
Cowok yang ada didepan Nisa merupakan orang yang paling membuatnya trauma untuk mengenal cinta lagi. Tidak mudah bagi Nisa untuk melupakan orang tersebut, terlalu banyak kenangan diantara mereka berdua. Apalagi orang ini adalah cinta pertama dan satu-satunya cowok yang dulu sangat disayang sama bundanya melebhi rasa sayangnya kepada Nisa.
Namanya Adriyan pratama Lewis, berkulit sawo matang, tinggi 170cm, sangat suka olahraga dan selalu mengatur pola hidup sehat, sangat perhatian dan ramah kepada orang yang dia sayangi, anak pertama dari 3 bersaudara, mata dan hidungnya sangat mirip dengan ayahnya yang blasteran. Warna matanya coklat muda dan hidung yang mancung. Sedangkan kulitnya menurun dari mamanya. Benar-benar perpaduan antara kedua orangtuanya. Dia juga sering dipanggil Ryan. Lewis adalah nama belakang dari papanya.
Nisa yang mulai tersadar dengan segera menepis tangannya Ryan yang menahannya sedaritadi.
"Maaf sepertinya anda salah mengenali orang. Saya tidak kenal sama anda." Ucap Nisa.
"Gak mungkin. Aku gak mugkin salah orang. Aku yakin kalau kamu itu Nisa. Orang yang aku kenal. Benarkan?" Ucap Ryan.
"Tapi saya gak kenal sama anda. Tolong kasih saya jalan." Ucap Nisa sambil mencoba mencari celah agar bisa pergi.
"Nisa yang aku kenal adalah orang yang lembut dan tidak sedingin kamu." Ucap Ryan.
"Saya bukan Nisa yang anda kenal." Ucap Nisa penuh dengan penekanan.
'Nisa yang kamu kenal udah gak ada lagi.' Teriak Nisa dalam hati.
"Maaf mungkin saya beneran salah orang." Ucap Ryan sambil memberikan jalan.
Nisa tidak menjawab lagi perkataan Ryan. Saat dia ingin melangkah pergi Dimas yang sedari tadi berdiri dibelakang mencoba mengejarnya. Dimas yang menyaksikan kejadian itu hanya berfikiran kalau cowok tersebut hanya membantu Nisa merapikan buku yang terjatuh. Nisa mulai mempercepat langkahnya sampai akhirnya Dimas memanggilnya setengah berteriak...
"Nisa !!! tungguin gue." Teriak Dimas.
'Ngapain sih Dimas sampek teriak begitu. Gue udah berusaha lari masih aja dikejar. Jangan sampek Ryan dengar suara teriakan Dimas barusan. Please ! gue udah gak mau berurusan atau bertemu lagi dengan orang yang ada di masa lalu.' Batin Nisa berkecamuk kesal.
Teriakan Dimas cukup membuat langkah Nisa terhenti dan cowok yang bernama Ryan itu dengan segera melihat kearah Nisa lagi.
'Gue gak salah dengarkan. Cowok itu jelas berteriak memanggil namanya NISA.' Batin Ryan.
Tangan Nisa ditarik oleh Dimas..."Lo kenapa malah lari sih. Gue capek banget ngejar lo." Ketus Dimas yang masih ngos-ngosan tersebut.
"Gue buru-buru mau bayar ini ke kasir." Nisa menunjukkan beberapa buku yang ditangannya.
"Gak mesti lari juga Nis." Ucap Dimas.
"Gue gak nyurh lo kejar gue tuh." Ucap Nisa.
"Benar-benar ya lo daritadi ngeselin banget." Ucap Dimas.
"Apaan sih Dim. Perasaan lo aja kali. Gue merasa biasa-biasa aja kok." Ucap Nisa.
"HUH TAU AH !!!" Ucap Dimas yang tidak bisa nahan rasa kesalnya.
'Lebih baik lo benci gue aja Dim. Hanya itu satu-satunya cara buat lo menjauh dari gue.' Batin Nisa.
Nisa buru-buru membayar belanjaannya dengan kartu debit.
Kirana menghampiri mereka berdua yang sedang adu pendapat itu...
"Kak Nisa darimana aja ? Kirana sampekkeliling nyariin kakak lo?" Ucap Kirana.
"Maaf ya Kirana, kakak mau buru-buru kembali ke klinik kecantikan. Teman kakak udah nungguin disana." Jelas Nisa.
"Kalau gitu kak Nisa hati-hati ya. Makasih udah ngeluangkan waktunya untuk temani Kirana hari ini." Ucap Kirana.
"Iya pasti sayang. Kalau gitu kakak duluan ya." Nisa sambil cipika-cipiki kepada Kirana.
"Bye Dimas, bye Kirana...." Ucap Nisa.
Dimas malah tidak menjawab Nisa dan berlagak sok cuek seperti orang yang ngambek.
"Kakak !!! jangan begitu dong.Kan kasihan kak Nisa. Padahal kak Nisa udah baik banget mau nemani kita pergi hari ini." Protes Kirana.
"Emangnya kakak kenapa?" Tanya Dimas.
"Kirana tahu kok kalau kakak lagi ngambek sama kak Nisa. Benarkan?" Ucap Kirana lagi.
"Sok tahu kamu !!! Udah lebih baik kita pulang sekarang." Ucap Dimas.
"Kok pulang sih kak? Bukannya kakak janji kalau kita mau keliling lagi." Ucap Kirana.
"Kakak udah capekbanget jalan daritadi. Besok-besok aja kalau kamu mau keluar lagi." Ucap Dimas.
"Kalau gitu bayar dulu belanjaan Kirana." Tunjuk Kirana terhadap barang yang ada dikeranjang belanjaannya.
"Kamu itu ngapain sih belanja komik segini banyak? Pemborosan banget." Protes Dimas.
"Gpp dong kak sesekali, lumayankan bisa ngilangin rasa bosan dirumah." Ucap Kirana.
"Terserah kamu aja..." Ucap Dimas.
Dimas memberikan kartu debit miliknya ke kasir...
"Kakak kenal sama cowok yang nyamperin kak Nisa disana?" Tunjuk Kirana. Dimas melihat kalau cowok itu adalah cowok yang tadi bantuin Nisa.
"Kayaknya cowok itu suka deh sama kak Nisa. Tatapan matanya gak lpas gitu lihatin kak Nisa. Wajar sih karena kak Nisakan memang cantik." Ucap Nisa lagi.
Disaat Nisa membalikkan badannya dan melangkah, Ryan sudah berada berdiri disana. Nisa memandangya sebetar kemudian melanjutkan langkah kakinya lagi.
"Nisa !!! Tolong kamu berhenti. Aku tahu kalau kamu adalah Nisa yang aku kenal." Teriak Ryan yang mampu membuat langkah Nisa terhenti seketika.
Kemudian Ryan langsung menghampiri Nisa yang masih mematung tersebut...
"Kamu gak usah pura-pura gak kenal sama aku Nis." Ucap Ryan lagi.
"Kalaupun saya Nisa, terus apa hubungannya sama anda ?" Ucap Nisa dengan nada juteknya.
"Kamu kok berubah banget Nis ke aku?" Tanya Ryan yang masih tidak percaya prkataan Nisa barusan.
'Kamu yang udah buat aku berubah.' Teriak Nisa dalam hati.
"Kayaknya gak ada lagi yang perlu diomongin." Ucap Nisa.
"Nis please !!! aku mohon kamu dengerin dulu penjelasan dari aku." Sambil memegang tangan Nisa.
"Menurut gue udah gak ada lagi yang perlu dibahas. Jadi sekarang juga lo lepasin tangan gue." Nisa berusaha melepaskan tangannya dari Ryan.
"Kamu dengerin dulu baru aku akan lepasin tangan kamu." Ucap Ryan.
"Gue gak mau dengar apa-apa lagi dari mulut lo." Ucap Nisa.
"Nis, aku mohon.." Ucap Ryan sedikit memelas.
'Kali ini aku gak akan terpengaruh lagi Ryan. Aku udah hapus semua tentang apapun yang berkaitan dengan kamu.' Batin Nisa.
"Gue gak suka dipaksa ya. Semakin lo paksa gue semakin buat gue benci." Ancam Nisa.
"Lepas gue bilang." Ucap Nisa lagi sambil menatap tajam kearah Ryan. Tatapan Nisa barusan adalah tatapan rasa bencinya selama ini.
"GAK AKAN AKU LEPASIN !!! Aku udah lama banget cari tahu tentang keberadaan kamu Nis. Ternyata kamu udah pindah sekolah dan rumah waktu itu. Dan sekarang kamu minta aku lepasin begitu aja. Aku pergi karena punya alasan tersendiri Nis. Waktu itu aku..." Ucapan Ryan dipotong oleh Nisa.
"STOP !!! gue gak mau dengar dan gak minta penjelasan sama lo." Ucap Nisa.
"Tapi Nis, kamu harus dengar dulu penjelasan aku." Ucap Ryan.
"Gue gak mau dengar apapun tentang lo lagi. NGERTI LO!!!" Ucap Nisa penuh dengan penekanan.
Dimas yang sedaritadi memperhatikan keduanya dari jauh, langsung mempercepat langkahnya untuk membantu tangan Nisa terlepas dari cowok tersebut.
"Jangan kasar sama cewek. Lagian lo siapa sih kok sampek maksa banget." Ucap Dimas.
"Lo gpp kan Nis? daritadi gue perhatiin cowok ini maksa banget untuk megang tangan lo." Ucap Dimas lagi.
"Gue gpp kok. Makasih Dim." Ucap Nisa sambil memegang pergelangan tangannya yang sedikit merah.
"Kak Nisa yakin gpp?" Ucap Kirana khawatir.
"Gpp kok Kirana. Kamu tenang aja ya." Ucap Nisa.
Tanpa menghiraukan omongan Dimas, Ryan malah memohon kembali kepada Nisa.
"Nis...aku mohon kamu kasih kesempatan untuk menjelaskan semuanya ke kamu. Ini semua gak seperti yang kamu pikirkan. Waktu itu aku...." Lagi-lagi Nisa memotong ucapan Ryan lagi.
"Gue gak mau dengar lagi. Jangan paksa gue mendengarkan penjelasan lo lagi." Nisa mnutup kedua telinganya dengan tangan.
"Lo dengar sendiri kan. Nisa gak mau ngomong sama lo. Jadi jangan terlalu maksa jadi orang !" Ketus Dimas.
"Lo gak tahu apa-apa. Jadi lo diam aja." Ucap Ryan.
"CUKUP !!! Lebih baik kalian berdua yang diam. Sekarang gue mau pergi." Ucap Nisa.
"Dan buat lo...jangan ganggu hidup gue lagi." Ucap Nisa sembari berlari meninggalkan mereka semua disana.
"Lo dengarkan. Nisa gak mau diganggu lagi sama lo." Ucap Dimas.
"Gue gak peduli. Gue akan berusaha jelasin semuanya ke dia." Ucap Ryan.
"Itu sih terserah lo." Ucap Dimas.
"Sebenarnya kakak itu siapa sih?" Tanya Kirana penasaran.
"Gue mantan pacarnya Nisa. Nama gue Ryan..." Ucap Ryan mengenalkan diri sambil menjelaskan.
"Ohh pantasan aja ?" Ucap Kirana.
'Ternyata lo mantannya Nisa yang pernah nyakitin dia. Gue gak akan biarin lo nyakitin Nisa lagi.' Batin Dimas sambil memperhatikan Ryan dari atas sampai bawah.
"Udah deh kak, lebih baik kita pulang aja." Ucap Kirana sambil menarik tangan kakaknya.
"Iya kamu benar lebih baik kita pulang aja, daripada ngobrol sama orang yang gak penting." Ucap Dimas.
Dimas dan Kirana pergi begitu saja meninggalkan Ryan yang masih mematung.
'Gue gak boleh nyerah. Selama ini gue udah usaha untuk nyari informasi maupun mengirim surat ke alamat rumah Nisa yang dulu. Ternyata Nisa udah gak tinggal disana sampek gue kehilangan semua jejak tentang Nisa. Sekarang waktunya buat gue untuk menjelaskan semuanya ke Nisa. Karena gue masih sayang banget sama dia. Gue gak pernah ngelupain dia sedikitpun. Dan gue tahu kalau pernah ninggalin dia dulu. Tetapi waktu itu keadaannya darurat yang jelas bukan keinginan dan kemauan gue. Akhirnya setelah sekian lama penantian, gue bisa ketemu lagi dengan Nisa.' Batin Ryan.
*****
Nisa masih berada di parkiranmobil yang ada di Mall. Saat ini dia memegang dadanya yang sedaritadi deg-deg an gak karuan. Rasanya bagaikan mimpi karena bisa ketemu lagi dengan Ryan. Perasaan kaget, shock masih bercampur aduk ia rasakan. Dia meliht lagi pergelangan tangannya yang sedikit merah tadi. 'Berarti gue gak mimpi. Ini nyatakan. Sumpah gue terlalu kaget banget atas kjadian hari ini.' Batin Nisa.
"Gak gak gak ...gue gak bisa seperti ini. Lebih baik gue tenangin diri dulu di Klinik."
Kemudian dia langsung pergi dengan secepat mungkin. Dia merasa takut kalau Ryan bisa saja mengejarnya.
Selang setengah jam kemudian, Nisa yang sudah berada diruangan kerjanya lagi. Dia mengambil minuman yang ada didalamkulkas dan meneguknya dengan cepat. Seakan ia merasa benar-benar haus banget sore ini.
'Gue harap gak akan pernah ketemu lagi sama Ryan.' Batin Nisa.
Tiba-tiba dari belakang Adel memeluknya dari belakang sampai minuman yang dipegang Nisa tumpah ke lantai.
"Nisa !!! gue kangan banget sama lo beb, udah lama banget kita gak ketemu." Ucap Adel antusias.
"Adel !!! ngagetin aja ? Kan berserakan ini minuman gue." Ucap Nisa.
"Kenapa sebegitu kagetnya sih. Kan hari ini kita udah janjian untuk ketemu." Jelas Adel.
"Gue kaget aja tiba-tiba ada yang peluk." Ucap Nisa.
"Gimana dong beb, gue kangen banget sama lo dan Ratu." Ucap Adel.
"Jadi hari ini lo mau ngobrol sama gue atau mau treatment?" Tanya Nisa.
"Gue kan baru datang beb, gimana kalau duduk disini dulu." Ucap Adel.
Nisa duduk disebelah Adel, kemudian mengambil minuman untuk Adel...
"Kalau gitu sebaiknya lo minum dulu." Nisa menyodorkan minuman kearah Adel.
"Thanks beb." Ucap Adel yang langsung meminumnya.
"Kayak orang yang gak lama minum aja sih." Ucap Nisa.
"Memang gue haus banget beb. Oh iya ! gimana perkembangan hubungan lo sama Dimas." Tanya Adel.
Raut wajah Nisa seletika berubah menjadi cemberut.
"Gak ada beb. Kayaknya gue memang ditakdirkan untuk temenan aja sama Dimas." Ucap Nisa.
"Jangan nyerah gitu dong beb. Maaf kalau pertanyaan gue barusan malah bikin lo sedih." Ucap Adel.
"Dimas udah bilang ke gue kalau dia hanya menganggap gue teman." Jelas Nisa.
"Kok bisa? Gimana ceritanya Dimas tiba-tiba bilang begitu?" Tanya Adel pnasaran.
"Kan Dimas kalah main game kemarin. Terus pertanyaannya siapa orang yang terakhir kali dia pikirin. Dia jawab kalau dia terakhir kali mikirin gue. Gue kam udah GR dong karena dia bilang begitu. Pas dia ngantar gue pulang...dia jelasin kalau anggap gue hanya sebagai teman aja gak lebih. Dia juga gak mau merusak persahabatan yang udah dibangun sama gue selama ini. Jadi tadi gue pas ketemu dia, gue coba semaksimal mungkin untuk menghindar aja. Gue juga udah gak mau berharap lebih lagi beb. Ternyata begini rasanya kalau cinta bertpuk sebelah tangan. Sakit banget beb..." Ucap Nisa.
Adel langsung memeluk Nisa yang hampir meneteskan air mata...
"Yang sabar ya beb. Mudah-mudahan aja lo bisa move on dari Dimas. Gue gak tega banget lihat lo kayak gini." Ucap Adel.
"Gpp kok beb, lagian gue udah janji sama diri gue sendiri kalau gue gak akan nangis lagi untuk Dimas. Karna gue akan melupakan dia bagaimanapun caranya." Ucap Nisa.
"Masih banyak orang yang sayang kok sama lo. salah satunya gue beb. Jadi jangan mikirin hal yang gak penting lagi." Ucap Adel.
"Iya lo benar beb, Sekarang gue hanya pengen ngebahagiain bunda aja." Ucap Nisa.
"Gitu dong beb,haru semangat terus. Hidup kedepan masih panjang banget buat lo beb. Ucap Adel.
"Benar banget beb." Ucap Nisa.
Setelah mengobrol, Adel mengajak Nisa untuk ikut melakukan treatment hari ini. Awalnya Nisa menolak tetapi karena Adel maksa banget jadi mau tidak mau diapun ikut melakukan treatment di klinik kecantikannya.
*****
Gimana pada suka gak? mohon berikan komentarnya yaa...
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya..
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading guys!