
'Darimana Ratu bisa tahu tentang buku diary gue? Perasaan gak ada yang pernah tahu apa yang gue tulis disana. Terus gue harus jawab apa sekarang? Kok keadaanya jadi seperti ini sih?' Batin Adel yang masih bingung.
"Pasti lo bingung kenapa gue tanya begini. Tapi selama ini gue dan Nisa mengharapkan lo yang cerita sendiri. Tapi sampai sekarang lo gak pernah cerita tentang hal ini." Ucap Ratu.
"Gue....sebenarnya.." Adel tidak mampu melanjutkan kata-katanya lagi.
"Apaan sih Del? Kalau ngomong itu yang jelas dong. Kita kan penasaran banget sekarang." Ucap Nisa yang terlihat sangat bersemangat mendengarkan ungkapan jujur dari sahabatnya itu.
"Gue jujur....gue bingung mau mulai darimana pembahasannya." Ucap Adel.
"Pelan-pelan aja Del. Kita akan dengarin kok." Ucap Ratu.
"Santai aja kali beb, kan sama kita-kita juga. Ngapain juga lo sampai segugup ini." Ucap Nisa.
"Kalian tau ini sejak kapan? karena jujur gue gak pernah ceritain ini kesiapapun." Tanya Adel penasaran.
"Kita akan jawab setelah lo ceritain semuanya." Ucap Ratu.
Adel mencoba menarik nafas dalam-dalam sebelum mencoba bercerita.
"Kenapa sih Del lo itu gak pernah cerita? Lagian gak ada salanya juga kok kalau suka sama seseorang. Gak dosa juga..." Jelas Nisa.
"Kalau lo masih merasa begitu berat untuk ceritain ke kita, lebih baik tunggu lo siap aja Del. Kita juga gak akan maksa lo kok. Mungkin lo terlalu kaget karena kita tahu hal ini kan?" Ucap Ratu sambil memegang bahu Adel.
"Kita bis mengrti keadaan lo beb." Ucap Nisa.
Adel benar-benar merasa shock hari ini padahal niat dia hanya ingin berbagi cerita aja tentang Tommy dan Harry. Tapi malah dia berada diposisi terjpit seperti sekarang ini. Bagaimana pun juga dia masih memiliki sahabat.
"Gue gak tahu kenapa hati gue bisa menyukai Tommy sampai sedalam dan selama itu. Gue pikir ini hanya rasa kagum sesaat tapi lama-kelamaan perasaan ini muncul tanpa bisa aku kendalikan lagi sampai sekarang. Sumpah gue gak maksud begini beb. Kalian juga tahu jelas kalau gue gak pernah percaya sama yang namanya cinta. Karena papa mama gue hanya sibuk bekerja tanpa pernah memberikan gue kasih sayang dan cinta. Tapi untuk pertama kalinya gue bisa mengangumi seseorang. Mungkin terdengar konyol tapi itulah kenyataannya. Gue cerita atau gak juga...gak akan mengubah keadaan kan." Kelas Adel panjang lebar.
"Sejak kapan perasaan lo ini muncul?" Tanya Ratu.
"Sejak pertama kali lo ngenalin Tommy ke gue. Dan gue benar-benar merasa sosok seperti Tommy lah yang gue cari selama ini. Cara dia memperhatikan, menyayangi dan mencintai lo. Gue begitu menyukai sifat dia yang begitu lembut ke perempuan. Hal itu yang membuat gue mulai kagum. Tapi seiring berjalannya waktu ntah mengapa gue malah menyukainya secara diam-diam." Jelas Adel.
"Terus sampai kapan lo akan pendam perasaan lo ini Del? ingat ya Del, orang gak akan pernah tahu kalau kita gak pernah ungkapkan secara langsung." Ucap Ratu.
"Waktunya masih belum tepat Tu, gak mugkin juga gue tiba-tiba nyatain perasaan ke dia. Gue kan gak sedekat itu sama dia. Kalian gak marah kan sama gue?" Ucap Adel.
"Ngapain juga kita mara Del, cuman kita kaget aja karena orang itu ternyata Tommy. Selama ini kami berusaha mencari tahu tapi tidak pernah berhasil menemukan orang yang lo sukai." Ucap Nisa.
"Tiap orang juga butuh privasi sendiri Del....jadi gue paham kenapa lo menjadi seperti ini sekarang." Ucap Ratu.
"Thanks all..." Adel memeluk Nisa dan ingin memeluk Ratu juga sebnarnya tapi tidak bisa dia lakukan mengingat perut Ratu yang semakin besar.
"Jadi kapan kalian tau kalau gue menyukai Tommy?" Ucap Adel setelah melepaskan pelukannya ke Nisa.
"Kita udah curiga waktu acara Ratu kemarin. Sikap dan tindakan lo benar-benar konyol saat itu. Semua orang yang melihat pasti tahu dengan jelas Del. Mungkin lo gak sadar kalau kita memperhatikan cara lo memandang Tommy waktu itu." Ucap Ratu.
"Tentang diary, gue gak sengaja baca diary lo waktu pernikahan Ratu . Kita kan satu kamar hotel waktu itu. Awalnya gue gak mau baca tapi berhubung rasa penasaran gue yang begitu tinggi. Ya udah gue baca aja semuanya. Tapi karena lo buat inisial nama jadi gue dan Ratu gak tahu sama sekali siapa yang lo maksud pada diary tersebut. Baru kemarinlah gue mulai curiga." Jelas Nisa.
"Dasar lo Nis, hobi banget baca ya sampek diary gue pun lo baca juga." Protes Adel.
"Salah sendiri lo bawa diary waktu itu." Ucap Nisa yang gak mau disalahkan.
"Kalian ini kalau sudah ketemu pasti ribut mulu. Gak bisa gitu tenang sedikit." Ucap Ratu menjewer telinga kedua sahabatnya.
"Awww sakit..." Ucap keduanya serentak.
"Awas aja kalau kalian berantam lagi, gue putuskan itu telinga kalian karena gak mau dengarin ucapan gue barusan." Ancam Ratu.
Adel dan Nisa mendadak diam karena tidak ingin memancing kemarahan bumil tersebut.
Setelah Adel jujur kepada Ratu dan Nisa, dia merasa benar-benar lega sekarang. Seenggaknya gak ada yang dia tutupi lagi sama sahabat-sahabatnya.
"Sayang ternyata kamu disini, aku cariin kamu daritadi." Ucap Kavin yang baru saja pulang kerja. Dia langsung kebingungan mencari keberadaan Ratu yang tidak dia temukan dimana-mana. Ternyata Ratu berada diruang karaoke tapi hanya duduk dan mengobrol saja dengan Adel dan Ratu disana.
"Emang aku bisa kemana lagi kalau bukan dirumah." Ucap Ratu.
"Ya aku kan cuman kawatir aja sayang." Ucap Kavin.
"Ehem ehem... ntar aja deh manja-manjanya. Masih ada kita juga. Lagian lo lebay banget sih Vin..." Ucap Nisa.
"Terserah gue dong. Istri istri siapa jug malah kalian yang protes." Ucap Kavin.
"Kita pinjam istri lo sebentar aja padahal untuk ngobrol." Ucap Adel.
"Kayaknya kita balik aja yuk Del. Gak seru deh udah ada Kavin disini." Ucap Nisa.
"Yups...benar banget. Kita pulang aja ya Tu biar lo sama Kavin bisa mesra-mesraan kayak tadi tanpa ada gangguan." Ucap Adel.
"Jangan la tunggu..." Ucap Ratu yang tidak direspon ole Adel dan Nisa. Nisa dan Adel melambaikan tangan untuk pamit dan menutup pintu ruang karaoke tersebut.
Ratu melihat Kavin dengan tatapan yang tidak senang.
"Karena kamu tuh Adel dan Nisa jadi pulang." Ucap Ratu.
"Bukan salah aku dong sayang. Aku kan hanya mencari istri aku aja. Mereka juga pasti mengerti kok..." Ucap Kavin.
"Tau ah Vin. Udah ah aku lagi malas dekat sama kamu sekarang. Aku keatas aja sekarang." Ratu pergi meninggalkan suaminya yang masih duduk.
"Sayang? tungguin aku..." Kavin mengikuti istrinya dari belakang.
"Sana pergi..." Ratu mendorong Kavin untuk segera menjauh darinya." Ucap Ratu.
"Dosa lo kalau kamu begini ke aku." Ucap Kavin.
"Kalian berdua ini masih aja hobi ngambek-ngambekan gini. Ingat udah mau punya anak..." Mama Ratu menasehati keduanya yang masih labil itu.
"Tuh kamu dengar sendiri kan mama ngomong apa." Ucap Kavin.
"Hmmm iya." Ucap Ratu.
Mama dan papa Ratu hanya bisa mengangkat kedua bahu mereka yang menyaksikan perdebatan antara suami dan istri tersebut.
"Dasar anak dan menantu ada-ada aja kelakuannya ya ma." Ucap papa.
Mama hanya tersenyum mendengar ucapan papa barusan...
*****
Proyek kerja sama dengan perusahaan Tommy berjalan dengan lancar. Harry sudah datang meeting 2 minggu setelah pertemuan pertama mereka. Harry benar-benar serius dengan keputusannya untuk membantu sebagai investor di perusahaan tersebut.
Tommy dan Adel menjadi semakin dekat saja karena sebuah proyek. Ntah apa yang dipikirkan oleh Harry sampai-sampai dia terus-menerus menyuruh Adel untuk datang ke perusahaan Tommy hingga membuat keduanya semakin akrab dan dekat. Selama ini Adel hanya bisa menyapa Tommy saja tapi tidak untuk 2 minggu belakangan ini. Mereka sering makan siang atau makan malam untuk membahas tentang pekerjaan. Mereka bertemu secara intens malah Harry yang sudah jarang mengajak Adel untuk pergi jalan.
Apalagi semenjak Adel mengingkari janjinya untuk bertemu dengan Harry pada saat weekend kemarin. Perasaan Harry benar-benar sangat kecewa pada saat itu. Rasa kecewa yang mendalam yang dia rasakan karena dia berniat untuk mengenalkan Adel kepada mamanya yang baru balik dari luar kota. Dia sengaja menunggu kehadiran Adel disebuah taman ditemani mamanya. Sampai mamanya bertanya-tanya siapa orang yang akan Harry perkenalkan tapi karena Adel tak kunjung datang. Harry meminta maaf kepada mamanya karena sudah membuang waktu untuk menunggu seorang yang tidak bisa hadir.
Adel tidak pernah meminta maaf setelah kejadian tersebut, seolah dia tidak bersalah. Dia hanya mengirim pesan yang isinya tidak bisa bertemu karena alasan mendadak. Saat itu Adel juga tidak punya pilihan lain untuk pergi. Mau tidak mau dia memilih untuk membatalkan janji temunya dengan Harry. Sebenarnya ada alasan tersendiri kenapa Adel mendadak begitu. Alasannya hanya dia yang tahu.
Setelah kejadian itu sikap Harry benar-benar berubah drastis. Yang satu tidak menjelaskan kenapa tiba-tiba membatalkan pertemuan dan yang satu lagi sudah terlanjur kecewa karena sikap Adel tersebut. Mereka sudah jarang berkomunikasi dengan baik belakangan ini. Harry hanya mengobrol masalah pekerjaan saja dengan Adel. Semua itu dia lakukan untuk menghindar dan menjauh dari Adel karena rasa kecewa yang mendalam. Ingin rasanya dia melampiaskan amarahnya tapi dia sadar betul kalau statusnya hanya teman saja. Niat itu dia urungkan agar tidak membuat keadaan semakin parah.
Karena terlalu sibuk dengan Tommy, sampai-sampai membuat Adel benar-benar melupakan Harry. Harry sengaja melakukan itu agar dia bisa mengindari pertemuan dengan Adel. Padahal jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam dia sangat merindukan Adel tapi semua hal itu dia pendam. Dia sudah berjanji pada diri sendiri kalau akan menghilangkan secara perlahan rasa cintanya tersebut. Dia tidak ingin memaksakan ati seseorang yang tidak bisa menerimanya sama sekali.
Seperti hari ini Adel menghubungi Harry untuk permisi untuk tidak balik lagi ke kantor karena banyak yang akan dia urus di perusahaan Tommy. Harry dengan segera memberikan izin karena memang itu tujuan dia mengirimkan Adel sebagai perwakilan dari perusahaan.
Harry secara perlahan mulai terbiasa tidak meliat Adel. Kalaupun dia benar-benar merindukan sosok Adel, dia anya memandangi walpaper yang ada di pnya terus-menerus.
Adel sama sekali tidak merasa perubahan sikap Harry kepadanya. Harry sudah sangat jarang memberikan pesan atau chat untuk sekedar mengingatkan makan atau hal lainnya.
Sampainya diapertemen, Harry menyibukkan dirinya sendiri seperti memasak dan membereskan apartemen sebentar. Itu dia lakukan agar tidak mengingat Adel. Dia juga sengaja membeli banyak buku di gramedia untuk dia baca sebelum tidur. Berulang kali dia melihat hp tapi pesan atau chat yang masuk bukan dari orang yang dia harapkan. Ntah kenapa dia hanya ingin Adel yang menghubunginya duluan dan meminta maaf. Mungkin terdengar sangat konyol karena harapannya yang tidak akan pernah terjadi. Dia sadar kalau Adel bukan miliknya.
Dia tinggal diapertemen hanya seorang diri saja, kedua orangtuanya tinggal di London bersama adiknya yang paling kecil. Karena dia bekerja di Jakarta jadi dia hanya membeli apertemen saja sebagai tempat tinggalnya. Sesekali mama dan papanya mengunjungi anaknya tapi kalau ada waktu libur dan cuti, Harry yang datang mengunjungi kedua orangtuanya.
*****
Semenjak bertemu dengan Tommy, Adel selalu saja berdandan senatural dan secantik mungkin. Dia juga sempat membeli baju-baju baru padahal koleksi pakaiannya sudah terlalu banyak. Setiap hari dia selalu lama saat memilih pakaian mana yang akan dia gunakan demi menarik perhatian Tommy. Semua hal yang tidak seharusnya pun dia lakukan. Padahal cinta itu datang dengan sendirinya bukan dengan perubahan. Tapi sekarang Adel sedang merasa jatuh cinta yang tidak bisa dia kendalikan lagi. Rasanya dia ingin menampilkan semua hal yang terbaik pada dirinya saat ini.
"Hai Tom..." Sapa Adel dengan ramah. Adel pagi-pagi sudah dikirim Harry ke perusahaan Tommy. Adel harus memastikan proyek tersebut berjalan sesuai rencana. Dan yang paling penting setelah proyek ini diterbitkan, mereka harus melihat berapa banyak orang yang berminat pada game yang diciptakan tersebut. Jika banyak pengguna yang mendownload dan memainkannya berarti game tersebut diminati.
"Eh Hai Del..." Tommy memperhatikan penampilan Adel hari ini dari atas sampai bawah.
"Lo gak salah pakai dress super ketat begini?" Tanya Tommy.
Tommy mengajak Adel untuk masuk kedalam ruangannya.
"Gue akan berbicara santai sama lo Del. Gue minta lo ganti pakaian lo ini dengan pakaian kemeja aja." Ucap Tommy.
"Kenapa sih Tom? Gue suka kok sama bajunya." Ucap Adel.
"Lo gak merhatiin tadi bagaimana pandangan semua karyawan gue pas lihat lo pakai baju super ketat ini." Ucap Tommy.
"Gue udah biasa pakai baju yang begini. Jadi lo gak usah mengkhawatirkan gue sekarang." Ucap Adel yang masih saja bersih keras memakai pakaiannya.
"Ya udah terserah lo aja. Gue gak mengerti sama jalan pikiran lo. Maaf kalau kata-kata gue terdengar terlalu kasar." Ucap Tommy.
"Kalau begitu gue permisi..." Adel keluar dari ruangan Tommy.
'Kenapa sih Tommy? apa yang salah juga sama penampilan gue? kan semua cowok itu sama aja sih.' Batin Adel.
Adel berjalan kearah toilet untuk memperbaiki tampilan makeup dan bercermin sekali lagi tentang pakaiannya hari ini.
Dari pantulan cermin terlihat Adel begitu sexy yang menampilan bagian tubuhnya dari semua sisi.
"Menurut gue biasa aja kok. Kayaknya baju yang paling sexy gue pakai waktu pesta Ratu kemarin deh. Ini sih lebih tertutup cuman membentuk body aja tampilannya. Mungkin Tommy kaget aja kali lihat penampilan gue hari ini." Ucap Adel dengan percaya dirinya kearah kaca.
Dia mengambil liptint kesayangannya untuk membuat bibirnya menjadi lebih fresh dari sebelumnya...
"Oke sempurna." Ucap Adel.
Adel keluar dari toilet dan berjalan seperti biasa, semua tatapan mengarah padanya. Baik karyawan perempuan maupun laki-laki. Sampai membuat mereka tidak fokus berjalan. Karyawan perempuan saling berbisik, bebeda dengan karyawan laki-laki yang terus-menerus menatapnya tanpa melihat jalan. Ada yang sampai terjatuh, ada juga yang terbentur kaca pintu.
Adel memang sudah biasa melihat orang lain saat melihat dirinya. Masih saja dengan penuh percaya dirinya dia masuk kedalam ruang meeting untuk mendengarkan presentase dari perusahaan tersebut. Seorang manager yang ada di perusahaan itu adalah seorang mata keranjang, tentu saja dia begitu tertarik melihat kearah Adel. Apalagi bentuk tubuh Adel begitu menarik baginya. Rasanya ingin saja dia menikmatinya sendiri. Ntah apa yang ada didalam pemikiran Adel saat ini. Padahal Tommy sudah berusaha menasehatinya untuk hal tersebut.
Tommy benar-benar kesal karena meeting berjalan sangat kacau. Banyak orang yang teralihkan perhatiannya ke Adel. Semua yang sudah tersusun rapi menjadi berantakan. Hanya Tommy yang merasa risih melihat tampilan Adel saat ini. Setidaknya disini kantor untuk bekerja bukan tempat party yang bisa memakai pakaian bebas. Tommy tidak tertarik melihat cewek berpenampilan demikian. Malah semakin membuatnya ilfeel.
Adel merasa melayang karena sedaritadi Tommy tidak berhenti menatap kearahnya, padahal dia tidak tahu apa isi pikiran Tommy.
'Kayaknya rencana gue benar-benar berhasil deh kali ini. Buktinya Tommy gak berhenti menatap gue.' Batin Adel.
Setelah meeting selesai, Tommy langsung pergi dari ruangan tersebut menuju ruangannya. Di dlam ruangan dia berfikir keras untuk menasehati Adel.
"Ah terserah dia aja lah. Gue gak peduli lagi." Ucap Tommy dengan nada kesalnya.
Tommy memutuskan untuk menyuruh Adel balik ke kantor. Dan Tommy juga menyampaikan pesan tersebut kepada Harry...
"Bagaimana meetingnya barusan?" Tanya Harry yang mengangkat telepon kantor. Dia sebelumnya sudah diberitahu kalau dari perusahaan Tommy sudah menghubunginya berapa kali.
"Semuanya berantakan. Maaf saya benar-benar kesal sekarang." Jelas Tommy.
"Maksudnya bagaimana? Coba pak Tommy jelasin." Ucap Harry.
"Begini ya pak Harry, saya menghargai kinerja karyawan anda yang sangat bagus tapi karena ulah karyawan anda yang menghancurkan semuanya." Ucap Tommy.
"Coba ceritain kejadiannya pak Tommy. Saya benar-benar belum mengerti keadaannya.." Ucap Harry.
Tommy menjelaskan semua hal yang terjadi di kantornya, tak kalah terkejutnya Harry mendengar semua itu. Saat bersama dengan Harry, Adel tidak pernah mengubah penampilannya menjadi begitu. Kenapa Adel bisa menjadi cewek yang ingin terlihat sexy dihadapan Tommy? Harry masih tidak habis fikir bagaimana jalan pikiran Adel. Semua yang Adel lakuin ini tidak masuk akal.
"Maaf ya pak Tommy atas tindakan sekretaris saya. Saya akan coba menegurnya." Ucap Harry.
Ada perasaan marah dari dalam hatinya. Dia marah karena Adel secara tidak langsung menunjukkan bentuk tubunhnya ke semua orang. Selama ini Harry begitu menjaganya dengan baik. Tapi Adel benar-benar keterlaluan kali ini.
"Saya sudah menyuruh Adel untuk balik ke kantor. Mungkin seharusnya dia sudah sampai sekarang." Ucap Tommy.
"Oke ...Saya akan mencoba mengeceknya sendiri. Terima kasih atas masukan dari bapak Tommy." Ucap Harry dengan sopan.
"Sama-sama pak Harry..." Ucap Tommy.
Setelah mengakhiri telepon, Harry langsung saja mengecek Adel di meja kerjanya. Tidak ada tanda-tanda kedatangan Adel di kantor. Harry mencoba menghubungi no hp ny atapi tidak diangkat. Semakin membuat Harry menjadi cemas, dia menghubungi Tommy kembali. Tapi Tommy sudah menyuruh pulang Adel 2 jam yang lalu. Tidak mungkin kalau Adel belum sampai di perusahaan.
'Apa yang terjadi dengan Adel sekarang?' Firasat buruk yang ada dalam pikiran Harry sekarang.
Tommy yang mendengar hal tersebut menjadi merasa bersalah. Karena dia yang menyuruh Adel untuk pulang. Tapi Adel tidak bisa dihubungi lagi. Tommy membantu Harry untuk mencari keberadaan Adel. Mereka menanyakan kepada semua teman kerja, atau teman terdekat Adel dimana keberadaan Adel? Tidak ada yang tahu malah membuat Nisa dan RAtu menjadi ikutan cemas. Karena setahu mereka, Adel selalu mengangkat hp nya kalau dihubungi....
Harry yang sudah tidak bisa berfikir jernih lagi, dia meutuskan untuk melaporkan hal ini kepada polisi. Setidaknya mereka akan dibantu untuk melakukan pencarian. Hp Adel dilacak secepat mungkin...terdapat signal GPS keberadaan Adel.
Polisi memberikan informasi kepada Harry. Harry langsung saja mengikuti mobil polisi dari belakang. Dan Tommy juga ikut-ikutan mengikuti Harry. Bagaimanapun juga Tommy merasa bertanggung jawab atas hal yang menimpa Adel tersebut.
Harry mengendarai mobil dengan gelisah dan pikiran yang kacau.
'Aku berharap kamu akan baik-baik aja Del. Please jangan pernah menghilang. Aku sayang kamu Del. Benar-benar sayang...' Batin Harry.
Sedangkan hp Tommy terus-menerus bergetar, ternyata Ratu yang menghubunginya...
"Tom? udah dapat kabar keberadaan Adel belum?" Tanya Ratu yang terdengar cemas.
"Udah kok. Kamu gak perlu khawatir Tu. Ini kami lagi menuju tempatnya. Ntar aku kabari lagi ya." Ucap Tommy.
"Oh gitu. Jagain Adel ya...jangan sampai dia kenapa-napa." Ucap Ratu.
"Pasti." Ucap Tommy.
Ratu mematikan teleponnya dan memberi informasi tersebut kepada Nisa. Nisa yang mendengar sudah terlihat sedikit lebih tenang. Sebelumnya dia sampai minta bantuan kepada Dimas untuk mencari Adel. Dimas sebagai pacar hanya bisa menenangkan pikiran Nisa saat ini. Dimas mememluk Nisa yang menangis karena mencemaskan Adel. Memang Nisa dan Adel sering berantem tapi Nisa begitu menyanyangi Adel.
"Kamu tenang ya sayang. Kita berdoa aja semoga Adel gak kenapa-napa." Ucap Dimas sambil menepuk-nepuk bahu pacarnya.
Nisa hanya menenggelamkan wajahnya didalam pelukan Dimas. Dia sampai rela mendatangi Dimas ke kantornya.
"Kamu balik kerja deh Dim. Aku mau pulang aja sekarang." Ucap Nisa.
"Aku antar kamu ya? aku gak bisa ninggalin kamu dalam keadaan begini. Aku juga gak mau kamu kenapa-napa." Tawar Dimas.
Nisa mengangguk sekilas...
Dimas mengantar Nisa untuk pulang, sebenarnya dia ingin kerumah Ratu tapi dia tidak ingin kalau Ratu menjadi semakin khawatir.
Setelah turun dari mobil, Nisa berlari dan memeluk bundanya yang sedang menyiram tanaman.
"Bunda..." Rengek Nisa.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya bunda.
"Adel bunda... Adel....? Ucap Nisa terbata-bata...
*****
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading Guys!