Playboy Vs Playgirl

Playboy Vs Playgirl
Acara 7 bulanan part 2



"Siapa sih tamu yang kamu maksud barusan Vin? awas aja kalau gak penting ya..." Protes Ratu.


Ratu mengikuti langkah kaki suaminya untuk menuruni anak tangga...


"Kamu akan segera tahu ketika melihatnya langsung sayang." Ucap Kavin.


'Tumben banget Kavin merahasiakan tamu yang akan datang. Siapa sih? Jadi makin penasaran gue.' Batin Ratu.


"Kamu gak lagi bercanda kan Vin? jangan buat aku bertanya-tanya sendiri deh." Ucap Ratu.


"Makanya ntar juga kamu bakalan tahu kok." Ucap Kavin.


Kavin menggenggam tangan istrinya untuk menemui tamu yang ada dibawah tersebut.


Ratu terkejut melihat sosok seorang yang sangat dia kenal berada disana...


'Itukan ? Tapi kenapa bisa Kavin yang mengundangnya datang? ada apa sih ini sebenarnya? tumben seorang Kavin mengundang saingan terberatnya sendiri selama ini. Tapi siapa lagi tamu yang lain yang Kavin maksud.' Kavin bertanya-tanya sendiri sambil celingak celinguk gak jelas.


"Kamu lagi mencari siapa sayang? Tamu kita ada disana kok." Ucap Kavin sambil menunjuk kearah orang tersebut.


"Tapi kamu? kenapa bisa dia ada disini?" Bisik Ratu.


"Aku yang undang dia sayang." Ucap Kavin.


"Hai Ratu ,,, hai juga Vin... makasih udah undang gue ke acara ini. Gue mau doain semoga bayi dan ibunya selalu sehat dan diberikan kelancaran disaat persalinan nanti." Ucap Tommy.


"Hai juga Tom. Thank you doanya..." Jujur saat ini Ratu merasa begitu bingung dengan keadaan mereka. Apalagi Ratu masih ingat jelas bagaimana suaminya sendiri begitu cemburu sama yang namanya Tommy. Dia merasa ada yang janggal dengan kehadiran Tommy disini. Yang buat dia semakin bingung itu karena Kavin yang mengundang Tommy secara pribadi. Ratu melihat ekspresi suaminya secara sekilas kemudian menatap kearah Tommy lagi. Dia tetap tidak mengerti...pertanyaan yang ada didalam hatinya saat ini kok bisa? kenapa? berbagai pertanyaan lain muncul didalam benaknya saat ini. Bukan cuman Ratu yang merasa demikian, tapi Nisa dan Adel dari kejauhan juga menatap kearah mereka. Adel dan Nisa saling pandang dan mengangkat kedua bahu mereka yang bertanda kalau mereka juga tidak mengerti sama apa yang barusan terjadi.o


"Hai Tom. Makasih udah nyempetin waktu untuk datang kesini ya. Gue dan Ratu merasa sangat senang karena kehadiran lo." Ucap Kavin menyambut Tommy dengan seramah mungkin.


"Santai aja lagi Vin...gue juga senang kok bisa ngelihat kalian dua secara langsung disini." Ucap Tommy.


"Tunggu dulu...tolong jelasin semuanya ke aku Vin? aku masih belum mengerti sama kalian berdua." Ucap Ratu memotong percakapan Kavin dan Tommy. Kavin mengajak Ratu untuk duduk di sofa agar mereka bisa lebih rileks lagi untuk mengobrol. Tak lupa Kain juga mempersilahkan Tommy untuk duduk di sofa agar percakapan mereka menjadi lebih santai lagi...


"Jadi gini... Terakhir kali aku sempat ketemu dengan Tommy saat bermain sepak bola. Aku memutuskan untuk meminta maaf kepada Tommy atas sikap aku yang kasar selama ini sama dia. Setelah aku pikir-pikir sikap aku terlalu kekanakan padahal Tommy udah merelakan kamu buat aku. Bukannya seharusnya aku berterima kasih kepada dia. Aku sudah lama memikirkan hal ini dan setelah kita terakhir kali berantam juga aku sudah mulai meyadarinya tapi tetap saja aku masih gengsi untuk mengatakan semuanya kepada Tommy. Tapi karena aku melihat Tommy selalu bersikap dewasa terhadap semua hal, aku jadi mulai belajar untuk menerima semua keadaan. benar yang kamu bilang sayang? apalagi yang harus aku takutkan? kamu sudah menjadi milik aku selamanya. Jadi sekarang aku udah berdamai dengan diri aku sendiri untuk berlapang dada dan berteman dengan Tommy. Aku sadar kalau selama ini sikapku yang buat kita menjadi berantam terus. Aku sadar kalau aku salah untu hal itu. Jadi mulai sekarang aku udah menerima Tommy sebagai teman kita..." Jelas Kavin panjang lebar.


"Jangan terlalu melebihkan Vin, gue yang salut sama lo. Mungkin kalau gue yang ada diposisi lo saat ini. Gue belum tentu bisa juga menerima lo sebagai sahabat gue. Tapi gue senang karena Ratu tidak salah pilih pasangan hidup. Gue merasa senang bisa ikut bergabung merasakan kebahagiaan kalian berdua." Ucap Tommy.


"Gue ngomong apa adanya aja Tom...gue hanya tidak ingin memiliki musuh. Kalau bisa malah menambah banyak teman sekarang. hidup udah ribet jadi gue gak mau menambah lebih ribet lagi." Ucap Kavin.


"Ya apapun alasannya...gue merasa bangga sama lo." Ucap Tommy.


"Oh jadi gitu ...baguslah kalau kamu udah sadar sayang. Kalau begitu selamat bergabung menjadi sahabat kita Tom. Gue harap lo merasa nyaman bisa sahabatan dengan kita." Ucap Ratu yang terlihat senang. Ratu masih tidak meyangka kalau suaminya sudah berubah menjadi orang yang lebih dewasa lagi. Selama ini mereka sudah terlalu banyak menghadapi masalah dan cobaan dalam rumah tangga mereka. Tapi semua hal itu mereka jadikan pelajaran hidup karea tidak ada manusia yang hidup tanpa masalah. Kita hanya bisa menjalani tapi tetap Tuhan yang menentukan semuanya.


"Seriusan? kita gak salah dengarkan barusan?" Ucap Nisa dan Adel yang datang tiba-tiba. Mereka berdua sudah menguping pembicaraan Ratu, Kavin dan Tommy sedaritadi. Mereka berdua terlihat begitu antusias karena Tommy bisa bersahabat dengan mereka.


"Dasar kalian!!! kepo banget sih." Ucap Ratu.


"Kitakan hanya senang aja karena bisa bersahabat dengan Tommy." Ucap Adel.


Semua orang tidak ada yang menyangka kalau ucapan Adel barusan adalah bukti kalau ada sesuatu yang aneh. Nisa dan Adel yang secara bergantian bersalaman dengan Tommy karena sudah bergabung.


"Dasar centil. Kalian lihat tuh ekspresi pasangan kalian masing-masing disana." Ratu menunjuk Harry dan Dimas yang memasang muka cemberut dari jauh.


"Biarin aja deh beb, kitakan hanya menjabat tangan Tommy aja. Kadang ini salah satu bentuk tes untuk orang yang menyukai kita. Benar gak Nis?" Ucap Adel.


"Benar juga beb, kali ini gue sependapat sama ucapan lo." Ucap Nisa.


Nisa melihat wajah pacarnya yang cemberut membuatnya ingin melakukan hal lebih lagi. Ntah merasa hari ini Nisa merasa begitu semangatnya padahal mereka berdu sudah tahu persis seperti apa reaksi pacar atau gebetan mereka berdua. Tapi Nisa dan Adel malah semakin menjadi-jadi saja. Mereka menarik tangan Tommy untuk berfoto bersama dengan semuanya untuk mengabadikan moment kebersamaan mereka. Adel dan Nisa berada tepat disebelah kanan dan kiri Tommy. Dimas dan Harry yang ikut berfoto sudah menarik tangan pasangannya agar tidak melewati batas saat memegang tangan Tommy. Tapi tetap saja mereka berdua malah semakin centil saja. Dimas sudah mengepalkan kedua tangannya, ingin rasanya dia menumbuk kearah dinding sekuat mungkin. Agar dinding dan tangannya sama-sama merasakan sakit yang sama seperti sakit hatinya saat ini. Beberapa potret foto sudah diambil sebagai bentuk awal kebersamaan mereka.


Sanking antusiasnya, setelah selesai berfoto Adel tidak sengaja hampir saja terjatuh saat mau melangkah kedepan. Dengan reflek langsung saja Tommy menangkap Adel agar tidak terjatuh. Adel menatap Tommy dengan tatapan penuh pesona yang tidak bisa dihindarinya lagi. Dan kejadian itu disaksikan didepan mata oleh Hary sendiri. Harry yang sedaritadi bersabar mulai terlihat geram dengan tingkah Adel yang terbilang melewati batas untuk pengujian kesabarannya. Ntah mengapa pandangan mata keduanya saling tertuju satu sama lain yang membuat Adel semakin dalam memandang Tommy. Ratu yang menyaksikannya menjadi sedikit curiga, bagaimana tidak...dia tidak pernah melihat tatapan Tommy seperti itu. Hanya Ratu yang saat ini merasa peka atas tatapan itu. Yang lain merasa kalau itu hanya sekedar kecelakaan saja.


Nisa langsung menarik paksa tangan Adel, sehingga membuat Adel dan Tommy segera tersadar....


"Lo gpp kan Del?" Tanya Tommy memastikan.


"Gpp kok Tom, thank you ya. Kalau gak ada lo mungkin gue udah jatuh dilantai sekarang." Ucap Adel.


"Santai aja ketepatan pas gue yang ada dibelakang lo." Ucap Tommy.


"Tapi gue tetap akan berterima kasih secara tulus." Ucap Adel.


"Apaan sih lo beb, modus lo ya..." Ucap Nisa.


"Lo gak bisa lihat ya kalau gue hampir aja jatuh." Ucap Adel.


"Tapi gak kelamaan juga kali beb..." Ucap Nisa.


"Bilang aja lo pengen juga kan. Lo iri kan sama gue... Huh.." Ucap Adel.


"Ngapain juga gue iri sama lo. Gue udah punya Dimas kok. Ya kan sayang?" Sepontan kata-kata sayang keluar dari mulut Nisa yang membuat Dimas menjadi memerah. Dimas sampai tidak mampu menjawab ucapan Nisa barusan. Dia hanya mengangguk saja karena sanking saltingnya. Bagaimanapun baru pertama kalinya dia mendengar Nisa mengucapkan panggilan sayang kepadanya. Kalau tidak ada orang lain disini, dia ingin memaksa Nisa mengulangi panggilan yang baru saja dia dengar tersebut.


"Dasar lo ya !!! mentang-mentang punya Dimas jadi sok banget." Ucap Adel.


"Udah dong Del, malu tahu disini tuh rumah orang jangan ribut begini lah." Protes Harry.


"Husssttt...kamu diam aja. Ini urusan aku sama Nisa. Kamu gak usah ikut campur dalam urusan antar perempuan." Ucap Adel.


Harry begitu penurut, dia langsung tidak bisa membantah lagi apapun yang dibilang oleh Adel. Harry hanya mampu memberikan sebuah nasihat kepada Adel tetapi tidak pernah memaksanya kalau Adel tidak berkenan. Dia begitu menghormati pertemanan mereka saat ini.


"Udah-udah stop. Kenapa kalian berdua yang malah ribut sih disini. Ingat ya ini rumah dan acara gue." Ucap Ratu yang memperingati keduanya.


Kata-kata Ratu yang mampu membuat keduanya langsung terdiam tanpa kata lagi.Mereka berdua terlihat saling meyenggol tangan satu sama lain. Ratu yang semakin geram melihat tingkah kedua sahabatnya itu langsung saja berteriak kembali...


"STOP !!! kalau kalian gak bisa dibilangi juga lebih baik kalian berdua pulang aja. Gue udah gak tahu lagi menghadapi kalian." Ucap Ratu.


Nisa dan Adel segera meminta maaf kepada Ratu. Kemudian harry mengajak Adel untuk pulang begitupun dengan Nisa yang langsung diajak Dimas untuk segera pulang. Saat berpamitan keduanya masih bisa dengan ramah mengobrol dengan Ratu dan Tommy. Tapi pada saat diluar rumah, meeka berdua kembali berteriak dan saling membalas sahutan. Ntah apa yang ada dipikiran keduanya sekarang. Kalau sudah yang namanya bertemu dengan Tommy, sifat ganjen, centil dan manja mereka berdua langsung secara otomatis keluar. Nisa juga tidak merasa bersalah saat melakukannya dan juga Adel.


*****


Dimas membuka pintu mobil dan memyuruh Nisa segera masuk dan diseberang sana juga terlihat Adel yang masuk kedalam mobil milik Harry terus berdecak kesal.


"Udah dong Nis...jangan kayak ana-anak gitu." Ucap Dimas.


"Ya habisnya Adel resek banget tau Dim." Ucap Nisa sambil merengek.


"Yang aku lihat kalau kamu yang mulai duluan Nis." Ucap Dimas.


"Oh gitu...jadi pacar aku sendiri malah lebih belain Adel." Ucap Nisa.


"Bukan gitu Nis. Intinya kamu jangan ulangi lagi seperti ini. Aku gak suka ya kamu seakan-akan gak menghargai aku ada disana. Kamu malah berebut cowok lain didepan aku. Apa maksudnya sikap kamu begitu." Jelas Dimas.


"Tapikan Dim..." Dimas memotong ucapan Nisa agar Nisa tidak membahas permasalahan ini lagi.


"Cukup Nis...bisakan kalau kita gak bahas ini." Ucap Dimas.


Baru pertama kalinya semenjak mereka berdua berpacaran Dimas bersikap setegas ini kepadanya. Setelah dipikir-pikir dia merasa bersalah juga atas apa yang baru saja terjadi. Tidak selayaknya dia bersikap seperti itu dihadapan pacarnya sendiri.


"Maaf Dim..." Ucap Nisa


Dimas mengelus lembut tangan Nisa...


"Makasih udah dengerin." Ucap Dimas.


"Makasih udah ingetin juga." Ucap Nisa.


"Apa lagi sih Dim?" Ucap Nisa.


"Bisa gak kamu panggil aku dengan sebutan yang tadi Nis? aku mau dengar lagi..." Ucap Dimas.


"Yang tadi?" Nisa berfikir sejenak terus dia membuka mulutnya karena kaget. 'Tadi gue reflek panggil Dimas dengan panggilan sayang didepan semuanya. Kok gue gak sadar ya. Aduh gimana nih kalau disuruh ngulangi gue kan malu.' Batin Nisa.


"Iya yang tadi. Kamu gak lupa kan?" Tanya Dimas.


"Kalau diminta begini aku gak bisa Dim." Ucap Nisa.


"Oh ya udah aku bakalan nunggu kamu sampai kamu bisa." Ucap Dimas.


"Maksud kamu apa Dim?" Tanya Nisa.


"Kita akan di mobil aja sampai kamu ucapkan kata-kata itu." Ucap Dimas.


"Apa??ikh Dimas gak lucu banget..." Ucap Nisa sambil merengek minta keluar dari mobil.


Nisa mulai berusaha mengucapkan kata-kata tadi...


"Sa---y..." Nisa berhenti karena kaku saat mengucapkannya.


Tapi dia mencoba kembali, Dimas benar-benar menunggu Nisa untuk mengatakannya.


"Sa--ya.." masih saja dia begitu kaku mengucapkannya.


Tiba-tiba saja Dimas mendekatkan wajahnya kearah wajah Nisa, yang semakin membuat jantung keduanya begitu berdebar kencang. Dimas menggesekkan hidung Nisa dengan hidungnya dengan sangat lembut. Kemudian mereka berdua tersenyum...Nisa yang sudah terlanjur salah tingkah.


"Sayang." Ucap Nisa.


"Panggil aku dengan sebutan itu terus Nis." Ucap Dimas.


"Gak boleh curang dong, kamu aja masih panggil aku dengan nama kok." Ucap Nisa seolah tidak terima.


"Kalau begitu kamu udah boleh turun. Sampai besok ya sayang." Ucap Dimas yang sudah memerah sedaritadi. Nisa juga yang gak kalah kaget saat mendengar pacarnya mengucapkan panggilan itu. Nisa membuka pintu mobil dan berdiri mematung didepan pintu pagar rumahnya.


Berbanding terbalik dengan Nisa, Adel dan Harry malah adem ayem saja didalam mobil. Ntah apa yang ada didalam pikiran keduanya saat ini.Mereka berdua terlihat tidak banyak bicara seperti biasanya. Adel yang masih memikirkan kejadian tadi sampai melamun sedangkan Harry sedikit terganggu dengan kehadiran Tommy. Seperti sedang cemburu kepada Adel tapi dia tidak bisa mengungkapkannya. Jujur saja Harry begitu tersiksa karena mencintai orang seperti Adel. Adel yang sepertinya tidak pernah membuka hati sedikitpun untuknya dan hanya menganggapnya hanya sebagai teman. Status mereka sekarang menjadi begitu penting sekarang baginya. Karena baginya tidak mungkin mereka berdua berstatus teman tapi salah satu diantara keduanya memiliki perasaan.


Begitu banyak hal yang Harry sempat pikirkan sendiri. Sampai dia tidak sadar hampir menerobos lampu merah.Untung saja disaat itu Adel sudah menghentikannya. kalau tidak, mungkin Harry sudah melanggar rambu lalu lintas tersebut.


"Mikirin apaan sih sampai gak fokus begitu." Protes Adel.


"Habisnya kamu juga diam aja, akukan jadi gak tenang." Ucap Harry yang mencari alasan.


"Itu karena aku lagi malas ngomong aja karena Nisa tuh. Ngeselin banget tuh anak ya." Ucap Adel.


"Lebih baik gak usah kamu ladeni. Mungkin Nisa begitu hanya cemburu saja kali." Ucap Harry.


"Cemburu? diakan sudah punya pacar. Jadi gak selayaknya melakukan hal tadi." Ucap Adel yang masih kesal.


"Emang yang kamu lakukan tadi layak ya?" Ucap Harry.


Adel seketika saja tidak bisa menjawab ucapan Harry lagi. Dia berfikir sendiri emangnya dia ada melakukan kesalahan apa. Tapi Harry ada benarnya juga sih mungkin tadi dia gak seharusnya meladeni sikap Nisa...


"Ntah lah." Ucap Adel kemudian membuang pandangannya kearah jalan sebelah kirinya.


Sampainya didepan rumah Adel, tiba-tiba saja Harry berbicara degan tatapan yang begitu serius.


"Del..." Ucap Harry.


"Hemm..." Ucap Adel.


"Kapan kamu mulai membuka hati untukku?" Tanya Harry.


"Apa? kenapa kamu mendadak nanyain ini?" Ucap Adel.


"Aku hanya pengen tahu aja Del. Apa sampai saat ini hati kamu belum tersentuh sama sekali?" Tanya Harry lagi.


"Aku gak bisa bahas ini sekarang. Maaf aku keluar dulu." Adel secepat mungkin membuka sealtbelt dan pintu mobil.


Karena takut kalau HArry bertanya kembali, Adel segera berlari masuk kedalam rumah. Sampai saat ini Harry juga tidak pernah diperbolehkan masuk kedalam rumahnya untuk bertemu langsung kedua orangtuanya. Adel menganggap hal itu tidak perlu dilakukan karena mereka hanya berteman dan status mereka juga hanya terjalin atara atasan dan bawahan saja. Harry menghela nafas sebelum menyalakan kembali mesin mobilnya. ' Masih aja kamu susah untuk menjawab pertanyaanku Del. Aku harus menunggu kamu sampai kapan?' Batin Harry.


*****


Ratu meninggalkan Kavin dan Tommy untuk mengobrol diruang tengah. Ratu yang merasa sangat kegerahan meminta bantuan kepada bi Ina untuk membukakan baju yang dia pakai saat ini didalam kamar. Dia membersihkan dirinya sebelum mengganti baju dengan pakaian yang lebih nyaman untuk dirumah. Piyama tidur adalah pilihan yang paling tepat untuk membuang rasa gerah dan panas saat ini.


Ratu duduk di sofa yang ada didalam kamarnya sambil memikirkan sesuatu yang sedaritadi sangat mengganggu baginya. Karena hanya dia yang merasa tatapan mata Adel itu begitu dalamnya kepada seorang cowok. Dia mulai mengingat kejadian tadi kemudian menghubungkan dengan semua hal yang ada didalam otaknya. Memang seorang playgirl jauh lebih peka dan mengerti keadaan tadi. Dia bisa membaca kejadian yang secara tidak sengaja tersebut.


Ratu segera menghubungi nomor telepon Adel...


saat Adel mengangkatnya dia malah tidak jadi menanyakan hal tersebut.


"Hai beb, kenapa telepon?" Tanya Adel.


"Eh hai. Gue gak ganggu kan?" Tanya Ratu.


"Gak kok, gue baru aja sampai rumah ini." Ucap Adel.


"Bagus deh." Ucap Ratu.


"Emangnya ada apa beb?" Tanya Adel lagi.


"Mmmmm....gpp kok gue cuman mau mastiin aja." Ucap Ratu.


"Lo yakin karena ini nelepon gue?" Tanya Adel.


"Yakin...karena gue gak habis fikir lihat tingkah lo sama Nisa tadi yang seperti anak-anak." Ucap Ratu.


"Iya iya beb, gue ngaku salah kok." Ucap Adel.


"Udah ya, gue cuman mau mastiin lo udah sampai dirumah aja." Ucap Ratu yang buru-buru memetikan teleponnya.


'Apa mungkin selama ini Adel itu suka sama Tommy ya? kok perasaan gue kuat banget ya. Apa cowok yang berinisal yang ada didalam diary Adel itu Tommy? tapi kenapa Adel gak pernah cerita sama gue sama sekali. Sebenarnya gue pengen banget ngorek langsung ke orang yang bersangkutan tapi gue harus nunggu saat yang tepat dulu. Kalau gue tanya sekarang bisa aja Adel tidak akan mengakuinya.' Batin Ratu.


Karena merasa lelah berdiri terus sepanjang hari ini, Ratu secara perlahan meluruskan kakinya diatas tempat tidur.


Disisi lain, Kavin dan Tommy sedang bercerita tentang perusahaan mereka berdua masing-masing. Semua hal tentang pekerjaan, olahraga maupun hal lainnya mereka bincangkan. Padahal mereka baru saja berteman. Tapi sudah terlihat begitu akrab. Seperti orang yang tidak pernah bermusuhan atau saingan sebelumnya. Tommy juga sempat makan bersama dengan Kavin. Kedekatan yang terjalin dengan baik ini sangat dinikmati oleh keduanya. Jujur saja awalnya Tommy begitu meragukan niat baik dari Kavin, tapi setelah hari ini dia percaya kalau Kavin benar-benar berubah menjadi lebih baik dan dewasa. Mungkin karena pengaruh Ratu sedang hamil anaknya. Itulah yang terbesit didalam pikirannya saat ini.


Selama 3 jam lebih Tommy berada disana, waktu begitu cepat berlalu. Tommy memutuskan untk pulang karena sudah malam. Kavin menjabat kembali tangan Tommy dengan segera yang bertanda bahwa Tommy adalah sahabat baiknya sekarang. Tommy segera menerima jabatan tangan dari Kavin, dia merasa Kavin menjadi jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Pantas saja Ratu begitu mencintainya. Kavin bisa menaklukkan dan mencairkan hati seseorang seperti keinginannya.


Tommy merasa begitu lega karena tidak ada rasa canggung lagi bagi keduanya seperti biasa. Hanya hal baik saja yang mereka lakukan dan bicaraka sedaritadi. Mungkin karena mereka sudah kenal lama jadi perasaan canggung itu seolah menghilang disaat keduanya menjadi akrab seperti ini. Kavin mengantarkan Tommy sapai didepan rumah.


Dperjalanan pulang dia mendapat kabar bahwa ada seorang investor dari perusahaan lain yang ingin mendanani proyeknya yang baru. Sontak saja perasaannya menjadi lebih senang lagi. Karena proyek baru ini begitu dia nantikan dengan kerja kerasnya selama ini. Tetapi karena proyek ini memerlukan dana yang cukup besar, dia harus mencari investor yang mau bekerja sama untuk hal itu. Tiba-tiba saja malam ini dia membaca pesan dari sekretarisnya yang mengatakan hal tersebut. Perusahaan yang bekerja sama dengan Tommy adalah...


*****


Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.


jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.


Terimakasih masih setia membaca novel ini.


Happy Reading Guys!