Playboy Vs Playgirl

Playboy Vs Playgirl
Tersadar



"Artinya...aku kasih kamu kesempatan untuk pendekatan. Aku masih mau lihat dulu usaha kamu." Ucap Adel.


Harry langsung memeluk Adel dengan senangnya.


"Makasih Del..." Ucap Harry dengan semangatnya.


"Aku gak akan berjanji apapaun tapi aku akan membuktikan semua ucapan aku barusan." Ucap Adel.


"Lebih baik kita pulang sekarang." Ucap Adel yang dibalas anggukan oleh Harry.


Tidak bisa dibayangkan seberapa senang Harry malam ini. Usahanya selama ini membuka sedikit peluang dihati Adel. Harry akan berusaha mendapatkan hati Adel dengan sebaik mungkin. Kesempatan yang Adel berikan akan dia manfaatkan. Usaha tidak akan sia-sia selama seorang masih bekerja keras bukan? Hal itu yang membuat Harry percaya kata-kata bijak tadi.


Adel yang menyaksikan kesenangan Harry hanya bisa tersenyum. Mungkin seperti itu rasanya kalau orang yang kita sukai memberikan harapan atau kesempatan. Itulah yang dia pikirkan. Mungkin akan sebahagia yang dirasakan oleh Harry.


Adel berjalan kearah mobilnya dan langsung berpamitan dengan Harry. Harry segera mengikuti mobil Adel dari belakang. Setidaknya Harry menyaksikan kalau Adel selamat dan baik-baik saja sampai apartemen. Harry masih ingat dengan jelas kejadian yang pernah Adel alami, jadi Harry berusaha memantau Adel dari kejauhan.


Adel tidak tahi kalau Harry mengikuti dirinya dari belakang. Adel hanya fokus menyetir saja.


'Apakah ini keputusan yang tepat? Ntahlah tapi Adel masih mencoba membuka hati untuk Harry. Bagaimanapun Harry adalah orang yang selalu ada dan baik selama ini dengannya.' Adel masih bertanya-tanya dalam hati.


Begitu sampai apartemen, Adel segera menuju kedalam kamar untuk mengganti baju dan sekedar mencuci muka dan menggosok gigi. Adel sudah mager untuk mandi malam ini.


Adel sudah sangat mengantuk...


"Lupakan apapun yang terjadi, jadilah Adel seperti biasanya." Ucap Adel kemudian memejamkan matanya.


*****


"Hari ini kita ketemuan diruamh Ratu ya."


"Kalian pada bisakan?"


"Maaf kalau gue baru bisa ketemu..."


Adel mengirim pesan di grup chat..


Nisa langsung merespon pesan dari Adel ini.


"Gue bisa-bisa aja kok."


"Kabari aja jam berapa."


"Ntar gue pasti datang..."


"Tapi boleh kan kalau gue datang dengan Dimas?" Balas Nisa.


"Terserah lo aja mau bareng siapa beb, yang penting kita ketemuan." Balas Adel.


"Oke. Tapi Ratu belum ada balas nih dia bisa apa gak ya?" Balas Nisa.


"Mungkin lagi tidur kali beb, kita tungguin aja kalau dibalas berarti nanti kita ketemuan. Kalau belum dibalas kita bisa atur ulang waktu lagi." Balas Adel.


"Gue ngikut aja sih. Lagian ini juga malam minggu..." Balas Nisa.


"Boleh bawa orang lain juga gak?" Balas Adel.


"Emangnya lo bawa siapa? Jangan-jangan lo udah punya gebetan baru lagi." Balas Nisa.


"Bukan gitu. Ntar aja deh gue sekalian ceritain. Intinya boleh bawa gak? Gue bosen jadi nyamuk terus diantara kalian. Kalian selalu ada pasangannya." Balas Adel.


"Jadi ini beneran cowok Del?" Balas Nisa.


"Maksdud lo apaan ya Nis. Huh.." Balas Adel.


"Gue kan cuman mastiin aja beb. Jangan galak gitu dong." Balas Nisa.


Ratu mulai merasa terganggu dengan hpnya yang terus-menerus bergetar di meja samping tempat tidurnya. Ratu meraih hp untuk melihat siapa orang yang mengganggu istirahatnya.


"Kalian bahas apaan? Bising ..." Balas Ratu yang belum membaca obrolan grup sepenuhnya.


"Adel ngajak kita ketemuan dirumah lo. Lo bisa kan Tu?" Balas Nisa.


"Kapan emangnya?" Balas Ratu.


"Malam inilah sepulang kerja. Gimana?" Balas Nisa.


"Sekalian malam mingguan dirumag gue?" Balas Ratu.


"Yupss... benar beb. Adel mau bawa cowok juga katanya." Balas Nisa.


"Gue bawa seseorang bukan berarti dia pacar gue kan.." Balas Adel mencoba mengklarifikasi.


"Gue juga gak bhas tentang pacar juga kok Del. Gue bilang lo mau bawa seorang cowok. Apa gue salah?" Balas Nisa.


"Duh kalian berdua ribut terus deh. Ya udah ntar malam ya. Kalian deh sekalian bawain makanan buat gue." Balas Ratu.


"Ok." Balas Nisa.


"Oke deal." Balas Adel.


Setelah selesai mengkonfirmasi lewat chat, Adel mengirim Harry sebuah chat..


Adel :


Ntar malam mau nggak ikut kerumah Ratu bareng yang lain?


Harry :


Boleh.


**Adel : **


Tapi kita pulang kerja dulu bersihan dulu. Gimana?


Harry :


Ok. Ntar aku jemput kamu ya. Kita pergi bareng...


**Adel : **


Gak usah deh. Kan apartemen kita gak searah. Kasihan ntar kamunya kejauhan.


Harry :


Aku tetap jemput kamu.


Adel :


Ya udah gimana kamunya aja.


**Harry : **


Ok.


Harry merasa sangat antusias, pertama kalinya mereka malam mingguan bersama walaupun belum ada status sebagai pasangan. Tapi setidaknya Harry bisa berusaha membuat Adel luluh ...


Didalam ruangan, Harry melihat kearah jam dinding. Rasanya waktu terlalu lama bergerak saat ini. Ingin sekali Harry mempercepat waktu tersebut. Harry sudah tidak sabar, dia sampai membayangkan hal-hal indah bersama Adel nantinya.


Dari dalam ruangannya Harry melihat ekspresi Adel yang sedang mengetik. Adel terlihat cantik dimatanya. Harry senyum-senyum tidak menentu. Padahal malam ini dirinya yang ingin sekali mengajak Adel kencan. Tapi sudah diduluanin oleh Adel yang mengajaknya terlebih dahulu.


Sebenarnya mau kemanapun malam ini kalau berdua sama Adel , Harry tidak ada masalah. Dia siap selalu saat Adel membutuhkan. Mungkin terdengar berlebihan. Tapi itulah yang ada dalam benaknya. Dia ingin menjadi orang yang Adel butuhkan kapanpun dan dimanapun.


Sanking asiknya dengan lamunan yang tidak jelas, Harry tidak menyadari kalau sekarang Adel sudah ada dihadapannya...


"Maaf pak Harry, kalau saya langsung masuk. Saya ketuk pintu daritadi tidak ada jawaban." Ucap Adel.


Harry masih tidak menggubris ucapannya.


Adel mengetuk meja berulang kali sampai membuat Harry kaget dan tersadar.


"Adel !!! Kamu kapan masuk?" Ucapnya.


"Daritadi pak. Saya juga udah minta maaf karena hal itu." Ucap Adel.


"Maaf saya tidak memperhatikan." Ucap Harry sambil mengambil berkas yang dibawa Adel. Harry menandatangani berkas-berkas tersebut.


"Saya permisi dulu pak." Ucap Adel sambil berjalan keluar.


Harry menepuk-nepuk keningnya...bisa-bisanya dia tidak melihat kedatangan Adel tadi. Sumpah pasti Adel melihat ekspresi Harry tadi.


"Bodoh bodoh bodoh. Kalau udah mwlamun pasti lupa segalanya." Ucap Harry.


Adel masih tidak habis pikir dengan tingkah Harry yang terbilang aneh itu...


"Dasar aneh." Ucap Adel saat mengingat sekilas tingkah Harry tadi.


Adel melanjutkan pekerjaannya yang tadi dan segera menyelesaikannya agar Adel bisa pulang cepat untuk bersiap dirumah.


*****


Harry menjemput Adel terlalu cepat sehingga membuat dirinya menunggu lama didepan pintu apartemen milik Adel. Harry sengaja tidak memberi info kalau dia sudah tiba disana.


Selang setengah jam kemudian, Adel yang memakai cardigan bewarna coklat dengan dalaman taktop bewarna hitam dan dipadukan dengan celana jeans panjang dan sepatu flat bewarma hitam serta slingbag hitam terlihat manis dengan tampilan sederhana sepeerti itu. Adel dengan mengikat 1 rambutnya membuat tampilannya menjadi lebih rapih....


Adel membuka pintu apartemen sambil melihat hp. Adel mengecek siapa tahu Harry ada menghubungi dirinya. Adel membuka pintu...


Ceklek....


Harry berdiri tepat didepan pintu sambil menyilangkan tangannya untuk memberikan kejutan.


"Ikh Harry...buat kaget aku aja." Adel memukul-mukul dada Harry terus-menerus karena kesal.


"Aww...sakit Del." Rintihan Harry membuat Adel menghentikan tingkah lakunya tersebut.


"Habisnya kamu kebiasaan. Hobi kamu sekarang jahilin aku mulu." Ucap Adel.


"Aku senang aja lihat ekspresi kamu kalau lagi kaget begitu. Gemas banget ? sampai aku pengen peluk." Ucap Harry yang memeluk paksa Adel.


"Lepasin Harry." Adel mendorong tubuh Harry menjauh darinya.


"Dasar mesum..." Ucap Adel.


"Tapi kamu suka kan?" Ucap Harry terkekeh karena melihat kedua pipi Adel merona.


"Kalau diam berarti kamu setuju sama ucapan aku barusan. Oh iya? by the way... lama amat kamu keluar..." Ucap Harry yang sengaja memberi kejutan.


"Kamu ...jangan bilang kalau kamu sudah sedaritadi disini." Ucap Adel sambil menunjuk kearah Harry.


Harry mengangguk setuju.


"Kenapa kamu gak ada kasih kabar? Kan kamu bisa tunggu didalam." Ucap Adel.


"Iya juga ya. Lain kali deh..." Bisik Harry sedikit menggoda Adel.


Harry dan Adel saling bercanda satu sama lain saat berjalan menuju lift. Harry tidak henti-hentinya menggoda Adel. Sampai Adel menjadi salah tingkah dibuatnya. Semenjak Adel memberinya kesempatan untuk lebih dekat lagi, Harry mulai berani menunjukkan sisi romantis dan jahilnya sekaligus. Alasan selama ini kenapa Harry tidak menunjukkannya, salah satunya karena dia takut Adel menjadi ilfeel dan tidak suka.


'Ternyata Harry punya sisi humoris juga ya.' Batin Adel. Saat ini mereka berdua berdiri bersebelahan didalam lift. Adel melihat kearah Harry dan Adel baru menyadari kalau tampilan Harry malam ini terbilang lumayan keren. Harry memakai kaos oblong bewarna hitam dipadukan dengan celana jeans hitam serta jaket kulit coklat dan sepatu sneaker putih.


'Gue baru sadar malam ini tampilan Harry senada dan cocok banget dengan gue. Shitt...pasti ntar dikirain couple an baju lagi sama Harry. pasti diledekin habis-habisan sama Ratu dan Nisa.' Batin Adel.


"Hei kamu kok lihatin aku terus sih? jangan bilang kalau kamu terpesona sama wajah aku." Goda Harry.


"Huh, jangan GR deh. Kamu kenapa pakai warna baju yang sama? aku cuman heran aja..." Protes Adel.


Harry melihat bayangannya dirinya dan Adl didalam lift. Kemudian Harry berbisik.


"Berarti kita sehati..." Goda Harry membuat Adel menatap kearahnya. Mata mereka saling menatap. Harry mendekatkan wajahnya kearah Adel sampai jarak mereka berdua sangat dekat. Adel sampai bisa merakan hembusan nafas Harry...


Ting....


Dan ucapan Harry barusan bersamaan dengan terbukanya lift...


Adel langsung berjalan duluan dan sedikit berlari. Adel terlihat salah tingkah sekali saat ini. Harry yang masih ada dibelakang Adel hanya menggelengkan kepala dan terkekeh melihat tingkah Adel yang terbilang menggemaskan itu.


'Harry benar-benar cari kesempatan dalam kesempitan terus nih. Gue gak bisa terlalu dekat dengan Hary sekarang. Ah shit muka gue kok terasa panas begini..' Adel yang berjalan duluan memegangi wajahnya yang masih kemerahan tersebut.


Sampainya diparkiran Harry mempersilahkan Adel untuk masuk kedalam mobil. Kemudian Harry menyetir dan bergegas untuk pergi kerumah Ratu dan Kavin. Adel sempetin untuk membeli beberapa cemilan, makanan dan minuman.


*****


"Mana sih beb Adel? belum muncul juga." Ucap Nisa sambil mengarahkan pandangannya kearah pintu rumah Ratu.


Nisa dan Dimas sudah sekitar setengah jam lebih sudah berada disana. Mereka tinggal menunggu kehadiran Adel saja saat ini. Bukannya menjawab pertanyaan Nisa, Ratu malah sibuk makan ice cream yang dibawa oleh Nisa. Dimas dan Kavin berada didepan teras rumah sedang asik mengobrol tentang sesuatu.


"Beb, gue lagi bicara sama lo." Ucap Nisa yang sadar kalau dirinya diabaikan.


"Iya iya gue tahu. Ya kita tunggu aja sebentar lagi. Palingan Adel bentaran lagi sampai." Ucap Ratu dengan santainya.


"Habisnya gue udah gak sabar lihat Adel bawa siapa kesini." Ucap Nisa.


"Kita tunggu aja bentar lagi beb." Ucap Ratu yang masih fokus makan ice cream vanilla kesukaannya.


Usia kandungan Ratu sekarang sudah mau berjalan 8 bulan.Untuk itu segala jenis persiapan sudah dilakukan sebaik mungkin tinggal menunggu kelahiran si bayi saja. Ratu dan Kavin sempat mencari refrensi untuk merawat bayi yang baru lahir. Hal ini sangat penting bagi orangtua baru seperti mereka.


"Perut lo udah lumayan besar juga ya beb." Tunjuk Nisa kearah perut Ratu.


Ratu mengangguk setuju...


"Iya nih beb, tinggal nunggu sebulan lagi aja." Ucap Ratu.


Terdengar suara mobil berhenti tepat didepan rumah Ratu. Nisa berlarikedepan untuk melihat siapa orang yang Adel bawa malam ini.


"Kamu ngapain sih ngumpet segala Nis?" Tanya Dimas yang heran melihat tingkah pacarnya.


"Hustt..kamu diam aja. Aku mau lihat Adel bareng siapa." Ucap Nisa sambil menaruh jari telunjuknya pada bibir.


"Kan kamu juga bakalan tahu nanti." Ucap Dimas.


"Udah deh kamu gak usah ganggu aku dulu." Protes Nisa yang menyuruh Dimas menjauh darinya.


Dimas balik lagi duduk dengan Kavin.


"Memang dasar cewek, ada-ada aja tingkah lakunya..." Ucap Dimas.


Kavin memukul bahu Dimas...


"Memang cewek selalu begitu. Susah ditebak apa maunya Dim..." Ucap Kavin.


"Iya heran gue lihatnya..." Ucap Dimas.


Pintu mobil Adel dibukain oleh Harry dan Ael segera turun. Mata Nisa terbuka lebar saat melihat kalau cowok tersebut adalah Harry...


"What? ada apa dengan mereka?" Nisa berlari kedalam sambil ngos-ngosan dia tidak sabar untuk segera memberitahu hal itu kepada Ratu.


"Coba lo minum dulu deh. Nafas lo sampai tersenggal-senggal begitu. Lagian macam anak-anak aja pakai lari-larian begini." Ucap Ratu sambil menyodorkan segelas air putih.


Nisa langsung meneguk air minum tersebut.


"Baruan gue lihat ternyata Adel datang bersama dengan Harry."Ucap Nisa.


Ratu tersenyum senang mendengarnya..


"Bagus deh. Setidaknya Harry memang orang yang baik dan paling bisa menerima Adel apa adanya." Ucap Ratu.


"Apa mereka udah jadian ya beb? kok tumben aja malam minggu begini Adel membawa seorang cowok..." Tanya Nisa.


"Kita tanya langsung aja nanti Adel. Kalau lo tanya gue, ya mana gue bisa tahu beb. Secara Adel orangnya tidak bisa kita tebak." Ucap Ratu.


"Iya juga... Adel memang..." Nisa tidak meneruskan lagi ucapannya karena melihat Adel berjalan menghampiri mereka berdua. Sedangkan Harry ikut bergabung dengan Kavin dan Dimas diluar rumah.


"Hai beb, sorry ya gue lama..." adel cipika-cipiki dengan Nisa dan Ratu.


"Ehem...ehem...gue bisa ngerti sih."Ledek Nisa.


"Apaan sih Nis, gue lama karena beli beberapa makanan dan minuman untuk kita. Jangan mikir yang aneh-aneh deh..." Protes Adel yang langsung mengklarifikasi dengan cepat.


"Gue kan gak ada bicara yang aneh. Lo itu terlalu cepat menyimpulkan aja." Ucap Nisa.


"Gue tahu lo dengan baik Nis. Jadi gak usah coba untuk nutupin hal itu. Gue udah lihat kalau lo ngumpet tadi. Lo pasti tahu gue datang bareng siapa." Ucap Adel. Nisa terdiam karena tidak bisa menjawab ucapan Adel barusan. Nisa tidak mentangka kalau Adel melihatnya...


"Kenapa lo diam? Gue benarkan? Dimas yang bocorin hl itu ke gue." Ucap Adel.


'Dimas benar-benar polos banget sih, bisa-bisanya dia kasih tahu hal ini. Ngeselin...' Batin Nisa.


"Jadi apa hubungan lo sama Harry sekarang?" Tanya Ratu yang akhirnya buka pembicaraan.


"Masih temenan kok." Ucap Adel.


"Masih? berarti sebentar lagi jadian dong." Goda Ratu.


"Lo lagi PDKT kan sama Harry? jujur aja beb sama kita-kita juga." Ucap Nisa.


"Hmm...mungkin bisa dibilang begitu. Berkat Harry juga gue sadar sesuatu... kalau didunia ini masih ada orang yang tulus dan peduli sama gue.Gue juga minta maaf sama kalian berdua, maaf kalau gue menjauh dan menghindar untuk bertemu. Jujur gue belum siap dan perlu waktu untuk memikirkan semua ini. Semua begitu mendadak dan masalah gue juga bertubi-tubi datang sampai gue tidak bisa membedakan yang mana yang prioritas dan penting lagi. Gue benar-benar menyesal..." Ucap Adel dengan memasang wajah yang menyesal.


"Kita juga tahu kok kalau lo perlu waktu. Kita selalu sayang dan peduli sama lo beb. Jadi jangan menghindar dari kita lagi kalau ada masalah. Kita bisa hadapin sama-sama semuanya." Ucap Nisa.


"Gak ada yang perlu dimaafin Del. Gue dan Nisa yakin kalau lo bakalan sadar dan bisa kembali menjalani hidup normal seperti biasanya..." Ucap Ratu.


Adel bersyukur memiliki kedua sahabat yang bisa menerima keadaannya yang sekarang. Jujur Adel tidak merasa minder lagi. Dia juga berhak untuk mendapatkan kebahagiaan kan terutama dari orang yang ada disekitarnya. Ucapan terima kasih tidak akan pernah lepas dari mulutnya, karena Tuhan mempertemukan dirinya dnegan orang yang baik. Ya walaupun tidak sempurna, tapi dia yakin dibalik kesusahan dirinya pasti akan ada hal besar yang akan dia jalani nantinya.


"Terima kasih." Satu kata yang keluar dari mulut Adel karena tersentuh dengan ucapan Nisa dan Ratu barusan.


Nisa memeluk Adel ..." Jangan pernah tinggalin kita lagi beb. Walaupun orangtua lo tidak bisa memberikan kasih sayangnya tapi kita bisa kok." Ucap Nisa disela-ela mereka berpelukan.


"Udah-udah lebih baik kita sekarang makan aja." Ucap Ratu.


"Ikh Ratu...ganggu orang yang lagi kangen-kangenan deh. " Ucap Nisa.


"Dasar bumil...makanan mulu yang dibahas." Ucap Adel membuat mereka bertiga terkekeh.


Ratu sengaja melakukan hal tersebut, Ratu ingin mereka melupakan segala sesuatu yang terjadi dan menikmati malam ini dengan perasaan happy. Tidak ada perasaan sedih, kecewa dan gelisah lagi...


"Oh iya? ceritain ke gue sejak kapan lo tahu kalau Tommy punya hubungan spesial dengan Putri?" Tanya Adel secara tiba-tiba.


"Itu...gue


*****


Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.


jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.


Terimakasih masih setia membaca novel ini.


Happy Reading Guys!