
"Kamu..." Ucap Adel sambil menunjuk dengan ekspesi kagetnya.
"Kalian...jangan bilang kalau kalian yang berinvestasi pada perusahaan gue?" Ucap Tommy yang tidak kalah kagetnya.
"Perkenalkan dia adalah klien baru kita yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita." Ucap Harry yang sedang memperkenalkan diri.
"Jadi perusahaan kalian yang membantu dana untuk proyek baru diperusahaan kita?" Ucap Tommy sambil melihat keduanya secara bergantian.
Perusahaan Tommy sedang membutuhkan dana yang lumayan besar untuk penerbitan game baru. Padahal perusahaan Harry tidak bergerak dibidang yang sama dengan Tommy. Hal tersebutlah yang membuat Adel semakin bertanya-tanya.
'Kok bisa ya?'
'Ada apa sih sebenarnya?'
'Semua ini masih terasa aneh banget kayaknya.'
Berbagai pertanyaan dalam hatinya saat ini yang ingin segera dia ungkapkan langsung kepada bosnya itu. Tapi dia hanya bisa memendam saja. Dia bermaksud untuk menanyakan langsung kepada Harry nanti ketika mereka pulang.
"Gak ada salahnya juga perusahaan kita bekerja sama dengan perusahaan game kayak kalian." Ucap Harry.
"Oh gitu..." Ucap Tommy.
"Daripada kalian berdiri aja, lebih baik duduk aja biar lebih santai lagi bicaranya." Ucap Harry mempersilahkan.
Tommy dan sekretarisnya langsung duduk. Sekretaris Tommy berusaha menjelaskan dengan detail proyek baru mereka. Harry hanya mendengarkan dengan seksama sedangkan Adel menjadi tidak fokus seperti tadi. Karena mereka semua sudah saling mengenal satu sama lain, mereka terlihat sangat santai untuk mengobrol. Keuntungannya tidak perlu lagi mencari tahu bagaimana sifat investor mereka. Setelah terjadi kesepakatan, Adel menyerahkan beberapa berkas yang harus ditanda tangani oleh Tommy. Adel merasa sangat senag bisa bekerja sama dengan perusahaan Tommy. Itu artinya mereka akan sering bertemu. Adel tidak sadar kalau ada seseorang yang sejak tadi memperhatikannya. Harry sudah memastikan sendiri semua tingkah Adel didepan Tommy. Sebenarnya Harry tidak ada ketertarikan sama sekali dengan proyek baru dari perusahaan Tommy, dia hanya ingin melihat ekspresi langsung Adel secara langsung.
Setelah tahu reaksi dan ekspresi Adel yang begitu terkejut tapi tetap terus memandangi Tommy tanpa henti membuat hati Harry menjadi sakit. Tidak bisa dipungkiri lagi, ternyata selama ini cowok yang disukai oleh Adel adalah Tommy. Iya mantan pacar sahabatnya sendiri. Inilah alasan kenapa Adel tidak pernah menceritakan apapun kepada Ratu dan Nisa. Dia hanya bisa menuangkan semua ceritanya melalui buku diary.
Harry yang selama ini bersabar terhadap sikap Adel tapi tidak bisa dilakukannya lagi. Setelah mengetahui kenyataan ini hatinya semakin takut kehilangan Adel selamanya. Berbagai spekulasi muncul dipikiran dan benaknya saat ini. Semua penjelasan Tommy dan sekretarisnya tentang proyek baru ini tidak masuk sama sekali kedalam pikirannya. Karena isi pikirannya hanya tentang Adel saja. Tatapannya memang kearah orang yang berbicara tapi tidak dengan pikirannya saat ini.
"Bagaimana pak Harry ? Sudah mengerti dengan proyek ini kan?" Ucap sekretaris Tommy untuk memastikan.
Karena tidak terlihat reaksi sama sekali dari Harry, Adel menyenggol tangan atasannya tersebut.
"Eh bagaimana tadi? Maaf saya lagi gak nyambung kalau baru siap makan." Ucap Harry beralasan.
Adel baru kali ini melihat Harry menjadi seperti ini.
'Apa yang salah ya dengan Harry hari ini. Dia seperti orang yang gak gue kenal. Benar-benar aneh banget.' Batin Adel.
"Proyek ini akan dilakukan selama 2 minggu lagi pak Harry. Kita harus mengadakan meeting kembali di perusahaan kami untuk memprosesnya." Ucap sekretarisnya.
"Oh oke." Harry menginstruksikan kepada Adel untuk memberikan berkas yang harus ditanda tangani...
Setelah selesai dengan berbagai berkas dan dokumen, Harry berjabat tangan dengan Tommy tanda menyepakati kesepakatan dan kerja sama diantara keduanya.
Disana Adel selalu saja memandang kearah Tommy yang bisa dirasakan oleh Harry pastinya. Karena terlalu geram melihat tingkah Adel yang seperti itu dia mengajak Adel untuk segera pergi darisana setelah kesepakatan diantara kedua perusahaan itu terjalin. Tapi sebelum pergi, Adel permisi ke toilet sebentar.
'Kendalikan dirimu Del, jangan sampai sikap dan tingkah laku menjadi aneh dihadapan orang itu.' Adel memegangi dadanya yang sudah terasa begitu sesak sedaritadi. Setelah merasa lebih tenang, Adel menemui mereka kembali.
Padahal kalau dipikir-pikir ini adalah ide konyol Harry sendiri tapi ntah mengapa malah dia yang terpancing sendiri. Harry berpamitan untuk balik lagi ke kantor dan dia berjalan duluan dan Adel berjalan tepat dibelakangnya saat ini.
"Cepetan dong jalannya Del." Protes Harry.
"Sabar dong, aku kan pakai heels mana bisa jalan cepet. Kalau kamu mau buru-buru, lebih baik aku balik ke kantor naik taxi aja." Ucap Adel.
Adel menunduk memberi hormat sebentar kepada atasannya untuk segera pergi, dengan cepat Harry menahan sebelah lengan Adel.
"Maaf. Kita bareng aja ke kantornya." Ucap Hari yang masih memegang lengan Adel.
Adel berusaha melepas tangan Harry dan masuk kedalam mobil dengan segera.
Disepanjang perjalanan Harry berusaha mengajaknya berbicara tapi tidak didengarkan sama sekali oleh Adel. Adel hanya sibuk memikirkan pertemuannya tadi dengan Tommy, dalam lubuk hatinya yang terdalam dia merasa sangat sennag karena bisa dipertemukan seperti itu. Apalagi mereka akan sering bertemu, tidak bisa dia bayangkan sama sekali bagaimana kedepannya.
"Maaf ya. Aku tadi gak maksud kok bilang begitu sama kamu Del." Ucap Harry.
Harry yang masih fokus menyetir sesekali melihat kearah Adel yang masih diam aja tanpa menghiraukannya sama sekali.
'Apa Adel marah ya sama gue? Mungkin tadi gue keterlaluan ya.' Batin Harry.
"Hei...kamu kenapa diam aja?" Ucap Harry lagi.
Masih aja Adel tidak menjawab pertanyaannya.
Harry yang merasa dicuekin semakin geram saja, dia memegang tangan Adel untuk menyadarkannya.
"Del...Del...aku lagi ngomong sama kamu." Harry memegang tangan Adel.
"Eh apaan sih. Kamu modus banget sih pak Harry. Udah cukup ya tingkah kamu saru hari ini. Jangan makin-makin dong." Protes Adel.
"Kamu gak dengar daritadi aku ngomong apa." Ucap Harry.
"Emangnya kamu bilang apa sih? Apa ada yang penting." Ucap Adel.
"Oh gitu. Jadi sekarang kalau mau ngobrol mesti ada hal yang penting ya." Ucap Harry.
"Bukan begitu maksud aku. Kamu marah ya sa-ma..." Harry menutup mulut Adel dengan memasukkan permen.
"Lebih baik kita gak usah bahas dulu kalau kamu lagi gak fokus." Ucap Harry.
'Harry kok jadi berbeda banget sih hari ini, setahu aku kan dia orang yang paling sabar. Gak pernah-pernahnya lo dia begini.' Batin Adel.
"Oh ok." Ucap Adel sambil mengemut permen pemberian Harry tersebut.
Adel mengalihkan pandangannya kearah jalanan.
'Maaf Del, aku hanya tidak ingin berantem sama kamu karena bahas hal seperti ini.' Batin Harry.
Harry hanya fokus menyetir tanpa berbicara lagi...
*****
"Seriusan???"
"Lo gak bercanda kan beb?"
"Gimana ceritanya sih."
"Sumpah gue jadi kepo banget."
Itu adalah isi chat di group Nisa. Nisa yang baru saja mendengar cerita Adel bahwa Tommy adalah klien baru di perusahaan mereka. Dengan sangat penasaran Nisa menanyakan beberapa hal terus-menerus kepada Adel.
"Aduhh...panjang ceritanya beb. Lo juga nanyak satu-satu dong. Gue bingung mau mulai cerita darimana. Gue juga mau cari tahu dulu sama Harry bagaimana cerita selengkapnya." Balas Adel.
"Duh kok jadi gue yang gak sabar dengarnya ya." Balas Nisa.
"Apaan sih lo Nis, ingat lo udah punya Dimas. Kok masih aja ganjen sama cowok lain." Balas Ratu yang sedaritadi membaca obrolan grup.
"Tau nih Nisa masih aja centil banget sama Tommy." Balas Adel.
T*****y ??? apa itu artinya Tommy yang dimaksud Adel selama ini. Karena semua isi diarynya tentang orang yang berinisial itu. Besok gue harus pastiin langsung.
"Emangnya apa salahnya sih? Gue kan cuman penasaran aja sama cerita Adel barusan." Balas Nisa yang masih aja gak mau kalah.
"Gue bilangin sama Dimas baru tahu rasa lo beb." Balas Adel.
"Awas aja kalau lo sampai berani bilang." Balas Nisa.
"Makanya jadi cewek jangan ganjen kalau udah punya pasangan." Balas Adel.
"Kalian berdua masih aja ribut karena bahas Tommy. Heran banget gue lihatnya. Gak ada pembahasan lain apa ya." Balas Ratu.
"Gue cuman kasihan aja sama Dimas yang tersakiti oleh Nisa." Balas Adel.
"Ih apaan sih Del, gue kan bercandaan doang sih. Takut amat bersaing sama gue." Balas Nisa.
"Ngapain juga gue takut." Balas Adel.
"Gue bilang udah ya, jangan berantam lagi. Kalau gak gue block kalian dari kontak gue." Balas Ratu sekalian mengancam kedua sahabatnya itu.
"Maaf beb, kita gak maksud kok." Balas Adel.
"Jangan dong beb, gue minta maaf ya..." Balas Nisa.
"Gitu dong sesekali nurut. Awas aja kalau kalian masih ribut gak jelas begini ya." Balas Ratu.
"Lo gak cemburu kan beb karena kita bahas Tommy mantan lo?" Balas Adel.
"Kalian berdua ngomongin apaan sih gak jelas banget. Gue udah milik Kavin dan yangbpaling penting gue gak akan pernah cemburu. Ok." Balas Ratu.
"Dan lo Del, gue mau lo datang besok kerumah gue bareng Nisa juga. Lo harus ceritain ke kita selengkapnya. Lo hutang cerita ke kita." Balas Ratu lagi.
"Bener yang Ratu bilang. Kita tunggu cerita dari lo besok ya. Balas Nisa.
"Iya bawel...gue cari tahu dulu sama Harry ya." Balas Adel.
"Siiip..." Balas Nisa.
Isi chat grup mereka bertiga sangat tidak jelas sebenarnya tapi kesimpulannya Ratu menyuruh Adel dan Nisa untuk main kerumahnya. Karena dia lagi hamil besar tidak diperbolehkan untuk keluar rumah lagi oleh Kavin.
Adel mengirim sebuah pesan kepada Harry sebelum masuk kedalam ruangannya.
**Adel : **
Kamu lagi sibuk gak? Bisa kita bicara ?
Harry melihat hpnya bergetar dan membaca pesan Adel.
**Harry : **
Lumayan sih. Emangnya ada apa?
Adel :
Bukan apa-apa kok. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu aja sama kamu.
Harry :
Nanti aku kabari kamu kalau udah senggang.
**Adel : **
Ok
Sebenarnya Harry tidak sibuk sama sekali, dia juga sudah menduga apa yang akan Adel tanyakan padanya. Dia sengaja mengulur waktu untuk bertemu Adel. Harry sedang mempersiapkan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan semua hal.
*****
Harry sudah memikirkan semua hal yang akan dia jelaskan kepada Adel. Harry menyuruh Adel untuk masuk keruangannya dengan membawakan kopi.
Adel ke dapur kantor untuk membuatkan bosnya kopi. Kemudian Adel menyuruh Ob untuk mengantarnya keruangan Harry.
Terdengar suara ketokan pintu, langsung saja Harry segera membukanya...dia melihat Adel tidak membawa apa yang dia minta.
"Mana kopi yang saya minta barusan ?" Tanya Harry.
"Saya minta tolong Ob yang membawakan kesini pak. Mohon ditunggu ya. Tadi saya kebelet ke toilet saat mau membawanya keruangan." Jelas Adel.
Keduanya terdiam kembali. Adel memegangi ujung kukunya karena gugup...jelas saja Harry melihatnya. Tidak berapa lama ob mengetuk pintu dan masuk. Ob tersebut menaruh kopi diatas meja kemudian langsung saja permisi.
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan?" Ucap Harry menghilangkan perasaan canggung diantara mereka.
"Maaf sebelumnya...gimana ceritanya perusahaan kita bisa bekerja sama dengan perusahaan yabg dipinpin oleh Tommy?" Tanya Adel langsung to the point.
Pertanyaan Adel benar-benar sudah diduga oleh Harry. Harry tampak mengernyitkan kedua alisnya dan Adel melihat dengan jelas reaksi bosnya itu.
"Aku hanya tertarik saja dengan perusahaan game miliknya. Kamu kan tahu sendiri kalau aku main game. Jadi aku penasaran aja bagaimana aplikasi game itu dibuat." Jelas Harry.
"Dari sekian banyaknya perusahaan game, kenapa kamu tertarik dengan perusahaan milik Tommy?" Tanya Adel yang masih belum mengerti juga.
"Kebetulan perusahaan milik Tommy lagi butuh investor untuk segera menerbitkan game terbaru mereka. Jadi aku mulai tertarik aja dengan game yang hampir 80% siap itu." Ucap Harry.
'Aku sengaja bekerja sama dengan perusahaan Tommy untuk memastikan sesuatu hal. Dan sekarang aku yang terjebak sendiri Del. Aku gak tahu lagi harus maju atau mundur sekarang.' Teriak Harry dalam hati. Ini semua yang akan dia ungkapkan secara langsung tapi tetap tidak bisa.
"Oh gitu ya..." Ucap Adel.
"Kenapa sih kamu penasaran banget? Jadi hal ini yang ingin kamu obrolin." Ucap Harry.
"Cuman pengen tahu aja apa alasan kamu. Ya udah aku balik dulu ke meja kerja aku lagi." Ucap Adel.
"Tunggu dulu... untuk masalah ciuman kita." Adel buru-buru menutup mulut Harry dengan tangannya.
"Aku udah bilang jangan bahas kejadian itu lagi dan aku harap kamu bisa lupa. Jangan pernah bahas ini disini, aku gak mau kalau orang lain dengar." Adel masih menutup mulut Harry.
Harry menarik tangan Adel yang menutup mulutnya. Dia memegang kedua tangan Adel.
"Kamu dengerin...aku gak akan pernah lupain kejadian itu. Dan gak akan pernah. Aku tulus melakukan hal itu karena aku gak bisa mengendalikan perasaan aku ke kamu." Ucap Harry.
Semakin Adel ingin melepaskan genggaman tangan Harry, semakin Harry mempererat genggamannya. Harry benar-benar merasa cemburu sekarang. Karena yang dibahas Adel sedaritadi hanya Tommy dan Tommy aja. Dia merasa Adel tidak mempedulikan hatinya lagi.
"Please Harry lepasin. Ntar bisa dilihat karyawan lain." Adel berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Harry. Tenaga dan kekuatannya tidak berpengaruh saat berdua dengan Harry. Karena Harry begitu kuat dan tidak ingin melepaskan.
"Kalau kamu ingin aku lepaskan, kamu harus mau aku ajak jalan. Gimana?" Ucap Harry.
"Please Harry, ini gak lucu sama sekali." Ucap Adel.
"Ya udah kalau gitu kamu seharian akan menemani aku diruangan ini." Ucap Harry.
Tok....tok....tok
Terdengar suara orang yang mengetok pintu. Tentu saja membuat Adel terlihat begitu panik. Dia tidak ingin orang lain menjadi salah paham terhadap dirinya dan juga pimpinannya itu.
"Oke iya... aku akan jalan sama kamu pas weekend." Ucap Adel dengan terdesak dan terpaksa.
Harry melepaskan genggaman tangannya dan mempersilahkan orang tersebut untu masuk kedalam ruangan.
Yang buat makin terkejutnya ternyata yang datang itu Tommy. Adel yang salah tingkah seketika keluar begitu saja dari ruangan.
'Kenapa Tommy datang ke perusahaan?' Teriaknya dalam hati.
"Bisa gila gue lama-lama menghadapi keadaan seperti ini. Udah Harry yang berubah posesif ditambah kemunculan Tommy." Adel menepuk kedua pipinya untuk memastikan kalau ini semua nyata terjadi.
Hampir satu jam Tommy berada diruangan tersebut. Setelah itu terlihat Tommy keluar ruangan dan menyapa Adel sebentar untuk say hallo saja.
*****
Besok malamnya, Adel dan nisa sudah berada dirumah Ratu untuk bergosip ria....
Adel yang baru saja sampai rumah Ratu langsung diintrogasi untuk menceritakan semua hal.
"Beb...gimana rasanya ciuman dengan atasan sendiri? Ada rasa berdebar gak?" Ledek Nisa.
"Apaan sih Nis, kok malah bahas hal itu. Itu kejadian akan gue lupain selamanya. Jangan menganggap hal itu pernah terjadi." Ucap Adel.
'Sebenarnya Adel tidak tahu apa yang dia rasakan waktu ciuman dengan Harry kemarin. Dia hanya yakin kalau dia hanya merasa kaget saja. Dan tidak akan pernah berdebar...
"Gue kan hanya penasaran aja beb.." Ucap Nisa.
"Gue hanya menganggap Harry sebagai atasan dan teman aja. Terlalu banyak pertimbangan yang harus gue pikirkan kalau untuk membuka hati untuknya." Jelas Adel.
"Apa lagi yang lo pikirkan beb? Harry udah sangat berjuang mendapatkan hati lo selama ini. Masak lo gak tersentuh sama sekali sih? Lo tanya hati lo dalam-dalam. Pernah gak lo merasa tersentuh atas semua perlakuan Harry." Ucap Nisa.
"Harry terlalu baik dan sempurna buat gue. Tapi sebagai teman aja gak lebih." Ucap Adel.
"Daripada bahas hal itu, gue punya pertanyaan yang lo harus jawab dengan jujur. Semua yang lo catat di diary itu tentang Tommy kan?" Tanya Ratu to the point.
"Maksudnya ?" Ucap Adel yang masih kaget dengan pertanyaan Ratu barusan. Dia tidak menyangka rahasianya bisa diketahui oleh Ratu.
"Lo yang paling tahu maksud pertanyaan gue barusan. Dan gue minta lo jujur sekarang !!!" Ucap Ratu.
"Gue...."
*****
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading Guys!