
Semua hal yang tersusun rapi dan terencana yang dilakukan oleh Fery dan Raya tidak berjalan mulus sesuai dengan harapan keduanya. Fery juga terus mengontrol sekaligus mengecek kenapa polisi bisa sampai kerumahnya. Padahal dia sangat yakin semua hal yang dia lakukan tidak ada jejak sama sekali. Dia merasa begitu bingung kenapa tindakannya bisa secepat itu dicurigai oleh polisi. Dia masih mencari tahu kepada adiknya yang tinggal dirumah melalui sambungan telepon. Adiknya menceritkan kalau polisi mau meminta keterangan pada kakaknya itu. Tapi adiknya kurang tahu alasan polisi ini datang kerumah."Hai kak. Kakak kapan pulang? Tadi sore ada polisi yang mencari kakak. Sebenarnya ada apa sih kak? Rio takut sendirian dirumah." Tanya Rio.
"Gak usah banyak tanya. Kalau ada polisi yang datang mencari gue lagi, bilang aja kalau lo gak tahu keberadaan gue dimana. Ngerti?" Ucap Fery tapa basa basi lagi.
"Sebenarnya ada masalah apa kak?" Tanya Rio.
"Gue bilang gak usah banyak tanya. Dan lo jangan lupa kabari gue terus bagaimana perkembangannya." Ucap Fery.
"Jadi Rio bakal sendirian dirumah? kakak tega ya ninggalin Rio sendirian dirumah." Ucap Rio.
"Udah ya. Jangan lupa kasih info lagi..." Ucap Fery tanpa menghiraukan ucapan adiknya barusan.
Fery terus menunggu Raya ditempat mereka janjian. Sudah berselang 1 jam dia disana tapi tidak ada tanda-tanda kemunculan Raya disana. Hp Raya juga tidak bisa juga dihubungi lagi.
"Dasar sialan." Teriaknya keras.
"Lo pikir bisa ingkar janji sama gue. Lo yang udah hancurin hidup gue sekarang. Gue udah jadi buronan berkat lo." Ucapnya kesal.
Berjam-jam di masih menunggu kedatangan Raya tapi semua harapannya sia-sia. Raya tidak muncul sama sekali membuat Fery menjadi sangat murka. Fery berfikir untuk menemui Raya dengan menjebak bosnya itu.
Raya tidak bisa tidur sama sekali memikirkan apa yang bakal terjadi. Dia juga tidak menyangka kalau Fery punya bnyak bukti tentang kerja sama mereka selama ini. Walaupun begitu, dia masih memikirkan cara untuk menghindari untuk bertemu dengan Fery. Dengan tujuan agar polisis tidak akan mencurigai dirinya. Tapi dilain sisi dia juga berfikir kalau bisa saja Fery bertindak nekat utuk melaporkannya pada polisi. Banyak hal yang lagi dia pertimbangkan sendirian didalam kamar sampai dia tidak sadar kalau belum ada keluar makan malam menemui tante Nia. Tidak berapa lama terdengar suara pintu yang diketok berulang kali. Semua pikiran dan lamunannya sedaritadi dia buang jauh-jauh sekarang. Raya tidak ingin melibatkan tante Nia yang sudah sangat baik sama dia selama ini...
Dengan langkah perlahan dia mulai membuka pintu.
"Hai Raya sayang. Kamu tumben didalam kamar aja. Emangnya kamu gak lapar apa?" Tanya tante Nia.
"Raya gak selera makan tante, pengennya langsung istirahat aja." Ucap Raya.
"Jangan begitu dong sayang. Gak baik lo seperti itu ntar kamu bisa sakit. Udah yuk kebawah, malam ini tante udah masakan spagetti kesukaan kamu." Bujuk tante Nia.
Raya tidak enak hati untuk menolak keinginan tantenya ini tapi dia juga tidak dalam mood untuk makan sekarang.
"Kenapa malah diam aja. Bagaimanapun kamu butuh makan sayang apalagi setelah bekerja seharian. Kamu butuh energi untuk besok." Ucap tante Nia.
"Tapi tante Raya lagi..." Tante Nia menutup mulut Raya dengan tangannya dan langsung saja menarik tangan Raya untuk mengikutinya. Raya sudah sangat pasrah sekarang. Tapi disaat makan spagetti buatan tantenya ini makin membuatnya bersemangat untuk makan. Padahal tadinya dia tidak ada selera sama sekali. Masakan tantenya ini mampu membiusnya sementara serta melupakan bbean pikirannya yang tadi.
"Tadi katanya gak selera, tapi kamu makannya tambah terus." Ledek tante Nia.
"Ya mau gimana lagi tan, masakan tante ini enak banget. Susah buat mulut Raya untuk menolak makanan ini." Ucap Raya.
"Huh dasar. Pintar sekali kamu beralasan sayang. Tapi tante senang sih melihat kamu makan banyak seperti ini. Kamu gak lagi banyak masalah kan sayang?" Ucap tante Nia.
"Eh eng-gak kon tan, kok malah nanyak seperti itu?" Tanya Raya bingug.
"Tante perhatiin kamu daritadi kayak lagi banyak pikiran sayang. Kamu bisa cerita apapun kok ke tante. Apa kamu ada masalah dikantor atau hal yang lainnya?" Tanya tante Nia.
"Gak ada kok tante, wajar aja Raya kelihatan banyak pikiran begini. Karena lagi sibuk aja di kantor." Ucap Raya bohong.
"Oh jadi itu alasannya saynag. Ya udah kamu jangan terlalu mikirkan hal seperti itu. Sebaiknya kamu tenangkan pikiran aja toh kita lagi dirumah. Jangan terlalu setres sayang. Ingat kamu masih ada gejala sakit yang bakal kambuh kapan aja semenjak kecelakaan." Tante Nia berusah mengingatkan kejadian itu kepada Raya agar tidak setress.
"Iya tanteku yang baik hati. Raya gak akan mikir hal lain lagi selama dirumah." Ucap Raya.
"Gitu dong sayang. Kamu ingat ya, seburuk apapun kamu....tante tetap menyayangi kamu sayang." Ucap tante Nia.
Raya merasa sangat terhibur mendengar ucapan tante Nia barusan. Dia tidak menyangka kalau tantenya adalah orang yang begitu tulus menyayanginya selama ini. Perasaan tenang ini membuatnya terharu sampai menteskan air mata.
"Kamu kenapa malah nangis sayang? maaf tante kalau salah bicara sama kamu." Ucap tante Nia.
"Tante gak salah kok. Raya merasa terhru aja mendengar ucapan tante barusan. Makasih untuk semuanya tante..Raya gak akan pernah melupakan kebaikan tante selama ini. Tapi sejujurnya Raya gak sebaik yang tante tahu selama ini. Banyak hal yang Raya pendam selama ini sendirian." Ucap Raya.
"Apapun yang kamu lakuin, tante tahu kalau itu hanya obsesi kamu aja untuk sementara dan tante yakin kamu gak akan pernah melakukan hal yang nekat kan sayang?." Ucap tante Nia.
Raya hanya tersenyum tipis mendengar ucapan tantenya. Ada perasaan senang, sedih, gelisah, cemas serta kawatir yang dia rasakan selama ini.
"Raya balik ke kamar ya tan." Ucap Raya.
"Selamat istirahat sayang...jangan pernah merasa sendirianya didunia ini. Tante sangat sayang sama kamu." Ucap tante Nia.
"Selamat istirahat juga ta. Malam." Raya buru-buru masuk kembali kedalam kamarnya.
*****
"Apa sih Vin maksud kamu? aku sengaja nungguin kamu dirumah untuk tahu alasannya." Ratu mendesak Kavin untuk menceritakan semua hal yang terjadi hari ini.
"Aku bakal bilang alasannya tapi bukan sekarang sayang. Masih banyak yang harus aku urus sekarang." Ucap Kavin.
"Tega banget sih kamu Vin, aku pengen dengar sekarang." Ucap Ratu.
"Jangan paksa aku untuk cerita sekarang sayang. Kamu juga jangn terlalu banyak mikir dulu. Ingat kata dokter kamu gak boleh terlalu stress." Ucap Kavin.
"Kalau kamu gak cerita setidaknya kasih tahu aku bagaimana kondisi salah satu satpam kita yang kecelakaan tadi?" Ratu masih saja gak mau berhenti bertanya.
Kavin menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan istrinya ini.
"Satpam kita sekarang sedang dirawat dirumah sakit. Kondisinya saat ini udah baikan. Jadi kamu gak perlu khawatir lagi sayang. Dan mobil kamu udah aku masukkan ke bengkel untuk diperbaiki." Jelas Kavin.
"Oh gitu. Syukurlah kalau begitu Vin. Aku khawatir banget tahu Vin." Ucap Ratu.
"Jadi sekarang kamu gak perlu khawatir lagi ya sayang. Masalah yang lain ntar aku aja yang urusin." kavin memegang kedua pundak istrinya untuk lebih meyakinkan.
Ratu mengangguk setuju dan langsung memeluk Kavin.
"Maaf ya kalau aku marah-marah pada saat nelepon kamu tadi. Tapi aku percaya kok kalau kamu hanya ingin yang terbaik buat aku. Makasih sayang.." Ratu membenamkan wajahnya didalam pelukan Kavin. Kavin merasa sangat lega karena Ratu tidak menanyakan hal-hal yang lain.
'Nanti aku pasti akan ceritain semua sama kamu sayang setelah masalah ini cepat berakhir. Tapi aku bersyukur karena kamu baik-baik aja. Aku akan segera menghukum orang yang berusaha menyakiti kamu sayang.' Batin Kavin.
Ratu mengajak Kavin untuk makan malam. Kavin membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum turun kebawah. Saat ini mereka makan malam bersama sama kedua orangtua Ratu.
*****
Fery mulai menjalankan aksinya untuk menjebak bosnya itu. Sepulang kerja Raya, dia langsung bersembunyi dibelakang mobil Raya yang ada diparkiran.
"Sore bos. gak nyangka ya bos bisa terlihat santai banget begini." Fery keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung menghampiri bos nya itu.
"Elo? ngapain disini? Raya langsung mengajak Fery ketempat yang lebih sepi.
"Udah jelas kan bos. SEmalam bos gak datang untuk memberikan uang yang sudah dijanjikan. Jadi saya kesini mau menagih uang tersebut." Ucap Fery.
"Gue juga udah cukup jelas juga sama lo kalau gue gak akan bayar orang yang sudah gagal." Ucap Raya.
"Gak bisa begitu dong bos. Sesuai perjanjian kita sebelumnya bos harus memberikan uang sebesar 50 juta kepada saya. Bos yang menyuruh saya untuk membuat mobil orang lain blong remnya agar orang tersebut mengalami kecelakaan kan." Fery berusaha memancing bosnya itu.
"Gue emang orang yang nyuruh lo tapi lo yang gak becus bekerja. Jadi untuk apa gue harus bayar. Gue gak mau lihat muka lo lagi, jadi sebiknya lo pergi aja. dan 1 hal lagi, gak usah mengancam gue. Gue yakin kalau lo gak mungkin berni nyebarkan semua bukti itu ke polisi.sama aja lo menyerahkan diri lo sendiri kan. Jadi ancaman lo gak berlaku sama gue." Ucap Raya.
"Saya tidak menyangka kalau bos orang yang licik dan ingkar janji seperti ini. Tapi saya gak sebodoh yang bos pikir selama ini." Fery tersenyum sinis kearah raya sambil menunjukkan hasil rekaman percakapan mereka berdua sedaritadi. Fery juga mendengarkan rekaman suara itu kepada Raya.. Raya terlihat begitu emosi saat ini, dia merasa dijebak oleh Fery.
"Berengsek lo." Ketus Raya.
"Orang licik harus dilawan dengan licik juga kan bos. Saya gak bakal biarin bos bisa tenang dan santai seperti sekarang." Ucap Fery.
"Terus emangnya lo bisa apa?' Ucap Raya.
"Saya bisa menyebarkan semuanya ke polisi. Sebelum itu saya akan mengirmkan bukti ini kepada orang yang bersangkutan. Yaitu orang yang saya celakai." Jelas Fery.
"Emangnya lo punya keberanian untuk semua itu? yang ada lo juga bakal penjara." Ucap Raya.
"Saya bisa saja melakukannya." Ucap Fery.
"Jadi apa mau lo?" taya Raya yang tidak tahu lagi mau berkata apa
"Begitu dong bos. Padahal saya hanya mau dibayar saja." Ucap Fery.
"Oke kalau itu mau lo. nanti malam gue akan kasih uang itu." Ucap Raya.
"Gak perlu nanti malam bos. Saya butuh uang itu sekarang." Ucap Fery.
"Oke. Lo bisa ikut naik ke mobil gue." Ucap Raya.
Disaat Raya ingin pergi, tidak sengaja dia bertabrakan dengan Adel yang mau pulang kerumah. Mereka bertabrakan dan saling jatuh...
"Aww sakit." Ucap Adel.
"Kalau jalan lihat-lihat dong." Ketus Raya.
"Lo juga gak lihat gue kok. Jadi jangan menyalahkan sepihak aja dong." Ucap Adel.
"Dasar cewek aneh." Ucap Raya.
"Lo itu yang aneh bin ajaib. Kayaknya gue apes banget bisa satu kantor sama lo." Ucap Adel.
"Apa lo bilang barusan?" Raya hampir saja mau menmpar pipi Adel tapi dicegah oleh atasannya mereka. Siapa lagi kalau bukan pak Harry.
"Kalian ini kenapa sih? kayak anak kecil aja berantam disini. Kenapa kamu Raya mau menampar Adel?" Tanya pak harry menghakimi keduanya.
"Adel menabrak saya sampai terjatuh pak." Ucap Raya.
"Lo juga nabrak gue." Ucap Adel.
"Maslah sepele seperti itu kenapa sampai mau menampar Adel?" Tanya pak Harry.
Raya benar-benar merasa sangat sial hari ini karena bertemu dengan dua orang yang membuat harinya menjadi kacau.
"Saya tidak ingin melihat kejadian seperti ini terulang kembali. Kalian ingat itu !" Ancam pak Harry.
"Maaf pak." Ucap Raya.
"Bukan sama saya minya maafnya. Kalian berdua yang harus saling meminta maaf. Paham?" Tanya pak Harry.
Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka berdua bersalaman sambil saling meminta maaf satu sama lain. Padahal didalam hati masingmasing mereka berdua saling memaki. Tapi dihadapan atasannya, mereka bisa berakting menjadi orang yang penurut.
'Kalau bukan karena pak Harry, gue ogah mau baikan apalagi minta maaf sama lo.' Batin Adel.
'Jangan senang dulu lo. Gue minta maaf juga karena terpaksa. Gak sudi gue minta maaf sama salah satu orang yang gue benci.' batin Raya.
"Ada apa sama tatapan kalian berdua?" Tanya pak Harry.
"Kalau begitu kalian berdua udah bisa pulang sekarang." Ucap pak Harry.
Adel pergi menuju ke mobil parkirannya, Raya juga masuk kedalm mobil bersama dengan Fery. Sekilas Adel memperhatikan orag yang bersama dengan Raya sekarang.
'Kok gue merasa aneh banget ya sama tingkah Raya sama cowok itu. Ah ngapain juga gue urusin. Gak penting juga !!!' Batin Adel.
Setelah kepergian mobil sekretarisnya Raya, pak Harry mengetok kaca mobil milik Adel...
Tok...Tok...Tok...
Adel membuka kaca mobilnya sedikit saja.
"Ada apa ya Harry?" Tanya Adel.
"Kamu marah sama aku ya Del?" Tanya Harry.
"Pertanyaan aku barusan kok gaj dijawab ya. Kalau gak ada yang penting lagi aku mau pulang sekarang." Ucap Adel.
"Aku mau ngajak kamu nonton nanti malam. Kamu mau kan Del?" Tanya Harry.
"Sogokan kamu gak berlaku Harry. Sebaiknya aku pulang aja ya." Ucap Adel.
"Tunggu dulu... Kamu benar gak mau nonton sama aku?" Tanya Harry.
"Gak tuh, aku lagi gak mood aja nonton sama kamu." Ucap Adel.
"Kamu marah sama aku karena masalah tadi ya? karena aku gak belain kamu." Ucap Harry.
"Ngapain juga aku harus marah. Wajar aja kamu begitu kan kamu atasan kmi diperusahaan ini." Ucap Adel memalingkan wajahnya.
"Terus kenapa kamu gak mau aku ajak nonton?" Ucap Harry yang masih saja usaha.
"Karena aku lagi malas aja dn gak mood. Itu alasannya. Udah ya pak Harry yang terhormat, saya mau pulang dulu. Jadi saya minta bapak minggir." Ucap Adel.
Harry tidak bisa berkata apa-apa lagi karena sudah ditolak oleh Adel. Tapi semakin banyak penolakan semakin dia terus mendekati Adel. Dia hanya membiarkan Adel pergi dan diam mematung saja. Tidak lama kemudian, supirnya menghampiri untuk mengajaknya pulang.
'Adel ! Adel... sampai kapan sih kamu menolak aku terus. Tapi hal itu gak akan pernah merubah rasa sayang aku ke kamu.' Batin Harry saat diperjalanan pulang. Dia tersenyum setiap mengingat hal lucu dan semua penolakan yang Adel lakukan.
Sampainya di bank, Raya mengambil uang melalui atm miliknya sebesar 20 juta. Karena layanan di bank udah tutp, dia tidak bisa mengambil tunai sebanyak yang diinginkan Fery.
"Ini uangnya, besok gue akan kasih cash ke elo." Ucap Raya.
"Oke bos. Makasih atas kerja samanya." Ucap Fery.
"Gak usah basa-basi lo. Sekarang lo udah bisa turun dari mobil gue." Ucap Raya.
"Jangan galak-galak gitu dong bos. Saya juga mau turun kok sekarng." Ucap Fery.
"Jauh-jauh lo dari hidup gue. Awas aja kalau lo berani muncul lagi setelah semuanya gue lunasin." Ucap Raya.
"Tenang aja bos. Rahasi bos aman kok sama saya." Ucap Fery.
Raya langsung menginjak gas mobilnya dan pergi sekencang mungkin. Rasanya ingin sekali dia menjerit sekarang tapi tidak bisa dia lakukan. Dia hanya bisa mmendam semua beban dalam hatinya. Seperti terjebak dalam permainan yang dia lakukan sendiri. Perasaannya saat ini sulit dia ungkapkan kepada orang lain.
*****
Selama 3 hari berturut-turut, Raya tidak merespon panggilan telepon serta pesan dari Fery. Semua itu sengaja dia lakukan untuk membuat Fery menjauh dari hidupnya. Tapi Fery tidak akan menyerah secepat itu karena masih ada uang sebesar 30 juta lagi yang dijanjikan oleh bosnya.
Polisi sampai sekarang masih terus mengawasi rumah Fery. Untuk itu Fery tidak pernah bisa pulang kerumah. Dia takut kalau dia pulang, polisis akan segera membawanya. Sampai sekarang Fery belum mengerti kenapa polisi mencarinya. Fery menjalankan rencana untuk membuat bosanya itu menjadi terancam. Hari ini dia datang ke tempat tinggal Raya...
"Kamu siapa?" Tanya tante Nia.
"Saya temannya Raya. Bisa saya bertemu dengannya." Ucap Fery.
"Oh gitu. Tapimaaf Rya belum pulang kerja." Ucap tante Nia.
"Kalau begitu biarkan saya menunggunya disini. Ada hal yang penting yang harus saya sampaikan sama Raya." Ucap Fery.
"Boleh saja. Kalau begitu silahkan masuk." Ucap tante Nia.
Sebenarnya tante Nia tidak kenal dengan orang yang datang untuk menemui Raya tersebut. Tapi kalau orang ini sampai tahu tempat tinggalnya, berarti orang ini kenal dekat dengan Raya. Itulah isi pikiran tante Nia saat ini.
Selang 20 menit, Raya sampai dirumah. Dia tidak menyadari kalau ada seorang tamu datang kerumahnya saat ini.
"Raya kamu udah pulang. Ini ada teman kamu udah nungguin sedaritadi." Ucap tante Nia.
Raya begitu terkejut dengan kedatangan Fery kerumahnya. Sampai-sampai dia menjatuhkan tas yang dipegangnya sedaritadi.
"Ngapain lo disini ?" Tanya Raya tanpa basa basi.
Fery hanya tersenyum melihat reaksi bosnya saat ini.
"Kok kamu bicara seperti itu sama teman kamu sayang." Ucap tante Nia.
'Hampir aja gue lupa kalau ada tante Nia disini. Kalau gitu gue gak boleh kelihatan panik begini idepan tante Nia.' Batin Raya.
Saat Fery berdiri langsung saja Raya menarik tangannya untuk mengikutinya keluar dari rumah.
"Maaf tante, nanti Raya akan jelasin." Buru-buru Raya keluar.
"Santai aja dong bos. Kenapa panik banget sih. Kan saya hanya bertamu aja. Sesama rekan kerja harus saling bertemu kan seharusnya." Ucap Fery.
"Diam lo. Apa sih sebenarnya tujuan lo datang kesini?" Bentak Raya.
"Saya hanya mau menagih janji bos aja. Bos masih punya hutang sama saya." Ucap Fery sedikit keras.
"Lo tunggu sebentar." Raya mengambil uang yang sudah dia ambil tadi yang dia taruh didalam mobil.
"Inikan yang lo mau." Raya menunjukkan amplop yang ditangannya.
Saat Fery ingin mengambil amplop tersebut, Raya malah menahannya.
"Lo hapus semua bukti tentang gue sekarang. Kalau gak. Gue gak akan kasih uang ini ke elo. Lakukan didepan gue sekarang."Ancam Raya
Fery mengambil hp, dia menghapus semua bukti tanpa tersisa didepan Raya.
"1 hal lagi, lo harus hapus juga nomor kontak gue sekarang juga." Ucap Raya.
Semua hal Fery lakukan didepan bosnya. Raya memberikan uang yang ada didalam ampolp tersebut kepada Fery.
"Ini uangnya. Jangan pernah muncul lagi dihadapan gue. Pergi lo sekarang dari sini." Usir Raya.
"Oke makasih banyak bos." Ucap Fery.
Fery merasa sangat puas karena ancamannya kali ini berhasil membuat bosnya sedikit panik.
Raya masuk kembali kedalam rumah, langsung saja tante Nia menghampirinya...
"Tadi itu teman kamu kan sayang?" Tanya tante Nia.
"Cuman kenal sekedar aja kok tante." Ucap Raya.
"Tapai diia kok bisa tahu..." Raya langsung memeluk tantenya ini.
"Raya gak mau bahas dia tan. Udah lama ya Raya gak dipeluk begini sam tante." Ucap Raya manja.
"Kamu ini ya kalau lagi manja gak ada yang bisa mengalahkan." Ucap tante Nia.
"Saat ini Raya butuh pelukan hangat dari tante." Ucap Raya.
Tante Nia membalas pelukan Raya dan semakin memper eratnya.
"Jangan pernah kamu merasa sendiri ya sayang, disini ada tante yang selalu sayang sama kamu." Ucap tante Nia.
Raya hanya bisa mengangguk saja dan tanpa sadar menjatuhkan air mata.
'Makasih untuk semuanya tante Nia. sekarang Raya udah mersa lebih baikan berkat pelukan ini.' Batin Raya.
Selang 2 minggu kemudian, Fery masih saja menghubungi dan mengancam Raya dimanapun dia berada. Fery mengirim surat kalen dirumah dan dikantor. Tapi tetap saja membuat Raya tidak mau menemuinya lagi. Karena merasa dicuekin oleh bosnya, saat ini dia mencegat bosnya ditengah jalanan yang sunyi. Raya merasa sangat takut jadi dia tidak berani turun dari mobil. Fery memecahkan kaca mobil dan menarik paksa bosnya keluar...
Tangan Raya sedikit terluka terken pechan kaca mobil tersebut.
"Gue gak ada urusan lagi sama lo. Jadi gue mohon lo jangan ganggu hidup gue lagi." Ucap Raya.
"Gak bisa gitu dong bos. Saya sampai detik ini menjadi buronan polisi berkat bos. Jadi bos harus membantu saya." Ucap Fery.
"Bantu apa?" Tanya Raya.
"Saya butuh banyak uang untuk kabur ke kota lain." Ucap Fery.
"Gue gak punya uang lagi." Ucap Raya.
"Saya gak peduli bos dapat uang darimana. Saya minta uang 100juta untuk pergi." Ucap Fery.
"Gue gak akan pernah kasih uang lagi sama lo." Ucap Raya.
"Bos yakin gak akan pernah kasih ke saya." Ucap Fery.
"Yakin." Ucap Raya dengan pasti.
Setelah ucapannya itu, Raya buru-buru masuk kedalam mobil. Tapi Fery membius Raya melalui sapu tangan yang dia letakkan dihidung bosnya. Raya benar-benar pingsan saat ini.
Setelah mulai sadar, Raya sudah ada di....
*****
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading Guys!