Playboy Vs Playgirl

Playboy Vs Playgirl
Terjebak



"Saya tidak akan menolak usulan tersebut. Bagaimana kalau malam ini?" Ucap Harry.


Seakan tertusuk benda tajam yang Adel rasakan saat ini.Harry benar-benar tidak memikirkan tentang perasaannya lagi. Apa sebegitu bencinya Harry dengan dirinya sekarang. Adel hanya tertunduk pasrah karena appaun yang dia katakan saat ini tidak akan mengubah keputusan Harry. Adel tersenyum terpaksa sebisa mungkin dia tunjukkandihadapan Harry dan Tommy. Harry benar-benar melihat ekspresi Adel yang pasrah tersebut.


'Maaf Del, aku harus melakukan ini untuk kebaikan kamu.Ini semua untuk membuat kamu sadar dengan cepat. Kamu harus melupakan Tommy karena cinta kamu tidak pantas untuknya. Tommy sudah bahagia dengan pilihan hidupnya. Aku harap kamu bisa mengerti dan cepat menyadarinya. Aku berharap kamu bisa kembali seperti semula lagi.' Batin Harry.


"Terima kasih pak Harry, apa ibu Adel juga akan ikut?" Tanya Tommy.


Deg...


Adel sedikit gugup tanpa tahu harus menjawab apa sekarang. Adel melirik kearah Harry seakan meminta bantuan tapi malah Harry mengabaikannya. Adel terlihat kesal dengan Harry...


"Gimana ibu Adel?" Tanya Harry dengan sedikit penekanan kata...


"Eh itu...baik pak." Ucap Adel akhirnya dengan gugup.


Adel membenci mulutnya yang mengatakan ucapan barusan. Ucapan yang membuatnya  terjebak sendiri. Mau tidak mau dia harus makan malam dengan Harry dan Tommy malam ini.


"Kalau begitu saya permisi sekarang. Untuk mengganti makan malam sebelumnya, malam ini saya yang akan membooking tempat." Ucap Tommy.


"Tidak perlu repot-repot pak Tommy." Ucap Harry seakan menolak ucapan Tommy barusan.


"Saya tidak merasa direpotkan. Saya akan mengirim alamat lengkapnya." Ucap Tommy.


"Kalau begitu terserah pak Tommy saja. Saya tidak akan menolaknya." Ucap Harry.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Tommy.


"Baik. Silahkan..." Ucap Harry mengantar Tommy sampai depan pintu.


SetelahTommy keluar dari ruangan, Adel sudah berdiri. Adel menahan rasa kesal dan marahnya kepada Harry. Adel segera pamit keluar...


Sadar diri...kata-kata itu lebih tempat dia camkan dalam hatinya. Siapa dia bisa menolak permintaan atasan. Hubungan Adel dan Harry hanya sebagai rekan kerja dan tidak akan pernah bisa melewati batas lain.


Saat duduk didepan komputernya, Adel sudah hilang konsentrasi untuk bekerja. Yang dia pikirkan sekarang acara makan malam yang akan mereka lakukan nanti malam. Apakah dia benar-benar akan datang? tapi tadi dia sendiri yang mengatakan kalau dia akan ikut. Ntahlah Adel hanya melamun memikirkan hal yang belum terjadi, tatapannya memang kearah komputer tapi hati dan pikirannya sudah melayang ketempat lain.


“Gak bisa nih kayak gini. Gue harus ambil tindakan secepatnya. Apa gue omongin lagi ke Harry aja ya.” Ucap Adel sambil berfikir sejenak.


“Iya benar, gue harus obrolin tentang hal ini...ah tapi gu yakin Harry juga gak akan dengarin omongan gue sekarang. Ah shitt...apa yag harus gue lakukan sekarang???”


“Ayo berfikir Del..." Adel sambil enepuk-nepuk keningnya sendiri karena tidak bisa menolak ajakan Tommy tadi.


'Memang payah lo Del, kenapa tadi lo gak beralasan aja sih di depan Tommy. Kalau udah begini mau gimana lagi coba.' Batin Adel yang tidak sadar kalau Harry sudah berdiri tepat didepannya...


"Ehem..." Ucap Harry yang langsung membuyarkan lamunan Adel seketika itu juga.


Adel berdiri dan langsung menyapa atasanya...


"Maaf pak, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Adel sambil melirik kearah Harry.


"Tolong kamu ikut dengan saya sebentar." Ucap Harry sambil melihat jam tangannya.


Adel mengernyitkan alis ...


"Saya? tapi saya masih ada kerjaan lain pak. Maaf..." Ucap Adel buru-buru mnolak ajakan atasannya tersebut.


"Pekerjaan apa yang anda maksud? saya perhatikan dari tadi anda hanya melamun saja tanpa mengerjakan pekerjaan.


"Itu...saya hanya sedang berfikir sebentar pak." Ucap Adel dengan ragu-ragu. Adel masih saja menepis ucapan Harry padahal saat ini dia sudah ketangkap basah.


"Saya tidak mau mendengar alasan lain. Saya ingin kamu mengikuti saya sekarang juga." Perintah Harry yang tidak bisa dia bantah lagi.


Adel menarik nafas sebelum menjawab ucapan atasannya lagi...


"Baik pak." Adel tidak bisa membantah Harry lagi.


Adel mengikuti langkah Harry dari belakang dengan wajah yang cemberut, sedangkan Harry terlihat sennag karena Adel mengikuti ucapannya.... raut wajah Harry dengan menampilkan senyum manis kearah semua karyawan yang melihatnya dengan jelas.


'Harry mau ngajak kemana lagi? udah lebih baik gue ikutin aja. Malas gue berdebat sama dia lagi. Hidup gue udah cukup rumit sekarang. Gue tidak mau menambah beban pikiran lagi...' Batin Adel.


Harry menyuruhnya masuk kedalam mobil untuk duduk tepat disebelahnya, Adel tidak memprotes hal itu lagi. Tapi dalam hati Adel masih bertanya-tanya dimana sosok supirnya Harry belakangan in. Karena sudah sangat jarang terlihat.


Harry mendekat kearah Adel sehingga Adel bertindak reflek mundur sampai terjedut pintu mobil. Ternyata Adel salah sangka karena Harry hanya mengambil tali sealtbelt untuk segera dipasangkan langsung. Kemudisn Harry sudah berada diposisinya lagi. Harry menatap kedepan untuk menyetir. Adel merasa lega karna Harry tidak melakukan hal yang membuat mereka berdua akan terlihat canggung nantinya. Untungnya dugaan adel salah besar, hal yang ditakutkan tidak terjadi.


Mereka saling diam saat didalam mobil. Sesekali Harry dan Adel saling mencuri pandangan satu sama lain kemudian mereka gugup dan salah tingkah setelah kepergok saat melihat. Adel yang bingung harus melakukan apa, akhirnya Adel mengambil earphone dan memakainya untuk menghilangkan rasa canggung diantara mereka. Adel mendengarkan musik melalui earphone tersebut.


Harry sudah memberhetikan mobil...


"Turun..." Ucap Harry tapi tidak ada respon dari Adel. Harry baru menyadari kalau Adel sedang memakai earphone. Harry menghela nafas panjang, dia mmbuka earphone yang Adel pakai.


"Apaan sih Harry." Ucap Adel kesal.


"Aku suruh kamu turun daritadi tapi kamu tidak mendengarkan." Ucap Harry.


Adel melihat mobil sudah berada didaerah parkiran...


"Maaf." Ucap Adel singkat.


Sampailah mereka kesebuah tempat yang menjual berbagai macam baju, dress dan aksesoris lainnya. Adel menatap Harry dengan tatapan yang bingung. Kenapa juga Harry membawanya ketempat ini. Inikan tempat cewek berkelas yang bisa membeli barang ditempat ini.Tidak mungkinkah Harry mau menyuruh dirinya untuk berbelanja.


"Ayo masuk." Ucap Harry yang sudah membuka pintu boutiqe tersebut tapi Adel terlihat diam dan mematung.


Kemudian Harry berbicara lagi kepadanya...


"Jangan GR dulu. Aku mengajak kamu disini karena aku mau kamu pilihkan baju untuk mama dan adikku." Ucap Harry.


"Oh..." Ucap Adel singkat.


'Siapa juga yang Ge'er, perasaan daritadi gue gak ada ngomong apa-apa deh.' Batin Adel.


Adel menanyakan ukuran baju mama dan adiknya Harry, setidknya Harry tahu persis tinggi dan ukuran lingkar pinggang mama dan adiknya sendiri seperti apa. Harry menggaruk kepalanya saat Adel menanyakan hal tersebut. Harry menunjukkan foto keduanya untuk memperjelasnya ke Adel. Setelah melihat langsung, Adel sudah mengerti baju atau dress apa yang akan cocok dipakai oleh keduanya.


Adel memilih-milih beberapa baju yang meurutnya bagus. Sedangkan Harry tertarik dengan dress yang terpajang pada patung. Harry menyuruh karyawan toko untuk segera membungkusnya. Harry segera membawa pakaian tersebut kedalam mobilnya. Kemudian dia secepat mungkin untuk balik lagi kedalamtoko. Harry tidakingin membuat Adel curiga sama sekali dengannya. Sebenarnya Harry hanya beralasan saja untuk membeli baju untuk mama dan adiknya. Padahal sejujurnya dia ingin membelikan Adel baju.


Adel memberikan Harry beberapa pilihan baju yang akan dibeli. Harry malah membeli semua yang Adel pilihkan tersebut.


"Kamu yakin bakalan beli semua baju itu?" Ucap Adel.


"Yakinlah." Ucap Harry singkat.


Harry membawa baju ke kasir untuk dibayar kemudian mereka berdua bergegas kembali ke kantor.


Begitu sampai dikantor, Adel kembali bekerja lagi sedangkan Harry duduk diruangan dan melepaskan jas yang dia pakai. Adel benar-benar bingung dengan tingkah Harry hari ini. Harry terlihat cuek tapi tetap mengajaknya berbicara walaupun hanya sekedar saja. Tapi Adel tidak mau memusingkan hal ini. Banyak yang harus dia pikirkan sekarang...


Adel melihat dan megcek hpnya yang sudah bergetar sedaritadi...


Nisa dan Ratu sudah ribut di grup chat mereka bertiga...


"Kapan nih Del kita bisa main kerumah Ratu lagi?"


"Apa lo masih sibuk?"


"Kita kangen banget sama lo."Balas Nisa.


"Kabari kalau kalian ingin datang kesini."


"Gue tunggu kabarnya secepatnya."


"Jangan tolak lagi ya Del, kayaknya bukan cuman gue yang kangen sama lo. Tapi anak yang ada dalam perut gue juga." Balas Ratu.


Adel menggeleng-gelengkan kepala melihat kedua sahabatnya yang tidak menyerah begitu saja untuk mengajaknya bertemu. Padahal Adel sudah sering menolak ajakan keduanya.


"Kalau gue udah ada waktu. Gue kabari secepatnya ke kalian." Balas Adel.


"Oke...kita tetap tunggu." Balas Nisa.


"Ok." Balas Ratu.


Setelah obrolan grup berakhir, Ratu menelpon Nisa untuk memastikan keadaan Adel...


Hp Nisa berdering kencang, Nisa langsung mengangkat panggilan dari Ratu tersebut.


"Hai beb, ada apa nih? tumbe banget nelpon gue?" Tanya Nisa to the point.


"Gue mau tahu tntang kabar Adel." Ucap Ratu.


"Adel masih belum mau gue temuin beb, terakhir kali gue sama Dimas pulang dari apartemennya tanpa bertemu langsung." Ucap Nisa.


"Oh gitu, gue khawatir sama keadaan Adel Nis...lo tahu sendirikan kalau masalah Adel sebelumnya belum selesai, malah tambah masalah lain lagi." Ucap Ratu.


"Iya beb..oh iya hampir aja gue lupa cerita. Jadi kemarin itu Harry datangi gue sama Dimas. Harry baru tahu kalau Adel udah pindah rumah, dia terlihat kesal karena Adel tidak memberitahunya. Jadi gue minta tlong ke Harry untuk menenangkan Adel. Tapi gue belum tahu lagi gimana ..." Uap Nisa.


"Semoga aja Harry bisa membuat Adellebih tenang dari sebelumnya. Gue takut banget kalau Adel terus-terusan menutup diri begitu." Ucap Ratu.


"Gue berharap juga seperti itu beb. Tapi gue punya keyakinan yang tinggi terhadap Harry sih..." Ucap Nisa.


"Semoga aja ya beb..." Ucap Ratu.


"Maaf ya beb,gue gak bisa ngobrol lama-lama. Ada yang harus gue cek tentang pekerjaan." Ucap Nisa.


"Oh oke gue ngerti kok. lanjut gih kerjanya.jangan lupa kabari gue tentang Adel lagi ya..." Ucap Ratu.


"Ok beb..." Ratu mematikan teleponnya dengan segera. Ratu merasa sedikit lega setidaknya ada 1 orang yang bisa menenangkan Adel. Hal itu sudah membuatnya tenang dan bersyukur sekarang.


*****


Harry keluar dari ruangannya sambil membawa 1 papper bag. Harry meletakkan papper bag tersebut diatas meja Adel. Adel tampak terlihat kebingungan...


Adel membuka papperbag tersebut.


"Baju ini kan yang ada di boutique tadi." Ucap Adel sepontan sambil menatap heran kearah Harry.


"Kamu pakai dress ini untuk makan malam nanti." Ucap Harry.


Adel menggeleng dan menyerahkan kembali papperbag tersebut kepada Harry. Harry langsung menegaskan bahwa...


"Kamu harus memakainya saat makan malam." Ucapan Harry penuh dengan kata penekanan yang membuat Adel terdiam tanpa membatah ucapan Harry lagi.


"Aku menolak karena aku tahu baju ini mahal. Dan aku tidak layak untuk memakainya Harry." Ucap Adel menunduk.


"Hei...siapa yang bilang kamu tidak layak pakai dress ini. Jangan pernah berbicara seperti ini lagi." Ucap Harry langsung pergi meninggalkan Adel yang masih berdiri ditempat.


Adel tidak punya pilihan lain lagi, dia segera pulang ke apartemen...


Di apartemen, Adel mencuci serta mengeringkan dress tadi dengan menggunakan mesin cuci miliknya, Setelah ibenar-benar kering, Adel menyetrikanya sebentar. Setidaknya dia tidak ingin memakai dress yang belum di bersihkan.


Setelah itu Adel bersiap-siap untuk mandi, masih ada waktu setengah jam lagi bagi dirinya untuk bersiap-siap. Jadi Adel menggunakan waktu dengan sebaik mungkin. Ya walaupun dia sudah tidak mengharapkan makan malam ini tapi dia harus melakukannya. Mulutnya sendiri yang sudah menyetujui ucapan Tommy tadi.


Adel sudah tidak ada semangat untuk memakai riasan agar dirinya terlihat cantik. Adel hanya memakai makeup sekedar saja, pelembab, bedak tabur, blush on dan lipcream favoritnya. Sesimpel itu makeup nya untuk malam ini.


Adel bergegas pergi dan mengunci apartemennya, Adel dikagetkan dengan sosok yang ada didepan pintu apartemennya. Ada orang yang ntah sudah berapa lama berdiri disana.


"Kamu..." Ucap Adel yang masih tidak percaya.


"Iya aku. Tidak usah kaget gitu mukanya." Ucap orang tersebut.


"Sejak kapan kamu ada disitu?" Tanya Adel lagi.


Orang tersebut mendekat dan membisikkan sesuatu kepada Adel.


"Cantik." Bukannya menjawab pertanyaan Adel. Orag tersebut malah memuji penampilan Adel malam ini. Adel mendorong orang tersebut menjauh dari dirinya.


Orang tersebut malah menarik Adel...


"Kamu ikut denganku." Ucap Harry.


Tangan Adel dipegang dengan erat padahal Adel sudah berusaha  untuk memberontak tapi sia-sia. Tenaga Adel tidak sebandig dengan tenaga Harry...


Didalam lift tangan Adel masih dipegang erat oleh Harry, tangan Adel yang satunya lagi dia pakai untuk memukul-mukul bahu Harry seakan memberontak.


"Kamu ngapain sih Harry? sebenarnya tujuan kamu datang kesini tuh apaan?" Tanya Adel yang menatap tajam kearah Harry.


"Kamu mau tahu tujuan aku?" Harry malah menanyakan balik pertanyaan. Adel langsung mengangguk setuju...


"Kamu akan tahu kok kalau kamu ikuti aku." Ucap Harry lagi.


Adel menggurutu kesal didalam hati...'Huh kesal banget gue karena Harry nih benar-benar ya. Awas aja lo Harry gue akan balas sikap lo ini.'


"Apaan?" Ucap Harry.


"Aku tahu kok kamu pasti lagi maki aku dalam hati kan. Aku tahu itu Adel. Bukankah itu artinya aku lebih mengenal kamu dibandingkan dirimu sendiri." Harry melangkah maju sampaimembuat Adel terpojok dan mepet diujung lift.


"Apa sih yang sebenarnya kamu inginkan Harry? Jangan mendekat lagi." Adel memegang dan berusah mendorong dada Harry. Posisi diantara keduanya benar-benar dekat sampai Adel bisa meraakan aroma nafas dari mulut Harry. Saat Adel memegangi dada Harry dengan kedua tangannya, Harry langsung menarik pinggang Adeluntuk lebih mendekat kearahnya. Denga segera Adel memukul-mukul dada Harry lalu memalingkan wajahnya kearah kiri.


"Kamu itu berisik banget Del daritadi." Ucap Harry yang masih memeluk adel dipojokan lift.


"Lepasin Harry. Tolong jangan melewati batas. Kita hanya teman eh maksud aku kita hanya rekan kerja saja sekarang." Jelas Adel.


"Coba kamu bilangnya sambil tatap mata aku Del." Tantang Harry.


'Duh, kenapa sih lift ini lama banget. Bisa sesak nih gue disini bareng Harry.' Batin Adel.


Adel melirik sekilas kearah lift, Harry mengikuti arah pandangan mata Adel yang melihat kearah lift. Harry menekan tombol 8.Itu artinya mereka akan naik kembali keatas. Adel menatap Harry dengan tatapan kesal.


'Padahal bentar lagi 1nomor lagi mereka tadi akan segerakeluar. Emang dasar Harry benar-benar menguji kesabaran gue kali ini.' Btain Adel.


"Harry !!! lepasin. Kamu maunya apa sih? masih belum cukup kamu menyakiti aku?" Tanya Adel.


"Hei, kamu kali yang nyakiti aku Del. Itu pertanyaan lebih tepatnya untuk kamu sendiri. Mengerti?" Ucap Harry yang semakin mendekatkan wajahnya kearah Adel. Adel membuang wajahnya ke kiri. Adel merasa jantungnya berdebar sangat kencang saat Harry dan dirinya berada sedekat ini.


"Aku maunya kamu Del, tapi kamu tidak pernah melihat apalagi menganggapku ada." Ucap Harry.


"Kalau kamu memang sayang sama aku. Kamu tidak akan seperti ini Harry." Ucap Adel menatap tajam Harry.


"Aku tidak bisa berhenti untuk mencintai kamu Del." Ucap Harry.


"Aku tahu Harry, aku yang salah karena tidak bisa membalas perasaan kamu." Harry melepaskan pelukannya setelah mendengar ucapan Adel barusan.


"Maaf Harry...aku bukan wanita yang baik untuk kamu.Aku yakin kamu akan..." Harry memotong ucapan Adel...


"Cukup Del, jangan kamu teruskan lagi. Aku mohon." Harry menatap Adel dengan pandangan yang sendu.


'Apapun usaha yang aku lakukan selama ini tidak ada artinya bagi kamu sedikitpun Del. Aku tidak akan memaksa kamu lagi.' Batin Harry yang sedang frustasi.


Harry menekan tombol lift dengan angka 1. Harry sudah tidak tahan berlama-lama dengan Adel didalam lift. Ingin rasanya dia segera keluar dari sana.


'Maaf Harry. aku terlalu minder untuk menerima perasaan kamu. Lagian aku belum bisa memulihkan bagaimana luka yang ada dihatiku.' Batin Adel yang ikutan terluka saat melihat ekspresi Harry seperti itu. Adel tidak tega sebenarnya tapi semua ini juga demi kebaikan mereka berdua. Adel harus mempertegasnya kembali kepada Harry. Adel tahu jelas kalau hal itu akan menyakiti perasaan Harry tapi dia harus melakukannya. Adel ingin Harry bisa mendapatkan wanita yang lebih baik darinya. Lebih baik dari segla hal termasuk dari latar nelakang keluarga yang jelas. Bukan seperti dirinya yang tidak tahu dimana orangtua kandungnya saat ini.


Ting...


Pintu lift terbuka lebar, Harry dan Adel berjalan masing-masing menuju ke mobil mereka. Sebenarnya niat Harry ingin mengajak Adel untuk pergi bersama tapi Harry sudah melupakan niat baiknya tersebut. Ini semua akibat kata-kata Adel yang sudah menusuk tajam kedalam hatinya.


Harry dan Adel mengendarai mobil secara terpisah menuju tempat makan yang dipilih oleh Tommy...


Tempat pilihan Tommy ternyata tidak jauh dari apartemen Adel. Hanya memakan waktu selama 15 menit, mereka sudah sampai ke tempat tujuan.


Adel melihat Harry langsung masuk kedalam tempat tersebut tanpa menunggu dirinya. Adel sudah tahu betul kalau Harry benar-bear kecewa pada dirinya. Mungkin memang sudah saatnya bagi Adel untuk menjauhi harry dan menjaga jarak dengan Harry mulai dari sekarang. Dengan tujuan...Adel tidak ingin melukai perasaan Harry lagi. Dan Adel tidak mau terlihat seolah-olah memberikan harapan kepada Harry lagi.


Setelah melihat Harry masuk kedalam, Adel keluar dan bergegas untuk masuk kedalam juga. Tibanya Adel disana, sudah ditatap oleh 2 orang sekaligus. harry dan Tommy yang sedang asik bercerita refleks langsung mlihat kearah Adel yang baru saja datang.


"Malam..." Adel menyapa singkat lalu duduk disebalah Harry.


"Malam juga Del." Ucap Tommy dengan ramah.


Tommy menyerahkan buku menu untuk Adel. Adelpun melihat-lihat menu makanan sambil membolak-balikkannya. Jujur saja malam ini tidak ada nafsu makan untuk dirinya. Tapi Adel harus tetap memilih menu makanan.


Adel memesan salad buah dan mangga float kesukaannya...


Harry melirik kearah Adel yang tidak ada memesan makanan. Pesanan Adel hanya buah-buahan dan minuman saja. Harry hanya diam saja membiarkan hal itu. Padah ingin sekali dia memarahi Adel. Tapi dia cukup sadar diri sekarang. Tidak akan ada lagi paksaan dan larangan dari dirinya sendiri.


"Kamu lagi diet Del?" Tanya Tommy.


"Eh iya bisa dibilang begitu Tom." Ucap Adel gugup yang ditanya tiba-tiba.


"Oh gitu. Sayang banget ya padahal disini makanannya enak-enak lo. Kamu yakin tidak akan memesan lagi?" Tawar Tommy.


"Nggak deh Tom. Kayaknya itu aja..." Ucap Adel.


"Oh ok." Ucap Tommy.


Adel mengambil hp yang ada didalam tas, Adel sengaja mengutak-atik hpnya saat ini. Adel bingung harus mengobrol apa dengan Tommy dan juga Harry. Setelah kejadian tadi, Harry mendadak menjadi bisu kepada dirinya. Wajar saja sikap Harry seperti itu. Harry juga tidak tahu harus bertingkah seperti apa lagi ...Harry takut malah salah bicara nantinya.


"Hai sayang. Maaf ya aku lama. Teman-teman kamu udah pada datang ya?" Ucap Putri sambil tersenyum melihat kearah Adel dan Harry.


Putri menjulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Harry.


"Putri."


"Harry."


Adel melihat kearah Puti dan menyapanya dengan ramah. Walaupun sebenarnya Adel masih terlihat kaget ternyata ada Putri diacara makan malam mereka.


"Hai Putri." Sapa Adel.


"Kamu kan ?"


"Aku Adel yang kamu datangi di apartemen itu." Ucap Adel seolah tidak terjadi apa-apa saja.


"Oh iya. Pantasan saja kamu terlihat tidak asing. Adel maaf ya kalau aku hampir saja lupa." Ucap Putri kemudian langsung duduk disamping Tommy.


'Sebenarnya ini acara makan malam apaan sih. Kok ada Putri segala disini...makin buat gue gak nyaman. Sumpah gue lagi gak ingin lihat mereka bertiga dulu. kenapa Tuhan malah mempertemukan gue seperti ini dengan mereka?' Batin Adel yang bertanya-tanya.


Wajah boleh terlihat tersenyum tapi hati...


*****


Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.


jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.


Terimakasih masih setia membaca novel ini.


Happy Reading Guys!