
"Hai Dimas...???" Sapa keduanya..
"Kalian..." Ucap Dimas.
Seketika tatapan Nisa berubah drastis karena kehadiran dua orang tersebut. Kedua orang ini adalah orang yang paling Nisa gak sukai selama ini. Dimas melihat ekspresi Nisa yang cemberut.
"Aku pergi ke toilet dulu ya..." Tanpa mendengar ucapan Dimas, Nisa buru-buru peri ke toilet. Nisa sangat berharap kalau Dimas mengejarnya tapi nyatanya tidak sama sekali. Dimas malah duduk menemani kedua orang tersebut. Hal itu yang membuat Nisa semakin marah...
Selang 10 menit kemudian, Nisa menghampiri Dimas kembali tapi dia hanya melihat duduk sendirian saja...
"Kedua teman kamu tadi dimana?" Nisa celingak-celinguk mencari keberadaan mereka.
"Aku suruh mereka berdua pulang. Aku gak mau aja mereka berdua merusak moment kebersamaan kita disini." Jelas Dimas.
"Oh gitu." Ucap Nisa.
'Makasih Dim setidaknya kamu mulai mengerti apa yang aku rasain sekarang.' Gumam Nisa dalam hati.
"Kamu kok diam aja Nis? Gimana kalau sebelum pulang kita jalan-jalan sebentar." Ajak Dimas.
"Eh boleh Dim..." Ucap Nisa yang masih saja terlihat gugup tersebut.
Nisa dan Dimas berjalan-jalan sebentar sambil menikmati pemandangan yang ada disana. Dimas menggenggam tangan Nisa dengan eratnya, sedangkan Nisa bersandar di lengan pacarnya sambil memegang tangan Dimas. Mereka berdua terlihat sangat menikmati suasana pada malam itu. Dimas dan Nisa bukan pasangan yang sempurna tapi mereka berdua sama-sama ingin belajar menjadi pasangan yang terbaik.
Ada masa dimana mereka berdua berdebat tentang sesuatu hal seperti layaknya orang lain juga. Kadang juga Nisa yang masih bersifat kekanakan sehingga membuat Dimas harus lebih bersabar untuk menghadapi sikap pacarnya ini. Dimas juga tidak hanya menyanyangi Nisa saja tapi juga bundanya. Dia sudah menganggap kalau bundanya Nisa sebagai pengganti orangtuanya selama di Jakarta. Bunda sangat bahagia saat tahu kalau keduanya menjalin sebuah hubungan. Karena bundanya sangat tahu dengan jelas kalau Nisa begitu menyukai Dimas.
"Aku masih gak nyangka kalau kita bisa menjadi pasangan." Ucap Nisa.
"Aku juga tapi aku percaya kalau Tuhan yang sudah menuntun ku bertemu dengan kamu Nis. Aku percaya takdir..." Ucap Dimas.
"Kamu benar Dim...terkadang sesuatu yang tidak kita duga malah menjadi kenyataan. Seperti hubungan kita sekarang." Ucap Nisa.
"Sebagai pacar kamu, aku hanya ingin membuat kamu bahagia Nis. Aku tahu kalau aku gak ada pengalaman sama sekali dalam pacaran." Ucap Dimas.
"Aku tahu kok dan aku percaya sama kamu Dim." Ucap Nisa.
"Kayaknya kita berjalan udah cukup jauh, gimana kalau kita balik aja sekarang." Ucap Dimas.
"Udah malam juga Dim, lebih baik kita pulang aja sekarang. Ntar bunda malah khawatir lagi." Ucap Nisa.
Sebelumnya Dimas membayar makanan mereka dulu ke kasir setelah itu mereka berdua berjalan menuju ke parkiran mobil.
Saat sudah berada didepan rumah...Nisa mencium pipi Dimas.
"Makasih untuk hari ini Dim. Aku hargai usaha kamu..." Ucap Nisa.
"Aku senang kalau kamu senang Nis..." Ucap Dimas.
Setelah itu Dimas berpamitan dengan bunda Nisa untuk pulang...
Sampainya di mobil, Dimas merasa benar-benar lega karena usaha dia selama ini tidak sia-sia. Hampir saja makan malam ini rusak karena kehadiran kedua teman kerjanya yang sangat centil itu. Untungnya Dimas bisa bersikap dengan tegas untuk mengusir keduanya.
Selama ini Dimas diam saja bukan karena menikmati kelakuan keduanya tapi dia hanya menghargai mereka berdua yang satu kantor dengannya. Tapi saat ini yang terpenting adalah membuat pacarnya bahagia, jadi dia tidak ingin ada hal lain yang merusak hubungan mereka apalagi sampai membuat pacarnya menjadi tidak nyaman dengan kehadiran kedua teman kantornya itu. Malam ini Dimas begitu bahagia bisa melihat tawa lepas Nisa saat bersamanya.
Nisa yang merebahkan tubuhnya ditempat tidur sambil senyum-senyum gak jelas karena masih membayangkan perlakuan manis dan romantis dari pacarnya tadi. Nisa tidak menyangka kalau Dimas memiliki sisi seperti itu apalagi Dimas berusaha keras menunjukkan kalau dirinya akan melakukan apa saja untuk membahagiakannya. Kata-kata itu yang membuat Nisa menjadi sangat tersentuh. Kata-kata itu juga yang masih terngiang jelas dipikirannya sampai saat ini.
Begitu banyak usaha yang Dimas lakukan untuk hubungan mereka saat ini. Sampai-sampai membuat Nisa tersadar kalau dirinya belum melakukan hal apapun untuk pacarnya tersebut.
'Gue harus melakukan apa ya ?' Batin Nisa. Dia memikir sejenak hal apa yang harus dia lakukan.
Bunda membuka pintu kamar dan melihat aneh tingkah putri kesayangannya itu yang sedang senyum-senyum sendiri tersebut. Awalnya bunda ingin masuk tapi niat itu segera diurungkan karena tidak ingin merusak lamunan putrinya saat ini. Bunda menutup kembali pintu kamar Nisa secara perlahan.
Nisa memutuskan untuk menghampiri Dimas pada saat jam istirahat besok. Dia berencana untuk mengajak Dimas makan siang. Tujuan utama dia sebenarnya adalah memberikan kejutan kepada Dimas besok. Dia tidak sabar untuk menyaksikan sendiri ekspresi pacarnya itu. Nisa sudah membayangkan hal tersebut, pasti reaksi Dimas akan sangat kaget akan kehadirannya. Pasti bakal lucu...itu yang ada dipikirannya.
*****
Nisa memastikan sesuatu dulu kepada Dimas sebelum pergi kekantor pacarnya tersebut.
Nisa :
Kamu lagi apa? udah istirahat makan siang belum?
Nisa menunggu balasan chat dari Dimas. Berulag kali dia memastikan ulang dengan mengecek hp nya berkali-kali.
Lima menit...
Sepuluh menit...
15 menit kemudian akhirnya Dimas membalas chat darinya.
Dimas :
Maaf aku baru balas chat, 15 menit aku akan istirahat makan siang. Kamu lagi apa?
Begitu Dimas membalas chatnya, langsung saja Nisa memperkirakan jarak tempuh dari klinik kecantikan Nisa dan perusahaan Dimas hanya memakan waktu 10 menitan kalau jalanan tidak macet.
Nisa :
Aku lagi nyantai aja nih di klinik kecantikan. Miss you <3
Dimas membaca chat Nisa dengan tersenyum. Baru juga mereka berpisah *** pagi disaat Dimas mengantar Nisa. Sekarang Nisa malah bilang kata-kata seperti ini. Dimas menjadi gemas sendiri melihat tingkah pacarnya itu.
Dimas :
Aku juga kangen kamu... <3
Nisa langsung mengambil tas dan jaketnya. Dia menyuruh salah satu karyawan untuk mengantarnya dengan naik motor. Untung saja Nisa berinisiatif untuk diantar naik motor kalau tidak bisa-bisa dia kejebak macet. Padahal dengan jarak sedekat ini kalau kejebak macet juga pasti merasa sangat kesal.
Begitu sampai dikantor, Nisa menanyakan kepada resepsionis dimana kantor atau ruangan Dimas karena dia ingin bertemu. Resepsionis tersebut tidak memberikan izin karena tidak membuat janji terlebih dahulu. Nisa yang mendengar merasa sangat kesal.
Dia hanya disuruh menunggu saja tanpa pemberitahuan lagi. Resepsionis tersebut berulang kali menghubungu nomor telepon kantor yang ada diruangan Dimas tapi tidak ada jawaban sama sekali. Sesekali Nisa melihat jam tangannya, seharusnya jam segini Dimas sudah keluar untuk beristirahat tapi kenapa dia belum muncul juga.
Baru saja dia ingin menanyakan kembali kepada resepsionis lagi, pandangannya tertuju kearah Dimas. Dan baru saja Nisa ingin menghampiri Dimas tapi ada salah satu cewek centil yang berada tepat dibelakang pacarnya. Cewek tersebut mengikuti kemana arah langkah Dimas tersebut dan Dimas tidak mengetahuinya. Cewek itu adalah salah satu cewek centil yang pernah dia temui saat dinner semalam. Cewek tersebut selalu membuat Nisa merasa sangat kesal.
Dari kejauhan cewek tersebut sudah melihat kearah Nisa dan dia langsung saja berakting tepat didepan Dimas. Dimas dengan reaksi terkejutnya refleks langsung menangkap cewek tersebut yang hampir saja terjatuh. Jadi terlihat seperti mereka sedang berpelukan.
"Dimas." Teriak Nisa.
Nisa sangat yakin kalau cewek itu sengaja melakukannya karena cewek tadi sudah melihat keberadaan Nisa disana. Dimas melihat kearah Nisa dengan kaget tapi posisi Dimas masih dalam keadaan memeluk teman kantornya tersebut. Langsung saja Nisa berlari keluar kantor. Sepontan saja Dimas melepas pelukannya tadi sampai membuat teman kantornya itu terjatuh.
"Awww sakit Dim..." Rintih cewek bernama Tyas tersebut sambil memegang bokongnya yang lumayan sakit.
"Dimas tolongin dong..." Ucap Tyas lagi.
Tanpa menghiraukan ucapan Tyas, Dimas berusaha mengejar Nisa untuk menjelaskan situasi tadi. Yang terpenting sekarang adalah pacarnya. Dia tidak ingin mereka berantam karena kejadian tadi.
'Sial ....bisa-bisanya Dimas cuekin gue begini.' Batin Tyas.
Dina menghampiri Tyas yang masih terduduk tersebut...
"Ngapain lo duduk disini? Kurang kerjaan amat ya..." Ledek Dina teman akrabnya dikantor. Yang memiliki sifat centil yang sama juga dengannya. Dina selalu membantu Tyas untuk mendekati Dimas. Yaitu cowok super cuek yang ada dikantor. Tyas sangat penasaran dengan Dimas. Karena Dimas adalah satu-satunya cowok yang tidak bisa dia dapatkan apalagi Tyas memiliki tubuh yang sangat menggoda kaum hawa. Siapa yang tidak tertarik saat melihat tubuh dan wajahnya. Tapi tetap saja dia masih dicuekin habis-habisan oleh Dimas.
"Diam lo Din. Bantuin gue dulu..." Tyas menjulurkan tangannya kearah Dina.
"Iya iya...lagian ngapain sih lo duduk disini." Ucap Dina.
"Gue lagi malas untuk membahas hal itu." Tyas langsung berjalan menuju kearah toilet kantor, tentu saja diikuti oleh Dina. Karena dimana ada Tyas disitu pasti selalu ada Dina.
Nisa padahal tahu persis bagaimana kondisi tadi tapi tetap saja dia masih kesal melihat pacarnya memeluk cewek lain. Bisa dibilang kalau saat ini dia sedang cemburu.
Dimas masih mengejar Nisa tapi sia-sia saja karena Nisa keburu sudah naik taxi. Karena merasa khawatir, Dimas berulang kali menghubungi nomor Nisa tapi tidak diangkat sama sekali. Dimas masih berusaha terus sampai Nisa mengangkatnya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Nisa menon aktiktifkan hpnya agar Dimas tidak bisa menghubunginya.
Perasaan Nisa saat ini masih bercampur aduk. Padahal dia hanya ingin memberikan kejutan akan kehadiran dirinya tapi malah dia yang dibuat kaget akan kejadian tadi.
*****
Dengan wajah yang cemberut, Nisa masuk kedalam klinik kecantikannya. Dia berjalan hanya melihat kearah bawah tanpa melihat Ratu yang berada disana. Hari ini banyak sekali yang melakukan treatment kecantikan disana. Ratu harus sabar menunggu gilirannya. Ratu melihat Nisa masuk kedalam klinik kecantikan, Ratu sudah berusaha memanggil Nisa tapi tidak direspon sama sekali. Ratu segera menghampiri Nisa didalam kantor temannya itu.
Langsung saja Ratu membuka pintu tanpa mengetok terlebih dahulu.
"Nisa !!!gue capek banget manggilin lo daritadi." Ucap Ratu dengan bawelnya.
Ratu melihat Nisa sedang menutup mata dengan kedua tangannya. Karena merasa tidak dihiraukan sama temannya ini, Ratu segera menghampiri Nisa. Ratu mendengar Nisa menangis sambil sesegukan.
'Pantas saja daritafi Nisa gak merespon. Ternyata di lagi nangis.' Batin Ratu.
Ratu memeluk Nisa dan berusaha menenagkan temannya tersebut. Sesekali Ratu membelai bahu Nisa. Karena tidak tahan terlalu lama berdiri, Ratu mengambil kursi untuk duduk disebelah Nisa.
"Kapan lo datang Tu ? Maaf ya gue gak tahu." Ucap Nisa.
Ratu memberikan Nisa tisu untuk segera menghapus air matanya.
"Kapan gue datang itu gak penting Nis. Yang lebih penting itu kenapa lo sampai menangis begini?" Tanya Ratu mulai mengintrogasi Nisa.
"Santai aja Nis. Coba lo tenangkan diri aja dulu. Ntar baru cerita." Ucap Ratu.
"Lo kesini mau melakukan treatment apa Tu?" Tanya Nisa.
"Kaki dan tangan gue mulai sakit dan terasa pegal belakangan ini. Jadi gue mau dipijet dibagian itu aja. Biar lebih mendingan aja." Ucap Ratu.
"Oh gitu. Lo sendirian aja kesini?" Tanya Nisa lagi.
"Gue gak sendiri kok. Pak Budi yang menemani gue kesini. Lagian Kavin mana ngizinin gue keluar sendirian. Ini aja gue ditungguin pak Budi didepan." Ucap Ratu.
"Tu...menurut lo salah gak kalau sekarang gue merasa cemburu?" Tanya Nisa.
"Jangan bilang kalau alasan lo nangis tadi karena lagi cemburu." Ratu menekankan kata cemburu.
Nisa mengangguk menjawab pertanyaan Ratu barusan.
"Menurut gue wajar aja sih kalau seseorang itu cemburu. Tapi cemburu yang bagaimana dulu. Jangan sampai cemburu gak jelas. Emangnya Dimas bisa ya buat lo cemburu Nis ?" Tanya Ratu.
"Lo kan tahu sendiri dari dulu Dimas banyak yang suka. Ada teman kantor Dimas yang buat gue cemburu banget. Cewek itu lumayan cantik dan menarik juga. Dia kayaknya berusaha banget untuk dekati Dimas. Dan gue udah lihat itu berkali-kali. Yang gue gak sukanya Dimas itu paling susah tegas sama teman kantornya. Alasannya dia hanya menghargai teman-temannya. Tadikan gue datangin dia kekantor. Dan gue gak sengaja lihat cewek itu hampur terjatuh dan Dimas nolong cewek itu Tu. Jadi mereka berpelukan gitu. Pas gue panggil Dimas..ekspresi dimas antara kaget atau gak suka gitu sama kehadiran gue. Mungkin gue ganggu mereka kali ya. Gue kecewa aja kenapa juga Dimas gak biarin aja cewek itu jatuh. Jadi cowok itu hatus tegas dong biar cewek lain gak berharap lebih. Ya kan?" Jelas Nisa panjang lebar.
"Oh jadi gitu kejadiannya. Kenapa lo gak dengarin penjelasan dari Dimas dulu. Lo dengar ya Nis...kadang apa yang lo lihat itu sangat berbeda dengan kenyataannya. Kalau memang lo percaya sama pacar lo, lo harus mengerti kenapa Dimas seperti itu. Gue gak ada belain Dimas disini, tapi gak ada salahnya kan kalau lo mendengarkan apa yang dia bilang dulu. Tapi kalau setelah mendengarkan penjelasan dari Dimas dan alasannya gak logika menurut lo. Baru lo bisa ambil tindakan. Semuanya masih bisa dibicarain Nis. Jangan kayak gue dulu sama Kavin. Gue bisa ngomong begini karena sebelumnya ada pengalaman juga." Ucap Ratu.
"Gue akan berusaha mempertimbangkan omongan lo Tu. Tapi makasih ya sarannya." Ntah kenapa Nisa merasa sangat lega karena ucapan Ratu barusan. Mungkin yang dibilang Ratu ada benarnya juga. Semua hal masih bisa dibicarain dulu tapi untuk saat ini Nisa masih mau sendiri dulu.
"Bukannya gue dengar lo habis dinner romantis sama Dimas ya?" Tanya Ratu.
"Lo tau darimana ? Kan gue gak ada cerita sama lo beb." Ucap Nisa yang masih saja bingung.
"Dari siapa lagi kalau gak dari suami gue." Ucap Ratu.
"Oh iya ya. Kok gue gak kepikiran...itu juga hampir aja dinner romantis itu gagal karena teman kantornya Dimas. Yang tiba-tiba datang saat kita lagi dinner." Jelas Nisa.
"Serius beb? Jadi gimana dinnernya ? Padahal Dimas dan Kavin udah menyiapkan itu dengan sebaik mungkin." Ucap Ratu.
"Untungnya disitu Dimas bisa bersikap tegas dengan mengusir teman kantornya yang super duper centil itu. Kalau gak, gue udah tinggal pulang Dimas semalam." Ucap Nisa.
"Tuh kan Dimas lebih milih lo daripada teman kantornya. Berarti kan dia lebih mentingkan lo aja beb." Ucap Ratu.
"Mungkin Dimas merasa gak enak aja kali semalam beb. Kan kita gak tahu juga." Ucap Nisa.
"Tuh kan lo sudzon mulu. Ya udah mendingan lo pikirin yang gue bilang tadi. Gue mau treatment dulu. Kayaknya gue udah kelamaan disini." Ucap Ratu.
Ratu segera menutup pintu dan segera menjalankan treatmentnya hari ini.
'Semoga Nisa bisa mengendalikan emosinya saat ini dan segera berbaikan lagi dengan Dimas. Gue tahu kalau mereka itu saling sayang satu sama lain. Jadi pasti disayangkan banget kalau mereka sampai putus karena masalah seperti ini.' Batin Ratu.
*****
Nisa sengaja pulang kerja lebih cepat dari biasanya. Tapi dia tidak langsung pulang kerumah. Dia menyempatkan diri untuk berbelanja di supermarket yang ada di Mall. Dia banyak membeli bahan makanan dan cemilan u untuk dirumah.
Saat dia pengen kembali, dia tidak sengaja melihat kerah produk makeup terbaru. Produk tersebut sudah sangat lama ingin dia beli tapi belum sempat pergi. Tanpa basa-basi lagi dia mengambil beberapa produk makeup. Saat berbelanja makeup Nisa seperti orang yang sedang kalap. Karena dia begitu suka merias diri. Jadi begitu banyak produk wajah yang bagus dia coba.
Ketika pembayaran dia sangat kaget saat mendengar kasir memberitahu jumlah nominalnya. Lumayan menguras tabungannya. Sekali belanja sampai 5 jutaan. Dia merasa sangat menyesal setelah berbelanja. Dia mengutuki dirinya sendiri karena tidak bisa menahan keinginannya tersebut. Dia berjanji pada dirinya kalau tidak akan berbelanja makeup dulu selama 6 bulan atau 1 tahun.
Dengan bawaan papper bag yang banyak dikedua tangannya. Nisa berinisiatif menaik lift agar mempercepat tujuannya sampai depan Mall untuk mencari taxi terdekat yang ada disekitar Mall.
4...3...2...1...ting.
Nisa berjalan menuju depan Mall. Tidak disengaja dia menyenggol bahu seseorang sehingga membuat barang yang ada ditangannya terjatuh. Nisa berusaha mengutip papper bag nya kembali. Dan orang tersebut juga membantu Nisa mengutip.
Saat sudah selesai mengutip, Nisa kembali berdiri dan tak lupa dia mengucapkan terima kasih. Nisa melihat kearah seorang cowok yang membantunya tadi.
"Nisa." Ucap Adryan.
"Adryan.." Ucap Nisa yang gak kalah kagetnya.
Adryan melihat kearah sekitar.
"Kamu sendirian aja kesini?" Tanya Adryan.
"Makasih udah bantu ngutipin papper bag. Gue pulang dulu." Ucap Nisa.
Adryan masih mematung karena ditinggal pergi begitu saja oleh Nisa.
Nisa mencari taxi disekitar Mall tersebut tapi masih belum muncul juga. Dari kejauhan Adryan masih memperhatikan Nisa. Setidaknya Adryan senang bisa melihat Nisa lagi setelah pertemuan terahir kali dirumah sakit.
Nisa berdiri sambil melamun. Mendadak ada seseorang yang pura-pura menyenggolnya dan langsung menarik paksa tas yang dia pakai. Terjadi aksi saling tarik menarik disana. Adryan yang melihat dari kejauhan langsung menghampiri Nisa dan menendang preman yang menarik tas Nisa. Perman tersebut sampai terjatuh. Adryan membawa Nisa ketempat yang lebih aman.
"Kamu gpp kan Nis? Kamu ngapain berdiri sendiri ditempat sunyi seperti itu ?" Tanya Adryan.
"Gue gpp kok. Sekali lagi makasih ya Adryan." Ucap Nisa.
Nisa masih menormalkan kembali dirinya, setelah kejadian barusan tentu saja membuatnya cukup shock. Adryan masih menemani Nisa sampai Nisa benar-benar tenang.
"Aku pulang dulu ya." Baru saja Nisa melangkah sudah dicegah secepat mungkin oleh Adryan.
"Aku yang antar kamu ya. Aku gak mau kejadian tadi terulang kembali." Ucap Adryan.
"Gak usah. Gue bisa pulang sendiri." Tolak Nisa secepat mungkin.
"Aku gak bisa biarin kamu kenapa-napa kayak tadi Nis." Ucap Adryan masih tetap mengotot.
"Gue gak butuh tumpangan dari lo Adryan, gue harap lo ngerti." Ucap Nisa.
Tanpa menghiraukan Nisa, Adryan menarik dan menuntun Nisa kearah tempatnya parkir mobil. Adryan membuka pintu mobil dan memaksa nisa untuk masuk kedalam. Padahal Nisa sudah memberontak tapi Adryan berhasil membuat Nisa terdiam.
"Kalau kamu gak bisa diam, aku akan cium kamu disini." Adryan menunjuk kearah bibir Nisa.
'Barusan Adryan bilang apa tadi? Kayaknya Adryan mulai gila deh.' Batin Nisa yang memaki Adryan.
Adryan tersenyum melihat Nisa yang sudah pasrah dan tidak berontak seperti tadi. Adryan meletakkan semua barang belanjaan Nisa kedalam bagasi mobil.
"Jangan maki aku dong Nis." Ledek Adryan yang sedang memasang sealtbelt nya.
Nisa melihat kearah Adryan dengan pamdangan yang tajam. Adryan seperti tahu semua isi hati Nisa saat ini. Karena sudah malas berdebat, Nisa hanya terdiam saja sepanjang perjalanan. Ntah mengapa Adryan sudah tahu alamat rumahnya pdahal dia belum memberi info apa-apa.
'Seriusan Adryan udah tahu semua tentang gue selama ini?' Tanya Nisa dalam hati.
"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa tahu alamat rumah kamu." Ucap Adryan.
Deg...
Adryan bisa membaca semua ekspresi Nisa saat ini.
"Sok tahu banget." Ucap Nisa.
"Jangan bohomg dong Nis. Dari dulu kan kamu gak pernah bisa bohong kalau sudah sama aku.
Aku udah mengenal kamu cukup lama Nis..." Ucap Adryan.
Nisa tidak merespon Adryan lagi. Bagaimanapun juga semua yang terjadi diantara mereka sudah berakhir. Nisa tidak mau memberikan Adryan harapan palsu.
Sepuluh menit kemudian...
Nisa dan Adryan sudah sampai didepan teras rumah. Sampainya mereka bersamaan dengan tibanya Dimas. Mereka sama-sama memarkirkan mobil. Nisa belum menyadari kalau ada mobil Dimas disana.
Dimas bertanya tanya dalam hati siapa yang datang kerumah Nisa dengan mobil sebagus itu. Tapi Dimas tetap berfikir positif saja. Tujuan utama dia datang kesana adalah untuk menjelaskan semua hal tadi siang.
Nisa dan Adryan keluar dari mobil. Adryan mengeluarkan semua barang belanjaan Nisa dari dalam bagasi mobilnya. Sontak saja Nisa kaget karena dia melihat mobil Dimas tepat dibelakang mobil Adryan. Tak kalah kagetnya dengan Dimas... Nisa dan Dimas saling memandang setelah itu Nisa membuang arah pandangannya dan segera masuk kedalam rumah.
"Darimana aja kalian berdua?" Tanya Dimas yang terlihat sudah mengepalkan kedua tangannya.
Langkah Nisa terhenti dan melihat kearah belakang. Nisa ingin memastikan kalau Adryan dan Dimas tidak membuat keributan didaerah rumahnya ini.
"Aku langsung pulang ya Nis...makasih untuk hari ini." Ucap Adryan meninggalkan keduanya.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan dimas barusan, Dimas segera menghampiri Nisa...
Dimas langsung saja ....
*****
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading Guys!