
Wajah boleh trlihat tersenyum tapi hati berbanding terbalik. Perasaan Adel sekarang menjadi tidak menentu, tidak nyaman, kesal, sedih, bercampur aduk menjadi satu. Tapi Adel bersyukur karena dia mengambil keputusan yang tepat. Setidaknya Adel harus menghadapi semua hal bukan malah menghindari dan melarikan diri seperti orang yang pengecut.
Adel sadar kalau cinta tidak bisa dipaksa. Hatinya perlahan mulai menerima kenyataan yang ada. Walaupun cintanya bertepuk sebelah tangan tanpa dia ungkapkan tapi Adel merasa Tommy bahagia bersama dengan Putri sekarang.
Harry melihat ekspresi tegar yang diberikan oleh Adel saat ini. Sesekali Adel dan Putri bercerita tentang pekerjaan mereka sebagai sekretaris. Mereka berdua menekuni bidang yang sama jadi saling berbagi pengalaman satu sama lain. Putri juga senang bisa nyambung dengan Adel. Sampai Putri meminta nomor hp Adel...
Awalnya Adel terlihat ragu untuk memberikan nomor hpnya tapi Adel berubah pikiran. Dia bisa melihat ketulusan dimata Putri. Adel memberikan nomor hpnya dengan memberikan kartu identitasnya. Putri langsung menyimpan kartu tersebut kedalam tas miliknya.
Saat makanan mereka datang, Adel memakan salad buahnya dengan segera. Adel ingin makan malam mereka cepat berakhir agar dirinya bisa segera pulang dan beristirahat.
Tapi semuanya tidak semudah yang Adel pikirkan karena ternyata Putri memesan banyak makanan sampai membuat Adel dan Harry begitu kaget...
"Siapa yang akan menghabiskan makanan segini banyak sayang?" Tanya Tommy.
"Yakita semualah. Aku kan sengaja pesan makanna yang rekomendasi dari tempat ini. Jadi aku harap kalian semua bisa menikmatinya." Ucap Putri.
"Apa?" Adel kaget mendengar ucapan Putri sampai Adel menjatuhkan garpu yang dia pegang.
"Jangan kaget begitu dong Del. Intinya aku mau kalian makan. Mubazir kan kalau sampai tidak habis." Ucap Putri.
"Kamu ini iseng banget sayang...kapan kamu pesan makanan segini banyak?" Tanya Tommy tidak percaya.
"Tadi saat kamu menerima panggilan diluar.." Ucap Putri yang memasang tampang tidak bersalah.
"Baiklah...terima kasih atas kemurahan hati pacar bapak Tommy." Ucap Harry.
"Kalau diluar panggilan tidak perlu seformal itu. Panggil saja saya dengan sebutan nama." Ucap Tommy.
Harry merasa senang dengan tingkah iseng pacarnya Tommy tersebut, dengan begitu Adel tidak akan bisa menolak keinginan Putri bukan? dengan begitu Adel terpaksa makan kan?
"Untuk merayakan acara makan malam ini, mari kita bersulang..." Putri mengambil minumannya dan mengangkatnya.
Harry, Tommy mengangkat gelas mereka masing-masing. Adel mau tidak mau mengikuti keinginan Putri untuk bersulang. Kemdian mereka minum minuman masing-masing.
Harapan Adel untuk segera pulang sudah musnah. Tidak mungkin bisa mereka cepat pulang dengan memakan makanan sebanyak itu. Adel memakan steak, puding dan makanan yang lainnya. Makanan ditempat ini memang enak, tidak ada ruginya untuk Adel memakannya.
Tommy cukup kaget melihat Adel memakan makanan dengan porsi yang terbilang banyak. Bukannya tadi Adel bilang kalau dirinya sedang diet. Apa karena Adel tidak bisa menolak permintaan Putri pacarnya ? tapi Tommy senang mereka berempat bisa menikmati makan malam dengan perasaan puas.
Apalagi sebelumnya Tommy yang sempat membatalkan janji, untuk hari ini mereka seakan menebus makan malam yang sempat tertunda kemarin.
Tommy sesekali mengelap mulut Putri yang belepotan dan tentunya disaksikan langsung oleh Adel dan Harry.
Setelah selesai makan, mereka kembali mengobrol masing-masing...
Harry mengobrol dengan Tommy, sedangkan Putri terus mengajak Adel untuk mengobrol. Padahal Adel tidak dalam mood yang baik. Tapi Adel tetap menghargai Putri, bagaimanapun juga Putri tidak tahu apa-apa. Dan mereka membahas tentang makeup, salon, perawatan. Segala sesuatu tentang perempuan pastinya...
Ternyata setelah mengobrol dengan Putri, Adel melihat sisi Putri yng kadang terlihat lucu dan menggemaskan, baik, cantik dan mandiri. Pantas saja seorang Tommy bisa terpikat dan menjatuhkan hati kepada Putri.
Ditempat ini ternyata ada acara dansa untuk pasangan. Dengan semangat Putri mengajak semuanya untuk mengikuti acara dansa tersebut. Putri memang terbilang sepontan dalam mengambil keputusan tanpa memikirkan atau menanyakan pendapat orang yang ada disekitarnya, dia langsung mengajak Tommy untuk berdansa dengannya.
"Ayo dong Tom. Seru tuh ada acara dansa...terus ada hadiahnya juga. Mau ya sayang?" Rengek manja Putri kepada Tommy. Tommy tidak tega kalau sudah melihat pacarnya sampai semanja ini.
"Aku bisa belikan hadiah seperti perhiasan yang ada disana sayang." Ucap Tommy.
"Tapi aku tetap mau kita dansa. Kita menang atau tidak seenggaknya kita pernah dansa romantis." Ucap Putri.
"Mau ya sayang? Please..." Ucap Putri sambil memohon dengan manisnya.
"Mmmm...oke." Tommy langsung berdiri dan Putri langsung menggandengnya.
Tommy menyuruh Harry dan Adel untuk menemani mereka berdansa. Sudah ada 7 pasangan dansa yang sedang berdansa dan menikmati tarian pasangannya masing-masing.
Adel dan Harry saling menatap. Harry tidak berani untuk mengajak Adel berdansa dengannya. Harry tidak mengharapkan hal itu tapi tiba-tiba Adel memberikan tangannya dan menarik Harry untuk berdansa. Harry merasa cukup kaget dengan tingkah Adel barusan. Bukannya Adel ingin mereka menjauh tapi ada apa dengan Adel sekrang? Berbagai pertanyaan sudah ada didalam pikiran Harry saat ini. Dan tidak bisa dia tanyakan langsung...
"Jangan GR Harry...aku mau dansa karena menginginkan satu set perhiasan itu." Tunjuk Adel.
"Oh..." Ucap Harry singkat.
'Aku pikir kamu berubah pikiran ternyata aku salah besar.' Batin Harry.
"Untuk itu aku mohon kerja samanya. Aku minta bantuan kamu untuk berdansa sebaik mungkin dan seromantis mungkin sampai semua orang memilih kita sebagai pemenang." Ucap Adel.
"Akan aku usahakan. Emang apa untungnya bagi aku Del? Toh kamu yang dapat hadiahnya. Aku kan tidak dapat apa-apa." Ucap Harry.
"Aku akan melakukan apapun yang kamu suruh." Ucap Adel.
"Apapun?" Tanya Harry yang langsung berdiri dengan semangat.
"Iya apapun. Jadi aku mohon kerja samanya untuk malam ini." Ucap Adel.
"Oke." Ucap Harry.
Adel dan Harry maju dan mendaftarkan diri untuk ikut dansa romantis didepan. Mereka mendapat nomor urut 9. Tidak terlambat bagi mereka untuk mendaftarkan diri dan bergabung dengan Tommy dan Putri sebagai nomor urut 8.
"Ready all? Pesta dansa dimulai..." Ucap salah seorang host atau pembawa acara disana.
Harry memegang pinggang Adel dan Adel meletakkan tangannya yang satu pada dada Harry yang satunya lagi berpegangan dengan tangan Harry. Mereka saling melangkah dan menatap satu sama lain.
Baru kali ini Adel menatap mata Harry dengan begitu lama. Adel melihat ada bayangan dirinya sendiri pada bola mata Harry. Adel tersenyum dan menjadi sangat berdebar sekarang. Tatapan mata Harry tidak terlepas sedikitpun saat memandang dirinya.
Adel sempat ingin mengalihkan pandangannya karena ntah kenapa dirinya tidak sanggup menatap lama mata Harry malam ini. Harry menarik tengkuk leher Adel untuk mengarah kearahnya lagi...
"Katanya mau menang, kamu harus bisa tatap mataku dengan lama..." Bisik Harry.
"Eh iya. Maaf aku hanya ...sudah lupakan saja." Ucap Adel sepenggal yang tidak meneruskan ucapannya lagi.
"Kamu harus fokus kalau mau menang." Ucap Harry.
"Oke. Kok jadi kamu yang semangat ya ?" Tanya Adel.
"Aku juga kan mau mengambil hadiah dari kamu Del. Jangan lupakan janji kamu tadi." Ucap Harry memperingati.
"Aku ingat kok." Ucap Adel dengan santai.
Mereka kembali bertatapan dan Adel mulai terbawa suasana. Harry semakin liar menyentuh pinggang Adel. Adel membiarkan hal tersebut demi kemenangan mereka nantinya.
Tidak kalah romantisnya dengan pasangan nomor 8. Yaitu Tommy dan Putri...mereka berdansa sebaik mungkin dan seromantis mungkin. Sesekali Putri tampak berputar dan melakukan sedikit tarian. Dansa yang mereka lakukan cukup manis...
Dansa berlangsung selama kurang lebih 45 menit lamanya. Para penonton yang ada dotempat tersebut harus memilih satu pasangan yang layak menang dan mendapatkan hadiah.
Pembawa acara berjalan kearah penonton yang merupakan orang yang makan ditempat tersebut. Dan membagikan 1 lembar kertas untuk menulis 1 angka yang membuat mereka baper atas dansa romantis tersebut.
"Pesta dansa berakhir, saat ini akan diumumkan peserta mana yang akan menang.
Tapi sebelum itu, mari kita lihat pertunjukkan nyanyi dari seorang artis yang sangat terkenal yaitu afgansyah reza..." Ucap pembawa acara tersebut yang disambut tepu tangan meriah dari para penonton.
Tempat makan disini penuh dengan kejutan dan bintang tamu. Selain makanan yang enak, ada live music dan setiap 3 bulan sekali diadakan kegiatan dan perlombaam mendadak seperti tadi. Dan tidak tanggung-tanggung menawarkan hadiah yang terbilang bagus dan lumayan mahal. Tempat makan ini salah satu tempat makan yang terkenal dengan kelas atas. Orang-orang kelas atas yang sering makan malam ditempat ini. Tidak heran tempat ini juga terbilang mahal tapi berkualitas.
Setelah bintang tamu tersebut menyanyi sekaligus menghibur, sebentar lagi akan diumumkan pemenang yang akan mendapatkan 1 set perhiasan...
"Pemenangnya adalah....
*****
"Terima kasih atas makan malamnya." Ucap Adel.
"Kapan-kapan kita ketemu lagi ya." Ucap Putri yang dibalas dengan senyuman saja oleh Adel.
Adel dan Harry keluar secara bersamaan...
"Malam ini kan?" Tanya Harry.
"Harus sekarang juga ya?" Tanya Adel.
"Menurut kamu?" Tanya Harry.
"Hmmm..oke." Ucap Adel yang menyesali ucapannya tadi.
Adel mengikuti mobil Harry dari belakang.
'Sebenarnya Harry mau ngajak gue kemana sih? Kayak gak ada hari esok aja.'Gerutu Adel.
Adel masih fokus mengikuti mobil Harry dari belakang...
Tibalah mereka pada sebuah rumah yang lumayan besar dengan taman yang sangat luas. Harry turun dari mobil dan memberikan kodr kepada Adel untuk segera turun juga.
Adel melihat rumah dengan seksama...
'Sebenarnya ini rumah siapa? Ngapain juga malam malam-malam begini ngajak gue kerumah ini.' Adel bertanya-tanya didalam hati.
Adel mengikuti langkah kaki Harry dengan cepat. Mereka duduk ditaman dengan hiasan lampu sebagai penerang dan banyaknya bunga disekeliling. Terdapat gazebo tempat beristirahat untuk para teman ataupun keluarga. Mereka duduk disana saling berhadapan...
"Ini rumah siapa Harry? Terus ngapain kita disini?" Tanya Adel yang mulai membuka percakapan.
"Ini rumah orangtua ku dulu. Sebenarnya masih sampai sekarang tapi aku lebih nyaman tinggal diapartemen. Karena rumah ini terlalu besar untuk aku tinggalin sendiri selama di Jakarta." Ucap Harry.
"Terus ngapain kamu bawa aku kesini?" Tanya Adel.
"Aku hanya ingin menunjukkannya kepada kamu." Ucap Harry.
"Kamu tidak menjawab pertanyaanku Harry." Ucap Adel kesal.
Harry memasang kalung, gelang dan anting termasuk cincin yang Adel menangkan pada acara dansa romantis tadi.
"Cantik ya. Kenapa kamu ingin sekali mendapatkan hadiah perhiasaan ini?" Ucap Harry.
"Aku selalu ingin memiliki sebuah barang dari usaha dan kerja keras. Seperti yang kita lakukan pada malam ini." Jelas Adel.
"Oh jadi seperti itu." Ucap Harry.
Adel mengangguk memperjelas ucapannya...
"Del...malam ini aku ingin menagih hadiah yang kamu janjikan tadi." Ucap Harry.
"Emang kamu mau apa?" Ucap Adel.
"Aku ingin melihat kamu kembali seperti Adel yang dulu lagi. Aku ingin melihat Adel yang selalu terlihat ceria tanpa ada beban. Adel yang selalu peduli terhadap orang yang ada disekitarnya. Adel yang tersenyum saat melihat apapun yang dia sukai. Bisakah kamu kembali seperti itu lagi?" Ucap Harry.
"Kamu serius? Ini hadiah yang kamu inginkan?" Tanya Adel.
"Aku serius Del...Emang salah ya sama permintaan aku barusan?" Ucap Harry.
Adel menggeleng...
'Harry seriusan minta seperti ini. Apa gue harus mengikuti apa yang Harry bilang ya. Lagian gue lega kok melihat Tommy sudah menemukan kebahagiaan sendiri tadi. Itu cukup membuat gue tersadar. Emangnya belakangan ini gue terlihat seperti apa sih?' Batin Adel.
"Hmmm...aku akan berusaha mengikuti permintaan kamu barusan. Apalagi kamu sudah bantuin aku malam ini. Aku janji mulai besok, Adel sudah kembali seperti dulu lagi." Ucap Adel.
"Makasih Del..." Ucap Harry.
"Ini semua berkat kamu Harry, kamu berusaha menyadarkan aku selama ini. Seharusnya aku yang berterima kasih untuk semuanya." Ucap Adel.
"Ucapan terima kasih aja tidak cukup Del." Goda Harry sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ikh apaan. Dasar modus..." Ucap Adel.
"GR kamu...siapa juga yang lagi modus." Ucap Harry sambil terkekeh.
"Harry..."
"Hmmm..."
"Makasih dan maaf."
"Untuk?"
"Makasih berkat kamu aku jadi mengerti kalau sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan. Dan untuk malam ini makasih udah nemani aku. Tapi aku minta maaf karena terus-terusan melukai hati kamu. Maaf karena aku hanya bisa menjadi orang yang lsri dari kenyataan."
"Hei...Kenapa tiba-tiba ngungkapin begini."
"Aku tahu rasanya sakit hati kamu karena penolakaan yang aku lakukan. Jadi aku merasa bersalah untuk itu."
"Aku akan tetap menunggu kamu Del. Sampai kamu bisa menerima perasaanku. Aku yang salah terlalu memaksakan kehendak. Padahal aku tahu siapa yang ada dihati kamu..."
Adel tersentuh mendengar ucapan Harry...
"Jangan pernah melukai diri kamu untuk menungguku Harry..."
"Berilah aku 1 kesempatan. Aku akan berusaha sebaik mungkin..."
Adel berfikir sejenak, mengingat moment-moment kebersamaan mereka. Adel melihat ketulusan dari mata Harry saat memintanya.
Cup...
Adel mencium pipi Harry untuk pertama kalinya. Harry menatap Adel dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan.
"Apa arti ciuman tadi Del? Kamu mempermainkan hatiku lagi?"
"Artinya....
*****
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading Guys!