
"Tolong kamu sekarang datang keruangan..." Ucap Harry didalam telepon kepada sekeretarisnya.
"Baik pak..." Ucap Adel. Semenjak Raya masuk kedalam penjara, Harry menyuruh Adel untuk menggantikan posisi Raya untuk sementara waktu. Karena disaat seperti ini Harry sangat membutuhkan seseorang untuk mengurus beberapa jadwal serta kerja sama dari pihak klien. Dan untugnya lagi Adel mempunyai seorang asisten yang selama ini membantu pekerjaannya. Jadi dia tidak terlalu keteter. Semua bisa dia handle dengan sangat baik.
Tok...Tok...Tok...
"Masuk" Ucap Harry.
Adel perlahan masuk kedalam ruangan. Raut wajah Harry terlalu serius saat ini sampai Adel bertanya-tanya sendiri.
"Hari ini kita akan bertemu dengan klien penting, tapi klien ini juga klien baru yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita. Saya minta kamu persiapkan semua dokumen yang harus kita bawa nanti siang." Ucap Harry.
Harry menyerahkan pekerjaan yang harus segera Adel selesaikan...
"Baik pak." Ucap Adel.
Adel kembali ketempat duduknya, dia mengerjakan beberap berkas untuk dibawa saat meeting dengan klien di siang hari. Sesekali dia menguap saat mengetik pada lapotopnya. Dari ruangan Harry dengan jendela yang transparan mampu menembus seseorang dari sana. Yang lebih parahnya lagi Adel mengetik sambil menahan rasa kantuk yang sangat luar biasa baginya.
'Apa yang salah dengan Adel hari ini? dia seperti tidak bisa menahan rasa ngantuk sama sekali. Jangan bilang kalau Adel gak tidur semalaman? Tapi gue percaya kalau dia tadi malam pasti sudah tidur duluan karena dia gak balas chat lagi setelah pernyataan cinta dan meminta kesempatan kepada Adel.' Batin Harry.
'Gak !!! gak bisa kayak gini terus gue harus segera hilangkan rasa ngantuk ini. Ntar malah ketikan gue pada bersalahan lagi. Ini semua karena Harry...sumpah gue gak bisa tidur satu malaman karena mikirin ucapannya.' Adel mengangkat kedua tangannya keatas untuk mencoba merilekskan otot tangannya yang mulai tegang.
Dari dalam ruangan masih saja Harry terus mengawasi serta memperhatikan tingkah laku Adel. Terlihat ekspresi bahagia karena kini setiap detik dia bisa melihat orang yang dia sukai secara langsung. Tidak seperti dulu hanya bisa memandang Adel setelah pulang kerja. Sudah 2 minggu setelah Raya tidak bekerja lagi diperusahaan sejak saat itu juga Harry lebih banyak menghabiskan waktunya didalam ruangan. Terkadang Harry sempat berfikir untuk menjauhi Adel agar perasaannya bisa menghilang sejenak. Ada rasa ragu, takut dan kacau saat dia ingin melakukannya. Pikiran dan hatinya tidak pernah bisa sejalan. Dalam pikirannya ingin sekali menjaga jarak tapi hatinya menolak melakukan itu.
Kepala Adel terus-menerus tertunduk kebawah sampai dia terjedut meja...
"Awww..." Ucapny yang sedikit meringis. Harry segera keluar ruangan untuk segera menghampirinya.
"Kamu kenapa sih Del? lebih baik kalau kamu pulang aja kalau gak fokus kerja." Tanya Harry.
"Eh...itu...gpp kok pak. Saya permisi ke toilet dulu ya . Maaf..." Adel dengan buru-buru meninggalkan atasannya yang masih berdiri mengkhawatirkannya saat ini.
Sambil berjalan dia sambil mengutuki kebodohannya sendiri. ' Bodoh banget sih gue. Kenapa gak sadar kalau disana udah ada Harry. Kan bisa-bisa ketahuan kalau gue gak tidur. Masalahnya gue gak balas chat dia lagi semalam karena masih bingung.' Batin Raya sambil menepuk-menepuk keningnya sendiri.
Begitu sampai di toilet, langsung saja dia membasuh wajahnya berulang kali dengan air agar rasa ngantuk itu segera hilang. Tak lupa dia mengelap wajahnya dengan tisu dan memakai sedikit makeup untuk menampilkan kesan fresh.
"Oke udah mendingan mata gue udah terlihat lebih segar dari sebelumnya." Ucapnya saat mlihat dirinya didepan cermin. Setelah itu dia berjalan kembali lagi kearah dapur kantor untuk membuat kopi. Disana dia bertemu dengan beberapa orang yang tidak sadar akan kehadiran Adel. Mereka berbicara ataupun bergosip tentang hubungan dia dan pimpinan perusahaan mereka sendiri. Karena begitu banyaknya yang ingin menggantikan posisi Raya sebagai sekretaris pak Harry dan hanya Adel yang dipilih sendiri. Mereka mencurigai kalau ada terjadi sesuatu diantara bos dan sekretaris pengganti tersebut. Berbagai spekulasi muncul hingga Adel tidak mampu utuk masuk kedalam ruangan tersebut padahal tangannya sudah memegang gagang pintu mobil tersebut. Adel memutuskan untuk tidak jadi masuk kedalam.
'Memang dasar orang-orang disini pada munafik semua, didepan gue baik, ramah ternyata ngegosipin gue dari belakang. Dasar !!! kenapa juga mereka bisa mengambil kesimpulan sendiri tanpa tahu kejadian sebenarnya. Ah pusing gue jadinya mendingan gue cuekin aja orang-orang seperti itu kayak gak ada kerjaan aja.' Batin Raya yang berjalan sambil sedikit begong tersebut.
Jujur dalam hatinya merasa sangat kesal karena ada orang yang berani gosipin hubungan dia dan Harry. Hal ini juga yang sebenarnya membuat Adel susah untuk membuka hati kepada Harry. Dia hanya tidak ingin merusak citra bosnya didepan para karyawan. Rasa kesal dia luapkan dengan membanting berkas-berkas yang ada diatas mejanya.
"Kalau berani ngomong didepan dong jangan main belakang begini. Padahal selama ini gue udah baik sama semua orang yang ada diperusahaan ini. Sepertinya mereka malah menyalah gunakan kebaikan gue. Oke mulai dari sekarang gue akan berubah menjadi orang yang cuek dan tidak acuh kepada semuanya. Kecuali Harry dan asisten yang menggantikan posisi gue untuk sementara. Karena gue sngat mengenal betul bagaimana sifat bawahan gue tersebut. Semoga aja kali ini gue gak salah mengenal orang lagi. Karena semua orang yang gue anggap baik ternyata bisa menusuk begini. Masih tidak menyangka aja sih sebenarnya...
"Emangnya gue yang bersalah disini, udah jelas-jelas harry sendiri yang mendekati gue. Emangnya salah ya kalau kami dekat. Kenapa sih orang-orang berfikir selalu negatif kalau sekretaris dekat dengan bosnya. Emang dasar." Ucap Adel.
Harry :
Kamu lagi kenapa sih? kayak orang yang lagi kesal begitu.
Hpnya berdering dan dia kaget saat membaca isi chat Harry. Adel melihat kearah pembatas kaca yang transparan diantara mereka. Bisa-bisanya Harry ngelihatin gue daritadi. Sialnya. Itulah yang ada didalam pikirannya saat ini. Dia melihat kearah Harry untuk mengisyaratkan tidak ada yng terjadi. Tapi karena Harry tidak megerti apa maksud Adel tersebut.
Adel :
Aku gak kenapa-napa.
Balasan singkat padat dan jelas yang dibaca oleh Harry.
**Harry : **
Nanti siang kamu ikut makan siang dengan klien kan?
Rasanya Adel ingin menolak ajakan tersebut tapi bagaimanapun dia harus bekerja secara profesional sekarang yang tidak membedakan persoalan pribadi dengan pekerjaan.
**Adel : **
Terserah bapak saja.
Harry :
Bapak? Kamu kan tahu saat ini kita sedang chatan. Kamu masih aja berbicara formal hitu.
Sebelum membalas chat dari Harry terlihat Adel sedikit menghela nafas. Seolah-olah dia sangat berat untuk mewujudkan keinginan bosnya itu.
Adel :
Baik Harry.
Harry merasa aneh dengan tingkah laku Adel sedaritadi. Adel tidak pernah secuek ini menanggapinya selama ini. Apalagi dari chat ataupun pesan darinya. Sikap Adel hari ini begitu sangat misteri karena sangat susah untuk ditebak.
"Kenapa sih kamu Del?" Tanya Harry.
Fix satu hari ini harry hanya memikirkan tentang Adel saja. Wanita yang ada dihatinya selama berbulan-bulan ini. Harry benar-benar sangat frustasi melihat Adel sedingin ini. Apa karena pertanyaannya semalam yang menjadikan Adel berubah drastis begini. Karena sangat penasaran ingin rasanya Harry memastikan langsung kepada Adel. Tapi dia harus menunggu waktu sepulang kerja.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang yang artinya saat ini adalah jam istirahat. Dimana harry sudah membereskan semua barang yang akan dia bawa nanti. Terlihat Adel yang masih santai duduk di kursi sambil mengetik.
"Kamu masih sibuk?" Harry berjalan menghampirinya.
Adel melihat kearah Harry dan buru-buru membereskan mejanya yang masih berantakan.
"Tidak kok pak..." Adel membawa berkas dan dokumen yang sudah dia persiapkan sedaritadi. Harry berjalan duluan agar Adel merasa lebih nyaman. Padahal sejuurnya dia ingin sekali membuat Adel berjalan sejajar dengannya karena dia tidak ingin membedakan status karyawannya sendiri. Tapi malah ditolak habis-habisan oleh Adel dengan alasan tidak nyaman berjalan berdampingan didalam kantor.
Mereka sampai area parkiran perusahaan. Adel mengarah ke parkiran mobilnya, langsung saja lengannya yang sebelah ditahan oleh Harry.
"Kita pakai 1 mobil biar lebih efisien." Ucap Harry.
"Tapi Harry, aku mau bawa mobil sendri." Tolak Adel yang ditatap tajam oleh Harry sehingga Adel tidak berani membantahnya kembali. Baginya ini masih status bekerja antara atasan dan bawahan jadi dia harus mengikuti keinginan bosnya.
"Hmm...ya sudah iya. Aku naik mobil kamu. Jangan tatap begitu dong buat aku takut aja.." Ucap Adel lagi.
Harry mengubah raut wajahnya yang dari awalnya hampir saja marah berubah menjadi senyum.
"Gitu dong sesekali nurut." Ucap Harry sambil memberantakin rambut Adel dengan sengaja.
"Ikh Harry..." Ucap Adel sambil membenarkan kembali rambutnya yang berantakan.
'Aku nurut karena masih dalam ruang lingkup pekerjaan aja, awas aja kamu nanti Harry.' Gumam Adel dalam hati.
"Kok bengong sih? yuk buruan masuk mobil?" Harry menunjuk kearah pintu mobil yang sudah dia buka kemudian mempersilahkan Adel untuk masuk kedalam.
"Kamu nyetir sendiri? supir kamu mana Har?" Tanya Adel yang tidak melihat sosok supir pribadi bosnya itu.
"Aku suruh pulang karena pengen pergi berdua aja sama kamu." Ucap Harry dengan jujur.
"Berarti kamu udah merencanakan semua hal ini kan. Makanya kamu paksa aku bareng kamu kan." Ucap Adel.
"Aku senang sekarang kamu udah mulai terbiasa berbicara santai sama aku." Ucap Harry mengalihkan topik yang membuat Adel terlihat bingung tersebut.
Mereka memasang seatbelt masing-masing kemudia melaju pergike sebuah cafe untuk bertemu dengan klien.
"Harry."
"Del.."
Ucap mereka barengan.
"Kamu duluan deh." Ucap Adel.
"Kamu aja duluan." Ucap Harry.
Mereka berdua terdiam kembali. Keadaan mereka kali ini benar-benar snagat canggung.Karena biasanya mereka berdua selalu pergi dengan supir pribadi Harry. Karena supir pribadinya sangat ramah membuat suasana saat diperjalanan lebih nyaman dan menyenangkan.
Adel dan Harry saling bertukar pandangan kemudian mengubah arah pandang mereka lagi. Jantung Harry sudah berdetak sangat kencang karena bisa berduaan didalam mobil sama Adel. Seperti waktu diundang diacara 7 bulanan temannya Adel, mereka juga baru pertama kalinya hanya berdua saja didalam mobil. Sejak saat itu, Harry memutuskan untuk mengendarai mobil sendiri saat pergi berdua dengan Adel.
"Kok kamu malah diam aja sih? tadi kayaknya kamu mau ngomong sesuatu." Ucap Harry.
"Kamu kok malah ngalihkan pembicaraan kita tadi? emang kamu gak capek apa kalau ngendarai mobil sendiri. Kan kamau tau sendiri kemacetan di Jakarta ini bagaimana." Ucap Adel.
"Emang ini penting banget ya buat kamu Del? Aku hanya ingin menikmati waktu berdua aja sama kamu tanpa ada gangguan. Itu aja. Tapi kok aku gak yakin kalau tadi kamu mau bahas ini ya. Atau kamu yang ngalihkan pembicaraan ya..." Ucap Harry.
"Bukan gitu, aku bingung mulai bahasnya darimana Har..." Ucap Adel yang sedikit ragu karena mulai gugup saat berbicara.
"Pembahasan ini tentang pertanyaan aku yang semalam ya?" Ucap Harry seakan bisa memprediksi segala sesuatu.
Deg
Adel mulai sulit menelan salivanya sendiri.
"Gpp kamu santai aja jelasinnya ke aku. Apapun jawaban kamu aku akan coba mengerti." Ucap Harry.
"Harry, aku mau berterima kasih banyak karena kamu selalu ada disaat duka atau duka. Aku sangat menghargai itu. Tapi hatiku masih belum yakin kalau kamu adalah orang yang tepat buat aku. Aku hanya menganggap kamu sebagai..." Harry semakin menggenggam erat tangan Adel sehingga Adel sulit untuk melanjutkan kata-katanya lagi.
Adel menarik nafasnya dengan perlahan...
"Kamu gak perlu terusin lagi Del, aku udah mengerti apa yang bausan kamu ucapin. Aku juga menghargai usaha kamu untuk jujur tentang perasaan kamu." Ucap Harry.
Harry menepikan mobilnya kearah sebelah kiri agar percakapan mereka lebih nyaman lagi.
"Kamu gak marah sama aku? terus kenapa sekarang kita berhenti?" Ucap Adel.
Harry mengarahkan pandangannya tertuju kearah Adel yang sedang menegang dan menunduk sedaritadi. Harry menegakkan pandangan wajah Adel untuk memandang kearahnya.
"Hei kenapa malah merasa bersalah begini? aku mana mungkin marah sama kamu Del. Tapi bolehkan aku nunggu sampai hati kamu yakin untuk menerima perasaanku? Aku yakin kamu masih butuh waktu." Ucap Harry sambil memegang tengkuk wajah Adel. Adel memandang mata Harry. Semakin dalam dia memandang hanya tatapan tulus yang terlihat jelas darisana.
"Aku udah nolak kamu berkali-kali Har, aku gak mau nyakitin kamu lagi. Aku hanya ingin kamu bisa mencari kebahagiaan kamu sendiri." Ucap Adel.
"Maaf kalau aku egois Del. Untuk hal itu aku juga gak bisa mengendalikan perasaan ku ke kamu." Ucap Harry sambil mendekatkan wajahnya kearah Adel. Hany tersisa jjarak 10 cm saja dan benar-benar dekat.
"Harry, kita bisa telat bertemu dengan klien. Ntar kliennya bisa marah lo." Ucap Adel.
"Kita masih banyak waktu kok Del, karena sebenarnya waktu bertemunya itu pukul 14.00 siang dan sekarang masih jam 12.30 siang." Jelas Harry.sambil melihat jam tangannya untuk memastikan.
"Jadi kamu sengaja ya..."
Cup
Harry mencium bibir pink milik Adel yang sudah dari lama dia tahan saat berdekatan dengan Adel. Sontak saja Adel dengan respon yang masih terkejut berusaha memberontak tindakan bosnya itu. Ciuman yang Harry lakukan tanpa ada balasan sama sekali dari Adel tapi Harry tetap berusaha menciumin bibir Adel dengan lembut. Ciuman yang diberikan Harry juga semakin dalam saja. Jujur saat ini Adel tidak tahu dengan perasaannya yang sekarang. berkali-kali dia pacaran hanya untuk bermain saja tapi tidak pernah berciuman sekalipun. Dia hanya mengharapkan ciuman dari seseorang yang dia tulis didalam diary miliknya dan sekarang ciuman pertamanya malah direbut oleh bosnya sendiri. Setelah puas merasakan bibir milik Adel dan dia tahu jelas konsekuensi apa yang akan dia dapat saat ini. Benar saja setelah melepas ciuman bibir yang lumayan lama itu, Adel dengan refleks menampar pipi Harry.sampai membuat bekas merah dipipi bosnya itu.
"Maaf Del, aku hanya ingin memastikan perasaan kamu aja." Ucap Harry.
"Mastikan kamu bilang? kamu masih belum yakin dengan ucapan aku barusan?" Ucap Adel.
"Bukan begitu Del. Aku hanya..." Adel meutup kedua telinganya sekana tidak ingin mendengarkan alasan yang Harry berikan lagi. Suasana saat ini semakin canggung untuk keduanya.
"Aku gak bisa tahan lagi dengan perasaan ku sekarang Del. Maaf kalau tindakan barusan sangat lancang." Ucap Harry.
"Lebih baik sekarang juga kita pergi dari sini. Aku harap kau bisa lupain kejadian yang barusan. Anggap barusan diantara kita berdua tidak terjadi apa-apa." Ucap Adel sambil memohon.
"Aku akan coba melupakannya Del. Kamu benar-benar tidak ada merasakan apa-apa?" Ucap Harry.
Adel hanya menggeleng saja. Jawaban itu cukup sederhna tapi mampu membuat hati Harry menjadi sakit. Harry hany bisa memaksakan tersenyum didepan Adel.
Walaupun pipi Harry sangat sakit saat ini tapi dia merasa sennag karena bisa meluapkan semua perasaan yang dia tahan selama ini melalui ciuman barusan. Mungkin terdengar egois karena seakan-akan Harry memaksa kehendaknya barusan. Tapi ntah mengapa dia merasa kalau Adel sempat membalas ciumannya kemudian mulai ragu dan menghentikannya.
'Aku akan berusaha meyakinkan kamu lagi Del, aku sayang kamu...' Batin Harry.
Setelah itu Harry melanjutkan perjalanan mereka kembali. Selama diperjalanan Adel hanya terdiam karena tidak tahu mau membuka topik pembicaraan apa setelah kejadian tadi.
*****
Sampainya di cafe, ya memang benar saja hanya mereka berdua saja yang baru datang. Kliennya akan datang dalam waktu 1 setengah jam lagi. Selama itu pasti membuat keduanya terlihat canggung dan tidak bisa seperti biasanya. Harry dan Adel sudah memilih menu makanan yang akan mereka makan untuk siang ini. Harry menatap Adel dengan tatapan serius sampai membuat Adel salah tingkah dan tidak tahu mau melakukan apa.
Adel mengambil hp didalam tasnya, dia menceritakan semua kejadian hari ini kepada Nisa dan Ratu melalui obrolan grup mereka. Nisa terlihat begitu sangat antusias dan membalas chat Adel dengan berbagai pertanyaan.
"Apa?"
"Kok Harry bisa se gentleman itu beb?"
"Jadi bagaimana perasaan lo sekarang?"
"Lo terima dia atau nolak?"
"Lo gak deg-deg kan beb?"
Segala pertanyaan Nisa hanya dia lontarkan secara terang-terangan. Nisa terus membalas chat karena dia tahu kalau Adel sudah membaca chat tersebut...
"Jangan diam aja dong beb."
"Jawab dong pertanyaan gue barusan."
"Sumpah gue penasaran banget sekarang."
"Halo halo? gue tahu lo pasti lagi baca chat gue."
"Kalau cerita jangan setengah-setengah dong."
Adel hanya terkekeh geli melihat reaksi Nia yang seperti itu.
"Gue akan jawab kalau Ratu udah online. malas gue harus jawab satu-satu." Balas Adel.
"Oke wait ya..."Balas Nisa.
Nisa menghubungi Ratu terus-menerus sampai Ratu mengangkat teleponnya. Beberapa kali panggilan tidak terjawab tampil dilayar hp milik Ratu. nisa masih berusaha juga menghubugi nomornya dan akhirnya Ratu mengangkatnya.
"Halo? ada apa sih? lo ganggu tidur siang gue aja." Terdengar suara Ratu yang masih mengantuk dan menguap dari telepon.
"Maaf beb, sebaiknya lo baca obrolan grup deh sekarang. Penting..." Ucap Nisa.
"Oke sebentar biar gue lihat dulu. Awas aja ya kalau gak penting." Ancam Ratu.
"Oke bye beb..." Nisa mengakhiri panggilan teleponnya.
Ratu membuka obrolan grup dan membaca semua percakapan dari awal disana...
Ratu yang tadinya masih mengantuk berubah menjadi cerah mendadak. Seperti rasa kantuk yang dia rasakan mendadak menghilang begitu saja. Bagaimana tidak, dia benar-benar mengharapkan hadirnya seseorang yang bisa membahagiakan sahabatnya ini. Walaupun masih belum berstatus sebagai pacar. Tapi sedtidaknya ada orang yang begitu berjuang untuk mendapatkan hati Adel...
"Gue udah online. Lo udah bisa jawab semua pertanyaan Nisa barusan." Balas Ratu.
"Gue belum tahu tentang apa yang gue rasain sekarang. Yang jelas gue masih kaget akan kejadian hari ini. Gue masih gak menyangka kalau Harry mendadak seperti itu ke gue. Disatu sisi gue nyaman didekat dia tapi disisilain, hati gue masih menolak untuk menerima perasaannya. Gue masih jauh dari kata tepat untuk mendampinginya. Tapi yang jelas gue hanya menganggapnya sebagai atasan sekaligus sahabat aja. Dan yang paling konyolnya lagi refleks aja gue menampar Harry dengan keras." Balas Adel dengan panjang lebar.
"Apa? lo gampar dia? kasihan banget dong Harry. Udah ditolak plus digampar juga. Dasar jadi cewek kok kejam banget sih." Balas Nisa.
"Gue harap semoga lo bisa secara perlahan mengambi keputusan. Jangan gantugin anak orang terus. Sakit tahu di php in begitu." Balas Ratu.
"Kamu lagi chat an smaa siapa sih? daritadi kayak sibuk banget." Ucap Harry yang penasaran dan hampir melihat hp Adel.
Adel segera mematikan hpnya,
"Bukan siapa-siapa kok." Ucap Adel.
"kalau begitu sekarang kita bisa makan dulu kan. Takutnya kliennya bentar lagi datang." Ucap Harry.
"Oh oke.." Ucap Adel.
Hp Adel masih bergetar terus-menerus, Adel sangat tahu dengan jelas kalau kedua sahabatnya sedang menunggu ceritanya. Adel segaja membiarkan hpnya agar harry tidak mencurigainya. Adel dan Harry menikmati makan siang tersebut. Adel terlihat buru-buru makan karena sudah lapar sejak tadi. Sampai-sampai dia tidak sadar kalau makannya itu membuat mulutnya belepotan. Harry mengambil sisa makanan yang ada dibibir Adel dengan jarinya kemudian memasukkannya kedalam mulutnya.
"Manis." Ucap Harry.
Sontak saja perlakuan Harry barusan membuat Adel menjadi salah tingkah dan menghentikan aktifitas makannya. Adel hampir saja tersedak saat minum karena membayangkan yang barusan terjadi.
'Ada apa sih dengan Harry hari ini???' Teriaknya dalam hati.
Ada dua orang yang datang menemui mereka saat ini...
"Maaf dengan bapak Harry ya?" tanya sekretaris dari kliennya tersebut.
"Ya dengan saya sendiri..." Ucap Harry.
"Kami klien yang mengurus proyek baru..." Ucap salah seorang yang tidak asing tersebut.
Adel melihat orang yang berada dibelakang tersebut...
"Kamu..." Ucap Adel.
Hari ini begitu banyak kejutan yang Adel dapatkan. Masih belum bisa menenangkan hatinya sebentar sudah datnag kejutan yang lainnya. Benar-benar penuh dengan kejutan ya hidup ini. Itulah yang terlintas yang ada dihatinya saat ini.
*****
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading Guys!