Playboy Vs Playgirl

Playboy Vs Playgirl
Alasan yang terungkap



Drrrtt...drrrt....drttt...ddrrrt....


Hp Nisa berdering dan bergetar terus-menerus.


'Ganggu aja nih hp disaat-saat seperti ini.' Batin Nisa. Dengan terpaksa dan nada kesal Nisa mengangkat telepon tanpa melihat siapa yang menghubungi terlebih dahulu.


"Halo? Siapa ini?" Ketus Nisa.


"Ini aku Adryan...."


Raut wajahnya berubah seketika. Dimas yang melihatnya langsung menanyakan siapa yang menghubungi.


'Darimana dia dapat nomor gue.' Batin Nisa.


"Maaf salah sambung." Ucap Nisa dan langsung mematikan teleponnya.


"Siapa Nis yang telepon barusan?" Tanya Dimas penasaran.


"Adryan." Ucap Nisa singkat.


"Kayaknya dia bakal terus hubungi kamu Nis. Lain kali kalau ada nomor yang tidak dikenal, jangan diangkat ya." Ucap Dimas.


"Kamu tenang aja ya Dim. Aku gak akan berhubungan sama dia lagi." Ucap Nisa.


"Gimana aku mau tenang Nis kalau kamu masih diganggu begini." Ucap Dimas.


"Kan aku selalu sama kamu terus Dim kemanapun. Gak ada yang harus dikhawatirkan lagi." Ucap Nisa.


"Kamu benar Nis." Ucap Dimas.


'Gak akan aku biarkan Adryan ganggu hidup kamu lagi Nis. Apalagi sampai mengganggu hubungan kita.' Batin Dimas.


Setelah selesai mengobrol, Nisa mengajak Dimas untuk mengobrol didalam rumah dengan bunda.


"Ini bunda buatin cemilan buat kalian." Ucap bunda.


"Wah bunda kalau ada Dimas aja rajin masakin cemilan. Kayaknya bunda disogok nih sama Dimas." Nisa merasa cemburu dengan perhatian bundanya yang lebih banyak kepada pacarnya dibanding dirinya.


"Karena bunda kan udah nganggap Dimas sebagai anak bunda sendiri. Lagian ngapain kamu mesti cemburu sama pacar kamu sendiri sayang? Aneh banget kan Dim?" Tanya bunda meminta pendapat Dimas.


"Dimas setuju sama omongan tante barusan. Kamu mah enak Nis setiap hari diperhatiin, kamu gak kasihan sama pacar kamu yang jauh dari keluarga." Ucap Dimas.


"Ikh sebal !!! Gak ada lagi yang belain Nisa dirumah ini." Nisa memasang muka cemberut kearah keduanya.


"Biarin aja Dim. Ntar juga dia akan baik sendiri." Ucap bunda.


Dimas hanya mengangguk saja mendengar ucapan nyokapnya Nisa barusan.


*****


Dimas selalu menemani kemanapun Nisa pergi. Dia tidak membiarkan kalau Adryan menganggu pacarnya lagi. Nisa juga merasa lebih aman dan nyaman pergi dengan Dimas. Ada rasa terlindungi kalau Dimas berada didekatnya. Sebenarnya dia tidak takut kalau Adryan mendatanginya karena dia sudah menyiapkan kata-kata yang tepat untuk mengusir Adryan dari hidupnya.


Tidak ada kata menyerah untuk Adryan. Dia tidak ingin menyia-nyiakan Nisa lagi. Setidaknya dia masih ingin memperbaiki hubungannya dengan Nisa lagi. Dimas juga mencari tahu semuanya tentang Nisa. Termasuk alamat rumah, pekerjaan serta nomor hpnya. Tak hanya itu dia sampai rela mempekerjakan seseorang untuk memberinya secara terperinci informasi tentang kegiatan dan aktifitas Nisa belakangan ini.


"Ya ada apa?" Dimas mengangkat telepon dari seseorang.


"Sekarang ini Nisa sedang ada di supermarket dekat klinik kecantikannya." Ucap Reno yang sedang mengawasi gerak-gerik Nisa.


"Sendiri ? Atau bersama orang lain?" Tanya Adryan memastikan.


"Sendiri aja bos." Ucap Reno.


"Kirim alamatnya sekarang juga !!! Saya akan segera kesana." Adryan langsung keluar dari kantor menuju ke parkiran mobilnya.


'Sekarang adalah moment yang tepat untuk aku jelasin alasannya Nis. Aku harap kamu mendengarkan perkataan aku kali ini.' Batin Adryan.


Begitu tiba di supermarket, Dimas langsung mencari keberadaan Nisa. Dan benar saja Nisa masih berada disana.


"Hai Nis?" Sapa Adryan.


Nisa yang kaget dengan keberadaan Adryan sampai menjatuhkan cemilan yang ada ditangannya. Kemudian Adryan membantunya untuk memungut cemilan tersebut.


"Gue gak butuh bantuan lo." Ketus Nisa.


"Aku gak akan nyerah Nis sampai kamu dengarkan penjelasan aku." Ucap Adryan.


"Terserah lo. Gue gak peduli." Ucap Nisa langsung meninggalkan Adryan dan pergi ke kasir.


Adryan masih saja mengikuti Nisa. Sedangkan Nisa pura-pura tidak mengenalnya dan memalingkan wajahnya ke depan kasir. Setelah pembayaran, Nisa masih saja diikuti oleh Adryan. Berhubung supermarkernya dekat dengan klinik, Nisa hanya berjalan saja. Adryan yang sudah berkali-kali dicuekin tetap saja tidak menyerah.


Nisa mempercepat langkahnya dan berlari utnuk menghindari Adryan. Saat berlari Nisa tidak melihat kalau ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi hampir saja menabraknya. Adryan sempat menarik tangannya agar terhindar dari mobil tersebut tapi malah membuat Adryan yang tertabrak oleh mobil tersebut karena tidak sempat untuk mengelakkan diri lagi.


Bruukkkk....


Tubuh Adryan tertabrak dan tercampak kedepan. Nisa berteriak histeris saat melihat kejadian didepan matanya itu. Dia sangat panik melihat darah yang mengalir dari tubuh Adryan. Sedangkan mobil yang menabrak malah melarikan diri. Nisa benar-benar panik dan blank saat ini. Tidak terpikirkan untuk meminta pertolongan kepada siapa.


"Adryan !!! Please tetap bertahan. Gue akan cari bantuan." Teriak Nisa berkali-kali menggoyangkan tubuh Adryan.


"Adryan !! Adryan...." Teriaknya terus-menerus.


'Apa yang halus lakukan sekarang? Gue benar-benar takut kalau sesuatu terjadi. Ini semua salah gue. Adryan sampai seperti ini semuanya karena gue. Kalau aja gue gak melarikan diri dari dia , semua gak akan pernah terjadi.' Batin Nisa.


Reno yang melihat kejadian tersebut langsung mendekat dan membantu Nisa untuk segera membawa Adryan ke rumah sakit.


*****


Nisa mondar-mandir kesana kemari tepat didepan ruangan Adryan. Saat ini pikirannya sangat kacau dan dia hanya ingin Adryan bisa selamat. Karena kalau terjadi sesuatu pada Adryan, dia akan menyalahkan dirinya untuk itu. Keluar masuk perawat dari ruangan Adryan. Perawat menyarankan untuk Nisa segera menghubungi keluarga pasien. Diapun mencari tahu nomor hp orangtua Adryan melalui hp Adryan yang Reno kasih. Setelah mengabari keluarga Adryan, Nisa ingin menghubungi bundanya. Disaat dia membuka hp, hpnya langsung berdering....


"Hai beb... kenapa tadi lo telpon gue?" Tanya Adel.


"Sebaiknya lo sama Ratu temani gue dirumah sakit. Adryan ditabrak mobil karena mau nyelamatin gue. Dan tolong kasih kabar ke bunda dan Dimas juga. Gue gak tahu lagi harus gimana sekarang." Terdengar suara Nisa yang panik dan menangis.


"Apa? Adryan?" Tanya Adel bingung.


"Iya ...Adryan." Ucap Nisa dengan suara bergetar.


"Lo tenang dulu beb, jangan panik begitu. Oke gue akan kabarin yang lain ya. Lo kirim alamat rumah sakitnya sekarang juga." Ucap Adel.


"Oke Del." Nisa langsung sharelok alamat rumah sakit kepada Adel.


"Lo tungguin kedatangan kita ya. Ingat jangan panik dulu. Semoga Adryan gak kenapa-napa." Ucap Adel.


"Makasih Del." Ucap Nisa singkat. Setelah itu panggilan telepon mereka berakhir.


Nisa menghampiri Reno yang duduk sendirian...


"Lo siapanya Adryan?" Tanya Nisa.


"Saya Reno, saya adalah orang yang bekerja untuk bos Adryan." Reno memperkenalkan diri secara sopan kepada Nisa dengan menjabat tangannya.


"Maksudnya?" Tanya Nisa bingung.


"Saya ditugaskan untuk mencari tahu tentang anda. Bosa Adryan sudah lama sekali mencari informasi tentang keberadaan anda selama ini. Dia punya alasan untuk dijelaskan ke anda." Jelas Reno.


"Berapa lama dia cari tahu tentang gue?" Tanya Nisa.


"Sepulang dari London. Dia sempat tinggal disana selama 1 tahun. Setelah itu dia menyewa saya untuk mencari tahu tentang anada selama bertahun-tahun. Dikarenakan anda pindah rumah dan pindah sekolah, dia tidak tahu jejak anda lagi. Baru belakangan ini dia tidak sengaja bertemu dengan anda lagi dan dia menyuruh saya untuk mencari info keberadaan anda nona Nisa." Jelas Reno lagi.


"Oh gitu. Pantas aja Adryan tahu semuanya termasuk nomor hp dan alamat klinik kecantikan gue." Ucap Nisa.


"Apa dia pernah cerita tentang alasannya meninggalkan gue dulu?" Tanya Nisa.


"Untuk hal itu saya tidak tahu. Biarkan bos Adryan sendiri yang menjelaskan tentang hal itu." Ucap Reno.


"Tapi yang saya tahu kalau bos Adryan masih mencintai anda sampai saat ini. Dia merasa bersalah karena meninggalkan anda tanpa alasan." Ucap Reno.


"Makasih tentang infonya." Ucap Nisa.


"Sama-sama nona Nisa. Saya harap anda bisa memaafkan bos Adryan." Ucap Reno.


Nisa hanya tersenyum getir mendengar ucapan Reno barusan.


*****


Selang 1 jam, perawat mengabari kalau pasien sudah melewati masa krisis dan sudah bisa dijenguk. Nisa sangat senang mendengarnya. Nisa segera masuk kedalan ruangan Adryan.


"Hai Nis..." Sapa Adryan senang melihat keberadaan Nisa.


"Eh hai..." Nisa terlihat masih canggung untuk mengobrol dengan Adryan. Karena sudah terlalu lama dia terlalu membencinya.


"Aku senang bisa mengobrol dengan kamu lagi Nis. Aku senang bisa ketemu kamu lagi Nis." Ucap Adryan.


"Gimana keadaan lo sekarang? Gue minta maaf. Ini semua karena gue." Ucap Nisa.


"Kamu gak salah Nis. Aku gak akan biarin kalau kamu yang ketabrak mobil. Aku gak mau kehilangan kamu lagi Nis. Selama ini aku udah sangat tersiksa karena gak dapat kabar dan keberadaan kamu." Ucap Adryan.


"Kenapa lo mempertaruhkan nyawa lo demi nyelamatin gue ? Kenapa Adryan?" Tanya Nisa.


"Karena aku sayang banget sama kamu Nis. Semuanya akan ku pertaruhkan termasuk nyawa aku sendiri." Ucap Adryan.


"Bodoh !!! Kamu bodoh Adryan." Ucap Nisa.


"Terserah kamu mau bilang apa Nis." Ucap Adryan.


"Bagaimana kalau tadi lo gak bisa diselamatkan? Gue akan hidup dengan perasaan bersalah selamanya. Apa itu keinginan lo Adryan?" Ucap Nisa.


"Mungkin dengan cara itu kamu bisa maafkan semua kesalahanku dulu Nis." Ucap Adryan.


Nisa menggelengkan kepalanya tanda bahwa dia tidak setuju dengan perkataan Adryan barusan.


"Maaf kalau aku udah buat kamu khawatir Nis. Tapi kamu bisa lihat kalau sekarang aku baik-baik aja." Adryan berusaha menghibur Nisa agar tidak merasa bersalah atas dirinya. Adryan menghapus air mata Nisa yang sedaritadi megalir tanpa henti.


"Jangan pernah menangis lagi Nis. Aku gak suka lihat kamu nangis." Ucap Adryan.


Nisa tersenyum mendengar ucapan Adryan barusan.


"Makasih untuk bertahan hidup Adryan." Ucap Nisa.


"Aku boleh minta 1 permintaan sama kamu Nis?" Tanya Adryan.


"Permintaan? Apa itu Adryan?" Tanya Nisa.


"Kamu peluk aku sebentar aja ya." Ucap Adryan.


Tanpa menunggu lagi, Nisa memeluk tubuh Adryan.


"Aku kangen banget sama kamu Nis. Maaf aku pernah begitu nyakitin kamu." Ucap Adryan.


Nisa tidak menjawab perkataan Adryan barusan.


Bunda, Dimas, Ratu dan Adel masuk disaat yang tidak tepat. Mereka menyaksikan saat Nisa sedang memeluk Adryan.


"Nisa..." Teriak Dimas.


Nisa melihat kearah Dimas dan segera melepaskan pelukannya.


"Dimas..." Ucap Nisa gugup dan kaget sekaligus.


"Bagaimana kondisi Adryan sekarang sayang? " bunda berusaha mengalihkan pembicaraan. Karena saat ini bunda sangat tahu kalau Dimas sedang kesal dengan Nisa.


"Adryan  sudah melewati masa krisisnya bunda. Tadi Nisa sempat khawatir banget." Ucap Nisa.


"Tapi lo gak kenapa-napa kan beb? Lo gak terluka juga kan?" Tanya Adel.


"Gue gpp kok." Ucap Nisa.


"Syukurlah kalau gitu. Kita semua cemas banget saat tahu kejadian ini." Ucap Ratu.


Dimas hanya terdiam saja dan memperhatikan Nisa dan Adryan terus-terusan. Hatinya masih belum bisa menerima saat pacarnya memeluk mantan kekasih tepat dihadapannya. Tak lupa Nisa menceritakan semua kejadian yang barusan terjadi.


"Semoga nak Adryan cepat pulih ya. Makasih udah nyelamatkan Nisa." Ucap bunda.


"Amin...makasih tante udah mau datang jengukin Adryan disini." Ucap Adryan.


"Tante juga senang karena kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama." Ucap bunda.


"Tante sama om sehat-sehat aja kan?" Tanya Adryan.


"Tante sehat kok. Kalau om sudah tidak merasakan sakit lagi sekarang." Ucap bunda.


"Maksud tante?" Tanya Adryan bingung.


"Bokap gue udah lama meninggal." Potong Nisa.


"Maaf tante, Adryan gak maksud." Adryan merasa bersalah karena pertanyaannya barusan.


"Gpp nak Adryan." Ucap bunda.


Nisa melihat kearah Dimas yang sedaritadi hanya diam saja. Raut wajahnya masih terlihat sangat kesal.


"Ini kita bawain buah sama roti untuk Adryan." Ucap Adel.


Nisa meletakkannya keatas meja tepat disamping Adryan.


"Makasih ya. Maaf jadi ngerepotin." Ucap Adryan.


"Gak kok, kita gak merasa direpotin sama sekali." Ucap Adel.


Dimas yang tidak tahan melihat pacarnya memberi perhatian kepada Adryan, akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut tanpa sepatah kata. Nisa melihat saat Dimas keluar kemudian pamit keluar sebentar. Dia berlari untuk mengejar Dimas tetapi kehilangan jejak.


'Kok cepat banget Dimas ngilangnya ya. Padahal gue udah lari ngejar dia.' Batin Nisa.


Nisa yang masih ngos-ngosan itu mulai mengatur pernafasannya kembali. Karena dia tidak melihat keberadaan Dimas lagi, dia memutuskan untuk balik keruangan Adryan. Baru beberapa langkah berjalan, tangannya ditarik dengan kuat oleh seseorang. Hampir saja Nisa ingin memarahi orang tersebut. Ternyata yang menarik tangannya adalah Dimas.


"Dimas?" Ucap Nisa sedikit gugup.


"Aku mau kamu jelasin tentang pelukan yang tadi." Ucap Dimas tanpa basa basi.


"Oh itu. Aku gak ada maksud apa-apa kok Dim. Kamu jangan salah paham ya." Ucap Nisa.


"Terus apa arti pelukan tadi Nis?" Tanya Dimas penuh selidik.


"Gak ada artinya sama sekali Dim. Saat aku peluk Adryan itu karena aku terlalu khawatir aja. Beda sama saat aku peluk kamu. Kalau itu karena aku mencintai kamu. Jadi kamu jangan mikir yang macam-macam. Hati aku sekarang hanya untuk kamu aja Dim. Gak ada ruang untuk orang lain walaupun itu orang dari masa lalu aku." Jelas Nisa.


"Kamu yakin? Kalau hati kamu gak akan berubah ke Adryan lagi? Tapi dari yang aku lihat tadi, kamu masih peduli dan perhatian banget sama dia Nis." Ucap Dimas.


"Aku peduli dan perhatian karena dia orang yang nyelamatkan aku ketabrak mobil. Dan dia malah ngorbankan dirinya sendiri yang ketabrak demi aku. Jadi aku minta izin sama kamu untuk aku ngerawat dan jagain dia sampai pulih. Aku hanya mau bertanggung jawab aja Dim. Semoga kamu bisa ngertiin aku." Ucap Nisa.


"Aku gak tahu harus bilang apa Nis. Aku hanya takut kalau hati kamu berubah lagi. Aku takut kehilangan kamu. Maaf kalau aku egois." Ucap Dimas.


"Gak akan Dim. Kamu harus percaya sama aku." Ucap Nisa.


"Oke kalau gitu." Ucap Dimas.


"Itu artinya kamu kasih aku izinkan Dim?" Tanya Nisa memastikan.


"Aku izinkan tapi jangan pakai sentuh-sentuh Adryan lagi." Ucap Dimas.


"Makasih Dim. I love you." Ucap Nisa.


Setelah Dimas mengizinkan, Nisa merasa lebih lega sekarang. Seenggaknya dia ingin merawat dan menjaga Adryan karena rasa tanggung jawab.


Bunda, Adel, Ratu dan Dimas pamit pulang...


"Kamu msih ingin disini sayang?" Tanya bunda.


"Boleh kok sayang. Tapi kamu juga jangan lupa untuk makan ya." Ucap bunda.


"Pasti bunda. Nanti baju Nisa tolong digojekin aja bunda." Ucap Nisa.


"Gak usah. Ntar gue aja yang antar kesini." Ucap Dimas.


"Oh oke." Ucap Nisa.


"Kita juga balik dulu ya beb. " Ucap Adel.


"Makasih ya kalian udah datang dan nemani gue disini." Ucap Nisa.


"Sama-sama beb. Maaf kalau kita gak bisa lama disini." Ucap Ratu.


"Gpp beb. Gue ngerti kok." Nisa cipika-cipiki dengan kedua sahabat dan bundanya.


Setelah kepergian bunda dan teman-temannya, Nisa kembali menemani Adryan didalam ruangan.


*****


Nisa melihat Adryan yang tertidur lelap. Nisa memotong beberapa buah dan memakannya. Setelah itu dia duduk lagi di kursi tepat disebelah tempat tidur Adryan. Lama-kelamaan Nisa sudah tidak sadar dan tertidur.


Adryan terbangun karena merasa tangannya tertimpa. Dia melihat Nisa tertidur pulas. Perlahan dia menggeser tangannya yang ditimpa oleh Nisa. Adryan tersenyum kearah Nisa sambil tersenyum menatap Nisa.


'Akhirnya aku bisa memandang kamu dari dekat Nis.' Batin Adryan.


Tanpa Adryan sadari kalau Dimas melihat kearah mereka berdua dengan perasaan kesal. Tanggannya mengepal menyaksikan Adryan tersenyum kearah Nisa sambil mengelus rambutnya. Dimas mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam.


Drrrt........drrrt........drrrrt.......drrrtt..


Hp Nisa berdering dan bergetar dikantong celananya. Nisa mulai membuka matanya dan tersadar. Dia melihat Adryan yang masih tertidur. Perlahan Nisa melangkah keluar untuk mengangkat telepon diluar. Dia tidak ingin membuat Adryan terbangun karena mendengarnya telponan.


Dimas menariknya menjauh dari ruangan Adryan.


"Dimas..." Ucap Nisa kaget.


"Kita mau kemana sih? Kamu kok main tarik begini." Ucap Nisa lagi.


Dimas masih saja diam dan menarik Nisa masuk kedalam mobilnya.


"Ada apa sih Dim?" Tanya Nisa yang masih bingung sama tingkah Dimas.


Dimas berusaha menenangkan dirinya.


"Itu aku bawain pakaian dan makanan untuk kamu." Ucap Dimas.


"Oh...kenapa gak diantar kedalam?" Tanya Nisa.


"Tadinya aku mau antar tapi kamunya lagi tidur. Kamu udah ingkari janji. Tadikan kamu janji gak akan bersentuhan sama Adryan." Ucap Dimas.


"Aku gak ada bersentuhan lagi sama dia Dim. Aku berani sumpah." Ucap Nisa.


"Aku lihat sendiri kamu tadi tidur terus Adryan menatap kamu dengan tersenyum dan mengelus lembut rambut kamu lumayan lama. Bukannya bangun kamu malah tambah nyenyak tidurnya." Jelas Dimas.


"Kam bukan aku yang nyentuh dia Dim. Terus salah aku dimana?" Tanya Nisa.


"Salah kamu karena tertidur disampingnya. Kamu mau buat dia berharap lagi sama kamu Nis. Iya?" Tanya Dimas.


"Aku gak ada kepikiran kayak gitu Dim. Kamu jangan mikir yang aneh deh. Kalau kamu datang hanya untuk ribut, maaf aku gak ada waktu." Nisa mengambil tas dan makanan yang dibawa Dimas.


"Kok jadi kamu yang marah Nis? Kamu itu gak tahu bagaimana perasaan aku Nis." Dimas mencegah Nisa keluar.


"Sekarang aku hanya butuh dukungan kamu sebagai pacar bukannya malah marah begini." Ucap Nisa.


"Aku begini karena lagi cemburu sama kamu Nis." Ucap Dimas.


Nisa menatap mata Dimas dalam-dalam...


"Coba kamu bilang sekali lagi." Ucap Nisa.


"Gak ada pengulangan Nis." Dimas menunduk malu setelahnya.


Nisa mencubit kedua pipi pacarnya...


"Gemesnya pacar aku nih. Aku senang deh melihat kamu cemburu begini." Ucap Nisa.


"Ledekin aja terus Nis." Ucap Dimas.


"Habisnya kamu lucu sih. Ini peetama kalinya aku melihat kamu cemburu seperti ini. Biasanya kan aku yang cemburu." Ucap Nisa.


"Ayuk aku antar kamu kedalam." Dimas membawa tas dan makanan tadi dan mengantarnya sampai kedepan ruangan Adryan.


"Aku antar kamu sampai sini aja ya." Ucap Dimas.


"Kenapa gak masuk aja Dim?" Tanya Nisa.


"Gak deh Nis. Kalau ikutan masuk aku yang gak tahan lihat pacar aku perhatiin cowok lain." Ucap Dimas.


"Oh jadi itu alasannya..."


"Kalau ada apa-apa kamu jangan lupa untuk ngabari aku." Ucap Dimas.


"Pasti Dim..."


Setelah itu Dimas pamit pulang.


*****


Malam harinya, Nisa menyuapi Adryan makan bubur yang diberikan perawat.


"Aku gak mau makan lagi Nis. Rasanya aneh. Buat lidah jadi makin pahit aja.."Tolak Adryan.


"Kalau gitu aku potongin buah ya." Ucap Nisa.


Adryan mengangguk setuju...


"Oh iya? Kenapa ortu lo belum datang juga ? Padahal udah di kasih kabar tentang lo." Ucap Nisa.


"Ortu ku lagi berada diluar kota Nis. Jadi gak mungkin datang." Ucap Adryan.


"Pantas aja gak ada tanda-tanda kedatangan."


"Kamu gak makan Nis?" Tanya Adryan.


"Ntar aja deh." Ucap Nisa.


"Makan sekarang. Kalau gak aku juga gak mau makan buah yang kamu potongin. Ntar kamu malah sakit Nis. Maaf kalau aku jadi ngerepotin kamu." Ucap Adryan.


"Iya gue makan sekarang. Ini buah yang udah gue potongin." Nisa memberikan potongan buah apel dan mangga kepada Adryan. Setelah itu dia makan sate kacang yang dia pesan secara online.


Sehabis makan, Nisa kembali duduk disebelah Adryan...


"Nis..." Ucap Adryan yang mendadak serius.


"Ya." Nisa menjawab sekedar saja.


"Boleh aku tanya sesuatu?" Adryan meminta izin terlebih dahulu karena takut Nisa akan marah.


"Mau tanya apa?" Nisa menatap Adryan dengan serius.


"Kapan bokap lo meninggal?" Adryan memberanikan diri untuk menanyakannya.


"Hmm emang kenapa nanyain ini." Ucap Nisa.


"Sebelumnya aku minta maaf karena udah bahas ini. Tapi kalau kamu gak mau jawab juga gpp kok." Adryan sadar kalau pertanyaannya membuat Nisa teringat kembali sekaligus membuatnya sedih.


"Bokap gue meninggal seminggu setelah lo ninggalin gue." Perkataan Nisa barusan membuat Adryan semakin merasa bersalah.


"Maaf Nis." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Adryan.


"Bukan salah lo kok. Lagian bokap gue meninggal karena udah jalannya aja." Ucap Nisa.


"Aku minta maaf karena udah ninggalin kamu Nis. Aku tahu kalau kamu udah benci banget sama aku tapi semuanya gak seperti yang kamu pikirkan Nis." Ucap Adryan.


"Gue lagi gak mood bahas masa lalu Adryan." Nksa berusaha menghindari pembahasan ini, dia melangkah untuk keluar dari ruangan.


"Tapi kamu harus tahu alasannya Nis. Sampai kapan kamu menghindar terus seperti ini?" Teriak Adryan kemudian Adryan meringis kesakitan memegangi kepalanya.


"Awwww sakit..."


"Lo gpp kan Adryan? Tolong jangan nakuti gue." Nisa segera memanggil perawat untuk memeriksa kondisi Adryan.


Perawat memeriksa dan menyuntikan obat kedalam infus Adryan.


"Kenapa dengan pasien ini sus?" Tanya Nisa memastikan.


"Pengaruh dari tabrakan yang dialaminya membuat kepalanya masih terasa sakit. Masih butuh waktu buat pasien untuk pulih kembali. Sakit kepala akan sering pasien alami." Jelas perawat.


"Butuh waktu berapa lama buat pasien ini pulih?" Tanya Nisa lagi.


"Paling cepat 1 minggu dan paling lama sekitar 2 mingguan. Tapi belum dapat dipastikan tergantung kondisi pasien nantinya." Ucap perawat itu.


"Makasih suster informasinya." Nisa kembali masuk kedalam ruangan Adryan.


Nisa menyuruh Adryan untuk beristirahat tapi ditolak olehnya. Karena Adryan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengobrol dan menjelaskan semuanya kepada Nisa...


"Sebenarnya suster tadi bilang apa tentang kondisi ku Nis?" Tanya Adryan.


"Lo disuruh untuk banyak istirahat karena kondisi yang masih lemah." Ucap Nisa.


"Aku gak akan istirahat sebelum kamu mau mendengarkan alasan ku Nis." Adryan memakai ancaman ini agar Nisa menuruti kemauannya.


"Kenapa sih lo susah banget dibilangi ? Ini untuk kesembuhan lo juga. Emangnya lo mau berlama-lama nginap dirumah sakit ini." Ucap Nisa.


'Kalau dengan cara ini yang buat kamu peduli dan perhatian sama aku lagi Nis. Aku akan lakukan. Karena aku tahu kamu akan menjauh setelah aku keluar dari rumah sakit ini.' Batin Adryan.


"Malam ini aku akan ngikutin kemauan kamu Nis untuk beristirahat. Tapi kamu janji dulu ...besok malam kamu akan dengar penjelasanku." Ucap Adryan yang merasa mulai mengantuk akibat suntikan obat kedalam infusnya tadi.


Mau gak mau Nisa menyetujui ucapan Adryan untuk malam ini. Padahal sebenarnya Nisa tidak ingin mendengar lagi apapun alasan dari Adryan karena dia tidak ingin saja. Menurutnya apapun alasan Adryan tidak akan merubah hatinya lagi. Dia sudah menganggap Adryan sebagai masa lalu yang sudah dia lupakan. Setelah melihat Adryan sudah terlelap, Nisa mengirim sms untuk Dimas....


Nisa :


Selamat beristirahat Dimas, jangan lupa mimpiin aku ya ♡


Dimas :


Kamu juga selamat istirahat. Jangan terlalu dekat sama Adryan. Ingat untuk jaga jarak ya. ♡


Nisa :


Aku ingat kok. Ini aku tidur di sofa, jadi kamu gak usah khawatir.


Dimas :


Baguslah kalau gitu. Besok pagi aku antar sarapan untuk kamu sebelum berangkat kerja ya.


**Nisa : **


Oke. Aku tunggu kedatangannya besok. Aku sayang kamu.


**Dimas : **


Aku juga sayang kamu.


Setelah membaca sms terakhir dari Dimas, Nisa mengambil selimut dan bantal leher dari dalam tasnya. Kemudian dia mulai merebahkan tubuhnya di sofa.


*****


Dimas sudah berada di parkiran rumah sakit, dia menunggu Nisa untuk datang mengambil sarapannya.


Tok tok tok...


Nisa mengetuk kaca mobil Dimas. Dengan segera dia membukanya...


"Maaf udah buat kamu nunggu Dim." Ucap Nisa.


"Ini sarapannya jangan lupa dimakan. Aku langsung pergi ya Nis. Maaf kalau aku buru-buru pagi ini aku ada janjian ketemu klien."


"Gpp kok aku ngerti. Semangat kerjanya ya." Nisa keluar dari mobil dan membawa makanan.


Sampai didalam ruangan, Nisa memakan sarapannya kemudian menyuapi Adryan makan dan minum obat. Adryan merasa senang karena terus mendapat perhatian dari Nisa. Walaupun di juga tahu kalau perhatian itu hanya bisa dia rasakan sesaat aja.


*****


Malam harinya setelah mereka berdua selesai makan, Adryan menatap mata Nisa sambil memegang tangannya...


"Ada apa Adryan?" Nisa kaget karena tangannya dipegang oleh Adryan.


'Semoga Dimas gak ngelihat kejadia ini. Aku gak mau nanti malah jadi salah paham.' Batin Nisa.


Nisa berusaha melepaskan tanganya tapi adryan semakin memperkuat  memegang tangannya.


"Aku pegang begini biar kamu gak lari lagi Nis karena malam ini aku akan menjelaskan semuanya." Ucap Adryan.


"Tolong lepas tangan gue, gue janji gak akan lari lagi." Adryan melepas tangan Nisa karena dia tahu kalau sudah membuat Nisa menjadi tidak nyaman dekat dengannya.


"Maaf Nis." Ucapnya.


"Gue udah siap mendengarkan alasan yang ingin  sampaikan." Ucap Nisa.


"Jadi dulu aku mendadak pergi ke London dan ikut ortu kesana bukan karena bisnis orangtua ku tapi karena mama ku sakit parah dan disuruh dokter untuk melanjutkan perawatan disana. Karena kondisi mamaku yang semakin hari semakin parah dan drop, jadi papa gak mau ambil resiko. Waktu itu aku dalam keadaan shock karena selama ini papa menutupi tentang penyakit mama. Papa sudah menyiapkan tiket dan keberangkatan secara mendadak. Hp ku hilang disaat aku mondar mandir keluar masuk rumah sakit Nis. Aku gak bisa hubungi kamu sama sekali pada saat itu. Setiap harinya di London aku selalu merindukan kamu dan merasa bersalah karena sudah meninggalkan kamu Nis. Selama setahun pengobatan, mama sudah dinyatakan lebih baik tapi harus tetap kontrol sebulan dua kali di rumah sakit Jakarta dan akhirnya kamipun pulang dari sana. Sepulang darisana, aku datang kerumah kamu tapi ternyata kamu udah tidak tinggal disana lagi. Aku coba datangin ke sekolah tapi kamu sudah pindah sekolah bersama kedua teman dekat kamu. Aku benar-benar kehilangan jejak kamu Nis. Tapi aku gak nyerah, aku tetap mencari info tentang kamu selama bertahun-tahun sampai akhirnya kita bertemu lagi. Itulah kenyataannya Nis yang harus kamu tahu." Jelas Adryan panjang lebar.


"Makasih udah jelasin semuanya Adryan. Tapi perasaan gue udah berubah. Setelah lo ninggalin gue, dan gak berapa lama ayah juga ninggalin gue. Perasaan sakit yang teramat dalam yang gue rasakan waktu itu. Tapi gue menjadi pribadi yang lebih kuat karena masih ada bunda dan teman-teman yang sayang sama gue. Jadi gue harap lo lupain semua tentang kita. Maaf kalau kata-kata gue nyakitin lo. Tapi itu juga kenyataan yang harus lo tahu." Ucap Nisa.


"Gak ada kesempatan kedua untuk aku Nis? Kita masih bisa perbaiki semuanya. Aku yakin." Ucap Adryan.


"Maaf Adryan...hati gue udah milik orang lain. Gue berharap lo bisa nemuin kebahagian. Jangan berharap apa-apa lagi." Ucap Nisa.


"Mungkin rasa sakit ini belum sepadan sama rasa sakit yang pernah kamu alamin Nis. Tapi makasih kamu udah jujur sama aku. Seenggaknya aku udah lega karena bisa jelasin semuanya ke kamu." Ucap Adryan.


"Maaf Adryan..."


"Kamu gak perlu merasa bersalah Nis. Aku yang salah udah ninggalin kamu. Aku yang seharusnya minta maaf." Ucap Adryan.


"Aku udah maafin kok Adryan."


"Makasih Nis, aku lega sekarang. Selama ini perasaan bersalah terus menghantui setiap hari." Ucap Adryan.


Tanpa mereka sadari, Dimas mendengarkan percakapan mereka berdua barusan. Tapi Dimas merasa sangat tenang sekarang. Karena Nisa tetap memilihnya. Perawat datang membuat Dimas kaget. Nisa dan Adryan tersadar kalau ada seseorang yang mendengarkan obrolan mereka karena terdengar suara seseorang. Saat perawat masuk, Nisa pergi untuk keluar ruangan...


"Kamu...."


*****


Gimana pada suka gak? mohon berikan komentarnya yaa...


Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya..


jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.


Terimakasih masih setia membaca novel ini.


Happy Reading Guys!