Playboy Vs Playgirl

Playboy Vs Playgirl
Hidup terus berjalan



Nisa menceritakan semua hal yang terjadi setelah kepergiaan Ratu dan Kavin dari apartemen Adel kemarin. Ratu merasa bersalah karena tidak menceritakan dari awal dia tahu tentang hubungan Harry dan Putri. Seharusnya dia memberitahu Adel lebih awal agar Adel tidak merasakan hal yang sesakit ini secara langsung.


'Maaf Del, in semua salah gue.' Batin Ratu yang merasa sangat menyesal karena menunda hal tersebut.


"Aku teman yang jahat ya Vin..." Ratu terduduk sambil memikirkan tentang Adel.


Kavin mendekatkan dirinya kearah Ratu...


"Hei...ini semua bukan salah kamu kok. Mungkin sudah jalannya saja Adel harus mengetahuinya secara langsung. Kamu harus percaya takdir sayang, kita hanya bisa merencanakan semua hal dengan baik tapi kembali lagi Tuhan yang memutuskan sesuatu." Ratu menyenderkan kepalanya di bahu suaminya yang duduk tepat disamping.


"Aku sangat mengkhawatirkan keadaan Adel sayang." Ratu mendongakkan pandangannya yang sendu kearah Kavin.


"Aku yakin Adel akan memahami apa yang terjadi, malah semakin bagus kalau dia tahu hal ini dengan cepat. Aku yakin dia akan baik-baik aja sayang. Kamu jangan terlalu banyak mikir ya sayang,kasihan anak kita." Kavin sambil mengelus lembut perut Ratu.


Ratu juga melakukan hal yang sama, Ratu mengelus perutnya dengan lembut...


'Maafin mama ya sayang.' Batin Ratu.


Ratu dan Nisa hanya bisa mendoakan agar Adel baik-baik saja dan kembali lagi menjadi Adel yang seharusnya. Adel yang selalu dewasa dan seceria dulu. Mereka berdua sangat merindukan hal itu dari seorang Adel.


Nisa dan Ratu berusaha menenagkan Adel tapi Adel tidak meendengarkan ucapan kedua sahabatnya, dia malah berusaha tegar dan tidak membahas kejadian sebelumnya. Ratu dan Nisa semakin takut melihat perubahan sikap Adel yang tidak ingin diajak ketemu, Adel hanya menjawab melalui chat grup mereka. Berbagai alasan Adel lakukan agar untuk sekarang mereka bertiga tidak bertemu dulu. Adel masih butuh waktu untuk bertemu dengan orang-orang yang ada disekitarnya.


Pernah sekali Nisa yang ditemani Dimas mendatangi Adel ke apartemennya, tapi Adel tidak membuka pintu setelah tahu kalau yang datang adalah Nisa. Sebelumnya Adel sudah mendengar suara Nisa yang berteriak-teriak memanggil namanya. Adel menghindari semua orang kecuali Harry. Tidak ada alasan baginya untuk menghindar dari Harry, apalagi Harry sama sekali tidak tahu tentang apa yang terjadi.


Adel bersikap seolah menjaga jarak saja dengan atasannya itu, dengan begitu Harry akan melupakannya. Itu harapan terbesarnya saat ini. Harry terlalu baik bagi dirinya...


Bukan menjauh Harry malah semakin mendekatinya terus.


*****


Suara bel berbunyi terus-menerus di apartemen Adel. Adel dengan tidak semangatnya berjalan untuk melihat siapa orang yang datang pada malam hari seperti ini. Hal ini benar-benar menganggu baginya.


Ceklek..


Saat Adel baru saja membuka sedikit pintu, langsung saja orang tersebut mendorong tubuh Adel masuk kedalam dan otomatis pintu tertutup dan terkunci secara otomatis. Orang tersebut memeluk Adel dengan sangat erat. Adel memberontak untuk melepaskan pelukan yang membuatnya kaget.


"Lepasin..." Adel memukul-mukul orang tersebut tapi pelukan semakin diper erat saja.


"Sebetar aja Del..." Ucap orang tersebut.


Memang sebuah pelukan yang mampu menenangkannya saat ini. Setelah mendengar ucapan barusan Adel hanya membiarkan dirinya dipeluk.


Setelah merasa lebih tenang, Adel melepas pelukan dengan perlahan.


"Kamu...?" Berbagai pertanyaan yang ingin dia tanyakan langsung kepada orang yang tepat ada didepannya saat ini.


"Aku merindukanmu Del. Sangat merindukanmu. Tidak bisakah kamu hanya melihatku saja? Tidak bisakah kamu tidak terluka sendirian?" Tanya orang tersebut.


Bukannya menjawab pertanyaan barusan, Adel malah mengusir orang itu segera keluar dari apartemennya.


Ya orang ini adalah Harry, orang yang terakhir yang baru mengetahui kalau Adel sudah tidak tinggal dirumahnya. Orang yang baru mengetahui semua kejadian yang menimpa Adel selama ini.


'Jadi Karena hal itu yang membuat kamu berubah Del, maaf aku baru menyadarinya. Maaf aku tidak ada disamping kamu disaat kamu butuh seseorang untuk menghibur. Aku memang terllau bodoh dan tidak peka.' Batin Harry yang melihat Adel serta mengalihkan pandangannya kearah apartemen Adel yang terlihat berantakan seperti tidak terurus sama sekali. Bukan seperti Adel yang dia kenal. Adel yang dia kenal selama ini adalah orang yang paling rapi, bersih dan perfect untuk segala sesuatu. Tapi tidak dengan malam ini. Adel berpakaian kaos oblong dengan celana hotpants dengan rambut yang digulung dengan wajah kusut.


"Aku tidak ingin kamu datang dan melihatku dalam keadaan seperti ini Harry, maaf." Adel membawa Harry kearah pintu. Harry menepis tangannya yang dipegang oleh Adel.


"Hentikan semua ini Del, kamu pikir setelah kamu patah hati hidup akan berakhir? kamu salah...hidup akan terus berjalan. Tapi malah kamu memilih untuk hidup dengan keadaan terpuruk seperti ini?" Harry meluapkan semua isi hatinya seakan marah dengan Adel yang tidak menjalankan hidup dengan normal kembali.


"Terus menurut kamu apa yang harus aku lakukan? kamu pasti kesini untuk mengasihani aku kan Harry? ya kan?" Adel yang tidak terima dengan kata-kata yang diucapkan Harry sebelumnya.


"Aku memang bodoh, aku memperjuangkan dan menunjukkan perasaan kepada orang yang tidak pernah bisa melihat hatiku. Semuanya udah berakhir tanpa aku ungkapkan kepada orang tersebut." Adel teriak mengungkapkan bebean yang ada dihatinya kepada Harry.


"Kenapa Del? kenapa kamu begini?" Tanya Harry sambil memegang tangan Adel.


"Ternyata hidup ini terlalu sulit Harry, ini semua tidak adilkan? hahah.." Ucap Adel terkekeh sendiri.


"Aku tahu ini terlalu sulit untuk kamu jalani Del, tapi kamu masih memiliki orang yang sayang dan peduli sama kamu, termasuk aku." Harry menunjuk dirinya sendiri untuk meyakinkan Adel kalau hidupnya masih berharga untuk dilanjutkan.


"Jangan buang waktu kamu Harry, sebaiknya kamu pergi dari sini sekarang." Usir Adel dengan paksa. Addel tidak bertanya kenapa harry bisa tahu semua hal yang terjadi padanya, dia juga tidak menanyakan kenapa Harry tahu tempat tinggalnya sekarang. Adel merasa sangat malu kepada Harry dan orang yang mengetahui tentang perasaannya kepada Tommy. Dia seakan tidak bisa menunjukkan wajahnya lagi setelah kejadian itu. Haiinilah yang membuatnya menyembunyikan perasaannya selama ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur kan. Semua sudah terjadi dan tidak bisa diulang kembali. Kalau saja Adel bisa mengubah waktu, dia tidak ingin merasakan jatuh hati kepada Tommy yang merupakan mantan sahabatnya sendiri.


Dibalik pintu, Harry masih berusaha mengetok dan memencet bel apartemen Adel. Tapi sayang Adel tidak membukanya kembali. Padahal sudah jelas kalau Adel tahu karena dia masih berada dibalik pintu tersebut.


Harry menghubungi nomor Adel secara berulang-ulang tapi tidak diangkat, malah Adel mematikan hpnya agar tidak ada orang yang bisa menghubunginya lagi.


Adel kembali ke kamar tidur, dia merebahkan tubuhnya setelah otaknya capek berfikir hal yang menyakitkan baginya.


Harry dengan terpaksa pergi dari apartemen Adel  dengan wajah kecewa. kekecewaan yang mendalam yang dia rasakan saat ini. Selama ini Adel tidak menganggapnya sebagai seorang teman sama sekali? Harry benar-benar menyadari hal itu. Adel memperlakukannya seperti orang asing, orang yang tidak saling mengenal satu sama lain. Harry pikir dirinya sudah mengenal Adel cukup baik dan lama ternyata dia salah. Masih banyak hal yang Harry tidak tahu dan mengerti tentang Adel sama sekali.


Harry benar-benar kecewa, frustasi, kesal...semua perasaan bercampur aduk dia rasakan sekarang. Harry tidak bisa berfikir secara logis kembali. Apakah dirinya setidak penting itu bagi Adel selama ini? apa segitu buruk dirinya bagi Adel? Kenapa Adel bisa berbuat seperti ini kepadanya?...


Harry menepikan mobilnya ke kiri sejenak. Harry memukul setir berulang kali sampai membuat tangannya sakit.


"Kenapa? kenapa Tuhan menghadirkan kamu dihidup aku Del? kalau aku tahu akan sesakit ini, aku tidak akan berencana untuk memulai semuanya dengan kamu..." Ucap Harry frustasi.


Flashback On...


Harry sudah berada didepan rumah Adel tapi dia merasa sangat gelisah untuk memencet bel rumahnya...


Dengan keyakinan yang pasti dia memberanikan diri memncet bel tersebut. Harry sudah pasrah dengan segala konsekuensi yang akan dia terima nanti. Termasuk Adel akan marah besar padanya. Harry sudah berjanji sebelumnya kepada Adel...apapaun yang terjadi Harry tidak boleh datang kerumah untuk mencarinya, biar Adel saja yang menemuinya. Itu janji yang selama ini dia pegang... tapi hari ini dia mengingkari janji tersebut.


Harry sudah tidak bisa diam saja melihat sikap Adel yang mendadak berubah. Adel seakan tidak pernah mau peri dengannya lagi. Adel bersikap terllau formal setiap mereka bertemu. Hal itu yang membuatnya kesal sendiri. Kali ini dia ingin menanyakan semua hal kepada Adel secara langsung. Salah sendiri Adel tidak mengangkat teleponnya...


Ting tog ting tong...


Suara bel rumah Adel berbunyi terus...


Harry merasa cukup deg-deg an karena ini kali pertama baginya untu datang. Walaupun sebenarnya dia sudah sering mengantar Adel tapi tidak pernah diperbolehkan masuk. Hanya sebatas didepan pagar rumah saja.


Tidak terlalu lama ada seseorang yang membuka pintu...


Orang yang membuka pintu melihat kearah harry dengan bingung, mama Adel tidak pernah melihat orang ini sebelumnya...


"Maaf kamu siapa?"


"Bisa saya ketemu dengan Adel?"


Orang itu menarik Harry untuk masuk kedalam rumah,


"Saya tidak tahu Adel tinggal dimana sekarang." Jelas orang tersebut.


"Apa?"


"Adel...dia tidak disni." Ucap mama Adel dengan lemas.


"Maksud tate apa? saya tidak mengerti sama sekali,"


"Adel sudah lama pergi dari rumah. Kamu siapanya Adel? kenapa mencari Adel ?"


"Saya temannya Adel tante, tante tahu Adel pergi kemana?"


Mama Adel melihat kearah Harry dengan tatapan sayu...


Ntah mengapa mamanya Adel percaya untuk bercerita tentang Adel kepada orang yang baru dia jumpai ini.


"Saya tidak tahu Adel tinggal dimana sekarang. Ini semua kesalahan tante."


"Boleh tante minta tolong ke kamu, kasih tahu tate kalau kamu dapat informasi tentag Adel ya. Tante khawtir sekali dengan Adel."


Harry masih terkejut dengan kenyataannya yang baru saja ia ketahui, Harry sempat mennayakan kapan Adel pergi dari rumah. Dan setelah dia tahu itu adalah waktu Adel minta izin kantor sehari. Harry pikir karena Adel ingin istirahat dirumah tapi disaat itu Adel malah pergi. Berarti setelah harry mengantar Adel, disaat itu Adel membohongi dirinya...


"Saya akan mencari tahu keberadaan Adel, tante tenang aja..." Harry langsung pamit pulang...


Bukannya pulang, Harry malah mendatangi Dimas dicafenya. Harry memaksa Dimas dan ternyata sedang bersama dengan pacarnya juga...


Harry memaksa mereka berdua untuk menceritakan semua hal yang sebenarnya terjadi. Nisa berfikir sangat lama untuk menceritakan semuanya. Tapi Nisa memiliki keyakinan kalau Harry adalah orang yang tepat untuk membantu menghilangkan keterpurukan Adel.


"Tapi lo harus janji buat Adel bisa tersenyum kembali." Nisa berharap Harry bisa meluluhkan hati temannya itu. Karena jujur saja Nisa sudah hampir putus asa menghadapi Adel belakangan ini.


"Akan gue usahakan." Ucap Ahrry yang sudah tidak sabar mendengar semua hal tentang Adel.


"Gimana ? apa yang akan lo lakukan sekarang?" Tanya Nisa yang ingin mendegarkan keputusan Harry.


"Menurut lo gue harus melakukan apa?" Harry malah menanya balik. Harry saja bingung harus melakukan hal apa untuk membantu Adel sekarang.


"Yang lo bisa lakuin sekarang hanya menenangkan Adel saja. Dia seperti itu hanya merasa malu saja untuk semua orang. Gue yakin lo bisa mencoba Adel lebih tenang." Ucap Dimas.


Harry memikirkan tentang apa yang Dimas katakan.


"Benar juga, Seenggaknya gue harus bertemu dengan Adel dulu..." Harry mendesak Nisa untuk memberikan alamat Adel.


Malam itu juga Harry langsung pergi untuk menemui orang yang selama ini dia rindukan yaitu Adel....


'Maaf ya beb, gue harus melakukan hal ini. Seenggaknya ada orang yang rela melakukan apa saja untuk membahagiakan lo Del. Dan mungkin saja Harry adalah orang tersebut. Maaf gue juga udah melanggar janji.'Batin Nisa yang merasa bersalah setelah kepergian Harry.


Seperti orang yang sedang kacau, Harry menyetir dengan secepat mungkin. Hampir saja dirinya kena tilang oleh polisi karena keteledorannya.


Flashback Off...


*****


Hari ini Adel sangat terburu-buru untuk berangkat kerja, dengan keadaan mata yang masih sembab yang dia tutup dengan sedikit concealer. Padahal sejujurnya dia tidak bernafsu untuk bekerja hari ini ditambah lagi Adel akan bertemu dengan Harry nantinya. Masih sangat berat untuk dirinya sendiri bertemu dengan atasannya dengan keadaan yang terbilang kacau seperti itu.


Adel hanya memakai makeup sekedar saja pagi ini. Kemudian dengan setengah berlari dia pergi keluar apartemen menuju lift...


Adel menatap layar hpnya sekedar. Tidak ada pesan atau chat dari harry pagi ini tidak seperti biasanya. Tapi Adel tidak memusingkan hal tersebut. Yang paling penting baginya adalah pekerjaan ini. Masih banyak hutang yang harus dia bayarkan ke bank untuk melunasi apartemen secepatnya.


Dengan berat hati Adel harus tetap bekerja dengan Harry. Jujur setelah kejadian tadi malam sebenarnya Adel merasa bahwa dirinya hanyalah orang yang sangat menyedihkan dihadapan Harry....orang yang begitu menyukainya selama ini. Perasaan bercampur aduk dirasakan oleh Adel...Adel juga sudah pasrah kalau Harry akan membenci dirinya atau memecatnya sekaligus. Dia akan menerima konsekuensi apapun kali ini...


Ting...


Begitu lift terbuka, Adel dengan langkah setengah berlari menuju ke parkiran mobil.


Bruk..


"Aww..." Rintihnya kesakitan.eperti ini kalau lagi buru-buru. Sial banget sih gue.' Batin Adel yang mengumpat dirinya sendiri.


'Kenapa sih ada aja kejadian s


Adel terjatuh karena kesandung sesuatu. Adel menahan sakit  pada lututnya yang mengeluarkan darah dan membuat kakinya dalam keadaan lecet. Bagaimanapun Adel sudah sangat terlambat untuk pergi ke kantor sekarang.


Adel tidak sempat untuk mengobati luka pada lututnya jadi dia hanya mengabaikan rasa sakit itu sebentar. Adel pergi meuju ke kantor dengan secepat mungkin....


Begitu sampai kantor, Adel merapikan meja kerjanya dahulu sebelum memulai pekerjaan. Setelah meja rapi, Adel melihat beberapa berkas ynag harus dia kerjakan tepat waktu untuk hari ini. Berkas-berkas yang Adel ketik atau kerjain harus mendapat tanda tangan persetujuan oleh Harry secepat mungkin. Karena itu beberapa berkas penting yang harus dia kirimkan via email maupun kantor pos.


Adel menghela nafas panjang saat ingin mengetuk pintu...


"Adel bagaimanapun keadaannya lo harus profesional. Jangan merasa gugu. Lo pasti bisa..." Ucapnya untuk menyemangati dirinya sendiri.


"Semangat..." Ucap Adel lagi.


Adel mengetuk pintu berulang kali sampai Harry mengatakan masuk...


Adel berjalan perlahan yang ditatap oleh Harry langsung saat Adel memasuki ruangannya. Hari tertegun melihat lutut Adel yang masih berdarah dan lecet. Tanpa basa-basi Adel langsung saja menyerahkan berkas kepada atasannya ini.


"Pak Harry, ini berkas yang harus segera bapak tanda tangani. Berkas ini akan segera saya kirim." Ucap Adel.


Harry engambil berkas yang diserahkan oleh Adel. Tanpa melihat dan membaca Harry dengan segera menandatanganinya. Adel menunjukkan bagian-bagian pada berkas tersebut untuk ditandatangani dengan segera. Harry hanya diam sambil melihat kearah tangan Adel untuk menandatangani beberapa berkas tersebut.


"Terima kasih pak, kalau begitu saya keluar dulu." Ucap Adel yang dibalas dengan anggukan oleh Harry.


Benar sekali setelah kejadian tadi malam, sikap Harry berubah menjadi dingin terhadap dirinya. Tapi bukankah dengan begitu keadaan akan menjadi jauh lebih baik bagi mereka berdua. Dengan begitu juga Harry tidak akan pernah tersakiti olehnya lagi. Dan mereka hanya akan sebagai atasan dan bawahan saja seperti awalnya dulu. Dulu dimana mereka berdua tidak saling kenal dengan dekat.


Adel mengirim beberap file lewat email dan berkas asli dia kirim via pos. Adel menunggu seorang OB untuk datang mengambil berkas tersebut.Tidak berapa lama kemudian, Ob ini datang dan memberikan Adel sebuah papper bag dan obat.


"Tunggu !!! ini maksudnya apa?" Tanya Adel kepada ob tersebut.


"Ada orang yang meminta saya untuk memberikan pappper bag itu kepada ibu Adel." Jelas ob yang sudah mengambil berkas tersebut untuk dibawa pergi.


"Tapi siapa yang suruh?" Ob tersebut malah mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng tidak tahu.


"Ok terima kasih." Ob tersebut segera pergi setelah menjawab ucapan Adel barusan.


Adel hanya penasara siapa orang yang memberikannya sebuah hadiah. Bukannya Gr atau apa tapi diakntor ini ada beberapa cowok yang menyukai dirinya tapi Adel mengabaikan mereka. Tapi ini baru pertama kalinya Adel mendapatkan sebuah barang. Daripada dihantui rasa penasaran, Adel segera membuka bingkisan tersebut. Saat dibuka isinya ternyata sebuah sepatu flat tanpa hak. ADa juga obat merah dan perban untuk menutup lukanya.


Ada sebuah memo kecil yang tertulis disana...


Jangan pernah terjatuh lagi, semoga luka yang kamu rasakan cepat sembuh dengan obat ini. Dan semoga sepatu ini juga membantu kamu beraktifitas hari ini. Aku harap hari ini akan menyenangkan seperti hari-hari biasanyanya....


Dari orang yang peduli terhadap lukamu. :)


Adel melihat kearah Harry dengan sekilas...


'Apa ini Harry yang kasih ya? tapi apa iya? tadi jelas banget kalau Harry itu tidak peduli sama sekali. Terus daritadi juga Harry hanya didalam ruangan aja, jadi pasti barang ini bukan dari diakan. Ah tapi siapapun yang memberikan hadiah ini aku harus menghargai kebaikannya.' Batin Adel.


Adel tersenyum untuk pertama kalinya...


Adel segera mengganti sepatu high heelsnya dengan sepatu flat tersebut. Terlihat dari dalam ruangan Harry melihat senyumabalin Adel yang membuat hatinya terhanyut kembali. Bisa dibilang kalau senyuman ini yang sudah lama dia rindukan dari diri Adel. Tidak disangka kalau hari ini Harry bisa melihat hal itu kembali. Harry merasa lega karena usahanya tidak sia-sia untuk membuat Adel senang dan sedikit terhibur. Walaupun tidak seutuhnya bisa mengobati luka yang ada dihati Adel, tapi secara perlahan Harry akan membuat Adel bisa menghilangkan  rasa sakitnya dengan rasa senang. Itu tujuan awal Harry...


Harry memang tampak cuek kepada Adel hari ini. Harry masih kecewa dengan sikap Adel yag tidak menganggap dirinya. Harry masih ingin melihat reaksi Adel...apakah memang ini yang diinginkan Adel selama ini? Harry ingin mencari tahu jawabannya. Untuk itu Harry seakan cuek dengan bersikap profesional kepada Adel seperti atasan dan bawahan pada umumnya.


Adel hampir saja lupa dengan luka yang ada dilututnya, Adel pergi ke toilet untuk membesihkan luka tersebut dengan air dan mengobatinya dengan obat da perban yang diberikan tadi.


"Terima kasih utuk orang yang memberikan hadiah dan obat ini." Ucap Adel setelah memasang perban pada lukanya.


Adel kembali pergi ke mejanya..


Baru saja Adel duduk dikursinya, telepon kantor sudah berdering...


Sebelum mengangkat telepon, Adel melihat sekilas kearah Harry..benar saja Harry juga sedang mengangkat telepon dan melihat kearahnya. Adel segera mengangkat telepon dari atasannnya tersebut...


"Adel segera keruangan saya sekarang." Ucap Harry.


"Baik pak." Ucap Adel.


Adel merasa sangat penasaran apa yang akan Harry bicarakan kepada dirinya hari ini. Perasaan cemas dan sedikit cemas tiba-tiba saja dia rasakan sebelum mengetuk pintu Harry.


Tok...tok...tok...


"Masuk."


Adel melangkah pasti untuk segera masuk dan dia melihat orang yang ingin dia hindari sedang duduk dikursi tamu saat ini. Adel seketika mematung seakan tidak bisa melangkah lagi.


"Duduk..." Ucap Harry.


"Ba---ik pak."Ucap Adel gugup.


Tommy menyapa Adel sekaligus meminta maaf karena kejadian yang tidak mengenakkan sebelumnya...Adel membalas dengan senyum terpaksa untuk menghargai ucapan Tommy.


'Kok gue gak tahu kalau Tommy datang. Pasti saat gue tadi lagi di toilet nih. Tahu gitu gue gak balik aja seharusnya ya.' Batin Adel yang ingin sekali lari dari ruangan tersebut.


"Maksud kedatangan saya kesini untuk melanjutkan acara makan malam kita yang sempat tertunda kemarin. Maaf saya baru ada waktu sekarang." Jelas Tommy.


'Pliss, gue mohon semoga Harry membatalkan niatnya untuk mengajak gue. Gue gak bisa nih kalau kayak gini...' Batin Adel.


Harry sudah yakin dengan ekspresi Adel yang terlihat kaku, Harry langsung menjawab...


"Saya tidak akan...


*****


Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.


jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.


Terimakasih masih setia membaca novel ini.


Happy Reading Guys!