Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Yoga



Kilas Balik...


Undangan pernikahan tertulis pukul delapan pagi. Valonia dan Derry begitu semangat memakan sajian di pagi hari. Mereka berdua memilih masakan seafood, Keyan yang memiliki alergi seafood memilih makanan lain. Tak hanya makanan laut, Valonia dan Derry sudah lama tidak makan bebek pun langsung melahap makanan itu.


Acara pernikahan masih berlangsung. Hingga tanpa terasa 7 jam sudah berlalu. Valonia mulai merasakan pusing dan juga mual. Sesekali perutnya kram hal sama juga terjadi pada Derry.


Tak hanya mereka, warga yang membantu di acara pernikahan itu juga sebagian mengalami hal yang sama. Sonny menjadi khawatir melihat beberapa orang muntah dan mengeluh sakit. Pak Ariel dan ibu Neta ikut membantu warga yang sakit. Melihat penyebarannya cukup cepat. Sonny segera terpikirkan Valonia.


"Sayang kamu disini sebentar ya. Aku ingin memastikan kondisi Valonia. Lihat sebagian orang mengalami muntah dan juga diare, terus ada yang kram perut."


"Iya Kak." Mia juga terlihat cemas. Karena anggota keluarganya mulai panik. Orang-orang sakit langsung pergi ke puskemas.


Mia tak ingin hanya duduk. Ia pun berdiri berniat masuk ke dalam rumahnya. Tanpa di duga ia merasakan pundaknya kebas dan sakit. Penglihatannya buram dan juga tuli.


Kilas balik selesai.


...----------------...


Dalam sebuah rumah perkebunan lumayan jauh dari permukiman penduduk, Mia disekap. Gadis ini begitu ketakutan setelah sadar dari pingsannya. Ia merasakan pundaknya begitu berat dan sakit seperti terkena hantaman kayu.


"Kamu sudah bangun?"


Suara seorang laki-laki begitu familiar ditelinga Mia. Ia perlahan-lahan menoleh ke samping. Manik mata Mia membulat sempurna. Tubuhnya gemetar takut, disertai dengan usaha sedikit berontak untuk melindungi diri.


"Yo—yoga !"


"Kamu masih ingat namaku." Laki-laki bernama Yoga itu terkekeh bercampur kepulan asap rokok yang keluar dari mulutnya. "Kamu cantik sekali hari ini." Ucapnya kembali menatap lekat wajah Mia. Ia duduk bersandar di kursi serta rokok yang masih sisa setengah itu terselip di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Apa yang kamu inginkan Yoga?! Lepaskan aku ! Suamiku pasti mencari ku !"


"Kamu juga tahu jawabannya, Yoga ! Aku tidak memiliki perasaan padamu. Aku hanya menganggap kamu teman."


"Aku benci mendengarkan penolakan mu itu ! Sedikit saja Mia buka hatimu untukku. Apa yang kurang dariku, hah?" Lirih Yoga berubah sendu. "Hingga detik ini aku menunggumu pulang. Tapi aku kecewa kepulangan mu kali ini adalah untuk menikah dengan orang lain ! Hatiku sakit !" Intonasi Yoga sedikit meninggi. Ia sudah tidak berselera menghabiskan sisa rokoknya. Ia berdiri menjatuhkan rokok itu ke lantai dan menginjaknya hingga hancur. "Menikahlah denganku Mia, kita akan hidup bahagia."


"Tidak Yoga ! Lepaskan aku. Aku tidak memiliki perasaan padamu. Aku mohon lepaskan tali ini." Mia terisak selain takut, tangannya terasa perih karena lecet tergesek tali


"Jangan keras kepala, Mia !" Yoga melangkah pelan menghampiri dipan yang terbuat dari kayu itu. Manik matanya merah melukiskan amarah bercampur luka. Sayatan tak kasat mata atas penolakan berkali-kali dari gadis yang ia cintai menjadi cambuk obsesi untuknya.


"Jangan mendekat !" Mia panik berusaha memundurkan tubuhnya kebelakang. "Atau... Aku akan membencimu !"


"Bencilah aku Mia. Karena setelah kamu jadi milikku seutuhnya. Maka suami tercintamu itu akan mencampakkan kamu. Kemana kamu akan lari selain ke dalam pelukanku. Hanya aku yang menerimamu." Yoga menjatuhkan tubuhnya tepat di ujung kaki Mia.


"Sadarlah Yoga, perbuatan mu ini salah ! Aku istri orang. Aku mohon jangan seperti ini." Mia histeris ketika jari telunjuk Yoga menyentuh kulit wajahnya.


"Kulitmu lembut Mia. Aku semakin mencintaimu." Yoga melepaskan kancing kemejanya satu persatu. "Lihat tubuhku. Lebih bagus dari dokter itu." Ia membanggakan tubuhnya.


"Jangan Yoga ! TOLONG ! SIAPAPUN YANG ADA DI LUAR TOLONG AKU." Mia semakin ketakutan. Tangisnya semakin pecah. Ia meronta saat Yoga memisahkan ikatan kakinya. Tenaganya lemah tak mampu melawan telapak tangan Yoga yang besar.


"Maaf sedikit menyakitimu, aku tidak mau kakimu ini mengganggu aktivitas kita." Yoga tersenyum menarik tubuh Mia untuk telentang. Tanpa perasaan ia mengikat kedua kaki wanita itu ke sisi dipan. "Tidak apa-apa. Kamu menikah dengan laki-laki itu, tapi menghabiskan malam pertama denganku." Sambungnya lagi melepaskan mahkota kecil dari atas rambut Mia. "Rambutmu wangi." Yoga mengendus aroma hair spray di rambut Mia.


"TOLONG !" Suara Mia terdengar serak. Ia masih saja mencoba meronta. Meski kaki tangannya terbentang dalam keadaan terikat. "Jangan Yoga." Lirihnya bercampur tangis.


"Percuma kamu berteriak tidak ada yang mendengarkan mu. Lebih baik kamu simpan saja suaramu untuk berteriak di bawah kungkungan ku. Malam ini, aku milikmu sayang dan aku akan memanjakan mu dengan keahlian ranjang ku." Yoga tersenyum menikmati guratan ketakutan Mia. Ia melepaskan perhiasan rambut wanita itu dengan hati-hati.


"AKU AKAN MEMBENCIMU SEUMUR HIDUPKU YOGA !"


"Nanti bicara bencinya. Ayo kita mulai." Yoga tersenyum. Ia melepaskan celana jeansnya dan menyisakan bokser saja.