
"Astaga Nisa !!!!" Teriak bunda.
"Kenapa sih bunda? Masuk kamar malah teriak begitu?" Tanya Nisa tanpa perasaan bersalah sama sekali.
"Kamu yang kenapa sayang? Sampek seperti ini?" Tanya bunda heran.
"Seperti yang bunda lihat kalau Nisa lagi mencari baju." Ucap Nisa.
"Iya bunda tahu sayang. Tapi kenapa diberantakin semua isi lemarinya? Kan kasihan bibi yang beresin sayang." Ucap bunda sambil memungutin beberapa baju yang berserakan dilantai.
"Ya mau gimana lagi dong bund. Nisa lagi bingung banget ini mau pakai baju apa untuk besok. Coba deh bunda bantuin Nisa aja." Ucap Nisa dengan muka memelas.
"Dari segini banyak baju, kenapa sampai segitu bingung sayang? Emang kamu mau pergi kemana? Baru kali ini loo bunda lihat kamu kebingungan seperti ini."
"Gimana dong bund. Besok itu Nisa mau kerumah Dimas sekalian ketemu sama papa mama dan adiknya. Nisa bingung mau pakai baju yang mana."
"Ohh jadi itu masalahnya. Pantas aja kamu sampai setres banget begini sayang. Tapi kalau saran bunda sih...kamu pakai baju yang santai aja dan yang paling penting itu baju yang sopan selayaknya orang bertamu aja."
"Itu masalahnya bund. Gak ada baju yang pas. Gimana kalau bunda temani Nisa belanja hari ini? Ya bund. Please dong bund ! Nisa mohon.. Mau ya bund? Kali ini aja bantuin Nisa..." Ucap Nisa sambil memohon kepada bundanya. Bunda yang tidak pernah tega melihat putri kesayangannya sampai seperti itu.
"Mmm...Emangnya kamu gak kerja hari ini sayang?"
"Gak bund. Nisa gak masuk kerja selama 2 hari. Jadi bunda mau gak bantuin Nisa?"
"Mana mungkin bunda gak bantuin putri kesayangan bunda ini. Kamu kan satu-satunya yang paling bunda sayang."
"Gitu dong bund. Kalau gitu bunda siap-siap gih sana. Nisa juga mau mandi." Nisa mendorong bunda sampai kedepan pintu kamar.
"Semangat benar sih anak bunda mau ketemu calon mertua." Goda Bunda.
"Udah dong bund. Jangan ledekin Nisa terus. Lebih baik kita cepat siap-siap sekarang juga."
"Iya anak bunda yang bawel."
Nisa dan bunda pergi kesalah satu Mall di Jakarta. Mereka berkeliling sepanjang hari untuk mencari dan membeli baju yang sesuai dengan keinginan Nisa. Nisa mengambil beberapa baju dan mencobanya diruang ganti.
Dia keluar dari ruang ganti dan selalu bertanya bagaimana pemdapat bundanya...
"Baju yang ini bagaimana bund?"
"Bagus kok sayang."
"Oke bentar Nisa cobain baju yang lain ya bund."
"Kan yang ini udah bagus sayang?"
"Bentar aja kok bund."
Berulang kali Nisa mencoba baju dan bertanya langsung pendapat bundanya. Tapi jawaban bunda selalu saja sama.
"Ikh bunda... kalau semuanya bagus. Terus Nisa pakai yang mana?"
"Kamu kan tanya bunda. Sepenglihatan bunda kamu pakai baju apa aja terlihat cantik sayang."
"Kalau bunda seperti ini. Nisa yang semakin bingung tau gak bund?"
"Gimana kalau kamu beli aja semuanya sayang. Kamu bisa pakai salah satu dari baju itu besok. Gimana ? Bunda juga udah capek banget keluar masuk toko sedaritadi....kaki bunda udah pegal banget."
"Gitu ya bund. Oke deh kalau begitu."
Akhirnya setelah berfikir panjang, Nisa memutuskan membeli banyak baju baru. Sejujurnya dia masih bingung memakai baju yang mana. Tapi ia juga merasa kasihan sama bundanya yang sudah sangat lelah.
Sampainya dirumah, Nisa menyuruh bibi untuk mencuci semua baju yang baru ia beli. Kemudian Nisa duduk di teras yang terhubung langsung dengan kamarnya. Disitu juga ia meletakkan bunda kaktus pberian Dimas. Karena bunga kaktus sangat bagus jika terkena sinar matahari secara langsung. Sedangkan pada malam hari, ia langsung memindahkan bunda tersebut diatas meja tepat disamping laptop miliknya. Bunga kaktus tersebut selalu ia rawat dengan sepenuh hati.
*****
"Tok tok tok!"
"Sayang? Kamu masih lama gak?" Tanya bunda.
'Kenapa gak ada jawaban ya. Apa Nisa lupa kalau hari ini mau pergi ke rumah Dimas. Tapi mana mungkin.' Batin bunda yang semakin bingung.
Akhirnya bunda membuka pintu kamarnya dengan perlahan...
Kemudian bunda menghampiri putri kesayangannya itu saat merias diri di depan cermin.
"Kenapa kamu diam aja saat bunda panggilin sayang?" Bunda memperhatikan anaknya yang masih merias diri.
"Maaf bunda. Habisnya Nisa masih sibuk. Takutnya makeupnya malah berantakan."
Bunda malah mengacak-acak rambut Nisa yang masih basah.
"Dasar kamu ya ! Udah cepetan bersiapnya. Kasihan kan nak Dimas udah nungguin kamu."
"Ikkhh bunda nih malah buat rambut aku makin berantakan tau gak? Serius bunda? Dimas udah datang?"
Nisa melihat jam di layar hp nya...
'Masih jam segini kok Dimas udah datang ya?' Batin Nisa.
"Kenapa kamu malah bengong begitu sayang?"
"Dimas baru datang kan bunda. Suruh aja dia sabar nungguin Nisa."
"Gak baik loo buat tamu nungguin kita sayang."
"Kalau gitu bunda aja sana yang temani Dimas dibawah."
"Dasar kamu. Ya ! Jangan lama-lama ya dandannya sayang. Kalau gitu bunda turun dulu samperin Dimas."
"Ok bund. Bentar lagi juga kelar kok."
Setelah 20 menit kemudian Nisapun segera menemui Dimas...
Sebernarnya tampilan dia sangat sederhana saja tapi kalau sudah namanya dandan pasti lama. Itu juga sebenarnya udah dia percepat makeupnya. Kalau tidak ditungguin bakalan lebih lama lagi. Hari ini Nisa memakai baju tangan panjang warna putih yang berbahan rajut dia padukan dengan celana jeans biru. Dengan makeup yang simple membuat tampilannya sangat sederhana tetapi tetap terlihat manis. Rambut yang hanya dicatok kedalam mengikuti bentuk rambut.
"Lama banget sih loo Nis. Udah jamuran gue nungguin lo disini." Protes Dimas.
"Gue gak suruh lo nungguin gue." Nisa memasang muka tidak sukanya kearah Dimas sambil melotot.
"Udah...udah. Kok malah berantam kayak gitu sih kalian berdua." Ucap bunda.
"Dimas nih bund... ngajak berdebat duluan." Ucap Nisa.
"Huhu dasar !" Dimas mengejek Nisa sambil mengeluarkan menjulurkan lidahnya.
"Bunda bilang udah !!! Lebih baik sekarang kalian pergi aja." Bunda mendorong mereka berdua kedepan rumah.
"Ikhh bunda. Pelan-pelan dong." Rengek Nisa.
"Udah kamu diam aja. Lebih baik kamu pergi sekarang sama Dimas." Ucap bunda.
"Kalau gitu Dimas pamit ya tante. Dimas bawa Nisa pergi sekarang." Dimas menarik tangan Nisa segera. Bunda hanya geleng-geleng saja menyaksikan tingkah konyol keduanya. Nisa melambaikan tangan kearah bunda.
'Dasar anak muda zaman sekarang aneh-aneh aja tingkahnya.' Batin bunda.
Kemudian bunda masuk kedalam rumah dan menutup pintu.
****
Didalam mobil Nisa dan Dimas malah berdebat hal yang tidak penting.
"Apaan sih Dim... kenapa mesti tarik-tarik tangan gue segala. Gue kan bisa jalan sendiri." Sewot Nisa.
"Iya gue tahu. Tapi lo itu lama banget daritadi."
"Kan gue gak suruh lo jemput. Gue bisa bawa mobil sendiri tanpa lo jemput gue."
"Gue hanya bertanggung jawab aja pengen antar sekalian jemput lo. Emangnya salah ya. Seharusnya lo berterima kasih ke gue."
"Tanggung jawab apaan sih. Kan lo cuman teman gue jadi gak ada tanggung jawab sama sekali."
"Berhubung lo hari ini diundang kerumah gue. Jadi gue punya tanggung jawab penuh sama lo. Ngerti lo !"
"Ngeles mulu lo Dim."
"Gue berkata sesuai fakta kok. Lagian lo dandan kenapa lama banget sih. Padahal udah tahu kalau gue udah datang jemput."
"Lo nya aja yang jemput terlalu cepat tau gak? Jadi jangan salahin gue dong. Lagian tadi tuh udah gue percepat untuk dandan demi lo."
"Segitu cepat lo bilang."
"Iya bagi gue itu udah waktu tercepat gue."
"Ribet banget sih jadi cewek."
"Makanya lo jadi cewek biar tahu gimana."
"Kan lo yang ngajak berdebat gak jelas gini. Dasar..."
"Emang dasar ya cewek gak pernah salah."
"Iya itu lo tahu ? Udah ah lebih baik gue dengarin musik aja daripada dengarin lo ngomong gak jelas."
"Terserah lo..."
Nisapum memutar musik yang ada di mobil tanpa menghiraukan Dimas lagi.
'Dimas ngeselin banget sih. Daritadi ributin hal yang gaj jelas banget. Kesal gue. Gue dandan begini juga demi dia. Huh ntahlah gak tahu.' Batin Nisa.
Nisa menaikkan volume musiknya dan Dimas mengecilkannya. Begitu berulang kali sampai Nisa beneran kesal sama Dimas.
"Ikhhh tau ah. Terserah kamu aja."
"Kenapa sih lo daritadi ngajak ribut terus."
Nisa menatap tajam kearah Dimas.
"Jelas-jelas yang ngajak ribut duluan itu lo."
"Kayaknya lo lagi datang bulan ya. Sensi banget sih. Gue kan cuman bercanda aja."
"Gak lucu Dim. Yang ada malah buat gue makin kesal sama lo."
"Kalau gue lucu..ya udah pasti gue udah jadi pelawak sekarang."
"Sumpah garing banget Dim..."
"Makanya muka lo jangan cemberut gitu dong. Kan gak enak kalau dilihat sama keluarga gue nantinya."
"Hmmm..."
"Tuh kan lo masih kesal kan sama gue makanya jawabnya begitu aja.
"Udah dong Dim. Jadi hue harus jawab apa sih biar lo senang."
"Jawab aja iya Dimas. Pakai muka senyum ...udah cukup kok bagi gue."
Nisa yang lagi gak mood pun memaksa tersenyum..
"Iya Dimas...puas lo !"
"Gak ikhlas banget sih tersenyumnya."
"Iya Dimas. Udah ah gue capek."
"Gitu kan terlihat lebih manis."
"Tau ah."
*****
Sampainya didepan rumah, mama Dimas dan adiknya Kirana menyambut mereka dengan hangat.
"Hai tante, hai Kirana...." Sapa Nisa sambil cipika cipiki.
"Hai nak Nisa..." Ucap mama.
"Hai kak Nisa. Makin cantik aja sih kak." Puji Kirana.
"Makasih sayang. Kamu juga cantik kok." Ucap Nisa.
"Kirana sekarang udah pintat banget ya ma." Ucap Dimas.
"Dari dulu kali Kirana pintar." Ucap Kirana.
"Kamu dengarin dulu kalau kakak lagi ngomong. Kamu itu pintar buat orang lain ke GR an." Ucap Dimas.
"Kirana ngomong sesuai fakta kak. Kakak aja yang gak bisa lihat kalau kak Nisa itu cantik." Protes Kirana.
"Udah dong, kok malah berantam sih. Ayok Nisa masuk aja...biarin aja Dimas memang hobi banget ngajak adiknya berdebat." Ucap mama.
"Iya tante." Ucap Nisa
'Udah tahu kok tan, malah kalau sama Nisa lebih parah lagi berdebatnya. Gak mau kalah sama sekali.' Batin Nisa.
Saat masuk kedalam rumah, Nisa tak lupa menyapa papanya Dimas. Kemudian mama sama Kirana menemani Nisa mengobrol. Mamanya dimas menceritakan masa kecil Dimas serta menunjukkan beberapa album fotonya. 'Dimas dari kecil memang udah tampan ya.' Batin Nisa sambil senyum-senyum sendiri melihat foto Dimas.
"Jangan dilihatin terus ntar suka lo kak." Goda Kirana.
"Lucu dan imut banget ya kakak Kirana pas masih kecil." Ucap Nisa.
"Tapi sekarang udah gak imut lagi kak. Malah amit-amit..." ucap Kirana.
"Maksudnya?" Tanya Nisa.
"Karena kak Dimas itu terlalu cuek dan jutek banget kak. Kalau aku jadi cewek. Gak akan suka deh sama kak Dimas. Apalagi sekarang nyebelin banget. Dari dulu kak Dimas itu selalu ngekang dan ngelarang Kirana. Gak boleh ini gak boleh itu. Tapi semenjak jauh dari kak Dimas...Udah bebas deh." Jelas Kirana.
"Kamu gak boleh gitu dong Kirana. Bagaimanapun itu kakak kamu." Ucap mama.
"Iya iya ma." Ucap Kirana.
"Berarti sedari dulu Dimas emang cuek banget ya?" Tanya Nisa.
"Benar banget kak." Ucap Kirana.
"Ini tadi tante buatkan cake dan puding buat kamu."
"Makasih tante."
Nisa memakan cake sera puding buatan mama Dimas.
"Bentatan lagi ya kita makannya. Katanya Dimas ...temannya yang lain mau datang juga."
"Iya tante."
"Oh iya Nisa di Jakarta tinggal sama siapa?" Tanya mama Dimas.
"Berdua aja sama bunda. Karena Nisa anak tunggal." Ucap Nisa.
"Enak dong kak. Jadi lebih seru gak kebagi kasih sayang orangtuanya." Ucap Kirana.
"Gak enak sama sekali malah. Dirumah itu jadi sunyi banget. Enakan kamu lagi Kirana. Ada teman ribut malah lebih seru." Jelas Nisa.
"Aku kirain kalau anak tunggal itu enak banget kak. Maaf ya kak." Ucap Kirana.
"Iya gpp kok. Jadi kamu harusnya bersyukur punya kakak. Walaupun nyebelin.. hehhe..."Ucap Nisa sambil terkekeh.
"Emang papa kamu kemana? Kok cuman berdua aja dirumah?" Tanya mama Dimas lagi.
"Papa....udah lama meninggal tan." Ucap Nisa sedih.
"Maaf sayang. Tante gak maksud buat kamu sedih."
"Gpp kok tan. Oh iya? Dimas pernah perkenalkan pacarnya ke tante dan Kirana?" Tanya Nisa penasaran.
"Aduhh kak. Kak Dimas itu kan cuek banget. Siapa juga cewek yang mau sama dia." Ucap Kirana.
"Jangan gitu dong Kirana ! Belum ada sih yang dikenalin ke tante. Mungkin baru kamu perempuan pertama yang tante kenal."
"Masak sih tan."
"Bener tuh kak yang dibilang sama mama."
Nisa hanya tersenyum dan tertunduk malu saat mendengar kalau dia perempuan yang pertama.
Dimas melihat kearah Nisa yang asik mengobrol dengan mama dan adiknya. Ntah kenapa Dimas merasa senang melihat keakraban keluarganya dengan Nisa. Dia melihat mereka saling tertawa satu sama lain. Dimas malah duduk berdua dengan papanya sambil main hp. Bukan cuman sifat saja yang mirip tapi wajah Dimas itu fotocopy an papanya. Mereka duduk bersama tapi saling diam dan asik sendiri.
Saat mereka semua sedang asik dengan aktifitasnya masing-masing. Ada yang memencet bel rumah Dimas. Dan dipencet berulang kali sampai membuat Dimas kesal. 'Siapa sih... jadi kalah kan gue main gamenya.' Batin Dimas.
Ternyata yang datang kerumahnya adalah ....
*****
Hayo tebak siapa ya kira - kira yang datang? Hmm...
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya..
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading guys!