Playboy Vs Playgirl

Playboy Vs Playgirl
Terlacak



Nisa menjelaskan semua kejadian yang terjadi hari ini. Bunda ikut mengkhawatirkan Adel sekarang. Bunda sudah menganggap Adel sebagai anaknya sendiri. Adel adalah seorang anak yang malang, dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari keluarganya sendiri.


Mungkin sampai saat ini juga tidak ada keluarganya yang mencarinya. Tapi Adel beruntung memiliki kedua sahabat dan lingkungan sekitar yang menyanyanginya. Dia menjadi seperti ini juga demi mencari perhatian seseorang dalam hidupnya. Yang tidak pernah dia dapatkan dari keluarganya sendiri.


"Nisa boleh gak ikut mencari Adel bunda? Nisa khawatir banget bunda. Sampai sekarang belum ada kabar tentang Adel lagi." Ucap Nisa.


"Kamu mau cari Adel? gak boleh Nisa. Aku gak setuju sama keinginan kamu barusan." Protes Dimas dengan sangat tegas.


"Jangan sayang. Kita berdoa aja yang terbaik buat Adel ya sayang. Bunda juga takut kamu kenapa-napa. Hanya kamu yang bunda miliki di dunia ini." Ucap bunda.


"Kamu dengar sendiri kan Nis? bunda gak izinin jadi aku harap kamu gak berbuat nekat." Ucap Dimas.


"Terus kita harus ngapain sekarang? aku gak bisa diam aja kan Dim, kamu aksih tahu aku harus apa." Ucap Nisa yang semakin kacau. Nisa menggoyang-goyangkan tubuh Dimas dengan kedua tangannya.


"Kamu disini aja dan doain yang baik-baik. Aku akan bantu pantau dan ikut mencari keberadaan Adel. Gimana ?" Tanya Dimas.


"Kamu beneran kan?" Ucap Nisa.


"Asalkan kamu janji kalau kamu bakal nungguin kabar dari aku dan yang paling penting kamu harus dirumah aja." Ucap Dimas.


"Oke." Ucap Nisa.


'Gue mohon Del, lo harus baik-baik aja sekarang. Gue sayang banget sama lo. Kita semua mengkhawatirkan lo Del. Lo masih punya banyak orang yang sayang jadi gue mohon Del.' Batin Nisa.


Dimas segera berpamitan kepada bunda dan Nisa, dia tidak ingin membuang-buang waktu lebih alma lag. Dia menghubungi Ratu untuk meminta no hp Tommy. Setelah itu dia menghubungi Tommy untuk menshare lokasi...


Dimas menjemput Kavin untuk menemaninya, karena lokasi tujuan tersebut lumayan jauh. Dia tidak mungkin pergi sendirian. Apalagi hari sudah semakin sore menuju malam.


"Ada apa ini Dim? kok lo buru-buru begini? emangnya kita mau kemana sekarang?" Tanya Kavin yang belum tahu apa-apa.


"Ratu gak ngabari lo?" Tanya Dimas.


"Ratu? emang apa yang terjadi sama istri gue? istri gue baik-baik aja kan?" Tanya Kavin khawatir.


"Istri lo gak kenapa-napa kok. Kita sekarang mau mencari keberadaan Adel." Ucap Dimas.


"Adel? emangnya Adel kemana?" Tanya Kavin yang masih bingung.


"Adel menghilang. Nisa dan Ratu sangat khawatir sekarang. Polisi juga udah melacak keberadaannya. Gue disuruh Nisa untuk memastikan langsung keadaan Adel." Ucap Dimas.


"Seriusan? gue gak salah dengarkan?" Tanya Kavin.


"Lo pikir sekarang gue sempat bercanda Vin. Udah deh lo diam aja disitu. Cukup temani gue aja." Ucap Dimas.


"Gue cuman kaget aja dengarnya. Kenapa Ratu gak ngabari gue ya?" Ucap Kavin.


"Mungkin Ratu gak mau ganggu lo kali." Ucap Dimas.


"Jangan kencang-kencag juga Dim. Bisa jantungan gue disetirin sama lo." Protes Kavin.


"Udah lo tenang aja. Dan banyak berdoa agar kita gak kenapa-napa." Ucap Dimas.


Kavin megirim pesan kepada Ratu...


Kavin :


Sayang, aku pulang agak telat ya hari ini. Mau nemeni Dimas mencari Adel.


Ratu yang sedang rebahan ditempat tidur, dengan cepat mengambil hp karena dia sedang menunggu kabar tentang Adel. Dia melihat Kavin yang mengirimnya sebuah pesan...


Ratu :


Hati-hati ya sayang. Jangan lupa kabarin aku kalau kamu udah dapat kabar tentang Adel.


Kavin :


Kamu juga jangan terlalu banyak mikir ya sayang. Aku sama Dimas pasti nemuin Adel dengan segera.


Ratu :


Aku juga berharap yang sama Vin...


Kavin :


Salam juga buat bayi yang didalam perut. Sampein ke debay kalau malam ini papanya akan pulang telat jadi belum tahu bisa mengelus perut kamu atau gak. Maaf ya sayangnya papa...


Ratu :


Kamu tenang aja sayang, malam ini calon debay nya biar aku aja yang elus...kalian fokus cari Adel ya. I love you :)


Kavin :


I love you too <3


"Aduh bener-bener ya lo Dim, pusing nih kepala gue kalau lo bawa mobilnya begini." Protes Kavin.


"Salah lo sendiri yang fokus main hp." Ucap Dimas.


"Gue bukan main hp, gue barusan ngabarin istri gue dulu." Ucap Kavin.


"Gue gak nanyak Vin." Ucap Dimas.


"Huh dasar resek lo Dim." Ucap Kavin.


"Ngapain juga lo laporan sama gue tentang itu." Ucap Dimas.


"Lebih baik gue diam aja daripada ngeladeni orang kayak lo. Gak akan ada habisnya..." Ucap Kavin.


"Baguslah. Memang seharusnya lo diam aja dan menikmati perjalanan ini dengan baik." Ucap Dimas.


Memang Dimas dari dulu selalu ribut masalah sepele sama Kavin. Mereka berdua sudah terbiasa seperti ini karena Kavin hobi banget ngeledekin Dimas, Dimas juga tidak pernah mau mengalah untuk membalas ucapan Kavin. Walaupun seperti itu mereka berdua sebenarnya saling respek satu sama lain. Mereka akan saling bantu semaksimal mungkin kalau salah satu dari mereka ada masalah.


*****


Nisa mengirim terus obrolan kedalam grup chat mereka bertiga...


"Gimana Tu? udah ada kabar belum?"


"Gue takut Adel kenapa-napa."


"Sumpah gue kepikiran aja sedaritadi."


Ratu sedang mengetik balasan..


"Belum ada kabar lagi."


"kita harus yakin kalau Adel bakal ditemukan."


"Gue juga kepikiran sampai gak minat makan sama sekali."


"Walaupun Adel resek, tapi dia orang yang gue sayangi juga."


"Kemuarganya ada ngubungi lo nggak Nis?"


Nisa segera membalas chat dari Ratu..


"Gak ada sama sekali."


"Gue gak nyangka keluarga Adel benar-benar nggak peduli sama sekali."


"Adel ? Dimanapun lo berada, kita berharap lo cepat balik lagi. Kita harap lo baca chat ini."


"Tapi yang paling penting keberadaan Adel sudah terlacak sekarang. Untung aja hpnya ADel masih dalam kondisi aktif. Kalau gak, kita gak akan pernah tahu dimana keberadaannya." balas Ratu.


"Benar Tu, gue juga bersyukur untuk itu." Balas Nisa.


"Gue juga berharap kita bisa berkumpul seperti biasa lagi." Balas Ratu.


"Jangan lupa ngabari kalau udah ada kabar ya Tu." Balas Nisa.


"Oke..." Balas Ratu.


'Sebenarnya apa yang terjadi sama lo Del? kita benar-benar khawatir banget. Semoga lo baik-baik aja...' Batin Ratu.


*****


Polisi sudah sampai di lokasi tersebut, lokasi ini lumayan memakan waktu sekitar 3 atau 4 jam lebih. Polisi memeriksa tempat tersebut, tampak mobil dan barang-barang Adel ada didalam mobil tapi Adel tidak ada sama sekali.


Dari kejauhan terlihat seseorang yang mulai merasa panik karena kehadiran polisi.


"Sial...kok bisa ada polisi segala sih? mana nih cewek pingsan lagi. Bisa mati gue." Ucap orang yang mengurung Adel disebuah rumah tersebut.


"Apa yang harus gue lakukan sekarang? Gue harus segera kabur daari sini. Tapi kalau gue bawa cewek ini yang lagi pingsan...susah juga. kalau gak gue bawa sama aja gue nyerahin diri ke polisi."


Orang yang mengurung Adel ini berinisiatif untuk kabur dari pintu belakang. Sebelumnya dia menuup  tubuh Adel dengan selimut. Dia perlahan membuka pintu belakang...


"Jangan bergerak, rumah anda sudah kami kepung."


"Saya salah apa pak?"


"Kamu adalah orang yang menculik saudara Adel?"


"Saya tidak melakukan kesalahan apapaun pak."


"Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi." Tangannya langsung diborgol, dia masih nekat saja untuk melarikan diri. Tapi semua itu malah sia-sia karena kakinya tertembak.


Polisi masuk kedalam rumah untuk memeriksa kedalam. Benar saja mereka menemukan Adel yang pingsan diatas tempat tidur yang ditutupi selimut. Polisi membawa Adel keluar rumah.


Saat Adel dibawa keluar rumah disaat itu juga Harry dan Tommy sampai...


"Biar saya saja yang bawa dia pulang pak." Ucap Harry.


"Anda siapanya?" Tanya polisi.


"Saya yang melaporkan kejadian ini pak. Siapa pelakunya?" Ucap HArry.


"Yang melakukan ini sudah kami amankan didalam mobil." Tunjuk polisi tersebut.


Tommy yang sangat penasaran segera mendatangi pelaku tersebut. Sontak saja Tommy kaget saat melihat orang itu.


"Pak Andre? bagaimana bisa pak Anddre melakukan hal sebejat ini." Ucap Tommy.


"Maafin saya pak. Saya khilaf..." Ucap Andre.


"Saya akan memaafkan kalau kamu tidak bekerja lagi diperusahaan saya." Ucap Tommy.


"Apa maksud bapak barusan?" Tanya Andre.


"Kamu saya pecat karena melakukan hal seperti ini. Saya tidak menyangka kalau pak Andre adalah pelakunya. Saya sebagai atasan benar-benar merasa kecewa dan menyayangkan hal ini." Ucap Tommy.


Andre merasa bersalah setelah mendengarkan ucapan pimpinannya tersebut...


Tommy segera menghampiri Harry yang sedang menggendong Adel untuk dimasukkan kedalm mobil.


"Maaf ya pak Harry, ini semua terjadi karena ulah karyawan saya sendiri. Saya benar-bena malu..." Ucap Tommy.


"Bukan salah pak Tommy, sekarang saya akan membawa Adel pulang." Ucap Harry.


Harry membaringkan tubuh Adel didalam mobilnya.


Tidak berapa lama kemudian, Kavin dan Dimas sampai dilokasi, mereka melihat Adel dalam keadaan pingsan.


"Apa yang sebenarnya terjadi sama Adel?"Tanya Kavin.


"Adel...kemungkinan diculik." Ucap Harry.


"Adel juga masih pingsan, nanti setelah sadar baru bisa ditanyain..." Ucap Harry.


"Gue minta tolong, kalian bawa mobil Adel." Harry memberikan kunci mobil kepada Dimas.


Dimas meminta Kavin membawa mobilnya sedangkan dia membawa pulang mobil Adel.


"Tommy? ngapain lo disini?" Sapa Kavin.


"Ceritanya panjang. Tapi intinya karyawan gue adalah pelakunya." Ucap Tommy.


"Dimana dia sekarang?" Tanya Kavin.


"Sudah dibawa ke kantor polisi. Kalian tenang aja gue juga akan menghukumnya dengan berat walaupun dia karyawan gue sendiri." Ucap Tommy.


"Baguslah. keadilan harus tetap ditegakkan. Jangan pernah membela orang yang salah. Gue bangga sama lo karena udah bisa tegas..." Ucap Kavin.


"Tumben seorang Kavin muji gue. Gak salah dengar nih gue. Bukannya lo paling benci banget sama gue." Ucap Tommy.


"Jangan bahas masa lalu. Sekarang gue hanya belajar menjadi orang yang lebih dewasa..." Ucap Kavin.


"Kalau gitu kita lebih baik pulang sekarang..." Ucap Tommy.


Semua orang pulang dengan membawa mobil masing-masing.


*****


Malam ini Harry membawa Adel ke apertemen miliknya, dia menutup tubuh Adel dengan jas yang dia kenakan.


'Makasih Del karena kamu baik-baik aja.' Batin Harry.


Dia membaringkan tubuh Adel di ranjang miliknya. Harry menunggu Adel terbangun sambil memegangi tanganmya.


'Aku benar-benar takut kalau kamu gak ditemukan tadi Del. Kenapa sih kamu itu susah dibilangi? Dengan pakaian seperti ini apa sih tujuan kamu. Menggoda Tommy? Yang ada cowok itu malah ilfeel tahu gak.' Batin Harry.


Adel mulai tersadar dengan memegangi kepalanya yang pusing akibat obat bius yang disuntikkan ditubuhnya. Andre menyuntikkan obat bius karena ADel menolak pergi dengannya. Obat bius yang disuntikkan berkali-kali pada tubuhnya dengan dosis yang lumayan tinggi. Makanya ADel lumayan panjang pingsan dan tak sadarkan diri.


"Dimana ini?" Itulah kalimat pertma yang keluar dari mulutnya...


"Kamu udah sadar Del? syukurlah..." Ucap Harry yang masih memegangi tangan Adel. Harry merasa benar-benar lega sekarang.


Adel yang melihat Harry disampingnya, seketika langsung memeluk Harry sambil menangis...


"Aku takut banget tadi Harry, tadi ada orang yang berniat jahat sama aku." Adel semakin mendalamkan wajahnya dalam pelukan Harry. Harry mengusap lembut punggung Adel untuk menenangkannya.


"Hei,,,kamu lihat aku sekarang. Kamu udah aman sekarang Del. Aku akan jagain kamu disini." Ucap Harry.


Adel semakin menjadi-jadi mennagis.


"Aku takut banget Harry...takut." Ucapnya sambil terisak.


"Aku tahu Del...sekarang lebih baik kamu tenangkan diri kamu dulu ya." Ucap Harry.


"Kamu mau kemana Har? jangan tinggalin aku sendiri." Adel menahan tangan HArry dengan cepat.


"Sebentar aja kok, aku mau bawain kamu makan malam. Aku tahu kamu belum ada makan kan." Ucap Harry.


"Jangan lama-lama ya." Ucap Adel.


Adel melihat kesekitar kamar dan dia melihat ada bingkisan papaer bag baju ganti.


"Kayaknya gue bersihan dulu kali ya. Bau banget udahan...gue sendiri aja gak tahan." Ucapnya.


Dia mengambil papper bag tersebut dan masuk kedalam toilet. Dia membersihkan seluruh tubuhnyaa dengan aliran shower yang mengalir deras. Setidaknya dia bisa menghilangkan kesialan yang dia alami hari ini.


Harry masuk kedalam kamar dan tidak melihat keberadaan Adel. Karena masih trauma dengan kejadian tadi. Harry yang seperti orang yang terlalu panik ini mencari Adel keluar kamar ke kamarnya satu lagi dan keruang tv dan dapur. Dia tidak menemukan keberadaan Adel. Harry masuk kembali kedalam kamar dengan muka lemas.


"Kamu kemana lagi Del? padahal aku cuman keluar sebentar aja." Ucap Harry yang terduduk di kasur tempat tidur.


Makanan yang sudah dia persiapkan dia letakkan saja dimeja.


Selang 5 menit kemudian, Adel keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk ditubuhnya.


"Harry ? kamu cepetan keluar dulu. Aku mau ganti pakaian sekarang." Ucap Adel yang bersembunyi dibalik pintu kamar mandi.


"Kamu ngapain sih Del? aku daritadi nyariin kamu tahu gak?" Ucap Harry.


"Oh oke kalau udah siap ganti pakaian, jangan lupa panggil aku." Ucap Harry.


Harry berjalan keluar kamar dengan memegangi dadanya yang berdetak dengan sangat kencang. Tadi Harry sempat melihat Adel dengan balutan handuk putih saja sudah sangat membuatnya bergairah. Setelah tahu Harry didalam kamar, Adel langsung bersembunyi dibalik pintu kamar mandi.


"Bisa gila gue lama-lama begini. Adel benar-benar menggoda banget." Ucap Harry.


"Gak !!! gak !!! gak !!! gue gak boleh begini. Gue harus tahu diri dari sekarang." Ucap Harry lagi.


"Harry.." Panggil Adel dari dalam kamar.


Harry yang mendengar namanya dipanggil langsung masuk kedalam kamar...


Harry melihat Adel dengan pakaian tidur yang sempat dia beli tadi. Dress tidur yang dia belikan begitu cocok Adel pakai.


"Kamu kok bengong lihatinnya? aneh ya aku pakai baju ini?" Ucap Adel.


"Gak kok, bagus aja." Ucap Harry.


"Bolehkan malam ini aku tidur di apertemen kamu? aku masih takut untuk pulang sekarang." Ucap ADel.


"Gimana sma orangtua kamu Del? ntar mereka nyariin lagi. Lagian kamu yakin mau tidur disini?" Ucap HArry.


"Nyariin? aku gak pernah sekalipun dikhawatirkan Harry. Aku yakin kalau aku hilang mereka juga gak pernah peduli sedikitpun." Ucap Adel.


"Aku bukannya melarang kamu untuk tidur disini, tapi aku gak mau kamu merasa gak nyaman karena 1 apertemen sama seorang cowok." Ucap Harry.


Adel mendekatkan dirinya kearah Harry.


"Gak nyaman ? ya udah kalau gitu malam ini aku tidur di hotel aja." Ucap Adel.


Harry segera menahan tangan Adel...


"Bukan itu maksud aku, ya udah kamu boleh kok tidur disini." Ucap Harry dengan segera.


"Beneran ? makasih ya Harry, kamu memang yang paling baik deh. Tapi kamu punya 2 kamar kan?" Tanya Adel memastikan.


Harry mengangguk dengan segera.


"Kamu sebaiknya makan dulu, tadi tuh udah aku siapin semuanya." Harry menunjuk kearah makanan yang ada diatas meja.


Adel menyetujui ucapan Harry. Dengan penuh semangat dia makan bersama Harry.  Harry bermaksud menayakan Adel tentang kejadian yang tadi setelah mereka makan.


"Kamu makan yang banyak Del." Ucap Harry.


"Kamu mau buat aku menggedut makan malam-malam begini." Ucap Adel.


"Kan ini semua demi kebaikan kamu." Ucap Harry.


"Ok. malam ini aja ya. Itu juga karena aku udah laper banget." Ucap Adel.


"Gitu dong sesekali nurut..." Ucap Harry.


Sehabis makan malam, Harry menanyain Adel tentang kejadian yang menimpanya tersebut.


Siang hari sekitar jam 1 an...


Harry menyuruhnya untuk balik lagi ke kantor, saat itu Adel sudah berada diparkiran mobil. Ada seseorang yang mengetuk kaca mobilnya, Adel membuka kaca mobil tersebut untuk menanyakan langsung. Setelah Ahel membukanya, orang tersebut membiusnya dengan sapu tangan. Dia berusaha memberontak tapi tenaganya tidak terlalu kuat untuk menghalangi orang tersebut. Tenaga dan kekuatan orang itu tidak bisa dia lepaskan dengan mudah. Adel yang mulai terbius sontak saja seketika pingsan didalm mobil.


Karena perjalanan yang begitu jauh, Adel sempat tersadar...dia melihat orang itu membawanya jauh dari kota. Dia mulai berontak kembali tapi karena tangannya diikat dia tidak bisa melakukan apapun. Dia hanya berteriak histeris saja. Orang yang memebawanya itu adalah manager yang bekerja diperusahaan Tommy. Dia masih ingat dengan jelas wajah orang tersebut. Namanya adalah Andre...


Andre memarkirkan mobil sebentar untuk membiusnya dengan suntikan hingga membuat ADel tidak sadarkan diri kembali. Berkali-kali juga ADel terbangun karena belum sampai tempat tujuan dan bekali-kali juga orang tersebut membiusnya. Sampai-dia benar-benar lemas dan pusing. Adel juga menangis yang menyebabkan matanya sedikit bengkak dan sembab. Dan setelah itu dia masih tidak sadarkan diri kembali karena pengaruh obat bius tersebut. Andre sengaja menunggunya terbangun...


Saat terbangun Adel kaget karena sudah berada diapartemen Harry.


Itulah sekilas cerita yang Adel sampaikan. Jadi intinya Andre yang menculiknya belum sempat melakukan hal yang buruk. Dia hanya membius saja dan menculiknya.


Beruntungnya Adel karena polisi dan Harry begitu cepat menemukan keberadaannya. Padahal saat itu Adel sudah pasrah atas apa yang terjadi padanya kelak.


"Oh jadi gitu ceritanya..." Ucap Harry.


"Aku benar-benar takut Harry.." Ucap Adel sambil menunduk.


Harry menegakkan pandangan Adel untuk segera melihat kearahnya...


"Kamu bisamengandalkan aku Del, aku janji akan jagain kamu. Aku gak akan biarin hal seperti ini terjadi kembali." Ucap Harry dengan serius.


Adel memandang kedua mata Harry, dia melihat HArry mengatakan dengan sangat tulus dan jujur.


"Makasih Harry." Ucap Adel.


"Aku minta kamu tidak berpakaian yang sexy seperti tadi. Aku juga cukup kaget melihat penampilan kamu tadi." Ucap Harry.


"Akan aku usahakan Harry, aku juga masih trauma kok." Ucap Adel.


Kemudian mereka berdua saling menatap satu sama lain. Adel tersenyum karena merasa benar-benar ada oorang yang bisa melindunginya dan rela melakukan apa saja untuknya. Ntah mengapa dia merasa sangat tersentuh. Tapi tetap tidak menggerakkan hatinya sama sekali. Karena dia benar-benar menganggap Harry sebatas teman saja.


'Makasih Harry untuk semua hal yang kamu lakukan untuk aku. Kamu benar-benar orang yang sangat baik yang pernah aku temui. Karena kamu juga sellau menjaga aku sebaik mungkin. Tapi maaf kalau perasaan ku masih pada orang yang sama. Walaupun bertepuk sebelah tangan tapi apa salahnya mencoba memperjuangkan. Seperti Nisa yang pada akhirnya bisa mendapatkan hati Dimas. Aku hanya ingin mencoba saja. Aku juga gak tahu ini perasaan suka atau hanya sekedar obsesi semata.' Batin Adel.


'Aku tahu Del ...apapun yang aku lakukan gak akan pernah bisa merubah peraasaan kamu. Tapi setidaknya aku masih ingin berjuang untuk mendapatkan hati kamu. Walaupun hanya rasa sakit yang akan aku rasakan nanti. Semakin aku menjauh dari kamu, aku semakin menggila memikirkan kamu terus. Asal kamu tahu aja Del. Andai aja kamu bisa menerima perasaan ku. Aku akan sangat senang menerimanya. Aku rasa mungkin aku adalah cocok yang paling bahagia.' Batin Harry.


Dengan saling memandang tanpa berbicara, mereka meluapkan melalui hati masing-masing.


Kalau berandai-andai, Harry sangat ingin suatu saat ntah kapanpun itu waktu bisa berpihak 1 kali aja padanya. Itulah harapan terbesarnya. Ingin sekali dia membahagiakan Adel apalagi Adel tidak pernah diperhatikan oleh keluarganya sendiri.


"Lebih baik kamu istirahat sekarang, aku akan keluar..." Ucap Harry.


"Harry..." Ucap Adel.


"Ya..." Ucap Harry.


'Kenapa Adel diam aja sih buat aku makin bingung dia ingin bilang apa sebenarnya.' Batin Harry.


"Sekali lagi makasih banyak ya." Ucap Adel sambil tersenyum.


"Daritadi kamu gak bosan apa bilangin itu mulu." Ucap Harry.


'Aku kirain kamu bakal bilang hal lain Del, mungkin hanya aku yang terlalu berharap. Aku yang terlalu banyak mikir...' Batin Harry.


"Seribu kalipun aku bilang ucapan terima kasih gak akan bisa balas semua kebaikan kamu." Ucap Adel.


"Kalau kamu mau balas gampang kok." Goda Harry sambil mengedipkan mata kearah Adel.


"Ikh apaan sih, udah ah aku mau istirahat. Kamu sebaiknya keluar." Ucap Adel.


"Oke oke...selamat tidur ya." Ucap harry yang berdiri didepan pintu kmar Adel.


"Kamu juga tidur yang nyenyak ya." Ucap Adel.


"Del..." Ucap Harry.


"Apa lagi sih?" Tanya Adel.


Harry secara mendadak mencium kening Adel dengan lembut. reaksi Adel benar-benar kaget dan mendorong tubuh Harry untuk menjauh...


"Ikh Harry...modus banget." Ucap Adel kesal dan langsung menutup pintu kamarnya secepat mungkin.


Harry terkekeh melihat reaksi Adel seperti itu. Dilain sisi dia juga senang bisa melakukan hal tadi walaupun Adel memarahinya habis-habisan setelah itu. Setidaknya dia bisa mengekspresikan perasaannya melalui tindakan tersebut.


*****


Adel menggerutu dengan kesal dari dalam kamar.


"Dasar semua cowok sama aja. Kebanyakan modus. Ikh beneran ngeselin banget sih Harry. Nyesal juga tadi aku muji-muji dia. Ini nih sekali dipuji langsung keluar modusnya." Ucap Adel.


Adel sempat mengelap keningnya dengan tisu karena dicium Harry tadi. Dan dia berjalan kearah kasur untuk merebahkan dirinya disana.


Adel memeluk guling dan merapikan selimut keseluruh tubuhnya.


Karena belum bisa tidur, Adel menyalakan tv sebentar dan mencari-cari sesuatu didalam laci dan lemari. Dia menemukan foto keluarga Harry, disana Harry masih kecil tapi terlihat begitu imut. Tanpa sadar dia malah tersenyum melihat Harry...


"Kecilnya gemesin banget ya tapi udah besar malah nyebelin." Ucap Adel.


Dia melihat semua album foto milik Harry. Harry dari kecil sampai besar difoto...terlihat setiap perkembangan Harry diabadikan melalui sebuah foto disana.


"Kayaknya orangtua Harry orang yang penyanyang deh. Kapan ya aku bisa diperlakukan seperti ini sama keluarga sendiri. Mikir apa sih aku. gak baik kan buka-buka barang orang begini." Ucap Adel sambil merapikan kembali semua album foto dan barang-barang Harry.


Ada perasaan sedih saat Adel melihat album foto tadi, karena jujur saja dia anak yang kurang kasih sayang kedua orangtuanya. Beberapa tetes air mata sempat keluar dan membasahi pipinya. Dengan cepat segera dia hapus. 'Andai aja aku bisa hidup seperti orang normal pada umumnya, mungkin aku adalah orang yang paling bahagia. Tapi gak ada hidup atau keluarga yang sempurna kan? Mungkin Tuhan punya cara dan jalannya masing-masing untuk hal itu. Gak ada yang bisa menebak apa rencana Tuhan. Iya kan? semoga aja semua akan indah pada waktunya.' Batin Adel.


Adel kembali naik ke kasur dan menonton tv...setelah sekian lama akhirnya dia bisa tertidur dengan sangat lelap.


*****


"Kamu kenapa belum tidur sayang?" Tanya Kavin.


"Gimana aku bisa tidur kalau kamu gak ada kasih kabar sama sekali tentang Adel. Gimana Adel udah ditemukan apa belum?" Ucap Ratu segera menghampiri Kavin.


Kavin menepuk keningnya...


"Astaga, aku benar-benar lupa ngaabri kamu sayang. Maaf ya. Tadi aku nyetir mobil Dimas, dan Dimas yang membawa mobil Adel." Jelas Kavin.


"Jadi Adel udah ditemukan? benarkan? jadi gimana keadaan Adel sekarang? dia gak kenapa-napa kan Vin? Tolong kamu cerita Vin..." Ucap Ratu yang sangat khawatir dn langsung saja mennayakan semua pertanyaan tanpa basa-basi lagi. Dia malah tidak menanyakan keadaan suaminya sendiri yang melakukan perjalnan jauh hari ini. Bukan karena tidak peduli, dia hanya terlalu khawatir memikirkan sahabatnya. Semua orang akan melakukan hal yang sama seperti Ratu juga.


"Kamu gak perlu khawatir sayang. Adel baik-baik aja. Dan dia masih istirahat, Harry yang membawanya pulang tadi." Ucap Kavin.


"Kenapa Adel gak ada ngabari aku ya Vin?" Tanya Ratu.


"Dia masih butuh waktu sendiri mungkin sayang. Paling besok dia akan ngabari kalian kok. Apalagi tadi aku lihat Adel masih dalam keadaan pingsan." Ucap Kavin.


"Sebenarnya apa yang terjadi sama Adel Vin?" Tanya Ratu dengan cerewet.


"Dia sepertinya diculik, untungnya kita datang di waktu yang tepat. Kalau tidak, aku gak bisa bayangin apa yang akan terjadi sama Adel." Ucap Kavin.


"Ahh diculik? kamu serius Vin?' Ucap Ratu.


"Serius dong sayang. Udah sekarang kamu gak usah pikirin hal ini lagi ya. Yang paling penting Adel sudah ditemukan dalam keadaan selamat." Ucap Kavin.


"Tapi Vin..." Ucap Ratu.


"Besok kamu bisa pastikan sendiri ke Adel langsung sayang. Aku hanya tahu sekilas kejadiannya aja." Ucap Kavin.


"Aku minta kamu istirahat ya sayang. Aku mau bersihan dulu...capek seharian." Ucap Kavin.


"Maaf aku lupa nanyak tentang kamu Vin. Kamu capek ya? mau au pijitin gak?" Ucap Ratu yang baru tersadar...


Kavin menggeleng dengan cepat...


"Kamu istirahat aja ya sayang." Ratu segera merebahkan kembali tubuhnya dibantu oleh suaminya.


Kavin pergi ke toilet untuk membersihkan tubuhnya sejenak, badanya benar-benar lengket dan gerah hari ini. perjalannan yang lumayan panjang baginya untuk menyetir sendirian. Karena sudah lama dia tidak membawa mobil sendiri apalagi memakan waktu 3 jam pulang dan 3 jam pergi. Ya walaupun perginya Dimas yang menyetir tapi tetap saja dia merasa capek.


Untungnya Ratu mau mendengarkan permintaan suaminya tersebut untuk segera beristirahat. Sehabis mandi Kavin melihat Ratu sudah terlelap tidur...


*****


"Bunda, kenapa belum ada kabar sama sekali dari Dimas ya? Nisa makin khawtair nih...ini udah malam banget bunda. Sekarang Nisa mengkhawatirkan dua orang sekaligus." Ucap Nisa.


"Coba kamu hubungi Dimas sayang..." Ucap Bunda.


"Tapi bunda..." Ucap Nisa sedikit ragu.


"Kenapa sayang?" Tanya bunda yang sedikit heran.


"Nisa gak mau ganggu Dimas, ntar kalau Dimas masih dalam perjalanan dan gak fokus nyetir gimana?" Ucap Nisa.


"Dicoba dulu sayang. Kan gak ada salahnya. Daripada kamu gelisah begini daritadi. Bunda jadi gak bisa tidur nih kalau kamu mondar-mandir masuk kamar begini." Ucap bunda.


"Ya uda Nisa coba hubungi Dimas dulu..." Ucap Nisa.


Panggilan masih berdering, Nisa sedikit cemas karena Dimas benar-benar lama mengangkat telepon darinya...


"Hai Dim? kamu dimana? gimana sama keadaan Adel? udah ada perkembangan belum ?" Tanya Nisa dengan berbagai pertanyaan.


Dimas menghela nafasnya sejenak,


"Nisa ...bisa gak kalau nanyak itu satu-satu dulu. Berapa kali udah aku ingatin juga." Ucap Dimas.


"Ya habisnya aku terlalu khawatir karena kamu juga gak ada kabar sama sekali." Ucap Nisa.


"Maaf ya Nis, karena udah kemalaman..rencananya aku mau ngabari kamu besok." Ucap Dimas.


"Besok? yang benar aja dong Dim? bisa-bisa aku gak bakal tidur karena nungguin kabar dari kamu." Ucap Nisa.


"Adel baik-baik aja dan sudah dibawa HArry pulang. Jadi kamu gak perlu khawatir lagi. Untuk selengkapnya kamu bisa tanyakan langsung sama orang yang bersangkutan." Ucap Dimas.


"Seriusan kan? syukurlah kalau gitu ...aku jadi lega dengarnya." Ucap Nisa.


"Sekarang kamu udah tennag kan, jadi aku mibta kamu istirahat sekarang ya." Ucap Dimas.


"Makasih ya Dim, Love you...." Ucap Nisa.


"Love you more Nisa..." Ucap Dimas.


 Setelah mendengar Adel baik-baik aja, Nisa menjadi lebih tenang dan bisa istirahat dengan nyenyak. Tahu begini sudah sedaritadi dia menghubungi Dimas langsung.


******


Pagi harinya...


"Morning Adel..." Sapa Harry.


Adel yang masih mengantuk berusaha membuka matanya...


"kamu kok bisa masuk? kan aku udah kunci kamar..." Ucap Adel.


"Aku kan yang punya apartemen ini. Jadi jelas dong kalau aku punya kunci duplikatnya." Ucap Harry.


"Kamu mau ngapain Harry?" Tanya Adel.


"Kamu siap-siap gih sana, biar aku antar pulang..." Ucap Harry.


Harry memberikan kaos polos dan celana panjang yang akan dipakai oleh Adel.


Adel mengambil pakaian tersebut dan segera masuk kedalam toilet. Adel benar-benar sangat malu karena Harry melihat wajahnya yang baru bangun tidur. Secepat kilat Adel mandi lalu bersiap-siap...


Harry memberikan kunci mobil Adel, dan mereka mengendarai mobil masing-masing. Harry segaja bangun pagi untuk menyempatkan mengantar Adel pulang. Dia harus memastikan sendiri kalau Adel bisa sampai rumah dengan selamat.


Sampainya di perumahan Adel, harry segera permisi kepada Adel untuk pergi ke kantor. Karena selama ini juga Harry tidak pernah diperbolehkan untuk masuk kedalam rumahnya. Adel menyetujuinya dengan segera kemudian Adel masuk kedalam rumah.


Baru saja Adel masuk kedalam rumah..


Plak....


Tamparan keras yang dia dapat sampai membuatnya meneteskan air mata kecewa. Tanpa menanyakan secara detail, mamanya langsung menamparnya seperti itu. Dia benar-benar sangat sedih.


"Mama..." Ucap Adel gemetar.


"Sejak kapan....


******


Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.


jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.


Terimakasih masih setia membaca novel ini.


Happy Reading Guys!