Playboy Vs Playgirl

Playboy Vs Playgirl
Memberanikan diri



Dimas mulai memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu hal yang lebih privasi lagi kepada Nisa.


"Nis..." Ucap Dimas.


"Hmmm..."


"Ada hal yang mau gue tanya sama lo." Ucap Dimas.


"Hmmm..."


"Gue penasaran banget tapi lo janji harus menjawabnya dengan jujur." Ucap Dimas.


"Hmmm..."


"Nisa !!! Gue lagi serius bisa gak sih lo berhenti main hp dulu dan lihat kearah gue." Teriak Dimas.


"Hussstt...Apa sih Dim teriak gak jelas gini. Ntar dengar bunda lo. Nanti bunda pikir kita ribut lagi." Bisik Nisa. Saat ini nereka berdua sedang duduk di halaman samping rumah Nisa dan duduk diatas ayunan dengan kursi berhadapan langsung.


"Makanya lo kalau diajak ngomong itu pandangannya ke gue dong." Ucap Dimas.


"Gue kan lagi serius main game malah lo ganggu jadi wajar aja kalau gue kesal. Emang pertanyaan lo sepenting apa sih? Awas ya kalau pertanyaan lo kalau gak penting karena gara-gara lo gue kalah main game tadi." Nisa memandang mata Dimas lebih dalam lagi dan mendekatkan wajahnya kehadapan Dimas.


"Gue penasaran banget tentang sesuatu hal tapi lo janji dulu harus jujur." Ucap Dimas.


"Tergantung lo bakal nanyak apaan. Udah deh gak usah berbelit-belit daritadi." Ucap Nisa.


"Sebenarnya perasaan lo ke Adryan itu bagaimana? Gue lihat Adryan masih ngotot untuk dekatin lo terus. Gue yakin dia gak akan nyerah." Tanya Dimas yang sangat penasaran.


"Gue gak mau bahas dia. Biarkan itu jadi urusan gue karena gak ada kaitannya sama lo sama sekali." Jawab Nisa.


"Lo masih sayang sama dia Nis?" Tanya Dimas lagi.


Nisa melipat kedua tangannya dan memperhatikan Dimas dengan seksama.


"Gue gak tahu ya sebenarnya tujuan lo nanyak begini apaan. Yang jelas urusan hati biar gue aja yang tahu. Gue butuh privasi untuk hal itu. Jadi gue harap lo bisa ngerti Dim." Ucap Nisa.


"Dan lagi...gue gak tahu lagi cara menghindar dari lo karena lo terus masuk kedalam hidup gue dan itu teramat ganggu banget sebenarnya. Gue gak ngerti lagi harus pakai kata apa biar lo ngerti dan menjauh dari hidup gue Dim." Ucap Nisa lagi.


"Jadi selama ini lo merasa terganggu Nis?" Tanya Dimas yang masih gak habis pikir mendengar ucapan Nisa barusan.


"Menurut lo Dim?"


"Apa hal yang buat lo seperti ini?" Tanya Dimas.


"Lo udah tahu Dim. Gue udah jelasin berkali-kali sama lo tapi lo tetap maksa gue untuk dekat sama lo." Nisa mulai berdiri dan melangkah pergi.


"Apa karena selama ini lo menyimpan perasaan sama gue Nis?" Ucapan Dimas barusan membuat Nisa menghentikan langkahnya dan diam mematung.


"Apa karena hal ini yang lo sembunyikan sama gue?" Teriak Dimas.


Nisa yang posisinya masih membelakangi Dimas, perlahan air matanya terjatuh.


"Kenapa lo gak bisa jujur sama gue Nis. Gue benar-benar mau gila rasanya saat lo mau menjauh dari hidup gue." Teriak Dimas lagi yang sudah tidak tahan lagi untuk memendam semua hal yang ia rasakan selama ini.


Air mata Nisa mengalir semakin deras dan tidak bisa dia tahan lagi. Air matanya jatuh begitu saja seakan merasakan hal yang sama seperti Dimas rasakan.


"Kenapa lo diam aja Nis? Gue juga tahu kalau lo yang ngirim surat tanpa nama. Gue tahu semuanya. Gue belakangan ini mencoba mendekati lo lagi untuk memastikan perasaan gue sama lo Nis. Tapi lo malah ngusir gue dari hidup lo." Ucap Dimas.


Nisa tidak ingin Dimas melihatnya menangis dan dia segera melangkah lagi. Tapi terlambat karena Dimas memeluknya dari belakang.


"Maafin gue yang selama ini gak bisa peka sama perasaan lo Nis." Dimas semakin mempererat pelukannya. Nisa yang masih mematung setelah mendengar ucapan barusan. Dia mencoba menarik nafas yang panjang dan berusaha melepas pelukan Dimas.


"Jangan lari lagi Nis. Hadapi kenyataan yang ada. Gue yang bodoh selama ini. Gue benar-benar minta maaf untuk hal itu." Ucap Dimas.


Nisa melepas paksa pelukan Dimas tapi pandangannya masih kedepan dan membelakanginya.


"Terus menurut lo gue harus bagaimana Dim? Gue capek selama ini berharap lebih sama lo. Gue juga sadar kalau cinta itu gak bisa dipaksa. Dan perkataan lo yang buat gue sadar untuk semuanya. Masih terngiyang jelas dikepala gue kalau lo bilang gak akan pernah anggap gue lebih dan lo hanya mikirin gue karena selama ini gue baik. Jadi semakin gue paksain untuk berteman sama lo semakin buat gue tersiksa Dim." Jelas Nisa.


"Lo pandang mata gue Nis. Malam ini gue coba pengen cari tahu tentang Adryan karena gue penasaran apa hati lo udah berubah setelah kehadiran dia lagi." Ucap Dimas.


"Gue gak sebodoh itu untuk tetap mencintai orang yang udah ninggalin gue tanpa alasan." Ucap Nisa.


Dimas membalikkan tubuh Nisa sehingga membuatnya tertunduk malu karena menangis. Dimas mengarahkan tengkuk wajahnya dan menghapus air mata Nisa.


"Gue gak pengen lihat lo nangis lagi Nis. Maaf kalau malam ini udah buat lo nangis." Nisa masih nangis sesegukan dihadapan Dimas.


"Gue gak mau merusak persahabatan kita Dim tapi gue mohon lo pergi jauh dari hidup gue. Karena gue bukan teman yang baik buat lo." Ucap Nisa.


"Gue gak mau ninggalin lo dengan alasan gak masuk akal seperti itu Nis." Ucap Dimas.


"Gue tahu kalau lo masih susah nerima kenyatannya. Tapi lama kelamaan lo pasti bisa nerima Dim. Gue mohon lo menjauh dari hidup gue." Ucap Nisa.


"Gak akan pernah Nis. Karena gue sayang sama lo." Ucap Dimas yang akhirnya mengungkapkan perasaannya. Dia berusaha mengutarakan isi hatinha tapi Nisa masih tidak mengerti juga. Itu kata-kata yang sedaritadi ingin dia ungkapkan tapi sangat sulit keluar dari mulutnya.


"Gue tahu kalau lo sayang sama gue dan hanya sayang sebagai seorang teman." Ucap Nisa.


'Gue udah susah payah Nis ngeluarkan kata-kata barusan, lo masih belum paham juga. Apa yang harus gue lakuin supaya lo ngerti.' Teriak Dimas dalam hati.


"Pandang mata gue Nis. Gue sayang sama lo." Ucap Dimas untuk kedua kalinya.


"Jangan kasih gue harapan palsu Dim. Gue tahu dengan jelas kalau lo hanya nganggap gue sebagai seorang sahabat aja. Makasih lo udah usaha menghibur gue malam ini. Gue butuh waktu sendiri Dim. Gue rasa lo lebih baik pulang aja."


'Ternyata Nisa belum ngerti juga. Emang pandangan mata gue gak bisa kelihatan ya kalau gue cinta dan sayang sama dia.' Batin Dimas yang mulai kesal.


Cup...


Dimas menghentikan Nisa ngomong dan membuatnya menjadi lebih jelas lagi dengan mencium bibirnya sekilas.


"Gue sayang sama lo. Gue pengen kita mulai hubungan pacaran yang serius. Gue harap lo ngerti maksud perkataan gue. Gue udah usaha jelasin sedaritadi maaf kalau gue tiba-tiba mencium lo. Maaf juga kalau gue terlalu lama ngungkapin perasaan. Ternyata begini tersiksanya kalau kita menyukai seseorang dan susah mengungkapkan perasaan." Ucap Dimas.


Nisa terdiam sejenak dan mencoba mencerna perkataan Dimas barusan.


"Lo serius Dim?" Ucap Nisa.


"Kalau dengan kata-kata lo gak ngerti juga gue akan buktikan." Ucap Dimas.


Dimas menarik tengkuk wajah Nisa dan mencium bibirnya dengan lembut. Nisa yang awalnya kaget dan diam akhirnya membalas ciuman tersebut. Dimas menarik pinggang Nisa dan memeluknya kemudian menaruh kedua tangan Nisa ke lehernya. Dan mereka menikmati ciuman dan lumatan yang diberikan. Dimas semakin tidak bisa menahan. Dia membuat ciuman tersebut menjadi ciuman yang lebih dalam lagi dengan memainkan lidah Nisa. Setelah lemas dan capek, Nisa melepaskan ciuman yang menggairahkan tersebut.


"Lo terima cinta gue kan Nis?"


Nisa menjawab dengan tersenyum dan mengangguk saja. Nisa tertunduk malu setelah ciuman panjang mereka barusan.


"Makasih Nis." Ucap Dimas.


"Tapi aku belum siap kalau yang lain pada tahu hubungan kita Dim." Ucap Nisa.


"Aku pengen kita rahasian hubungan kita dihadapan mereka." Ucap Nisa.


"Sebenarnya aku gak suka sama ide kamu barusan Nis. Tapi kalau kamu belum siap aku gak akan maksa kok." Ucap Dimas.


"Makasih Dim udah ngerti." Ucap Nisa.


"Kalau sama bunda kamu gak akan sembunyiin hubungan kita kan Nis?"


"Kecuali bunda." Ucap Nisa.


Bunda memanggil Nisa dan Dimas untuk masuk kedalam rumah...


"Bunda, Nisa mau kasih tahu sesuatu." Ucap Nisa.


"Ada apa sayang? Kalian diluar daritadi gak banyak nyamuk apa?" Ucap bunda.


"Gak kok tante." Ucap Dimas.


"Perkenalkan Dimas sekarang adalah pacar Nisa." Nisa dan dimas saling pandang dan tersenyum. Itu senyum kebahagiaan yang bundanya pengen lihat selama ini. Sekarang Nisa menampilkan senyum itu lagi didepan bundanya.


"Serius sayang? Kalau gitu bunda ikutan senang mendengarnya. Semoga kalian bisa happy terus ya sayang." Ucap bunda.


"Serius dong bunda." Ucap Nisa.


"Makasih Dimas udah ngembaliin senyum putri kesayangan tante lagi." Bunda begitu terharu sampai meneteskan air matanya.


"Sama-sama tante. Ucap Dimas.


Setelah mengobrol cukup lama, Dimas akhirnya pamit pulang. Nisa mengantarnya kedepan rumah ...


"Dim.. kamu yakin baru pertama kalinya pacaran?" Tanya Nisa.


"Yakin Nis. Emangnya kenapa kok nanyak gitu?" Tanya Dimas.


"Seperti udah mahir gitu ciumannya tadi." Ucap Nisa yang malu-malu.


"Jadi kamu gak yakin nih sama pacar sendiri. Atau mau kita ulangi lagi." Goda Dimas.


"Ikhh Dimas... aku cuman mastiin aja ternyata kamu bisa mahir gitu." Ucap Nisa.


"Aku balik dulu ya Nis."


"Iya bye..." Nisa buru-buru mengunci pagar dan lari masuk kedalam dengan muka yang malu mendengar ucapan Dimas barusan. Dimas tersenyum melihat tingkah Nisa yang menurutnya gemes itu.


Dimas malejukan mobilnya dengan kecepatan tinggi...


*****


Selama sebulan pacaran,  mereka berdua masih merahasiakan status hubungan didepan semua teman-temannya. Teman-teman mereka juga gak ada kecurigaan sama sekali. Saat didepan orang, mereka berdua terlihat biasa aja.


Selama berstatus menjadi pacar. Dimas menjadi overprotektif, setiap hari dia mengantar jemput Nisa. Pada saat weekend kadang Dimas mengajak Nisa jalan atau menonton kadang juga dia pakai untuk menghabiskan waktu bermain sepak bola bersama Kavin.


Dimas masih menunggu kesiapan hati Nisa untuk memberitahukan kepada teman-temannya. Sebenarnya Dimas sempat kesal kepada Nisa tentang hal itu tapi dia berusaha mengikuti kemauan pacarnya itu.


Nisa adalah pacar pertamanya. Jadi sebisa mungkin Dimas memperlakukan Nisa dengan sangat baik. Kadang sifat dan sikapnya yang berlebihan membuat Nisa merasa tidak nyaman. Seperti saat Dimas menemaninya berbelanja bahan makanan di supermarket. Dimas tidak mau dibantu sama sekali saat membawa beberapa bungkus plastik besar. Padahal Nisa tahu kalau itu sangat berat. Nisa berusaha membantu dan protes tapi tetap saja tidak didengarkan sama sekali. Kadang kala masalah sepele seperti ini yang membuat mereka berdua berdebat.


Dimas menurunkan semua barang dan membawanya masuk kedalam rumah Nisa dan memberikannya kepada pembantu rumah untuk disusun kedalam kulkas. Setelah selesai, Dimas menghampiri Nisa yang sedang duduk diayunan samping rumah.


"Kenapa malah melamun disini Nis?" Dimas masih canggung memanggil Nisa dengan sebutan sayang jadi dia masih memanggilnya dengan namanya saja. Untuk urusan percintaan memang Dimas terlalu kaku dan tidak punya pengalaman sama sekali. Kadang kadang Nisa yang menggoda pacarnya itu.


"Kenapa sih kamu gak biarin aku juga bantuin bawa barang. Tuh lihat tangan kamu sampek merah begini." Nisa memengusap-usap telapak tangan pacarnya.


"Itu tugas aku Nis sebagai pacar kamu." Ucap Dimas.


"Kamu gak perlu sampai seperti itu juga Dim. Sebagai pacar kamu, aku juga berhak untuk bantuin kamu." Jelas Nisa.


"Kamu itu pacar pertamaku Nis. Aku hanya ingin melakukan semua hal yang aku bisa lakuin untuk kamu. Itu juga salah satu cara aku untuk bahagiain kamu." Ucap Dimas.


Nisa yang mendengar ucapan Dimas menjadi tersanjung dan meleleh.


'Kamu memang beda Dim. Aku beruntung bisa ketemu orang seperti kamu.' Batin Nisa.


Nisa memeluk Dimas dengan erat.


"Makasih Dim udah berusaha menjadi pacar yang baik buat aku. Maaf aku malah banyak protes ke kamu." Ucap Nisa.


Mereka berdua saling beradu pandangan dan tersenyum bersama.


"I love you Dim..."


"I love you more...."


Dalam hati masing-masing mereka berdua ingin menghentikan waktu disaat itu juga.  Dan berharap semoga hubungan mereka bisa selalu awet. Nisa juga sangat berterima kasih kepada Tuhan karena ternyata salah satu harapan pada saat ultah dikabulkan.


Drrrtt...drrrt....drttt...ddrrrt....


Hp Nisa berdering dan bergetar terus-menerus.


'Ganggu aja nih hp disaat-saat seperti ini.' Batin Nisa. Dengan terpaksa dan nada kesal Nisa mengangkat telepon tanpa melihat siapa yang menghubungi terlebih dahulu.


"Halo? Siapa ini?" Ketus Nisa.


"Ini aku Adryan...."


Raut wajahnya berubah seketika. Dimas yang melihatnya langsung menanyakan siapa yang menghubungi.


'Darimana dia dapat nomor gue.' Batin Nisa.


"Maaf salah sambung." Ucap Nisa dan langsung mematikan teleponnya.


*****


Gimana pada suka gak? mohon berikan komentarnya yaa...


Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya..


jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.


Terimakasih masih setia membaca novel ini.


Happy Reading Guys!