Playboy Vs Playgirl

Playboy Vs Playgirl
Batin yang tersiksa



Adel berjalan sambil menahan kakinya yang terkena pecahan vas bunga. Rasa sakit yang dia tahan tersebut tidak seberapa dengan rasa sakit hatinya setelah mengetahui kenyataan yang ada. Saat didalam lift menuju apartemen Harry, Adel hanya terdiam saja membuat Harry menjadi serba salah saat ini. Ingin sekali Harry menanyakan berbagai pertanyaan yang sudah dia pendam sedaritadi. Tapi dia langsung lemah melihat keadaan Adel yang tidak berdaya.


Wajah Adel terlihat semakin pucat karena menahan sakit di kaki dan juga karena kedinginan tadi. Begitu sampai didepan pintu apartemen...


brukkk...


Adel terjatuh dan tidak sadarkan diri. Harry yang brada tepat dibelakangnya tidak sempat menahan Adel...Harry dengan panik mengangkat tubuh Adel dan menggendongnya secara perlahan untuk segera diletakkan diatas kasur.


Harry kebingunan untuk mengganti pakaian Adel sekarang. Tapi mau tidak mau dia harus mengganti pakaian Adel yang basah tersebut dengan kaos serta celana miliknya. Dia berusaha mengganti pakaian Adel tanpa melihatnya langsung. Tangannya gemetaran karena melepaskan semua pakaian. Setelah sekian lama selesai mengganti pakaian dengan begitu banyak drama...


"Maaf Del..." Ucapnya.


Dia kaget saat melihat darah yang terus mengalir dari kaki Adel...


"Darah apa ini?" Ucap Harry.


Harry segera keluar dari kamar untuk mengambil kotak P3K miliknya untuk mengobati luka yang ada di kaki Adel dengan serius.


Pertama-tama dia membersihkan darah tersebut dan mengambil beberapa percikan kaca yang masih terlihat menempel pada kaki Adel., kemudian menaruh beberapa tetes obat merah dan membalut luka dengan hansaplast. Begitu banyak luka di kaki Adel ...


'Kok bisa Adel tahan luka ini. Pasti sakit banget ya Del.' Batin Harry.


Adel mengigau terus saat ini sampai berkeringat terus-menerus...


"Sebenarnya kamu kenapa sih Del? jangan buat aku takut begini." Ucap Harry sambil memegang tangan Adel...Harry menggenggam tangan Adel dengan sangat erat. Keadaan Adel yang seperti ini yang paling dia takutkan.


Harry mengelap keringat pada wajah Adel yang terus-menerus mengalir.


"Shitt... Adel demam sekarang. Aku harus bagaimana sekarang?" Ucap Harry sangat cemas.


Harry mengambil hp Adel dan mencari kontak yang bisa dia hubungi sekarang.


Karena terlihat riwayat panggilan Adel yang terakhir kali adalah Nisa, tanpa basa-basi lagi dia menghubungi nomor Nisa...


"Kenapa Del? ngapain lo telepon gue larut malam gini?" Ucap Nisa sambil memeluk gulingnya.


"Maaf...ini Harry." Ucap Harry.


Nisa memastikan nomor yang tertera pada layar teleponnya lagi, jelas-jelas ini nomor Adel kan. Gak mungkin gue yang salah. Itulah yang ada dibenaknya saat ini.


"Maaf kalau ganggu, apa yang harus gue lakukan sekarang? Adel sedang demam tinggi." Ucap Harry.


"Adel dimana sekarang? jangan bilang kalau Adel masih ada diapertemen lo?" Ucap Nisa.


"Sebenarnya Adel tadi..." Nisa langsung memotong ucapan Harry dan mnyuruh Harry mengirin lokasi mereka saat ini. Nisa yang terlalu panik dan cemas terlihat begitu kesal karena mendengar keadaan Adel saat ini.


"Nanti akan gue jelaskan. Tapi gue minta tolong lo bawain baju ganti untuk Adel sekarang." Ucap Harry.


"Gue menuju kesana sekarang. Untuk sementara lo bisa kompres kening Adel dengan air hangat." Ucap Nisa.


"Oke ." Ucap Harry.


Harry menyelimuti Adel dan segera mematikan AC yang ada dialam kamar, dia keluar untuk mengambil air hangat dan kain. Setidaknya panas Adel sedikit berkurang sebelum kehadiran sahabatnya.


Dia menempelkan kain pada kening Adel. Dan melakukannya secara berulang kali. Tapi demam Adel semakin tinggi malah membuatnya semakin panik.


Sekarang dia hanya berharap Nisa cepat datang...


"Aku gak bisa biarkan ini terus. Sebaiknya Adel harus dibawa ke rumah sakit." Ucap Harry.


Harry berusaha membangunkan Adel tapi sia-sia.


"Kalau aja aku tahu apa yang terjadi sama kamu, aku akan melindungi kamu Del." Ucap Harry sambil melamun.


Selang setengah jam kemudian, terdengar suara bel rumahnya. Harry dengan mempercepat langkah kakinya langsung saja berjalan kearah pintu...


Baru saja pintu itu dibuka, Nisa sudah seperti orang yang kesetanan..


"Dimana Adel?" Tanya Nisa.


Harry menunjuk kearah pintu kamar yabg tertutup. Langsung saja tanpa basa basi lagi Nisa masuk kedalam kamar yang ditunjuk oleh Harry barusan.


Harry dan Dimas berjalan tepat dibelakangnya...Nisa memberi kode untuk keduanya untuk keluar dari kamar.


"Kenapa kalian malah diam aja sih. Keluar sekarang." Nisa mendorong keduanya keluar.


"Tapi Nis...gue.." Nisa menutup pintu kamar tanpa mempedulikan ucapan Harry.


"Kenapa sih sama pacar lo? Aneh banget." Ucap Harry.


"Cewek emang susah ditebak bro. Sabar aja tunggu dia ngomong dulu. Ntar juga kita dikasih tahu." Ucap Dimas.


"Oh ok...kayaknya lo udah paham banget ngadapin sifat cewek lo." Ucap Harry.


"Lumayan pahamlah. Gue kan dekat sama dia gak sebentar." Ucap Dimas mengingat pertama kali mereka dekat.


"Daripada lo bengong mending duduk gih. Gue mau ambil minuman untuk lo. Bentar ya..." Ucap Harry.


Bukannya duduk diam, Dimas malah berkeliling untuk melihat-lihat apartemen milik Harry. Darisana juga terlihat pemandangan kota Jakarta yang menurutnya indah.


'Lumayan juga.' Batin Dimas sambil tersenyum.


"Hei, gue cariin malah berdiri disini." Ucap Harry.


"Sederhana, elegan ...gue suka design apartemen milik lo." Ucap Dimas.


"Semuanya di design sesuai permintaan gue. Lo ngerti tentang design juga ya?" Ucap Harry sambil memeberikan minuman kaleng ke Dimas.


"Pekerjaan gue kan tentang design. Rumah Kavin dan Ratu gue yang design." Ucap Dimas.


"Kalau gitu boleh dong kapan-kapan gue pakai jasa lo." Ucap Harry.


"Pasti..." Ucap Dimas.


Nisa memanggil Dimas dan Harry untuk mengikuti langkahnya kedalam kamar...


"Kita bawa Adel kerumah sakit sekarang. Gue udah ganti pakaiannya dan juga udah kompres sama kasih dia minum obat. Tapi gak ada perubahan sama sekali." Ucap Nisa mulai cemas.


Adel mulai sadar dan samar-samar dia mendegar suara orang. Adel membuka matanya secara perlahan. Kepalanya terasa sakit sekali...


"Aww kepala gue..." Ucap Adel sambil memegangi kepalanya yang sakit.


"Lo bangun beb, kita kerumah sakit sekarang ya. Demam lo tinggi banget sekarang." Ucap Nisa.


"Kok lo ada disini? Gue gpp...gue cuman perlu istirahat aja beb. Lagian cuman demam aja kok." Ucap Adel.


"Gak bisa beb, kalau lo kenapa-napa gimana? Sekarang juga lo harus nurut dan ikutin kemauan gue." Nisa memerintahkan Harry untuk menggendong Adel.


Adel hanya terlihat pasrah saja karena tidak bisa menolak keinginan Nisa. Doa tidak membantah lagi karena kondisinya juga terbilang lemah tak berdaya.


*****


Sampainya dirumah sakit, Adel segera diperiksa oleh perawat. Pihak rumah sakit memutuskan untuk Adel dirawat dirumah sakit.


"Bagaimana kondisinya sus?" Tanya Nisa.


"Pasien harus dirawat inap karena demamnya yang sangat tinggi. Saya sudah menyuntikan obat tadi supaya pasien bisa istirahat." Ucap salah seorang suster yang mengecek kondisi Adel.


"Untuk keluarganya diharapkan mengisi beberapa dokumen ke kasir. Saya permisi dulu..."


Harry pergi meninggalkan Nisa dan Dimas. Harry tahu jelas kalau keluarga Nisa tidak akan peduli dengan kondisi anak mereka. Untuk itu Harry tidak mengabari keluarga terdekat Adel termasuk kedua orang tuanya.  Padahal bisa saja Harry menghubungi papa mama Adel apalagi hp Adel ada bersamanya saat ini. Adel menjadi tanggung jawabnya sekarang, bagimnapun juga Adel memang karyawan diperusahaanya.


Setelah melengkapi beberapa dokumen, Harry menghampiri Nisa dan Dimas lagi...


"Sebaiknya kalian pulang aja. Biar gue yang ngejaga Adel malam ini. Kalian kan besok kerja..." Ucap Harry.


"Gak bisa. Gue mau nemani Adel disini. Sebaiknya lo aja yang pulang." Ucap Nisa.


Dimas menggenggam tangan Nisa sambil menatapnya. Seolah Dimas memberikan kode lewat tatapannya itu.


"Kita pulang aja Nis. Biarin Harry aja yang jagain Adel. Lagian Adel juga butuh istirahat sekarang." Ucap Dimas dengan lembut.


"Tapi Dim..." Nisa menghela nafasnya sebelum menyetujui ucapan pacarnya tersebut.


"Hmmm oke. Tapi besok kita datang kesini lagi. " Ucap Nisa.


Dimas mengangguk tanda menyetujui keinginan Nisa.


"Makasih kalian udah datang malam ini bantuin gue." Ucap Harry.


"Lo masih hutang cerita kenapa Adel bisa seperti itu." Ucap Nisa ketus.


"Jangankan elo, gue juga gak tahu.." Ucap Harry.


"Kita pulang dulu ya. Jangan lupa kabari kita kalau ada apa-apa. Jangan terlalu diambil hati ucapan pacar gue. Dia hanya terlalu khawatir aja." Bisik Dimas. Harry bisa mengerti kenapa Nisa bertingkah seperti itu. Wajar saja sebagai sahabat Nisa terlalu cemas.


Dimas menarik tangan Nisa untuk mengikuti langkahnya... untung saja sekarang Nisa memiliki pacar yang peduli padanya, teman-temannya, termasuk bundanya. Jadi kapanpun Nisa butuh bantuan, Dimas selalu bersedia membantunya. Bunda Nisa juga lebih tenang sekarang, karena ada Dimas yang selalu melindungi putri kesayangannya.


Nisa terasa belum rela untuk pergi, tapi Dimas mampu meyakinkannya kalau Adel baik-baik aja sekarang.


"Hei kamu kenapa ???masih mikirin Adel?" Tangan Dimas menggenggam erat tangan Nisa dan tangan sebelahnya lagi dia pakai menyetir.


"Aku khawatir Dim..." Ucap Nisa.


"Adel udah ditangani sebaik mungkin sayang. Aku yakin Adel bakal baik-baik aja." Ucap Dimas.


"Apa aku perlu kasih tahu Ratu tentang Adel?" Tanya Nisa.


"Besok aja ya. Jam segini mereka pasti tidur." Ucap Dimas.


"Kamu benar Dim." Nisa kembali terdiam lagi. Dimas mengelus lembut rambut Nisa.


"Ikh Dimas...rusak nih rambut aku." Ucap Nisa.


"Habisnya punya pacar tapi malah dicuekin." Ucap Dimas.


"Maaf sayang." Ucap Nisa.


'Makasih Dim, kamu selalu bisa menghibur aku. Makasih Tuhan udah mempertemukan kita. Aku benar-benar beruntung karena perjuangan cintaku tidak sia-sia.' Batin Nisa.


*****


Ratu cukup kaget mendengar kabar tentang Adel, buru-buru dia meminta Kavin untuk segera mengantarnya kerumah sakit.


Kavin menolak tegas keinginan Ratu, semua ini Kavin lakukan untuk menjaga kehamilan istrinya.


Kehamilan Ratu benar-benar lemah ditambah lagi Ratu sering merasa setres karena terlalu banyak memikirkan hal yang gak seharusnya dia pikirkan. Cukup waktu Raya mencoba membuat pikirannya kacau dan hampir celaka. Kavin tidak ingin ambil resiko lagi.


Ratu merasa kesal karena Kavin tidak mengizinkannya. Ratu benar-benar kecewa sama suaminya. Kavin tidak memusingkan hal itu. Dia rela dimusuhi, dicuekin atau didiemin istrinya sendiri daripada harus mengizinkan Ratu pergi apalagi utnuk menjenguk orang sakit.


Sikap overprotektif Kavin makin hari semakin bertambah semenjak Ratu hamil, dan makin menggila lagi semenjak Ratu hampir celaka...


Kavin menghampiri istrinya yang sedaritadi mengabaikannya...


"Aku ke kantor ya sayang. Jangan cemberut terus...ini demi kebaikan kamu juga." Ucap Kavin sambil mencium sekilas kening istrinya.


Tak lupa Kavin mengelus lembut perut Ratu...


"Kamu baik-baik ya anak papa. Jangan menyusahkan mama. Papa pergi dulu..." Ucap Kavin.


Ratu masih saja terdiam da melihat Kavin keluar dari kamar....


"Makasih sayangnya mama...udah tunjukin peegerakan kamu. Lain kali tunjukkin didepan papa juga ya." Ucap Ratu.


Ratu tidak tinggal diam, dia mengirim Nisa sebuah chat...


"Maaf gue gak diizinin ke rumah sakit. Padahal gue mau banget kesana. Jangan lupa kabari gue tentang Adel ya. Titip salam juga untuk Harry karena udah ngejagain Adel sepanjang malam..."


Nisa yang saat ini sedang makan siang, melihat hp nya bergetar langsung mengambilnya dengan segera. Dia pikir Dimas yang mengabarinya ternyata Ratu...


"Gue ngerti kok kenapa Kavin gak izinin lo beb. Biar gue aja yang mastiin keadaan Adel ya beb. Jangan terlalu banyak mikir, gak baik untuk bayi lo."Balas Nisa.


"Oke." Balas Ratu.


Ratu memakan makan siang yang sudah dipersiapkan oleh mamanya didalam kamar. Ratu beesyukur karena semua makanan bisa dia cerna dengan baik. Ratu tidak pernah memuntahkan kembali makanannya.


Seluruh badannya benar-benar membengkak sekarang, sampai dia susah beraktifitas. Apalagi kalau sudah tiduran, dia susah sekali untuk bangkit kembali. Kalau ada Kavin, dia bisa meminta bantuan tapi kalau sudah sendirian, dia berusaha sendiri untuk bangun.


*****


Harry baru saja balik ke apartemennya untuk membersihkan dirinya, kemudian dia kembali lagi kerumah sakit. Tidak lama-lama baginya untuk bersiap-siap.


Sampai dirumah sakit, dia memeriksa keadaan Adel yang sudah semakin membaik saja


 Dia terlihat senang karena Adel tidak demam lagi sekarang.


Adel membuka mata karena dia merasa ada orang yang menyntuhn keningnya...


"Kamu kemaja aja tadi? Jangan tinggalkan aku sendirian." Ucap Adel.


"Tadi aku cuma balik ke apartemen sebentar." Ucap Harry.


Adel memegang tangan Harry agar Harry tidak pergi lagi. Dia hanya butuh orang untuk menemaninya saat ini. Jujur dia tidak ingin sendirian. Hal itu yang dia takutkan sekarang.


"Kamu tenang aja Del, aku gak akan pergi." Ucap Harry menenangkan Adel.


"Janji?" Ucap Adel.


"Janji." Harry mengaitkan jari kelingkingnya ke kelilngking milik Adel.


Harry mengelus lembut pipi Adel...


"Aku suapin kamu makan ya?" Ucap Harry.


Adel mengangguk setuju...


Harry dengan sabarmya menghadapi Adel dan memperlakukan Adel sebaik mungkin.


'Inilah kenapa aku gak pernah ingin berharap sama manusia, karena mereka suatu saat bisa saja meninggalkanku.' Batin Adel.


*****


"Gimana ini pa? Adel gak bisa dihubungi? Dan gak pulang dari semalam. Mama benar-benar kepikiran sekarang. Semalam hujan deras banget tapi Adel gak bawa mobil." Ucap mama yang tidak pergi kerja karena memikirkan Adel. Mama terlihat gelisah sekarang, karena ucapannya yang tidak dia jaga...Adel mengetahui semua kenyataan.


"Mama tenang aja ya. Papa juga masih mencari tahu keberadaan Adel sekarang." Ucap papa.


"Pasti Adel kecewa banget pa." Ucap mama.


"Kita harus menemukan Adel dulu ma. Jadi mama jangan berfikir yang ameh-aneh dulu. Lagian di Jakarta ini Adel bisa kemana? Dia pasti balik lagi kerumah...Adel sudah terbiasa hidup mewah dengan kita selama ini." Ucap papa.


"Mama gak yakin pa, gak ada alasan untuk Adel balik lagi pa." Ucap mama.


"Mama percaya aja deh sama yang papa bilang. Adel gak bisa hidup tanpa uang ma. Dia sudah terbiasa boros, belanja dan berpoya-poya selama ini." Ucap papa.


"Adel tidak pernah memakai uang yang mama berikannya padanya selama ini pa." Ucap mama.


Mama menunjukkan buku tabungan milik Adel.


"Selama ini dia membeli barang-barang untuk dia jual secara online kembali.Dan itu sudah berlangsung semenjak lama. Kita sudah salah menilai Adel pa. Adel mencari uang sendiri..." Ucap mama.


"Gak mungkin ma." Ucap papa.


Mama menunjukkan buku tabungan dan atm kepada suaminya. Semua itu dia ketahui setelah melihat langsung semua buku catatan penjualan Adel dan membaca diary.


"Papa bisa pastikan sendiri semuanya di atam ini." Ucap mama.


"Gak mungkin ma, mama pasti salah..." Ucap papa.


Mama memberikan atm tersebut kepada suaminya.


"Selama ini kita salah paham terhadap Adel pa." Ucap mama sambil menangis.


Ini pertama kali mamanya merasa kehilangan Adel. Padahal selama ini Adel tidak dianggap sama sekali. Apapun yang Adel lakukan tidak pernah mereka respon dan pedulikan. Sikap cuek dan acuh mereka tunjukkan tapi setelah Adel sudah mengetahui kenyataan yang sebenarnya, mamanya mulai cemas Adel tidak akan kembali lagi.


Semuanya seperti hukum alam saja. Disaat ada dibiarkan dan disaat tidak ada malah dicari....


"Mama jangan seperti ini. Toh Adel bukan anak kandung kita kan." Ucap papa.


Mama menghentikan tangisannya sesaat dan melihat kearah suaminya.


"Tapi seenggaknya dia yang menggantikan putri kita yang hilang selama ini pa. Jangan pernah lupakan hal itu." Ucap mama.


"Jangan lupakan juga kalau orangtuanya Adel yang membuat kita kehilangan putri kita ma..." Ucap papa.


"Tapi pa...mama gak." Papa menggelengkan kepelanya tanda dia tidak ingin mendengarkan rengekan istrinya lagi.


"Lebih baik mama istirahat aja. Jangan mikir hal lain lagi." Mama tidak bisa membantah ucapan suaminya lagi.


*****


"Adel ??? Gimana keadaan lo ben? Sumpah gue khawatir banget." Ucap Nisa yang baru datang Nisa memeluk Adel sebentar dan memastikan suhu tubuh Adel saat ini.


"Gue gpp kok. Seharusnya gue udah bisa istirahat dirumah. Demamnya juga udah turun." Ucap Adel.


"Oh iya? Ratu  minta maaf gak bisa datang karena gak diizini sama Kavin." Ucap Nisa.


"Gue ngerti kok." Ucap Adel.


"Nis, apa gue gak berhak untuk bahagia ya?" Tanya Adel dengan serius.


"Kenapa lo tanya begini? Semua orang berhak menentukan kebahagiaannya sendiri. Jangan pernah bilang begini. Apa ini tentang ortu lo lagi?" Nisa langsung bisa menebak arah pembicaraan Adel.


Adel hanya mengangguk saja...


"Hei ..dengerin gue. Mungkin mereka punya alasan kenapa mereka bersikap seperti itu. Gue rasa, gak ada orangtua yang gak memikirkan anaknya." Ucap Nisa yang berusaha menenangkan pikiran Adel.


"Alasan? Gue udah tahu alasannya beb dan rasanya sakit banget sekarang." Adel menutup kedua matanya...


"Maksudnya?" Ucap Nisa yang tidak mengerti perkataan Adel barusan.


"Gue hanya anak angkat...itulah alasannya kenapa kedua orangtua gue gak pernah peduli dan sayang." Jelas Adel.


"Jangan mikir kayak gitu beb...gak baik berprasangka seperti itu." Nisa sendiri kaget dengan apa yang barusan dia dengar.


"Itulah kenyataannya dan gue batu tahu ini secara gak sengaja. Dan yang lebih parahnya lagi, orangtua kandung gue yang menyebabkan kematian anak mereka. Hahaha...berarti selama ini mereka gak suka sama sekali sama gue beb. Mereka jijik atau benci sama gue. Dengan bodohnya selama ini gue selalu mencari perhatian mereka padahal tidak pernah direspon sama sekali. Gue mengerti sekarang..." Ucap Adel.


"Gak mungkin beb, mungkin aja lo salah dengar..." Nisa masih berusaha meyakinkan Adel lagi.


"Gue udah mastikan langsung dan mereka tidak bisa menjawab pertanyaan gue...mereka sangat sulit menjelaskan semua hal. Itu artinya semua itu benar adanya." Ucap Adel sambil terisak...


"Sabar ya beb, jadi lo mau lakukan hal apa sekarang?" Tanya Nisa.


"Gue akan tinggal sendirian sekarang. Mencari tempat tinggal...Setidaknya gue gak akan menyusahkan hidup mereka lagi." Ucap Adel.


"Lo yakin dengan keputusan lo beb?" Tanya Nisa.


Adel hanya diam saja karena dia sendiri bingung apa yang harus dia lakukan sekarang.


"Setelah tahu kenyataannya, hati gue merasa sakit banget. Selama ini gue tulus sayang sama mereka." Nisa memeluk Adel dan menenangkannya.


"Gue yakin orangtua angkat lo akan menyesali semuanya." Bisik Nisa.


"Del...saatnya makan malam." Ucap Harry yang masuk tanpa mengetok pintu. Niatnya harry mau memberikan kejutan kepada Adel tapi yang ada malah dia yang terkejut melihat Adel menangis.


Adel dan nisa menghapus air mata mereka secepat mungkin. Mereka tidak ingin Harry tahu. Harry bingung melihat keduanya saling nangis dan berpelukan seperti itu.


"Kalian kenapa?" Tanya Harry sambil menatap keduanya bergantian.


"Gak ada, gue cuman khawatir aja Adel kenapa-napa." Ucap Nisa bohong.


"Tapi kok sampai nangis begitu?" Tanya Harry mulai curiga.


"Cewek kan emang cengeng..." Ucap Dimas yang ikutan masuk. Nisa lega katena ucapan Dimas mampu meyakinkan Harry.


"Makasih ya udah jagain Adel semalam. Maaf juga karena sikap gue yang kasar sama lo.." Ucap Nisa.


"Gpp kok Nis, gue bisa ngertiin. Mungkin lo mikir kalau gue yang nyakitin Adel kan." Ucap Harry.


"Eh gak kok." Nisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bilang aja iya? Susah banget kamu ngakuinnya Nis." Ucap Dimas.


"Ikh Dimas." Ucap Nisa.


"Udah-udah... jangan berantem disini. Gue usir juga ntar kalian berdua." Ancam Adel.


"Jangan dong beb, maaf ya." Ucap Nisa.


"Harry, gue mau pulang sekarang. Gue gak mau disini. Gue udah baikan kok." Ucap Adel.


"Astaga, hampir aja gue lupa. Ini tadi gue belikan lo beberapa baju untuk ganti." Nisa memberikan beberapa papper bag kepada Adel.


"Kok banyak banget beb? Tahu gitu gue lamain aja sakitnya biar lo beliin lagi baju buat gue.hehehe.." canda Adel.


"Huhu dasar...dimana mana itu orang mau cepat sembuh ini malah minta sakit." Ucap Nisa.


"Bercanda kali beb, habisnya gue terharu lo beliin banyak baju buat gue." Ucap Adel.


"Kamu yakin mau pulang sekaranf?" Tanya Harry.


"Tapi boleh gak kalau gue nginap di apartemen lo selama beberap hari lagi. Sampai gue..." Adel tidak meneruskan ucapannya barusan, dia tidak mau Harry mengkhawatirkannya.


'Gak ! Gak ! Gak...jangan sampai Harry tahu kalau gue gak balik kerumah lagi.'Batin Adel.


"Sampai apa Del?" Ucap Harry.


'Mati ...hampir aja gue keceplosan ngomong.'Batin Adel.


"Sampai gue....


******


Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.


jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.


Terimakasih masih setia membaca novel ini.


Happy Reading Guys!