik hapus air mata lo beb." Ucap Nisa.


'Gimana gue gak nangis kalau kalian semua semanis ini ke gue.' Batin Ratu.


Kavin datang menghapiri Ratu dengan membawa sebuket bunga mawar putih sambil berjongkok kearahnya.


"Makasih sayang." Ratu menerima bunga tersebut serta mencium aroma bunga.


Adel dan Nisa saling berbisik satu sama lain...


"Romantis banget sih Kavin. Manis banget gitu, baper gue lihatnya." Ucap Nisa.


"Namanya juga Ratu menikah sama playboy beb, jadi wajar aja kalau romantis." Bisik Adel.


Saat mereka saling berbisik, Dimas mendekati keduanya...


"Ehem..." Ucap Dimas yang membuat mereka berdua kaget.


"Dimas. Kamu sejak kapan berdiri disamping aku?" Tanya Nisa gugup.


"Sejak kamu memuji cowok lain. Aku juga dengar kamu bilang kalau cowok itu manis dan romantis." Ucap Dimas.


"Maaf Nis, gue gak ikutan untuk hal ini ya." Adel langsung segera menjauh dari Nisa dan Dimas.


'Dasar Adel, bukannya nolongi gue malah kabur begini. Dasar gak setia kawan banget.' Batin Nisa.


Nisa menatap kearah Dimas...


"Aku muji gak ada maksud lain kok sayang. Kamu jangan cemburu gitu dong. Aku kan tetap sayangnya sama kamu aja." Ucap Nisa sambil menggombali Dimas.


"Sejak kapan kamu jadi pintar ngerayu begini." Ucap Dimas.


"Sejak....sejak aku jadi pacar kamulah. Emang salah ya. Kamu jangan ngambek lagi dong Dim." Ucap Nisa.


"Aku gak ngambek kok, Aku gak suka aja kalau kamu muji cowok lain." Ucap Dimas.


"Huh dasar pacar aku posesif banget ya." Ucap Nisa terkekeh.


Tommy dan Putri juga mengucapkan selamat datng kembali kepada Ratu...


"Welcome back ya Tu." Ucap Tommy sambil tersenyum semanis mungkin.


"Saya juga mengucapkan selamat datang kembali untuk pak Kavin dan istrinya." Ucap Putri.


"Aminn." Ucap Ratu.


"Kalau diluar kantor, kamu panggil dengan nama saja Put, lagian kita smeua sudah dekat dan berteman baik." Ucap Kavin.


"Eh iya pak, maksudnya Kavin." Ucap Putri gugup 


Acara sambutan yang Kavin persiapkan berjalan sesuai dengan rencana. Ratu menyukai dekorasi, makanan serta cara Kavin memperlakukan dirinya.


Mereka semua menyantap makanan yang sudah disajikan di meja. 


Selang berapa jam kemudian, tiba-tiba aja ada tamu yang tidak diundang datang. Tmu tersebut adalah...


*****