
Hari ini siswa dan siswi hanya mengerjakan tugas, karena seluruh dewan guru beserta stafnya mengadakan rapat. Para murid itu mengerjakan tugasnya dengan tertib tidak ada yang keluar masuk kelas.
"Ren, aku mau ke kafe depan sekolah sebentar ya." Pamit Valonia mengambil ponsel di dalam saku blazer nya.
"Kenapa ke sana? Tugasmu sudah selesai ?" Varen mendongakkan kepala ke atas. "Tunggu sebentar aku temani." Sambungnya lagi.
"Aku sendiri saja, hanya sebentar." Valonia melenggang pergi meninggalkan Varen yang terdiam.
Rara menarik kursinya ke samping Varen. "Dia mau ke mana?" Bisiknya pelan.
"Ke kafe depan. Ayo cepat kerjakan tugasmu, kita susul dia setelah ini." Varen kembali pada lembaran di depannya.
Menghabiskan waktu cukup lama. Varen dan Rara menyelesaikan tugas mereka. Kini dua orang itu berniat menyusul Valonia Jasmine. Tepat ingin keluar dari dalam kelas, Keyan datang bersama Alvan.
"Dimana Jasmine?" Keyan melirik ke dalam kelas yang nampak sisa beberapa orang saja. Netranya tak menemukan sosok yang ia cari.
"Dia ke kafe depan sekolah." Rara menyahut dari balik punggung Varen.
"Kenapa ke sana?" Alvan ikut bersuara. "Apa tugasnya sudah selesai?" Tanyanya kembali.
Varen mengangguk. "Sudah, sekarang aku dan Rara ingin menyusulnya." Varen melangkah lebih dulu.
Keyan masih berdiri di tempatnya dalam kebingungan. "Tidak biasanya Jasmine keluar dari lingkungan sekolah." Gumamnya pelan.
"Tadi aku minta dia menungguku, tapi Valo menolak katanya hanya sebentar" Varen menghentikan langkahnya. Sorot matanya tertuju pada sosok yang tengah mereka bicarakan. Valonia melangkah masuk ke arah sekolah." Itu dia." Varen melihat ke arah Valonia.
Valonia terlihat anggun melangkah, di bawah silaunya matahari. Pesonanya terpancar cantik. Banyak pasang mata yang menatapnya kagum. Selain cerdas ia juga cantik. Namun Valonia selalu bersikap biasa saja, saat pujian datang padanya.
Keyan tersenyum melihat ke arah gadis pujaan hatinya itu. Jantungnya berdetak lebih cepat, melihat sosok yang ia cintai melangkah semakin dekat. Tapi hatinya juga tidak senang, ketika banyak pujian terlontar dari siswa laki-laki. Tatapan memuja dari kaum Adam itu membuat hati Keyan tidak rela. Jika gadisnya dilihat banyak orang.
Haruskah ? ia menutupi Valonia dengan selimut. Agar hanya dirinya saja yang bisa melihat kecantikan yang dimiliki gadis pujaan hatinya ini. Tanpa sadar Keyan sudah mulai posesif pada Valonia Jasmine.
"Dari mana?" Keyan menghampiri Valonia dengan tatapan berbinar. Bahkan ia melangkah lebih dulu, raut wajahnya begitu senang mendapati gadis itu.
Valonia tersenyum tipis, ia menatap satu persatu wajah temannya. Kemudian menghela nafas berat dan berkata. "Aku dari kafe depan sekolah. Kalian sudah makan ? Ini jam istirahat." Ia menyeka keringatnya. Valonia lelah karena berjalan kaki ke kafe depan sekolahnya.
"Ayo ke kantin." Varen menarik tangan Valonia ke genggamannya. Ia melihat jika sepupunya ini tengah kehausan. Terbukti Valonia terlihat kelelahan.
Keyan tersenyum kesal. Ia melangkah lebih cepat lalu menarik tangan Valonia ke genggamannya. Melihat hal itu Alvan dan Rara tertawa di belakang tiga orang itu. Kecemburuan Keyan sangat nampak sekali.
"Hei, itu anak orang bukan manekin." Seru Alvan sambil tertawa. Tangannya ia kalungkan di leher Rara.
"Apa yang kalian lakukan ? Aku bukan anak kecil yang baru belajar melangkah." Valonia mengomel sambil menarik tangannya. Tanpa diduga ia berbalik ke belakang lalu bergelayut di tangan Alvan.
Keyan dan Varen bersamaan menatap tajam pada Alvan yang terlihat senang. Sementara Rara tidak bisa menahan tawanya, melihat wajah kesal Varen dan Keyan.
"Al, jauhkan tanganmu !" Varen menghadang langkah Alvan. Netranya mengarah pada lengan Avlan sebelah kanan.
"Melepaskan bagaimana? Valo yang menggelayutiku." Alvan membela diri. Ia sedikit merinding melihat tatapan menghunus dari dua laki-laki itu.
"Jasmine, sini." Keyan melambai tangannya ke arah Valonia. "Kamu bisa bergelayut di tanganku." Tawarnya percaya diri.
Rara berlari kecil menyusul Valonia sambil memberikan tawa ejekan pada tiga laki-laki itu.
"Semua gara-gara kamu !" Sinis Varen menyusul Valonia dan Rara.
"Kamu memulainya lebih dulu, aku tidak suka kamu menggenggam tangan Jasmine." Susul Keyan sambil membalik menuduh.
"Sudahlah, bagaimana pun akulah pemenangnya. Valonia dengan sukarela bergelayut di lenganku." Alvan tertawa melihat tatapan tajam dari Keyan dan Varen.
Keyan tahu, jika Varen dan Valonia adalah saudara sepupu. Namun sebagai seorang laki-laki yang menyukai Valonia Jasmine. Keyan tidak rela jika gadis pujaannya disentuh atau lebih dekat dengan laki-laki lain. Meski pun itu hanya sepupu.
Semakin hari, Keyan yakin akan perasaannya. Bukan rasa kagum seperti awal pertama berteman. Segala yang ada di diri Valonia, dari sifat dan sikapnya semua membuat Keyan jatuh cinta. Perasaan yang belum pernah Keyan rasakan sebelumnya. Cinta pertamanya jatuh pada Valonia Jasmine.
...----------------...
Seperti hari-hari sebelumnya, gerbang dipenuhi dengan siswa dan siswi yang akan pulang. Karena sudah memasuki waktu jam pulang sekolah.
"Val, bagaimana rencana belajar kita ? Dua minggu lagi ujian akhir loh" Rara menghampiri Valonia dan Varen.
Valonia baru ingat rencananya yang akan membahas rencana belajar mereka. " Panggil mereka semua, ayo kita bahas sekarang ! Waktu kita sedikit lagi." Ucapnya sambil mengeluarkan ponselnya.
Valonia mengirim pesan ke grup mereka, memberitahukan jika ia menunggu di kafe milik Levin. Usai mengirimnya, ia kembali melihat pada Rara. "Ayo berangkat." Ucapnya sambil naik ke atas motor Varen.
Di parkiran mobil. Keyan dan Alvan sama -sama membaca pesan dari Valonia. Kemudian mereka bergegas memasuki mobil masing-masing.
"Key tunggu !" Suara seseorang menghentikan langkah Keyan untuk menutup pintu mobilnya.
"Ada apa Ta?" Keyan menoleh ke asal suara. Ia memberi kode untuk Alvan agar berangkat lebih dulu.
"Aku ikut kamu ya, jemputanku sepertinya lama." Tita berniat untuk menumpang mobil Keyan.
"Aku ada urusan, Ta ! Kamu ikut Sindy saja. Dia bawa mobil, 'kan?" Keyan menutup pintu mobilnya.
"Kemana, Key ? tidak apa-apa aku ikut kamu saja ya." Rengek Tita masih berpegangan di kaca mobil Keyan.
"Aku ada urusan sama teman-temanku." Keyan menaikan kaca jendela mobilnya. Lalu menghidupkan mesin dan perlahan meninggalkan parkiran.
Tita mengepalkan tangannya kesal. "Kamu tega meninggalkan aku disini, Key. Dan memilih berkumpul bersama teman-teman barumu. Tunggu sebentar lagi, Key. Hanya aku yang ada di dekatmu." Tita melangkah menuju mobil Sindy.
"Kenapa, Keyan menolak ?" Sindy menyalakan mesin mobilnya.
"Iya, biarkan saja dulu setelah kelulusan. Keyan tidak akan bertemu mereka lagi. Hanya aku yang akan selalu bersamanya. " Tita berucap dengan penuh keyakinan. Netranya terpancar harapan yang kuat.
Sindy tersenyum ." Keyan kuliah di Amerika juga?" Tanyanya tanpa menoleh pada Tita.
"Iya, aku dan Key melanjutkan studi ke Amerika. Om Johan dan papaku sudah mempersiapkan semuanya" papar Tita tersenyum.
Sindy mengangguk. "Aku jadi yakin, jika Key memang jodohmu."
Hati Tita mendadak bahagia, ia sudah merangkai banyak rencana. Jika nanti ia dan Keyan sama-sama tinggal di Amerika. Persahabatan kedua orang tua mereka yang terjalin sudah lama, akan mempermudah langkah Tita untuk bersama Keyan nantinya. Itu yang terpikir oleh otak cantiknya. Sementara ini biarkan Keyan menghabiskan waktu bersama teman-teman barunya itu.