Playboy Vs Playgirl

Playboy Vs Playgirl
Acara 7 bulanan



Dimas langsung saja memeluk Nisa dari belakang untuk menahan Nisa masuk kedalam. Langkah Nisa terhenti seketika sampai dia menjatuhkan papper bag belanjaan yang dia pegang tadi.


"Kamu ngapain sih Dim? kamu lihatkan jatuh semua barang belanjaan aku sekarang." Nisa mengomel terus menerus.


"Lepasin aku sekarang. Bukannya kamu lagi marah ya sama aku karena tadi aku pergi bareng sama Adryan." Ucap Nisa.


"Aku lega karena kamu masih mau marah begini Nis. Itu artinya kamu masih peduli." Ucap Dimas.


Nisa terdiam sejenak mendengar ucapan Dimas barusan.


'Sejujurnya aku yang takut kamu marah Dim. Kamu pasti kecewa banget sama aku sekarang. Tapi jujur aja aku gak bermaksud untuk buat kamu seperti ini Dimas. Hanya kamu aja yang ada dihati aku sekarang.'Teriak nisa dalam hati. Ingin rasanya Nisa mngutarakan semua isi hatinya saat ini.


"Kenapa kamu gak bilang ke aku Nis kalau kamu mau belanja? Aku kan bisa temani kamu..." Ucap Dimas yang masih sampai saat ini memeluk Nisa dari belakang dan mencium pucuk rambut pacarnya sekilas.


'Kok Dimas malah nanyain ini sih?' Nisa terus bertanya sendiri dalam hati.


"Kamu kenapa diam aja Nis? kamu masih marah karena kejadian tadi siang?" Tanya Dimas.


"Menurut kamu?" Tanya Nisa.


"Apa yang terjadi tadi siang itu gak seperti bayangan kamu Nis. Tadi siang itu Tyas hampir terjatuh, karena reflek aku malah nahan tubuh dia. Ketepatan pada saat itu kamu lihat langsung. Jadi seolah-olah aku lagi meluk dia. Dan asal kamu tahu juga waktu kamu pergi, aku lepasin tangan aku sampai dia terjatuh. Aku berusaha ngejar kamu tapi kamu udah keburu pergi. Aku lebih peduli sama perasaan kamu..." Jelas Dimas panjang lebar.


"Aku gak percaya. Trus kenapa kamu gak nyamperin aku ke klinik kecantikan?" Tanya Nisa.


"Aku berusaha menjelaskan semuanya dari hp Nis. Aku ada janjian meeting sama klien sekalian makan siang. Tapi hp kamu gak bisa dihubungi. Pulang kerja ini aku buru-buru datang kesini." Dimas memperjelas semua kepada pacarnya ini.


"Jadi sekarang kamu nyalahkan aku Dim?" Ucap Nisa.


"Bukan begitu maksud aku Nis. Aku hanya menjelaskan keadaan aja." Dimas menggaruk kepalanya yang tidakgatal sama sekali. Dia sangat bingung menjelaskan semuanya kepada pacarnya yang sedang ngambek ini.


"Kalau kamu kesini untuk menyalahkan. Lebih baik kamu pulang aja sekarang." Ucap Nisa.


Nisa melepaskan pelukan Dimas kemudian menatapnya...


"Tapi aku gak menyangka kamu malah balas sikap aku dengan seperti tadi. Sejujurnya aku sangat cemburu saat melihat kamu bareng Adryan barusan."Ucap Dimas.


"Kamu..." Ucapan Nisa terhenti karena tiba-tiba saja Dimas mencium bibirnya sekilas.


"Aku cemburu lihat kamu bareng Adryan tadi." Ucap Dimas.


Nisa langsung memerah saat Dimas mendadak menciumnya tadi. Nisa memukul bahu Adryan cukup kuat.


"Awwww..." Rintih Dimas.


"Kamu mau dimarahi bunda apa? ngapain kamu cium aku disini. Kalau bunda lihat gimana?" Ucap Nisa sambil memastikan keadaan sekitar...


"Habisnya kamu terlalu bawel daritadi." Ucap Dimas.


"Dim.." Ucap Nisa menatap tajam kearah Nisa.


"Kamu kenapa gak tanya kenapa aku bisa bareng Adryan tadi?" Ucap Nisa.


'Sejujurnya aku pengen banget nanyak ini ke kamu Nis. Tapiaku takut kamu makin marah...Aku penasaran banget sumpah.' Gumam Dimas dalam hati.


"Buat apa Nis? aku tahu kok kalau kamu punya alasan." Dimas mengalihkan pandangan saat menjawab pertanyaan Nisa.


'Bohong. Aku tahu kalau kamu penasaran banget kan. Tapi kamu gengi untuk ngungkapin.' Batin Nisa.


Nisa hanya tersenyum penuh misteri. kemudian dia mengarahkan pandangan Dimas kearahnya. Mereka saling menatap...


"Kalau kamu gak bertanya, aku yang akan jelasin ke kamu Dim. Kamu dengarin baik-baik ya...tadi itu tas aku hampir aja dijambret saat menunggu taxi terus Adryan yang nolongin. Aku udah nolak diantar Adryan berkali-kali tapi dia tetap aja dia maksain untuk ngantar. Dia gak mau kejadian tadi terulang lagi." Jelas Nisa tanpa ditanya.


"Aku percaya sama kamu tanpa kamu jelasin Nis. Karena kamu udah milik aku selamanya...." Dimas menyatukan kedua hidung mereka dan saling menggesek lembut hidung Nisa.


"Aku juga mau ngakuin kalau sebenarnya aku cemburu lihat kamu peluk atau dekat dengan cewek lain." Ucap Nisa.


"Kamu kalau lagi cemburu jadi galak banget ya Nis." Ucap Dimas.


"Ikh Dimas nyebelin..." Ketus Nisa.


Bunda Nisa keluar dan kaget saat menyaksikan Nisa dan Dimas sedang bermesraan didepan pagat rumah. Bunda langsung meneriaki mereka berdua untuk segera masuk kedalam rumah. Mereka berdua terlihat salah tingkah karena bunda melihat langsung. Dimas membawa semua barang belanjaan Nisa tadi kedalam rumah. Dimas mendadak menjadi gugup saat bertemu dengan bunda Nisa. Ntah apa yang ada dibenaknya saat ini. Nisa tertawa geli saat melihat tingkah pacarnya yang mendadak menjadi kaku ini.


Dengan isengnya Nisa menyentuh kaki pacarnya dari bawah. Saat ini mereka bertiga duduk di meja makan dengan posisi Nisa dan Dimas duduk berhadapan. Sedangkan bunda Nisa duduk tepat disebelah putri kesayangannya ini. Ekspresi Dimas saat ini sulit untuk diungkapkan. dia melihat kaki Nisa dan memandang pacarnya dengan geram karena tingkah lakunya. Tapi Dimas hanya bisa berdiam diri saja...


Padahal saat ini ingin sekali rasanya Dimas mencubit gemas kedua pipi Nisa atau menggelitinya sampai Nisa menyerah. Tingkah Nisa semakin menjadi-jadi membuat Dimas tidak berkutik dan bingung untuk melakukan apa.


'Apa sih mau kamu sekarang Nis. Bisa habis kita kalau ketahuan sama bunda.' Batin Dimas.


Untuk menghentikan aksi pacarnya, Dimas pura-pura pergi ke toilet. Setelah kepergian Dimas, Nisa langsung saja tertawa lepas sampai membuat bundanya menjadi kebingungan saat ini.


"Kamu gak lagi keambet kan sayang?" Tanya bunda bingung.


Nisa berusaha menghentikan tertawanya tersebut. Dia berusaha senormal mungkin dihadapan bundanya.


"Gak ada kok bunda. Nisa tiba-tiba teringat hal yang lucu aja. Sampai membuat Nisa tertawa sekarang." Ucap Nisa.


"Kok tumben banget kamu belanja hari ini sayang? banyak banget belanjaan kamu. Cukup untuk stok makanan selama 2 atau 3 minggu." Ucap bunda.


"Itu karena...Nisa lagi kepengen nyetok makanan aja bunda." Ucap Nisa.


"Oh gitu. Tapi kok tumben banget ya." Ucap bunda.


Setelah Dimas selesai dari toilet, Dia begabung kembali dengan Nisa dan bundanya. Mereka bertiga makan dengan lahapnya. berhubung Nisa belum makan siang hari ini. Jadi dia makan seperti orang yang begitu kelaparan. Bunda dan Dimas lumayan takjub menyaksikan porsi makan malam Dimas hari ini...


*****


Kedua orang tua Ratu dan Kavin berencana untuk membuat acara 7 bulanan untuk kehamilan Ratu. Semua hal sudah direncanakan dengan sebaik mungkin baik dari makanan, minuman, dekorasi, peralatan lain,  serta membuat undangan untuk para tetangga sekitar dan teman-teman dekat Ratu dan Kavin saja. Tujuan dari acara ini untuk mendoakan bayi yang ada didalam perut Ratu. Acara pengajian juga dilakuakan selain untuk mendoakan ibu dan bayi yang ada dalam kandungan tapi juga sebagai salah satu bentuk rasa syukur kepadaNya.


Mama Ratu dan besannya sudah sangat akrab semenjak awal. Mereka berdua terlihat lebih antuasias menyambut kehadiran cucu pertamayang akan dilahirkan oleh Ratu. Mereka saling berbagi pendapat masing-masing tentang acara yang akan dilakukan. Sedangkan untuk papa Ratu dan Kavin hanya sibuk mengobrol tentang bisnis saja dihalaman samping rumah. Mereka hanya menyerahkan semua urusan kepada istri-istri mereka saja. Karena mereka berdua sangat malas berdebat pendapat kepada para istri.


Undangan yang sudah dicetak ditunjukkan kepada Ratu dan Kavin untuk segera menyebarnya secepat mungkin. Kavin meminta bantuan kepada Dimas dan pak Budi untuk membantunya. Mama Ratu mengetok pintu kamar anaknya untuk memberikan pakaian yang akan Ratu dan Kavin pakai pada acara tersebut. Karena acaranya akan dilaksanakan selama 1 minggu lagi. Tapi semua persiapan sudah dengan matang dipersiapkan.


Ratu yang belum dikasih tahu akan diadakannya acara tersebut terlihat sangat kebingungan...


"Ini pakaian untuk apa ma?" Tanya Ratu.


"Oh iya hampir aja mama lupa bilangnya. Dalam 1 minggu lagi akan diadakan acara syukuran tujuh bulanan untuk kamu sayang." Jelas mama.


"Acara? tapikan Ratu dan Kavin belum ada mempersiapkan apa-apa ma. Trus acaranya nanti akan gimana?" Ratu masih terlihat makin bingung saja.


"Kamu tenang aja sayang. Semuanya udah diurus dengan baik. Kami gak mau kamu setres untuk memikir hal ini." Ucap mama.


"Mama serius?" Ratu langsung saja bersender di bahu mamanya dengan perasaan terharu. Sebenarnya ingin rasanya dia memeluk mamanya tapi tidak bisa dia lakukan dikarenakan perut yang semakin besar. Dia sangat kesulitan untuk melakukan itu.


'Gue beneran sangat bersyukur karena bisa memiliki keluarga yang sangat baik dan perhatian banget. Jujur gue pasti kewalahan kalau disuruh mengurus acara dalam keadaan seperti ini. Makasih untuk semuanya... kamu lihat sendirikan sayang bagaimana sayangnya mereka sama kehadiran kamu termasuk papa dan mama..' Batin Ratu sambil mengelus lembut perutnya.


"Aduh kamu masih aja manja banget. Ingat kamu sebentar lagi bakal menjadi orangtua juga. Kamu sebaiknya coba dulu pakaiannya. Mama takut kalau baju yang mama  pilihkan tadi malah kekecilan buat kamu." Ucap mama.


Ratu mengajar mamanya untuk masuk kedalam kamar, Ratu meminta bantuan kepada mamanya untuk mencoba baju tersebut. Saat baju dipakai, Ratu terlihat sangat sexy dengan bentuk tubuhnya sekarang.  Karena semua bagian tubuhnya menjai menonjol dan tampak padat. Mamanya berusaha untuk mengikat tali pada baju tersebut...


"Baju ini terlalu sempit buat kamu sayang. Untung masih ada waktu jadi mama masih bisa pergi keluar untuk memperbaikinya." Ucap mama.


Ratu terlihat sangat gerah saat memakai baju tersebut, Langsung saja dia meminta mamanya lagi untuk membantunya untuk memakai piyama yang tadi.


"Panas banget ma baju ma, Ratu kayaknya gak bakalan betah pakai baju itu seharian." Ucap Ratu.


"Ya udah nanti mama pilihkan baju yang buat kamu nyaman ya sayang." Ucap mama.


Setelah mama keluar dari kamar, Ratu kembali merebahkan tubuhnya sambil menonton tv. Bukannya dia tidak mau bergabung bersama keluarganya yag ada dilantai bawah. Tapi Kavin yang melarangnya untuk naik turun tangga terus-menerus. Kavin melarang seperti itu hanya untukkebaikan istrinya. Karena setelah kejadian Ratu yang sempat jatuh dulu...Kavin tidak ingin mengambil resiko lagi. Apalagi kehamilan Ratu saat ini terbilang masih lemah. Semua orang benar-benar menjaga Ratu dengan sebaik mungkin.


Ratu yang mulai bosan didalam kamar hanya menggerutu dengan kesal. Bagaimana tidak, dia sudah muak ada didalam kamarnya sendiri sekarang. Rasanya dia ingin keluar untuk bisa bertemu teman-temannya seperti dulu lagi secara bebas. Biarpun semua fasilitas didalam kamar sudah dilengkapi dengan sangat baikoleh suaminya tapi tetap tidak akan bisa meubah rasa bosannya. Ibarat kata dia seperti terkurung didalam sebuah ruangan. Disaat malam hari saja dia bisa turun untuk bergabung dengan keluarga mereka. Karena Kavin yang membantunya untuk turun.


Perubahan tubuh Ratu sekarang sudah sangat mencolok sekali. Apalagi bagian kakinya sudah terlihat sangat bengkak. Tubuhnya semakin berisi dengan perut yang membesar. karena hal itu juga dia sangat sulit untuk duduk di sofa. Karena rasa bosannya didalam kamar, dia memainkan hp saja... Dia memutuskan untuk menghubungi Adel...


"Hai Del... lo lagi ngapain?" Sapa Ratu.


"Hai juga beb, kebetulan banget lo hubungi...Gue lagi nongkrong di cafe nih sama Nisa. Maaf ya kalau kita gak ngabarin lo." Ucap Adel.


"Gue kangen bisa nongkrong bareng kalian lagi. Oh iya Nisa mana?" Ucap Ratu.


"Sabar beb, ntar juga ada waktunya kok. Yang paling penting sekarang kehamilan lo jangan sampek kenapa-napa...Nisa ada tuh disana lagi nemani Dimas buat laporan sebentar." Ucap Adel.


"Terus yang disebelah lo itu siapa? kenalin ke gue dong?" Goda Ratu.


Adel terlihat sedikit malu saat memperkenalkan Harry kepada Ratu.


"Oh hai kenalan gue Harry...salam kenal ya." Ucap Harry.


"Hai juga. Gue Ratu teman dekatnya Adel...salam kenal juga. kapan-kapan ikut gabung bareng kita dong." Ucap Ratu.


"Apaan sih Tu, ini juga Harry tiba-tiba nyamperin gue kesini padahal udah gue tolak tapi tetap aja datang." Ucap Adel.


"gak boleh ngomong begitu Del. Kan kasihan Harry nya udah bela-belain datang." Ucap Ratu.


Nisa dan Dimas menghampiri Adel. Karena penasaran Adel sedang menelpon siapa, Nisapun ikut menimbrung dalam panggilan video call tersebut.


"Ternyata lo yag nelepon Adel, gue kirain siapa tadi beb. gimana kabar lo sekarang?" Tanya Nisa.


"Gue itu bosan banget didalam kamar terus. Enakan juga kalian bisa main keluar.." Ucap Ratu.


Harry memperkenalkan diri secara resmi kepada Nisa dan Dimas untuk pertama kalinya.


"Maaf ya kalau gue ikut kalian gabung untuk nongkrong...kenalin gue Harry temannya Adel."  Harry menjulurkan tangannya untuk bersalaman kepada Nisa dan Dimas. Nisa dan Dimas saling pandang dan tersenyum.


'Harry lumayan baik dan juga tampangnya juga Ok kok...' Hal itulah yang pertama kali yang ada didalam benak Nisa.


"Gue Nisa temann dekatnya Adel. Oh iya? udah lama disini ?" Tanya Nisa basa-basi.


"Gue Dimas... Salam kenal." Ucap Dimas.


"Belum terlalu lama kok..." Ucap harry sambil tersenyum dengan manis.


"Berhubung kalian semua ada disana, gue mau undang untuk acara syukuran tujuh bulan yang dilakukan seminggu lagi. Kalian semua harus datang ya. Dan lo juga Del harus bawa Harry. Gue kan belum kenal secara langsung." Ucap Ratu.


"Ngapain juga lo harus ngundang Harry. Kan lo juga baru kenal sama dia..." Ucap Adel.


"Kenapa sih lo beb, kan acara Ratu kenapa lo yang protes dia bakal ngundang Harry." Ucap Nisa.


"Dasar kalian berdua kompak banget kalau dalam hal begini. Ya udah kalau begitu terserah kalian berdua aja." Ucap Adel..


"Gitu dong beb. Lagian gpp juga kan kita bisa mengenal langsung teman lo juga." Ucap Nisa.


Dimas mengajak Harry untuk mengobrol dengannya sedangkan Nisa dan Adel masih melanjutkan obrolan mereka via telepon dengan Ratu. Dimas mengajak Harry untuk duduk diluar cafe agar lebih tenang...


" Udah ya, gue mau tidur dulu. Jangan lupa datang ya. Bye.." Ucap Ratu.


"Bye beb..." Ucap Nisa da Adel bersamaan.


Setelah selesai teleponan, Adel memaraahi Nisa karena telah mendukung keinginan Ratu tanpa memikirkan perasaannya. Nisa malah tidak mau berdebat dengan Adel. Karena Adel yang terlalu cerewet, Nisa memasukkan beberapa kentang kedalam mulut sahabatnya itu. Sampai Adel terdiam dan tidak mengoceh lagi. Ntah mengapa Nisa sangat menerima Harry untuk berjuang mendekati Adel. Nisa dapat menilai seseorang dari pertama kali bertemu. Dia merasa Harry adalah orang yang bisa mengendalikan sahabat baiknya itu. Dia hanya ingin Adel mendapatkan kebahagiaan juga.


*****


"Kavin...aku bosen didalam kamar." Ucap Ratu yang melihat kehadiran suaminya.


"Sabar ya sayang. Setelah aku mandi, aku akan bawa kamu untuk ketemu keluarga kita. Katanya papa sama mama punya hadiah untuk kita." Ucap Kavin.


"Kalau begitu cepetan dong Vin. Aku udah gak sabar..." Rengek ratu dengan manjanya. Kavin hanya bisa menggiyakan ucapan istrinya itu. Sebenarnya Kavin merasa sangat kasihan kepada Ratu tapi mau bagaimana lagi semua hal dia lakukan hanya untuk kebaikan istri dan bayinya juga. Kavipun dengan secepat mungkin mandi dan bersiap-siap...


Kavin dan Ratu segera turun untuk menghampiri keluarga mereka...


Ratu duduk tepat disebelah mamanya. Secara perlahan dia menjatuhkan bokongnya untuk duduk di sofa.


"Kenapa sayang? makin susah ya untuk duduk ?" Ucap mama mertuanya.


"Iya ma. Keganjel banget nih sama perut Ratu sekarang." Ucap Ratu.


"Kamu yang sabar ya sayang.." Ucap mama Ratu.


"By the way, kami semua sudah menyiapkan kejutan untuk kamu. Semoga nanti kamu suka ya." Ucap mama mertuanya.


"Apaan ma? buat Ratu penasaran aja..." Ratu udah tidak sabar untuk melihat kejutan yang diberikan oleh keluarganya.


"Nanti aja ya sayang, Kavin aja yang nunjukin langsung ke kamu." Ucap mama Ratu.


"Lhoo kenapa gitu? curang banget sih? masak Kavin aja yang dikasih tahu tapi Ratu nggak." Ucap Ratu yang terlihat mulai merengek seperti anak kecil.


"Nanti aja aku yang kasih lihat." Ucap Kavin.


"Ikh Kavin nyebelin banget." Ucap Ratu.


"Lebih baik kita semua makan malam aja ya. Bi Ina udah nyiapin semuanya tuh di meja." Ratu melihat kearah meja yang sudah penuh dengan makanan. Dia terlihat sangat bersemangat saat melihat makanan yang sudah tersaji disana.


Ratu dan keluarganya berpindah tempat menuju ruang makan keluarga. Ratu begitu tergiur saat melihat semua makanan. Rasanya dia tidak sabar lagi untuk langsung melahap makanan tersebut. Saat semua keluarga sudah berkumpul, Kavin membantu istrinya untuk mengambil beberapa makanan yang sudah diminta sedaritadi oleh Ratu. Tanpa rasa malu dia banyak melahap makanan sampai membuat yang lain tertuju kearahnya saja. Seakan sedang menonton orang yang sedang mukbang dengan banyak menu makanan. Dari makanan yang berat, cemilan, serta makanan penutup...semuanya tanpa terkecuali dia habiskan. Saat ini dia tidak melihat reaksi keluarganya yang sudah menelan salivanya sendiri.


Setelah merasa benar-benar kenyang, Ratu menghentikan aktifitas makannya...setengah dari makanan yang tersaji sudah dia habiskan.


"Kenapa kalian tidak makan sih?" Tanya Ratu heran dan mulai sadar kalau yang lain belum ada menyentuh makanannya sama sekali.


Ratu menatap keluarganya secara satu persatu secara seksama...


"Jangan bilang kalau daritadi kalian ngelihatin aku?" Ucap Ratu.


"Kok diam aja? berarti benar kan?" Ucap Ratu lagi.


"Gak kok sayang. Nasi dan lauknya kan masih panas. Gak mungkin bisa langsung dimakan." Ucap mama Ratu.


"Benar tuh mbak, saya juga gak bisa langsung makan nasi kalau masih panas begini." Ucap mama mertuanya.


Kavin membantu Ratu untuk berdiri dan mngikutinya...


"Kita mau kemana sih Vin? baru juga aku turun." Ucap Ratu.


"Aku mau tunjukin kamu sesuatu sayang. Kamu ikutin aku ya.." Ucap Kavin.


Ratu yang tidak sabar untuk mengetahui kejutan apa yang diberikan sama keluarganya itu langung saja terlihat riang dan antusias...


"Ma pa...Kavin bawa Ratu naik dulu ya..." Ucap Kavin.


Karena keluarganya sudah menyetujuinya, langsung saja mereka berdua naik....


Ratu masih mengikuti langkah suaminya untuk berjalan. Dia bertanya-tanya sendiri kenapa Kavin membawanya keatas dan kesebuah kamar yang tidak pernah digunakan sama sekali. Setahu dia kamar itu digunakan untuk barang belanjaannya selama ini dan disitu juga biasanya bi Ina menyetrika baju dia dan Kavin. Segudang pertanyaan muncul dalam benaknya yang tidak terdapat jawaban sama sekali.


Sebelum melangkah masuk kedalam ruangan...


"Tunggu dulu Vin..." Ucap Ratu.


"Kenapa sayang?" Tanya Kavin heran karena langkahnya dihentikan secara tiba-tiba.


"Emangnya keluarga kita kasih barang apaan sih? kamu jelasin dulu ke aku. Kalau gak...aku gak mau masuk !" Ancam Ratu


Kavin tidak medengarkan ucapan istrinya barusan. Pintu kamar dia buka dan dia menarik pandangan mata Ratu untuk melihat isi kamar tersebut. Awalnya Ratu yang masih saja tetap kekeuh untuk tidak masuk kedalam. Tapi setelah dilihatnya semua isi kamarr tersebut sudah berganti dengan kamar bayinya nanti.


Tampilan kamar bayi ini didesign sederhana tapi tetap menarik. Dilengkapi juga dengan banyaknya mainan untuk anak-anak. Didalam kamar itu terdapat tempat tidur, lemari pakaian untuk baju bayi, tempat duduk, dan lain-lain.


Saat melihat kamar tersebut sudah diubah seperti itu, Ratu terlihat begitu terpesona sampai tidak mengeluarkan kata-kata lagi...


Dia masuk kedalam secara perlahan dan memegang semua benda yang ada disana.


"Gimana hadiahnya kamu suka gak?" Tanya Kavin.


"Suka banget Vin. Aku benar-benar gak nyangka kalau ruangan ini bisa jadi begini." Ucap Ratu.


"Baguslah kalau kamu suka berarti hadiah dari keluarga kita gak sia-sia. Keluarga kitaselalu tahu apa yang kita butuhkan. Mereka menyiapkan ini tanpa sepengetahuan kamu secara diam-diam. Dan aku juga baru tahu sore ini juga. Tapi aku yakin banget kalau kamu bakalan suka." Ucap Kavin.


"Tapi aneh ya kenapa aku gak tahu sama sekali." Ucap Ratu.


"Karena ruangan ini didesign saat kamu lagi treatment di klinik kecantikan Nisa." Ucap Kavin.


"Pantasan aja tumben banget mama gak mau ikut aku pergi. Ternyata ada udang dibalik batu ..." Ucap Ratu.


Ratu dan Kavin turun kembali untuk bergabung dengan keluarganya. Ratu mengucapkan terima kasih kepada semuanya karena sudah menyiapkan kejutan yang sangat bermanfaat banget baginya.


*****


Satu minggu kemudian...


Acara syukuran keluarga hari ini berjalan dengan lancar karena sesuai dengan apa yang diharapkan. Semua tamu yang hadir juga turut serta mendoakan bayi dan ibunya sekaligus. setelah acara tersebut selesai juga, para tamu yang hadir mendapatkan bingkisan atau oleh-oleh dari tuan rumah. Tak lupa juga semua moment tersebut sudah diabadikan melalui foto dan vidio yang diambil oleh seorang photograpper yang handal. Sebagai keluarga tak heti-hentinya mendoakan agar persalinan Ratu berjalan dengan lancar nantinya.Banyak hal yang sangat berkesan pada acara tersebut.


Ratu dan Kavin begitu senang hari ini karena banyak banget yang mendoakan kehamilan Ratu dan juga ibunya kelak. Mereka berdua mengaminkan setiap doa yang diberikan oleh orang lain.


Nisa, Adel, Dimas dan Harry menghampiri Kavin dan Ratu untuk memberikan doa kepada ibu dan bayinya juga. Ratu diperkenalkan secara resmi dengan Harry. Kavin yang tidak mengenal Harry memasang tampang cemburu saat Harry menjabat tangan istrinya...


"Ikh Kavin kenapa mendadak pasang wajah cemberut. gak baik lo ada tamu kita disini." Bisik Ratu.


"Emangnya dia siapa? kamu kok bisa kenal?" Bisik Kavin kembali.


"Dia itu temannya Adel yang udah lama banget suka sama Adel. Kenapa kamu cemburu ya?" Goda Ratu.


"Ohh kirain..." Ucap Kavin.


"Apaan sih kalian berdua bisik-bisik begitu. Disini masih ada kita beb, kalau mau mesra-mesraan mendingan ntar aja deh." Protes Adel.


"Iri banget sih lo Del." Ucap Ratu.


Harry juga menjulurkan tangannya kearah Kavin...


"Kenalin gue Harry temannya Adel." Ucap Harry.


"Salam kenal, gue Kavin." Ucap Kavin.


Ratu, Nisa dan Adel sedang duduk diruang tengah. Berbanding terbalik dengan Kavin, Dimas dan Harry yang sedang duduk dihalaman samping rumah. Haary terlihat mudah berbaur dengan Kavin dan Dimas. Mereka membahas tentang perusahaan, bisnis, olahraga, dan banyak hal lainnya. Sedangkan para cewek malah membahas tentang Harry terus yang membuat Adel menjadi kesal.


"Jangan bahas dia terus dong. Kan gu udah bilang kalau gue dan dia hanya berteman aja." Adel menekankan kata teman untuk meyakinkan kedua sahabtnya.


"Menurut penilaian gue ya beb, dia itu baik dan perhatian banget sama lo. Kenapa gak lo coba aja." Ucap Nisa.


"Gue sependapat sama Nisa. Tapi kita tetap dukung keputusan lo kok Del." Ucap Ratu.


"Ini nih yang paling gue gak suka sama kalian berdua. Makanya gue paling malas kalau disuruh ngenalin cowok ke kalian ya karena ini alasannya. Kalian selalu menyuruh gue untuk mencoba." Ucap Adel.


"Apa salahnya coba. Udah baik, perhatian, penyayang, sabar, tampangnya juga ok. Udah perfect banget beb. Kalau gue masih jadi playgirl udah gue jadiin pacar tuh si Harry." Ucap Ratu.


"Apa yang kamu bilang barusan? Kavin mendengar ucapan istrinya barusan. Sontak saja tatapan ketiganya langsung panik karena udah ketahuan duluan.


"Kamu bilang apa barusan Tu? aku gak salah dengarkan..." Kavi berusaha mengulangi kata-katanya lagi.


"Kamu dari kapan berdiri disana Vin?" Tanya Ratu yang mulai gugup.


"Sejak kamu bilang kamu bakal jadiin pa..." Ratu menutup mulut Kavin dengan segera.


'Mati gue, Kavin dengar semua yang gue bilang tadi.' Batin Ratu.


"Kita gak ikutan ya beb, kita mau kedepan dulu." Ucap Adel yang langsung menarik tangan Nisa untuk segera keluar.


Ratu yang ditinggalkan sendirian sama kedua sahabtnya, terlihat salah tingkah saat Kavin mulai mendekatinya.


"Kamu ikut aku sekarang." Ucap Kavin.


Kavin membawa istrinya kedalam kamar tidur mereka dan mengunci pintu kamar.


"Ngapain kita kesini Vin? ntar yang lain malah nyariin kita gimana..." Ucap Ratu sambil mundur perlahan karena suaminya terus-menerus maju mendekat kearahnya.


"Kamu bisa jelasin semuanya ke aku kan sayang?" Ucap Kavin.


"Aku tadi cuman bercanda aja sayang. Kamu jangan masukin kedalam hati ya. Aku cuman memberikan nasihat untuk Adel aja gak lebih. Beneran deh..." Ucap Ratu.


"Terus?" Ucap Kavin.


"Terus...aku gak ada maksud lain sayang." Ucap Ratu yang masih saja menghindar dari suaminya itu.


"Kamu ngapain sih Vin maju terus begini?" Ucap Ratu.


"Aku mau menghukum istri aku yang sudah berani memuji cowok lain didepan suami dan kedua sahabatnya." Ucap Kavin.


"Hukuman? aku kan udah bilang kalau tadi itu cuman ber..." Kavin mencium lembut bibir Ratu membuat Ratu kaget dan tidak menyelesaikan kata-katanya.


Ratu melepaskan secara perlahan...


"Jadi ini yang kamu maksud hukuman?" Tanya Ratu.


"Aku gak suka kamu muji cowok lain dibanding suami kamu sendiri... jadi kalau kamu berani lagi melakukan hal ini. Aku akan berikan hukuman yang lebih lagi." Kavin menarik kembali tengkuk wajah Ratu dan menciumin bibir tipis Ratu dengan semangatnya. Ciuman tersebut menjadi ciuman yang sangat panas karena Kavin mulai bernafsu melakukannya. Tanpa ada jeda Kavin tidak memberikan ruang sedikitpun untuk Ratu bisa bernafas. Sampai Ratu melakukannya melalui mulut untu bernafas dan sesekali terdengar suara desahan dari bibir istrinya yang semakin membuat Kavin semakin bersemangat lagi. Kavin melihat Ratu dengan lemas...dia secara perlahan melepaskan ciuman panas tadi.


"Jangan kamu ulangi lagi ya sayang." Kavin mengedipkan salah satu matanya dan kluar dari kamar. Ratu hanya terduduk lemas melihat tingkah suaminya yang semakin cemburuan tak terkendali tersebut. Kavin semakin liar saja menurutnya...


Ratu mencoba menenangkan dirinya kembali, perasaannya menjadi tidak menentu akibat sikap suaminya barusan. Dia memegangi dadanya yang masih berdebar hebat. Perlakukan konyol suaminya masih tetap membuatnya merasakan debaran yang begitu kencang sampai sekarang. Karena perasaannya sekarang menjadi lebih dalam lagi kepada Kavin. Sebenarnya hal itu juga yang dirasakan Kavin selama ini. Mereka berdua bersyukur karena debaran yang hebat itu artinya mereka masih saling mencintai satu sama lain.


Kavin kembali lagi mengajak Ratu untuk segera kebawah karena akan kedatangan tamu yang sangat spesial. Ratu tidak tahu kalau yang datang itu....


*****


Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.


jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.


Terimakasih masih setia membaca novel ini.


Happy Reading Guys!