
Drrrtt........drrrtt.........drrrrttttt
Hp Adel terus-memerus berbunyi saat Adel sedang berdandan didepan meja rias.
"Siapa sih yang nelponin gue daritadi? Berisik tau. Mana makeup belum kelar lagi.' Batin Adel yang mulai merasa terusik oleh deringan suara hpnya.
Adel masih fokus memakai maskara jadi dia tidak mau maskaranya malah berantakan kalau dia tidak memperhatikan cermin didepannya. Untuk itu dia tidak mengangkat teleponnya yang berdering.
Sudah setengah jam lebih dia merias diri. Dia memastikan bahwa dia harus kelihatan cantik didepan Tommy pastinya. Tapi dia tetap berdandan secara natural dan tidak menor. Menurutnya orang yang berdandan menor itu terlihat terlalu mencolok dan berlebihan. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak bagus, untuk itu dia dan the gengs nya tidak pernah melakukan hal itu.
Setelah selesai merias diri, dia berdiri dan melihat pantulan dirinya didepan cermin yang memakai baju sabrina putih dan rok jeans serta kalunv emas yang melingkar pada lehernya. Kalung berinisial nama "A"...memperlihatkan tampilannya yang menarik tapi tetap sederhana. Dan tak lupa dia padukan dengan tas dengan warna senada dengan bajunya. Adel memilih sepatu flat malam ini.
"Kayaknya ada yang kurang deh dari penampilan gue barusan, apa ya?" Adel melihat-lihat sebentar.
"Astaga, hampir aja." Adel mengambil parfum lalu menyemprotkannya keseluruh tubuhnya dengan aroma strawberry kesukaannya selama berapa tahun ini.
Sebelum keluar dari kamar, Adel memastikan jam pada hp miliknya. Adel melihat ada 5 panggilang tidak terjawab dari Harry pastinya.
"Gue gak telat kan. Kenapa Harry menelpon terus-terusan." Adel memencet hp untuk memanggil balik Harry.
Sebanyak 3 kali sudah dia menghubungi tapi tidak ada tanggapan dari Harry.
"Angkat dong Harry, udah ah mending gue langsung ketempatnya aja sekarang." Adelpun berjalan keluar dari apartemen miliknya dan tidak lupa mengunci apartemennya tersebut . Apartemen miliknya ini menggunakan kata sandi dan hanya Adel yang tahu.
Adel berjalan menuju parkiran mobil dan segera mencari mobil miliknya untuk segera pergi ke tempat tujuan. Karena waktu masih lama, Adel menyetir dengan santai saja sambil memutar lagu kesukaannya didalam mobil...
I Can't Make You Love Me by Bonnie Raitt
Turn down the lights
Turn down the bed
Turn down these voices
Inside my head
Lay down with me
Tell me no lies
Just hold me closely
Don't patronize
Don't patronize me
Reff :
Cause i can't make you love me if you don't
You cab't make your heart feel something it won't
Here in the dark, in these final hours
I will lay down my heart and i'll feel the power
But you won't, no you won't
Causr i can't make you love me, if you don't
I'll close my eyes, then i won't see
The love you don't feel when you're holding me
Morning will come and i'll do what's right
Just give me till then to giveup this fight
And i will give up this fight
Back to Reff
Adel menyukai lagu ini karena makna dari lagu ini sangat dalam dan sangat sesuai dengan isi hatinya sekarang. Seorang yang tidak bisa mencintainga dan dia tidak bisa membuat orang itu menyukainya walau sudah banyak hal yang dia lakukan.
Adel memutar lagu ini terus-menerus dan sesekali ikut menyanyikannya. Dia sudah sangat hafal dengan lirik dari lagu tersebut....
Seperti orang yang sedang jatuh cinta seperti itu juga dia menyukai lagu ini. Berulang kali diputar juga tidak akan bosen. Yang ada dia malah menikmati setiap lirik yang mengandung makna yang sangat dalam tersebut.
Tempat yang dijanjikan itu lumayan jauh dari apartemen miliknya, karena memakan waktu kurang lebih sekitar 45 menit karena macet dan banyaknya lampu merah yang dia lewati. Tapi dia tidak mempedulikan jarak karena yang terpenting baginya bisa bertemu dengan orang yang dia sukai.
*****
Tibanya di cafe yang dijanjikan, Adel segera memarkirkan mobilnya tepat disamping cafe yang lumayan luas tersebut. Adel merapikan penampilannya untuk memastikan lagi. Kemudian dia berjalan santai memasuki cafe tersebut.
Karyawan cafe menghampiri dirinya untuk menanyakan apakah ada yang bisa mereka bantu. Adel menanyakan meja yang sudah dibooking atas nama bapak Harry...
Karyawan tersebut mencari pada buku catatan konsumen untuk memastikan apakah ada nama tersebut.
Kemudian Adel dituntun kearah ruangan Vip yang ada dicafe tersebut. Ternyata Harry membooking ruangan tersebut. Ruangan yang berisi fasilitas lengkap seperti karaoke dan tv serta permainan agar orang atau keluarga yang membooking bisa menikmati suasana diruangan tersebut.
"Harry benar-benqr niat banget ya makan malam aja ditempat Vip begini. Kan sayang uangnya." Ucap Adel setelah karyawan cafe itu keluar.
Anehnya baru Adel yang nyampek tempat tersebut padahal dia sudah berjalan santai. Memang dia yang terlalu bersemangat sampai sampai dia tidak menyadari kalau dia kecepatan.
Adel melihat jam lagi, masih ada waktu setengah jam lagi. Adel sendirian malah makin bingung mau melakukan apa. Akhirnya Adel memutuskan untuk pergi ke toilet dulu.
Adel merapikan rambut dan dandanannya sebentar didalam toilet. Tidak berapa lama hpnya berdering terus.
"Kalau lagi makeup aja hp ini bunyi. Memang dasar ...ini pasti Harry yang menelpon." Adel membuka hp dan menggeser layar hp.
"Kamu dimana?" Harry bertanya to the point.
"Di cafe lah dimana lagi." Ucap Adel dengan santainya.
"Aku udah disini. Kamu cepetan segera kesini. Ada yang mau aku bilang." Ucap Harry.
"Ok sebentar Harry." Setelah telepon mereka terputus, Adel memasukkan hp kembali kedalam slingbag nya.
Adel tersenyum kearah cermin...
"Oke cantik kok. Perfect." Puji dirinya sendiri.
Hp nya berdering kembali...
"Ikh Harry gak sabaran banget sih." Sewotnya tanpa melihat nama yang tertera pada hp.
"Sebentar...sabar dong Harry." Ucapnya.
"Ini gue Ratu bukan Harry." Ucap Ratu.
"Eh elo ya beb, maaf ya beb gue kirain itu Harry. Habisnya daritadi Harry nelponin gue terus. Ngerusak mood aja." Adel menjawab sambil terkekeh.
"Huh dasar, emang lo dimana sekarang?" Tanya Ratu.
"Gue ada dicafe lagi mau makan malam sama Harry, udah dulu ya beb. Maaf banget gue lagi gak bisa ngobrol lama sama lo. Ntar yang ada Harry makin ngomel lagi." Ucap Adel yang sudah terburu-buru berjalan kearah tempat yang tadi.
"Oh oke. Have fun ya makan malamnya." Ucap Ratu.
"Bye beb..." Ucap Adel.
"Bye ..." Ucap Ratu.
'Mungkin bukan waktu yang tepat untuk cerita sama Adel. Lagian belakangan ini Adel udah cukup terkejut dan banyak mengalami hal yang tidak baik. Gue gak mau makin nambah beban dihatinya lagi. Lain kali aja deh gue janji akan kasih tahu Adel yang sebenarnya.' Batin Ratu dalam hati disaat panggilan telepon mereka telah berakhir.
"Hei...kenapa bengong sayang. Hayoo kamu mikir apaan lagi?" Ucap Kavin.
"Gak ada kok. Aku hanya mikir kalau 2 bulan lagi bakal ketemu sama calon anak kita." Ucap Ratu berbohong. Sebenarnya Ratu ingin menceritakan semuanya sama Kavin. Lagi-lagi dengan alasan yang sama Ratu tidak mau Kavin memikirkan hal lain. Masalah Kavin didalam kantor sudah banyak.
"Iya juga sayang. Jadi gak sabar deh ketemu sama anak kita..." Kavin mengelus dengan lembut perut Ratu lalu menciumnya.
"Sehat terus ya 2 kesayangan papa." Kavin mencium kening Ratu. Ratu hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya. Kavin masih memperhatikannya walaupun Ratu tahu kalau perusahaan Kavin lagi menghadapi masalah sekarang. Hal itu yang membuatnya bersyukur karena suaminya masih memberikan perhatian yang membuatnya lebih tenang.
Jujur saja Ratu sempat takut untuk memikirkan bagaimana dia akan melahirkan nanti. Itu akibat dia kebanyakan menonton vidio lahiran orang lain.
Disisi lain, Harry menunggu Adel yang tak kunjung datang ke tempat Vip tersebut.
Adel masuk tanpa mengetok yang membuat Harry tidak menyadari kehadiran Adel.
"Hei, maaf ya kalau aku lama di toilet." Harry bukannya mendengarkan ucapan Adel, dia malah menatap Adel dengan wajah yang terpesona. Seakan dia tersihir akan kecantikan Adel malam ini.
"Kamu marah ya? Kok diam aja?" Adel duduk tepat didepan Harry.
Harry hanya menggeleng.
"Harry !!! Aku lagi bicara ...kamu jangan diam aja gitu dong. Emangnya aku bicara sama patung apa." Adel sedikit menekankan kata-katanya yang membuat Harry tersadar.
"Mmmm...maaf. Aku dengarin kamu kok." Ucap Harry.
"Jadi mau bilang apa?" Tanya Adel sambil menatap Harry serius.
"Apaan." Ucap Harry semakin terpesona karena Adel menatap kearahnya.
"Tuh kan kamu gak fokus nih. Tadi jelas-jelas kamu yang telepon aku. Katanya ada yang ingin kamu bilang." Jelas Adel.
Harry menjadi salah tingkah dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Itu...Tommy membatalkan makan malam ini karena ada urusan yang mendesak." Ucap Harry.
"Ya sia-sia dong kalau kayak gitu." Ucap Adel yang lemas. Padahal dia sudah berdandan secantik mungkin malam ini.
"Jadi kamu mau ikut makan malam karena ada Tommy?" Tanya Harry yang kesal melihat ekspresi Adel.
"Ya kan udah jelas. Emang perlu aku bilang lagi ya. Kalau aku..." Adel menutup mulut Adel dengan cemilan yang sudah dia pesan.
"Cukup. Lebih baik kita makan malam sekarang." Ucap Harry yang menunjuk kearah makanan yang sudah tersaji.
Adel mengankat bahunya yang artinya mau bagaimana lagi. Mau tidak mau dia harus makan malam berdua dengan Harry. Walaupun dia tidak menginginkannya. Tapi apa boleh buat, sayang juga makanan yang sudah dipesan.
"Kenapa kamu gak kabari aku kalau Tommy gak jadi ikut?" Tanya Adel sambil menguyah potongan steak yang dipotongnya.
"Kamu kan yang gak angkat telepon aku tadi. Aku menelpon untuk menjelaskan mengenai Tommy." Ucap Harry.
"Ya deh berarti ini aku yang salah. Terus kenapa kamu gak batalin bookingan tempat ini?" Tanya Adel yang merasa bingung.
"Karena kamu gak angkat, jadi aku yakin kalau kamu bakal datang kesini Del. Buktinya aku benar kan. Kamu datang..." Ucap Harry.
"Oh jadi gitu. Tapi aneh aja kita ada diruangan Vip ini cuman berdua aja." Adel melihat kearah sekitar dan menatap Harry.
"Mau gimana lagi, udah terlanjur dipesan tempatnya. Kalau dibatalin malah rugi...
Kamu nyesal ya makan malamnya sama aku bukan sama Tommy?" Ucap Harry yang menekankan nama Tommy.
"Apaan sih Harry, kok jadi cemburu gak jelas gini." Ucap Adel.
"Wajar aja Del. Emangnya salah?" Tanya Harry.
"Udah deh Harry, kalau kamu begini terus aku malas makan malam sama kamu." Ucap Adel sambil menyeruput minumannya dengan cepat.
Adel berdiri dan merapikan tasnya...
"Kamu mau kemana Del?" Harry ikutan berdiri untuk menghampiri Adel.
"Aku malas makan malam sama orang yang lagi kesal." Jawab Adel acuh.
"Maaf." Ucap Harry.
Adel tidak tega melihat ekspresi Harry yang seperti ini. Bagaimanapun juga Harry sudah banyak membantunya.
"Oke...kali ini aku maafin kamu." Adel duduk kembali dan meminta Harry untuk kembali duduk ditempatnya lagi.
Harry tidak membahas tentang Tommy lagi, Harry tidak mau Adel pergi. Dengan suasana yang hanya mereka berdua saja saat ini sudah membuatnya merasa senang. Apalagi mereka sudah tidak pernah lagi keluar makan malam seperti ini. Adel selalu menolak dengan berbagai alasan. Jadi kali ini Harry tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
Makan malam mereka berjalan dengan baik, setelah makan malam mereka berdua menyempatkan diri untuk karaoke sebentar. Adel benar-benar menumpahkan isi hatinya pada berbagai lagu yang dia nyanyikan. Sampai dia meneteskan air mata dan terisak. Hal itu tidak dibuat-buat, hal itu terjadi begitu saja tanpa dia rencanakan. Seakan tidak bisa membendung semua hal lagi dalam hatinya. Rasa skit itu masih ada didalam hatinya malah semakin sakit saja karena tahu kalau orangtua angkatya tidak mencari atau berusaha menghubungi nomor hpnya. Dia hanya bisa memendam hal itu sendirian sekarang.
Adel hanya menceritakan semua masalahnya dengan kedua sahabatnya saja. Sampai sekarang Harry tidak tahu sama sekali apa alasan Adel kehujanan kemarin. Harry hampir lupa menanyakannya karena dia hanya fokus untuk merawat Adel dirumah sakit waktu itu.
Harry yang melihat Adel menangus hanya bisa memeluk dan menghapus air matanya.
"Kamu cengeng banget Del." Ucap Harry.
"Aku memasukkan sebuah rasa didalam lagu itu Harry. Lagunya sedih banget. Masak kamu gak bisa rasain sih." Rengek Adel.
Harry hanya menggeleng tidak percaya kalau ada orang yang bisa menangis akibat bernyanyi.
"Kamu benar-benar sesuatu Del." Ucap Harry.
Adel membalas pelukan Harry, seridaknya bisa meringankan sedikit beban yang ada dihatinya saat ini. Walaupun dia seperti orang yang egois saat ini. Dia menerima perhatian yang Harry berikan tapi dia masih mengharapkan cinta dari orang lain.
"Udah dong Del, malu ntar dilihati oran. Ntar orang mikirnya aku yang jahati kamu." Bujuk Harry sambil menepuk-nepuk punggung Adel secara perlahan.
Adel menghapus air matanya dengan tisu, dia hampir saja lupa kalau dia memakai maskara. Hampir saja tangannya mengucek mata tapi Harry menahannya. Setelah itu Adel tersadar...
"Udah malam, kita pulang aja yuk Har.. lagian perjalanan ke rumah juga lumayan jauh." Ucap Adel.
"Kamu nyetir sendirian?" Yang dibalas anggukan oleh Adel.
"Biar aku aja yang antar kamu ya." Ucap Harry.
Adel menggeleng...bisa-bisa Harry bakal tahu kalau dia tidak tinggal dirumah lagi.
"Gpp. Aku udah biasa nyetir kok." Adel membereskan pakaiannya dan mengambil tas.
Harry tidak ingin memaksa kalau Adel menolak. Setidaknya malam ini dia sudah sangat senang, dia tidak mau merubah mood Adel lagi.
Sampai ditempat parkir, Harry dan Adel berpisah mobil. Adel segera pergi kearah kanan sedangkan Harry kearah kiri. Tujuan mereka berbeda tentunya...
*****
Dua hari berlalu,
Ratu, Nisa, Dimas, dan Kavin sudah ada diapartemen milik Adel sekarang. Mereka datang karena Adel mengundang...
Adel menunjukkan setiap ruangan kepada semua rang yang datang. Nisa dan Ratu merasa senang karena Adel sudah memiliki tempat tinggal Seenggaknya Adel bisa lebih tennag sekarang dibandingkan kemarin. Walaupun apartemen milik Adel terlihat sederhana tapi tempat ini cukup untuk dua atau 3 orang untuk tinggal.
Pemandangan malam dari balkon juga terlihat indah. Tanpa harus pergi ketempat lain, Adel bisa menikmati pemandangan ini kalau dia boan. Bisa menghilangkan rasa capek yang dia rasakan...
Nisa dan Ratu terlihat bingung saat melihat Adel yang gelisah...
"Lo kenapa sih? kita perhatiin kayak orang yang tidak tenang begini?" Tanya Nisa sambil memegang pundah Adel.
"Cerita dong ke kita. Siapa tahu kita bisa bantu atau kasih solusi." Ucap Ratu.
"Bukan begitu. Gak ada kok...gue cuman kadang merasa kesepian aja kalau tinggal sendirian." Ucapnya berbohong kepada kedua sahabatnya itu.
Padahal dia gelisah karena menunggu seseorang yang belum datang sama sekali ke apartemennya...
"Oh jadi karena itu. Ntar kapan-kapan gue nginap untuk temani lo disini beb. Gak usah khawatir...gue rasa tempat ini aman." Ucap Nisa.
"Kalau lo takut atau bosen, lo bisa nginap dirumah gue atau Nisa kok." Ucap Ratu...
"Kenapa emangnya? lo gak mau nginap dirumah gue lagi?" Tanya Ratu yag langsung mengeluarkan kata-kata tidak senang.
"Bukan gitu beb, masalahnya dirumah lo kan udah banyak orang. Gue mau lo taruh dimana. Masih mendingan gue tidur dirumah Nisa.." Jelas Adel.
"Bener juga sih. Dasar bumil sensitif aja bawaannya." Ucap Nisa.
"Resek ya kalian berdua...gue pengen lihat gimana ntar kalau kalian hamil. Biar kalian bisa rasain apa yang gue rasain sekarang." Ketus Ratu.
"Jadi lo nyumpahi kita." Ucap Nisa.
"Udah kok malah berantam sih kalian..." Kavin menarik Ratu untuk mengikutinya.
"Apaan sih Vin." Protes Ratu.
"Ini aku masakin spagetti kesukaan kamu." Ucap Kavin sambil menunjukkan piring yang dia bawa.
"Bohong dia Tu. Jelas-jelas yang lagi masak itu gue." Ucap Dimas yang baru keluar dari dapur sambil membawa beberapa piring spagetti untuk disajikan di meja.
"Dasar lo Dim,,,gak bisa apa sesekali bantu temen sendiri." Ucap Kavin.
"Bantu? gue udah sering bantuin lo Vin." Ucap Dimas.
"Kamu gak percaya kalau aku yang masak?" Tanya Kavin kepada Ratu.
"Nggaklah...kamu kan gak bisa masak." Jelas Ratu.
"Tuh dengar sendiri,istri lo aja tahu...kalau mau menyenangkan hati istri gak perlu bohong juga kali Vin." Ucap Dimas.
"Dasar resek lo Dim..." Ucap Kavin.
"Maaf ya Dim, lo jadi repot-repot masak disini. Mau gimana lagi gue kan gak pernah masak sama sekali." Ucap Adel.
"Gpp kok asalkan gak setiap hari." Ucap Dimas.
"Cowok lo kadang ngeselin juga ya Nis." Adel duduk dengan yang lainnya karena makanan sudah tersaji diatas meja.
"Siapa bilang, Dimas itu paling baik kok." Puji Nisa.
"Ya ya ya...pacar yang baik ya muji pacarnya sendiri." Ledek Adel.
"Lebih baik kita makan aja, gue udah lapar nih..." Ucap Ratu.
Mereka semua makan masakan Dimas. Ya not bad lah...masakan Dimas masih bisa dibilang lumayan. Sebenarnya Adel sudah memesan makanan secara online, tapi berhubung diluar hujan deras...ojek onilne nya kejebak hujan dijalan. Dan berhubung didalam kulkas Adel kebanyakan bahan untuk buat spagetti, jadi Dimas berinisiatif untuk masak aja. Setidaknya bis mengganjal rasa lapar yang mereka rasakan saat ini...
Tapi mereka akan tetap makan pesanan makanann yang Adel pesan nanti. Mereka semua menikmati makan malam dan minum es lemon tea buatan Dimas.
Selesai makan malam, Adel dibantu Nisa untuk membersihkan piring dan gelas. Ratu dan lainnya malah sibuk menonton tv dan mencari beberapa kaset yang layak untuk ditonton.
"Del..."
"Hmmm"
"Bagaimana perasaan lo sekarang beb?"
"Biasa aja sih. Udah mati rasa kayaknya. Hahahha..." Ucapnya terkekeh.
"Gue nanyak serius beb." Ucap Nisa sambil menyusun gelas dan piring yang sudah bersih.
"Gue juga serius...gue baik-baik aja karena ada kalian semua." Ucap Adel.
"Bagus deh kalau lo mikir begitu. Gue jadi lega...tapi kalau lo butuh teman untuk cerita dan berbagi.Lo bisa hubungi gue." Ucap Nisa.
"Pasti." Ucap Adel meyakinkan.
Nisa dan Adel bergabung dengan yang lainnya...
Adel melihat jam ditangannya, dia sudah tidak yakin orang yang dia tunggu bakalan datang.
'Udahlah...lo aja yang terlalu banyak berharap Del. Lagian gak mungkin dia bisa datang kesini.' Batin Adel.
Ting tong ting tong...
Bel apartemennya berbunyi...dengan semangat Adel berlari menuju kedepan pintu.
Adel merasa deg-degan sebelum membuka pintu.
Ternyata yang datang ojek online yang mengantar makanan. Adel merasa kecewa karena sudah berharap. Adel membawa makanan kedalam apartemen dengan wajah yang cemberut.
"Taruh disana aja beb, ntar lagi kita makan." Ucap Nisa sambil berteriak.
Adel meletakkan makanan didapur kemudian dia pergi ke toilet sebentar. Didalam toilet dia memeriksa hpnya kembali.Tidak ada tanda-tanda pesannya akan dibalas. Lumayan lama Adel berada didalam toilet untuk memastikan sesuatu.
Ting tong ting tong...
Bel apartemen kembali berbunyi, Adel yang masih didalam toilet tidak mendengar suara bel tersebut. Bunyi air didalam toilet yang dia putar membuat hal itu tidak terdengar.
Kavin yang paling dekat dengan pintu, dia berjalan untuk membuka pintu tersebut dan melihat siapa orang yang datang pada jam segini...
Ceklek...
"Elo???" Kavin kaget saat melihat orang yang ada didepan pintu.
"Malam Vin...maaf gue datang telat. Adel yang undang gue datang kesini. Tapi gpp kan kalau gue bawa pacar gue juga?" Sapa seseorang terssebut.
Kavin mempersilahkan mereka berdua untuk masuk kedalam. Ratu dan Nisa saling bertatapan dan mengangkat kedua bahu. Nisa memberikan kode kearah Ratu untuk mengikutinya...
"Del?? Lo didalam?" Nisa mengetok pintu toilet.
"Ya bentar." Ucap Adel.
Adel keluar dari toilet...
"Kenapa beb? lo mau pakai toilet?" Tanya Adel.
"Bukan..." Adel yang bingung dengan maksud dan tujuan Nisa dan Ratu ada dihadapannya sekarang.
"Ada tamu yang datang." Ucap Nisa.
"Kalian serius?" Adel langsung berjalan kearah ruang tv tapi ditahan oleh Ratu.
"Lo yakin mau kesana?" Tanya Ratu.
"Yakin.Emangnya kenapa? tamunya kan gue yang undang." Ucap Adel.
"Tap Del..." Ucap Nisa tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi.
Adel malah semakin cepat berjalan dan meninggalkan kedua sahabatnya itu.
"Hai Tommy..." Sapa Adel.
"Hai maaf kalau gue telat datangnya." Arah pandang Adel masih kearah Tommy.
"Gpp kok, santai aja...gue undang semua teman-teman ke apartemen baru gue." Ucap Adel.
"Maaf sebelumnya, gue bawa seseorang juga kesini."Adel memperhatikan orang yang ada dibelakang Tommy...dia tidak mengenal cewek tersebut.
Suasana menjadi hening sesaat, Nisa,Ratu, Dimas dan Kavin juga ikutan menjadi bisu.
"Adel..." Adel menjulurkan tangannya kearah perempuan tersebut.
"Putri..." Putri membalas jabatan tangan Adel.Nisa juga ikutan memperkenalkan diri.
"Kenalin gue Nisa..." Nisa menjulurkan tangan yang dibalas sama Putri.
"Maaf kalau gue bawa Putri ke acara kalian. Tadi gue sekalian jemput dia dari kantor." Jelas Tommy.
Adel masih belum peka juga itu terlihat dari tatapannya yang masih fokus memandang Tommy. Nisa dan yang lain saling berpandangan, mereka sudah tahu kalau Tommy berpacaran dengan Putri sekretarisnya Kavin.Hal itu diketahui tidak sengaja oleh Kavin yang mempergoki Putri saat dijmput oleh Tommy 1 bulan yang lalu. Tapi Kavin baru menceritakannya kepada Ratu 3 hari belakangan ini.
"Maaf kalau kehadiran gue malah merusak suasana disini." Ucap Tommy.
"Gak kok.Kita senang lobisa ikutan bergabung." Ucap Nisa basa-basi.
'Duh...keapa sih lo pakai acara datang segala Tom...memprkeruh keadaan aja.' Batin Nisa.
"Kenapa hanya Nisa saja yang menjabat tangan Putri? kalian sudah saling kenal sebelumnya?" Tanya Adel yang mulai merasa aneh disini.
"Putri kan sekretarisnya Kavin. Jadi gue udah kenal." Ucap Ratu.
"Oh gitu...Dunia itu terlalu sempit ternyata..." Ucap Adel.
Putri hanya tersenyum mndengar ucapan Adel karena dia sependapat dengan yang Adel ucapkan barusan. Putri juga tidak menyangka kalau pacarnya ternyata mengenal dan berteman baik dengan atasan serta teman-teman istri atasannya. Kalau saja dia tahu ada mantan kekasih pacarnya disini, mungkin dia tidak akan ikut bergabung malam ini...sepertinya Tommy tidak menceritakan hal ini kepada Putri.
Tommy datang hanya sekedar menghargai Adel saja yang sekarang bekerja sama dengan perusahaannya, alasan lainnya lagi, karena dia sempat merasa bersalah dengan Adel. Dia ingin menebus kesalahannya saja malam ini.
Mendadak perut ratu menjadi keram dan sakit, Ratu memegangi perutnya yang terasa aneh...
"Awww...." Rintih Ratu.
Nisa yang ada disebelahnya langsung panik. Nisa membantu Ratu untuk duduk sejenak.
Semua orang terlihat sangat panik melihat keadaan Ratu saat ini termasuk suaminya sendiri...
"Kamu gpp Tu?" Tanya Tommy yang masih saja perhatian kepada Ratu.
Ratu tiak bisa menjawab ucapan Tommy karena menahan rasa sakit.
Tommy menyentuh perut Ratu...
"Yang mana yang sakit Tu? bilang sama gue?"Ucap Tommy lagi.
Semua orang yang disana hanya bisa tercengang melihat reaksi Tommy barusan. Termasuk Adel, Nisa, Putri dan Dimas....
Kavin membuang tangan Tommy yag mneyentuh perut istrinya...
"Jaga batasan. Ratu istri gue bukan pacar lo lagi." Ucap Kavin sinis.
Kata-kata Kavin didengar langsung oleh Putri...
"Gue cuman mau bantu aja Vin." Ucap Tommy yang masih belum sadar situasi sekarang. Putri menatap tajam kearahnya tapi Tommy tidak melihat hal itu.
"Udah dong...kasihan Ratu harus mendengar kalian berantam disini." Ucap Nisa yang berusaha menenangkan keadaan.
"Sebaiknya kita pulang aja ya sayang..." Kavin perlahan memegang tangan dan berjalan dengan istrinya tanpa menghiraukan yang lain...
Adel dan Putri masih mematung menyaksikan kejadian barusan. Keadaan semakin canggung setelah Kavin membawa Ratu pergi keluar apartemen untuk pulang.
"Maaf...ini semua karena gue. Seharusnya gue gak datang kesini." Ucap Tommy.
"Kamu hutang penjelasan untuk semua ini Tom." Ucap Putri.
Putri pamit kepada semuanya kemudian pergi meninggalkan Tommy.
"Putri, hei kamu mau kemana? sayang?" Teriak Tommy. Tommy tidak melihat ekspresi Adel saat Ini. Adel terkejut bukan main dan mematung...
'Gue gak salah dengar kan? barusan Tommy manggil Putri dengan sebutan sayang? apa gue lagi halusinasi.' Batin Adel yang bertanya-tanya.
Melihat ekspresi Adel, Nisa sangat khawatir kalau temannya ini akan terluka lebih dalam lagi. Masalah bertubi-tubi menimpa Adel. Belum lagi menghilangkan sakit hati sebelumnya malah makin menambah sakit dihati.
'Gawat ! Adel pasti sedih sekarang. Apa yang harus gue lakukan?' Batin Nisa.
"Maaf, sebaiknya gue juga pulang sekarang." Ucap Tommy yang sudah frustasi sekarang. Tommy tidak sadar kalau Putri ada disana dan menyaksikan semuanya.
"Tunggu Tomm..." Cegah Adel.
"Maaf Del, gue harus ngejar Putri sekarang." Ucap Tommy.
"Putri siapanya lo Tom?" Tanya Adel memastikan.
"Putri...pacar gue." Tommy melepas tangan Adel kemudian segera berlari keluar mengejar Putri.
Deg...
Adel terduduk dengan lemasnya sekarang. Satu persatu kejadian yang dia hadapi sekarang.
"Apa gue gak berhak bahagia?" Itulah kata-kata yang terbesit dipemikirannya sekarang.
Nisa merasa terpukul menyaksikan keterpurukan temannya sendiri. Apalagi dia mengenal Adel adalah pribadi yang sangat ceria, mandiri, dewasa dan kuat selama ini. Semua kekuatan Adel seakan hilang malam ini.
Nisa mencoba menenangkan Adel tapi Adel hanya termenung dan diam saja.
"Beb jangan begini. Gue yakin suatu saat lo mendapatkan pasangan yang sangat mencintai lo." Ucap Nisa sambil ikutan terduduk.
Adel menatap Nisa dengan tatapan sedih...
"Maaf Nis, lebih baik kamu dan Dimas pulang aja. Gue mau istirahat." Ucap Adel.
"Lo yakin?" Tanya Nisa memastikan.
Adel mengangguk...
Dimas menarik tangan Nisa untuk segera pergi dari sana.
Setelah kepergiaan Nisa dan Dimas, Adel mengunci apartemen dan masuk kedalam kamar. Ternyata begini rasanya kalau bertepuk sebelah tangan padahal belum dia ungkapkan sama sekali. Ternyata mencintai seseorang bisa sesakit ini. Untuk itu cinta memang kejam bagi hidupnya.
Dua minggu berlalu, Adel menjadi orang yang berbeda. Dia menjadi banyak diam dan tidak seceria dulu. Harry yang melihat jelas perubahan drastis itu. Salah satunya dia tidak pernah menerima ajakan Harry lagi. Adel bersikap terlalu formal sampai Harry benar-benar kesal setengah mati dibuatnya.
Harry tidak tinggal diam, Harry mencari tahu hal ini ke orang terdekat Adel. Sampai dia harus menerima kenyataan pahit.
'Ternyata kamu sudah mengetahuinya Del.' Batinnya.
Harry pergi untuk mengunjungi Adel...
Harry memberanikan dirinya sekarang walaupun Adel secara terqng-terangan menolak dirinya.
Harry ingin menghibur Adel bagaimnapun caranya. Tidak berapa lama ada seseorang yang membuka pintu. Harry mengamati dengan seksama karena baru pertama kalinya dia datang dan nekat untuk masuk kedalam. Tentunya setelah mengenal Adel cukup lama, hari ini Harry akan memberanikan diri....
"Maaf kamu siapa?"
"Bisa saya ketemu dengan Adel?"
Orang itu menarik Harry untuk masuk kedalam rumah,
"Saya tidak tahu Adel tinggal dimana sekarang." Jelas orang tersebut.
"Apa?"
"Adel...dia
*****
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading Guys!