
Ratu mengernyitkan dahinya sekilas...
'Siapa sih tamu yang datang pagi-pagi dan kenapa bibi gak mau kasih tahu ya. Apa bibi beneran gak tahu...ah daripada penasaran lebih baik gue turun aja sekarang untuk melihat langsung.' Batin Ratu.
Ratu menuruni tangga dengan perlahan. Dia mengintip sekilas untuk melihat tamu tersebut. Terlihat senyuman dari wajahnya langsung mengembang. Ternyata tamunya pagi ini adalah kedua orangtuanya sendiri. Sontak saja dia langsung menghampiri keduanya dengan memeluk hangat papa mama yang selama ini dia rindukan. Sudah lama dia tidak bertemu dengan keduanya.
"Papa mama...kenapa gak kasih kabar ke Ratu dulu sih kalau mau datang? Kan Ratu bisa siapin makanan untuk papa mama..." Ucap Ratu.
"Sengaja mau kasih kamu kejutan sayang." Ucap papa.
"Kamu gak usah repot-repot sayang. Ntar mama aja yang masakin kamu. Gimana kamu masih mual muntah gak?" Tanya mama memastikan.
"Masih ma, tapi gak separah pertama kali." Ucap Ratu.
Mama melihat putri kesayangannya yang sedang hail dari atas kebawah. ..
"Kamu semakin berisi saja sayang." Ucap mama.
"Wajar aja ma, kan Ratu lagi hamil." Ucap papa.
"Iya juga sih, Kavin mana sayang?" Tanya mama.
"Oh Kavin lagi mandi ma, aku panggil sebentar ya ma." Ucap Ratu.
"Gak usah sayang, ntar juga Kavin turun sendiri kalau udah siap." Ucap mama.
"Kenapa sekarang ada 2 satpam yang jaga dirumah sayang?" Tanya papa penasaran.
"Kavin yang mempekerjakan pa. Katanya untuk lebih melindungi Ratu dirumah. Karena Kavin kan kerja jadi gak bisa mantau Ratu dirumah. Kalau ada satpam, Kavin merasa lebih tenang dan gak kepikiran pa. Semenjak Ratu hamil, kavin jadi over protektif..." Ucap Ratu.
"Wajar aja sih sayang. Dulu papa kamu juga seperti Kavin kok. Tapi itu semua Kavin lakukan untuk kebaikan kamu sayang." Ucap mama.
"Emang dulu papa gimana ma waktu tahu mama hamil?" Tanya Ratu penasaran.
"Papa kamu menjadi lebih perhatian sih tapi juga kadang berlebihan juga. Karena kandungan mama waktu hamil kamu itu terbilang lemah, jadi papa sangat khawatir dan cemas sama mama. Terlebih lagi disaat mama melahirkan. Hampir saja mama gak bisa bertahan sayang karena terlalu banyak kehilangan darah. Mama hampir gak kuat tapi papa selalu menenangkan sekaligus menyemangati mama. Setelah kamu lahir, papa tidak ingin mama hamil lagi karena masih trauma. Papa takut kehilangan mama..." Jelas mama.
"Oh gitu, pantasan aja Ratu hanya anak satu-satunya. Jadi itu alasannya selama ini." Ucap Ratu.
"Iya sayang. Jadi kalau sekarang Kavin yang seperti ini. Kamu maklumi aja ya. Karena sangat wajar bagi seorang suami mencemaskan istrinya. Terlebih lagi dia tidak bisa mantau keadaan kamu 24 jam." Ucap papa.
"Tuh kamu dengar sayang. Papa sama mama aja mengerti jadi kamu jangan bilang kalau sikap aku berlebihan ke kamu." Ucap Kavin.
Kavin menghampiri kedua mertuanya dan tak lupa untuk bersalaman.
"Senang banget kamu ada yang belain Vin." Ucap Ratu.
"Jelas senang dong. sayang. Mumpung ada yang belain." Ucap Kavin.
"Mama sama papa gimana kabarnya?" Tanya Kavin.
"Alhamdulillah baik kok." Ucap papa.
"Kavin senang karena mama sama papa datang, Ratu jadi ada yang nemani disini." Ucp kavin.
"Mama perhatiin kok kamu terlihat makin kurus Vin?" Tanya mama.
Ratu memperhatikan suaminya dengan serius. 'Kok gue gak sadar kalau Kavin makin kurus ya. Pasti semua ini karena Kavin terlalu kelelahan ngerawat gue. Dia kan jadi kurang tidur. Gue jadi merasa bersalah sama suami gue sendiri.' Batin Ratu.
"Kavin makin kurus karena jagain Ratu ma. Ratu smpat mimpi buruk dan muntah serta demam disaat tengah malam. Kadang juga Ratu megjak Kavin untuk keluar untuk beli makanan." Ucap Ratu.
"Bukan karena itu kok sayang. kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri begitu dong. Wajar aja kamu kan lagi hamil jadi aku harus lebih peduliin kamu." Ucap Kavin.
"Tapi aku tetap merasa bersalah sama kamu Vin. Karena ngerawat aku, kamu malah gak peduli sama kesehatan kamu sendiri." Ucap Ratu.
"Ini bukan salah kamu sayang, aku aja yang kecapekan belakangan ini." Ucap Kavin.
"Oh iya ma pa? Ayuk kita sarapan dulu. Ntar Kavin malah telat lagi" Ajak Ratu..
Untung saja hari ini bi Ina memasak soto ayam, nasi goreng, omlette, ketang goreng dan roti bakar. Jadi mereka semua bisa sarapan bersama.
Setelah selesai sarapan, Kavin pamit untuk bekerja. Ratu mengantarkan Kavin sampai depan rumah. Sudah lama dia tidak pernah melihat suaminya pergi kerja seperti ini...
Ratu menyuruh bi Ina untuk membersihkan kamar tamu yang ada di bawah. Ratu dan mamaya sedang duduk ditaman samping rumah sambil menikmati pemandangan bunga. Sedangkan papanya menonton tv diruang bawah.
"Kalau Ratu gak salh ingat, mama bilang kemarin kalau papa masih sibuk dengan tanamannya, jadi gimana ceritanya bisa mama ajak kesini?" Tanya Ratu.
"Mama bujuk papa terus sayang. Awalnya papa gak mau tapi mama usaha terus sampai papa setuju. Dengan syarat bi Minah yang harus merawat tanaman selama papa pergi ke Jakarta." Jelas mama.
"Oh pantasan aja. Tapi Ratu senang sih papa sama mama datang kesini. Ratu udah kangen banget sama papa mama. Padahal seharusnya Ratu yang harus ngunjungi papa mama." Ucap Ratu.
"Gpp sayang, mama sama papa juga mengerti keadaan kamu sekarang. Mama udah gak sabar bakalan dipanggil nenek sama cucu mama ini. Kamu udah tahu jenis kelaminnya sayang ?" Tanya mama.
"Udah ma, jenis kelaminnya laki-laki." Ucap Ratu.
"Mama udah gak sabar pegen ketemu langsung sama cuvu pertama mama ini." Ucap mama sambil mengelus lembut perut Ratu.
"Sehat-sehat ya cucu nenek sampai lahiran. " Ucap mamanya.
"Makasih nenek doanya..." Ucap Ratu membalas ucapan mamanya.
Setelah selesai membereskan kamar, bi Ina mengantar mama Ratu kedalam kamar untuk beristirahat sejenak. Perjalanan mereka hari ini cukup melelahkan...
"Kalau ada perlu apa-apa, jangan lupa hubungi saya ya bu." Ucap bi Ina.
"Makasih bi." Ucap mama Ratu.
"Sama-sama bu.." Ucap bi Ina.
"Bibi jangan formal gitu ngomongnya, kan kita udah kayak keluarga selama ini. Jadi bicaranya kalau bisa lebih santai aja bi. Bibi apa kabarnya?" Ucap mama Ratu.
"Baik bu. Non Ratu dan den Kavin juga sangat baik sama bibi. Oh iya kalau gitu selamat beristirahat bu..." Ucap bi Ina.
"Oke bi. Ntar lagi kita bercerita ya." Ucap mama Ratu.
Setelah itu bi Ina keluar kamar dan melanjutkan kembali pekerjaannya....
****
"Saya minta maaf ya mbak karena belum bisa bawa Raya untuk ketemu dengan mbak. Hari ini dia ada jadwal kontrol kerumah sakit." Jelas Nia.
"Bukan salah kamu kok Nia. Saya juga tahu kalau Raya masih belum siap ketemu sama keluarganya lagi." Ucap mama Raya.
"Tapi sampai kapan ma? kak Raya benar-benar keterlaluan. Ini udah 5 tahun lebih dia masih belum siap juga." Ucap Vita.
"Kamu yang sabar ya Vita. Terlalu banyak kejadian yang kakak kamu alami selama ini." Jelas tante Nia.
"Tapi itu bukan alasan tan, Vita benar-benar gak habis fikir sama pola pikir kak Raya." Ucap Vita.
"Sebulan ini kakak kamu mengalami kecelakaan yang cukup parah. Dia sempat koma selama sebulan lebih. jadi harus sering kontrok kerumah sakit sayang." Jelas tante Nia.
"Jadi bagaimana kondisi Raya sekarang Nia? kenapa kamu gak ada ngabari mbak?" Tanya mama Raya.
"Seriusan tan? tante gak lagi bohongi Vita sama mama kan?" Tanya Vita memastikan.
"Ngapain juga tante bohong sama kamu Vita." Ucap tante Nia.
"Maafin aku mbak, aku gak mau kalau mbak semakin khawatir dan kepikiran sama Raya. Tapi sekarang Raya udah mendingan kok. Tapi masih haru sering kontrol ke dokter juga mbak untuk lebih memastikan keadaannya." Jelas Nia.
"Syukurlah kalau Raya gak kenapa-napa. Mbak mohon kalau selagi lagi Raya ada masalah apapun, kamu hubungi mbak ya. Bagaimanapun mbak ini tetap orangtuanya." Jelas mama Raya.
"Saya janji akan hubungi mbak..." Ucap Nia.
"Maaf kalau bertahun-tahun ini saya merepotkan kamu Nia." Ucap mama Raya.
"Saya gak merasa direpotkan mbak. Saya sudah sangat sayang dengan Raya seperti anak saya sendiri mbak. Jadi mbak gak usah merasa terbebani ya." Ucap Nia.
"Mbak merasa sangat bersyukur karena Raya dirawat sama orang seperti kamu." Ucap mama Raya.
Nia hanya tersenyum mendengar ucapan barusan.
"Tante juga janji akan mengatur pertemuan kita lagi dengan kakak kamu." Ucap tante Nia.
"Gak usah diatur lagi tante." Ucap Vita.
"Loo kenapa? emang kamu gak mau ketemu lagi sama kakak kamu ya?" Tanya tnte Nia bingung.
"Kita bisa buat seolah pertemuan yang tidak direncanakan. Dengan begitu kak Raya gak akan pernah mengelak lagi." Ucap Vita.
"Kamu benar juga. Semakin kita rencanakan semakin banyak alasan yang dia berikan." Ucap tante Nia.
"Kalau begitu ntar hari minggu kita jalani rencananya ya tan.." Ucap Vita yang terlihat sangat antusias.
"Tante ngikut aja gimana rencana kamu. Kamu jangan lupa kabari tante." Ucap tante Nia.
"Oke tante..." Ucap Vita.
"Kamu yakin sayang? kamu yakin rencana ini bakal berhasil dan gak akan buat kakak kamu marah?" Tanya mama.
"Yakin 100% ma. Udah mama tenang aja. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan kak Raya." Ucap Vita.
"Kalau gitu mama akan ikutin rencana kamu." Ucap mama.
"Berarti udah sepakat semuanya.." Ucap Vita.
Vita sudah memikirkan rencana dengan sebaik mungkin. Dia benar-benar yakin kalau kali ini dia dan mamanya akan bertemu dengan Raya. Orang yang mereka berdua rindukan selama ini. Dia juga berharap kalau pertemuan kali ini berjalan mulus. Jauh dilubuk hatinya dia ingin melihat senyum mamanya lagi yang selama ini tidak pernah dia lihat lagi. Semenjak kakaknya tidak mau bertemu dengan mamanya lagi.
'Sabar ma, sebentar lagi Vita akan mempertemukan kalian berdua. Vita harap usaha Vita kali ini gak akan sia-sia. Tuhan tolong bantu Vita kali ini...' Batin Vita.
Vita dan mama pamit pulang dan sempatin untuk mengantar tantenya itu sampai rumah.
*****
Sepulang kerja, Raya sudah janjian bertemu dengan dokter. Raya menunggu mengambil nomor antrian dan menunggu kehadiran dokter. Karena merasa bosan, dia bermain game yang ada di hp. Bebrapa kali dia bermain game, akhirnya nomor dia dipanggil juga. Raya masuk kedalam ruangan. Langsung saja Raya menanyakan kondisinya kepada dokter yang menanganinya selama ini.
"Bagaimana kondisi saya sebenarnya dok? kenapa kepala saya masih sering sakit kalau sedang mengingat sesuatu?" Tanya Raya memastikan.
"Untuk lebih jelasnya, kita harus melakukan pemeriksaan sekarang." Ucap dokter.
Dokter mulai memeriksa dan meronsen bagian kepala Raya...
"Kamu hanya perlu wktu untuk mengingat sesuatu yang hilang. Tapi secara perlahan ingatan kamu akan kembali lagi. jadi kamu gak perlu khawatir dan yang paling penting kamu harus rutin minum obat yang saya resepkan. Karena itu akan sangat membantu kamu...saya juga minta kamu jangan terlalu memaksa untuk mengingat sesuatu. Dampaknya sakit kepala kamu akan semakin parah nantinya." jelas dokter panjang lebar.
"Dari hasil ronsen bagaimana dok? tidak ada masalah kan?" Tanya Raya.
"Untuk hasil ronsen, kamu tidak perlu khawatir. Banyakin istirahat dan jangan terlalu banyak mikir ya." Ucap dokter.
"Oke dok akan saya usahakan. Kalau begitu terima kasih." Raya bersalaman dengan dokter tersebut dan segera keluar untuk menebus obat yang diresepkan kepadanya.
Setelah hasil pemeriksaannya itu, Raya merasa begitu lega karena apa yang dia khawatirkan tidak terjadi. Dia sempat yang berfikir yang aneh-aneh karena rasa nyeri dikepala yang dia rasakan selama ini begitu menyiksanya. Ucapan dokter tadi mampu membuatnya menajdi lebih tenang.
Raya pulang kerumah sambil membawa hasil ronsen kepalanya...
"Apa kata dokter? bagaimana keadaan kamu sekarang? kenapa kamu lemas begini? kamu gak kenapa-napa kan sayang?" Tante Nia terlihat panik dan cemas.
"Ini hasil ronsennya tan. Tante lihat sendiri aja." Ucap Raya.
Tidak butuh waktu lama, tante Nia langsung mengambil foto hasil ronsen yang ada didalam map tersebut. Setelah melihatnya pun tante Nia tetap tidak mengerti.
"Tante gak mengerti . Kamu aja yang ceritain hasilnya gimana." Ucap tante Nia.
"Jadi dokter bilang kalau Raya hanya perlu aktu untuk mengingat dan tidak ada masalah apapun. Yang paling penting Raya harus banyakin istirahat. Jadi tante gak perlu khawatir lagi ya karena Raya gak kenapa-napa." Jelas Raya.
"Syukurlah kalau memang seperti itu sayang. Tante lega dengarnya." Ucap tante Nia.
"Raya ke kamar dulu ya ten, Raya mau mandi dulu." Raya berjalan ke kamarnya.
Selesai mandi Raya menghampiri tantenya untuk makan malam berdua. Mereka lebih sering makan malam berdua karena om nya selalu pulang kerja larut malam. Sedangkan kedua anka tantenya bersekolah di luar kota. Mereka lebih sering menghabiskan waktu berdua saja kalau dirumah. Jadi kalau Raya telat pulang, tantenya hanya dirumah sendirian.
Tante Nia senang dengan perubahan sikap Raya selama tinggal dengannya. Raya menjadi seorang anak yang baik dan terarah. Tidak seperti pertama kali mereka bertemu. Banyak perubahan sikap Raya yang dia rasakan. Sebaliknya Raya juga sudah sangat sayang dengan tantenya ini.
*****
Hari ini tepat hari minggu dimana Vita sudah janjian dengan tante Nia untuk menjalankan rencana yang sudah dia buat. Tante Nia pergi berdua dengan Raya ke salah satu Mall untuk berbelanja makeup. Raya tidak menaruh curiga sama sekali kepada tantenya. Karena dia selama ini juga sering pergi berdua dengan tantenya untuk berbelanja dan sesekali mereka berdua juga menonton film di bioskop berdua.
"Gimana kalau habis belanja kita nonton film aja. Kalau kita langsung pulang malah gak serukan. Tante juga udah bosen dirumah terus." Ucap tante Nia.
"Terserah tante aja maunya gimana. Tapi Raya letakkin barang belanjaan dulu didalam bagasi mobil ya tan. Tante duluan aja masuk kedalam." Ucap Raya.
"Kalau gitu tante tunggu kamu didalam ya. Ntar tante hubungi kamu lagi." Ucap tante Nia.
"Oke deh." Raya segera keluar dari Mall menuju parkiran mobil. Dia meletakkan semua barang belanjaan kedalam mobil setelah itu dia masuk lagi kedalam Mall tersebut.
Hp Raya berdering, Raya melihat kalau tante nia yang menghubunginya saat ini...
"Halo tan...ini Raya baru aja berjalan masuk kedalam Mall lagi." Ucap Raya.
"Kamu mau nonton film apa. Ini yang lagi tayang film action, romantis sama horor." Ucap tante Nia.
"Kalau gitu kita nonton film horor aja deh tan. Kalau menurut tante gimana?" Raya menanyakan pendapat tantenya juga.
"Oke tante ngikut aja. Kalau gitu tante beli dulu tiketnya ya. Kamu cepetan kesini karena filmnya 10 menit lagi udah tayang." Ucap tante Nia.
"Oke tan..." Ucap Raya.
Raya masuk kedalam lift untuk mempercepat tujuannya. Karena bioskop terletak pada lantai 4 di Mall ini.Langsung saja dia menekan tombol 4 dan menunggu lift untuk naik.
4...3....2....1.... Ting.
Dia segera berjalan kearah bioskop dan segera mencari keberadaan tantenya. Dari kejauhan terlihat tantenya sedang melambaikan tangan kearahnya. Langsung saja Raya menghampiri tante Nia.
Mereka memasuki studio bioskop untuk menonton film horor. Film horor ini berdurasi 2 jam 10 menit. Keduanya menikmati film tanpa berkedip. Sesekali Raya teriak atau menutup matanya saat mlihat adegan yang seram. Popcorn yang sudah dibeli oleh tantenya pun tidak tersentuh karena mereka berdua hanya fokus untuk menonton saja. Apalagi suasana tegang yang ada didalam. Jalan cerita yang tidak bisa ditebak membuat mereka berdua menonton dengan serius.
Setelah selesai menonton, Raya yang berjalan berdampingan dengan tantenya berjalan kearah toko perhiasan. Ntah kenapa dia ingin sekali melihat-lihat sesuatu yang menurutnya indah.
"Kamu mau beli kalung ini?" Tanya tante Nia.
"Gak kok tan, cuman mau cuci mata aja. Udah lama juga gak lihat-lihat perhiasan begini." Ucap Raya.
"Kalau kamu suka ya dibeli aja sayang." Ucap tante Nia.
Raya melihat harga kalung dan meletakkannya kembali.
"Gak deh tan, lebih baik uangnya Raya tabung aja daaripada beliin kalung ini." Ucap Raya.
"Kalau kamu mau biar tante aja yang beliin buat kamu sayang. Gimana?" Tanya tante Nia.
"Gak usah deh tan, sayang banget rasanya dengan harga yng lumayan mahal. Ntar aja eh kalau uang Raya udah berlebih baru beli kalung ini." Ucap Raya.
"Kamu yakin sayang?" Tanya tante Nia.
"Yakin dong tan. Udah yuk kita lebih baik pulang aja sekarang." Ucap Raya.
Raya dan tanteny berjalan dan melihat-lihat kedalam toko baju sebentar terus keluar lagi. Raya begitu terkejut saat keluar dari toko baju itu di melihat ada mama dan adiknya Vita sedang didepan toko baju tersebut. Ekspresi Vita sebisa mungkin seolah terkejut bertemu dengan kakaknya didalam Mall itu.
"Ya ampun, kak Raya. Gak nyangka deh kita bisa ketemu disini. Kakak lagi belanja apa?" Tanya Vita.
Raya masih terdiam dan melihat keduanya secara bergantian. Dia tidak tahu harus berekspresi apa saat ini. Ada rasa rindu yang dia simpan, ada juga rasa sayang atau benci sekaligus yang masih dia rasakan.
"Mbak, gak nyangka kita bisa ketemu disini. Kalian udah daritadi disini?" Tanya tante Nia.
"Baru aja kami masuk kedalam Mall ini. Kalau kalian bagaimana?" Tanya mama Raya.
"Kita sudah seharian ini keliling Mall mbak." Ucap tante Nia.
"Kalian suda makan belum? Gimana kalau kita makan masakan korea yang ada disana." Ucap mama Raya.
"Boleh juga itu ma, Vita juga udah lama banget gak makan masakan korea." Ucap Vita.
Raya yang sedaritadi masih terdiam akhirnya bersuara juga.
"Gak usah deh tan, lebih baik kita pulang aja, Kan kita udah capek seharian ini di Mall." Tolak Raya.
"Ya kak Vita jangan begitu dong. Vita kan pengen makan bareng sama kakak. Mau ya kak?" Bujuk Vita.
"Kalau saya sih ngikut aja mbak, tergantung Raya nya aja gimana. Tapi memang sedaritadi kita belum ada makan sih. Gimana menurut kamu sayang?" Ucap tante Nia.
"Tpi tan, kita..." Vita langsung menarik tangan Raya. Dia tidak mau mendengarkan penolakan lagi dari kakaknya itu. Sekarang Raya mau tidak mau, suka tidak suka diapun hanya pasrah mengikuti Vita saja. Dalam hati mamanya sangat senang karena bisa bertemu dan makan bareng dengan kedua anak kesayangannya.
Sampai ditempatmakan ala korea ini, Vita memesan menu untuk grill daging ala korea dengan memesan tteokbokki, kimchi, sop tomyam untuk tambahan menunya. Yang lain hanya mengikuti kemauan Vita saja. Setelah daging datang, Vita dan tante Nia yang memanggangnya sedangkan Raya dan mamanya masih terlihat canggung untuk makan bersama.
"Kok diam aja sih, ini di makan dong daging yang udah tante bakar." Ucap tante Nia yang seketika menghilangkan rasa canggung yang ada.
"Eh iya tan." Raya mengambil sumpit dan mulai memakan daging, tteokbokki dan juga sop tomyam kesukaannya. Mereka semua sangat menikmati makanan itu sampai bnar-benar kenyang. Mama Raya terlihat senang karena Raya memakan makanan dengan lahapnya.
Selesai makan, Vita mulai mengajak kakaknya untuk mengobrol.tante Nia sengaja permisi untuk pergi ke toilet dengan tujuan meninggalkan keluarga itu untuk mengobrol dengan bebas...
"Kak, Vita kangen banget sama kakak. Vita senang banget bisa ketemu sama kakak di Mall ini, ya kan ma?" Tanya Vita meminta persetujuan mamanya.
"Mama juga kangen banget sama kamu sayang." Ucap mama.
Deg...
Ucapan keduanya membuat Raya meneteskan air matanya. Dia juga tidak mengerti kenapa dia bisa sesedih ini. Tapi yang jelas dia merasa begitu terharu bisa dipertemukan dengan keduanya.
"Pulanglah sayang, mama udah gak bisa menunggu kamu lagi." Ucap mama.
"Ya kak, Vita juga gak ada teman dirumah kak. Vita butuh kakak..." Ucap Vita.
"Maaf ma, Raya harus memikirkan dulu." Ucap Raya.
"Kalau itu, mama akan selalu menunggu keputusan kamu sayang." Ucap mama.
"Kakak pertimbangkanlah permintaan mama, kami sudah menunggu kesiapan hati kakak sudah terlalu lama. Jangan buat kami berharap yang tidak pasti lagi. Vita mohon kakak harus memikirkannya dengan baik." Ucap Vita.
"Kakak janji akan memikirkan dan mempertimbangkannya." Ucap Raya.
"Semoga ucapan kakak kali ini bia Vita pegang." Ucap Vita.
Tidak berapa lam tante Nia datang, Raya langsung mengajak tantenya untuk pulang dan pamit kepada keduanya.
"kami pulang dulu ya mbak. Mbak dan Vita selamat berjalan-jalan ya." Ucap tante Nia.
"kalian hati-hati ya. Jangan terlalu ngebut bawa mobilnya." Pesan mama.
"Baik ma." Ucap Raya singkat.
"Bolehkan Vita meluk kakak sebentar." Ucap Vita.
"Disini rame Vita..." Belum saja Raya melanjutkan kata-katanya, Vita sudah langsung memeluknya tanpa izinnya.
Raya melepas paksa pelukan adiknya.
"Udah tadi katanya sebntar aja peluknya." Ucap Raya.
"Kakak ini gak ada manis-manisnya sama sekali padahal kita udah lama gak ketemu lagi." Ucap Vita.
"Kalau gitu kami pulang duluan ya ma, Vita. Kalian have fun ya berkelilingnya..."
"Bye kak, hati-hati ya..." Ucap Vita.
Raya dan tanteya langsug pergi meninggalkan keduanya yang masih terduduk itu.
Walaupun hanya bisa bertemu dan mengobrol sebentar tapi sudah membuat Vita dan mamanya menjadi bahagia. Kebahagiaan itu sederhana saja, disaat kita bisa bertemu atau berkumpul dengan orang-orang yang tersayang pasti memiliki makna dan kenangan tersendiri bagi orang tersebut. Maka untuk itu hargailah setiap proses kehidupan yang sedang berjalan.
Vita merasa rencananya berjalan dengan apa yang sudah dia rencanakan. Paling tidak dia bisa melihat mama dan kakaknya mengobrol kembali. Kalau rasa benci selalu diberi banyak rasa cinta dan ksih sayang, Pasti lama-kelamaan perasaan benci itu akan goyah sendiri dan menjadi luluh. Itulah yang sedang dibangun oleh Vita. Memang sifat Vita dan kakaknya termasuk dua pribadi yang berbeda tapi mereka terlihat saling memahami.
*****
Sepulangnya dari Mall, Raya hanya masuk kedalam kamar tanpa kata-kata apapaun. Dia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur karena merasa lelah seharian ini. Dia beristirahat sejenak.
Niatnya hnya ingin beristirahat dengan sebentar malah membuat dirinya ketiduran kurang lebih 3 jam. Setelah tersadar, dia langsung mandi agar badan dan pikirannya lebih fresh. Saat ini dia merasa segar, dia mencoba melatih ingatannya kembali. Dia mengambiil dokumen yang dia simpan didalam lemari tersebut. Dia mencoba mengingat secara perlahan. Awalnya membuat sakit kepalanya terasa nyeri tapi dia tetap mencoba untuk mengingat sesuatu.
Dia memejamkan mata dan mulai mengingat sosok orang yang ada didalam dokumen tersebut.
"Ayo dong ingat. Gue harus usaha lebih keras lagi nih kayaknya. Dokter menyuruh gue untuk melatih ingatan jadi gue gak boleh menyerahkan. Gue yakin dengan usaha dan kegigihan yang gue punya. Gue yakin bisa..." Ucapnya sambil menatap kearah cermin.
Karena masih belum mengingatjuga, Raya dengan kesalnya mencampakkan dokumen itu di lantai dan pergi keluar menghampiri tantenya yang sedang makan cemilan itu. Dia mengambil mangaa dan memotongnya untuk makan malamnya hari ini. karena dia masih tersasa sangat kenyang saat ini. Jadi memutuskan makan malam dengan buah saja sudah cukup baginya.
"Bagaimana perasaan kamu setelah bertemu dengan mama dan adik kamu tadi?" Tanya tante Nia membuka percakapan mereka.
"Perasaannya campur aduk tan. Gak bisa diungkapkan dengan kata-kata." Ucap Raya.
"Tante berharap kamu bisa memaafkan keluarga kamu sayang. Bagaimanapun mereka berdua sayang banget sama kamu dan sudah cukup menderita selama ini." Ucap tante Nia.
"Raya masih berfikir untuk mengambil keputusan tan." Ucap Raya.
Lagilagi ucapan Raya masih belum dimengerti oleh tantenya ini. Karena ucapan Raya mengandung makna yang tidak dapat dijelaskan tapi tantenya tidak mau terlalu bertanya kepadanya. Takutnya malah membuat Raya menjadi tidak nyaman. Untuk malam ini tantenya hanya menannyakan hal yang sekedar saja.
Raya menghabiskan potongan mangga. Setelh itu dia pamit kembali masuk kedalam kamarnya lagi. Dia menggosok gigi setelah itu memejamkan matanya. Bagaimanapun juga dia harus beristirahat cukup malam ini."Semoga besok pagi gue udah bisa mengingat lagi. Itu aja harapan gue saat ini." Ucapnya dan langsung memeluk guling...
*****
Raya mendapatkan sepenggal ingtan nya yang hiang, dia mengingt moment bersama dengan Ratu dulu setelah itu hubungan mereka berdua retak akibat seorang cowok. Dari situ Raya mulai membeci Ratu dan selalu bersikap tidak baik. Sepenggal ingatan cowok yang bernama Kavin juga ada dibayangannya sekilas. Dia mulai mengingat kalau Kavin suaminya Ratu saat ini adalah orang yang sama yang bersekolah dengannya dulu. Perlahan dia mengingat semua kejadian di SMA dulu...
"Akhirnya gue bisa ingat semua juga. Walaupun pagi ini kepala gue terasa berat dan sakit banget tapi semuanya terbayarkan dengan ingatan gue yang kembali." Ucap Raya.
"Tapi tunggu dulu, seharusnya Kavin kan benci banget sama Ratu. Kenapa mereka bisa baikan lagi malah sampai menikah lagi. Kenapa gue bisa kecolongan cerita begini sih. Gue harus minta semua info lagi nih sana si Fery. Kalau semuanya sudah jelas alasannya. Baru gue bisa bertindak." Ucap Raya yang masih bingung sebenarnya. Dia amsih bertanya-tanya seniri. Pertanyaan tersebut belum mampu dia jawab. Apalagi dengan waktu selama 5 tahun ini dia sudah kecolongan banyak waktu tentang Ratu.
"Gue gak akan biarin hidup lo bahagia Tu. Gue masih punya banyak kejutan untuk lo. Gue yakin lo masih merasa trauma dan takut setelah menerima hadiah dari gue sebelumnya. Lo yang udah buat Rama meninggalkan gue. Hidup gue udah hancur sekarang, jadi gue gak akan rela ngelihat hidup lo bahagia. Gue udah pikirin rencana buat lo Tu. Jadi sabar aja ya. Sebentar lagi akan tiba waktunyauntuk menghancurkan lo. Jadi siap-siap aja. Gue mau semua rencana gue tersusun rapi dan bersih tanpa ada jejaknya. Jadi tunggu aja tanggal mainnya." Ucap Raya sambil tersenyum saat melihat foto Ratu dan Kavin pada dokumen yang dia pegang saat ini.
Raya merasa sangat bersyukur karena bisa mengingat kembali dan semuanya sudah dia ingat seperti sedia kala. Tak lupa dia juag meminum obat yang diresepkan untuknya, karena kepalanya menjadi begitu sakit saat ini.
"Aww kok jadi sesakit ini sih padahal tadi gpp." Ucapnya.
Setelah obat bereaksi dengan baik, sakit kepala yang dia rasakan perlahan mereda. Raya segera menghubungi Fery kembali...
"Jalankan rencana kita selanjutnya. Gue mau lo gak buat kesalahan sama sekali." Ucap Raya.
"Siap boss. Tenang aja semuanya bakal sesuai dengan recana kok." Ucap Fery.
"Gue butuh bukti bukan hanya omongan belaka." Ucap Raya.
"Oke bos. Saya akan buktikan..." Ucap Fery.
"Kalau gitu jangan lupa kabari gue lagi..." Ucap Raya.
"Beres bos." Ucap Fery.
Rencana selanjutnya yag akan dijalankan oleh Raya adalah...
*****
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading Guys!