
Usia kehamilan Ratu sudah berjalan 7 bulan, setiap bulan dia selalu rajin untuk mengecek dan kontrol ke dokter. Bagaimanapun juga dia ingin memastikan kehamilannya sudah ditahap seperti apa. Terutama sejak kejadian dia hampir jatuh dan pendarahan, trus teror yang dia terima sebelumnya. Banyak hal yang masih mengganjal dipemikirannya saat ini tapi dia sudah tidak secemas sebelumnya. Apalagi sekarang ada kedua orangtuanya yang selalu menemani hari-harinya dirumah.
Karena kehamilannya saat ini sudah mulai bsar, mamanya mengajak Ratu untuk berbelanja perlngkapan bayi. Ratu merasa begitu antusias apalagi ini merupakan pengalaman pertama baginya untuk membeli barang bayi seperti: pakaian, celana, selimut, popok, bedong bayi, kaus kaki, kasur, bantal, guling, perlengkapan mandi serta perlengkapan lainnya. Dia sangat terbantu dengan kehadiran mamanya ini, karena mama lebih tahu hal apa saja yang harus dia persiapkan atau pikirkan. Mamanya juga sangat tahu kalau putri kesayangannya ini pasti bingung dan repot kalau berbelanja sendiri.
Tak lupa juga Ratu pamit pergi dengan suaminya, Kavin saat ini sedang beristirahat dikantor. Dia sempatin untuk tidur siang sebentar karena belakangan ini jadwal tidurnya hanya beberapa jam saja. Dia terbangun karena mendengar suara deringan hpnya. Sebelum menjawab telepon, dia sempatin untuk melihat nama yang tertulis di layar hp miliknya. Dia segera mengangkat telepon dari istrinya itu...
"Hai sayang?" Sapa Ratu.
"Hai juga, tumben banget nih kamu siang-siang gini hubungi aku. Biasanya kan cuman chat atau sms aja. Ada apa sayang?" Kavin sudah sangat tahu dengan kebiasaan Ratu. Tidak mungkin Ratu menghubunginya kalau tanpa alasan.
"Hari ini aku mau pergi nih sama mama ke Mall untuk beli perlengkapan bayi. Kata mama udah bisa dibelanjain. Aku boleg kan pergi belanja sama mama sayang?" Ucap Ratu.
"Sebenarnya aku lebih tenang kalau kamu itu dirumah aja sayang tapi karena kamu pergi sama mama. Jadi aku percaya aja. Percaya kalau mama bisa jagain kamu." Ucap Kavin.
"Itu artinya kamu izinin aku pergi kan sayang?" Tanya Ratu memastikan ucpan suaminya.
"Aku izinin kamu, *** sebelumnya kamu harus kontrol ke dokter dulu. Kan bulan ini kamu belum periksa lagi. Aku juga gak mau ambil resiko sayang. Jadi kalau kata dokter kandungan kamu baik-baik aja, aku akan izinin kamu pergi." Ucap Kavin.
"Tapi ini cuman belanja aja Vin jadi gakpelu ngecek ke dokter segala." Protes Ratu.
"Kamu lupa ya dokter bilang apa sebelumnya, kandungan kamu termasuk lemah. Aku gak mau kamu kenapa-napa sayang. Jadi kamu harus kontrol dulu sebelum pergi." Kavin menegaskan kembali kata-kataya dan mencoba mengingatkan Ratu lagi.
Sebelum menjawab perkataan Kavin, Ratu menghela nafasnya panjang.
"Mmmm...iya aku ingat. Oke aku akan cek lagi kondisinya bagimana sayang. Makasih kamu udah ingatin aku terus untuk hal ini." Ucap Ratu dengan nada sebal.
"Kamu marah sama aku sayang? AKu begini karena terlalu khawatir sama kondisi kamu dan bayi kita aja. Aku harap kamu bisa mengerti..." Ucap Kavin.
"Aku ngerti kok Vin, kamu juga udah bilang itu berulang kali sama aku. Kalau gitu aku tutup dulu teleponnya ya." Ucap Ratu.
"Jangan lupa kamu kirim hasil pemeriksaannya sama aku sayang." Ucap Kavin.
"Iya iya suamiku yang sangat amat bawel. Kayaknya kamu bawelnya ekarang melebihi mama deh Vin." Ucap Ratu.
"Justru karena itu makanya aku cocok banget jadi mantu mama kamu sayang." Ucap Kavin.
"Ikh KAVIN ! Aku gak lagi muji kamu. Nyebelin banget tahu gak?" Ucap Ratu dengan nada kesalnya.
"Iya iya sayang aku tahu kok. AKu cuman godain kamu aja." Ucap Kavin.
"Ya udah kalau begitu udahan teleponnya ya, aku mau siap-siap dulu nih." Ucap Ratu.
"Oke sayang. Bye.." Kavin mematikan teleponnya.
Selesai teleponan Ratu langsung mengabari mamanya dan segera bersiap-siap untuk pergi. Sedangkan Kavin mengirim pesan kepada seseorang melalui hpnya, setelah itu dia makan siang dikantor. Isi pesan Kavin : Hari ini Ratu pergi keluar rumah, gue minta lo awasi dia. Jangan lupa kabari gue lagi..
****
Setelah selesai melakukan pemeriksaan kandungan, Ratu dan mamanya naik mobil kembali. Kemanpun Ratu pergi, pak Budi diperintahkan Kavin untuk selalu menjaga sekaligus mengantarnya. Semenjak Ratu hamil, pak Budi udah jarang pergi untuk mengantarnya ke kantor.
Diperjalanan, Ratu mengambil kertas hasil pemeriksaan tadi untuk dikirim kepada suaminya. Bisa dibilang sebagai bukti kalau dia melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan. Tak lupa juga Ratu mengirim vidio bayi yang sempat d USG tadi. Mama Ratu memandangi putrinya yang masih sibuk dengan hpnya...
"Baiknya anak mama ini, selalu laporan kepada suami ..." Ucap mama.
"Kan harus begitu ma, Kavin bisa marah kalau Ratu pergi tanpa bilang ke dia." Ucap Ratu.
"Memang seharusnya begitu sayang. Kamu harus mendengarkan perkataan suami kamu. Istri itu harus nurut dengan suaminya." Ucap mama.
"Maaf ya ma kalau kita tadi gak bisa langsung pergi ke Mall untuk belanja." Ucap Ratu.
"Gpp sayang. Mama juga cukup mengerti kenapa Kavin seperti itu. Kavin itu terlihat sekali kalau mengkhawatirkan kamu..." Ucap mama.
"Iya ma kelihatan banget khawatirnya. Padahal Ratu gak kenapa-napa." Ucap Ratu.
"Wajar aja sayang. Itu artinya dia begitu sayang sama kamu dan calon anak kalian. Jadi kamu seharusnya bersyukur memiliki suami seperti dia. Mama aja bangga punya menantu kayak Kavin." Jelas mama.
"Mama benar karena hal itu juga Ratu memilih Kavin sebagai suami." Ucap Ratu sambil tersenyum.
"Jadi kamu tidak boleh protes lagi terhadap sikap suami kamu sayang. Semua itu dia lakukan demi kebaikan kamu." Ucap mama
"Iya ma..." Ucap Ratu.
Sampainya di Mall, Ratu dan mamanya berkeliling Mall untuk mencari dan membeli perlengkapan bayi. Mama banyak memberikan masukan dan pendapat atas berbagai barang yang mereka beli. Ratu juga sangat senang karena bisa berbelanja berdua dengan mamanya ini. Sudah begitu lama Ratu tidak pernah pergi berdua begini, karena biasanya papa juga tidak pernah mau kalah untuk urusan jalan-jalan. Malah dia lebih sering pergi dengan papanya dulu.
Mamanya selalu saja mengalah untuk hal itu. Hari ini mereka berbelanja sekaligus bisa menikmati quality time bareng berdua. Karena tumben-tumbenan papanya hari ini tidak mau ikut dengan mereka untuk pergi. Papa lebih memilih berkebun dihalaman samping rumah Ratu untuk mengurus dan merawat bunga-bunga tersebut. Tidak ada yang bisa menggoyahkan hati papanya kalau sudah bercocok tanam ini. Padahal Ratu dan mamanya sudah membujuk papanya untuk ikut.
Ratu dan mamanya keluar masuk toko pakaian bayi untuk membeli barang yang mereka inginkan. Kaki Ratu mulai terasa sakit dan pegal. Dia memutuskan untuk duduk beristirahat saja jadi mamanya yang berkeliling didalam toko sekalian mengambil beberapa barang. Rasa syukur yang tidak bisa dia ungkapkan saat ini karena memiliki mama yang begitu peduli dan mengerti dia selama ini.
"Gimana kaki kamu sayang? masih pegal ya?" Tanya mama sambil menghampirinya.
"Masih pegal banget ma, gpp ya bentaran lagi kita pulangnya." Ucap Ratu.
"Gpp kok sayang. Kalau gitu kamu duduk disini aja ya, mama mau ke kasir dulu. Oh iya lebih baik ntar kita nongkrong aja disana sayang. Kan daritadi kamu juga capek biar ada istirahatnya." Ucap mama.
"Ratu setuju ma. Ya udah Ratu tunggu mama ke kasir dulu." Ratu memberikan kartu debit miliknya kepada mama. Tak lupa dia memberi tahukan kata sandi kartunya sekalian. Setelah itu mereka berdua memutuskan untuk beristirahat sejenak.
"Maafin Ratu jadi ngerepotin mama begini." Ratu merasa bersalah melihat mamanya yang capek berkeliling sendirian.
"Mama senang kok bisa bantu kamu sayang. Jadi gak usah mikir seperti ini lagi ya sayang." Ucap mama.
Di tempat makan, Ratu memesan berbagai macam makanan yang selama ini dia inginkan. Sudah lama sekali dia tidak keluar apalagi makan didalam Mall begini. Baru kali ini dia rasakan kembali. Mama hanya menggeleng saja menyaksikan tingkah putri kesayangannya. Tidak berapa lama makanan mereka datang...
"Kamu yakin makan segini banyak sayang? Ntar mubazir loo..." Ucap mama Ratu yang berusaha mengingatkan.
"Yakin ma, Ratu uda kepengen banget makan semuanya." Ucap Ratu.
"Oh oke kalau gitu." Ucap mama yang tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Mama juga makan jangan diam aja. Ratu gak maumakan sendirian." Ucap Ratu.
"Iya mama makan kok." Ucap mama.
Mereka berdua menikmati makanan yang dipesan semua oleh Ratu. Benar saja Ratu bisa menghabiskan semua makanan yang tersaji didepannya. Mama begitu takjub melihat Ratu seperti itu.
"Mama benar-benar gak nyangka kalau kamu bisa menghabiskan semua makanan tadi. Kayaknya nafsu makan kamu bertambah besar ya sayang." Ucap mama.
"Itu mama muji ata ngeledek ya. Ratu gak tahu harus senang atau kesal mendengar mama bilang begitu." Ucap Ratu.
"Mama cuman takjub aja sayang. Udah yuk kita pulang ntar papa marah sama mama karena kelamaan diluar." Ucap mama.
"Oke ma." Ucap Ratu.
Sampainya ditempat parkir, Ratu dan mamanya langsung masuk kedalam mobil. Pak Budi membantu meletakkan semua barang belanjaan kedalam bagasi. Didalam bagasi mobil sudah penuh terisi barang belanjaan mereka hari ini. Ratu sempat bingung kenapa mobilnya sudah berganti sekarang. Karena penasaran dia langsung saja menanyakan hal ini kepada pak Budi.
"Kenapa ganti mobil pak?" Tanya Ratu heran.
"Mobil yang 1 lagi dipakai oleh satpam non. Pak Kavin yang menyuruh diganti. Saya juga bingung..."Ucap pak Budi.
"Ada-ada aja nih Kavin, padahal satpamnya bisa aja pakai mobil yang satu lagi." Ucap Ratu.
"Mungkin Kavin punya alasannya sayang. Kamu bisa tanyakan langsung kepadanya nanti." Ucap mama.
"Perkataan mama barusan benar juga. Kalau gitu nanati Ratu bakal tanyakan apa alasan Kavin sebenarnya." Ucap Ratu.
"Kamu gak usah terlalu banyak mikir sekarang." Ucap mama.
"Iya ma..." Ucap Ratu.
Ratu mengirim sebuah chat kepada suaminya yang isinya...
Ratu :
Apa alasan kamu mengganti mobil sayang? kamukan tahu sendiri kalau aku lebih suka naik mobil itu. Kamu ini benar-benar ya. Kalau mau seperti itu seharusnya konfirmasi dulu dong sama aku.
Ratu melihat hpnya terus-menerus tapi belum ada terlihat balasan apapun dari Kavin.
'Aneh banget nih Kavin hari ini...mulai nyuruh aku cek ke dokter aku mencoba mengerti alsannya tapi ganti mobil begini secara mendadak, aku gak mengerti sama sekali apa alasannya.' Batin Ratu.
Dipertengahan jalan menuju kerumah, mendadak jalan menjadi macet. Padhal tadi tidak seperti ini. Apalagi perjalan meuju kerumahnya tidak pernah mengalami kemacetan lalu lintas seharusnya. Mereka terjebak macet selama kurang lebih setengah jam. Ratu sempat kesal juga karena kelamaan didalam mobil...
'Ada apa sih sebenarnya?' batin Ratu.
"Coba pak Budi turun sekarang dan cek kenapa kita bisa macet begini?" Ucap Ratu.
"Baik non..." Pak Budi langsung saja keluar dari mobil untuk melihat situasi keramaian didepan.
Tidak berapa lama pak Budi balik lagi ke mobil dengan raut wajah yang terlihat sedih...
"Ada apa pak didepan sana? bagaimana ?" Tanya Ratu.] to the point karena melihat tingkah pak Budi yang aneh menurutnya.
"Anu non.Itu didepan ada kecelakaan dan itu pakai mobil non yang di kendarain sama satpam rumah kita.." Jelas pak Bud[
Ratu mencoba mencerna kata-kata pak Budi barusan.
"Bapak yakin ?" Tanya Ratu meyakinkan.
"Yakin banget non." Ucap pak Budi.
"Jadi bagaimana keadaan mereka disana pak? kok bisa sampai kecelakaan begitu sih? mana Kavin dihubungi gak balas lagi." Ucap Ratu.
"kamu jangan panik dulu sayang. Kamu bisa tanyakan langsung sama Kavin nanti." Ucap mama.
"Kamu udah coba hubungi Kavin sayang?" Tanya mama.
"Ini Ratu hubungi dulu ma." Ratu terus-menerus menghubungi nomor hp suaminya sampai ad yang mengangkat teleponnya. Ratu menceritakan semuakejadian yang dia lihat barusan kepada Kavin. Kavin hanya menjawab kalau dia akan memberi tahu semua hal nanti kepada Ratu dirumah nanti. Ratu merasa kesal mendengar jawaban Kavin barusan seolah-olah tidak peduli dengan adanya kecelakaan mobil yang terjadi. Langsung saja Ratu menutup teleponnya. Moodnya sudah berubah-ubah sekarang, mamanya saja tidak bisa menenangkan anaknya itu.
"Kavin bilang apa sayang? kenapa kamu seperti itu mukannya?" Tanya mama.
"Kavin bilng kalu dia akan menceritakan semuanya nanti. Padahal Ratu udah menjelaskan semua hal ini. Kavin kayak gak peduli gitu ma sama kecelakaan ini. Ratu mau pastiin keadaan satpam yang bawa mobil tadi." Ucap Ratu.
"Mungkin Kavin udh tahu sayang atau mungkin juga Kavin tidak ingin kamu khawatir tentang kecelakaan mobil ini. Mama yakin sekali kalau Kavin punya alasan." Ucap mama.
"Gak tahu ma, terserah Kavin aja. Yang jelas Ratu mau pulang aja sekarang. Kavin itu nyeselin banget tahu ma." Ucap Ratu dengan sebal.
"Kamu yang sabar dong sayang, kan masih macet gini, gak bisa jalan ddong mobilnya." Ucap mama.
"Ucapan ibu ada benarnya non. Setahu saya kalau den Kavin bukan orang seperti itu. Pasti ada alasan lain." Ucap pak Budi.
"Pak budi sama aja kayak mama. Selalu membela Kavin aja, gak peduli banget sama perasaan aku sekarang." Ucap Ratu.
"Bukan seperti itu non. Saya bisa bilang begini juga karena sudah lama mengenal dan bekerja dengan den Kavin. Saya gak akan membela orang tanpa alasan yang jelas non." Jelas Pak Budi.
Ratu hanya mengubah arah pandangannya kearah jalan.
Tidak berapa lama hp pak Budi berdering dengan nyaring. Pak Budi langsung saja mengangkat telepon dari Kavin. Kavin memberi arahan langkah apa saja yang harus pak Budi lakukan sekarang dan jangan memberi tahu Ratu. Kavin tidak ingin Ratu cemas sekarang. Dia hanya ingin kalau Ratu tidak banyak memikirkan hal lain dulu. Pak Budi mengerti semua ucapan majikannya ini. Setelah teleponan, Ratu udah feeling kalau yang barusan menelpon adalah suaminya. Karena penasaran, dia langsung bertanya kepada pak Budi...
"Itu Kavin kan pak yang barusan telepon?" Tanya Ratu penuh selidik.
"Eh iya non Ratu." Ucap Pak Budi sedikit gugup.
"Kavin bilang apa sama bapak barusan?" Tanya Ratu yang masih penasaran..
"Den Kavin hanya suruh saya jagain non Ratu saja dan memastikan non Ratu sampai rumah dengan keadaan aman." Ucap pak Budi.
"Cuman bilang itu aja pak?" Tanya Ratu.
"Iya non karena Den Kavin khawatir banget sama keadaan non Ratu sekarang." Jelas pak Budi.
Pak Budi tidak berbohong sepenuhya, Karena Kavin juga meminta hal itu tadi kepadanya. Tapi ucapan Kavin yang lain pak Budi tidak memebritahu Ratu. Biar majikannya saja yang memeberitahu langsung kepaa istrinya nanti. Dia tidak mempunyai hak untuk hal itu.
Ratu yang mendengar ucapan pak Budi barusan hanya menghela nafas saja.
"Gak ada jalan lain pak selain dari sini? Tanya Ratu.
"Gak ada non Ratu, hanya ini jalan satu-satunya. Jadi kita harus benar-benar menunggu kemacetan ini non." Ucap pak Budi menasehati.
"Yasudah kalau begitu pak." Ucap Ratu dengan pasrah.
Mau tidak mau mereka harus menunggu selama 1 jam di jalan itu. Padahal 15 menit saja sudah sampai disana kalau dipikir-pikir. Tapi mereka hanya menaati peraturan lalu lintas yang ada saja. Ratu aja sampai tertidur didalam mobil sanking bosannya.
*****
Dirumah...
Pak Budi menurunkan semua barang yang dibelanjakan oleh majikannya. Bi Ina keluar dai rumah untu membantu pak Budi membawa barang-barang masuk kedalam rumah. Sedangkan Ratu dan mamanya sudah sangat capek seharian ini. Ratu naik menuju kamarnya dan mama menjatuhkan tubuhnya duduk di sofa tepat disebelah suaminya.
"Papa kirain kalian gak bakal pulang lagi. Kalau udah keluar gak tahu waktu." Protes papa.
"Ikh papa kok ngomong begitu sih. Sebenarnya mama sama Ratu udah pulang daritadi tapi kejebak macet yang lumayan lama pa karena ada kecelakaan mobil tadi." Jelas mama.
"Alasan aja pasti mama. Ya kan?" Ucap papa.
"Papa ini memang gak pernah percaya sama mama. Prcuma aja mama jelasin. Lebih baik mama istirahat aja ke kamar." Mama langsung pergi meninggalkan papa yang masih duduk di sofa. Sifat mama sama anaknya gak jauh beda sebenarnya Ratu ngambekan begitu karena menurun dari sifat mamanya. Papa hanya sabar saja selama ini menghadapi si mama karena sudah sangat mengerti sifat istrinya ini. Kalau lagi ngambek didiamin aja ntar juga baik sendiri. Kalau dibujuk malah makin menjadi-jadi ngambeknya.
Ratu merebahkan tubuhnya dan melempar kasar tasnya ke atas kasur.
"Kavin nyebelin banget. Kok bisa kamu tenang banget begini. Padahal satpam kita lagi mengalami kecelakaan mobil. Gak ada perhatian dan peduli sama sekali sebagai majikan. Tau ah lebih baik gue berendam air hangat aja sekarang biar hilang ini pegal kaki gue. Lagian pusing kepala mikirin Kavin terus." Ucapnya.
Saat berendamair hangat didalam bathup dia masih saja memikirkan kata-kata suaminya ...
'Sebenarnya alasan apa sih yang ingin Kavin sampaikan.' Batin Ratu yang bertanya-tanya sendiri.
*****
"Bagaimana semua rencana kita?" Tanya Raya memastikan kepada Fery.
"Beres semua bos."Ucap Fery.
"Lo gak buat kesalahan apapun kan?" Tanya Raya.
"Gak sama sekali bos. Semuanya tersusun rapi tanpa ada kecurigaan sama sekali. Jadi bos tenang aja." Ucap Fery.
"Baguslah kalau begitu. Gue bisa tenang sekarang." Ucap Raya.
"Jangan lupa janji bos untuk memberikan uang 3x lipat untuk bayar saya. Saya akan tunggu bos malam ini." Ucap Fery.
"Tenang aja kalau masalah uang selama kerja lo bagus gue akan kasih ke elo." Ucap Raya.
"Ditunggu kehadirannya nanti malam bos." Ucap Fery.
"Oke ntar gue kabari kita bakal ketemu dimana. Kalau gitu gue tutup dulu ya. Bye..." Ucap Raya.
Raya mengakhiri panggilan telepon dengan Fery. Kabar yang diterimanya barusan membuat dirinya begitu bahagia. Sampai dia ketawa-ketawa tidak jelas seperti orang yang kesambet. Dia membayangkan hal yang selama ini dia inginkan akhirnya bisa berhasil juga. Sampai-sampai dia tidak sadar kalau bos nya sudah ada berdiri tepat didepan dia sambil menyaksikan langsung kegiatannya.
"Ehem...ehem... ngapain kamu ketawa seperti itu?" Tanya bosnya.
Raya tersadar setelah mendengar ucapan bosnya barusan.
"Eh ada pak Harry. Maaf ya pak saya gak tahu kalau bapak datang." Ucap Raya.
"Baru kali ini saya melihat kamu seperti ini." Ucap pak Hary.
"Maaf pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Raya gugup.
"Saya juga gak berharap melihat kamu seperti sekarang apalagi kalau terlihat orang lain. Ntar kamu dikira kesambet lagi. Udah ya saya mau pulang dulu." Ucap pak Harry.
"Baik pak." Ucap Raya.
Setelah kepergian pak Harry, Raya memegangi dadanya yang berdetak hebat itu karena sanking kagetnya. Dia juga menepuk keningnya berkali-kali.
"Bodoh banget sih kenapa sampai gak tahu kalau pak Harry keluar ruangan." Ucapnya sambil membereskan barang-barang untuk bergegas pulang kantor. Beberapa barang seperti lipstik, dompet dan hp dia masukkan kedalam tasnya. Dengan suasana hati yang senang dia berjalan menuju ke parkiran mobil.
Didalam mobil hp nya kembali berdering lagi. Setelah melihat nama yang menghubungi, Raya dengan cepat mengangkatnya...
"Bos gawat !!!" Ucap Fery dengan nada cemas dan takut.
"Ada apa? cepat jelasin ke gue..." Ucap Raya yang terlihat panik.
"Polisi datang kerumah saya sekarang. Gimana ini bos?" Tanya Fery.
"Gimana apanya? kenapa bisa sampek polisi datang kerumah lo? Kata lo tadi semuanya aman terkendali..." Ucap Raya.
"Saya juga gak tahu bos, baru aja saya sampai rumah. Saya juga melihat ini dari kejauhan kalau ada mobil polisi tepat didepan rumah saya sekarang." Ucap Fery.
"Lo pikir aja sendiri, gue gak mau ikut terlibat sama pekerjaan lo yang gak beres ini." Ketus Raya.
"Gak bisa gitu dong bos, saya juga kena masalah karena perintah bos. Dan satu lagi...bos masih hutang pembayaran ke saya." Ucap Fery.
"Ngapain juga gue bayar orang yang kerjaannya gak beres kayak lo." Ucap Raya.
"Apa maksud bos barusan?" Tanya Fery.
"Gue gak ada hubungannya sama semua kesalahan lo. Gue juga udah berkali-kali memperingatin elo sebelumya. Tapi apa sekarang? kalau polisi sampai datang kerumah lo, berarti polisis udah mencurigai lo secara gak langsung. Jadi jangan pernah lo berani hubungi gue lagi." Ucap Raya.
"Bos pikir bisa melarikan diri seperti ini. Saya unya buti yang kuat kalau bos yang nyuruh saya. Dan kalau bos gak bayar hasil kerja saya malam ini, saya akan kasih bukti itu kepada polisi." Ancam Fery.
"Lo pikir bisa ngancam gue?" Ucap Raya.
Fery mengiri vidio awal kerja sama mereka. Termasuk semua foto dan isi percakapan mereka selama ini dalam voice call. Raya melihat semua dokumen tersebut sambil memaki Fery.
"Berengsek lo." Ucap Raya.
"Kita lihat siapa yang akan menyesal bos. Saya gak main-main bos. Jadi silahkan memilih pilihan. Bayar saya atau gak. Karena bos menolak untuk bayar saya dari awal. Saya akan minta tambahan 2x lipat lagi. Saya mau bos mebayar saya sebanyak 50 juta. Pilihan ada ditangan bos..." Ucap Fery.
"Lo gak akan pernah bisa ngancam gue..." Raya mematikan panggilan teleponnya.
Fery mengirim sebuah pesan lagi yang isinya rekaman suara waktu Raya menyuruhnya mengejar mobil dengan rem blong tersebut.
"Dasar berengsek." Rayamemukul setir mobilnya berkali-kali dengan sangat keras sehingga membuat tangannya menjadi sakit.
'Gue harus gimana sekarang?' Batinnya yang mulai gelisah.
*****
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading Guys!