
"Pagi tante..." Sapa Dimas. Dimas sedaritadi yang memencet bel rumah Nisa sampai akhirnya nyokapnya Nisa yang membukakan pintu.
Bunda Nisa terlihat kaget melihat Dimas yang sudah ada di teras rumahnya pagi-pagi begini.
"Pagi juga nak Dimas." Sapa bunda.
"Dimas boleh gak sarapan disini? Bahan-bahan dirumah habis untuk dibuat sarapan. Dimas laper banget nih." Ucap Dimas sambil meemgangi perutnya.
"Oh gitu, silahkan masuk aja nak Dimas. Jangan sungkan lagi ya. Anggap aja kayak rumah sendiri." Ucap bunda.
"Makasih tante." Dimas langsung saja masuk kedalam rumah Nisa.
Dimas makan sarapan dengan lahapnya.
"Maaf ya tan kalau Dimas jadi ngerepotin begini." Ucap Dimas.
"Gpp kok nak Dimas. Tante malah senang kalau nak Dimas mau makan masakan tante. Kamu makannya pelan-pelan aja ya masih banyak lagi kok." Ucap bunda.
"Masakan tante sama enaknya sama masakan mamanya Dimas. Jadi kangen mama." Ucap Dimas yang mengingat.
"Bisa aja nih nak Dimas." Ucap bunda.
"Tante tau gak kalau Nisa ketemu dengan mantan pacarnya secara gak sengaja?" Tanya Dimas.
"Kamu yakin itu mantannya?" Tanya bunda.
"Yakinlah tante. Kalau gak salah ingat namanya Adryan kan." Ucap Dimas meyakinkan.
"Iya benar namanya memang Adryan. Jadi bagaimana reaksi Nisa saat ketemu?" Tanya bunda penasaran karena Nisa tidak pernah menceritakannya sama sekali.
"Nisa kaget dan gak mau mendengar penjelasan apapun dari Adryan padahal dia berusaha meminta maaf dan menjelaskan semuanya." Jelas Dimas.
"Nisa memang udah gak mau lagi ketemu sama nak Adryan sejak dia meninggalkan Nisa tanpa alasan." Ucap bunda.
"Dimas minta maaf jadi mengingatkan tante terhadap kenangan buruk yang sudah dilupakan." Ucap Dimas merasa bersalah karena sudah menceritakan hal yang tidak seharusnya.
"Gpp kok nak Dimas kehidupan kan masih akan terus berjalan kan. Kalau ada masa lalu yang buruk dijadikan pelajaran hidup aja." Jelas bunda.
Nisa yang baru turun dari tangga terlihat sangat kaget karena kehadiran Dimas dirumahnya.
"Lo? Bunda ngapain izinin dia masuk kedalam rumah?" Ucap Nisa kesal sambil menunjuk kearah Dimas.
"Seperti hang lo lihat kalau gue lagi makan." Ucap Dimas.
"Kasihan nak Dimas belum sarapan sayang. Maaf bunda gak kasih tahu kamu sebelumnya." Ucap bunda.
"Dia gak sarapan apa urusannya sama kita bunda? Kan dia bisa beli sarapan diluar." Ketus Nisa.
"Udah daripada kamu bawel terus lebih baik kamu ikutan makan juga. Ini udah bunda siapin." Ucap bunda.
Nisa dengan muka cemberut dan ditekuk ikut duduk disamping Dimas.
'Gue gak ngerti sama Dimas. Omongan gue kemarin udah cukup jelaskan kalau gak mau ketemu sama dia lagi.' Batin Nisa sambil menguyah dengan kasar roti bakarnya.
"Bun, Nisa lanjut sarapan di kantor aja deh." Ucap Nisa.
"Bentar bunda bungkuskan dulu sayang." Bunda memasukkan beberap roti dan omlette kedalam tupperware.
"Nisa ke kantor sekarang ya bunda." Nisa mencium pipi bunda kemudian bergegas pergi. Dimas sengaja tidak langsung mengikutinya.
Selang 10 menit kemudian, Dimaspun pamit untuk pergi ke kantornya. Didepan teras rumah Nisa, dia tersenyum saat melihat Nisa yang saat ini sedang kebingungan karena ban mobilnya kempes. Bunda yang ikut keluar rumah juga menghampiri Nisa...
"Kenapa dengan mobil kamu sayang?" Tanya mama ikutan panik.
"Gak tau nih kenapa ma, Nisa juga bingung." Ucap Nisa.
"Nak Dimas bisa lihatkan gak ya?" Tangan Dimas ditarik oleh bunda Nisa untuk melihat mobil Nisa.
Dimas melihat kesekeliling mobil...
"Ban mobilnya cuman kempes aja kok tante. Tinggal dibawa ke bengkel aja. Kalau gitu Dimas pamit sekarang ya tante." Dimas pura-pura melihat jam yang ditangannya.
"Nak Dimas gak bisa sekalian antar Nisa ke klinik kecantikan? Kan searah..." Ucap bunda.
"Gak usah deh bunda. Nisa naik taxi aja. Ntar Nisa hubungi teman Nisa yang bisa bantu bawa mobil ke bengkel. Kan temen cowok Nisa gak cuman 1 orang." Sindir Nisa.
Dimas yang mendapat penolakan dari Nisa menjadi sangat kesal sendiri.
'Sabar sabar Dimas...jangan kepancing omongan Nisa barusan.' Gerutu Dimas didalam hati.
"Tante dengar sendirikan Nisa gak mau Dimas antar, jadi lebih baik Dimas pergi aja." Ucap Dimas.
"Tunggu dulu nak Dimas !! Nisa kamu masih mendengarkan apa kata bunda kan sayang?" Ucap bunda.
"Masih bunda tapi Nisa bisa pesan taxi aja." Ucap Nisa.
"Bunda tahu betul kalau kamu pernah ngalamin kejadian buruk saat naik taxi." Ucap bunda.
"Nisa udah lupain kok kejadian itu bunda. Jadi Nisa mohon bunda jangan terlalu khawatir lagi." Ucap Nisa.
"Bagaimana bunda gak khawatir sama kamu sayang. Kamu satu-satunya yang bunda punya dan buat bunda bertahan selama ini." Ucap bunda.
Nisa menjadi sedih saat mendengar ucapan bundanya barusan.
"Bunda jangan ngomong begitu dong, hmm..
Iya deh Nisa pergi bareng Dimas.." Akhirnya Nisa hanya bisa pasrah dan menerima. Nisa masuk kedalam mobil Dimas dengan terpaksa.
"Senyum dong sayang gak enak sama Dimas ntar." Nisa memasang senyum yang dipaksakkan untuk menyenangkan hati bundanya.
"Nisa udh sms teman untuk bawa mobil ke bengkel bun. Ini kunci mobilnya ya." Nisa memberikan kunci mobil ke bundanya.
"Ok sayang. Hati-hati nak Dimas dan juga putri kesayangan bunda." Ucap bunda.
Tanpa menjawab Nisa hanya tersenyum dan melambaikan tangan kearah bundanya.
*****
Disepanjang perjalanan....
"Berhenti Dim. Gue mau naik taxi aja." Ucap Nisa.
Dimas memarkirkan mobilnya ke sebrang kiri jalan dekat taman.
'Tumben nih Dimas gak ada komplen daritadi, udah ah gue gak mau pusingin. Yang jelas gue gak mau lagi berhubungan sama dia.' Batin Nisa.
"Silahkan kalau mau keluar." Ucap Dimas tanpa basa-basi.
"Tanpa lo suruh gue juga mau keluar daritadi. Dengan senang hati gue keluar." Ucap Nisa.
Saat Nisa mau membuka pintu mobil, ucapan Dimas menghentikan aktifitasnya.
"Gue tinggal bilang ke nyokap lo kalau lo minta turun ditengah jalan. Gue gak bisa berbuat apa-apa karena lo yang maksa." Ancam Dimas.
Nisa melotot kearah Dimas, "Jadi sekarang lo ngancam gue Dim? Sebenarnya lo kenapa sih ? Gue kan udah nyakitin lo berkali-kali dengan perkataan gue tapi lo masih aja nekat untuk dekat sama gue. Tujuan lo sebenarnya apa Dim? Lo bilang sama gue sekarang juga?" Ketus Nisa.
"Lo masih aja bawel Nis. Gue bingung lo terlalu banyak tanya." Ucap Dimas.
"Gue gak dalam mood bercanda Dim." Nisa menatap tajam ke mata Dimas.
"Emang gue daritadi bercanda sama lo." Ucap Dimas.
"Lo tinggal jawab pertanyaan gue barusan." Ucap Nisa.
"Tujuan gue adalah mencari perhatian sama lo biar kita bisa dekat lagi." Ucap Dimas.
"Tapi gue gak bisa Dim. Udah ah gue malas berdebat sama lo. Terserah lo aja. Sekarang gue mau kerja. Anterin gue sekarang !!!" Ucap Nisa.
"Gak bisa ! Kan lo sendiri yang minta berhenti tadi." Ucap Dimas.
"Emang lo gak masuk kerja ?" Tanya Nisa heran.
"Gue udah izin telat masuk ke kantor." Ucap Dimas.
"Berarti tadi lo bohong sama bunda bilang buru-buru mau berangkat." Nisa menunjuk Dimas dengan jarinya.
"Gue gak bohong. Tadinya memang gue buru-buru tapi karena nyokap lo minta tolong jadi gue sms orang kantor kalau izin telat masuk." Jelas Dimas.
"Ah gak tau ah. Jadi mau ngapain telat untuk duduk didalam mobil begini sih Dim. Gak jelas banget." Ucap Nisa kesal.
"Ngobrol sama lo lah yang jelas. Kan udah lama kita gak ngobrol. Banyak banget yang harus kita obrolin kan." Ucap Dimas.
"Lo kali yang banyak gue gak ada tuh ." Nisa mengambil bontot roti dan melanjutkan sarapan didalam mobil.
"Yakin gak ada?" Ucap Dimas.
"Yakin banget." Ucap Nisa.
"Kalau gitu gue aja yang cerita." Ucap Dimas.
"Terserah lo aja Dim. Buruan cerita trus antar gue kerja." Ucap Nisa.
"Apa pendapat lo kalau ada cewek yang ngasih surat cinta tanpa nama? Apa berarti cewek itu beneran menyatakan perasaannya atau suka sama kita?" Tanya Dimas.
Uhuk uhuk...
Nisa mendadak mmmenjadi batuk dan keselek karena sedang makan roti. Dimas segera memberikan air minum boto kepadanya.
"Pelan-pelan dong Nis makannya. Lo batuk karena makanan atau ucapan gue barusan?" Ucap Dimas.
"Maksud lo apa Dim? Jelas-jelas gue batuk karena keselek makan." Ucap Nisa.
"Ok. Anggap aja gue percaya sama perkataan lo barusan." Ucap Dimas.
"Emang lo pernah dapat surat cinta ?" Tanya Nisa.
"Pernah sewaktu SMA dan lumayan banyak sih yang kasih gue surat waktu itu." Ucap Dimas.
"Oh gitu. Janji dulu habis gue jawab pertanyaan ini lo harus antar gue ke klinik kecantikan. Gimana?" Tanya Nisa.
"Mmmm...oke gue janji." Ucap Dimas.
"Menurut pendapat gue. Bisa aja cewek itu hanya mengagumi lo sesaat tapi bisa juga kalau dia beneran suka sama lo dan gak berani untuk ungkapin langsung sama lo. Dia hanya ingin agar lo tau aja bagaimana perasaannnya selama ini melalui sebuah surat. Itu udah jadi perwakilan dari perasaannya." Jelas Nisa.
"Oh ...kayaknya lo tahu banget ya Nis? Apa lo pernah ngasih surat ke seseorang?" Tanya Dimas.
"Mmmm...mungkin pernah." Ucap Nisa
"Kok mungkin sih? Berarti gak pasti dong?" Ucap Dimas.
"Iya gue pernah buat surat cinta. Puas lo !!! Gue udah jawab pertanyaan lo Dim. Janji lo harus lo tepatin. Karena janji adalah hutang." Ucap Nisa.
"Oke. Gue gak pernah ingkar janji kok." Ucap Dimas.
'Makasih Nis karena lo mau jawab pertanyaan gue barusan.' Batin Dimas.
******
Di depan klinik kecantikan...
Nisa melepas sealtbelt tapi tidak bisa membuka pintu mobil Dimas membuatnya kesal sekali dengannya.
'Kalau gak karena mobil gue aja yang kempes, gue gak akan mau nebeng lo Dim. Padahal dulu gue senang bisa bareng pergi sama lo tapi sekarang udah berbeda semuanya.' Batin Nisa.
"Bukain pintu mobilnya Dim, gue kan udah ngikutin semuanya omongan lo daritadi." Ucap Nisa.
Dimas menarik Nisa kedalam pelukannya. Nisa berusaha sekeras mungkin untuk melepaskan pelukan tersebut tapi tenaga Nisa tidak sebanding dengan tenaganya Dimas.
"Gue mohon sebentar aja Nis kita seperti ini dulu. Terlalu banyak hal yang harus gue alami sendiri belakangan ini." Ucapan Dimas barusan membuat Nisa terdiam dan tidak memberontak lagi.
"Cuman 10 menit aja." Ucap Dimas lagi. Nisa tidak menolak pelukan Dimas sama sekali. Karena dia juga tahu kalau Dimas sangat kesepian selama ini.
'Apa gue terlalu egois ya sama lo Dim. Tapi gue begini juga demi kebaikan kita berdua. Tolong lo pergi jauh dari hidup gue Dim. Jangan buat gue berharap yang gak semestinya untuk hubungan kita.' Teriak Nisa dalam hati. Hampir saja saat ini dia memeteskan air mata tapi masih bisa dia tahan.
'Gak !!! Gue gak bisa begini. Kan gue udah janji sama diri gue sendiri untuk menjauhi Dimas.' Batin Nisa lagi.
Nisa melepas dengan kasar pelukan Dimas.
"Waktu lo udah habis Dim. Sekarang buka pintunya gue mau masuk." Ucap Nisa.
"Oke. Janji dulu kalau nanti lo bakal pulang bareng gue." Ucap Dimas.
"Gak bisa. Nanti mobil gue bakalan diantar kesini." Tolak Nisa.
'Semakin lo tolak gue semakin gue buat lo ak berkutik lagi Nis.' Batin Dimas.
"Ya udah kalau gitu gue gak akan bukain pintunya." Ucap Dimas.
Dimas menyalakan mesin mobilnya kembali.
"Lo mau bawa gue kemana lagi?" Tanya Nisa.
"Hmmmm...oke gue akan pulang bareng sama lo nanti." Ucap Nisa yang akhirnya pasrah karena udah gak tau lagi harus bilang apa.
"Bisa diulang gak lo bilang apa barusan?" Ucap Dimas.
"Nanti gue bakal pulang bareng sama lo Dim. Puas lo !!!" Ucap Nisa kesal mengulang kembali ucapannya.
"Jangan ingkar janji. Gue gak suka dibohongi." Ucap Dimas.
"Gak akan. Gue selalu menepati kata-kata yang keluar dari mulit gue." Ucap Nisa.
"Bagus deh. Lo udah bisa keluar sekarang." Ucap Dimas.
Saat keluar dari mobilnya, Dimas mengingatkan Nisa lagi...
"Jangan lupa nanti." Ucap Dimas.
"Iya." Ucapnya singkat.
"Seharusnya lo ngomong sesuatu kan karena gue udah buang waktu untuk ngantar lo kesini." Ucap Dimas.
"Tapi ini bukan kemauan gue. Ini tuh kemauan bunda." Ucap Nisa.
"Gue gak peduli. Seenggaknya lo gak lupa untuk bilang makasih kan." Ucap Dimas.
"Mmmm...makasih Dimas udah ngantar gue." Ucap Nisa kemudian menutup dengan keras pintu mobil Dimas karena kesalnya. Dan bergegas lari masuk kedalam klinik kecantikan miliknya. Dimas hanya tersenyum puas karena bisa gangguin Nisa sedaritadi.
'Lo gak akan berhasil untuk menjauhi gue Nis. Masih ada seribu cara untuk buat lo peduli lagi sama gue.' Batin Dimas. Setelah itu dia bergegas pergi ke kantornya.
*****
Didalam ruangannya, Nisa merasa begitu kesal. Dia mencampakkan tas kesembarang tempat.
"Dimas lo kenapa sih masih aja ganggu hidup gue, selama 2 minggu ini gue udah berusaha keras untuk melupain lo. Gue gak mau semuanya sia-sia." Ucapnya kesal.
'Tapi tunggu dulu. Kenapa tadi Dimas tiba-tiba membahas soal surat ya. Gak mungkin kan dia tahu kalau gue yang kirim dia surat. Tenang Nis, mungkin tadi Dimas hanya bertanya pendapat lo aja. Tapi aneh aja kenapa dia mendadak bahas itu. Dan anehnya lagi tingkahnya ke gue belakangan ini. Seperti bukan Dimas yang gue kenal sebelumnya. Dia bilang mau mencari perhatian? Gak salah dengarkan gue tadi. Ah ntahlah gue pusing mikirinnya. Tapi yang jelas gue harus pastiin sesuatu dulu sekarang.' Batin Nisa yang muai tidak tenang.
Nisa mengambil hp didalam tasnya kemudian langsung menghubungi nomor Adel dan Ratu sekaligus. Dengan sambungan vidio call...
"Hai Nis? Ada apa nih pagi-pagi udah vidio call kita?" Sapa Adel.
"Iya tumben banget. Ada apa sih?" Tanya Ratu penasaran.
"Gue mau tanya sama kalian berdua. Kalian gak ada cerita apapun ke Dimas tentang surat cinta yang pernah gue kasih ke diaa dulu kan?" Tanya Nisa to the point.
"Gak ada. Ngapain juga gue bilang ke dia. Kan gue udah janji sama lo. Mungkin juga dia udah lupa tentang surat itu Nis. Lagian ngapain bahas surat yang udah lama banget." Ucap Adel.
"Tau nih Nisa gak jelas banget." Ucap Ratu.
"Kalian yakin?" Tanyanya lagi.
"Yakin banget lah. Ada apa sih sebenarnya?" Tanya Adel.
"Dimas tadi ngantar gue kerja terus tiba-tiba membahas tentang surat. Gue kaget banget dong." Ucap Nisa.
"Jangan bilang kalau dia masih simpan semua surat cinta ?" Tanya Adel.
"Masih Del." Ucap Nisa.
"Gue gak nyangka aja seorang Dimas kayak begitu. Dia mau koleksi tuh surat atau apaan sih." Ledek Ratu.
"Gue juga bingung kenapa." Ucap Nisa.
"Tapi tunggu dulu...kan lo bilang kalau lo lagi menghindar sama Dimas. Kenapa pagi ini lo diantar dia? Kalian udah baikan apa jangan-jangan kalian..." Nisa memotong ucapan Adel.
"Tadi pagi dia datang kerumah dan nyokap gue maksa gue diantar pergi sama dia karena ban mobil gue kempes." Jelas Nisa.
"Oh gitu. Kita kirain kalian udah baikan." Ucap Ratu.
"Gue pikir malah udah jadian." Ledek Adel.
"Apaan sih. Gak lah !!! Mana mungkin kejadian. Orang Dimas gak tahu tentang perasaan gue dan gak bakal tau juga sampai kapanpun karena dia juga gak pernah ada rasa sama gue. Jadi buang jauh-jauh pikiran kalian kalau gue sama dia bisa jadian." Jelas Nisa.
"Jangan emosi gitu dong beb, santai aja kali jawabnya." Ucap Adel.
"Gue tutup dulu ya guys, mau lanjut kerja nih." Ucap Ratu.
"Gue juga..." Ucap Adel.
"Oke...thanks ya atas waktunya. Bye..." Nisa dengan lega mengakhiri panggilan teleponnya.
"Mungkin gue aja yang terlalu banyak mikir." Ucapnya. Kemudian dia memutuskan untuk fokus memeriksa pekerjaannya.
Disisi lain,
Dimas tidak fokus berkerja karena memikirkan segala cara untuk membuat Nisa mau dekat lagi dan peduli dengannya. Sampai-sampai dia mengabaikan telepon kantornya yang berbunyi daritadi.
"Kayaknya gue akan ganggu Nisa setiap hari sampai dia kesal dan akhirnya mau dekat lagi sama gue. Tadi kenapa jantung gue berdegup kencang saat meluk Nisa di mobil. Ini pertama kalinya gue merasa begini. Apa gue udah mulai jatuh cinta sama dia. Gye harus bisa mastikan perasaan gue dulu." Ucapnya sambil tersenyum puas.
'Ternyata usaha gue hari ini gak sia-sia dengan mengempeskan ban mobil Nisa tadi pagi.' Batinnya.
Dimas membuyarkan lamunannya disaat atasannya masuk kedalam ruangannya.
"Dimas ...ikut saya keruangan." Ucap atasannya.
"Baik pak." Ucap Dimas yang mengutuki dirinya sendiri karena ketahuan tidak fokus.
Dimas mengikuti atasan untuk masuk keruangannya...
"Kenapa telepon berdering sedaritadi kamu gak angkat? Client kita mencoba menghubungi kamu sedaritadi. Kinerja kamu akhir-akhir ini menurun tidak seperti biasanya. Saya sangat tidak suka melihat kamu tidak profesional seperti ini." Ucap atasannya.
"Maaf pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Dimas.
"Buktikan sama saya kalau kamu bisa bekerja lebih baik lagi." Ucap atasannya.
"Baik pak." Ucap Dimas.
"Kalau gitu kamu hubungi client kita untuk meminta maaf. Saya gak tahu kamu ada masalah apa belakangan ini tapi untuk pekerjaaan dan urusan pribadi kamu harus bisa membedakannya. Saya harap kamu tidak lupa itu." Ucap atasannya.
"Iya pak. Sekali lagi saya minta maaf." Ucap Dimas.
"Kamu udah bisa keluar sekarang."
Dimas kembali keruangannya untuk melanjutkan pekerjaan dan tak lupa dia menghubungi clientnnya...
*****
Dimas sudah menunggu Nisa diparkiran klinik kecantikannya tapi dengan sengaja tidak menghubungi Nisa. Selang berapa lama Nisa keluar dan berjalan menghampiri mobil Dimas yang dilihatnya sudah ada diparkiran. Nisa mengetuk kaca mobil Dimas berulang kali karena didalam mobil Dimas yang menunggu Nisa keluar malah tertidur.
"Dimas ? Bangun !!!" Teriak Nisa.
Setelah beberapa mendengar teriakan Nisa akhirnya Dimas mulai tersadar dan langsung membuka kaca mobilnya.
"Maaf Nis." Ucap Dimas.
Tanpa menjawan ucapan Dimas barusan, Nisa masuk kedalam mobil dan memakai selatbelt. Dimas langsung melajukan mobilnya.
Saat ini Nisa dalam kedaan malas mengobrol dengan Dimas. Sedaritadi dia asik sendiri mendengarkan musik dengan earphone nya. Dia juga udah terlihat pasrah dan tidak banyaj bertanga disaat Dimas memberhentikan mobilnya ke cafe miliknya.
Saat Dimas turun Nisa juga ikutan turun dan mengikuti langkanya. Dimas yang menjadi bingung sendiri melihat tingkah Nisa yang sedaritadi hanya diam saja. Didalam cafe Dimas menyuruh kokinya menyajikan masakan yang rekomendasi dari cafenya.
Nisa makan semua makanan yang disajikan tanpa protes sama sekali dengan Dimas.
'Kok jadi gue yang mati kutu begini. Gue gak bisa nih didiamin dan dicuekin begini. Tapi kenapa Nisa daritadi diam aja sih? Kan gue jadi bingung harus ngapain.' Batin Dimas.
Sesekali Nisa melihat kearah Dimas untuk melihat ekspresinya.
'Mungkin dengan gue diam lo bakal sadar kalau kita udah gak bisa sedekat dulu lagi Dim. Maaf ini juga salah satu cara gue buat ngejauhin lo.' Batin Nisa.
Setelah makan, Dimas menggenggam tangan Nisa dan mengajaknya kedalam mobil. Nisa tidak ada reaksi penolakan sama sekali yang membuat Dimas semakin bertanya-tanua dan kesal sendiri dibuatnya.
"Lo sakit makanya diam aja daritadi?" Tanya Dimas yang akhirnya nyerah melihat Nisa yang mendiaminya.
Nisa hanya menjawab dengan mengggelengkan kepalanya.
'Masih aja lo nyuekin gue Nis. Tapi gue gak akan nyerah.' Batin Dimas.
Dimas mengajaknya untuk berkeliling kota Jakarta dan sengaja tidak langsung mengantar Nisa pulang. Tapi nisa malah tertidur didalam mobil. Akhirnya Dimas yang tidak tega sendiri melihatnya dan mengantarnya pulang.
Sampainya didepan rumah, Dimas memperhatikan wajah Nisa ysng sedang tertidur.
"Ternyata lo imut juga kalau lagi tidur begini." Ucapnya.
Dimas membenarkan kepala Nisa untuk bersender ke bahunya. Dia sengaja tidak membangunkannya dulu dan menikmati moment berdua dengan Nisa. Sampai akhirnya dia tertidur juga didalam mobil.
Nisa yang merasa lehernya mulai kaku akhirnya mulai tersadar dan melihat Dimas tidur disebelahnya dan dia juga kaget karena dia bersender dibahunya Dimas sedaritadi.
'Kok bisa gue bersender di bahunya Dimas. Gue tidur udah berapa laam sih. Kok Dimas gak banguni gue.' Batin Nisa.
Nisa memijit-mijit lehernya yang pegal sedaritadi dan melihat Dimas yang tertidur pulas. Jari tangannya memegang wajah Dimas seolah melukis wajahnya. Dia mengarahkan jari tangannya dari kening turun ke hidung dan bibir Dimas. Saat jari tangannya berhenti tepat dibibir Dimas disaat itu juga Dimas membuka matanya. Reflek dengan gugup Nisa menarik jari tangannya itu.
"Lo ngapain barusan?" Tanya Dimas.
"Gak ngapa-ngapain kok." Ucap Nisa gugup.
"Bohong, gue lihat tadi jari lo mau nyentuh bibir gue. Ya kan?" Tanya Dimas.
"Gak. Lo salah lihat kali." Ucap Nisa.
Bunda mengetuk kaca mobil dan Nisa segera keluar dari mobilnya Dimas.
"Kenapa gak masuk kedalam rumah sayang?" Tanya bunda bingung.
"Maaf tante, tadi Nisa ketiduran didalam mobil jadi Dimas gak tega banguninya." Jelas Dimas.
"Oh gitu. Kalau gitu tante masuk duluan ya." Ucap nyokapnya Nisa.
"Barengan aja deh bunda. Nisa juga mau masuk kok." Ucap Nisa.
"Gak usah. Kamu disini dulu kan masih ada nak Dimas." Tolak bunda.
"Dimas juga udah mau pulang kok bunda. Bunda lihat deh matanya Dimas udah merah gitu. Kayaknya Dimas udah ngantuk deh bund." Ucap Nisa.
"Nisa benar kok tan. Dimas juga udah mau pulang kayaknya udah capek banget." Ucap Dimas.
"Nak Dimas ngobrol aja dulu sama Nisa. Kan udah lama gak ketemu." Ucap bunda.
"Kamu temani dulu nak Dimas disini. Bunda masuk duluan." Ucap bunda langsung meninggalkan Nisa.
'Bunda pasti sengaja banget nih ninggalin gue berdua sama Dimas begini. Segitu usahanya bunda buat gue dekat lagi sama Dimas. Tapi itu gak akan merubah apapun karena keputusan gue udah bulat.' Ucap Nisa dalam hati.
Setelah bundanya masuk kedalam rumah, Nisa kembali terdiam.
"Gue pamit pulang ya Nis." Ucap Dimas yang gk tahu lagi mau ngomong apa karena sedaritadi mereka hanya diam-diaman aja setelah ditinggal masuk nyokapnya Nisa.
Nisa hanha mengangguk saja tanda menyetujui ucapan Dimas barusan...
Akhirnya Dimas pergi dan Nisa masuk kedalam rumahnya.
*****
Dimas mencari perhatian Nisa selama sebulan lebih, dia tiba-tiba ada dirumahnya, diklinik, dan juga dirumahnya Kavin saat dapat kabar kalau Nisa lagi disana. Segala cara dia lakukan untuk mencari perhatian Nisa lagi. Dia merasa sangat tertantang untuk bisa memperbaiki hubungan mereka lagi.
Nisa adalah satu-satunya cewek yang membuatnya berubah menjadi lebih baik dan selalu ada buatnya dalam suasana apapun. Nisa sudah sangat pasrah dengan cara Dimas yang selalu membuatnya kesal. Dia merasa heran kenapa Dimas gak menyerah juga padahal dia sudah mencueki dan mendiami Dimas cukup lama. Dan hanya berbicara sedekar saja tapi tidak membuat Dimas jera juga menghadapinya.
Sampai akhirnya, Dimas berani untuk ....
BERSAMBUNG....
*****
Gimana pada suka gak? mohon berikan komentarnya yaa...
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya..
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading Guys!