
Tespek yang sempat di beli sama Ratu belum sempat dipakai sama sekali dikarenakan setelah membeli tespek itu berapa hari kemudian dia malah datang bulan. Saat itu dia tampak kecewa tapi Kavin berusaha menenangkan hati dan perasaannya lagi hingga membuatnya tidak larut dalam kesedihan.
Saat ini Ratu sedang menyiram bunga mawar kesukaannya yang ada disamping rumah. Dia selalu menyibukkan dirinya agar lupa akan rasa kecewa dihatinya. Terlalu banyak hal yang terlalu dia pikirin sendiri.
Saat sedang menyiram dan merawat bunga, Ratu terlihat begitu bahagia. Kadang ia tersenyum saat melihat bunga-bunga itu mekar dengan cantiknya. Tanpa dia sadari suaminya sedari tadi melihatnya sampai-sampai Kavin merekam vidio saat Istrinya itu sedang tersenyum di halaman samping rumah. Kemudian Kavin perlahan mulai menghampiri Ratu yang sedang asik merawat bunga tersebut....
"Aku iri deh sama bunga yang kamu lihatin." Ucap Kavin sambil mengikuti Ratu yang sedang berjongkok tersebut.
Ratu menoleh kearah Kavin dan menghentikan aktifitasnya sesaat...
"Kenapa mesti iri Vin. Kan kamu lebih sering aku lihatin setiap harinya." Ucap Ratu.
"Habisnya kamu lihatin bunga sambil terpesona begitu. Kamu sadar gak kalau daritadi itu kamu tersenyum kearah tanaman dan bunga mawar ini." Ucap Kavin.
"Yee apaan sih Vin. Gak jelas tau gak? Udah ah kamu jangan ganggu aku dulu." Ucap Ratu melanjutkan aktifitasnya menambah pupuk ke beberapa tanaman tersebut.
"Kamu gak mau aku bantuin aja sayang??" Bujuk Kavin yang merasa dicuekin.
"Gak usah deh Vin. Aku bisa sendiri kok. Ntar malah jadi gak bener lagi kalau kamu bantuin." Ucap Ratu.
Kavin memetik setangkai bunga mawar putih yang lagi mekar tesebut. Kavin masih saja berusaha mencari perhatian istrinya.
"Ikh Kavin...kenapa kamu petik sih." Ketus Ratu.
"Habisnya kamu cuekin aku sayang. Jadi sebagai hukumannya aku petik aja bunga mawarnya. Kan pandangan kamu langsung kearah aku." Ucap Kavin.
"Tau ah ...ngeselin !" Ucap Ratu sambil cemberut.
"Kamu kok jadi marah sayang? Oh jadi bener kamu lebih sayang sama tanaman ini daripada sama suami sendiri." Ucap Kavin.
"Bukan gitu Vin. Kamu mah hobi banget buat aku kesal." Ucap Ratu.
"Kamu itu berjam-jam cuekin aku loo demi tanaman-tanaman ini. Jadi wajar aku cari perhatian sama istri aku kan." Ucap Kavin.
"Emang selama itu ya aku disini Vin ?" Tanya Ratu yang selalu lupa waktu kalau lagi merawat bunga.
Tanpa menjawab ucapan Ratu, Kavin menunjukkan jam yang ada ditangannya.
"Maaf ya sayang. Kamu udah makan belum?" Tanya Ratu.
Kavin hanya menggelengkan kepalamya dengan muka cemberutnya.
"Kalau gitu aku siapin makan untuk kamu ya." Ucap Ratu.
"Untuk kita. Kamu kan juga belum ada makan." Protes Kavin.
"Tapi Vin.. aku lagi gak ..." Kavin menutup mulut istrinya dengan tangan.
"Kalau kamu gak makan aku juga gak akan makan." Ancam Kavin.
"Iya deh untuk kita. Aku siapin dulu makanannya ya." Ucap Ratu yang langsung bergegas masuk kedalam rumah.
Saat makan, Kavin mengajak Ratu untuk menemaninya bermain sepak bola dengan Dimas. Karena sore ini tim atau club sepak bolanya mendapat lawan yang seimbang. Kavin juga tidak tahu siapa yang akan menjadi lawan mainnya. Tapi dia sama temannya yang lain merasa sangat tertantang untuk bermain. Tim yang kalah akan mentraktir tim yg memenangkan pertandingan.
Awalnya Ratu tidak ingin ikut tetapi Kavin menyuruhnya untuk ikut. Kavin juga menyarankan agar Ratu membawa teman-temannya agar dia tidak bosan. Ratu langsung semangat menyetujui ide tersebut. Karena terlalu antusiasnya Ratu langsung pergi ke kamar untuk menguhubungi Adel dan Nisa sekaligus.
"Hai Ratu?" Ucap Adel dan Nisa berbarengan sambil melambai tangan.
"Tumben weekend dirumah aja?" Tanya Adel.
"Iya tumben. Emangnya Kavin kemana?" Tanya Nisa.
"Kalian juga kenapa dirumah aja. Gak suntuk apa?" Tanya Ratu.
"Yee kita kan nanyak duluan ke elo kok malah ditanya balik." Protes Adel.
"Tau nih Ratu gak mau kalah banget." Ucap Nisa.
"Gue mau ajak kalian nonton mau gak?" Ucap Ratu to the point.
"Ah bosen beb. Mendingan juga kita dirumah aja tiduran." Ucap Adel.
"Dengerin dulu gue ngomong. Jadi hari ini tuh Kavin dan club sepak bolanya mau tanding sama club lain. Kalian mau nonton gak?"Ucap Ratu.
"Boleh beb, lumayan kan bisa cuci mata sekalian. Hehehe..." Ucap Adel.
"Dasar lo Del. Giliran ada cowok aja langsung semangat 45." Ucap Nisa.
"Biarin. Gak acih iri dong Nis." Ucap Adel.
"Ngapain juga gue iri sama lo Del." Ucap Nisa.
"Bener juga ngapain juga lo iri kan Dimas selalu di hati." Ledek Adel.
"Adel !!! Gak usah sebut nama itu lagi." Ucap Nisa.
"Heheheh iya iya. Habisnya lo gangguin gue sih." Ucap Adel.
"Udah deh kalian mending langsung siap-siap aja. Ku share lokasi ke kalian. Gue juga mau siap-siap dulu. Sampai ketemu nanti ya." Ucap Ratu langsung mematikan teleponnya.
Kavin menghampiri istrinya yang sedang bersiap-siap.
"Semangat banget nih istri aku mau nonton suaminya main." Ucap Kavin menghapus lipstik yang dipakai Ratu.
"Kenapa dihapus sih Vin?" Protes Ratu.
"Emangnya kamu mau kemana sampai dandan begini. Aku gak suka. Lebih baik kamu pakai lipstik warna bibir aja." Ucap Kavin.
"Dasar posesif..." Ratu akhirnya mengambil lipstik dengan warna yang sama dengan warna bibirnya.
Kavin melihat Ratu dari pantulan cermin.
"Gitu dong." Kavin mengarahkan tubuh Ratu kehadapannya.
Cup...
Kavin mencium bibir istrinya itu...
"Kan jadi rusak nih lipstiknya." Ratu menghapus lisptiknya dengan tisu dan membenarkan kembali.
"Kamu cantiknya harus didepan aku aja ya sayang. Aku gak mau sampai ada yang terpesona melihat kecantikan istri aku ini." Ucap Kavin.
"Iya suamiku yang bawelnya selangit." Ucap Ratu.
Kemudian Kavin berganti pakaian dan membawa beberapa baju ganti. Sedangkan Ratu yang sudah menyiapkan banyak cemilan dan beberapa minuman yang akan dibawa nanti.
*****
Sampainya Kavin di lapangan sepak bola, Kavin bergabung dengan timnya yang lain. Tak lupa juga dia memperkenalkan istrinya kepada teman-temannya. Setelah itu Ratu pergi ke bagian kursi penonton dan menghubungi Adel...
"Hai beb." Sapa Adel.
"Kalian dimana sih? Gue bosen disini sendirian gak ada orang yang gue kenal disini.
"Sabar dong beb, gue baru aja jemput Nisa." Jelas Adel.
"Ok cepetan kesininya. Gue tunggu.." Ucap Ratu langsung mematikan teleponnya.
"Dasar Ratu gak sabaran banget jadi orang." Ucap Adel.
"Kayak baru kenal aja lo Del." Ucap Nisa.
Adel mempercepat serta meningkatkan kecepatan mobilnya.
Sampainya disana, Nisa dan Adel melihat kesekitar lapangan kemudian buru-buru menghampiri Ratu.
"Kok belum mulai mainnya beb?" Ucap Nisa.
"Kita sampai buru-buru kesini." Ucap Adel.
"Gimana mau mulai lawannya sedikit terlambat datang. Seharusnya udah main dari 10 menit yang lalu." Jelas Ratu.
Nisa melihat kearah lapangan dan memandang seseorang yang tidak asing lagi baginya.
"Kenapa lo gak bilang kalau ada Dimas juga disini?" Tanya Nisa dengan nada kesalnya.
"Emangnya kenapa beb? Kan menghindar bukan berarti gak bakal ketemu lagikan." Ucap Adel.
"Tapikan lo tau sendiri apa alasannya kenapa gue begini Del." Ucap Nisa.
"Coba lebih dewasa beb, menghindar bukan berarti jadi musuh kan." Jelas Adel.
"Jangan mutuskan silaturahmi dengan orang yang selama ini dekat dengan kita. Kan bisa aja lo jaga jarak." Ucap Ratu.
Nisa hanya terdiam mendengar nasehat kedua sahabatnya itu. Sesekali Nisa melirik kearah Dimas. 'Gue perhatiin sekarang Dimas tambah kurus deh.' Batin Nisa.
"Jangan dilihatin terus beb ntar makin cinta lo." Goda Adel.
"Adelllll...." Ucap Nisa sedikit meninggikan suaranya.
"Bercanda beb..." Ucap Adel.
Selang 10 menit kemudian, tim sepak bola dari lawan pun datang dan meminta maaf kepada pihak Kavin karena keterlambatannya. Kavin terkejut karena ternyata lawan mainnya adalah Tommy. Bisa dibilang orang yang paling dia gak suka selama ini. Tapi Kavin sudah banyak berubah semenjak pertengkaran terakhir kali dengan Ratu. Dia sudah berjanji untuk mengendalikan rasa cemburu dan amarahnya lagi.
Sebelum memulai pertandingan, Kavin dan timnya bersalaman dengan tim lawan.
"Gue masih gak nyangka kalau melawan lo Tom." Ucap Kavin saat bersalaman dengan Tommy.
"Gue lebih kaget lagi karena dapat lawan orang yang selama ini benci banget sama gue." Ucap Tommy.
"Semoga permainan ini mernarik." Ucap Kavin sambil tersenyum menyerigai.
"Gue san tim juga berharap begitu." Ucap Tommy.
Dari kejauhan Adel melihat dengan jelas kalau Tommy adalah lawan main timnya Kavin
"Beb kalian lihat deh kedepan.. itu bukannya Tommy." Ucap Adel menunjuk kearah lapangan.
Nisa dan Ratu yang awalnya sibuk dengan hp masing-masing langsung melihat kearah lapangan. Ratu sedikit kaget kemudian mencoba biasa lagi.
"Iya benar beb. Itu memang Tommy." Ucap Nisa.
Ratu melihat ekspresi suaminya dari kejauhan...'Kavin kok biasa aja ya. Bisa tenang gitu ada Tommy biasakan langsung marah-marah dan emosian. Tapi gue sangat bersyukur sih berarti Kavin beneran udah berubah.' Batin Ratu sambil senyum-senyum gak jelas.
Nisa melihat kearah Dimas lagi dan sialnya Dimas juga memandang kearahnya. Mereka saling menatap dari kejauhan cukup lama sampai akhirnya Nisa mengalihkan pandangannya ke arah Adel dan Ratu yang ada disebelahnya. Nisa sedikit salah tingkah dan mengambil beberapa cemilan dan minuman.
'Kenapa Dimas menatap gue begitu banget ya. Mungkin dia sebegitu bencinya saat melihat gue. Lagian ngapain juga gue harus peduli bukannya itu memang keinginan gue. Dengan Dimas membenci gue itu artinya Batin Nisa.
Adel yang melihat kedua sahabatnya yang bertingkah sangat aneh hanya bisa menggelengkan kepalanya. Karena posisi duduknya pas ditengajh diantara Ratu dan Nisa. Ya bisa dibilang terhimpit oleh keduanya.
*****
Pertandingan pun dimulai...
Selama 15 menit permainan berlangsung, mereka masih saling merebut dan mengoper bolake sesama tim. Belum ada yang bisa mencetak angka diantara kedua tim. Gawang benar-benar dijaga sangat ketat. Tim Tommy dan tim Kavin merubah strategi permainan mereka.
Setelah perubahan strategi mereka melajutkan permainan. Sudah setengah jam permainan ini, akhirnya tim Kavin berhasil mencetak angka dan memasukkan bola ke gawang lawan. Tim Tommy tidak tinggal dim dan ingin segera membalas tim lawan. Dengan siasat dan strategi baru Tommy dengan mudahnya mengalihkan perhatian tim lawan sehingga membuat tim Tommy berhasil mencetak angka. Dan score sementara masih 1:1...
Ratu dan kedua temannya bertepuk tangan saat Tommy berhasil membalas dan mencetak gol ke gawang. Dari jauh, Kavin memperhatikan wajah dan ekspresi istrinya itu. Kavin mengepalkan tangannya dan berusaha membalas tim lawan. Emosi dalam dirinya sudah melupa-lupa ditambah emosi panas ataupun cemburu saat melihat Ratu tersenyum dan bertepuk tangan dari tempat duduk penonton.
Sebenarnya Ratu seperti ini hanya menyemangati kedua tim saja. Tommy adalah temannya sejak dulu yang selalu baik dan Kavin adalah suaminya. Dia hanya berusaha netral untuk keduanya. Emosi yang meledak-ledak dari Kavin membuat permainannya menjadi kalah karena timnya Tommy berhasil mencetak angka di menit-menit terakhir pertandingan. Score menjadi 2:1... Tim yang kalah akan mentraktir makan tim yang menang.
"Sebenarya lo dukung tim yang mana beb ?" Tanya Adel penasaran.
"Lo lihat dong muka suami lo udah kusut begitu karena kalah." Ucap Nisa.
"Gue netral aja gak mendukung siapa-siapa. Cuman tadi permainan dari timnya Tommy bagus banget. Strateginya juga bagus sampai membuat timnya Kavin gak bisa menebak kearah mana bola akan dioper." Ucap Ratu.
"Gue seram aja lihat ekspresisuami lo itu." Ucap Nisa.
"Dibiarin aja ntar juga baik lagi." Ucap Ratu.
"Jadi kita apa perlu ikut mereka makan juga?" Tanya Adel.
"Jelaslah gue gak mungkin cewek sendirian disana.Emang kalian tega gitu ninggalin gue sendirian." Ucap Ratu dngan wajah yang memelas.
"Gue sih tega ya." Ucap Adel.
"Gue juga." Ucap Nisa yang gak mau kalah.
"Dasar kalian berdua jahat banget sih sama gue." Ucap Ratu.
"Gue jelas ikut dong beb, apalagi makan gratis..." Ucap Adel.
"Gitu dong.." Ucap Ratu.
"Kayaknya gue gak ikut deh beb, gue harus ke...." Ucapan Nisa dipotong langsung oleh Adel.
"Gue gak mau tahu lo harus ikut. Kenapa sih lo takut banget berhadapan dengan Dimas lagi. Benarkan tebakan gue?" Ucap Adel.
"Sampai kapan lo bakal menghindar dari keadaan Nisa?" Tanya Adel.
"Masalah itu diselesaikan bukan dihindari. Lagian Dimas juga kan biasa-biasa aja ketemu sama lo." Ucap Ratu.
"Gue yakin ntar malah buat situasi antara gue dan Dimas jadi canggung. Lagian kenapa sekarang Dimas malah main sepak bola begini." Ucap Nisa.
"Dia ikut main samaKavin karena suntuk aja karena selama ini waktu weekend nya bareng lo, jadi selama kalian bertengkar dia jadi rajin main kerumah dan ngajak suami gue main sepak bola." Ucap Ratu.
"Oh gitu." Ucap Nisa.
"Jadi sekarang lo juga harus ikut kita untuk makan bareng." Ratu dan Adel menarik paksa Nisa masuk kedalam mobil Adel. Ratu juga ikut pergi bareng Adel dikarenakan timya Kavin pada nebeng naik mobilnya dan mobil Tommy.
*****
Kavin memilih tempat VIP disalah satu cafe ternama. Ruangan tersebut cukup lebar dan untuk banyak orang. Dua meja bulat yang besar dengan kursi yang banyak serta terdapat ruangan karaoke untuk bersantai dan bernyanyi selesai mereka semua makan. Di tempat ini cukup memuat 20 orang atau lebih.Biasanya ruang VIP ini juga digunakan untuk petemuan penting atau kumpul keluarga besar.
Mereka semua menikmati makanan dan minuman yang dipesan oleh Kavin. Selesai makan, Nisa pergi ke toilet sendirian karena bajunya terkena makanan dan membuat sedikit noda pada baju yang di pakai. Nisa mengucek bajunya dengan air beberapa kali tapi masih aja noda pada bajunya tidak hilang sama sekali. "Sial banget deh gue bisa-bisanya baju sampai kotor begini karena dilihatin Dimas terus-terusan reflek malah sendok gue jatuh ke baju. Gue perhatiin daritadi kenapa Dimas ngelihatin gue terus sih. Aneh banget. Bukannya seharusnya dia malas melihat kearah gue ya. Terserah deh intinya gue gak peduli lagi karena setelah ini gue mau pamit pulang aja." Ucap Nisa dengan kesalnya.
Sehabis makan, mereka semua ada yang mengobrol ada juga yang bernyanyi diruang karaoke. Sedangkan Ratu dan Adel malah sibuk melhat online shop untuk membeli baju dan jam. Mereka berdua memang hobi banget belanja online dan menyukai barang yang sama. jadi selalu kompak kalau tentang beginian.
Saat keluar dari kamar mandi, tangan Nisa ditarik oleh seseorang. Nisa juga kaget dan berteriak untuk segera melepaskan tangannya. Tapi orang tersebut malah menarik Nisa untuk keluar dari cafe dan masuk kedalam mobilnya. Cowok yang menarik Nisa adalah Dimas. Dimas masuk kedalam mobil dan menyalakan ac dan mengunci mobil tersebut dari dalam.
"Apaan sih lo Dim." Bentak Nisa.
Dimas memandang kearah Nisa dengan tatapan yang tidak dimengerti.
"Maaf Nis udah narik tangan lo dengan kasar." Ucap Dimas.
"Sekarang gue mau keluar. Sebaiknya lo buka mobil ini Dim." Ucap Nisa tanpa menghiraukan ucapan Dimas barusan.
Dimas semakin menatap mata Nisa dengan dalam seperti memastikan sesuatu.
"Lo gak budek kan Dim. Gue mau keluar sekarang. Tolong lo buka mobil sekarang juga.
"Gak bisa. Gue pengen ngobrol sama lo." Ucap Dimas.
"Tapi gue gak mau ngobrol sama lo. Perkataan gue kemarin emang belum cukup jelas buat lo Dim. Kita sekarang adalah orang asing yang tidak saling mengenal lagi. Kita bukan teman baik lagi Dimas. Gue harap lo ngerti." Ucap Nisa.
"Karena mantan lo kan makanya lo berubah begini ?" Tanya Dimas.
"Karena gue yang gak mau lagi ada hubungan sama lo Dim." Ucap Nisa.
"Kalau bukan karena dia. Terus apa alasannya? gue masih gak mengerti sama sekali. Gue benar-benar kehilangan lo." Ucap Dimas.
"Karena gue aja yang gak bisa lagi berteman sama lo Dim. Bunga kaktus yang lo pernah kasih ke gue juga akan segera gue kembalikan secepat mungkin." Ucap Nisa.
"Gue gak mau kehilangan lo Nis." Ucap Dimas sepontan memegang kedua tangan Nisa.
'Please Dimas...jangan buat gue berharap sama lo lagi dan jangan buat gue salah paham dan juga jangan buat gue merasa bersalah lagi sama lo.' Teriak Nisa dalam hati.
"Lepasin tangan lo Dim. Gue mau keluar sekarang juga dan berhenti menatap gue terus-terusan !!!" Ucap Nisa.
"Gak akan gue lepasin lagi. Gue kangen berbagi halmaupun cerita sama lo Nis. Setiap malam gue selalu mikirin lo Nis sampai tidurpun gue mimpiin lo. Gue gak bisa berhenti mikirin lo dan sekarang disaat kita ketemu lo minta gue lepasin. Gue gak bisa Nis." Jelas Dimas.
"Untuk apa lo mikirin orang yang udah nyakitin lo Dim. Gue gak berhak untuk itu. Gue cuman ingin hidup tenang tanpa diganggu oleh siapapun lagi Dim." Ucap Nisa.
'Dari mata dan ucapan lo barusan gue sadar sesuatu Nis. Kenapa selama ini gue gak pernah sadar.' Batin Dimas.
"Karena gue merasa hampa tanpa lo Nis." Ucap Dimas.
"Itu karena lo belum terbiasa aja Dim ntar juga lo pasti lupa. Gue jamin deh...." Ucap Nisa.
"Sebegitunya lo gak mau jadi teman gue lagi Nis." Ucap Dimas.
'Apa karena gue sempat bilang kalau gue hanya nganggaplo sebagai teman dan gak lebih makanya lo berubah ke gue. Setelah gue pikir-pikir setelah kejadian itu Nisa berubah menjadi cuek bahkan disaat ada Kirana juga Nisa seolah menganggap gak ada gue disana. Apa karena itu Nis???' Tanya Dimas dalam hati.
"Gue mau tanya sesuatu sama lo Nis. Sebenarnya perasaan lo ke gue itu bagaimana?" Tanya Dimas.
"Apaan sih Dim. Gue gak ngerti sama omongan lo barusan." Ucap Nisa berusaha setenang mungkin padahal dalam hatinya sudah sangat kacau dan bertanya sendiri.
'Kenapa bisa Dimas menanyakan pertanyaan ini? Apa Dimas udah mulai sadar sesuatu? Tapi kalau dia sadar diagak akan bertanya lagi sama gue. Pasti Dimas belum tahu apapun.' Batinnya.
"Udah deh daripada gak jelas begini kita didalam mobil lebih baik gue keluar aja sekarang. Semakin lama pertanyaan lo semakin aneh tau gak."
"Bukan gue yang aneh Nis tapi lo gak gak mau jujur sama gue." Ucap Dimas seakan bisa membaca pikiran Nisa saat ini.
"Maksud lo?" Tanya nisa lagi.
"Lo pasti ngerti maksud gue apaan." Ucap Dimas.
"Gue gak ngerti makanya gue tanya Dim..." Ucap Nisa.
Tiba-tiba Nisa terfikir sebuah ide untuk bisa keluar dari mobil. Nisa mendekatkan wajahnya ke wajah Dimas yang membuat Dimas semakin mundur kebelakang. Dimas tidak tahu kenapa mendadak Nisa seperti ini.
"Lo mau ngapain Nis?" Tanya Dimas penasaran
"Gue cuman mau mastiin sesuatu aja dengan menatap mata lo dari dekat." Ucap Nia bohong untuk mengalihkan perhatian Dimas. Tangan Nisa yang satunya lagi sudah berada di tombol mobil dan dia langsung memencetnya. Dimas yang masih tidak sadar juga malah menjadi salah tingkah saat ditatap Nisa dari jarak yang lumayan dekat. Setelah itu Nisa menjauhkan diri dari Dimas.
"Emang lo mastiin apaan Nis?" Tanya Dimas.
"Apapun itu bukan urusan lo Dim." Nisa membuka mobil dan keluar dari mobil Dimas dan langsung berlari secepatnya kearah cafe.
Dimas tersenyum melihat tingkah Nisa barusan. Dia tidak menyangka kalau Nisa berhasil mengalihkan pandangan dan bisa keluar dari mobilnya.
'Berarti yang dikatakan Kavin benar. Gue aja yang baru sadar.' Batin Dimas.
Kemudian Dimas ikutan masuk kedalam cafe untuk bergabung dengan yang lain.
"Nisa !!!" Teriak Adel.
Nisa menghampiri kedua sahabatnya itu.
"Lo darimana aja sih kenapa lama banget?" Tanya Adel.
"Dari toilet. Emang selama itu ya?" Ucap Nisa bohong.
"Lumayan sih." Ucap Ratu.
Setelah berjam-jam didalam cafe, Tommy dan timnya pamit pulang duluan kepada Kavin dan yang lainnya.
"Gue pulang duluan ya Vin, Ratu dan semuanya." Ucap Tommy menghampiri Ratu dan Kavin.
"Hati-hati Tom." Ucap Ratu.
"Makasih Tu..." Ucap Tommy.
"Ingat ya lain kali tim gue pasti yang akan menang." Ucap Kavin.
"Gue tunggu pertandingan selanjutnya." Ucap Tommy.
"Pasti..." Ucap Kavin.
Setelah timnya Tommy pergi selang setengah jam kemudian mereka semua juga pergi. Ratu masih nebeng naik mobil Adel karena Dimas dan Kavin mengantar temannya yang lain kembali ke lapangan tempat dimana teman-teman mereka menaruh kendaraan. Setelah itu, Nisa pulang bareng Adel. Sedangkan Ratu ikut mobil Kavin. Dan Dimas pulang sendirian mengendarai mobil.
Pada saat didalam mobil, Kavin menarik tengkuk Ratu mendekat kearahnya dan langsung mencium bibir Ratu dengan rakusnya tanpa membiarkan Ratu bernafas. Kavin juga membuka mulut Ratu dan mulai memainkan lidah dan menciumnya lebih dalam lagi. Ratu dan Kavin saling membalas ciuman satu sama lain tapi semakin lama ciuman Kavin semakin membuatnya susah bernafas dan tidak bisa dihentikan. Ratu dengan kasar mendorong bahu suaminya untuk menjauhinya.
"Kamu kenapa Vin?" Tanya Ratu.
"Aku perhatiin tadi dilapangan kamu senang banget pas Tommy menang. Bukannya seharus seorang istri itu mendukung suaminya ya." Jelas Kavin.
"Jadi ceritanya kamu kesal sama aku makanya sampai mencium aku begini." Ucap Ratu.
Kavin menarik tengkuk Ratu kembali dan menciumnya lagi. Berbea dengan ciuman yang sebelumnya, kali ini Kavin menciumnya dengan lembut dan bergairah. Kavin memainkan lidahnya membuat ciuman mereka semakin dalam dari sebelumnya. Keduanya tampak menikmati ciuman tersebut karena mereka saling membalasnya. Ciuman tersebut berlangsung lumayan lama sampai keduanya menjadi lemas.
"Itu hukuman untuk seorang istri yang tidak mendukung suaminya." Ucap Kavin.
"Aku mendukung kamu kok Vin. Emang salah kalau aku tepuk tangan kepada tim yang menang." Ucap Ratu.
"Salah. kamu harus tepuk tangan untuk aku aja jangan yang lain." Ucap Kavin.
"Playboy kalau cemburu jadi ganas juga ya." Ledek Ratu sambil terkekeh.
Kavin tidak menghiraukan Ratu dan langsung mengendarai mobil untuk langsung pulang kerumah. Kegiatan hari ini benar-benar membuat Kavin sangat lelah.
*****
Dimas yang sudah sampai dirumah langsug merebahkan tubunhnya ditempat tdiur. Dia mengingat kembali obrolannya dengan Kavin disaat dirinya sangat kacau berapa minggu sebelumnya.
Flashback on...
Dimas mengajak Kavin bermain sepak bola. Dimas melampiaskan semuanya kemarahan dan emosinya saat bermain sepak bola tersebut. Kavin sempat bingung melihat tingkah temannya itu. Setelah capek bermain, Dimas dan Kavin duduk dipinggir lapangan. Dimas beberapa kali meneguk air minum sedangkan Kavin merapikan tali sepatunya.
"Hari lo kenapa Dim? Kayak orang yang lagi kacau?" Tanya Kavin.
"Gue gpp kok." Ucap Dimas.
"Jangan bohong sama gue. Gue bisa lihat dengan jelas kok. Lagian tumben banget belakangan ini lo malah menyibukkan diri main sepak bola dan tumben juga ngajak gue." Ucap Kavin.
"Gue butuh olahraga aja untuk melatih otot-otot kaki gue biar gak kaku aja." Ucap Dimas.
"Lebih baik lo cerita aja. Gak baik kalau masalah itu dipendam sendirian. Apalagikan disini lo cuman kenal sama gue." Ucap Kavin seolah tahu dibohongi.
"Gue bingung aja kenapa mendadak gak mau berteman lagi sama gue. Gue yakin kalau gak ada melakukan kesalahan." Ucap Dimas.
"Habisnya lo gak pernah peka sih Dim jadi cowok." Ucap Kavin.
"Gue gak peka sama gue peka emang ada hubungannya ?" Tanya Dimas.
"Ya jelas adalah. Masak lo gak pernah tahu dan merasakan apapun." Ucap Kavin.
"Maksud lo apaan sih Vin gue gak ngerti." Ucap Dimas.
"Nisa itu suka sama lo. Gue udah tahu lama tapi gue sengaja gak bilang sama lo. Gue pengennya lo itu sadar sendiri." Ucap Kavin.
"Gak mungkin Vin. Gue yakin kok..." Ucapan Dimas dipotong oleh Kavin.
"Gue yakin banget. Kalau lo gak percaya sama ucapan gue barusan ya lo lupain aja. Kalau lo penasaran sama yang gue bilang lo bisa buktikan sendiri." Jelas Kavin.
"Cara buktiinnya gimana?" Tanya Dimas.
"Itu sih tergantung lo aja gimana. Lo pikir sendiri lah masak gue yang kasih tahu caranya." Ucap Kavin.
"Tapi gue masih belum yakin sih kalau Nisa ada perasaan sama gue." Ucap Dimas.
"Terserah lo Dim. Intinya gue udah kasih petunjuk. Jadi selebihnya lo aja yang berfikir sendiri." Ucap Kavin lagi.
"Makasih saran dan masukannya Vin. Gue akan coba buktiin sendiri." Ucap Dimas.
"Sama-sama bro, jadi jangan galau lagi ya." Ledek Kavin.
"Siapa juga yang galau." Ucap Dimas.
"Masih aja lo gak ngaku padahal udah jelas banget." Ucap Kavin.
Kavin membisikkan sesuatu ..."Lo pernah dapat surat kaleng tanpa nama?" Bisik Kavin.
"Pernahlah tapi udah lama banget. Emang apa kaitannya sama pembahasan kita." Ucap Dimas.
"Masih sangat berkaitan sama pembahsan kita barusan." Ucap Kavin. Sebenarnya Kavin juga tahu dari istrinya sudah sangat lama disaat Dimas meminta nomor hp Nisa. Ratu menceritakan semuanya kepada Kavin.
"Kan lo pintar, coba deh lo pikirin semuanya dengan baik-baik. Gue rasa lo bakal tau jawabannya." Ucap Kavin lagi.
Dimas masih terdiam dan terbengong sendiri mendengar ucapan Kavin barusan. Selama ini surat itu selalu Dimas simpan didalam kopernya. Karena dia teramat penasaran sama pengirim surat tersebut.
Semenjak obrolan dengan Kavin, Dimas mulai berfikir dan mengingat semua moment saat bersama dengan Nisa. Walaupun hatinya yang tidak peka itu belum bisa menerima kalau Nisa suka sama dia. Tapi dia punya cara untuk mengetahuinya saat bertemu dengan Nisa lagi.
Falshback off...
Setelah bertemu dengan Nisa tadi, Dimas akhirnya mengerti kenapa Nisa berubah kepadanya. Dimas yakin kalau selama ini Nisa suka dengan dia sampai menyimpan perasaan begitu lamanya.Tatapan mata Nisa saat memandang begitu hangat dan tangan Nisa mendadak berkeringat padahal Dimas sudah menyalakan ac dimobil. Nisa juga tidak bisa melihat matanya saat menjawab pertanyaan. Dengan cara itu dia membuktikan perasaan Nisa kepadanya. Dimas juga meyakinkan perasaannya sendiri. Dimas megambil surat kaleng dan membacanya terus-menerus.
Akhirya setelah sekian lama dia tahu juga siapa yang mengirin surat itu kepadanya. Dia juga mengingat pertemuan dengan Nisa disalah satu perbelanjaan karena saat itu Dimas menemani mamanya belanja dan bertemu dengan Nisa. Besoknya ada orang yang mengirimkan surat kaleng tanpa nama kepadanya. Sejak pertemuan tadi membuat Dimas punya rencana sendiri kepada Nisa. Rencananya akan dia mulai besok.
'Lo tunggu aja Nis, gue punya rencana yang buat lo semakin salah tingkah dan mati kutu saat berhadapan dengan gue.' Batin Dimas sambil tersenyum puas.
*****
Gimana pada suka gak? mohon berikan komentarnya yaa...
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya..
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading Guys!