
"Sampai gue merasa mendingan. Gue gak mau buat orangtua gue khawatir. Ya kan Nis?" Adel menatap Nusa seakan meminta bantuan secara gak langsung. Nisa mulai mengerti saat Adel menekankan kata-katanya.
"Iya sih, kenapa gak nginap dirumah gue aja beb?" Ucap Nisa.
"Gue gak mau ngerepotin lo sama bunda. Lo kan tahu sendiri gimana sikap bunda lo ke gue." Ucap Adel.
"Tapi Del, sebaiknya..." Adel menggelengkan kepala agar Nisa tidak melanjutkan ucapannya lagi.
"Sebaiknya kamu makan sekarang." Ucap Harry.
"Itu tadi maksud gue. Gue dan Dimas keluar sebentar ya Del." Ucap Nisa.
Hp Nisa bergetar dan terlihat nama dilayar hp...."Ratu"
Langsung saja Nisa menggeser layar hp miliknya untuk menjawab telepon.
"Nis, lo masih sama Adel?" Tanya Ratu.
"Masih beb, udah gue sampaikan ke Adel kalau lo gak bisa ikutan jenguk." Ucap Nisa.
"Gue mau bicara sendiri ke dia..."
"Ok..." Nisa memberikan hp kepda Adel.
"Hai beb. Gue baik-baik aja kok. Udah mendingan, malam ini juga gue bakal pulang. Jadi lo jangan khawatir lagi ya. Nisa udah sampaikan semuanya ke gue." Ucap Adel.
"Iya iya gue percaya. Buktinya lo udah bisa cerewetin gue begini. Jaga kesehatannya beb, miss you." Ucap Ratu.
"Lo juga beb, jangan memikirkan hal yang buat janin lo stress.Lo harus banyak istirahat. Miss you too..." Ucap Adel.
"Maaf ya gue gak bisa bicara lama-lama, gak enak sama mertua gue beb." Ucap Ratu.
"Oke gue ngerti kok. Bye beb..." Ucap Adel.
"Bye juga..." Ucap Ratu sambil memutus panggilan. Seenggaknya Ratu merasa lebih tenang setelah mengobrol melalui telepon dengan Adel. Ratu kembali bergabung dengan keluarganya untuk makan malam bersama.
Adel mengambil makan malam yang sudah disediakan oleh Harry. Jujur saja walaupun demamnya sudah turun tapi mulutnya masih sangat pahit. Semua makanan tidak bis dia cerna dengan baik. Tapi dia tidak menunjukkannya dihadapan Harry.
Bagaimanapun dia ingin Harry percaya kalau dia sudah baik-baik aja sekarang. Setelah Adel selesai makan, Harry keluar sebentar untuk mengurus dokumen kepulangan Adel beserta administrasinya.
Nisa membantu Adel membereskan beberapa barang yang akan mereka bawa.
"Del, kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi gue." Ucap Nisa.
"Pasti..." Ucap Adel berbisik. Adel tidak ingin Harry dan Dimas tahu.
Harry menghampiri Adel untuk membawa barang bawaan mereka, Adel berjalan berdampingan dengan Nisa sampai kedepan parkiran mobil...
"Kalian hati-hati ya.." Ucap Adel sambil cipika-cipiki dengan Nisa dan melambaikan tangan kepada keduanya.
"Jangan lupa pesan gue tadi beb." Ucap Nisa.
Adel membentuk jari tangannya berbentuk tanda OK dan melambaikan tangan kembali.
Harry yang sudah membukakan pintu mobil untuk Adel, mempersilahkan Adel segera masuk kedalam mobil. Adel memantapkan hatinya untuk tinggal dengan Harry sementara waktu sampai dia benar-benar menemukan tempat tinggal yang layak ditempati.
"Kamu yakin gak pulang aja Del?" Tanya Harry.
"Kalau kamu keberatan aku tinggal diapartemen kamu, gpp kok. Aku bisa cari tempat lain aja." Ucap Adel.
"Bukan gitu maksud aku Del. Aku hanya ..." Harry tidak melanjutkan ucapannya.
"Hanya? aku menyusahkan kamu ya?" Tanya Adel.
'Bukan gitu, aku hanya takut gak bisa menahan diri saat dekat dengan kamu Del.' Batin Harry.
"Tuh kan kamu diam aja, berarti ucapan aku barusan benar ya? kalau gitu kamu turunin aku disini." Ucap Adel.
Harry memberhentikan mobilnya karena Adel memaksa...
'Beneran Harry tega banget berhentiin mobil.Padahal aku cuman ngancam doang. Mana dompet sama atm ketinggalan semua dirumah. Ah tahu gini gue ikut Nisa aja tadi.' Batin Adel yang mulai gelisah.
"Kamu itu bawel banget Del, aku gak konsen nyetirnya. Emang aku ada bilang kalau kamu gak .boleh tinggal diapartemen aku? gak ada kan. Jadi lain kali jangan motong ucapan orang lain lagi ya." Protes Harry.
"Beneran ga-pa-pa?" Tanya Adel terbata.
Harry mengangguk dan tersenyum...
'Hampir aja, bisa gawat juga kalau diturunkan disini.' Adel melihat keadaan sekitar yang sunyi dan terlihat menyeramkan di malam hari. Adel menepuk keningnya sendiri karena kebodohannya tadi.
"Hei kamu kenapa?" Tanya Harry yang baru menjalankan mobilnya kembali.
"Mmmm...ada nyamuk dimobil kamu." Ucap Adel berbohong.
"Oh..." Ucap Harry singkat.
"Kenapa berhenti disini?" Tanya Adel sambil melihat keadaan sekitar.
"Turun, aku lapar." Ucap Harry.
'Ada apa dengan Harry malam ini tampak cuek banget.' Batin Adel.
Sebelum turun, Harry memberikan jaket untuk dipakai Adel.
"Thanks Harry.." Ucap Adel kemudian berjalan mengikuti Harry menuju tempat makan.
"Kamu mau pesan apa?" Harry menatap buku menu kemudian melihat kearah Adel untuk memastikan.
Adel membuka buku menu untuk melihat-lihat makanan mana yang menggugah selera untuknya. Sebelum memesan,Adel melihat daftar harga pada menu, dia tidak menyangka makanan kelas atas tapi dengan harga yang cukup terjangkau. Setelah melihat-lihat, Adel memutuskan memesan spagetti carbonara, salad buah dan jus semangka. Sedangkan Hary memesan steak dan sayuran beserta jus jeruk...
Adel merasa kalau Harry bertingkah aneh malam ini, tapi Adel menampik pikirannya kembali. Mungkin saja Harry terlalu lelah makanya jadi pribadi yang pendiam. Itulah yang terlintas dibenaknya. Harry menatap Adel yang lagi serius mengutak-atik hp, selang 5 menitan Adel melihat kearah Harry yang mengarahkan pandangannya ke dia. harry yang sudah ketangkap basah tidak bisa berlari lagi. Harry menelan salivanya dengan perlahan. Adel malah menatap Harry dengan tatapan yang serius.
"Kamu kenapa Harry? apa diwajahku ada sesuatu yang aneh? kenapa tatapannya seperti itu?" Adel memeriksa kondisi wajahnya dengan kamera yang ada di hp.
Harry menggeleng...
"Cantik." Kata-kata itu yang keluar dari mulut Harry.
"Huh, kirain apaan. Emang aku cantik." Adel menyahut ucapan Harry sambil menatapnya.
Tapi dari tatapan Harry sebenarnya tidak bisa diartikan. Ada maksud terselubung dari dalam hatinya seperti perasaan yang ingin dia tunjukkan kepada Adel. Harry hanya ingin Adel bisa membaca isi hatinya saat ini.
'Tolong Harry, jangan memandang aku terlalu dengan tatapan seperti itu. Aku benar-benar mengerti isi hati kamu. Maaf kalau aku pura-pura tidak mengetahuinya.' Batin Adel.
Adel tersenyum semanis mungkin dihadapan Harry seolah dia tidak mau membahas apapun.
"Aku bisa GR nih kalau kamu pandangin terus." Ucap Adel yang membuyarkan tatapan Harry.
"Memang itu tujuan aku. Buat kamu GR..." Harry membalas ucapan Adel sambil memegang tangan Adel.
Makanan mereka telah disajikan semua, Adel perlahan menarik tangannya...
"Sebaiknya kita makan dulu." Adel menghilangkan rasa canggung diantara keduanya. Adel sempat menyuapi Harry dengan spagetti pesannanya tadi.
"Gimana? enak gak?" Adel melihat reaksi Harry yang mengangguk. Kemudian dia mencoba makanannya sendiri...
Adel dan Harry menikmati makan malam mereka berdua dengan suasana hati yang tidak bisa dijelaskan. Adel merasa lega karena Harry tidak mendiaminya seperti tadi. Harry sudah bersikap seperti biasa.
*****
Diapartemen, Adel membawa papper bag yang diberikan Harry kedalam kamar. Dia memutuskan untuk mandi air hangat malamini. Tubuhnya sudah terlalu gerah dan bau karena dia sakit dan sudah tidak mandi selama 2 hari. Selesai mandi, dia menggunakan dress tidur yang ada didalam papper bag tersebut. Dia sangat bersyukur karena Nisa memberikan baju ganti untuknya.
Adel keluar dari kamar untuk mengambil air minum, bersamaan dengan Harry yang baru saja keluar dari kamar. Mereka saling menatap kemudian Adel dengan santainya berjalan melewati Harry. Tanpa Adel sadari Harry merasa sangat panas melihat Adel dengan rambut yang masih basah tersebut sambil memakai dress tidur. Harry berusaha mengontrol perasaannya malam ini. Jangan sampai dia melakukan kesalahan.
Tapi berhubung dia seorang cowok normal, dia tidak tahan memandang Adel seperti itu. Dia masih memandang Adel yang sedang menguk air minum.
"Glek.." Dia berusaha menetralkan untuk menelan salivanya kembali.
'Ini yang paling gak bisa aku tahan. Ini juga yang buat aku keberatan saat Adel mau menetap diapartemen.' Teriaknya dari dalam hati.
"Kamu kok diam aja disitu? oh iya kamu punya film yang bagus gak buat ditonton? Adel memeriksa semua tumpukan kaset-kaset yang ada. Adel memilih kaset untuk ditonton.
"Mmmm...kamu belum ngantuk?" Harry menghampiri Adel dan duduk disebelahnya. Jantung Harry semakin beerdebar gak karuan mencium aroma tubuh Adel dari dekat. Padahal jelas-jelas itu sabun yang dia gunakan juga. Tapi baru pertama kalinya seorang perempuan menggunakan sabun dengan aroma lemon. Harry benar-benar tidak konsentrasi, dia hanya melihat Adel yang sedang berbicara tapi tidak mendengarkannya dengan baik.
"Mungkin setelah nonton, aku bisa tertidur nantinya. Lagian aku bosen istirahat terus dari semalam." Adel merengek sambil menyuruh Harry memilih kaset yang bagus untuk mereka tonton malam ini.
"Hei..." Adel memukul harry agar tersadar.
"Eh iya." Ucap harry gugup. Harry mengambil kaset dan memilih asal-asalan saja karena sudah tidak konsetrasi lagi. Sebenarnya semua kaset yang Harry beli...semuanya bagus dan punya dedikasinya tersendiri.
Adel memasukkan kaset tersebut dan mematikan lampu seperti keadaan nonton dibioskop saja. Harry merasa lega saat lampu dimatikan,karena saat itu juga dia tidak terlihat canggung disamping Adel.
Film terputar, Harry mengambil beberap cemilan dan minuman botol untuk mereka. Adel dan Harry menikmati malam dengan menonton film. Ditengah film, ada adegan kissing ditampilakn. Harry yang semula sudah biasa saja menjadi gugup kembali. Hanya mereka berdua disana dan ada adegan seperti itu. Harry benar-benar gelisah sekarang.
Sedangkan Adel masih serius memandang kearah film yang ditontonnya. Tidak ada rasa gugup sama sekali dia perlihatkan. Karena dia tidak punya rasa sama sekali sama Harry. Dia hanya deg-degan saja, ntahlah dia juga bingung mengapa dan kenapa? mungkin pengaruh film yang dia tonton.
Selama satu jam lebih menonton film, Adel permisi untuk masuk kedalam kamar karena matanya mulai mengantuk. Baru satu langkah, tagan Harry sudah menahannya. Harry menarik Adel dan duduk dipangkuannya. Adel berusaha berdiri tapi ditahan oleh kaki Harry. Posisi Adel benar-benar terkunci saat ini.
"Harry, jangan bercanda deh. Aku udah ngantuk..." Adel langsung protes dengan perlakuan Harry.
"Kamu pasti tahu bagaimana perasaanku Del. Aku serius cinta sama kamu. Apa kamu tidak bisa melihatnya dengan jelas?" Harry mengalungkan kedua tangan Adel kelehernya.
"Aku bisa lihat. Tapi aku punya orang yang aku sukai. Kamu juga tahu itu...jadi aku minta kamu berhenti seperti ini Harry." Ucap Adel.
"Cukup Del. Jangan pernah bahas cowok lain saat bersama denganku." Bisa dibilang Harry cukup egois malam ini, dia sudah cukup merelakan Adel mengejar cintanya tapi malah mebuat Adel semakin terluka. Dan dia tidak bisa merelakan Adel lagi untuk orang yang tidak bisa membahagiakannya. Apa dia salah?
"Apapun yang kamu lakukan tidak akan mengubah perasaanku Harry." Adel masih berusaha melepaskan diri dari Harry tapi semuanya percuma karena tenaga Harry lebih besar dibandingkan tenaganya saat ini yang masih terbilah lemah.
"Apapun?" Tanya Harry memastikan.
"Ya apa---." Belum Adel menjawab ucapan Harry, Harry sudah mencium lembut bibir Adel. Adel yang masih kaget tapi tidak bisa berontak. Keadaannya terjepit karena masih terkunci oleh Harry.Adel hanya berusaha mendorong Harry dengan tangannya sambil memukul-mukul dada Harry sekeras mungkin. Tapi tetap saja Harry tidak melepaskan ciumannya, malah semakin memperdalamnya.
Harry mendekatkan wajahnya lagi tapi Adel membuang arah pandangannya.
"Aku tahu tadi kamu menikmatinya Del. Aku hanya melampiaskan semua perasaan melalui ciuman ini." Ucap Harry.
"Cukup Harry, ciuman ini tidak ada artinya sama sekali." Ucap Adel yang masih tidak menatap mata Harry.
"Del..."
"Hmmm..."
"Apa mencintai seseorang sesakit ini?"
"Aku tidak pernah mengerti tentang cinta dan tidak pernah merasakannya cinta itu seperti apa."
Adel kembali teringat dengan kesedihan yang dia alami. Tapi dia berusaha sekeas mungkin untuk tidak menunjukkannya kepada Harry.
"Aku bisa memberikan semua perasaan cinta yang kamu inginkan Del." Adel menatap sekilas kearah Harry kemudian mengalihkan pandangannya lagi.
"Lupakan Tommy dan terimalah perasaanku." Adel cukup kagt saat Harry berbicara seperti itu. Harry mengetahui semuanya...siapa yang memebri tahunya? sudah berapa lama dia tahu? kenapa Harry diam selama ini?" Berbagai pertanyaan ingin sekali dia utarakan.
Harry mengarahkan wajah Adel untuk menatapnya kembali. Tanpa meminta izin, Harry menarik tengkuk Adel. Harry mencium Adel dengan ciuman yang terlalu antusias, berbeda dari ciumannya yang sebelum-sebelumnya yang masih lembut. Harry mencium, *******, bahkan memperdalam ciuman mereka. Adel hanya diam saja tapi karena ciumannya semakin bergelora, akhirnya Adl tidak mampu lagi. Ya dia membalas ciuman Harry. Mereka saling ******* dan memperdalam ciuman lagi menjadi ciuman yang semakin panas. Tangan Harry berada dipinggang Adel untuk mempererat jarak mereka.
Harry menciumin leher Adel dan meninggalkan jejak kemerahan disana. Adel benar-benar merasa terpancing sekarang. Dia yang biasanya tidak merespon, malam ini dia merespon dan terdengar mendesah dengan menyebut nama "Harry...ucapnya berulang kali.
Adel membalas tindakan Harry dengan menautkan lidah mereka. Dia tidak bisa menolak lagi sentuhan yang Harry berikan padanya.
Nafas keduanya sudah tersengal-sengal, Adel mulai tersadar saat Harry semakin bernafsu menciumnya, dia mendorong kuat Harry.
"Maaf Harry, aku gak bisa." Ucap Adel pergi meninggalkan Harry yang masih duduk.
'Sebegitunya kamu tidak bisa aku sentuh Del. Tapi aku senang kamu sudah membalas ciuman aku barusan. Aku terlau terbawa suasana sampai melupakan keadaan Adel yang masih lemah.' Batin Harry.
Harry mematikan tv dan masuk kembali kedalam kamar untuk beristirahat.
Adel memegangi bibirnya... dia tidak menyangka Harry bisa senekat itu menciumnya. Harry terlalu antusias sampai Adel mulai goyah.
"Ini hanya kesalahan. Kejadian barusan hanya kesalahan karena aku tidak mencintai Harry." Adel memejamkan matanya dan memaksakan diri untuk beristirahat.
******
Tok...Tok...Tok...
"Ya sebentar." Adel keluar membuka pintu kamar dengan membawa papper bag.
"Kamu mau kemana Del?" Tanya Harry.
"Aku minta izin hari ini untk pulang kerumah. Maaf udah ngerepotin kamu Harry." Ucap Adel.
"Aku antar kamu ya?" Ucap Harry sambil mengambil semua barang Adel.
Adel mengangguk tanda setuju dan berjalan bersama dengan Harry.
Adel yakin banget kalau hari ini papa sama mamanya pasti sudah berangkat ke kantor.
Seolah tidak terjadi apa-apa, Adel bersikap santai dan biasa aja dihadapan Harry. Kebalikannya malah Harry yang merasa canggung sekarang. Didalam mobil, Harry menyalakan musik untuk menghilangkan rasa canggung dirinya.
"Harry..."
"Ya.."
"Yang semalam...aku mau kamu lupain ya."
"Kamu juga menikmatinya Del. Kenapa?"
"Itu hanya kesalahan."
"Terserah kamu, tapi aku tidak akan melupakan hal itu. Jelas-jelas kamu membalas setiap ciuman..."
"Jangan bodoh Harry, jangan menyia-nyiakan waktu untukku."
"Aku tetap menunggu kamu Del. Aku sayang kamu. Kamu bisa rasakan sendiri bagaimana aku memperlakukan kamu selama ini."
"Tapi percuma Harry."
"Kamu masih mengharapkan orang yang kamu cintai?"
"Ya bisa dibilang begitu..."
"Kenapa kamu tidak bisa mencoba membuka hati untukku?"
"Ntahlah Harry..."
Percakapan singkat diantara keduanya tentang perasaan masing-masing. Adel ingin melupakan kejadian semalam sedangkan Harry tidak bisa semudah itu melupakannya. Apalagi itu luapan ungkapan yang dia rasakan selama ini dan dibalas oleh Adel. Saat turun dari mobil...
"Harry, itu terakhir kali kita melakukannya."
Harry tidak menjawab ucapan Adel barusan. Harry masih tidak menyangka kalau Adel berbicara seperti itu.
Adel tidak melihat ekspresi Harry lagi, Adel berlari dan masuk kedalam rumahnya. Sedangkan Harry menyalakan mesin mobil dan pergi.
Adel memencet bel berulang kali sampai ART membukakan pintu untuknya...
"Hei non Adel?"
"Hai bi..."
"Kemana aja non? papa sama mama non udah kebingungan nyariin non."
"Gak mungkin bi, bibi jangan bohong deh."
Adel berjalan menuju ke kamar miliknya. Dia meminta bantuan ART untuk mengepak barang dan memasukkan kedalam 2 koper. Bibi yang awalnya menolak tapi tidak tega meliha Adel merapikan barangnya sendiri. Adel memasukkan barang yang penting seperti pakaian, celana, baju tidur, peralatan kantor, dompet, tas, atm, dan lain-lain.
Adel memasukkan semua barang itu kedalam bagasi mobil, dia pamit kepada ART tanpa memberitahu kemana dia akan pergi.
"Kalau papa sama mama nanyakin, bilang aja bibi tidak tahu ya."
Setelah menutup bagasi mobil, dia langsung pergi. Dia hanya membawa barang yang dia beli dengan uangnya sendiri. Seperti mobil, baru 1 tahun lebih dia mencicil mobil tersebut.
Adel memutuskan untuk mencari tempat makan sebelum pergi lagi. Dia berhenti pada restoran makan padang. Sudah lama dia tidak makan makanan seperti ini lagi. Sambil memesan makanan, dia mengotak-atiik hp sambil searching diinternet. Pikirannya benar-benar buntuh jadi dia perlu teman untuk berbagi sekarang...
Dia mencari informasi kepada Nisa...
Adel mengirim sebuah chat kepada Nisa.
"Beb, tolong tanyakin Dimas dimana apartemen yang langsung bisa ditempati? gue lagi butuh sekarang."
"Bentar ya beb, gue tanyakin duu. Ntar gue kirim alamatnya." Balas Nisa.
Karena ini masuk tergabung dalam sebuah obrolan grup, Ratu bisa membaca percakapan mereka...
"Emangnya lo mau kemana Del? lo minggat dari rumah?" Balas Ratu.
"Panjang ceritanya Tu. Yang jelas gue udah gak bisa tinggal dirumah lagi." Balas Adel.
"Pliss kasih tahu gue..."Balas Ratu.
"Intinya gue anak angkat makanya kedua ortu selama ini gak peduliin gue. Sakit banget gue udah gak tahan lagi untuk tinggal bareng sama keluaraga yang sebenarnya tidak sayang sama sekali sama gue. Dan ortu kandung gue yang menyebabkan kematian anak mereka." Balas Adel.
"Seriusan? jadi apa rencana lo sekarang Del? maaf gue gak tahu." Balas Ratu.
"Maaf karena gue baru cerita. Hal itu yang buat gue sakit kemarin. Belum ada rencanin apa-apa dulu beb. Masih mau tinggal sendirian dulu..." Balas Adel.
"Jangan pernah merasa sendirian ya beb, gue selalu dukung semuanya yang terbaik buat lo. Ingat masih ada gue sama Nisa dihidup lo." Balas Ratu.
"Thanks beb, kalianlah tujuan aku tetap hidup..." Balas Adel.
Nisa mengirim beberapa alamat kepada Adel. Adel melihat beberapa alamat tersebut tidak terlalu jauh dari kantornya, dia sangat penasaran untuk segera melihat apartemen. Adel melahap makanan yang sudah tersaji didepan meja. Adel terlihat sangat menikmati makanan tersebut. Adel sampai buru-buru makan apalagi Nisa sudah mengirim beberpa alamat apartemen yang dia inginkan. Dia begitu antusias walaupun dia hanya tinggal sendirian nantinya. Mungkin memang seperti ini takdir berpihak padanya. Itulah yang dia percayai. Terdengar sedikit klise tapi inilah kenyataan yang ada bagi dirinya sekarang.
Adel keluar masuk apartemen untuk mencri tempat yang cocok dan nyaman baginya. Setelah perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya Adel menemukan apartemen yang sederhana tidak seluas milik Harry. Apartemen ini memiliki 2 kamar dan 1 kamar mandi dan dapur, ruang tv, dan view yang indah terlihat dari atas...
Adel sudah sepakat untuk pindah langsung dan mengurus berbagai administrasi dengan pemilik apartemen itu. Adel membayar dengan mencicilnya melalui pinjaman bank. Mau tidak mau dia harus melakukan itu, daripada dia tidak memiliki tempat tinggal sama sekali. Lagian harga apartemen terbilang cukup worth it to buy.
Setelah deal, Adel membereskan dan membersihkan apartemen itu. Adel mengistiraatkan tubuhnya di sofa sejenak. Tidak beapalama kemudian hpnya berdering, ternyata yang menghubunginya adalah Harry. Harry mengajaknya untuk makan malam bersama klien...awalnya Adel menolak karena sudah capek seharian tapi mendengar nama klien tersebut cukup membuatnya kembali bersemangat...
"Aku pergi sendiri, kamu kirim alamat lengkapnya." Ucap Adel.
Adel menyimpan dan mencatat alamat yang diberikan oleh Harry tersebut.
Setelah menutup panggilan telepon,Harry merasa bersalah karena yang dia lakukan ini akan menambah luka dihati Adel...
'Maaf Del, semua ini untuk kebaikan kamu.' Batin Harry.
Sebenarnya ini bukan makan malam untuk kliennya saja tapi juga terbilang kencan untuk....
******
Adel-Tommy?
Adel-Harry?
Tommy-?
Harry-?
Adel-?
maksudnya tanda tanya disini adalah untuk orang lain.