Playboy Vs Playgirl

Playboy Vs Playgirl
Pandangan penuh arti



"Atau jangan-jangan Adel gak tahu mengenai hal ini." Ucap Ratu.


"Mungkin aja. Udah ah kamu gak perlu mikirkan hal ini. Ntar juga pasti Adel cerita." Ucap Kavin.


"Kamu yakin bakalan tetap membantu dia yang sudah melukai sahabat kamu sendiri." Ucap Kavin.


"Aku yakin sih tapi jadi ragu sekarang." Ucap Ratu.


"Ikuti kata hati kamu aja sayang. Lagian ntah kenapa aku merasa kalau Harry tertekan sama pertunangannya." Ucap Kavin.


"Kamu yakin?" Tanya Ratu.


"Dari apa yang aku lihat tadi spertinya begitu. Aku yakin pasti ada alasan dibalik ini semua." Ucap Kavin.


'Aku harus melihat situasi yang tejdi nantinya, baru aku bisa putuskan sesuatu. Tapi biasanya feeling Kavin gak akan pernah salah sih.' Batin Ratu.


Saat mereka sedang asik bercerita, Dhafin sudah menangis kembali...


"Duh sayangnya papa sudah bangun ya. Papa kangen banget ketemu kamu sayang." Kavin menggendong Dhafin.


Ratu mencium aroma yang tidak mengenakan.


"Sayang, Dhafin sepertinya sedang pup." Ucap Ratu.


Kavin menyerahkan Dhafin kepada istrinya dengan segera sedangkan Kavin masuk kedalam kamar mandi. Ratu mengganti pampers Dhafin...


"Dhafin sayang, kamu kenapa iseng banget. Papa kamu baru saja pulang, kamu malah pup saat digendong." Ucap Ratu terkekeh.


Karena Dhafin masih terlalu kecil, Ratu belum berani untuk memandikannya.


Selang 5 menit kemudian, Kavin keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk putih saja. Kavin menghampiri Dhafin dan Ratu...


"Dhafin sayang mulai nakal kamu ya." Kabin menvubit pipi gembul anaknya.


"Ikh kamu mah. Jangan cubitin Dhafin begitu kan kasihan." Ratu menjauhkan tangan Kavin drngan segera.


"Mama kamu lebay nih sayang, orang itu cubit-cubit gemas kok." Ucap Kavin.


"Papa sana gih pakai baju." Ucap Ratu sembari mendorong tubuh Kavin.


"Papa mau dipakaikan baju sama mama. Gimana dong." Ucap Kavin.


Ratu memukul bahu Kavin pelan...


"Apaan...jangan bicara yang aneh-aneh deh Vin." Ucap Ratu.


Kavin memakai pakaian yang sudah Ratu letakkan ditempat tidur. Kemudian mereka bertiga turun untuk makan malam.


Disaat makan malam, Dhafin dijaga sebentar oleh pengasuhnya sedangkan Kavin dan Ratu makan malam dengan keluarga tanpa ada gangguan.


*****


Selang sebulan kemudian, 


Hari demi hari Kavin dan Ratu jalani dengan suka cita sebagai orangtua baru untuk Dhafin. Mereka berdua masih banyak belajar untuk segala hal tentang segala sesuatu mengurus anak.


Setiap malam hari Ratu yang begadang menjaga Dhafin dan pada pagi hari giliran Kavin yang menjaga Dhafin walaupun hanya sebatas sampai dia pergi kerja saja. Dan tugas pengasuhnya hanya untuk memback up sebagai cadangan saja. Pengasuhnya kebanyakan mengerjakan pekerjaan yang lain kadang juga membantu pekerjaan bi Ina. Bi Ina juga semakin akrab dan dekat saja kepada pengasuh Dhafin tersebut. Karena orangnya juga ramah dan gampang berbaur dengan orang lain jadi mempermudah untuk lebih dekat dengannya.


Dilain sisi...


Kehidupan Adel banyak berubah. Dan sudah waktunya bagi Adel untuk berbagi cerita. Siap tidak siap dia harus segera memberitahu kedua sahabatnya. Adel tidak mungkin terus-menerus tidak menceritakan tentang status hubungannya dengan Ratu dan Nisa. Karena semakin lama dia mencari alasan semakin lama juga kebohongan akan tercipta. Adel bermaksud untuk mengajak Ratu dan Nisa ketemuan...


Adel mengirimkan percakapan grup :


"Hai apa kabar...?"


"Kangen ketemuan. Kayaknya kita udah lama deh gak ketemu."


"Kapan nih bisa nongkrong bareng lagi. Ayuk dong ketemuan." 


"Baik. Ayuk dong sekalian ada yang mau gue ceritain ke kalian."


"Gue mah kapan aja bisa atur waktu kok. Gimana dengan Ratu?." Balas Nisa.


"Ya udah kalau gitu, gimana kalau minggu siang aja. Tinggal nunggu kabar dari Ratu nih, maklum ibu satu anak ini sekarang sangat jarang pegang hp." Balas Adel.


"Oke berarti kita tunggu Ratu sampai online deh Del. Baru habis itu kita atur waktu lagi." Balas Nisa.


Selang 2 jam kemudian...


"Oke tapi gue yang nentuin tempat ketemuannya ya." Balas Ratu.


"Terserah aja, gue ikut aja." Balas Nisa.


"Gue juga ngikut aja." Balas Adel.


Setelah mengirimkan pesan grup tersebut, Adel kembali mengerjakan pekerjaannya. Adel berencana untuk mencari pekerjaan lain tetapi masih belum ada info lowongan kerja. Dia sudah tidak betah bekerja dengan perasaan canggung dengan Harry. Keadaan mereka sudah berbeda sekarang. Harry benar-benar sudah cuek dan tidak peduli lagi dengannya. 


Tetapi yang buat suasana semakin canggung itu, disaat Adiez selalu datang ke kantor untuk mengontrol Harry. Dia masih saja memastikan secara langsung bagaimana hubungan Harry dengan Adel. Ya bisa dibilang Adiez tidak sepercaya diri itu pada dirinya sendiri. Karena sudah sangat jelas kalau Harry begitu menyukai Adel.


Setiap mereka pergi bareng, Harry tampak acuh kepada Adiez dan hanya memegang hp saja. Adiez yang merasa kesal dicuekin terus-menerus oleh Harry semakin lama semakin kesal. Ibarat kata dia memiliki raga Harrh disisinya tapi dia tidak bisa memiliki hati Harry sepenuhnya.


Walaupun awalnya dia menyanggupi untuk menjalani hubungan tanpa ada rasa cinta ini. Apakah Adiez akan bertahan untuk hal seperti ini? Jujur hal ini kadang sangat melukai hati dan perasaannya. Adiez terlalu egois untuk mempertahankan Harry hanya untuk dirinya sendiri. Bukankan cinta harus saling berbagi dan mencintai satu sama lain? Tetapi yang Adiez rasakan hanya cinta dari satu sisi saja yang bisa dibilang cinta sepihak tanpa bisa dibalas sama sekali oleh pasangannya.


Itukan hal yang Adiez inginkan? Apa dia bisa menjalani hubungan seperti itu dalam jangka waktu yang lumayan lama. Tidak ada yang bisa menebaknya, hanya Adiez sendiri yang tahu bagaimana hati dan perasaannya sekarang.


Seberapapun Adiez berusaha untuk membuat Harry berpaling dan menyukai dirinya tetapi semuanya seakan sia-sia. Usaha demi usaha yang adiez lakukan bisa dibilang gagal total. Kadang Adiez berfikir apakah cinta sesakit ini? Atau cinta memang tidak harus memiliki? Atau juga apa ini cinta atau obsesi berlebih? Berbagai hal dia pikirkan dan renungkan sebaik mungkin.


Masih saja dirinya tidak pernah rela membiarkan Harry mencintai Adel. Bisa dibilang Adiez benar-benar orang yang pantang menyerah dan sangat egois. Hanya dirinya saja yang diuntungkan dengan situasi tersebut.


Seperti saat ini... 


Adiez sedang menunggu Harry di ruangannya. Mereka janjian untuk makan malam bersama walaupun sebenarnya Adiez yang memaksa. Harry hanya bisa mengikuti kemauan Adiez saja. Harry masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran Adiez yang masih kekeuh mempertahankan dirinya dan menjalain hubungan serumit ini. Padahal Harry sudah sangat acuh dan cuek kepadanya tetapi tetap saja tidak merubah jalan pikiran Adiez sama sekali. Tinggal 2 bulan lagi acara pertunangan mereka akan segera dilakukan....


Setiap hari hati Harry begitu tersiksa memikirkan hubungan rumit yang dia pilih tersebut. Yang buat hatinya sakit adalah dia tidak bisa sedekat dulu dengan orang yang begitu dia cintai yaitu Adel. Hubungan mereka malah semakin menjauh saja. Adel benar-benar menghindar dari dirinya.


Apakah memang jalan ini yang Harry pilih? Atau memang sudah suratan takdir untuk dirinya menjalin hubungan dengan Adiez? Ntahlah Harry juga laki-laki yang berada diposisi paling sulit memilih. Dia ingin mempertahankan Adel tegapi Adel sudah menolaknya. Jadi untuk apa lagi dia berjuang kalau orang yang ingin diperjuangin tidak ingin. Hati bukan untuk dipaksa bukan? Harry tidak ingin memaksa Adel lagi sekarang. Sudah cukup smeua perjuangannya selama ini yang tidak ada hasil sama sekali. Sudah cukup dirinya ditolak berkali-kali? Sudah cukup batin dan hatinya tersiksa dengan mencintai orang yang tidak  membalas cintanya.


"Adiez, kamu kenapa sih kebiasaan banget maksa untuk ketemu dan makan malam mendadak begini. Kakak lagi banyak kerjaan ini dan satu lagi kakak gak suka ya kalau kamu sering datang ke perusahaan kakak." Protes Harry.


"Kalau Adiez gak datang kesini pasti makan malamnya kakak batalin. Adiez yakin banget..." Ucap Adiez dengan kesal karena dirinya tidak disambut dengan baik oleh calon tunangannya tersebut.


"Kamu bisa bedain urusan pribadi sama pekerjaan gak? Kamu kan bisa lihat sendiri berkas yang ada dimeja masih bertumpuk begitu. Dan sekarang kamu datang untuk maksa kakak makan malam sama kamu." Ucap Harry.


"Adiez tahu kok. Hanya saja Adiez gak rela biarin kakak lembur dan berduaan sama kak Adel. Apalagi kak Adel kan sekretaris kakak. Pasti kalian bisa bareng lagi nanti. Terus kapan kakak bisa buka hati buat Adiez kalau begitu caranya." Ucap Adiez.


"Siapa yang bisa jamin kalau kak Adel masih satu kantor dengan kakak? Adiez juga gak buta kak, Adiez bisa rasain semuanya diantara kalian berdua. Walaupun kalian berdua tidak berbicara satu sama lain." Ucap Adiez.


"Tapi bukannya ini yang kamu inginkan? Kakak sudah melakukan semua hal yang kamu mau. Terus apa lagi sekarang?" Tanya Harry.


"Kakak memang melakukan semua hal dengan baik, tetapi kalau kalian saling bertemu dan bertatapan terus. Adiez takut kalau keputusan kakak bisa berubah untuk bertunangan dengan Adiez. Adiez akuin kalau Adiez terlalu egois dan memaksakan semuanya. Tetapi itu semua karena Adiez sayang sama kakak. Adiez gak mau kehilangan kak Harry." Ucap Adiez.


"Yang kamu bilang itu bukan cinta Adiez? Kamu hanya terlalu terobsesi dengan keinginan kamu sendiri. Sampai kamu tidak bisa membedakan antara cinta dengan obsesi." Ucap Harry.


"Terserah kak Harry mau bilang apa. Adiez gak akan berubah pikiran untuk pertunangan kita." Ucap Adiez.


Harry hanya bisa menghela nafasnya dengan sangat berat. Segala upaya yang dia katakan tidak bisa merubah hati Adiez sedikitpun.


"Inti dari semua obrolan kita adalah Adiez mau kalau kak Harry pecat kak Adel. Mungkin Adiez bisa lebih tenang setelah kakak melakukan hal itu. Adiez janji kalau Adiez gak akan maksa kakak lagi... gimana kak?" Ucap Adiez.


"Kakak gak bisa turuti kemauan kamu yang ini. Kamu boleh minta apa aja asalkan jangan hal itu. Apa kamu mengerti?" Ucap Harry sedikit menekankan kata-katanya.


Adiez sempat kaget mendengar Harry berkata seperti tadi tetapi Adiez masih mampu mengendalikan amarahnya sekarang.


"Kalau gitu lebih baik kita pergi untuk makan malam sekarang. Atau Adiez akan tetap paksa kakak untuk memecat kak Adel? Atau Adiez yang harus bicara langsung sama kak del. Biar kak Adel tahu diri dengan posisinya sekarang." Adiez baru saja melangkah tapi Harry langsung menarik tangannya dengan paksa.


"Ok kita makan malam sekarang." Ucap Harry.


Adiez tersenyum penuh kemenangan karena Harry akhirnya memutuskan untuk pergi makan malam dengannya. Harry membereskan dokumen yang ada diatas mejanya, sebagian lagi dokumen tersebut Harry masukkan kedalam tasnya untuk dia bawa. Yang rencananya akan dia lanjut untuk mengerjakannya dirumah nanti sepulang makan malam dengan Adiez.


Setelah itu, Adiez dan Harry keluar dari ruangan. Langsung saja Adel berdiri dan mmberikan salam dengan menundukkan kepalanya. Adiez malah sengaja menggandeng tangan Harry dihadapan Adel. Dan Adel melihatnya dengan sangat jelas kemudian berusaha tenang dan menatap Harry.


"Kamu sudah bisa pulang sekarang, lanjutkan besok saja kerjaan untuk besok. Malam ini batal untuk lembur." Ucap Harry.


"Baik pak." Ucap Adel dengan patuh.


Harry malah memandangi Adel, tatapan mereka berdua seakan penuh misteri. Adiez yang sudah memperhatikan tatapan keduanya malah merasa sangat kesal. Padahal dirinya sudah menggandeng tangan Harry tetapi tetap saja Harry tidak pernah menatapnya seperti saat Harry menatap Adel.


'Ikh kak Harry masih aja memandang dengan tatapan penuh cinta kepada kak Adel. Apa sih kelebihan kak Adel sampai kak Harry bisa jetuh cinta. Ngeselin banget sih padahal tujuan aku kesini untuk membuat kak Adel kesal tapi kok malah aku yang kesal begini.' Batin Adiez.


"Ayuk kita pergi sekarang." Ucap Adiez yang setngah memaksa dnegan menarik lengan Harry.


"Eh iya ayuk." Ucap Harry yang masih menatap Adel.


Setelah kepergian Harry dan Adiez...


Tidak bisa dipungkiri, Adel memegangi dadanya sambil duduk sejenak. Jantung Adel berdetak dengan sangat kencang sekarang apalagi saat Harry menatap dirinya seperti tadi.


'Kenapa gue bisa seperti ini sih? Gak ! Gak ! Jangan membuat keadaan menjadi semakin sulit Adel. Kamu harus bisa menepati janji kamu sendiri. Jangan pernah merusak hubungan orang lain.' Batin Adel.


Adel membereskan barang-barangnya dan mematikan komputer. Kemudian Adel pulang ke apartemennya...


*****


Hari janjian minggu siang...


"Apa? Seriusan beb? Ternyata Dimas orang yang gak bisa ditebak ya beb. Gue gak nyangka kalau dia mau serius sama lo." Ucap Adel terkekeh.


"Udah deh Del jangan merusak moment dulu. Gue lagi happy sekarang. Dimas mau mengajak gue untuk dikenalin ke keluarhanya sebagai pacar. Itu berarti kan dia ada niatan serius sama gue. Walaupun belum dalam waktu dekat ini tapi setidaknya gue udah yakin sama Dimas." Ucap Nisa penuh dengan kegembiraan.


"Ciyee...selamat ya yang sebentar lagi bakalan diseriusin." Ucap Ratu.


Untuk pertama kalknya Ratu pergi ke Mall membawa Dhafin. Tetapi dia ditemani oleh pasangannya pengasuhnya anaknya yang saat ini sedang memberikan botol susu kepada Dhafin yang sedang tiduran didalam stroller.


"Iya beb gue deg-degan parah. Padahalkan sebelumnya gue udsh pernah dikenalin langsung sama keluarganya. Tapi kali ini beda aja karena status hubungan kami sudah sebagai pacar. Kalau dulu kan masih sebatas teman aja." Ucap Nisa.


"Gue ikutan happy beb dengarnya. Semoga Dimas bisa membahagiakan lo dan bisa membuat nyokap lo happy juga." Ucap Adel.


"Iya beb. Oh iya lo sendiri gimana?" Ucap Nisa.


Sebelum Adel cerita, Ratu mengeluarkan sepucuk surat dan memberikannya langsung kepada Adel.


"Apaan ini beb?" Tanya Adel penasaran.


"Itu surat dari Harry. Sebenarnya Harry minta gue untuk kasih surat ini pada saat dia pergi keluar negeri. Tapi gue gak bisa tahan lagi. Gue rasa lo harus tahu apa isinya. Dan gue juga udah tahu lama tentang status hubungan lo dengan Harry." Jelas Ratu.


Adel terdiam tidak percaya...


"Gue juga udah tahu beb, Dimas yang ceritain ke gue kalau dia melihat Harry dengan perempuan lain. Maaf ya selama ini gue takut mau cerita sama lo." Ucap Nisa.


"Jadi kalian sudah tahu ya? Padahal rencanaya gue baru mau cerita." Ucap Adel.


"Awalnya gue gak tahu beb, gue hanya dimintai tolong sama harry untuk memberikaj surat ini. Dan sebenrnya Kavin yang tidak sengaja bertemu dengan Harry di Mall tepat 1 bulan yang lalu." Jelas Ratu.


"Oh gitu. Sekarang rencana gue mau cari kerja ditempat lain. Jadi kalau kalian tahu info, jangan lupa kabari gue secepatnya. Jangan tanya apa alasannya karena gue gak akan jawab."Ucap Adel.


Adel mengambil surat yang diberikan oleh Ratu dan segera memasukkan kedalam tas.


"Tanpa lo bilang juga kita paham Del. Lo kira kita bodoh apa." Ucap Nisa.


"Biasa aja kali nisa ngomongnya. Heran gue nge gas mulu..." Ucap Adel.


"Habisnya lo sok gak mau cerita ke kita. Apapun yang usaha lo sembunyikan juga bakal ketahuan juga sama kita. Kita kan ahli dalam hal membaca situasi. Ya kan Tu?" Ucap Nisa terkekeh.


"Iya benar beb. Padahal kita gak berusaha mencari tahu..." Ucap Ratu.


"Yang paling buat gue kesal itu disaat calon tunangan Harry terus-terusan datang ke kantor dsn menatap gue dengan pandangan sinisnya. Salah gue apa coba? Kenapa gue yang disalahin kalau Harry yang suka sama gue, seharusnya sebagai tunangan dia yang harus menjaga  tunangannya dengan baik. Jangan menyalahkan gue kan..." Jelas Adel.


"Gue heran juga sih, apa sih yang Harry sukain dari cewek kayak lo beb. Kalau gue jadi Harry, gue bakalan nyerah sih habisnya dicuekin habis-habisan." Ucap Nisa.


"Suka banget lo menghina teman sendiri. Happy lo kalau teman lo disakiti. Iya?" Ucap Adel.


"Loo bukannya kebalik ya. Kayaknya lo deh yang nyakitin perasaan Harry." Ucap Nisa.


Adel memukul tangan Nisa karena kesal.


"Jangan galak-galak dong beb, gue kan bicara sesuai dengan kenyataan yang ada." Ucap Nisa.


"Kalian berdua kayaknya memang suka berdenbat ya. Heran gue." Protes Ratu.


Tidak berapa lama Dhafin menangis dan terbangun dari tidurnya.


"Ini karena kalian berdua ribut mulu. Anak gue sampai kebangun. Tanggup jawab dong kalian diamin anak gue." Ucap Ratu.


Nisa dan Adel saling berpandangan kemudian....


*****