
Kavin masih tertunduk lemas setelah menandatangani dokumen persetujuan dari rumah sakit tersebut. Banyak hal yang mempengaruhi pikirannya saat ini apalagi ini bukan keputusan yang mudah bagi dirinya.
Pertimbangan yang cukup banyak dengan waktu yang terbatas tentu saja membuat dirinya dan pikirannya sangat kacau sekarang.
Kavin memilih untuk diam dan pergi meninggalkan keluarga sejenak. Kavin berjalan menuju parkiran mobil dan masuk kedalam mobil pribadinya...
Seperti orang yang frustasi, dia membanting-banting stir mobil miliknya sampai berulang kali. Pak Budi sedang duduk didepan rumah sakit dan merasa bingung kenapa majikannya hanya meminta kunci mobil saja kepada dirinya. Tidak berani banyak tanya pak Budi menyerahkan kunci mobil tersebut lalu duduk kembali.
Didalam mobil Kavin melampiaskan rasa amarah, frustasi dan kekecewaannya secara pribadi. Dia marah karena tidak bisa melindungi istri dan anak yang sangat dia nantikan itu. Apalagi harus memilih salah satu diantara mereka. Sangat berat untuk dirinya, hari ini Kavin benar-benar diuji rasa sabar yang tiada batas.
'Apakah takdirMu begitu kejam untuk keluargaku? Apa yang harus dilakukan agar semuanya bisa baik-baik aja? Kenapa hal ini terasa sangat rumit...apa selama ini kurang cukup ujian untukku?' Batin Kavin yang gelisah.
Air mata Kavin mengalir deras tanpa diminta sama sekali. Bisa dibilang keputusan ini adalah keputusan yang paling sulit dia pilih.
"Bisakah aku egois ? Aku ingin keduanya selamat." Rintih Kavin sambil memejamkan matanya sejenak karena sudah terlalu berat rasanya untuk membuka mata kembali.
Tanpa sadar Kavin tertidur lelap didalam mobil...
*****
3 hari berlalu....
Ratu masih belum sadar setelah dilakukan operasi. Dirinya masih terbaring lemas di tempat tidur. Masih dalam kondisi kritis saat ini.
Semua keluarga berharap Ratu bisa kembali siuman. Berbagai doa yang terbaik mereka panjatkan kepada Tuhan. Apalagi Kavin yang terlihat semakin pucat saja karena mengetahui belum ada perkembangan dari kondisi istrinya tersebut.
Dokter sudah melakukan semua hal yang mereka bisa lakukan dengan baik. Kavin rela menjaga Ratu dirumah sakit tanpa harus pergi kerja. Dia menyuruh Putri untuk mengurus dan menghandle urusan kantor. Putri hanya bisa mengikuti perintah atasannya tanpa banyak bertanya masalah pribadi bosnya tersebut.
Saat dokter masuk keruangan Ratu untuk memeriksa kondisi pasiennya. Kavin segera menanyakan secara langsung bagaimana keadaan istrinya tersebut....
"Bagaimana kondisi istri saya dok? Kapan kira-kira istri saya akan sadar?" Tanya Kavin dengan penuh harapan.
Jujur saja semenjak Ratu terbaring lemah dirumah sakit, Kavin seperti kehilangan semangat dan dunianya. Yang semangat itu bisa dia dapatkan saat melihat senyuman manis istrinya.
"Masih belum bisa dipastikan kembali. Saya juga tidak bisa memastikan kapan pasien akan segera sadar. Saya harap bapak dan keluarga menjadi peribadi yang lebih kuat dan sabar..." Ucap dokter.
Kavin tidak terima dengan ucapan dokter kemudian menarik kerah baju dokter tersebut...
"Apa kalian sebagai dokter memang seperti ini tidak bisa memberi kepastian ?" Teriak Kavin dihadapan dokter, papa mama Kavin yang baru saja masuk ruangan langsung kaget melihat anaknya yang ingin menyerang seorang dokter.
Papa segera melepaskan tangan Kavin yang ada pada kerah baju dokter tersebut.
"Saya ingin menjelaskan keadaan pasien. Setelah dilakukan pengecekan kembali, ini akibat dari kehamilan istri anda yang terbilang lemah dan ditambah kasus keringnya air ketuban seperti ini. Dan kondisi istri anda juga sangat lemah karena selama ini mempertahankan kandungannya. Jadi berdampak kepada ibu dan anak...sebagai dokter saya juga belum bisa menjamin kondisi istri anda apakah akan bisa bertahan atau tidak..." Jelas dokter.
"Apa maksud dari perkataan dokter barusan?"Teriak Kavin lagi yang semakin tidak bisa mengendalikan emosinya.
Dokter tersebut hanya bisa diam dan pasrah saja menerima tindakan keluarga pasien yang menyalahkan dirinya. Dia tidak tahu harus menjelaskan apa lagi dan sebagai dokter juga sudah memberikan hal yang terbaik untuk kesembuhan pasien. Bukan cuman sekali ini saja mereka mengalami kejadian seperti ini bagi seorang dokter.
"Hentikan Kavin." Bentak papanya dan segera meminta maaf kepada dokter tersebut. Dokter itu memaklumi tindakan Kavin kemudian segera keluar dari ruangan. Sedangkan Kavin sudah tertunduk lemas sambil menangis...
"Tidak seharusnya kamu melakukan hal tadi Vin? Kamu melukai perasaan dokter tadi. Kamu tidak tahu itu?" Ucap papa yang berusaha menahan amarahnya kepada Kavin.
Mama yang sedaritadi hanya diam dan menyaksikan kejadia barusan, kemudian berjalan menghampiri Kavin...
"Papa kamu benar sayang. Jangan bertindak seperti orang bodoh begini. Mama tahu kalau kamu sedang kacau, tetapi hal yang barusan tidak sepantasnya kamu lakukan." Ucap mama sembari memeluk Kavin yang tertunduk lemas di lantai.
"Terus kalau dokter saja tidak bisa memastikan kondisi Ratu. Terus Kavin harus bagaimana ma?" Isak Kavin.
"Kamu masih bisa mendoakan Ratu. Mungkin Ratu juga akan marah kalau melihat suaminya melakukan hal kayak tadi." Ucap mama.
Papa menarik Kavin untuk duduk di kursi...
"Mungkin Kavin bisa gila kalau harus kehilangan Ratu ma." Kavin menangis dipelukan mamanya. Mungkin baru kali ini dia lakukan setelah 3 hari ini dia hanya terdiam seperti orang yang membisu.
"Menangislah sepuasnya sampai perasaan kamu lega sayang." Mama menepuk-nepuk baju Kavin dari belakang.
'Mama yakin dan percaya kalau Tuhan tidak akan sekejam itu Vin.' Batin mama yang tersiksa melihat putranya menderita seperti ini.
"Kamu benar-benar..." mama menggelengkan kepalanya kearah papa agar tidak melanjutkan ucapannya lagi. Mama tidak ingin membuat Kavin terbebani oleh kata-kata mereka. Kavin masih butuh waktu untuk bisa menerima kenyataan yang ada.
Dibalik kesulitan pasti ada kesenangan didepan mata. Hal itulah yang mamanya percayain saat ini. Walau hati kecilnya masih ragu akan hal itu.
*****
"Sayang, kamu masih betah juga tidur. Jangan lama-lama ntar siapa yang temani aku tdiur dirumah." Ucap Kavin sambil menciumi tangan Ratu.
"Aku sangat merindukan kebersamaan kita sayang. Aku rindu kamu yang selalu tersenyum, marah, cemberut, tertawa. Semua tentang kamu...aku rindu. Lebih baik kamu marah, jangan diamkan aku seperti sekarang. Kamu kan tahu kalau aku paling tidak bisa kalau kamu diamin. Jadi tolong kamu jangan hukum aku begini....aku mohon kamu cepat sadar ya sayang. Aku janji akan ajak kamu jalan-jalan seperti yang sudah kita rencanakan. Yang paling penting itu kamu bisa happy." Ucap Kavin yang mengajak Ratu bercerita tanpa ada rasa bosan sama sekali. Dia ingin Ratu mendengarkan semua keluh kesahnya seperti yang biasa dia lakukan.
"Aku yakin kali ini kamu pasti masih mendengarkan aku kan? Dosa loo kalau cuekin terus-menerus. Aku tahu kamu pasti butuh waktu juga kan. Jadi aku akan selalu menunggu kamu disini. Tetapi mulai lusa aku harus pergi ke kantor. Kamu gak perlu khawatir ya sayang. Aku udah minta mama papa yang jagain kamu. Jangan marah ya, aku harus tetap bekerja demi keluarga kita juga..." Kavin membelai mesra rambut istrinya.
"Kamu apa tidak pengen melihat suami kamu yang super ganteng ini? Kamu kan paling suka mencubit pipi aku. Mungkin dulu aku selalu kesal kalau kamu melakukan hal itu tetapi tidak untuk sekarang. Lebih baik pipi aku sakit karena kamu cubitin daripada aku harus melihat kamu diam begini." Lagi-lagi Kavin berkeluh kesah.
Tidak adil rasanya, disaat kebahagiaan hampir ada didepan mata malah mengalami cobaan yang terbilang berat begini.
'Kalau aja aku bisa menggantikan rasa sakit yang kamu alami sayang.' Batin Kavin.
Kavin sampai tertidur sambil menggenggam tangan Ratu seolah tidak ingin kehilangan sedetikpun.
Papa mama Ratu yang baru saja datang dan melihat Kavin tertidur sambil memegang tangan anaknya. Jujur mama dan papa Ratu lebih terguncang dan merasa takut kehilangan lebih parah lagi. Ratu merupakan anak yang penuh perjuangan saat mama melahirkannya. Disaat seperti ini mama papa hanya bisa menyaksikan anaknya yang tertidur lelap selama berhari-hari. Mama sempat pingsan waktu tahu hal itu pertama kali. Dan papa yang dengan setianya merawat istrinya sampai siuman.
"Lebih baik kita tunggu diluar saja pa. Mama tidak enak sama Kavin. Mama tidak mau mengganggu kebersamaan mereka." Papa mengangguk setuju dan ikut keluar ruangan dengan mama.
Mama dan papa duduk diluar ruangan Ratu...
*****
Adel dan Nisa sudah ada diruangan Ratu...mereka merasa sangat prihatin dan sedih melihat kondisi Ratu yang masih belum sadar tersebut. Adel dan Nisa hanya bisa mendoakan semoga sahabatnya itu cepat pulih. Disisi lain Dimas dan Hary menunggu diluar, mereka ingin memberikan ruang untuk Adel dan Nisa untuk memastikan keadaan sahabatnya.
"Tu, bangun..kita udah ada disini untuk nemani lo. Apa lo gak kangen sama kedua sahabat lo ini?" Ucap Adel.
"Mana janji lo dulu beb? katanya kita bakalan berteman selamanya. Kita masih butuh lo disini." Ucap Nisa.
"Lebih baik gue keluar dulu." Ucap Kavin.
"Bagaimana kondisi Ratu sekarang Vin ?" Tanya Adel yang mencegah Kavin keluar ruangan.
Kavin menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ratu masih belum sadar selama 3 hari dan dokter belum bisa memastikan bagaimana kondisinya." Jelas Kavin.
"Maaf kalau kita baru datang berkunjung, sebelumnya kita ingin datang tapi dicegah sama Dimas." Ucap Nisa.
"Jadi bagaimana kondisi bayi kalian?" Tanya Adel.
"Dokter ternyata berinisiatif untu meyelematka keduanya, tetapi saat bayinya yang berhasil diselamatkan malah membuat kondisi Ratu menjadi lemah dan seperti sekarang." Jelas Kavin.
"Syukurlah. Gue lega ternyata bayi kalian masih bisa tertolong. Dimana sekarang anak kalian Vin?" Tanya Nisa.
Nisa dan Adel saling pandang dan ikut merasa sedih sekaligus bahagia. Merasa sedih karena Sahabatnya masih belum sadar dan merasa senang karena bayi yang dinantikan Ratu dan Kavin selama ini bisa lahir dengan keadaan sehat.
"Masih ada diruangan bayi diujung sebelah kiri dari ruangan Ratu." Ucap Kavin.
Adel dan Nisa sangat antusias untuk melihat bayi Ratu dan Kavin...
Dari luar ruangan mereka dengan jelas melihat bayi tersebut. Dengan wajah yang masih merah, tubuh yang mungil, hidung yang mancung. Terlihat mirip sekali dengan Ratu. Ini anak laki-laki tapi versi ibunya.
"Ikh gemesnya..." Ucap Nisa.
"Kayaknya ada yang udah kepengen punya anak nih." Ledek Adel.
"Huh, gue kan emang suka sama anak-anak sih beb." Ucap Nisa.
"Kode keras tu Dim." Ucap Adel.
Dimas memerah seketika mendengar ucapan Adel.
Nisa memukul bahu Adel dengan sangat keras...
"Aww..kenapa mukul sih beb." Ucap Adel.
"Jangan buat gue malu didepan Dimas bisa gak Del?" Bisik Nisa.
"Oh jadi karena..." Mulut Adel ditutup dengan sangat cepat dengan kedua tangan Nisa...
"Dasar ember banget ya beb." Ucap Nisa.
"Lepasin Nis." Nisa melepaskan tangannya kemudian mengarahkan pandangan lagi kedepan dan melihat bayi Ratu...
"Ganteng banget ya beb." Ucap Adel yang sangat antusias saat melihat bayi.
"Imut banget, pasti Ratu senang deh pas tahu anaknya mirip dengannya." Ucap Nisa.
"Gue masih kepikiran kondisi Ratu saat ini beb, gue takut dia kenapa-napa." Ucap Adel.
"Gue juga Del, gue juga takut tapi gue yakin Ratu adalah orang yang kuat. Buktinya aja selama ini dia mampu bertahankan dan dengan kondisi yang lemah seperti itu dia mampu melahirkan anaknya. Mungkin itu yang dinamakan perjuangan seorang ibu. Itu kali ya yang dirasain sama nyokap gue dulu..." Nisa membayangkan betapa sulitnya dulu nyokapnya saat mengandung dan melahirkan dirinya.
"Gue juga salut sama dia beb." Ucap Adel.
Tiba-tiba Adel menitikkan air matanya...
"Jangan nangis dong Del, gue juga jadi ikutan edih nih. Jujur aja daritadi gue tahan pas ngelihat keadaan Ratu didalam.' Ucap Nisa dengan jujur seraya memeluk Adel.
"Semoga Ratu baik-baik aja ya beb..." Ucap Adel.
"Amin.." Ucap Nisa.
Harry mengajak Adel untuk pulang, Harry tidak ingin Adel semakin sedih.
"Beb, gue balik duluan ya." Ucap Adel yang cipika-cipiki sekilas dengan Nisa.
Nisa mengangguk setuju..
"Kalian hati-hati ya..." Ucap Nisa.
Harry juga ikut berpamitan dengan Nisa dan Dimas.
"Pasti..." Ucap Harry.
Harry menggenggam tangan Adel dan pergi keluar dari rumah sakit itu.
"Kenapa sih kita pulang sekarang? aku masih ingin disana." Protes Adel yang tidak menerima tindakan Harry. Adel menepis tangan Harry dengan kasar.
"Aku hanya..." Adel memotong ucapan Harry.
"Cukup ya Harry, kamu selalu mengatur semua kebebasan aku. Udah cukup kamu seperti ini." Ucap Adel.
"Aku hanya khawatir aja Del." Ucap Harry.
"Kamu pikir kamu siapa? aku masih ingin disini melihat keadaan Ratu sahabat aku." Ucap Adel.
"Aku tahu kok aku bukan siapa-siapa bagi kamu. Tapi apa salah kalau aku mengkhawatirkan kamu Del. Aku tidak ingin melihat kamu menangiis lagi, udah cukup selama ini kamu tersiksa dan menangis. Apa aku salah? mungkin menurut kamu aku terlalu berlebihan, tapi aku melakukan ini juga demi kebaikan kamu Del. Apa kamu gak bisa melihat betapa khawatirnya aku sama kamu?" Jelas Harry panjang lebar.
Adel menatap tajam Harry. Dia merasa kecewa dengan sikap Harry belakangan ini yang berubah-ubah.
"Aku seperti ini karena aku sayang dan peduli sama kamu Del. Maaf kalau kamu merasa risih. Aku sadar kalau aku ini bukan pacar kamu. Makasih udah ingatkan aku untuk hal itu. Kalau kamu masih ingin disini ya sudah aku gak bisa larang lagi." Harry meninggalkan Adel kemudian masuk kedalam mobil/
"Ahhh kenapa malah berantam sama Adel sih. Ini semua karena pikiran aku yang lagi terbag-bagi sekarang." Harry menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan Adel sendirian.
Adel masih memandangi mobil Harry sampai tidak terlihat lagi.
"Bodoh bodoh bodoh. Kenapa malah bicara yang menyakitkan seperti itu sih? karena khawatir sama keadaan Ratu malah buat aku ribut sama Harry. Harry pasti kecewa banget sama gue sekarang. Ah terserahlah..." Ucapnya kesal dan bingung harus me;akukan apa.
'Percuma juga gue masuk, kan tadi gue udah pamit. Terus gue kemana dong? tau gitu gue datang sendiri aja tadi kesini. Lebih baik gue kejar Harry aja untuk minta maaf.' Batin Adel yang merasa bersalah.
Disisi lain...
Nisa kembali masuk kedalam ruangan Ratu...
"Beb, gue harap lo segera sadar. Kita semua sayang banget sama lo. Termasuk anak lo yanh baru lahir sangat membutuhkan lo." Ucap Nisa seraya memegang tangan Ratu.
Tangan Ratu mulai melakukan pergerakan sedikit...
"Gue gaj salah lihat kan beb, barusan tangan lo bergerakkan. Semoga ini pertanda baik untuk kesembuhan lo ya beb."
Nisa sangat antusias untuk memberitahukan hal ini kepada perawat. Perawat menyampaikan hal ini kepada dokter untuk dilakukan pemeriksaan kembali...
Dokter memeriksa kondisi Ratu secara detail.
"Bagaimana kondisi teman saya dok?" Tanya Nisa panik. Nisa sendirian didalam ruangan tersebut. Dimas pergi keluar bersama Kavin untuk membeli beberapa keperluan kantor. Sedangkan orangtuanya Ratu baru aja balik kerumah untuk membersihkan diri kemudian mereka berencana akan kembali lagi ke rumah sakit.
"Jika pasien sudah mulai menggerakkan jarinya, kemungkinan ada perkembangan. Semoga ini pertanda yang baik." Ucap dokter.
"Terima kasih dok." Ucap Nisa.
Setelah itu dokter dan beberapa perawat segera keluar dari ruangan.
"Semoga aja ini pertanda baik ya beb. Pasti Kavin bakalan senang mendengarnya beb." Ucap Nisa sambil menghapus air matanya yang tidak sengaja mengalir. Perasaan Nisa tadi panik bercampur haru dan senang saat mengetahui reaksi Ratu.
*****
"Jadi siapa nama anak lo Vin?" Tanya Dimas sambil menyetir mobil. Dimas melihat Kavin sekilas, Kavin terlihat Kusam dan tidak bersemangat sama sekali.
"Ratu yang sudah memberikan nama pada anak kami. Dan katanya namanya nanti dia umumin sendiri pas bayinya lahir. Dan sampai sekarang gue masih nunggu agar Ratu siuman. Siapapun nama yang Ratu bilang, gue pasti setuju. Yang paling penting sekarang kesehatan Ratu." Ucap Kavin sambil melihat gambar walpaper yang ada di layar hp nya. Terlihat foto Ratu yang tersenyum dengan sangat cantik. Foto itu Kavin ambil waktu mereka bulan madu kemarin. Rambut Ratu yang berantakan akibat angin sepoy-sepoy tidak mengurangi betapa cantiknya istrinya itu.
"Oh jadi gitu. Gue dan yang lain juga berharap semoga Ratu cepat pulih ya. Tapi gue rasa lo juga harus semangat Vin, jangan malah gak ada semangat sama sekali. Gue yakin Ratu bakalan marah kalau lihat suaminya sekucel ini sekarang." Ucap Dimas.
"Sialan lo." Ucap Kavin yang tidak senang saat mendengar ucapan Dimas.
"Tapi gue rasa omongan lo ada benarnya juga Dim. Gue harus semangat dan jangan berpenampilan seperti ini." Ucap Kavin yang mulai sadar dengan penampilannya.
"Jadi lebih baik sekarang kita pergi kerumah lo." Dimas memberilan saran kepada Kavin.
"Untuk apa? Gue mau kerumah sakit mau nemani Ratu. Malam ini terakhir kali gue bisa temani dia. Besok gue udah masuk kerja..." Ucap Kavin.
"Seperti yang gue bilang barusa, sebaiknya lo mandi dan bersih-bersih, dan tampilkan pesona Kavin yang playboy. Jangan seperti ini...rambut berantakan dan belum cukuran juga." Ucap Dimas.
"Apa gue separah itu?" Kavin melihat Dimas yang sudah mengangguk. Kemudian Kavin melihat dirinya di depan cermin yang ada di mobil.
'Ternyata memang benar, gue sudah seburuk itu.'Batin Kavin.
"Jadi gimana ? Apa lo setuju mendengar ucapan gue barusan?" Tanya Dimas.
"Tapi gimana dengan Ratu?" Ucap Kavin.
"Kan ada Nisa yamg jagain Ratu disana. Apa lo gak percaya sama pacar gue?" Tanya Dimas penuh dengan penekanan.
"Mmm...sedikit sih." Ucap Kavin.
Dimas yang kesal langsung memukul tangan Kavin berulang kali.
"Resek lo Vin. Lagi sedih aja masih bisa jahilin gue. Ingat umur lo, lo itu udah jadi seorang ayah sekarang." Ucap Dimas.
"Ekspresi lucu lo itu jadi hiburan tersendiri buat gue Dim." Kavin terkekeh sambil meledek Dimas.
"Ya gue akan biarin untuk kali ini, tapi untuk lain kali gue akan balas lo." Ancam Dimas.
Dimas senang karena dirinya bisa menghibur Kavin yang sedang sedih.
Dimas memgantar Kavin pulang kerumah. Dimas menunggu didepan teras rumah Kavin sambil memberi kabar kepada Nisa...
"Ya Dim.." Sahut Nisa.
"Kamu gak keberatan jaga Ratu disana? Soalnya ini aku masih nemeni Kavin pulang kerumah." Jelas Dimas.
"Nggak kok. Kamu hati-hati ya ntar." Ucap Nisa.
"Oke Nis." Ucap Dimas.
"Oh iya? Tadi Ratu melakukan pergerakan. Kata dokter sih udah mulai ada perkembangan semoga Ratu cepat sadar ya Dim. Aku antusias banget saat menyaksikan jari-jari tangan Ratu mulai bergerak." Ucap Nisa
"Oh ya? Bagus dong Nis. Kavin pasti senang nih dengar kabar barusan." Ucap Dimas.
"Aku yakin sih pasti senang." Ucap Nisa.
"Ya udah ya Dim. See you.." Nisa memantikan teleponnya.
Kavin sudah berada didepan pintu rumah...
"Dasar lo Vin, ngagetin gue aja." Ucap Dimas sambil memegangi dadanya.
"Lo nya aja yang kagetan terus. Orang gue baru keluar rumah seperti biasa kok." Ucap Kavin.
"Gini dong Vin ...kan cakep. Setidaknya wajah lo harus tetap berseri. Jangan kusam kayak tadi. Gak enak sama sekali dilihat bro." Ledek Dimas.
"Lo sebenarnya muji atau menjatuhkan gue sih. Heran gue." Ucap Kavin.
"Bisa dibilang setengahnya. Muji dikit sekaligus menjatuhkan juga. Hahaha..." Dimas terkekh sennag karena bisa membalas ucapan Kavin.
Kavin memukul bahu dimas dengan kuat membuat Dimas menghentikan tawanya.
"Yuk buruan." Ucap Kavin.
"Barang-barang yang dibeli tadi gimna Vin?" Tanya Dimas.
Kavin menepuk keningnya,
"Hampir aja lupa. Bentar gue suruh bi Ina untuk bawa kedalam deh." Ucap Kavin.
Bi Ina segera keluar untuk mengangkatin barang-barang dan dibantu pak Budi membawa masuk barang tersebut dan meletakkannya didalam kamar Kavin agar Kavin tidak lupa lagi.
Setelah itu Kavin dan Dimas segera kembali lagi kerumah sakit.
Diperjalanan Kavin sempat marah dan kesal karena mereka malah kejebak macet. Dimas juga tidak tahu kalau ada perbaikan jalan yang membuat jalan sedikit terhambat, Kavin sudah mengomeli dirinya tanpa henti.
"Ini semua gara-gara lo Dim. Gue jadi terlat untuk ketemu istri gue." Ucap Kavin sambil menunjuk-nunjuk kearah Dimas.
"Emang dengan lo nyalahi gue, ini jalanan gak bakal macet gini. Udah deh lo sabar aja bisa gak? Jangan protes mulu. Pusing gue dengarnya." Ucap Dimas.
"Terserah lah. Mood gue langsung buruk karena kejebak macet bareng lo." Ucap Dimas.
Dimas tidak membalas ucapan Kavin lagi, Dimas malas memperpanjang masalah dan yang ada mereka bakalan saling berdebat nantinya. Dimas mengalihkan pandangannya kesebelah kanan.
Dimas melihat moil Harry, baru saja Dimas ingin menyapa ternyata Harry bersama orang lain yang asing baginya.
'Itukan Harry. Tunggu dulu bukannya tadi Harry bareng Adel. Terus itu siapa? Apa gue cerita aja ke Kavin ya. Ah gak ada gunanya Kavin juga lagi banyak pikiran. Ntar aja deh gue cerita ke Nisa.'Batin Dimas.
Dimas segera menutup kaca mobilnya agar tidak terlihat oleh Harry.
"Kenapa malah tutup kaca mobil sih Dim?" Protes Kavin
"Gue gerah kalau gak nyalain AC." Ucap Dimas bohong.
"Karena ini mobil lo jadi gue turutin aja." Ucap Kavin.
"Vin.."
"APA !!!"
"Santai aja Vin ngomongnya gak usah nge gas gitu."
"Gue masih kesal sama lo."
"Menurut lo kalau kita lagi dekat sama cewek, apa bisa dekat sama cewek lain gitu? Apa itu namanya gak mempermainkan hati cewek itu?"
"Kenapa tiba-tiba malah nanyak pertanyaan kayak gini."
"Gue pengen tahu aja pemdapat seorang playboy kayak lo."
"Apa jangan-jangan lo .." Kavin menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan tidak melanjutkan lagi ucapannya.
"Kayaknya gue memang salah deh nanyak soal ini sama lo. Pikiran lo negatif terus." Ucap Dimas.
"Oh jadi ini bukan untuk diri lo. Gue kirain aja." Ucap Kavin dengan santainya.
"Udah deh lupain aja pertanyaan gue barusan." Ucap Dimas.
"Jadi lo ngambek sama gue. Hahaha......" Kavin terkekeh.
"KAVIN ." Bentak Dimas.
Kavin menghentikan tawanya dan berusaha diam kemudian mengatur pernafasannya kembali.
"Menurut gue itu....
*****
Thor sangat mengharapkan para readers untuk memberikan komentar yang membangun untuk author agar author dapat memperbaikinya lagi kedepannya.
jangan lupa di like yaa! Saran dan dukungan kalian semua bisa membuat author agar lebih semangat lagi dalam melanjutkan cerita ini kedepannya, jadi mohon kritikan berserta sarannya ya semuanya.
Terimakasih masih setia membaca novel ini.
Happy Reading Guys!