
Tanpa mereka sadari, Dimas mendengarkan percakapan mereka berdua barusan. Tapi Dimas merasa sangat tenang sekarang. Karena Nisa tetap memilihnya. Perawat datang membuat Dimas kaget. Nisa dan Adryan tersadar kalau ada seseorang yang mendengarkan obrolan mereka karena terdengar suara seseorang. Saat perawat masuk, Nisa pergi untuk keluar ruangan...
"Kamu...."
"Ngapain kesini?" Tanya Nisa lagi.
"Husst...pelani suara kamu Nis ntar terdengar Adryan." Dimas menutup mulut Nisa dengan tangannya.
"Sekarang kamu ikut aku..." Dimas menarik tangan Nisa untuk mengikutinya.
"Tapi Dim, kasihan Adryan sendirian disana." Ucap Nisa.
"Sebentar aja Nis..." Ucap Dimas lagi.
"Mmmm....oke."
Nisa masih belum tahu akan dibawa kemana oleh Dimas.
"Ngapain kamu bawa aku kesini Dim?" Tanya Nisa.
"Tempat ini kan tempat favorit kita untuk makan Nis." Ucap Dimas.
"Aku tahu itu Dim. Terus?" Tanya Nisa lagi.
"Udah lama kita gak pernah datang kesini lagi Nis." Jelas Dimas.
"Inikan tempat favorit kamu Dim, gak mungkin banget gak kamu datangi." Ucap Nisa.
"Semenjak kamu menjauh dari aku Nis, aku gak pernah datang ketempat yang sering kita datangi. Karena semua itu hanya mengingatkan aku sama kamu waktu itu. Jadi malam ini aku mau nikmati sambil melihat bintang dari sini sama kamu." Jelas Dimas.
"Tapi waktunya gak tepat Dim. Sekarang aku harus nemani Adryan di rumah sakit. Aku harap kamu bisa ngerti itu." Ucap Nisa.
Dimas memegang kedua tangan Nisa...
"Aku hanya ingin kamu bersantai sejenak tanpa memikirkan apapun dulu." Ucap Dimas.
'Kamu benar Dim, terlalu banyak hal yang aku pikirkan sendiri.' Batin Nisa.
"Oke. Aku akan ikuti kemauan kamu Dim. Tapi aku gak bisa lama-lama disini." Ucap Nisa.
"Makasih Nis..."
Saat ini Nisa duduk disebelah Dimas sambil bersender dibahunya. Nisa memejamkan matanya dan mencoba menghilangkan semua beban pikiran yang sangat mengganggunya belakangan ini. Malam ini dia hanya ingin bersantai seperti kata Dimas barusan.
Selama 20 menit dia melakukan hal itu membuat hati dan pikirannya menjadi jauh lebih tenang dari sebelumnya.
'Makasih Dim, kamu selalu bisa buat aku lebih tenang. Makasih untuk semua hal yang kamu lakukan. Aku sangat bersyukur bisa ketemu kamu dan bisa menjadi dunia baru untuk kamu.' Batin Nisa.
"Dim..."
"Hmmm..."
"Aku udah jauh lebih tenang sekarang. Makasih dan maaf."
"Maksudnya?"
"Makasih kamu selalu bisa membuat aku senang tapi maaf kalau aku lebih milih untuk menjaga Adryan sekarang. Aku tahu kalau kamu sebenarnya gak suka tapi kamu berusaha untuk menerima dan mengerti keinginanku. Maaf kalau aku belum bisa jadi pacar yang baik buat kamu."
"Aku ngerti posisi kamu saat ini Nis. Kalau aku jadi kamu...aku juga akan melakukan hal yang sama."
Nisa tersenyum mendengar ucapan Dimas barusan. Kata-kata Dimas barusan membuatnya lebih tenang karena dia tidak salah dalam mengambil keputusan.
"Ada didekat kamu aja udah buat hidupku happy Nis. Jangan pernah berfikir untuk meninggalkan aku kayak yang pernah kamu lakukan sebelumnya. Maaf kalau aku terlambat dan gak peka sama perasaan kamu selama ini."
"Gak akan Dim. Kamu adalah alasan aku bisa tersenyum lagi untuk pertama kalinya setelah kejadian yang menimpaku dulu. Rasa trauma terhadap seorang cowok bisa aku lupain berkat kehadiran kamu dulu."
"Kamu juga alasan kebahagiaan ku sekarang ini Nis."
Setelah mencurahkan isi hati keduanya secara jujur, Nisa diantar kembali kerumah sakit....
"Nis, makasih..."
"Untuk apa Dim?"
"Karena kamu tetap milih aku."
"Jangan bilang kalau kamu mendengarkan semua percakapan ku tadi."
Dimas hanya tersenyum semanis mungkin dan menganggukkan kepalanya.
"Ikhhh dasar Dimas !!" Teriak Nisa kesal.
"Lain kali jangan mendengarkan percakapan orang lain dong."
"Kamu kan pacar aku sekarang bukan orang lain."
"Huh bisa aja ngelesnya."
"Kan aku belajar dari kamu."
"Udah ah aku masuk dulu ntar Adryan nyariin aku.
"Oke..."
Sebelum masuk kedalam ruangan, dia melihat kesekitar dan sedikit mengintip kedalam.
'Ternyata Adryan sudah tertidur. Kalau gitu gue langsung masuk aja.' Batin Nisa.
Perlahan Nisa masuk kedalam ruangan, sebisa mungkin tidak ada terdengar suara agar tidak membangunkan Adryan. Dia masuk kedalam kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka. Kemudian dia membaringkan tubuhnya diatas sofa.
"Nis..." Nisa melihat kearah Adryan yang menanggilnya dengan mata yang masih terpejam.
'Gue gak salah dengarkan barusan gue dengar suara Adryan manggil gue. Apa mungkin dia lagi ngigau ya.' Batin Nisa yang masih melihat kearah Adryan dengan menajamkan pandangannya.
"Kamu darimana aja Nis. Aku nyariin kamu sedaritadi." Adryan membuka matanya.
Nisa masih dalam keadaan terkejut melihat Adryan.
'Berarti dsritadi Adryan belum tidur. Apa dia nungguin gue ya.' Ucap Nisa dalam hati.
"Kamu kok diam aja Nis? Kamu dengar akukan?" Tanya Adryan lagi.
"Eh iya. Gue tadi keluar sebentar cari angin. Tadi gue lihat lo udah tertidur. Apa tadi lo hanya pura-pura tidur aja?"Ucap Nisa.
"Aku memang mau tidur Nis tapi khawatir mikirin kamu belum balik keruangan." Ucap Adryan.
"Oh gitu. Sekarangkan gue udah disini jadi lebih baik lo istirahat aja. Karena gue juga mau istirahat." Jelas Nisa.
"Maaf ya Nis?" Ucap Adryan.
"Untuk apa?" Tanya Nisa.
"Karena udah ngerepotin dan nyusahin lo." Ucap Adryan.
"Gak kok. Gue yang seharusnya meminta maaf sama lo. Ini semua terjadi karena gue. Jadi gue minta maaf karena udah buat lo terluka dan merasakan sakit kayak begini. Jadi gue mohon sama lo biar cepat pulih dengan perbanyak istirahat." Ucap Nisa.
"Aku akan cepat pulih Nis. Aku gak mau buat kamu merasa bersalah dengan keadaanku sekarang." Ucap Adryan.
"Gue pegang kata-kata lo."
"Malam Nis..." Adryan memejamkan matanya kembali.
"Malam juga."
Nisa merasa kalau Adryan udah benar-benar bisa menerima keadaan dan tidak memaksakan kehendaknya lagi untuk merebut hatinya lagi.
'Maaf Adryan...kalau aja dulu kamu gak pernah ninggalin aku, mungkin hatiku gak akan berubah ke kamu. Inilah kenyataan yang harus kita berdua jalani sekarang. Jalan kita udah masing-masing sekarang. Mungkin Tuhan punya rencana lain yang lebih baik untuk kita berdua. Aku yakin itu... dan aku berharap suatu saat kamu bisa menemukan kebahagiaan lain yang lebih indah.' Batin Nisa.
*****
Perkembangan pemulihan Adryan selama dirumah sakit berjalan dengan sangat baik. Nisa sangat lega mendengarkan penjelasan dari dokter yang menangani Adryan.
Reno mengantar otangtua Adryan untuk datang menjenguk...
"Hai sayang? Bagaimana kondisi kamu sekarang?" Tanya mamanya.
"Udah mendingan kok ma. Papa sama mama seharusnya gak usah datang kesini." Ucap Adryan.
"Maaf kalau papa sama mama baru bisa datang sekarang." Jelas mama.
"Gpp ma. Mama perhatiin penyakit mama aja. Adryan udah gpp kok." Ucap Adryan.
"Mana bisa papa sama mama gak lihat kondisi kamu sekarang. Papa sengar dari Reno kalau kamu sempat kritis." Ucap papa.
"Tapi sekarang Adryan udah baik-baik aja kok. Lagian ada Nisa yang menjaga dan merawat Adryan disini." Jelas Adryan.
"Maaf tante dan om. Sebelumnya saya minta maaf ini semua terjadi karena Adryan menolong saya. Tolong tante sama om bisa menerima permintaan maaf saya. Saya benar-benar merasa bersalah atas apa yang menimpa Adryan." Jelas Nisa.
"Kamu siapanya Adryan? Tanya mama Adryan memastikan.
"Saya..."
"Dia teman sekelas Adryan dulu ma. Gak sengaja ketemu lagi." Ucap Adryan memotong ucapan Nisa.
"Seharusnya saya malah berterima kasih sama kamu. Karena selama ini udah merepotkan kamu untuk menjaga dan merawat anak saya." Ucap mamanya sambil memeluk Nisa.
"Saya hanya bertanggung jawab aja tante. Saya akan menyalahkan diri saya sendiri kalau Adryan tidak bisa tertolong kemarin." Jelas Nisa.
"Apapun alasannya. Saya tetap berterima kasih sama kamu Nisa." Ucap mama Adryan.
"Ini saya bawakan banyak makanan... saya berharap kamu suka." Ucap mama Adryan.
"Makasih tante." Nisa menerima makanan tersebut dan meletakkannya ketas meja dekat sofa.
Setelah itu Nisa dan mamanya Adryan mengobrol panjang lebar sedangkan Adryan mengobrol dengan papanya.
"Tante benar-benar berharap kamu bisa menjaga dan merawat Adryan sampai pulih." Mama Adryan memegang tangan Nisa.
"Tanpa tante mintapun, Nisa akan menjaga Adryan. Jadi tante jangan khawatir lagi ya." Ucap Nisa.
"Tante bisa tenang sekarang setelah mengobrol dengan Nisa." Ucap mama Adryan.
"Kamu tahu gak Nis, Adryan selama ini udah banyak mengorbankan waktunya untuk menemani saya berobat ke London. Dia rela meninggalkan teman-teman maupun pacarnya demi kesehatan saya. Saya merasa sangat bersalah waktu itu karena waktunya terbuang begitu saja. Sepulang dari London, dia hanya mengurung diri dirumah terus. Saya benar-benar khawatir melihatnya. Dia tidak ingin berbaur sama orang seperti sewajarnya. Saya tidak tahu apa yang membuatnya menjadi tertutup begitu. Tapi saya lega sekarang karena Adryan bisa bertemu sama temannya lagi." Jelas mama Adryan.
'Berarti dulu Adryan sebegitu tersiksanya karena gue. Dia banyak mengalami hal sulit juga. Gue pikir gue yang tersiksa tapi dia juga tersiksa menjalani hari-harinya. Tapi keadaan yang sudah membuat hati gue berubah. Maaf Adryan, gue tetap gak bisa bersama lo lagi.' Batin Nisa.
"Maaf tante, saya juga baru tahu kalau Adryan sempat mengalami hal seperti itu." Ucap Nisa.
"Tante hanya menceritakan semua hal ini sama kamu Nisa. Jangan sampai Adryan tahu ya kalau tante yang cerita." Ucap mama Adryan.
"Tante tenang aja. Ini rahasia diantara kita." Ucap Nisa.
Setelah seharian dirumah sakit, papa sama mama Adryan pamit pulang dikarenakan mama Adryan harus beristirahat.
"Jaga diri kamu ya Adryan. Mama sama papa akan terus mengecek keadaan kamu." Ucap mama.
"Pasti ma..." Ucap Adryan.
"Tante titip Adryan ya Nisa..." Ucap mama Adryan.
"Oke tante. Jangan khawatir ya karena Nisa akan merawat Adryan dengan baik disini." Ucap Nisa.
Setelah itu mereka berdua pulang diantar oleh Reno. Reno juga yang menjemput papa sama mamanya Adryan diluar kota.
Di lain sisi, Dimas selalu datang setiap hari untuk bertemu dengan Nisa. Dia selalu membawa makanan untuknya dan kadang mengajak Nisa keluar sebentar. Dia mencoba mengerti keadaan Nisa dan berusaha tidak egois untuk hal itu. Walaupun sebenarnya hatinya sulit menerima. Tapi perasaan sabar yang mengubah dirinya menjadi pacar yang baik buat Nisa.
Adryan sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Nisa sangat senang mendengarnya. Sebelum pulang kerumah masing-masing, Adryan mengajak Nisa untuk mengobrol sebentar...
"Aku mencoba untuk menerima keadaan Nis walaupun aku masih butuh waktu untuk itu. Asalkan kamu harus berjanji untuk selalu bahagia." Ucap Adryan.
"Gue janji Adryan. Gue berharap kalau lo bisa bahagia juga." Ucap Nisa.
"Semoga aja Nis. Aku belum bisa janji untuk hal itu." Ucap Adryan.
'Tapi gue yakin kalau lo bisa Adryan. Gue sangat berharap untuk hal itu. Hidup itu harus memilihkan. Disaat lo dulu memilih pergi dan disaat itu juga gue melupakan tentang kita. Gak ada yang harus disesali lagi karena Tuhan udah mempertemukan gue sama Dimas. Orang yang bisa mengubah gue untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.' Ucap Nisa dalam hati.
Adryan menyuruh Reno untuk mengantarnya pulang kerumah. Selama 10 hari sudah Nisa menemaninya di rumah sakit. Sebenarnya selama itu juga membuatnya senang karena bisa berada didekat Nisa walau hanya sesaat saja. Tetapi dia tidak ingin menjadi orang yang egois. Karena Nisa sudah tidak mencintainya lagi. Dia ingin Nisa bisa menikmati kebahagiaannya lagi walau tanpa dirinya.
Reno tetap bekerja untuknya, dia mengangkat Reno sebagai asisten pribadinya. Yang bertugas untuk menemaninya kemanapun dia berada.
Setelah kejadian itu, Nisa dan dimas sudah bebas lagi untuk bertemu setiap harinya. Tidak ada kata bosan untuk mereka berdua. Seperti orang yang sedang kasmaran pada umunya.
*****
Hari ini Ratu dan Kavin mengundang Dimas, Nisa dan Adel untuk main kerumah. Kavin dan Ratu membuat acara manggang-manggang karena Kavin mendapatkan proyek besar yang selama ini diinginkannya. Acara ini dibuat hanya untuk berkumpul dengan teman-temannya sekaligus untuk merayakan hal tersebut.
Semua bahan makanan dan bumbu sudah disiapkan oleh Ratu. Ratu dibantu bi Ina menghaluskan bumbu dan menumisnya sebentar. Bumbu ini yang akan dipakai untuk memanggang ikan, jagung dan juga daging. Sedangkan kavin sudah membeli alat panggang dan beberapa alat dan bahan yang dibutuhkan. Dia letakkan dihalaman samping rumahnya.
Malam harinya, Dimas dan Kavin yang memanggang sedangkan Nisa, Ratu dan Adel menyiapkan piring, sendok dan perlatan lain. Setelah itu mereka mengobrol di taman samping rumah sambil menunggu Dimas dan Kavin siap memanggang.
"Nis, gimana ceritanya lo bisa baikan lagi sama Dimas?" Tanya Adel penasaran.
"Kita lihat lo makin dekat aja nih sama dia." Ucap Ratu.
"Gue baikan lagi sama Dimas karena setiap hari dia ganggu dan datangi gue terus. Akhirnya gue gak bisa menghindar lagi dari dia. Semakin gue menghindar dia semakin mendekat. Sampai akhirnya gue pasrah dan nyerah sendiri. Jadi sekarang kita dekat lagi." Jelas Nisa.
"Cowok memang gitu Nis, dia bakalan semakin penasaran kalau kita jauhi..." Ucap Ratu.
"Tuh dengar sendiri Nis kalau palygirl lagi ngomong." Ledek Adel.
"Resek banget lo Del." Ucap Ratu.
"Jadi bagaimana tentang lo sama Adryan?" Tanya Adel penuh selidik.
"Kalian sengaja ya nyurh gue datang untuk diintrogasi gini." Sewot Nisa.
"Gak kok beb, kita kan sebagai teman hanya ingin tahu aja." Ucap Adel.
"Hmmm....tentang gue sama Adryan gak ada yang perlu dijelasin sih. Karena gue gak ada perasaan apa-apa lagi sama dia. Gue juga udah minta maaf karena udah nolak dia." Jelas Nisa.
"Lo gak mau kasih Adryan kesempatan lagi Nis?" Tanya Adel.
"Gak mungkin Del. Lo kan tahu sendiri hatinya Nisa untuk siapa sekarang." Ledek Ratu.
"Gue gak bisa kasih Adryan harapan dan kesempatan lagi karena gue gak mau makin nyakiti hatinya lagi." Ucap Nisa.
"Benar itu Nis. Kalau gak bisa lagi jangan kasih harapan palsu ke orang itu. Karena sama aja buat dia makin berharap yang gak pasti sama kita nantinya." Ucap Ratu.
"Ehem... ehemm... ngobrolin apaan sih serius amat gitu." Kavin dan Dimas menghampiri mereka sambil membawa ikan, jagung dan daging yang sudah siap dipanggang.
"Kepo banget nih pak Kavin." Ledek Ratu.
"Ikhh sayang... apaan sih." Ucap Kavin.
"Kan kalau dikantor dipanggil begitukan Vin? Aku hanya menirukan karyawan kantor kamu aja. Ucap Ratu.
Kemudian Ratu masuk kedalam rumah dengan Adel dan Nisa untuk mengambil sambal, selada, dan juga jus jeruk yang sudah Ratu persiapkan sedari sore.
Mereka semua menikmati makanan sampai kenyang. Setelah selesai, bi Ina membantu Ratu membereskan meja yang ada di taman samping tersebut. Adel ikutan masuk kedalam rumah karena ingin ke kamar mandi. Nisa berjalan dan melihat-lihat kesekitar bunga yang ada ditaman dan diikuti oleh Dimas sedaritadi. Sedangkan Kavin sibuk dengan hp saja.
"Cantik ya kalau punya taman yang dipenuhi bunga begini." Ucap Nisa dengan kekagumannya.
"Lebih cantik hati pacarku luar dalam dong." Ucap Dimas tepat dibelakangnya.
"Dimas !!!" Teriak Nisa kaget.
"Kamu daritadi ngikuti aku ya?" Tanya Nisa.
"Jangan teriak-teriak ntar yang lain pada dengar Nis. Kalau aku sih senang kalau yang lain pada tahu hubungan kita. Tapikan kamu gak suka." Ucap Dimas.
"Oopss maaf aku lupa Dim." Ucap Nisa.
Dimas memegang kedua tangan Nisa dengan erat.
"Aku hanya memegang kedua tangan pacarku. Emang apa salahnya." Ucap Dimas.
"Tapi jangan disini Dim. Ntar kalau ada yang lihat bagaimana." Ucap Nisa ketakutan.
"Kan tinggal jelasin aja kalau kita sekarang pacaran." Ucap Dimas.
"Ikh Dimas... aku belum siap. Kamu kan tahu sendiri." Ucap Nisa.
"Sebenarnya apa alasan kamu belum siap Nis? Toh kita kan saling kenal dengan mereka. Lagian mereka kan teman baik kamu." Ucap Dimas.
"Ntahlah Dim. Aku juga gak tahu. Yang jelas aku belum siap untuk itu." Ucap Nisa.
"Ya udah aku cuman pegang tangan kamu sebentar aja kok. Setelah itu kita gabung sama yang lain. Gimana?" Bujuk Dimas.
"Mmm...oke."
Dimas memegang tangan Nisa kemudian mencium tangannya. Nisa tersenyum kearahnya....
"Ternyata lo di-si-ni beb..." Adel dan Ratu kaget melihat langsung kejadian barusan.
Dimas reflek langsung melepas tangan Nisa. Saat ini Nisa dan Dimas seperti orang yang sedang ketangkap basah. Mereka berdua terciduk langsung oleh kedua temannya.
"Apa maksudnya ini semua Nis? Ada apa denga kalian berdua..." Tanya Ratu.
Nisa dan Dimas saling pandang dan terdia setelahnya.
"Jangan diam aja dong kalian? Kita lagi nanya?" Ucap Adel.
"Sebaiknya kalian berdua jelasin didalam rumah." Ucap Ratu.
"Kalau gak ada apa-apa jangan tegang begitu dong muka kalian berdua." Ucap Adel.
"Ratu benar...sebaiknya kalian ikut kita masuk. Kita butuh penjelasan untuk kejadian yang barusan kita lihat ini." Ucap Adel.
Dimas dan Nisa hanya pasrah dan mengikuti kemauan Ratu. Mereka berdua berjalan tertunduk dibelakang Ratu dan Adel.
Diruang tamu sudah berkumpul Ratu, Kavin, Adel, Dimas dan juga Nisa.
'Apa yang harus gue jawab didepan mereka. Ntahlah gue bingung harus bilang apa. Masak iya gue harus jujur sekarang? Gue udah tahu banget pasti mereka semua bakalan ngeledekin gue sama Dimas. Kalau gitu gue akan tetap gak ngaku aja deh.' Batin Nisa.
Dimas melihat kerah Nisa kemudian mereka berdua mengalihkan pandangan kearah lain.
'Mendingan gue jujur aja. Lagian udah kepergok langsung. Kalau bohong malah makin panjang pertanyaannya. Lebih baik jujur kan. Toh gak akan merubah status gue sama Nisa. Udah saatnya mereka semua tahu tentang status hubungan kami.' Batin Dimas.
Ratu dan Adel mulai mengintrogasi keduanya dengan pertanyaan sederhana....
"Kalian berdua jawab dengan jujur dan serentak...dalam hitungan ke 3 kalian udah bisa menjawab pertanyaan gue. Apa kalian berdua sudah jadian?" Tanya Ratu.
"1...2....3...jawab ?" Ucap Ratu.
"Sudah..." Ucap Dimas.
"Belum..." Ucap Nisa.
Nisa dan Dimas saling pandang satu sama lain. Nisa melotot kearah Dimas karena menjawab tidak serentak. Dimas yang dipamdangi kesal malah mengangkat kedua bahunya saja sambil tersenyum.
'Hadeehhh bisa-bisanya Dimas bilang sudah. Gimana nih mereka bakalan curiga.' Batin Nisa. Nisa terlalu ketara panik sedangkan Dimas berusaha setenang mungkin.
"Yang mana yang benar nih? Kenapa kaliam gak jawab dengan kompak?" Tanya Adel.
"Gue tanya sekali lagi. Apa kalian berdua sudah pacaran ? 1...2...3...jawab !!!" Ratu mengulang pertanyaan.
"Sudah..."
"Belum..."
"Lagi-lagi jawaban kalian berdua berbeda. Siapa yang diantara kalian yang berbohong sih." Ucap Adel kesal.
"Gue punya alat pendeteksi kejujuran. Jadi kalau orang itu bohong akan ketahuan." Ucap Kavin.
"Apa??Untuk apa kamu punya alat itu Vin?" Tanya Ratu penasaran.
"Untuk pekerjaan dikantor sayang. Kadang sesuatu seperti itu diperlukan saat-saat darurat." Jelas Kavin.
"Kalau gitu kamu bisa bawa kesini alatnya sekarang." Ucap Ratu.
"Ok sebentar sayang..." Kavin naik keatas untuk mengambil alat tersebut yang ada di ruang kerjanya.
"Ngapain sih Tu pakai alat begituan." Protes Nisa.
"Untuk memastikan sesuatu. Lagian diantara kalian ada orang yang gak jujur." Jelas Ratu.
"Benar beb, kita harus pastikan siapa orang yang gak jujur disini." Ucap Adel.
"Masak lo gak bisa percaya sama teman lo sendiri." Ucap Nisa lagi.
"Karena ini aneh banget. Gue sama Adel lihat langsung kalau tangannlo dicium sama Dimas dan lo menikmatinya." Ucap Ratu.
"Emang salah ya kalau temenan melakukan hal itu." Protes Nisa lagi.
"Gak salah sih. Tapi yang gue tahu kalau dimas itu terlalu kaku sama cewek. Jadi gak mungkin kalau gak ada apa-apa dia mencium tangan lo." Ucap Ratu.
"Omongan Ratu ada benarnya juga. Diantara teman gak mungkn melakukan hal seperti itu." Ucap Adel.
"Salah kalian sendiri kenapa berbeda jawaban. Kalau jawaban kalian berdua sama...kita gak bakalan curiga." Ucap Ratu.
"Gue setuju sama apa yang barusan dibilang sama Ratu." Ucap Adel.
"Sebenarnya kalian berdua ini dipihak siapa sih? Seharusnya bela teman sendiri dong." Ucap Nisa.
"Kita gak berpihak sama siapapun disini. Dan yang anehnya lagi kenapa yang daritadi protes tentang alat itu cuman lo aja. Kenapa Dimas seperti pasrah dan menerima gitu." Ucap Ratu.
"Kan lo tahu sendiri kalau Dimas itu cuek banget beb. Mana peduli dia sama hal beginian." Bela Nisa.
"Udah deh lo nurut aja..." Ucap Ratu.
"Tau nih Nisa. Kita kan begini juga karena penasaran aja." Ucap Adel.
Nisa tidak bisa membantah kedua temannya itu lagi. Apapun yabg dibilangnya saat ini tidak merubah keadaan. Nisa melihat Dimas dengan pandangan kesalnya.
'Udah pasrah deh gue. Ada-ada nih...kenapa juga Kavin punya alat yang seperti itu. Ini semua karena Dimas...coba aja dia jawab yang sama dengan gue. Mereka gak akan pernah curigakan. Ah ntahlah apa gue harus jujur aja sekarang. Tapi kenapa gue belum siap ya.' Batin Nisa.
Gak berapa lama kemudian, Kavin turun membawa alat pendeteksi kejujuran. Kavin memasang alat itu dan meletakkannya diatas meja. Yang pertama kali diuji adalah Dimas. Tangan Dimas sudah dipasang alat tersebut...
"Oke gue mulai... apa kalian berdua sudah jadian?" Tanya Ratu.
"Sudah..." Ucap Dimas.
Disimpulkan dari alat tersebut kalau Dimas jujur karena lampu yang menyala berwarna hijau.
"Ternyata lo jujur Dimas." Ucap Ratu.
"Sekarang giliran Nisa...apa lo dan Dimas sedang pacaran sekarang?" Tanya Ratu.
Nisa berfikir sebentar...
"Belum..." Ucap Nisa dengan jawaban yang gak berubah.
Disimpulkan dari alat tersebut kalau Nisa berbohong karena lampu yang menyala berwarna merah.
"Lo bohong beb. Mau ngelak gimana lagi?" Tanya Adel.
"Kenapa sih gak diakuin aja kalau emang lagi pacaran. Apa susahnya..." Ucap Ratu.
"Gue gak bohong kok." Ucap Nisa yang masih kukuh dengan pendiriannya.
"Alat ini gak mungkin salah. Gue beli mahal untuk alat ini." Jelas Kavin.
"Tuh kan lo dengar sendiri..." Ucap Adel.
"Jadi menurut lo kalau gue yang bohong?" Ucap Nisa.
"Ya kan udah jelas kelihatan kalau lo yang bohong. Dimas daritadi santai aja tuh jawabnya dan gak kelihatan panik kayak lo beb." Ucap Adel.
"Terserah kalian aja deh mikir apa." Ucap Nisa.
"Oke gue percaya sama lo." Ucap Ratu.
"Serius Tu?" Tanya Nisa.
"Iya gue percaya sama lo. Bagaimanapun kan lo teman gue. Jadi gak mungkin bohongi kita." Ucap Ratu.
"Tapikan beb, lo tahu sendiri barusan siapa yang bohong." Protes Adel.
Ratu mengedipkan matanya ke Adel. Itu artinya Ratu punya rencana lain untuk buat Nisa jujur.
"Makasih Tu udah percaya sama gue." Ucap Nisa senang.
Dimas masih gak habis pikir melihat pacarnya itu. Sampai rela bohong begini padahal udah ketahuan banget.
'Gemesnya ngelihat tingkah Nisa seperti ini. Kenapa masih berusaha nutupin semua sih Nis.' Batin Dimas.
"Lo gak keberatan kan Dim kalau kita buktikan kebenarannya." Ucap Ratu lagi.
"Buktiin? Maksudnya?" Tanya Nisa bingung.
"Kan lo tetap gak akuin Dimas sebagai pacar lo berarti boleh dong kalau Dimas dicium sama Adel didepan mata lo." Ucap Ratu.
"Apa??" Ucap Nisa meninggikan suaranya.
"Kalau lo gak keberatan kan Dim?" Ratu meminta persetujuan Dimas.
"Gue ... gue gak keberatan kok." Ucap Dimas sedikit ragu.
"Katanya lo percaya sama gue tapi kenapa mesri ada pembuktian begini sih?" Ucap Nisa kesal.
"Kenapa lo harus marah kalau Dimas kan bukan siapa-siapa lo." Ucap Adel.
"Kalian sengaja kan menjebak gue." Ucap Nisa.
"Ngapain kita ngejebak teman sendiri. kan lo yang ngotot kalau gak ada hubungan apa-apa sama Dimas barusan. Disaksikan sama saksi juga kok disini. Jadi gue berbicara sesuai kenyataannya aja." Jelas Ratu.
"Adel cium Dimas sekarang tepat dibibirnya." Ucap Ratu menekan kata-katanya.
"Apa??" Ucap Dimas dan Nisa serentak.
"Jangan lupa kalau tadi lo udah setuju Dim?" Ucap Ratu.
"Gue gak lupa tapi gue gak tahu kalau bakal dicium dibagian bibir." Ucap Dimas.
"Salah lo sendiri gak bertanya." Ucap Ratu.
"Kenapa lo diam aja Del? Ayo lakuin sekarang juga." Ucap Ratu lagi.
Adel mendekati Dimas. Saat ini mereka berdua sedang berhadapan langsung. Perlahan Adel mulai mendekat kearah Dimas. Jarak mereka berdua semakin dekat. Nisa semakin panas menyaksikan kejadian tersebut. Saat hampir saja Adel mencium bibir Dimas dan ditahan oleh tangannya Nisa.
"Kenapa lo gak ada penolakan Dim?" Tanya Nisa.
"Bukannya ini yang kamu mau Nis. Kamu kan yang gak ngakuin aku sebagai pacar kamu. Terus apa hak kamu untuk marah kalau aku mencium Adel. Aku masih gak habis pikir aja sama kamu. Segininya kamu bohong didepan mereka semua. Merekakan teman-teman dekat kamu Nis. Buang rasa ketakutan kamu yang gak jelas itu. Mereka pasti ikut senang karena kita sekarang pacaran. Apa kamu malu pacaran sama aku? Aku kecewa sama kamu Nis." Ucap Dimas.
Saat ini nisa merasa benar-benar terpojok.
"Aku gak maksud buat kamu kecewa Dim
Aku benar-benar minta maaf." Ucap Nisa
didepan semuanya.
"Apa artinya perkataan lo barusan Nis?" Tanya Ratu.
"Gue akuin kalau saat ini gue sedang bercaparan sama Dimas. Maaf karena daritadi gue bohong sama kalian semua. Gue sadar kalau salah. Tapi mana bisa gue lihat pacar gue hampir ciuman didepan mata gue sendiri dengan cewek lain." Jelas Nisa.
Adel dan Ratu merasa senang karena rencana mereka berhasil.
"Lagian lo pakai bohong segala. Padahal kita senang banget karena akhirnya lo bisa pacaran sama Dimas." Ucap Ratu.
"Kita ikutan happy kalau lo happy beb." Adel dan Ratu memeluk Nisa.
"Aku akan maafin kalau kamu peluk aku didepan semuanya." Ucap Dimas.
"Dimass!!! Apaan sih." Protes Nisa.
"Berarti kamu masih malu kan Nis." Ucap Dimas.
Saat Dimas ingin pergi ditahan oleh Nisa dan langsung dipeluk.
"Jangan pergi..." Ucap Nisa.
"Gak akan..." Ucap Dimas.
Jepret
Jepret
Jepret...
Adel mengabadikan foto dari hpnya.
Nisa melepas pelukannya, hampir saja dia lupa kalau mereka berpelukan dirumah Kavin dan Ratu.
"Resek lo Del. Hapus gak fotonya !!!" Ucap Nisa.
"Gak.. gue mau upload foto ini." Ucap Adel.
"Awas aja kalau lo berani upload...." Nisa mengejar Adel.
"Makasih Tu , berkat lo Nisa udah berani akuin hubungan kita." Ucap Dimas.
"Santai aja Dim. Gue cuman ingin Nisa jujur aja kok. Mungkin dia masih trauma kalau hubungannya diketahui orang lain kayak dulu. Dulu saat dia ditinggalkan oleh Adryan, banyak orang yang terlalu mengejek dan menyindirnya. Gue harap lo bisa mengerti dan memahami situasi Nisa saat ini. Gue hanya ingin dia menghilangkan dan melupakan kejadian masa lalunya. Dan gue minta sama lo...jangan pernah lukain ataupun meninggalkan Nisa." Jelas Ratu.
"Gak akan Tu..." Ucap Dimas.
"Selamat ya bro, akhirnya ada yang mau juga sama lo." Ledek Kavin.
"Lo kasih selamat sekaligus nyindir gue kan." Ucap Dimas.
"Lo seharusnya makasih sama gue." Ucap Kavin dengan bangganya.
"Lo benar. Thanks Vin udah kasih tahu dan kasih masukan ke gue. Kalau gak ada lo mungkin gue sama Nisa gak akan jadian seperti ini." Ucap Dimas.
"Gue ngelakuin itu biar lo gak jadi jomblo akut aja bro..hehehhe." Ledek Kavin.
"Sialan lo Vin..." Ucap Dimas.
Saat Ratu ingin menghampiri kedua sahabatnya, tiba-tiba saja dia terjatuh dan pingsan...
"RATU...!!!" Teriak Nisa dan Adel barengan...
*****
Gimana pada suka gak? mohon berikan komentarnya yaa...
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya..
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading Guys!