Playboy Vs Playgirl

Playboy Vs Playgirl
Menghindar



Pagi hari ini kota Jakarta dilanda hujan yang lumayan deras. Nisa memarik kembali selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Dengan mata yang masih terpejam, tangannya berusaha mencari remote ac disekitaran tempat tidur. Kemudian ia menekan tombol turn off pada remote dan memeluk erat guling yang berada tepat disampingnya.


Berulang kali terdengar bunyi suara alarm yang ada di hp. Berulang kali juga ia mematikannya. Pagi inj rasanya ia ingin tidur lebih lama lagi.


Selang setengah jam kemudian, Nisa mencoba membuka kedua matanya. Karena sudah 2 hari berturut-turut tidak datang ke klinik, mau tidak mau hari ini dia harus pergi ke klinik kecantikan miliknya. Moodnya hari ini benar-benar sangat jelek. Turunnya hujan dipagi ini merupakan gambaran hatinya saat ini. Semenjak kejadian semalam, Nisa menjadi orang yang tidak banyak bicara. Keceriaannya selama ini mendadak hilang begitu saja.


Hari ini dia memakai pakaian yang terbilang simple. Dia memakai kemeja polos warna hitam dan celana jeans dipadukan dengan sepatu flat dan tas sling bag yang bewarna merah senada dengan warna sepatunya. Saat sarapan berdua dengan bundapun dia hanya menikmati makanannya saja tanpa berbicara sedikitpun. Bunda yang awalnya bingung tetapi hanya berfikir mungkin anaknya ini sedang buru-buru saja.  Bunda tidak merasa kalau sifat putri kesayngannya itu sangat aneh pagi ini.


"Bunda, Nisa minta tolong dong sarapannya ditaruh di tupperware aja. Kayaknya Nisa lanjut makan di kantor aja deh." Ucap Nisa.


"Oke bentar sayang." Bunda segera mengambil tupperware dan memasukkan mie goreng tersebut.


Nisa menghabiskan susu hangat buatan bunda setelah itu langsung pamit..


"Buru-buru amat sayang." Ucap bunda.


"Maaf ya bunda tadi Nisa bangun agak lama. Jadi sekarang malah buru-buru begini." Ucap Nisa.


"Kan lagi hujan begini, bunda antar pakai payung kedepan ya sayang." Ucap bunda.


"Boleh bunda. Makasih bunda ..." Ucap Nisa.


Bunda mengambil payung dan mengantar Nisa sampai kedepan rumah dan masuk kedalam mobil.


"Hati-hati sayang, jalanan pasti licin banget sekarang." Ucap bunda.


"Siip bunda." Nisa mengacungkan dua jari jempol tangannya dengan senyuman manisnya.


Kemudian Nisa melajukan mobilnya dengan perlahan.


******


Falshback On


Disaat semalam Dimas mengantar Nisa pulang kerumahnya...


"Nis udah sampai depan rumah lo ini. bangun dong." Ucap Dimas sambil menggoyang-goyangkan tubuh Nisa.


Nisa perlahan tersadar dan terbangun dari tidurnya. Pertama kali saat membuka mata dia melihat kesekitaran.


"Oh udah sampai ya. Makasih ya Dim." Ucap Nisa sambil membuka pintu mobil. Dengan cepat Dimas menahan tangan Nisa untuk keluar.


"Kenapa sih Dim?" Tanya Nisa yang sebenarnya masih sangat ngantuk.


"Ada yang mau gue omongin sama lo. Penting !!!" Ucap Dimas.


'Kira-kira Dimas mau ngomong apa sih sama gue? Kok mukanya serius banget gini. Apa mungkin Dimas udah sadar sama perasaannya ya. Ah tapi gue gak yakin sih.' Batin Nisa yang bertanya dalam hatinya sendiri.


"Lo dengerin gue kan Nis? kok diam aja begitu sih?" Tanya Dimas memastikan.


"Eh i--ya gue dengar kok." Ucap Nisa sedikit gugup.


"Emang lo mau ngomong apaan sih? buruan gue mau masuk." Ucap Nisa lagi.


"Pembahasan yang tadi saat kita main game." Ucap Dimas.


'Tuh kan benar. Kayaknya Dimas serius deh ngomongnya.' Batin Nisa.


"Maksudnya?" Tanya Nisa yang sangat penasaran.


"Jadi tadi tuh kan gue bilang kalau lo adalah orang yang terakhir kali gue pikirin. Sebenarnya gue gak tahu juga kenapa tiba-tiba bisa mikirin lo. Tapi gue harap lo gak mikirin hal yang lain ya Nis. Gue hanya nganggap lo cuman sebatas sahabat aja dan gak lebih." Jelas Dimas.


Deg...


Ucapan Dimas barusan membuatnya tidak mengantuk lagi. Dan perkataan itu juga membuat Nisa tersadar kalau selama ini Dimas hanya menganggapnya sebagai sahabat dan gak akan pernah bisa lebih. Saat ini hatinya terasa begitu sakit dan membuatnya terdiam sesaat. Lebih tepatnya dia tidak tahu akan menjawab Dimas seperti apa. Ibaratnya perasaan yang dia rasakan langsung ditolak begitu saja tanpa diungkapkan. Hampir saja air matanya terjatuh tapi ia tahan karena akan terlihat konyol didepan Dimas nantinya. Pikirannya sudah sangat kacau malam ini. Kenapa Dimas harus bilang seperti ini disaat Nisa sudah merasa senang dan nyaman saat bertemu dengan keluarganya Dimas. Itu isi pikirannya, kenapa harus malam ini....


"Lo kok diam aja Nis? Apa kata-kata gue barusan ada yang salah ya?" Tanya Dimas memastikan.


"Eh...gak kok Dim. Mungkin karena gue ngantuk aja jadi gue gak loading aja. Lo tenang aja Dim, gue gak mungkin mikir hal lain. Apalagi sesuatu seperti itu, itu sama aja gue akan merusak persahabatan kita selama ini." Jelas Nisa dengan bohong. Jauh dalam hatinya ingin rasanya dia berteriak dan mengungkapkan perasaannya langsung ke Dimas.


"Bagus lah kalau lo memang anggap seperti itu. Gue jadi lega dengarnya." Ucap Dimas jujur.


"Kalau gitu gue masuk duluan ya." Nisa buru-buru pamit dan dicegah kembali sama Dimas.


'Apa lagi sih Dim? Gue gak bisa duduk disini lama-lama sama lo. Bisa-bisa netes nih air mata gue.' Batin Nisa.


"Biar gue antar lo masuk sekalian pamit ke nyokap lo." Ucap Dimas.


"Gak usah Dim. Ntar gue sampein salam lo ke bunda." Tolak Nisa.


"Gue gak enak Nis, kan tadi gue yang jemput lo jadi gue juga yang harus bertanggung jawab untuk mulangin lo." Ucap Dimas.


"Kan lo udah ngantar gue. Jadi tanggung jawab yang mana lagi." Ucap Nisa.


"Kenapa sih lo Nis? Emang salah kalau gue pamit langsung ke nyokap lo?" Tanya Dimas hera.


"Gak salah. Masalahnya ini udah terlalu malam kayaknya nyokap gue juga udah tidur. Jadi lebih baik lo pulang aja Dim. Gue janji bakalan sampein salam lo k nyokap." Ucap Nisa berusaha meyakinkan.


"Oke kalau itu mau lo. Gue pulang sekarang." Ucap Dimas.


"Oke..."


Nisa berlari masuk kedalam rumah...


"Nisa? Ngangetin bunda aja. Dimasnya mana sayang?" Tanya bunda heran.


"Udah pulang bund." Ucap Nisa mengambil segelas air dan meminumnya.


"Tumben Dimas gak pamit sama bunda?"Tanya bunda heran.


"Dimas tadi salam ke bunda aja karena udah malam bund." Ucap Nisa.


"Oh gitu..." Ucap bunda.


"Kalau gitu Nisa naik keatas dulu ya bund. Udah ngantuk banget. Good night bunda..." Nisa mencium sekilas pipi kiri bunda dan langsung berlari menuju ke dalam kamarnya.


Nisa yang sedang menangis sejadi-jadinya didalam kamar. Malam ini dia menumpahkan semua perasaannya melalui air mata yang sedaritadi dipendam. Menangis sampai sesegukan sambil memegagi dadanya yang terasa begitu sakit. Tidak lupa juga ia sudah mengunci pintu kamarnya agar bunda tidak tahu keadaannya saat ini.


Mungkin benar kalau cinta itu tidak harus memiliki dan tidak bisa dipaksakan. Sebenarnya dia sudah tahu resiko dan konsekuensi akibat terlalu menyukai seseorang, tetapi sejak kedekatan mereka selama ini dia sudah sangat berusaha untuk menutupi bahkan menghilangkan perasaannya. Tetap saja sosok seorang Dimas tidak bisa ia hilangkan bagaimanapun caranya. Saat ini dia meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak akan berharap lebih lagi dan sekarang juga dia akan berusaha menghindar jika ketemu dengan Dimas. Salah satu tujuannya adalah untuk melupakan perasaannya.


Setelah puas menangis, ia membasuh wajahnya dengan air berulang kali dan memakai cream mata agar sedikit mengurangi bengkak yang ada dibagian bawah matanya.


"Gue aka lupain lo Dim, gue janji sama diri sendiri akan menghapus lo dari hati gue. Saat ini, besok dan selamanya. Anggap aja gue gak pernah ada perasaan apapun selama ini sama lo. Gue yakin pasti bisa. Malam ini adalah malam terakhir kali gue akan mengeluarkan air mata untuk lo. Kata-kata lo tadi udah buat gue sadar dan gak akan berharap apa-apa lagi." Ucapnya didepan cermin.


Setelah itu, Nisa memejamkan matanya dan berbaring memeluk boneka teddy bear kesayangannya.


Flashback Off


Saat melanjutkan sarapannya dikantor, Nisa kembali mengingat kejadian tadi malam. Ya kejadian yang ingin dia lupain dalam hidupnya. Sampai ia tidak sadar kalau sedaritadi hpnya berbyunyi sangat nyaring. Beberapa panggilan tak terjawab tertera di hp miliknya. Dia tersadar disaat sendok yang ia pegang terjatuh kelantai.


'Kok gue jadi melamun lagi sih, gue gakboleh begini. Ingat tujuan utama lo adalah melupakan Dimas. Jadi mulai sekarang harus berusaha semaksimal mungkin menghindar jika ketemu langsung.' Batin Nisa.


Selang 3 jam kemudian disaat Nisa masih mengecek pekerjaan  di laptopnya...


Tok Tok Tok....


"Masuk." Ucap Nisa tanpa melihat kearah pintu.


"Hai kak Nisa...?"


Suaranya kok kayak gak asing banget ya. Nisapun langsung menoleh kearah pintu...


"KIRANA !!!" Ucap Nisa yang sedikit berteriak.


"Kamu sama siapa ke---?" Ucapannya tiba-tiba terhenti karena disaat itu juga Dimas masuk kedalam ruang kerjanya.


"Maaf kak kalau ganggu kakak." Ucap Kirana.


"Gpp kok." Ucap Nisa tanpa menyapa Dimas yang datang. Nisa malah asik mengobrol dengan Kirana.


"terserah kakakaja deh." Ucap Kirana.


Nisa mengambilkan 2 botol minuman untuk Kirana dan Dimas.


"Maaf ya yang ada tinggal minuman ini didalam kulkas, belum sempat nyetok minuman lagi." Ucap Nisa.


"Santai aja lagi kak. Hari ini kakak sibuk gak?" Tanya Kirana memastikan.


"Lumayan sih..." Ucap Nisa.


"Kamu dengar sendiri kan Kirana... kalau kak Nisa lagi sibuk jadi kamu gak usah ganggu deh." Ucap Dimas.


"Maaf ya Nis, Kirana maksa banget buat datang ke klinik kecantikan kamu.Katanya bosan dirumah. Maaf kalau kita jadi ganggu lo yang lagi kerja." Ucap Dimas lagi yang merasa tidak enak.


"Gpp kok gue ngerti." Ucap Nisa datar ke Dimas. Dan kembali tersenyum kearah Kirana lagi.


"Kamu ingin lihat gak klinik kecantikan punya kakak?" Ucap Nisa.


"Mau banget kak. Emangnya boleh ya berkeliling disini?" Ucap Kirana lagi.


"Boleh dong Kirana sayang. Ayuk ikutin kakak." Ucap Nisa sambil menarik tangan Kirana untuk mengikutinya.


"Wah lumayan besar ya kak." Ucap Kirana takjub.


"Kamu mau treatment gak?Kalau mau bilang aja ya biar kakak temani." Ucap Nisa.


"Gak deh kak, hari ini Kirana ingin jalan-jalan ke mall yang ada di Jakarta sama kak Dimas. Gimana kalau kakak ikut kita aja?" Ucap Kirana.


"Kirana !!! jangan mulai lagi deh. Kamukan lihat sendiri kalau kak Nisa lagi sibuk banget." Ketus Dimas yang sdaritadi mengikuti mereka dari belakang.


"Maaf gue datang tiba-tiba kesini. Tadi gue sempat telepon lo berkali-kali tapi tidak diangkat." Ucap Dimas.


"Gue gak ada lihat hp daritadi Dim." Ucap Nisa.


"Jadi kakak gak bisa ikut kita ya? Gak seru dong berdua aja sama kak Dimas. Yang ada ntar Kirana dimarahin terus sepanjang jalan." Bisik Kirana.


Nisa sebenarnya sangat kasihan melihat Kirana seperti itu. 'Apa gue ikut aja ya? Tapi malas banget deh ada Dimas. Kan gue mau menghindar ketemu sama dia. Tapikan Kirana gak ada salahnya sama gue.' Batin Nisa.


"Kakak bisa ikut tapi cuman sekitar 3 jam aja sayang, habis itu balik lagi kesini. Karena ada teman kakak yang mau ketemu. Jadi gak bisa lama-lama perginya." Jelas Nisa.


"Beneran kak? gpp deh yang penting kakak ikut kita." Ucap Kirana dengan girangnya.


"Lo yakin bisa ikut Nis?" Tanya Dimas.


"Ya seperti yang gue bilang barusan." Ucap Nisa datar.


'Kenapa sih daritadi Nisa cuekin gue. Emang gue salah apa sama dia.' Batin Dimas.


"Kalau gitu ayo dong kak, jangan buang waktu lagi. Kita pergi sekarang..." Ucap Kirana.


"Tapi bentar ya kakak ambil tas dulu." Ucap Nisa.


"Oke..."


Kirana dan Dimas sudah menunggu Nisa didepan klinik kecantikan miliknya. Tidak berapa lama, akhirnya Nisapun keluar...


"Gue bawa mobil sendiri biar gak repotin lo." Ucap Nisa.


"Gak usah Nis, kita bareng aja." Ucap Dimas.


"Gak ! Gue tetap bawa mobil sendiri." Nisa langsung berjalan kerah mobilnya.


"Kenapa sih lo Nis gak mau banget pergi bareng kita?" Tanya Dimas menahan tangan Nisa.


"Karena gue gak mau ngerepotin." Nisa menepis tangan Dimas dan masuk kedalam mobil.


"Terserah lo deh." Ucap Dimas.


'Sikap Nisa aneh banget daritadi.' Batin Dimas yang merasa dicuekin.


"Ayo dong kak buruan masuk." Rengek Kirana dari dalam mobil.


"Gue ikutin lo dari belakang." Ucap Nisa sambil fokus melihat kearah depan.


"Hmmm."


'Gue bukan Nisa yang dulu lagi Dim. Yang bisa lo paksa mengikuti kemauan diri lo. Karena gue udah berjanji sama diri gue sendiri untuk melupakan semua tentang lo. Gue gak mau kalau perasaan gue ini hanya sia-sia aja.' Batin Nisa.


*****


Sampainya disalah satu Mall yang ada di Jakarta, Nisa hanya mengikuti kemana langkah Kirana. Pertama kali Kirana mengajak keluar masuk toko baju, kemudian makeup dan mengajak main timezone. Dan setelah capek main Kirana membeli minuman boba favoritnya. Tidak terasa sudah 2 jam terlewati begitu saja. Nisa sedaritadi hanya akrab mengobrol dengan Kirana saja. Dimas yang sedaritadi diam aja akhirnya mulai angkat bicara.


"Kirana !!! sebenarnya kamu mau kemana sih? Kakak capek seharian ini ngikutin kamu. Lagian kamu daritadi hanya mengajak ngobrol dengan kak Nisa aja. Kakak hanya seperti pajangan aja yang mengikuti kalian dari belakang." Ketus Dimas.


"Jangan marah begitu dong kak, kan Kirana juga hanya sesekali bisa datang ke Jakarta. Bisa jalan-jalan seperti ini. Bukannya Kirana mau nyuekin kakak, tapi kan kakak gak bakalan mengerti kalau Kirana tanyain pendapat soal baju dan makeup." Jelas Kirana sambil merengek kearah Dimas.


"Kalau gitu lebih baik sekarang gantian kamu yang ikutin kakak." Ucap Dimas.


"Emang mau kemana sih kak?" Tanya Kirana. Tanpa menjawab pertanyaan adiknya itu Dimas hanya menuntun jalan. Mau tidak mau mereka hanya mengikuti kemauan kakaknya.


Sekarang mereka tepat berdiri didepan gramedia..."Kok malah kesini kak? Mau cari apaan coba?" Ucap Kirana.


"Kamu kan tahu ini toko apaan. jadi udah jelas kita akan beli buku." Ucap Dimas.


"Dasar kutu buku." Ucap Kirana kesal.


"Kamu bilang apa tadi?" Ucap Dimas.


"Gak kok kak. Ayok kak Nisa kita masuk kdalam..." Ucap Kirana.


"Ayok..." Ucap Nisa.


'Nisa masih aja cuekin gue. Mungkin dia kesal kali ya kalau jam kerjanya diganggu ketempat yang gak penting kayak gini. Tapi kok aneh banget ya. Dia bisa ngobrol dan tertawa sama Kirana tapi gak mau ngomong sama gue. Kalaupun ngomong paling cuman sekedar aja.'Batin Dimas.


Nisa dan Kirana melihat-lihat kebagian novel dan komik, Nisa membaca sekilas beberapa sinopsis novel yang ada disana kemudian mengambil beberapa untuk dibeli. Sedangkan Kirana malah asik membaca komik sambil senyum serta tertawa sendiri. Dimas masih berada tepat dibelakang mereka. Bisa dibilang mengawasi mereka dari belakang sambil mengambil beberap buku yang ingin dia beli. Saat Nisa sedang fokus membaca sinopsis novel sambil berjalan, tidak sengaja dia menabrak seseorang sehingga membuatnya terjatuh dan beberap novel yang dipegang menjadi berserakan.


"Awww..." Ucap Nisa.


"Maaf gak sengaja. Kamu gpp?" Orang tersebut megukurkan tangan untuk membantu Nisa.


"Gpp kok gue bisa sendiri." Nisa menyusun kembali buku-buku yang berserakan dilantai kemudian segera berdiri.


"Kamu Nisa kan?" Ucap orang tersebut.


Saat Nisa melihat orang tersebut, dia teramat kaget dan membuatnya menjadi terbengong seketika.


"KAMU !" Teriak Nisa sambil menunjuk kearah orang tersebut.


"Nisa?" Panggil Dimas dari belakang. Nisa menoleh kearah Dimas dan menatap kearah depan kembali. Dia sedang berada diposisi tengah atau terjepit yang membuatnya tidak bisa kemna-mana lagi. Dia sangat bingung pegi kearah yang mana saat ini.


"Nisa..." panggil orang yang ada didepannya sambil memegang tangan Nisa.


Saat ini Nisa terdiam dan kaget sekaligus. Nisa seperti mati kutu yang tidak tahu harus melakukan apa sanking kagetnya. Dia berusaha menghindari Dimas dan orang yang berada didepannya adalah orang yang sangat dia benci selama ini.


BERSAMBUNG


*****


Gimana pada suka gak? mohon berikan komentarnya yaa...


Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya..


jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.


Terimakasih masih setia membaca novel ini.


Happy Reading guys!