
Dokter melakukan USG dan mendengarkan detak jatung bayi yang didalam perut...
"Semuanya normal ajakan dok?" Tanya Kavin disaat istrinya sedang diperiksa.
"Normal pak, semuanya sesuai dengan masa kehamilan ibu,..." Ucap dokter.
"Jenis kelaminnya udah bisa diketahui kan dok?" Tanya Ratu.
Dokter kembali melakukan pemeriksaan...
"Jenis kelaminnya laki-laki bu. Sejauh ini gak ada keluhan apa-apa lagi kan bu?" Tanya dokter memastikan ulang.
Ratu melihat ekspresi suaminya disaat dokter memberi tahu kalau jenis kelamin anak mereka laki-laki. Ratu tersenyum dan merasa senang sedangkan Kavin terlihat sedikit kecewa. Karena dia begitu ingin memiliki anak perempuan. Mereka sempat berpandangan sebentar kemudian Ratu menjawab pertanyaan dokter...
"Gak ada keluhan apa-apa kok dok." Ucap Ratu.
"Jangan terlalu capek dan stres ya bu karena akan berdampak sama bayinya. Pikiran ibu harus selalu tenang. Buang semua pikiran negatif." Ucap dokter.
"Tuh kamu dengar apa kata dokter sayang.." Ucap Kavin.
"Aku dengar kok Vin.." Ucap Ratu.
"Iya dok, makasih ya." Ratu dan Kavin bersalaman dengan dokter tersebut.
Setelah selesai diperiksa, Ratu dan Kavin langsung menebus vitamin yang diresepkan oleh dokter. Setelah itu, Kavin dan Ratu bergegas pulang kerumah.
Disepanjang perjalanan, Ratu menyempatkan waktu untuk menggoda suaminya...
"Anak kita cowok lo sayang, aku kok takut ya bakal kayak kamu genitnya." Goda Ratu.
"Bukannya mamanya senang ya kalau digenitin sama papanya." Kavin menggoda balik dirinya.
Ratu yang berniat menggoda malah mati kutu karena tidak menyangka kalau Kavin membalas ucapannya barusan.
"Kok malah diam? kamu gak lagi ngambek kan sayang karena aku godain balik?" Tanya Kavin.
"Ikh Kavin...tau ah..." Ucap Ratu.
"Berarti tadi kamu sengaja ya untuk mancing aku? kamu maunya aku gak balas ucapan kamu kan? kamu maunya aku yang kesal kan sayang?" Ucap Kavin.
Ratu menatap Kavin dengan tajam seakan suaminya bisa membaca semua isi hati dan pikirannya saat ini. Kavin masih saja fokus menatap kearah jalanan. Hari ini pak Budi yang menyetir mobil jadi Kavin dan Ratu bisa mengobrol dengan santai karena duduk dibelakang.
'Gak seru nih Kavin, padahal gue sengaja mau godain dia,ini mah yang ada gue yang digodain. Kok jadi kebali gini sih keadaannya.' Batin Ratu.
"Kamu kok diam aja sayang? Masih mikir kata-kata yang tepat ya untuk balas ucapan aku barusan? atau semua yang aku bilng tadi memang benar ?" Ucap Kavin dengan menjahili Ratu. Kavin mencubit lembut pipi istrinya.
"Kamu kalau lagi begini buat aku makin gemas sama kamu..." Ucap Kavin.
"Udah dong Vin. Hobi banget cubitin pipi dan jahilin aku terus. Kamu gak malu apa pak Budi dengarin obrolan kita sedaritadi." Ucap Ratu.
"Kenapa harus malu sayang. Jangan kan didepan pak Budi, didepan seluruh dunia juga aku gak akan malu. Kan kamu istri aku." Ucap Kavin.
Pak Budi hanya bisa menggelengkan kepala melihat kedua majikannya yang sedang mersa-mesraan didalam mobil. Tapi pak Budi juga merasa lega karena bisa menyaksikan kebahagiaan mereka. Ratu hanya tersenyum dan tersipu malu mendengar ucapan suaminya. Sedangkan Kavin merasa sangat senang melihat senyuman manis istrinya yang begitu dia rindukan belakangan ini. Karena begitu banyaknya kejadian, Kavin hanya melihat rasa takut dan cemas dari pandangan istrinya selama ini. Tapi hari ini dia merasa sangat lega karena Ratu seakan melupakan rasa cemas dan khawatirnya.
'Andai aja kamu bisa tersenyum setiap hari seperti ini sayang, aku akan sangat bersyukur dan bahagia. Aku akan selalu melindungi keluarga kecil kita. I love you Ratuku..' Ucap Kavin dalam hati.
"Kamu tadi kenapa gak senang saat dokter bilang jenis kelamin anak kita Vin?" Tanya Ratu penasaran.
"Aku hanya merasa tersaingin sama anak kita nanti. Padahal aku pengennya gak ada yang bakal menyaingi ketampananku." Ucap Kavin dengan PD nya.
"Udah jelas banget kalau anak kita pasti melebihi kamu sayang." Ucap Ratu.
"Aku bercanda kok sayang. Apapun jenis kelaminnya, aku merasa sangat senang dan bersyukur karena Tuhan udah kasih kita kepercayaan." Jelas Kavin.
"Kamu benar Vin. Aku setuju sama omongan kamu barusan." Ucap Ratu.
"Kamu dengar sayang, papa sama mama sudah begitu menyayangi kamu, kamu harus sehat terus sampai lahiran yan sayang." Kavin mengelus lembut perut Ratu sekaligus menciumnya sekilas.
"Jangan bersaing sama papa nanti ya sayang. Kamu pasti lebih tampan sayang. Mama udah gak sabar pengen ketemu kamu." Ucap Ratu.
"Jangan dengarin mama kamu sayang. Papa gak mungkin bersaing sama anak papa sendiri kan." Ucap Kavin gak mau kalah.
"Apa jenis kelaminnya non?" Tanya pak Budi.
"Cowok pak.." Ucap Ratu.
"Selamat ya non bakal punya jagoan kecil di rumah. Saya doain semoga sehat sampai lahiran ibu dan bayinya. Aminn.." Ucap pak Budi.
"Amin...makasih pak." Ucap Ratu.
Kavin menyenderkan kepalanya pada bahu istrinya dengan manja...
"Dimana-mana tuh istri yang manja bukannya suami." Bisik Ratu.
"Suami kamu juga butuh diperhatiin sayang." Ucap Kavin sedikit berbisik sambil memejamkan matanya.
Ratu membiarkan Kavin bersandar dibahunya.
'Maaf ya sayang selama ini aku udah ngerepotin kamu terus. Kamu selalu peduli dan sabar menghadapi sifat maupun sikap aku yang kadang nyebelin. Aku juga sampai lupa memberikan perhatian sama suamiku sendiri. Aku baru sadar kalau Kavin pasti kelelahan belakangan ini. Sepulang kerja, dia selalu meluangkan waktunya apalagi semenjak kejadian itu. Kavin selalu menjaga ekstra karena aku yang susah tidur dan bermimpi buruk terus. Makasih ya sayang untuk semua rasa sabar, tulus, peduli selama ini. Mulai sekarang aku janji akan lebih peduli lagi sama kamu.' Batin Ratu.
Sampainya didepan rumah, Ratu mulai membangunkan suaminya dengan lembut...
"Sayang bangun.." Ratu mengelus lembut pipi Kavin.
"Vin bangun dong, kita udah sampai nih." Ucap Ratu.
Perlahan Kavin mulai membuka matanya.
"Kalau kamu masih ngantuk, lanjut tidur didalam aja." Ucap Ratu.
Kavin mengusap-usap kedua matanya yang masih berat itu kemudian mereka berdua keluar dari mobil. Benar saja sampainya didalam rumah, Kavin mengganti pakaian santai dan kembali rebahan diatas tempat tidur karena ih mengantuk. Ratu hanya membiarkan Kavin beristiraan, sedangkan Ratu turun kebawah untuk makan.
*****
"Jadi gimana? Kmu udah cari tahu semuanya?" Tanya Raya sambil melipat kedua tangannya. Hari ini dia bertemu dengan orang suruhannya itu. Fery disuruh mencari tahu semua info tentang Ratu dan keluarganya.
"Sudah beres bos. Didalam sini sudah dijalaskan semua informasi yang bos suruh." Ucap Fery.
Raya mengambil dokumen yang ada ditangan Ferry dengan paksa.
"Jangan lupa janji bos." Ucap Fery mengingatkan.
"Kalau giliran uang aja semangatnya luar biasa." Ucap Raya.
Raya menegeluarkan amplop yang bersisi uang kepada Fery.
"Ini uangnya..." Raya meletakkan amplop itu diatas meja. Tanpa menunggu lagi, Fery langsung memeriksa dan menyimpannya.
"Terima kasih bos. Kalau ada perlu bantuan lagi jangan lupa hubungi saya ya bos." Ucap Fery.
Tanpa menghiraukan ucapan Fery, Raya menyuruh Fery untuk segera pergi dari cafe itu. Mereka sengaja bertemu di sebuah cafe dengan tujuan agar orang lain tidak ada yang mencurigainya. Kalau janjian ditempat yang sepi, orang lain akan lebih curiga. Raya sudah memikirkan semua hal dengan sangat matang dan tersusun rapi. Dia tidak ingin ada kesalahan sedikitpun.
"Berhubung kita lagi disini, saya boleh pesan makanan kan bos." Ucap Fery.
"Gue bilang lo pergi sekarang." Ucap Raya.
"Sebentar aja kok bos. Boleh ya? Saya laper banget." Ucap Fery.
Raya melihat Fery sekilas dan juga memperhatikan keadaan didalam cafe tersebut...
'Kayaknya aman aja sih, gak ada yang ngenalin gue disini. Ya udah drh untuk kali ini gue setuju aja makan bareng dia. Lagian gue gak mau sendirian juga disini.' Batin Raya.
"Hmm...terserah lo aja. Ingat ya jangan lama-lama." Ucap Raya.
"Kalau bos mau langsung pulang...silahkan aja." Ucap Fery.
"Kok lo yang jadi ngusir gue. Gue juga laper makanya gue ajak lo ketemu di cafe." Ucap Raya.
"Maaf bos..." Ucap Fery
"Udah deh sebaiknya lo diam aja. Gue yang akan pesankan makanan." Ucap Raya.
Raya memesan makanan yang lumayan banyak untuk mereka berdua. Raya benar-benar merasa sangat lapar karena seharian sangat sibuk dikantor dan tidak sempat istirahat karena deadline pekerjaannya yang tidak bisa ditunda.
Selang 20 menit, makanan pesanan merekapun datang, Raya dan Fery makan dengan lahap.
Dimas dam Nisa masuk kedalam cafe tersebut, Nisa mengikuti Dimas untuk mengecek kondisi cafenya saat ini. Cafe Dimas dimalam ini lumayan ramai. Nisa mengecek beberapa hal termasuk pembukuan cafe tersebut, sejak mereka pacaran. Nisa selalu membantu Dimas untuk mengecek segala hal tentang usaha kekasihnya itu. Walaupun hanya diperiksa 3 sampai 4 kali dalam sebulan karena kesibukan mereka masing-masing.
Setelah merasa semuanya normal dan berjalan sesuai, Dimas mengajak Nisa untuk pulang...
"Udahan yuk kita pulang Nis. Kamu juga harus istirahat." Ucap Dimas.
"Oke..." Ucap Nisa.
Dimas menggenggam tangan Nisa dan berjalan berdampingan. Nisa cukup kaget dengan perlakuan Dimas. Karena yang dia tahu kalau Dimas biasaya tidak pernah menunjukkan didepan orang lain. Biasanya juga hanya dia yang berinisiatif duluan. Disaat ini dia merasa kaget sekaligus bingung dengan Dimas. Tapi dia tidak mau mengambil pusing, mungkin Dimas udah berubah dan mulai menunjukkan perasaannya. Itulah yang ada dipikirannya saat ini, dia sangat senang karena Dimas tidak malu lagi.
Nisa tidak sengaja melihat Raya sedang makan dengan seseorang. Dia segera bersembunyi, Dimas merasa bingung melihat tingkah Nisa. Dimas mengarahkan pandangannya kearah pandangan yang sama. Dimas melihat 2 orang yang lagii makan disana...
"Kamu lihatin siapa sih Nis? kok mendadak sembunyi begini? Kamu kenal sama orang yang makan disana?" Tanya Dimas sambil mmegang tangan Nisa.
"Husstt... jangan keras-keras Dim. Aku lagi mastiin sesuatu dulu. Nati aku ceritain ke kamu.." Ucap Nisa.
Nisa memandang dengan seksama Raya dan orang yang makan dengannya. Sepertinya gak mungkin kalau cowok itu punya hubungan yang serius dengan Raya. Karena terlihat dari tampilannya bukan selera Raya.
"Ngapain kita sembunyi disini Nis? kamu belum mau pulang?" Tanya Dimas.
"Bentar lagi Dim." Ucap Nisa.
"Sini, kamu ikut aku sebentar."Dimas menarik tangan Nisa untuk segera mengikutinya. Nisa semakin kesal dengan Dimas, padahal udah jelas banget kalau dia lagi bersembunyi untuk menguping pembicaraan Raya dengan orang tersebut jadi sia-sia.
"Apaan sih Dim. Kan aku udah bilang kalau aku mau memastikan sesuatu. Kenapa kamu malah bawa aku kesini." Ketus Nisa.
"Sebelum kamu marah sama aku, lebih baik kamu lihat itu dulu." Dimas menunjukkan cctv yang ada diruangan tersebut.
"Maksudnya?" Tanya Nisa yang masih belum mengerti juga.
"Kamu yakin gak ngerti Nis?" Tanya Dimas.
"Ya udah kalau kamu gak mau bilang, aku keluar aja." Ucap Nisa.
"Kamu bisa nonton dari cctv ini Nis. Kamu bisa memperbesar dan mendengarkan obrolan mereka dari sini. Jadi kamu gak perlu repot-repot untuk menguping sambil sembunyi kayak tadi." Jelas Dimas.
"Oh iya ya? Untung aku punya pacar yang pintar. Maaf aku gak mikir sampai sejauh itu." Dimas memperlihatkan cctv dan memperjelasnya ke Nisa. Nisa langsung duduk untuk menonton.
Dari cctv terlihat kalau tidak ada hal yang aneh seperti yang Nisa pikirkan. Hanya terlihat dua orang yang asik menikmati makan, setelah itu Raya pergi ke kasir dan orang yang makan dengannya sudah keluar duluan.
"Kayaknya kamu aja yang berfikir terlalu negatif Nis. Mereka berdua cuman makan aja disini. Seperti yang kamu lihat barusan." Ucap Dimas.
"Mungkin kamu benar Dim, aku aja yang terlalu curiga sama Raya." Ucap Nisa.
"Emang siapa sih dia? kenapa kamu berfikir negatif tentang dia?" Tanya Dimas.
"Dia adalah orang yang pernah menjebak Ratu sewaktu SMA dulu. Dia yang membuat hubungan Ratu dan Kavin menjadi salah paham. Dia tuh jahat Dim..." Ucap Nisa.
"Mungkin dia udah berubah Nis, jangan pernah menilai orang lain dengan pikiran jelek. Kita gak boleh terus-menerus sudzon sama orang lain." Ucap Dimas.
"Ya deh pak Dimas yang hobinya ceramahi pacarnya ini. Aku selalu kalah debat kalau kamu udah ceramah panjang lebar begini." Ledek Nisa.
"Kamu tuh ya kalau di kasih tahu malah ngeledekin." Ucap Dimas
"Iya iya aku dengarin kamu kok Dim. Udah yuk kita pulang aja. Aku mau istirahat nih..." Ucap Nisa.
"Oke.." Ucap Dimas.
Dimas dan Nisa segera berjalan ke parkiran mobil, Dimas membukakan pintu mobil untuk Nisa dan mempersilahkannya untuk masuk kedalam.,
'Kenapa sih Dimas daritadi aneh banget, tumben-tumbenan dia bukain pintu untuk gue. Tapi gpp deh gue juga menikmati perlakuan manis dari dia kok. Mungkin dia hanya memperlakukan gue dengan baik aja kali.' Batin Nisa.
Disepanjang perjalanan, Nisa tidak bersuara. Karena penasaran Dimas melihat kearah samping. Dia melihat kalau pacarnya sudah tertidur lelap. Dimas menjadi merasa bersalah karena sudah membuat Nisa pulang selarut ini untuk membantunya mengecek cafe.
Dimas berjanji untuk tidak merepotkan pacarnya lagi. Dia harus bisa mengontrol dan mengecek cafe miliknya sendiri. Dia harus banyak belajar tentang keuangan dan laporan.
Karena tidak tega untuk membnagunkan Nisa, Dimas secara perlahan menggenong Nisa dan meminta bantuan bunda Nisa untuk membukakan pintu kamar. Perlahan dia merebahkan tubuh Nisa diatas tempat tidur kemudian menyelimutinya. Setelah itu bunda mengantar Dimas sampai depan rumah.
"Nak Dimas hati-hati ya diperjalanan." Ucap bunda.
"Iya tante." Sehabis bersalaman, Dimas langsung masuk kedalam mobil dan pergi.
*****
Didalam kamar yang terkunci, Raya membuka dokumen yang diberikan orang suruhannya tadi...
Dia membaca semua dokumen serta beberapa foto dan mulai mengingat kembali. Awalnya dia heran kenapa suaminya Ratu itu pernah satu sekolah denganya. Dia mulai mengingat dengan keras. Perlahan bayangan Kavin mulai dia ingat. Tapi dia merasa bingung sendiri. Apalagi tampilan Kavin sekarang sangat berbeda.
Apa benar ini orang pernah dia kenal sebelumnya. Tapi dimana dan kenapa orang tersebut sangat tidak asing baginya. Berbagai spekulasi muncul dari pikirannya. Bagaimanapun juga belakangan ini dia masih dalam masa pemulihan. Banyak hal yang dia lupakan karena kecelakaan yang lumayan parah dan membuatnya koma selama sebulan lebih. Disaat bangun, ada hal yang dia ingat ada banyak juga yang dia lupakan. Raya juga masih rajin untuk berkonsultasi dengan dokter perkara tentang ingatan yang hilang. Dokter hanya menyuruh dirinya untuk perbanyak beristirahat karena itu masih di batas wajar atas apa yang pasiennya alami. Dibutuhkan ketenangan dan rasa sabar agar dia bisa sedikit demi sedikit untuk mulai mengingat sesuatu hal.
Dokter sangat meyakini kalau suatu saat dia bisa ingat kembali. Tapi dibbutuhkan waktu dan proses untuk semuanya. Cedera dikepalanya waktu saat kecelakaan terbilang lumayan menyakitkan. Kalau dia memaksakan sesuatu untuk diingat malah akan berakibat fatal nantinya. Dokter sudah memperingatinya beberapa kali. Tapi bukan Raya namanya kalau menyerah seperti itu. Dia terus memaksakan otaknya untuk mengingat sebagian memori yang hilang. Tapi semakin dia berusaha semakin rasa sakit kepala melandanya.
"Awww sakit banget. Kayaknya gue terlalu memaksakan sesuatu deh." Ucap Raya sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Dia mencari obat penahan rasa sakit didalam laci yang ada disamping tempat tidurnya. Sakit kepala itu sangat membuatnya tersiksa banget. Sampai sekarang juga dia melupakan Rama, Kavin dan semua orang yang ada disekolahnya dulu. Ntah kenapa sebagian memori hilang dan sebagiannya lagi dia masih mengingat jelas.
Raya meminum obat tersebut dan memncoba memejamkan kedua matanya untuk beristirahat sejenak.
'Mungkin gue terlalu memaksa akibatnya malah seperti ini. Mana sakit banget lagi. Padahal tadi sedikit lagi aja gue tahu siapa suaminya Ratu itu. Tapi dari dokumen udah dijelaskan kalau orang itu pernah satu sekolah dengannya. Tapi gue benar-benar lupa ada pengalaman apa dengannya dulu.' Batin Raya.
Semakin penasaran malah semakin buat dia tersiksa. Dari luar ruangan ada seseorang yang mengetok pintunya sedaritadi...
"Bentar ya tante..." Teriak Raya.
Raya mulai berdiri dan menyimpan dokumen tadi kedalam lemari. kemudian dia segera membuka pintu kamarnya...
"Tumben kamu kunci pintu kamar ?" Tanya tantenya heran.
"Raya lagi pengen aja tan. Oh iya? ada apa tante sampai ke kamar Raya?" Tanya Raya.
"Oh gitu. Tante mau ngajak kamu untuk makan malam. Tante gak ada teman untuk makan." Ucap tante Nia.
"Raya udah makan tadi diluar tan. Gimana kalau Raya nemani tante makan aja?" Ucap Raya.
"Boleh kalau kamu gak keberatan. Tante dengan senang hati menerimanya." Ucap tante Nia.
"Gak mungkin aja kalau Raya keberatan tan." Ucap Raya.
"Kamu sebaiknya ganti pakaian dulu baru temani tante makan ya." Ucap tante Nia.
Raya menepuk keningnya sendiri karena bisa-bisanya dia lupa untuk mengganti pakaiannya sedaritadi.
"Oke tante..." Ucap Raya.
Raya mengganti pakaian dan menghapus semua makeup serta mencuci mukanya kembali. Rasa sakit kepalanya lumayan menghilang akibat obat yang dia minum tadi. Tapi efeknya membuat dirinya masih sangat mengantuk. Disisi lain, dia tidak tega membiarkan tantenya makan sendirian. Berulang kali dia mencuci mukanya agar terlihat lebih fresh.
Raya menghampiri tantenya yang sedang menunggunya di meja makan. Dia merasa heran karena tantenya belum makan malam jam segini....
"Kok tante belum makan malam?" Pertanyaannya mulai membuka obrolan keduanya.
"Tante tadi nungguin kamu sepulang kerja tapi kamunya udah makan." Ucap tante Nia.
"Maaf ya tan, Raya lupa ngabari kalau tadi Raya pengen makan diluar." Rasa merasa sedikit bersalah karena tantenya terlalu memikirkannya.
"Gpp kok, tante juga sangat mengerti kamu." Ucap tante Nia.
Tante Nia mulai memakan spagetti untuk makan malam sedangkan Raya mengambil ice cream dari dalam kulkas dan memakannya perlahan.
Setelah selesai makan, tante Nia mulai mengajaknya untuk mengobrol. Seperti biasa hal ini yang membuat Raya itu merasa dipedulikan. Hal ini juga yang dia inginkan dulu dari mama dan papanya. Tante Nia selalu membuatnya merasa nyaman sekaligus menganggap Raya sebagai putrinya juga.. Dia tidak pernah membedakan kasih sayang sayang untuk semua anak-anaknya.
"Bagaimana pekerjaan kamu dikantor? Kamu senang gak? teman-temannya pada baik gak sama kamu?" Tanya tante Nia.
"Raya senang kok bisa kerja disana tan, semua sangat baik dari teman-teman termasuk atasan Raya." Jelas Raya.
"Baguslah kalau kamu senang. Tante jadi lega mendengarnya. Kesenangan kamu adalah hal yang tante inginkan selama ini." Ucap tante Nia.
"Makasih tante untuk semua hal yang tante lakukan untuk kebahagiaan Raya. Maaf kalau Raya belum bisa membalasnya. Tapi Raya janji kalau suatu saat Raya akan balas semua kebaikan yang tante berikan selama ini." Ucap Raya.
"Sama-sama sayang. Jangan jadi orang asing gini dong. Tante gak mau kalau kamu membalasnya. Tante hanya berharap kamu bisa menjadi orang yang sukses dan bisa membanggakan buat kedua orangtua." Ucap tante Nia.
Raya hanya tersenyum mendengar ucapan tantenya ini. Mungkin seumur hidupnya gak akan pernah bisa membalas semua kebaikan tantenya selama ini. Banyak hal yang terjadi dihidupnya tapi tanteya dengan sabar menasehatinya. Itulah yang ada dalam hatinya sekarang.
"Boleh tante minta tolong sama kamu seuatu sayang?" Ucap tante Nia yang mulai serius berbicara kepada Raya. Raya mendengarkan dengan seksama permintaan tantenya ini tanpa menjawab ucapan tante Nia.
"Kalau kamu ada waktu besok, tante minta kamu untuk bertemu dengan mama dan adik kamu." Ucap tante Nia.
Deg...
'Kenapa tante Nia meminta hal seperti ini sih? Gue masih berat hati untuk bertemu dengan keluarga gue sendiri disaat ini.' Batin Raya.
Raya hanya diam saja sambil berfikir untuk memberikan jawaban yang tidak membuat tantenya kecewa.
"Mmm..bisa gak kalau Raya pikirkan kembali permintaan tante ini." Ucap Raya.
"Bisa kok. kamu pikirkan baik-baik aja sayang. Jangan lupa untuk kasih kabar ke tante ya." Ucap tante Nia.
"Oke tante, oh iya? Raya udah ngantuk banget nih. Boleh gak kalau Raya ke kamar duluan." Raya buru-buru meletakkan ice cream kedalam kulkas.
"Boleh kok sayang. Tante benar-benar berharap kamu bisa memikirkannya malam ini." Ucap tante Nia lagi.
Setelah mendengar ucapan tante Nia, Raya buru-buru pergi ke kamarnya. Ntah kenapa dia masih belum siap untuk bertemu dengan keluarganya lagi. Permintaan tante Nia sangat berat untuk dia tolak. Karena selama ini tante Nia tidak pernah meminta sesuatu hal kepadanya.
'Apa gue kasih alasan lembur aja ya besok, tapi pasti ketahuan kan. Ah ntahlah pusig gue.' Batin Raya.
Sampai jam 01.30 pagi dia memikirkan tentang keputusan apa yang akan dia ambil. Setelah menemukan sebuah ide, akhirnya dia bisa tenang dan tidur.
Pagi harinya, sebelum berangkat kerja, Raya sempatin untuk mengobrol dengan tante Nia.
"Hari ini Raya belum bisa bertemu dengan mama tan. Raya udah janjian sama dokter untuk mengecek kondisi lagi. Maaf ya tan, karena Raya belum bisa memenuhi permintaan tante semalam." Jelas Raya.
"Ya sudah kalau itu keputusan kamu. Tante harap kamu bisa menemui mama kamu lain hari." Ucap tante Nia.
Raya hanya tersenyum dengan terpaksa dihadapan tantenya. 'Setidaknya bukan hari ini tan.' Batin Raya.
*****
Selama hamil Ratu biasanya bangun siang terus, tapi berbeda dengan pagi ini. Walaupun dia hanya membantu bi Ina saja tanpa memasak sarapan untuk suaminya, tapi Ratu sudah mempersiapkan makanan dan dia hidangkan diatas meja makan. Dia membuka lemari pakaian Kavin.
"Inikan hadiah yang aku pengen kasih ke Kavin. Astaga bisa-bisanya aku gak ingat sama sekali. Udah berapa lama barang ini dia simpan didalam lemari. Tapi kok Kavin bisa gak ngelihat ya." Ucap Ratu.
Ratu mengeluarkan dasi dan tas yang dia belikan untuk Kavin dan menaruhnya diatas meja. Dia mengeluarkan kemeja, celana serta jas yang aka Kavin pakai pagi ini. Kemeja putih, celana panjang hitam dan jas warna biru muda sudah dia pilih kemudian dia letakkan diatas tempat tidur.
"Kamu udah bangun sayang? Tumben banget?" Tanya Kavin.
"Kamu buruan mandi gih sana. Aku udah siapkan sarapan dan pakaian kamu." Ucap Ratu.
"Kamu masak sayang?" Tanya Kavin dan mulai terduduk.
"Bukan aku yang masak, aku cuman bantuin bi Ina aja tadi." Ucap Ratu.
"Oh gitu. Itu bingkisan apa sayang?" Tanya Ratu.
"Kamu beneran gak tahu Vin? Emang selama ini kamu gak buka lemari pakaian?" Tanya Ratu.
"Emang kamu naruhnya di lemari yang dimana sayang?" Ucap Kavin.
"Ditengah situlah.." Tunjuk Ratu.
"Oh pantasan aja sayang. AKu jarang pakai baju dari lemari yang disana. Emang itu apaan isinya?" Tanya Kavin penasaran.
Ratu memberikan bingkisan yang sudah lama dia hias dengan pita tersebut.
"Kamu coba buka deh. Semoga kamu suka ya sayang..." Ucap Ratu.
Karena sudah penasaran, Kavin langsung segera membuka bingkisan tersebut. Kavin melihat isinya ada dasi dan tas slempang hitam yang sudah lama dia ingin beli selama ini.
"Kenapa kok ekspresi kamu kayak gitu? kamu gak suka ya sama hadiah yang aku kasih?" Tanya Ratu.
Kavin menarik Ratu dan memeluknya . "Makasih sayang.Ini tas yang aku pengen banget tapi belum sempat beli karena masih sibuk. Kamu kok bisa tahu kalau aku suka tas ini?" Tanya Kavin.
"Apa sih yang aku gak tahu tentang kamu Vin. Aku senang karena kamu suka sama hadiah kecil ini." Ucap Ratu.
"Kok selama hamil kamu jadi lebih manis gini sih perlakuannya. Jangan-jangan kamu ngelakukan kesalahan ?" Ucap Kavin lagi-lagi menggoda istrinya itu.
Ratu memukul bahu Kavin dengan keras...
"Aww sakit." Ucap Kavin.
"Habisnya kamu main nuduh sembarangan gitu. Kamu merusak mood aku pagi ini tahu gak?" Sewot Ratu.
Kavin mulai kebingungan menghadapi Ratu kalau lagi mood buruk begini.
"Aku kan cuman godain kamu aja tadi sayang. Beneran aku gak ada maksud apa-apa kok." Ucap Kavin.
"Udah ah aku lagi malas sama kamu. Kamu merusak moment aja. Buat aku kesal aja..." Ucap Ratu dengan memasang muka cemberutnya.
Kavin mendekati istrinya dengan mencoba meminta maaf. Tapi semuanya malah sia-sia. Disaat Kavin sudah menyerah dan ingin pergi ke kamar mandi, Ratu mendekatkn bibirnya ke telinga Kavin.
"Gimana rasanya dikerjain? Hahahhaha...." Ucap Ratu sambil terkekeh senang kearah Kavin sambil menjulurkan lidahnya dan berlari sedangkan Kavin yang merasa kesal langsung mengejar Ratu yang sudah berlari. Kavin tidak mau menyerah sebelum mendapatkan Ratu. Mereka main lari-larian seperti anak-anak. Disaat Kavin mulai mendekat, Ratu menghindar seperti itu terus. Sampainya didepan pintu kamar, Kavin menguci kamar agar Ratu tidak bisa keluar dari kamar. Kavin mengejar Ratu dan akhirnya tertangkap.
"Kamu mah curang, pakai acara kunci pintu kamar segala." Ucap Ratu.
"Gak boleh marah dong sayang. Kamu yang udah ngerjain aku tadi. Sekarang gantian aku balas kamu..." Kavin merebahkan tubuh Ratu diatas tempat tidur dan mulai menggelitikinya sampai Ratu lemas dan mengeluarkan air mata karena Kavin melakukannya terus-menerus.
"Iya iya aku yang salah." Ucapan Ratu mampu menghentikan aktifitas Kavin.
"Ini hukuman buat istri aku yang tersayang karena udah berani ngerjain aku tadi." Ucap Kavin.
"Awas aja kamu Vin.."Ancam Ratu.
Kavin merasa sangat puas karena Ratu sudah bisa tertawa lepas seperti tadi. Dia tidak menyangka pagi ini dikerjain oleh istrinya. Dan surprise nya lagi, Ratu menyiapkan semua kebutuhannya pagi ini seperti yang Ratu lakukan sebelum hamil. Kavin merasa diperhatikan kembali oleh Ratu. Kavin benar-benar merindukan sikap istrinya yang seperti ini. Tanpa menghiraukan ucapan Ratu, Kavin segera masuk kedalam kamar mandi...
Tok...Tok....Tok...
Ratu merapikan pakaian dan rambutnya dahulu. Ratu mengambil kunci kamar yang ada diatas meja kemudian segera membukakan pintu.
"Maaf non kalau bibi ganggu.." Ucap bi Ina
"Ada apa bi?" Tanya Ratu.
"Ada tamu non dibawah." Ucap bi Ina.
"Siapa bi?" Tanya Ratu...
Ternyata tamu yang datang pagi-pagi adalah...
********
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
**Happy Reading Guys!
**