
Harry segera menepis tangan Adiez sekuat mungkin...
"Kamu kenapa sih? kakak mau mengejar kak Adel. Kenapa kamu malah cegah begini." Ucap Harry.
"Adiez mau pulang bareng kakak. Adiez gak bawa kendaraan tadi kesini." Ucap Adiezty.
"Tapi kakak mau ..."
"Emangnya kaka tega biarin Adiez pulang sendirian ya. Ntar kalau Adiez kenapa-napa gimana. Siapa yang bisa nolongin Adiez selain kak Harry." Ucap Adiez sambil memelas.
Harry yang melihat tingkah Adiez seperti itu menjadi tidak tega.
"Hmm...oke kakak antar. Tapi janji langsung pulang. Kakak gak bisa menemani kamu di apartemen." Ucap Harry memperingati.
"Iya janji..." Ucap Adiez kesenangan. Ya setidaknya Harry tidak mengejar Adel sudah membuatnya cukup lega. Bagaimanapun juga dibandingkan Adel, Adiez mampu membuat Harry beralih dan berpaling.
Adiez merasa senang malam ini karena Harry lebih memilih mengantar dirinya pulang.
'Dari dulu kak Harry gak berubah. Dia tetap memprioritaskan aku dibandingkan yang lain. Karena itu aku gak mau kehilangan kak Harry sampai kapanpun. Walaupun aku tahu kalau kak Harry gak pernah bisa memberikan perasaannya. Tapi bukannya cinta itu karena terbiasa ya. Aku harus buat kak Harry jadi milikku selamanya.' Batin Adiezty.
Harry membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Adiez untuk masuk. Walaupun pikiran Harry sedang kacau dan khawatir memikirkan Adel. Tapi dia tidak mungkin tega untuk meninggalkan Adiez sendirian apalagi orangtuanya Adiez sudah memberi dirinya kepercayaan untuk menjaga Adiez. Nyokap Adiez adalah teman baik mamanya. Untuk itu Harry juga harus memperlakukan Adiez dengan baik.
Sudah sangat lama kedekatan diantara mereka terjalin. Harry hanya bisa menganggap Adiez sebagai adik angkatnya saja. Padahal nyokapnya sudah menjodohkan mereka dari semenjak mereka kecil.
"Kak Harry."
"Hm..."
"Kok gitu jawabnya."
"Kamu mau bicara apa lagi Adiez...kakak kan lagi nyetir."
"Kakak suka sama kak Adel ya?" Tanya Adiez dengan gugup.
"Menurut kamu?" Harry malah menanya kembali.
"Apa yang kakak suka dari kak Adel?" Tanya Adiez penasaran.
Adiez merasa dirinya sudah melebihi Adel.Ya walaupun Adel juga cewek yang cantik tetapi dia gak kalah dari segi fisik sama sekali.
"Apa perlu alasan kalau kita menyukai seseorang? itu terjadi begitu saja. Saat didekat Adel. Kakak merasa bisa menjadi diri sendiri dan Adel bisa membuat kakak menjadi orang yang lebih baik lagi. Itu yang kakak rasakan." Jelas Harry.
"Terus apa kak Adel juga suka sama kakak?" Harry seakan membisu karena tidak tahu akan menjawab apa.
"Kak Adel itu gak suka sama kakak. Buktinya dia gak cemburu sama sekali sama kedekatan kita. Kalau orang yang suka pasti sudah cemburu. Apa kakak gak bisa melihat ekspresi kak Adel yang biasa aja tadi." Ucap Adiezty.
'Adiez benar, tadi aku juga lihat bagaimana reaksi dan sikap acuhnya Adel. Tapi bukannya Adel masih kasih aku kesempatan. Aku gak boleh nyeah begitu aja. Selagi ada kesempatan harus bisa dipergunakan dengan sebaik-baiknya.' Batin Harry.
"Kenapa kakak masih bisa menyukai orang yang seperti itu? udah jelas-jelas orang itu gak suka sama kakak sama sekali." Ucap Adiezty.
"Terus apa yang harus kakak lakuin?" Tanya Harry.
"Sebaiknya kakak cari cewek lain yang bisa menerima dan mencintai kakak dengan tulus. Jangan buang-buang waktu untuk orang yang belum pasti sayang sama kita." Ucap Adiezty.
"Jadi siapa orang itu?"
"Orang itu ada disekitaran kakak juga kok." Ucap Adiezty yang seolah-olah memberikan kode.
"Siapa?" Tanya HArry yang masih bingung.
"Adiez ..." Adiez menunjuk dirinya sendiri.
Harry kaget sampai menginjak rem pada mobilnya. Harry memberhentikan mobilnya ke pinggir sebelah kiri jalan.
"Kenapa kita berhenti disini kak?" Tanya Adiez yang masih belum mengerti juga apa tujuan Harry sebenarnya.
"Apa maksud ucapan kamu barusan Adiez?" Tanya Harry menekankan kata-katanya.
"Apa Adiez perlu jawab lagi. Kakak juga sudah tahu kan bagaimana perasaan Adiez selama ini sama kakak. Tetapi kenapa kak Harry malah mengabaikan dan menyukai orang lain. Kakak gak tahu bagaimana rasanya jadi Adiez..." Ucap Adiezty.
"Kamu juga sudah cuup tahu kalau kakak hanya bisa menganggap kamu sebagai adik aja. Kakak sudah pernah bilang kalau kamu harus melupakan dan mengubur perasaan kamu selama ini. Jangan membuatnya menjadi semakin sulit." Ucap Harry.
"Melupakan? mengubur? emang kakak pikir hal itu gampang untuk dilakuin. Adiez gak akan pernah bisa melakukan kemauan kakak itu. Dan 1 hal lagi Adiez gak akan membatalkan pertunangan kita yang sudah lama direncanakan." Ucap Adiezty.
"Apa maksud kamu? bukannya semua sudha cukup jelas. Ngapain kamu melanjutkan hubungan yang gak akan pernah ada masa depannya." Ucap Harry frustasi saat mendengar ucapan Adiez.
"Sampai kapanpun Adiez gak akan pernah menyerah. Dalam 3 bulan lagi akan dilaksanakan pertunangan kita. Adiez harap kakak gak bakalan mengecawakan keluarga kita yang sudah menginginkan acara itu." Ucap Adiezty.
"Apa? kamu pasti bercandakan Adiez? ini gak lucu sama sekali. Kakak gak pernah setuju untuk pertunangan itu." Ucap Harry.
"Terserah kakak mau bilang apa. Yang jelas seluruh keluarga udah tahu kalau kita akan bertunangan. Adiez tahu kalau kakak gak bakalan mengecawakan keluarga apalagi nyokap kakak sendiri. Iya kan?" Ucap Adiezty.
"Adiez, kamu harus mengerti kalau cinta itu gak bisa dipaksa. Kakak hanya sayang sama Adel. Dan kakak menyayangi kamu sebagai adik dan gak lebih." Harry mencoba meyakinkan Adiez dengan lembut.
Harry tidak membalas Adiez dengan ketus atau marah, dia takut klau dia melakukan hal itu Adiez bakalan semakin nekat saja. .
Adiez malah menggelengkan kepalanya.
"Adiez sayang sama kakak. Perasaan ini tulus dan gak dibuat-buat. Kakak boleh minta al apapun tetapi untuk hal ini Adiez gak bisa lakuin. Adiez gak mungkin membatalkan acara itu. Acara yang selama ini sudah Adiez impikan. Adiez juga yakin kalau cinta itu bisa tumbuh karena terbiasa..." Jawab Adiezty.
Harry menghela nafasnya dengan sangat berat. Tidak tahu memakai cara apalagi untuk bisa megubah keyakinan Adiez.
"Kakak bisa pikirkan ini baik-baik. Adiez akan menunggu kalau kakak berubah pikiran." Ucap Adiezty.
Harry menggeleng dengan yakin...
"Gak akan...kakak gak akan berubah pikiran. Ini yang terbaik buat hubungan kita. Kalau kamu tetap ingin melanjutkan hubungan tanpa cinta ini, kamu sendiri yang akan sakit dan terluka. Karena kakak gak akan pernah bisa memberikan hati kakak untuk kamu." Ucap Harry.
"Adiez tahu kalau kakak pasti mikir kalau Adiez adalah cewek yang egois. Tetapi Adiez ngelakuin ini juga karena Adiez gak mau kehilangan kakak. Adiez sayang banget sama kakak dari dulu sampai sekarang. Adiez gak bisa pendam hal ini lagi. Adiez harap kakak memikirkan hal ini baik-baik." Ucap Adiezty.
Harry hanya bisa termenung sambil memikirkan semua hal.
'Gue gak boleh maksa keinginan Adiez dulu. Biarkan kami memikirkan jalan keluarnya...' Batin Harry.
Harry kembali menyetir mobilnya, kurang lebih 12 menit mereka sampai diapartemen milik Adiez. Harry tidak ikut mengantar Adiez masuk kedalam. Langsung saja Harry pergi kembali. Diperjalanan dia masih terpikirkan oleh ucapan Adiez kepadanya.
"Ahhhh...kenapa semuanya jadi begini sih." harry membanting setir mobilnya berkali-kali sampai tangannya sakit.
Harry mengambil hp untuk menghubungi Adel...
Sampai berkali-kali panggilan, Adel tidak mengangkat dan membalas chat atau pesan darinya. Karena malam ini dia tidak tahu keberadaan Adel, dia memutuskan untu kembali saja ke apartemen miliknya.
'Kemana sih kamu Del...cuman kamu yang aku inginkan.' Batin Harry.
*****
"Kenapa kalian berdua malah diluar?" Ucap Adel yang sedang menghampiri Nisa dan Dimas.
"Kita menunggu kabar dari dokter yang sedang memeriksa kondisi Ratu didalam Lo sama siapa kesini beb?." Ucap Nisa sambil celingak-clinguk.
"Tapi lo bilang tadi kalau Ratu udah mulai sadar..itu benar kan?" Tanya Adel penasaran tanpa menjawab pertanyaan Nisa.
"Justru karena itu dokter masih melakukan pemeriksaan. Kita tunggu dulu disini. Lo kok gak jawab pertanyaan gue?" Ucap Nisa.
"Apa perlu gue jawab lagi sih beb, kan lo lihat sendiri kalau gue sendrian kesini." Jelas Adel.
"Oh...emangnya kemana gebetan lo beb?" Ucap Nisa sambil mengajak Adel untuk duduk.
"Emangnya kalau mau kesini mesti sama dia ya." Ucap Adel ketus.
"Kok galak sih beb, gue kan cuman nanya aja. Huh dasar..." Ucap Nisa.
"Kok gue gak lihat keberadaan Kavin?" Adel melihat kesekitar tempat.
"Kavin masih dalam perjalanan menuju ksini. Tadi itu gue dapat info dari Dimas. Dimas dimintai tolong oleh Kavin untuk memastikan keadaan Ratu sebelum dia datang. Kavin ada pertemuan penting sama klien makanya baru dalam perjalanan kesini." Ucap Nisa.
"Oh gitu..."
"Karena gue antusias mendengar kalau Ratu udah sadar, tanpa minta izin Dimas...gue langsung ikut aja. Terus gue langsng ngabari lo." Ucap Nisa.
"Gue juga antusias banget makanya buru-buru kesini. Semoga Ratu baik-baik aja dan cepat pulih ya beb. Kan kasihan anaknya apalagi Kavin. Pasti jadi mikir bagi waktu untuk bekerja dan kerumah sakit." Ucap Adel.
"Amin...semoga aja beb." Ucap Nisa.
Saat Nisa dan Adel sedang asik bercerita, dokter beserta perawat keluar dari ruangan tersebut. Dengan cepat Nisa segera bertanya dan menghampiri dokter...
"Bagaimana kondisi pasien didalam dok?" Tanya Nisa antusas.
"Kondisi pasien sudah lebih baik tetapi jangan membuat pasien menjadi setres. Akan berdampak pada kesehatan pasien. Dan menceritakan hal-hal yang berat dulu. Kalau bisa hibur dia dan buat dia happy." Jawab dokter.
"Baik dok, terima kasih informasinya..." Nisa dan Adel langsung masuk kedalam ruangan Ratu. Mereka masuk dan memeluk Ratu ...
"Makash beb lo udah sadar. Gue dan yang lain takut banget pas tahu lo kritis kemarin." Ucap Nisa.
"Syukurlah kita benar-benar lega sekarang. Kavin dan keluarga lo juga panik banget pas tahu lo sempat koma selama 5 hari ini." Ucap Adel.
"Bisa gak lepasin gue dulu. Keram nih tangan gue..." Protes Ratu.
Nisa dan Adel segera melepaskan pelukannya.
"Masih aja lo gak berubah sama sekali beb. Masih galak..." Ucap Nisa.
"Emang orang sakit bisa mengubah sikapnya ya. Lo juga ada-aa aja Nis." Ucap Adel.
"Udah-udah berisik banget kalian berdua. Heran gue gak pernah bisa saling akur kalau ketemu." Protes Ratu.
Adel dan Nisa menganggukkan kepalanya...
"Seriuslah beb, makanya sekarang kita senang banget pas dengar lo udah sadar. Jangan begini lagi dog beb, sumpah kita takut banget kehilangan lo." Ucap Adel.
"Iya beb, ntar kalau gue mau curhat sama sapa lagi? kalau sama Adel yang ada malah berantamm mulu." Ucap Nisa.
"Apa lo bilang barusan?" Nisa hanya terkekeh saja.
"Bercanda Del...jangan terlalu serius-serius amat hidup lo." Ucap Nisa.
"Terus Kavin dan keluarga gue kemana?" Tanya Ratu.
"Kavin dan mertua lo menuju kesini, kalau nyokap dan bokap lo ikut ke ruanga dokter sebentar." Ucap Nisa.
Ratu masih belum terfikirkan pada anak yang sudah dia lahirkan. Saat Ratu mengelus dan memegang perutnya, dia panik dan langsung mennayakan hal tersebut kepada kedua sahabatnya...
"Anak gue mana? dia baik-baik ajakan? kenapa dia gak ada diruangan ini." Ratu sambil menitikkan air matanya karena sudah mengingat kejadian yang membuatnya sampai bisa koma tersebut. Secara perlahan ingatannya mulai kembali.
"Anak lo baik-baik aja kok beb. Lo tenang aja ya. Jangan panik dan cemas begini." Ucap Nisa.
"Kalian yakin?" Tanya Ratu memastikan.
Adel dan Nisa saling pandang dan melihat kearah Ratu sambil mengangguk dengan yakin. Setelah itu Ratu menjadi lebih tenang dari sebelumnya.
"Syukurlah, gue kirain anak gue kenapa-napa. Karena waktu itu kondisi tubuh gue udah lemah banget." Ucap Ratu sambil mengingat-ingat kejadian sebelumnya.
"Sebaiknya lo gak usah banyak mikir. Lo harus cepat pulih biar kita bisa kembali berkumpul lagi." Ucap Adel.
"Bener tuh yang Adel bilang. Lebih baik lo istirahatkan pikiran lo dulu untuk sementara." Ucap Nisa.
Mama papa Ratu dengan senang melihat anaknya yang akhirnya sudah sadar. Mereka segera masuk untuk menghampiri Ratu...
"Sayang...mama tahu kalau kamu anak yang paling kuat. Mama dan papa sangat bersyukur karena kamu sudah sadar. Jangan buat mama papa sedih lagi ya sayang. Mama gak kuat harus melihat kamu kritis begitu." Ucap mama.
"Mama.. papa..maafin Ratu ya udah buat kalian khawatir dan cemas. Pasti kalian sedih banget ya kemarin." Ucap Ratu yang tidak tahan dan menitikkan air matanya.
Mama yang melihat dengan perlahan menghapus air mata anaknya yang sudah mengalir deras.
"Papa tahu kamu kuat. Papa selalu yakin kalau kamu akan pulih. Makasih sayang sudh buat keyakinan papa menjadi kenyataan." Ucap papa.
Ratu yang tidak bisa membayangkan kalau dirinya sangat dicintai sebegitu besarnya. Dia merasa orang yang paling beruntung karena dikelilingi orang-orang yang baik dan sayang terhadap dirinya dengan tulus. Ya walaupun tidak sempurna yang orang pikirkan tetapi sudah mendekati sempurna untuk sebuah keluarga yang dia impikan selama ini. Memiliki orangtua, suami, anak, mertua...yang semuanya memperlakukannya dengan sangat baik. Banyaknya masalah yang dia hadapi membuat dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat lagi. Bukankah dengan dikasih cobaan dan masalah malah semakin menguji kesabaran orang tersebut. Segala bentuk masalah memang harus dihadapi dengan apa adanya.
"Jangan nangis dong sayang. Mama jadi ikutan sedih nih." Mama mencium kening Ratu sekilas.
"Ratu terharu ma." Ucap Ratu.
Disisi lain ,Adel yang melihat kedekatan Ratu dan ortunya menjadi teringat nyokap bokapnya yang tidak pernah memperlakuannya seperti itu...
"Nis, kalau gue jadi Ratu..mungkin gue akan melakukan hal yang sama. Gue pasti bahagia banget memiliki keluara seperti itu." Ucap Adel.
Nisa tertegun mendengar ucapan Adel.
"Gue gak pernah diperlakuan selayaknya anak. Ah mikir apaan sih gue, gue harus melupakan mereka yang selama ini membeci gue." Ucap Adel yang sudah berkaca-kaca.
"Gue yakin kok suatu saat lo pasti bisa bahagia. Mungkin ini ujian dari Tuhan yang harus lo hadapi Del. Hidup gue juga gak sesempurna kelihatannya. Gue juga pernah mengalami yang namanya kehilngan seseorang yang paling berarti yaitu bokap gue. Hidup gue juga mengalami naik turun dan trauma tersendiri. Tetapi itulah rencana Tuhan untuk kita beb. Kita harus jalani apapun keadaannya, jangan pernah membandingkan kehidupan Ratu dan kehidupan gue sama kehidupan lo. Tuhan punya caranya sendiri untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih kuat lagi." jelas Nisa panjang lebar. Tanpa Nisa sadai penjelasannya tadi cukup membuat Adel mulai tersadar...
'Nisa benar gue gak boleh jadi orang yang lema begini. Seharusnya gue bisa atasi sesulit dan sepahit apapun jalan hiup gue. Tuhan menguji gue karena DIA sayang. Gue harus percaya semuanya sudah diatur dengan sebaik mungkin.' Batin Adel.
"Makasih ya beb udah kasih masukan." Ucap Adel.
"Sama-sama beb, Ingat jangan pernah mengeluh lagi tentang hal ini. Masih banyak orang yang sayang da peduli sama lo, jadi jangan pernah memikirkan hal yang tidak berguna lagi." Ucap Nisa.
"Oke gue usahain ya. Habisnya gue baper banget lihat kedekatan Ratu sama nyokap bokapnya." Ucap Adel.
"Gue bisa mengerti kok apa yang lo rasain beb." Ucap Nisa.
"Oh iya? Dimas mana? kok gak ikutan masuk?" Tanya Adel.
"Bener juga ya, gue gak teringat sama sekali malah. Bentar gue hubungi dulu." Ucap Nisa.
Nisa keluar dari ruangan untuk menghubungi Dimas sedangkan Adel mengambil hp ynga da didalam tasnya. Dia melihat banyak panggilan, sms, dan chat dari Harry.
Harry :
Adel, kamu dimana? aku khawatir banget sama kamu. Nanti kalau kalau baca pesan dari aku, langsung hubungi aku segera.
Adel hanya bisa tersenyum saja melihat dan membaca isi chat dari Harry tersebut.
'Untuk apalagi Harry, bukannya kamu sudah memiliki tunangan yang selalu sayang sama kamu. Sebenarnya apa artinya aku bagi kamu.' Batin Adel yang sudah berkecamuk.
Dia sampai melupakan hal tersebut karena terlalu antusias mendengar kabar Ratu sudah sadar. Adel memasukkan kembali hp kedalam tasnya. Karena baginya sudah tidak ada yang bisa diharapkan lagi dengan kedekatan diantara mereka berdua. Kesempatan yang Adel berikan kepada Harry sudah lenyap begitu saja...
Adel juga akan menutup hatinya kembali, padahal selama ini dia mulai mencoba untuk membukanya.
'Kenapa hati gue terasa sesak begini ya? bukanya hal ini mudah untuk dilakukan? gue yakin kalau gue bisa menjauh dari tunangan orang lain.' Batin Adel.
"Del, lo ngapain sih malah melamun sendirian disana. Awas kesurupan lo." Teriak Ratu.
"Eh iya...habisnya gue gak tahu mau ngapain. Nisa diluar dan lo lagi ngobrol sama nyokap bokap lo." Ucap Adel beralasan.
"Huh dasar. Sebaiknya lo pulang istirahat aja sana. Besokkan lo kerja...ntar malah kurang tidur lo." Ucap Ratu.
"Iya juga ya, kalau gitu besok gue jenguk lo lagi ya sepulang kerja. Maaf ya gue gak bisa lama disini. Dan semoga lo cepat pulih..bye beb." Adel dengan sopan berpamitan dengan kedua orangtua Ratu dan melambaikan tangannya kepada Ratu sebelum keluar dari ruangan.
Adel juga pamit pulang kepada Nisa dan Dimas.Nisa mengantarnya sampai kedepan rumah sakit. Setelah itu Nisa kembali lagi ...
"Tadi kamu kemana sih Dim?"
"Aku gak enak ganggu kalian didalam. Jadi aku gak ikutan masuk tadi. Aku gak kemana-mana kok cuman berkeliling disekitaran rumah sakit aja. Kenapa kamu kangen ya sama aku?" Ucap Dimas.
"ikh apaan sih Dim, jangan GR deh." Ucap Nisa.
"Bilang aja kangen, itu mukanya merah." Ucap Dimas iseng.
Nisa memegangi pipinya...
"Dasar GR kamu." Ucap Nisa.
"Aku senang kalau lihat kamu malu-malu begitu Nis. Gemes banget lihatnya." Goda Dimas lagi.
"kamu iseng banget deh Dim sekarang." Ucap Nisa.
"Udahan ah, yuk kita masuk kedalam sekalian pamit sama Ratu." Dimas dan Nisa masuk kedalam ruangan untuk berpamitan. Mereka harus segera pulang karena besok akan bekerja seperti biasa tetapi besok mereka akan janjian datang lagi bersama Adel.
Saat sedang berpamitan pulang bertepatan dengan kedatangan Kavin dan orangtuanya. Nyokap bokap Kavin saling menyapa besannya dan saling bercerita satu sama lain sedangkan Kavin menghampiri Ratu kemudian menciumin tangan Ratu dan kening Ratu sekilas.
"Makasih sayang kamu sudah sadar. Maafin aku kalau aku bukan orang pertama yang kamu lihat saat kamu sadar." Ucap Kavin merasa bersalah.
"Hei...aku bisa ngerti kok. Kamu juga punya tanggung jawab yang besar di perusahaan. Jadi jangan merasa bersalah seperti ini lagi." Ucap Ratu.
"Kamu memang istri yang paling mengerti aku. Aku gak bisa bayangin kalau harus hidup tanpa kamu gimana. Makasih sudah menjadi istri yang seutuhnya dengan melahirkan anak kita." Ucap Kavin.
"Iya sayang." Ucap Ratu.
"Vin, maaf sebelumnya gue merusak momet lo sama Ratu. Gue pamit dulu ya..." Ucap Dimas.
"Ok. Thanks ya Dim." Ucap Kavin.
Nisa dan Dimaspun segera keluar dari ruangan setelah berpamitan kepada seluruh orang yang ada didalam.
Setelah kepergian Dimas dan Nisa...
"Sayang, boleh aku lihat anak kita. Aku sudah ngak sabar pengen ketemu daritadi. Boleh ya?" Bujuk Ratu.
"Boleh dong. Ntar aku bilangin sama perawatnya dulu ya. Anak kita mirip banget sama kamu. Dia anak laki-laki yang wajahnya kamu banget malahan." Ucap Kavin.
"Duh jadi makin gak sabar untuk lihat." Ucap Ratu.
Kavin menghubungi perawat untuk membawa bayi mereka sebentar keruangan.
Kavin kembali duduk memegangi tangan Ratu sambil menciuminnya...
Perawat mengetok pintu dan segera masuk membawa bayi mereka. Ratu begitu sangat antusias melihat wajah anaknya. Sakit yang dia rasakan tidak sebanding dengan kehadiran anak ini. Melihat wajanhya yang polos dan lucu membuatnya begitu bahagia.
"Maafin mama ya sayang, maaf kalau kita baru ketemu sekarang my baby boy. Terima kasih kamu hadir dalam hidup mama. Kamu alasan terkuat mama untuk bertahan sayang." Ratu menggendong bayinya untuk pertama kali. Karena terharu dia meneteskan air matanya yang tidak terbendung lagi.
"Siapa nama anak kalian?" Tanya mama mertuanya.
"Iya siapa sayang. Kamu bilang kan kamu yang bakalan menyebut namanya kalau anaknya sudah lahir." Ucap Kavin.
"Namanya....
******
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading Guys!