
"Non, ada tamu yang datang." Bi Ina menghampiri Ratu yang sedang mengobrol bareng Nisa, Adel dan Putri.
"Siapa bi?" Tanya Ratu.
"Coba non lihat sendiri. Kayaknya tamunya pernah datang kesini. Tetapi satpam gak berani bukain pagar. Katanya mau coba tanya non Ratu dulu." Jelas bi Ina.
"Pernah kesini? Siapa ya? Cowok apa cewek bi?" Ucap Ratu penasaran.
Perasaan semua teman dekatnya sudah berkumpul dirumah. Terus siapa lagi tamu yang datang. Karena penasaran Ratupun akhirnya keluar dengan bi Ina. Bi Ina menemani Ratu dengan tujuan untuk memastikan kondisi Ratu yang belum pulih total. Walaupun diluar sudah ada 2 orang satpam yang berjaga tetapi Kavin sudah berpesan demikian kepada bi Ina.
"Bibi kenapa ikut keluar juga? Biar saya aja sendiri yang periksa." Ratu memerintahkan bi ina untuk kembali masuk kedalam rumah tetapi bi Ina menolak permintaannya.
"Maaf non. Mulai sekarang saya harus ada menemani non Ratu. Itu pesan den Kavin kepada saya. Dikarenakan kondisi non Ratu belum pulih total." Jelas bi Ina.
"Kavin ini ada-ada saja tingkahnya." Ucap Ratu pasrah.
Ratu dan bi Ina segera keluar menuju teras rumah.
"Bi suruh satpam bukain pagarnya. Biar saya bisa melihat dengan jelas siapa tamu yang datang." Ucap Ratu.
Bi Ina menghampiri 2 orang satpam yang sedang berjaga dan menyuruh mereka untuk membukakan pagar.
Setelah pagar terbuka, Ratu menghampiri orang tersebut...
"Lo kan.."
"Iya. Maaf kalau menganggu sebelumnya."
"Jangan kasih tahu yang lain kalau gue datang kesini. Gue boleh minta bantuan lo. Karena pikiran gue sudah sangat buntu."
Ratu melihat keseriusan pada raut wajah orang yang ada dihadapannya tersebut.
"Ok. Gue usahakan bantuin. Apa yang bisa gue bantu?"
"Tetapi jangan lakukan sekarang." Orang tersebut memeberikan hadiah dan sebuah kertas yang didalamnya ada terteta nomor hp.
Terjadi percakapan rahasia diantara Ratu dan tamunya tadi. Ntah apa yang Ratu rencanakan dibalik percakapan tersebut. Bi Ina serta kedua satpam sampai disuruh tutup mulut. Anggap saja mereka tidak kedatangan tamu sebelumnya.
Setelah mengobrol sebentar, Ratu dan bi Ina kembali masuk.
Ratu bergabung kembali dengan teman-temannya...
"Siapa yang datang Tu?" Tanya Adel penasaran.
"Katanya tamu lo, kenapa gak disuruh masuk?" Ucap Nisa yang langsung saja nimbrung.
"Itu...salah satu klien yang ada dikantor gue. Cuman ngucapin selamat aja dan mengantar hadiah untuk si kecil. Dia gak bisa berlama-lama katanya..." Ucap Ratu berbohong. Tetapi mengenai hadiah yang diberikan itu fakta.
"Oh gitu. Pantasan aja satpam lo gak berani bukain pintu." Ucap Nisa.
"Tapi katanya tamu itu udah pernah kesini sebelumnya? Tadi kan bi Ina bilang begitu." Ucap Adel.
"Cuman bi Ina aja yanh ingat wajah klien gue." Ucap Ratu yang masih melanjutkan kebohongannya.
"Ya udah deh beb, lagian ngapaon juga kita introhasi Ratu. Toh kita gak kenal siapa klien di perusahaannya kan." Ucap Nisa.
"Bener tuh yang Nisa bilang. Lebih baik kalian makan aja sana. Gue mau lihat anak gue dulu didalam." Ucap Ratu.
Ratu seakan kabur dari kedua sahabatnya, ntah mengapa hati nuraninya yakin untuk membantu orang tersebut.
Ratu menggendong Dhafin yang sedang menangis, Ratu bergegas mengambil air susu yang sudah dia tampung sewaktu dirumah sakit. Sebelum memberikan kepada Dhafin, Ratu memanaskannya sebentar...
"Dhafin...sayangnya mama udah bangun ya sayang. Kenapa haus ya sayang? Cup cup cup jangan nangis lagi ya." Ratu memberikan air susu yang ada dibotol kepada Dhafin.
Dhafin menikmati air susu ibunya untuk pertama kali...
Ratu meletakkan Dhafin yang sudah terlelap kembali. Sesekali Ratu menepuk-nepuk lembut tubuh Dhafin..
"Selamat datang sayang, mama dan papa sangat bahagia karena memiliki kamu." Ucap Ratu sambil mencium pipi Dhafin.
Cekrek cekrek cekrek...
Ratu melihat kearah suara ternyata Kavin sedang mengabadikan moment saat Ratu sedang mencium lembut pipi Dhafin.
"Ikh Kavin..iseng banget deh kamu sayang." Bisik Ratu.
"Habisnya aku nyariin kamu daritadi ternyata kamu lagi disini." Ucap Kavin.
"Kamu kalau bicara, tolong pelan sedikit. Dhafin tadi nangis dan baru aja tertidur lagi." Ucap Ratu.
"Oh oke. Sekarang kita keluar lagi ya sayang. Gak enak sama yang lain kalau kamu didalam. Kan aku udah capek-capek mengundang mereka." Ucap Kavin.
"Iya bawel." Ucap Ratu.
"Apa kamu bilang?" Untuk meredakan rasa kesal suaminya, Ratu memcium pipi Kavin sekilas sampai membuat Kavin terdiam.
"Kok bentaran doang sayang." Rengek Kavin. Kavin selalu saja manja kepada Ratu. Selarang Ratu memiliki 2 bayi sekaligus. Yang 1 bayi besar dan yang 1 lagi bayi kecil.
"Udahan ayuk keluar. Gak enak loo sama yang lain." Ratu mengulang perkataan Kavin.
"Ikh sayang. Tapi kan..."
"Jangan manja deh Vin. Kita kan lagi ada tamu." Ucap Ratu.
"Iya deh iya. Susah ya minta dicium sama istri sendiri." Ucap Kavin seakan ngambek.
"Ntaran aja ya sayang." Ratu mengedipkan sebelah matanya seakan memberikan kode kepada sang suami.
Kavin malah terpesona kepada sang istri yang sedang menggoda dirinya.
"Oh oke. Janji ya. Awas aja kalau kamu ingkar janji." Ucap Kavin.
Disaat Kavin menutup pintu, dia berbisik kembali kepada Ratu.
"Aku suka deh kalau kamu yang agresif begitu. Jadi makin sayang deh." Bisik Kavin.
"Ikh kavin." Wajah Ratu langsung memerah seketika. Ratu merasa malu saat digida seperti itu oleh Kavin. Padahal dia begini juga ingin menunjukkan rasa cintanya kepada suaminya sendiri. Ratu membalas Kavin dengan cara menggelitiki perutnya.
"Ampun sayang." Ucap Kavin yang sudah tidak tahan lagi. Dia menyerah kalau sudah digelitiki seperti itu.
"Kalian ini maalah asik mesra-mesraan disini. Ingat disini masih banyak orang." Ucap mama Ratu memperingati keduanya.
Ratu langsung menghentikan aktifitasnya tersebut...
"Ratu ini mah, iseng banget sekarang." Kavin seakan minta bantuan kepada mama mertuanya.
"Ikh apaan. Jelas-jelas kamu yang isengin aku duluan." Ucap Ratu yang gak mau kalah.
"Tapi aku begitu kan karena kamu juga tadi..."
Ratu segera menutup mulut Kavin dengan kedua tangannya. Ratu menatap tajam kearah Kavin agar tidak menyampaikan ucapannya.
"Sudah sudah masih aja ribut disini. Mama minta kalian kesana temani tamu kalian." Perintah mama.
"Iya ma." Ucap Ratu kemudian melepas tangannya dari mulut Kavin.
Kavin merasa menang karena bisa menyaksikan tingkah lucu istrinya yang sedang malu-malu tersebut yang sekaan salah tingkah didepan nyokapnya sendiri. Kavin tersenyum puas menyaksikannya. Sudah lama dia tidak menggoda dan menjahili istrinya...
Ratu dan Kavin kembali bergabung dengan yang lain yang sedang berkumpul di ruang tamu.
Kavin bergabung dengan Dimas dan Tommy sedangkan Ratu bergabung kembali dengan Nisa, Adel dan Putri. Mereka sibuk bercerita tentang segala hal. Kadang Nisa meminta masukan untuk hubungannya dengan Dimas. Dimas yang terkadang over dalam melakukan segala hal sampai membuat Nisa menajdi risih. Dan Ratu juga sempat menanysksn hubugan percintaa Adel dan Harry. Dan tidak lupa juga hubungan Putri dengan Tommy yang begitu membuat orang lain penasaran.
Sedangkan Kavin sibuk membahas tentang pekerjaan dan juga tentang sepak bola. Biasa obrolan cowok-cowok lebih kepada realita kehidupan.
*****
Satu minggu kemudian...
Harry dan Adel sudah sangat jarang berkomunikasi masalah pribadi mereka. Seakan-akan tidak ada yang terjadi pada hubungan mereka berdua. Adel menunjukkan sifat profesional saat di kantor. Harry juga sudah sangat jarang meminta Adel untuk masuk kedalam ruangannya. Sesekali saja Adel masuk kedalam ruangannya karena ada hal yang penting dan butuh tanda tangan Harry. Setelah Harry menandatangani berkas yang Adel bawa, Harry segera menyibukkan diri sedangkan Adel segera keluar dari ruangan tersebut.
Sebenarnya sangat sulit bagi Harry untuk mendiami Adel. Tetapi hal ini yang Adel inginkan dan dia harus berusaha melakukannya. Sepulang bekerja juga Adel langsung saja pulang. Tidak seperti dulu, Harry selalu mengajaknya keluar. Banyak yang berbeda sekarang, hp Adel juga sudah sangat jarang sekali untuk berdering. Biasanya Harry selalu mengirimkan pesan-pesan manis dan perhatian kepada dirinya. Yang ada sekarang Adel sudah jarang melihat hpnya sendiri, karena dia tahu kalau tidak ada gunanya juga karena tidak ada juga yang bakalan menanyakan kabarnya. Adel juga meletakkan hp disembarang tempat, karena tidak bisa dipungkiri hp itu membuatnya teringat Harry. Mereka selalu berkomunikasi secara intens sebelumnya. Adel sampai menghapus nomor Harry pada isi kontak yang ada di hpnya.
Adel tidak pernah menceritakan kepada Nisa dan Ratu kalau dirinya dan Harry sudah putus hubungan. Rasanya dia belum siap untuk hal itu. Inilah mengapa dia tidak pernah membawa orang lan untuk diperkenalkan kepada kedua sahabatnya. Adel bingung harus menceritakan mulai darimana kepada kedua sahabatya. Untuk sekarang dia hanya menutup rapat hal ini saja dan untungnya Nisa dan Ratu juga tidak pernah membahas tentang Harry lagi. Adel sangat bersyukur disitu, karena kalau mereka menanyakan tentang Harry saat ini. Adel masih belum siap untuk bercerita.
Memang rasanya hidup tidak adil bagi dirinya. Semua orang yang dekat dengannya perlahan menjauh dari hidupnya. Walaupun kali ini Adel yang menginginkannya tetapi ntah mengapa hatinya masih terlalu bimbang.
Saat ini Adel sudah berada didalam lift yang ada dikantor, saat lift mau tertutup, Harry segera masuk kedalam. Harry dan Adel saling pandang kemudian saling acuh kembali. Adel mengalihkan pandangannya kearah hp sedangkan Harry hanya berdiam diri saja. Tiba-tiba saja lift rusak. Posisinya Harry sedang memeluk Adel yang hampir terjatuh karena lift seakan tergoncang kebawah.
Mereka masih saling bertatapan satu sama lain. Harry memandang Adel sangat dalam tetapi mereka tidak ada yang berbicara satu sama lain. Harry mendekatkan wajahnya kearah Adel. Tetapi anehnya Adel tidak menolak malah memandang Harry dengan tatapan yang tajam.
'Aku sangat merindukan kamu Del, andai aja kamu bisa membaca suara hati aku. Dan andai aja keadaan kita tidak seperti ini.'Batin Harry.
Harry mencoba mendekatkan wajahnya kembali dan hampir saja mereka berciuman tetapi dengan refleks Adel sadar dan menolak tindakan Harry. Adel mendorong tubuh Harry...
"Eh maaf Del, aku gak maksud." Ucap Harry yang sebenarnya kecewa karena penolakan Adel.
"Aku tahu kok. Lupain aja kejadian barusan dan anggap tidak ada yang terjadi." Ucap Adel acuh.
"Kamu tenang aja." Jawaban Harry membuatnya lumayan kaget. Biasanya Harry memaksa dan menolak tetapi kali ini Harry menyetujui serta mengikuti keinginannya.
"Baguslah." Ucap Adel.
'Apa segitunya kamu gak suka sama aku Del.' Batin Harry.
Adel memencet tombol informasi karena lift rusak.
Sambil menunggu lift sedang dalam masa perbaikan, Adel merosotkan dirinya untuk duduj dilantai lift. Dia memgambil hp, tidak ada signal sama sekali. Adel sangat berharap agar lift cepat terbuka kembali. Bisa gila dia kejebak 1 lift dengan Harry dan harus diam-diaman begini.
Adel malah sibuk bermain game di hpnya untuk mengalihkan pandangannya dari Harry. Sedangkan Harry masih terus menatap Adel dengan seksama...
'Kenapa sih disaat udah mati-matian lupain Adel malah terjebak disini. Apa ini takdir atau malah cobaan buat kami. Rasanya sangat berbeda sekarang. Perasaan campur aduk sekarang terutama rasa canggung yang membuat suasana menjadi terasa aneh.'Batin Harry.
Hp Adel sampai lowbet karena dibuat main terus-menerus. Lift masih tak kunjung terbuka.
'Sial banget sih gue Harry ini. Udah kejebak didalam lift, sekarang hp udah magi total begini. Sumpah suasana ini gak enak banget.'Batin Adel.
Adel menaruh kembali hp didalam tas kerjanya. Sekilas dia mengarahkan pandangannya kearah Harry, dia kaget karena Harry menatapnya tanpa kedip. Buru-buru Adel mengalihkan pandangannya kearah lain.
'Kenapa sih Harry mandangi gue sebegitunya. Gue kan jadi risih dilihatin begitu. Tunggu dulu !! Dari kapan Harry memandangi gue? Gak mungkin kan sejak tadi... gak ! Gak ! Gak mungkin. Ah gue mikirin apaan sih." Batin Adel.
Harry memandang Adel sepuas hatinya. Seakan dia bisa mengobati rasa rindunya yang sangat dalam selama seminggu ini. Mungkin ini cara Tuhan untuk mendekatkan dia kembali kepada Adel. Harry tidak membuang kesempatan itu walaupun dia tidak berbicara apapun sekarang tetapi tatapan matanya yang sangat dalam saat menatap Adel sudah bisa dia gambarkan sendiri. Itu juga yang membuat hatinya bisa lebih tenang
Sampai Harry berharap kalau waktu berhenti sejenak. Harapannya sangat berbde dengan Adel, Harry malah ingim berlama-laa kejebak didalam lift berdua. Mungkin terdengar konyol tetapi itu juga yang membuat dirinya bahagia...
Adel sibuk melihat jam tangannya. Adel merasa sangat risih karena ditatap terus-terusan oleh Harry. Sampai membuatnya salah tibgkah dan tidak tahu mau melakukan apa.
Adel kembali menekan tombol dan menanyakan bagaimana perbaikan liftnya.
"Maaf, mungkin masih harus menunggu selama kurang lebih 30 menit lagi. Masih kami usahakan bu. Diharapkan untuk bersabar." Ucap salah seorang petugas.
"Ok. Usahakan secepat mungkin. Disini mulai terasa pengap karena tidak ada udara yang masuk." Ucap Adel.
"Baik bu. Kami juga sedang mengusahakannya."
*****
Pada saat lift terbuka, Harry dengan sangat panik tanpa menghiraukan mata atau pandangan karyawan-karyawan yang ada diperusahaannya. Harry tanpa rasa malu atau sungkan langsung menggendong Adel yang sudah lemas tersebut karena kekurangan udara didalam.
"Maaf pak perbaikan lift nya lama." Ucap salah satu karyawan.
Tanpa menjawab, Harry malah mengabaikan dan melangkah pergi. Semua pandangan mata yang menyaksikan kejadian tersebut, sebagian dari mereka saling menggosip tentang Adel. Ada yang mendukung dan ada juga yang tidak rela melihat bosnya dekat dengan Adel, mereka saling menyuarakan pendapat mereka masing-masing.
Harry membawa Adel pergi dengan mengendarai mobil pribadinya. Harry menyuruh supirnya yang mengendarai mobil sedangkan dirinya duduk menemani adel di bangku belakang mobil.
"Harry, antar aku pulang ke apartemen sekarang." Ucap Adel yang sudah tidak bertenaga lagi.
"Kamu harus dibawa kerumah sakit sekarang." Tegas Harry.
Adel menggeleng dengan lemah...
"Aku cuman perlu istirahat saja. Kalau kamu gak mau antar aku ke apartemen, lebih baik aku pulang sendiri aja." Ancam Adel.
Harry melihat keseriusan dimata Adel kali ini.
"Hmm ok. Tapi biarkan aku mengantar kamu sampai depan apartemen. Aku cuman mau memastikan kamu baik-baik aja." Ucap Harry.
"Terserah aja." Ucap Adel.
Begitu sampai di apartemennya, Adel yang berjalan dipapah langsung oleh Harry hanya bisa pasrah saja.
"Udah sebaiknya kamu pulang aja." Ucap Adel yang baru saja keluar dari lift.
"Aku akan antar kamu sampai depan pintu apartemen." Tegas Harry.
Adel berjalan kembali dengan Harry sampai tiba didepan pintu apartemen ada 2 orang sosok yang sedang menunggu dirinya sedaritadi. Sosok yang dia rindukan selama ini.
"Mama papa." Ucap Adel yang sudah melihat dari jauh.
"Kamu yakin mau ketemu mereka sekarang?" Tanya Harry.
"Ya mau gimana lagi, semua harus dihadapin kan." Ucap Adel.
Mama papa angkatnya segera menghampiri Adel. Harry langsung melepaskan tangannya dari tubuh Adel.
"Darimana papa dan mama tahu kalau Adel tinggal disini?" Tanya Adel.
"Papa yang mencari tahu semua tentang kamu sayang. Mama sama papa perlu mengobrol dengan kamu sekarang." Jelas mama.
Mama melihat kearah Harry, wajah Harry sangat familiar sekali.
"Kamu kan yang pernah datang kerumah waktu itu." Tunjuk mama Adel.
"Tante benar." Ucap Harry.
"Kenapa wajah kamu lemas begitu?" Ucap papa.
"Itu om tadi kita kejebak didalam lift selama 1 jam lebih sampai Adel lemas." Ucap Harry.
"Ada perlu apa lagi kalian mencari Adel? Kan semuanya juga sudah cukup jelas untuk kita." Ucap Adel to the point.
"Kita perlu bicara empat mata." Ucap mama.
"Tapi Adel rasa gak ada lagi yang harus dijelaskan." Ucap Adel.
Adel segera membuka pintu apartemennya.
"Sebaiknya kalian semua pulang aja. Adel perlu waktu dan istirahat." Ucap Adel.
Papa menarik tangan istrinya untuk menerobos masuk kedalam apartemen milik Adel dan segera menutupnya.
Harry yang merasa cemas tidak bisa melakukan apapun, dia hanya menunggu saja diluar pintu apartemen Adel untuk bisa memastikan Adel baik-baik saja.
"Kenapa sih papa sama mama datang kesini ? Untuk apa lagi? Adel benar-benar tidak mengerti." Ucap Adel.
"Emangnya perlu alasan untuk kita bertemu. Kamu jangan lupa kalau kita adalah keluarga." Ucap papa.
"Keluarga? Keluarga yang seperti apa yang papa ucapkan?" Ucap Adel.
"Mama dan papa ingin kamu kembali kerumah." Ucap mama.
Adel hanya bisa tersenyum tipis.
"Maaf Adel gak bisa ma. Adel sudah merasa nyaman dan terbiasa untuk tinggal sendiri. Sennggaknya adel gak akan merasa sakit hati lagi. Adel masih perlu waktu untuk menerima semua keadaan. Lagian bukannya bagus ya, tanpa ada Adel. Kalian tidak perlu pulang lama-lama lagi karena berusaha menghindar. Kalian gak perlua bersandiwara lagi, bisa hidup dengan apa adanya. Kita juga akan jauh lebih baik, daripada Adel tinggal disana tetapi mama dan papa merasakan sakit hati karena membenci orangtua kandung Adel. Adel tahu kok ini juga bukan kemauan kalian. Kalian juha terpaksa merawat Adel selama ini. Adel gak akan memaksa sesuatu lagi. Adel yakin ini keputusan yang paling tepat untuk kita." Jelas Adel panjang lebar.
"Papa sama mama sudah sadar kalau tindakan kami sampai membuat kamu terluka." Ucap mama.
"Adel tidak pernah menyalahkan mama dan papa sama sekali. Mungkin memang takdir Adel seperti ini. Adel juga tahu kalau semua ini bukan kesalahan kalian. Adel hanya ingin hidup tenang dan nyaman saja. Apa bisa Adel melakukan hal itu ma pa? Adel butuh ketenangan. Please hargain keinginan yang sudah Adel pilih. Adel ingin semuanya sesuai dengan apa yang Adel harapkan." Ucap Adel.
"Mama mengerti kalau itu mau kamu. Mama juga hargain. Tetapi bolehkan kalau sesekali kita bertemu." Ucap mama.
"Tapi ma. Papa tidak setuju..." Ucap papa menyuarakan pendapatnya.
Mama menggelengkan kepala kearah suaminya.
"Jangan terlalu memaksa Adel sekarang pa. Biarkan kita semha intropeksi diri. Adel masih perlu waktu untuk berfikir." Ucap mama.
Papa akhirnya mengikuti kemauan istrinya...
"Kalau begitu papa sama mama pamit sekarang." Ucap mama sambil memeluk Adel.
"Kami mengharapkan kamu kembali kerumah lagi." Ucap papa.
Tanpa menjawab, Adel hanya tersenyum tipis.
Adel mengantar papa mamanya keluar, setelah itu dia masuk kembali.
"Mimpi apa sih gue semalam, kenapa hari ini begitu banyak kejadian yang tidak terduga sama sekali." Ucapnya kemudian Adel berjalan menuju kulkas untuk mengambil air minum. Dia meneguk air minum dengan cepat.
Disisi lain, Harry yang tadinya ingin menunggu didepan pintu. Mendadak berubah pikiran karena dia merasa Adel masih perlu waktu untuk sendiri. Dan dengan langkah pasti Harry memutuskan untuk pulang saja.
Sekarang Adel merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamunya. Badannya masih saja lemas sampai dia malas untuk melakukan hal lain.
"Gue yakin semha orang kantoe bakalan heboh dan bergosip dibelakang gue. Apa gue pindah kantor aja ya. Lagian Harry nekat banget gendong gue tadi." Ucap Adel.
Adel teringat kembali hal apa yang mereka lakukan didalam lift tadi. Buru-buru Adel memejamkan matanya kembali.
'Lupain Adel. Itu hanya sebuah pertolongan saja tadi. Jangan menganggapnya dengan serius.' Batin Adel.
Didalam lift tadi, Harry mencium bibir Adel untuk membantunya bernafas. Karena saat itu Adel sudah sangat sesak. Harry yang sudah panik, langsung saja menciumnya. Ciuman berlangsung lumayan lama sampai lift ada tanda-tanda terbuka.
Adel memegangi bibirnya sekilas...
"Adel lo harus sadar, ciuman tadi tidak ada maknanya. Ingat kalau Harry adalah tunangan orang lain." Ucap Adel menepuk kedua pipinya.
Setelah kejadian itu, Harry dan Adel malah semakin.....
*****
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
**Happy Reading Guys!
**