Playboy Vs Playgirl

Playboy Vs Playgirl
Rasa Gugup Nisa



Hari ini Dimas bangun lebih pagi dari sebelumnya. ia berencana mampir ke rumah Kavin dan Ratu sebelum berangkat kerja tentunya. Ada hal yang ingin ditanyakan langsung kepada Ratu. Ia mandi kemudian berpakaian rapi dengan memakai kemeja biru muda dipadukan dengan celana hitam, tak lupa ia juga memakai sepatu hitam juga. Rambut yang disisir kearah kanan membuat tampilannya berkesan minimalis, simple serta rapi. Bisa dibilang tampilannya sangat modis yang membuat ia tampak lebih tampan dari biasanya. Setiap pagi ia selalu mmbuat sarapan sendiri. Hari ini ia hanya memasak kentang goreng, omlette serta susu hangat. Sebenarnya selama ia bekerja di Jakarta ia merasat kesepian karena ia hanya tinggal sendiri di komple rumah yang termasuk besar itu. Tapi sekarang ia tidak merasa kesepian lagi semenjak Kavin teman baiknya tinggal di komplek perumahan yang sama dengannya.


Selesai sarapan Dimas bergegas pergi ke kantor Tak lupa ia membawa tas milik Nisa yang ingin ia kembalikan. Diperjalanan, ia sempat ragu untuk bertanya langsung pada Ratu. Perasaan yang ia rasakan bercampur aduk, ia juga bingung dengan dirinya sendiri. 'Gue tanya atau cari sendiri ya atau gue antar kerumah Nisa aja. Tapi kalau Nisa tidak dirumah gimana ya. Dompet Nisa kan ada di dalam tas ini berarti penting dong. Aduh ribet banget sih.Tapi kalau gue tanya Ratu pasti mikirnya aneh--aneh deh.' Gemuruh Dimas yang campur aduk.


Setelah berfikir panjang ia memutuskan untuk singgah di rumah Kavin. Di dalam rumah Kavin dan Ratu beserta orangtua mereka sedang sarapan dikagetkan dengan suara bel rumah mereka.Bi Ina memberi tahu kepada Kavin kalau Dimas ingn bertemu dengannya.


Kavin menghampiri Dimas yang sedang duduk di teras rumahnya. "Hai Dim???Tumben pagi-pagi udah main kesini aja lo." Sapa Kavin sambil menepuk bahu Dimas pelan.


Ucap Dimas yang menatap kearah Kavin.


"Emang mau nanyak apaan lo sama Ratu. Emang penting banget ya Dim???sampai pagi-pagii begini lo kesini." Tanya Kavin penasaran sambil menatap tajam Dimas.


'Tuh kan udah tahu gue akan begini kejadiannya. Gue takut Kavin mikir yang aneh. Karena gue tahu banget Kavin kalau udah sayang sama orang pasti cemburuan dan posesif banget.' Batin Dimas yang merasa serba salah.


"mmm...gi--ni Vin lebih baik lo panggil Ratu kesini deh. Ribet gue jelasinnya."


Kemudian Kavin masuk kedalam rumah memanggil Ratu untuk keluar. Dimas merasa makin gugup karena baru kali ini dia mencari tahu nomor cewek langsung.


"Kenapa Dim???lo mau nanyak apaan sepagi ini sama gue ???" Tanya Ratu to the point.


Kavin juga berada disebelah Ratu. Ia sangat penasaran dengan apa yang aan ditanyakan temannya itu. Kavin masih menatap tajam kearah Dimas.


Dengan berfikir sangat keras akhirnya ia memberankan diri untuk bertanya langsung kepada Ratu.


"Gi---ni tu, Sebenarnya gue mau tanya sama lo ???" Ucap Dimas sedikit ragu karena ditatap tajam Kavin.


"Lo mau nanyak apa sih sebenarnya ???Buat gue penasaran aja Dim!!!" Ketus Kavin.


"Yauda tanya aja Dim..." Ratu menyenggol tangan kiri Kavin.


"Kamu mah jangan ketus gitu ngomongnya."Bisik Ratu ke telinga Kavin.


"Sebenarnya gue mau minta nomornya Nisa sama lo tu. Boleh gak???"


"Gue pikir mau nanyak apaan. Lo sih terlalu kaku banget kalau berurusan tentang cewek."Ledek Kavin.


"Boleh kok. Bentaran gue ambil hp dulu didalam."


Sebenarnya Dimas ingin membalas omongan Kavin tapi ia merasa apa yang dikatakan Kavin adalah fakta. Karena dari dulu ia hanya fokus belajar dan membantu mamanya jadi ia sama sekali tidak ada waktu pacaran dengan seseorang termasuk untuk berteman dengan seorang cewek sekalipun. Saat Ratu masuk kedalam, Kavin kembali lagi meledek Dimas.


"Hayo ngapain lo minta no Nisa???ada apa antara kalian ???" Goda Kavin.


Tanpa sadar muka Dimas memanas mendengar perkataan Kavin barusan. Dimas hanya diam tanpa bisa membalas omongan Kavin.


'Nyesel gue datang kesini...Kavin selalu aja begini gak pernah berubah.Hobinya ngeledekin gue terus.'Batin Dimas kesal.


5 menit kemudian Ratu keluar, ia langsung memberikan nomor hp Nisa kepada Dimas. Setelah menyimpan nomor hp Nisa Dimas memutuskan untuk bergegas pergi ke kantor.


"Makasih ya Tu. Maaf pag-pai gue jadi ganggu kalian. kalau gitu gue langsung pamit ya."


"Iya sama-sama Dim."


"Hati-hati bro." Ucap Kavin


"Ok bro." Dimas langsung bergegas pergi dan tak lupa ia melambai kepada Ratu Kavin.


Saat diperjalanan Dimas memikirkan kapan ia akan menghubungi Nisa. Setelah ia berfikir keras ia berniat menelpon Nisa saat sampai kantor nanti.


'Kalau gue datangi Nisa sekarang bisa telat gue ke kantor jadi lebih baik gue hubungi dia ntar aja pas sampai kantor. Huhhh!!! Lagian kenapa gue bisa sekaku ini sih tadi didepan Ratu dan Kavin padahal cuman minta nomor doang. Buat ribet banget sih tas Nisa ini pakai acara ketinggalan di mobil segala..'Gemuruh Dimas tak menentu.


*****


Bunda yang membangunkan Nisa sambil menggoyangkan badan serta menarik selimut agar Nisa segera bangun tapi sia-sia. Nisa tidak bereaksi apa-apa ketika dibangunkan oleh bundanya. Dia begitu nyenyak dan terlalu lelap tidur. Bunda yang sangat kesal dibuatnya. Akhirnya bunda membiarkan Nisa tertidur.


'Ini nih yang bunda gak suka lihat kamu begini. kalau udah pulang larut malam pasti paginya susah banget dibanguni.' Batin bundanya sambil mematikan AC dikamar Nisa kemudian kembali ke dapur.


Di dapur bunda sudahmembuatkan sarapan kesukaan Nisa yaitu Roti bakar isi ovomaltine dan bluberry serta susu hangat. Karena menunggu Nisa yang tak kunjung bangun, akhirnya bunda memutuskan untuk sarapan seorang diri sambil menonton tv. Kegiatan yang bunda lakukan dirumah hanya sibuk merawat bunga dan tanaman saja. Mereka mempunyai seorang pembantu yang bernama Bi Nur yang sudah  lama bekerja dengan keluarganya. Tugas Bi Nur hanya membereskan rumah, mencuci serta menyetrika baju. Untuk urusan memasak,Nisa hanya ingin makan masakan bundanya saja.


20 menit kemudian, akhirnya Nisa merasa kegerahan didalam kamar. Ia perlahan membuka matanya kemudian mulai duduk. Tak lupa Nisa langsung mengecek hp untuk melihat jam. Betapa kaget ia karena sudah kesiangan untuk pergi ke klinik kecantikan. Segera ia mandi dan bersiap-siap...ia memakai kemeja hitam polos dipadukan dengan celana jeans dan rambut yang diikat satu membuat tampilannya terlihat manis. Sebenarnya ia ingin rambutnya terurai seperti biasanya tapi ia tidak punya waktu lagi. Ia memakai makeup sederhana membuat wajahnya terlihat lebih fresh. Setelah itu ia ke lantai bawah untuk sarapan.


Bunda yang melihat kehadirannya langsung menceramahi Nisa.


"Ternyata anak bunda bisa ya bangun sendiri. Capek bunda banguni daritadi. Kamu itu jangan biasain begini ya Nisa. Kalau kamu pulang malam bunda gak pernah larang asalkan kamu bisa bangun pagi. Kalau kamu mau berhasil menjalani usaha kamu harus rajin pantau dan kasih contoh yang bagus ke karyawan kamu. Bukannya malah sering telat begini."Ceraah bunda.


Bunda menyodorkan roti kearah Nisa.


"Iya bunda maafin Nisa ya bunda. Tapi beneran tadi pagi Nisa gak terasa kalau bunda udah banguni." Ucap Nisa sambil memakan roti.


"Bunda udah capek daritadi banguni kamu sampai bunda gak tahu lagi harus gimana. Kamu harus membiasakan diri bangun pagi mulai sekarang. Karena bunda kan gak selamanya bakal nemeni kamu terus."


"Bunda stopp!!! Nisa gak suka ya bunda bicara kayak gitu. Nisa itu sayang sama bunda. Maafin Nisa buda...iya Nisa usahain dari sekarang gak akan ngecewain bunda lagi."


"Ya baguslah kalau kamu udah sadar. Bunda begini juga untuk kebaikan kamu nantinya. Gimanapun kamu suatu saat bakalan menikah dan bakal punya kehidupan dan keluarga sendiri.Kalau kamunya mals begini gimana keluarga kamu nanti. Kamu harus sadar sebagai perempuan kita harus bisa bangun pagi dn menyediakan ataupun melayani keluarga nantinya. Kamu ingat itu pesan bunda."


"Iya bunda Nisa ngerti kok. Tapi bunda janji jangan pernah ngomong kayak tadi lagi. Nisa sedih dengarnya bund...Nisa gak pernah bisa bayangin kalau hidup tanpa bunda. Hanya bunda yang Nisa punya sekarang." Ucap Nisa sambil memeluk bundanya manja.


"Iya sayang. Bunda juga sangat sayang sam kamu." Bunda mempererat pelukannya.


"Kamu mendingan buruan sarapan terus berangkat ke klinik. Kamu harus pantau terus bisnis itu. Bunda doain semakin maju biar kamu bisa membuka cabang lagi sayang. Aminn.."


"Iya bunda...amin."


Setelah selesai sarapan Nisa langsung pamit ke bunda kemudian bergega berangkat menuju klinik kecantikan miliknya. .Sampai sekarang Nisa masih tidak sadar kalau tas miliknya tidak ada. Biasanya ia selalu ingat membawa tas saat bekerja.


*****


Dimas yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya, ia menjadi lupa untuk menghubungi Nisa. Setelah selesai dengan pekerjaannya ia memutuskun untuk beristirahat serta bersantai sebentar.


'Tunggu dulu kayaknya gue melupaka sesuatu tapi apa ya. Astaga gue baru ingat ekarang !!! gue kan mau hubungi Nisa untuk memulangkan tas. Yauda deh gue hubungi dia sekarang. Astaga kenapa gue bisa sampai lupa begini sih.' Batin Dimas mengutuki dirinya sendiri.


Dimas mengambil hp kemudian langsung menghubungi Nisa.


Nisa melihat hpnya berdering kemudian segera mengangkat.


"Halo. Siapa ini???"Ucap Nisa.


Entah kenapa Dimas merasa ragu untuk menjawab Nisa.


"Eh hai Nis..... ini gue Dimas."


Nisa yang tidak menduga yang menghubunginya adalah Dimas. Ia pun terdiam karena tak menyangka. Ia merasa sangat gugup saat mengangkat telepon Dimas.


'Serius ini Dimas yang nelpon gue ???'Batinnya yang bertanya-tanya.


"Ada apa ya Dim ???Maaf ue gak tahu kalau ini elo."


"Gue cuman mau bilang kalau tas lo ketinggalan di mobil gue."


'Astaga !!! sumpah Dim gue gak sadar kalau tas gue gak ada."


"kapan lo ada waktu biar gue kembaliin ke elo."


"Maaf Dim... gue jadi ngerepotin lo. Kalaujam makan siang ini lo ada waktu gak ???"


"Mmmm...Ok boleh kita ketemuan di cafe Bunga ya Nanti gue shareloc ke elo ya."


"Ok Dim...Makasih ya."


"Ok sama-sama Nis."


Dimas langsung memutus telepon dan bersiap-siap untuk menemui Nisa. Disisi lai, Nisa yang masih kaget di hubungi oleh Dimas. Ia mengambil bedak dan sedikit touch up. Ia bergegas menemui Dimas.


'Gue kok jadi gugup begini ya. tenang Nisa lo gakboleh kelihatan salah tingkah didepan Dimas' Batin Nisa.


*****


Sampai di cafe bunga, Dimas melambaikan tangan kearah Nisa. Nisa yang melihat langsung menghampirinya. Dimas memberikan tas milik Nisa kemudian ia mengajak Nisa untuk makan siang bersama. Karena rasa gugup Nisa sampai ia bingung hrus ngobrol apa dengan Dimas. Padahal baru semalamia rasa senang bisa ngobrol banyak dengan Dimas. Hari ini Nisa menjadi lebih pendiam.


Dimas yang cuekdankaku juga tidak peka terhadap sikap Nisa. Ia hanya menikmati makanan dan minuman yang ia pesan karena sudah lapar. Sedangkan Nisa hamya duduk melamun saja. Selesai makan, tak sengaja Dimas melihat Nisa melamun.


"Helloooo??????"


"Ehh kenapa Dim???"


"Lo gak laper ya, daritadi makanannya cuman diliatin doang."


"Ini gue mau makan kok."Ucap Nisa


'Kenapa gue malah melamun gini sih didepan Dimas pula. Kapan lagi coba gue bisa ketemu sama dia begini.' Batin Nisa.


Tiba--tiba ada 2 orang cewek menghampiri mereka.......


"Hai Dimas???"Sapa keduaya dengan centil.


Nisa melihat 2 orang cewek dengan tatapan tidak suka. Seperti tatapan cemburu.


"Makan sama siapa Dim??"


"Hai juga...ini gue makan sama teman gue kenalin namanya Nisa.Nisa ini kenalin teman kerja gue namanya Dina dan Tyas."


'Sadar Nisa lo itu hanya dianggap teman sama Dimas. Jadi mulai dari sekarang lo harus lupain rasa suka lo ke dia. Sampai sekarang Dimas juga gakpernah peka sama perasaan lo.'Batin Nisa.


"Eh hai gue Nisa."


Mereka saling berjabat tangan dan tersenyum. Nisa terlihat memaksakan senyuman kepada keduanya. Dimas meliht Nisa dengan tatapan aneh.


"Kita boleh gabung disini gak Dim???"


Sepontan Nisa tersedak mendengar omongan barusan. Dimas memberi Nisa air minum.


"Kalian gabung aja sama Dimas. Gue juga udah mau lanjut kerja lagi kok. Oh iya Dim!!! Gue duluan ya. Sekali lagi makasih ya."Ucap Nisa.


Saat Nisa ingin pergi dari cafe, Dimas menahan tangan Nisa.


"Nis makanan lo belum habis...."


"Iya gue Tahu Dim...tapi gue juga buru-buru balik. Maaf ya." Ucap Nisa sambilmelepaskan tangan Dimas.


"Oh ok. kalau gitu hati-hati ya..."


"Ok Dim..."


Nisa sedikit berlari meninggalkan Dimas dan teman-temannya. Sebenarnya ia tidak suka dengan kehadiran mereka. Tapi ia hanya seorang sahabat yang tidak ada hak smaa sekali untuk melarang Dimas.


'Kenapa sih cowok itu susah banget peka. Kesel gue lihat Dimas sama 2 cewek centil tadi. Gue yakin 2 cewek tadi itu suka sama Dimas.' Batin Nisa


Sebenarnya Nisa masih berada di parkiran mobil yang ada di cafe tersebut. Ia memantau serta memata-matain Dimas dan kedua cewek tadi. Sebenarnya ia tidak terima saat kedua cewek itu berusaha menempel dengan Dimas. Rasanya ia ingin berteriak saja kepada Dina dan Tyas. Nisa terlihat sangat cemburu.


'Apa gue harus ungkapin isi hati gue ke Dimas ya? tapi kalau gue ungkapin terus Dimas makin menjauh dari gue gimana? Ahhh ntahlah gue bingung harus ngapain sekarang. Udah deh bagusan gue balik aja ke Klinik.' Batinnya yang kacau balau.


*****


Gimana pada suka gak? mohon berikan komentarnya yaa...


Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya..


jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.


Terimakasih masih setia membaca novel ini.


Happy Reading guys!